ROCK DOVER

ROCK DOVER Official Page of Rock International Ministry in Dover, NH. (Halaman resmi Gereja Rock International Ministry di Dover, NH) we help you to fulfill your destiny

06/23/2026
*King's Swords*Senin, 22 Juni 2026*Bacaan setahun:*1 Raja Raja 9:10 – 11:13Kisah Para Rasul 15:1–21Mazmur 77:1–9*MANA YA...
06/21/2026

*King's Swords*
Senin, 22 Juni 2026

*Bacaan setahun:*
1 Raja Raja 9:10 – 11:13
Kisah Para Rasul 15:1–21
Mazmur 77:1–9

*MANA YANG SEMBILAN?*

*“Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?" Lalu Ia berkata kepada orang itu: "Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau." (Lukas 17:18-19 - TB)*

Kisah ini menyingkapkan sesuatu yang sering luput: tidak semua orang yang menerima kebaikan Tuhan memiliki respons yang benar. Sepuluh orang kusta disembuhkan, tetapi hanya satu yang kembali. Yang sembilan tetap menikmati mukjizat, tetapi kehilangan momen untuk memuliakan Allah.

Di sini terlihat jelas bahwa anugerah Tuhan tidak bergantung pada respons manusia. Kesembuhan itu tetap terjadi, bahkan tanpa ucapan syukur. Ini menegaskan bahwa kasih karunia memang cuma-cuma, tidak bisa dibeli, tidak bisa ditukar dengan perbuatan. Namun justru karena itulah, respons hati menjadi penentu kualitas relasi, bukan sekadar pengalaman.

Satu orang yang kembali itu tidak hanya disembuhkan secara fisik, tetapi juga mengalami pemulihan yang lebih dalam-ia sadar, ia mengenal, ia memuliakan. la tidak berhenti pada berkat, tetapi melangkah kepada Pribadi Sang Pemberi berkat.

Ini menjadi pelajaran bagi kita. Sangat mungkin seseorang hidup dalam kebaikan Tuhan setiap hari-nafas, kesehatan, pekerjaan, pelayanan-namun tanpa kesadaran untuk kembali dan memuliakan Dia. Kita bisa sibuk menikmati hasil, tetapi melupakan Sang Sumber. Padahal setiap detik kehidupan adalah anugerah yang aktif, bukan pasif. Tuhan terus bekerja, terus menopang, terus memberi. Maka respons yang layak bukan sekadar pengakuan sesaat, tetapi gaya hidup yang memuliakan Dia.

Mengucap syukur bukan formalitas, melainkan bukti bahwa hati kita tidak tumpul terhadap kasih karunia. Orang yang mengerti anugerah tidak akan diam; ia akan kembali, tersungkur, dan memuliakan Tuhan. Pertanyaannya adalah: kita termasuk yang menerima lalu berjalan pergi, atau yang kembali dan mengenal Dia lebih dalam?

Syukur yang sejati selalu membawa kita lebih dekat kepada Tuhan, bukan hanya lebih sadar akan berkat-Nya. Hati yang bersyukur tidak mudah bersungut-sungut, karena ia belajar melihat tangan Tuhan bahkan di tengah keadaan yang sulit. Justru dalam tekanan, ucapan syukur menjadi tanda iman yang dewasa. Syukur menjaga hati tetap lembut, mata tetap peka, dan jiwa tetap rendah di hadapan Tuhan. Ketika hidup dipenuhi ucapan syukur, kita tidak lagi berpusat pada apa yang kurang, tetapi pada siapa Tuhan itu. Dan dari hati yang bersyukur lahir penyembahan yang tulus, ketaatan yang sukarela, serta kehidupan yang memuliakan Dia setiap hari. (DH)

*Questions:*
1. Apakah Anda lebih fokus pada berkat yang diterima , atau pada Pribadi yang memberikannya?
2. Kapan terakhir kali Anda _“kembali”_ secara sadar untuk memuliakan Tuhan, bukan sekadar menikmati kebaikan-Nya?

*Values:*
Anugerah bisa diterima tanpa syukur, tetapi hubungan dengan Tuhan bertumbuh melalui hati yang kembali.

Kingdom Quotes:
*Jangan berhenti pada berkat; kembali kepada Sang Pemberi, di situlah hidup dipulihkan sepenuhnya.*

06/21/2026

Happy PAPADAY 🎁

*King's Swords*Kamis, 18 Juni 2026*Bacaan setahun:*1 Raja Raja 3:16 – 5:18Kisah Para Rasul 12:19–25; 13:1–12Mazmur 74:18...
06/20/2026

*King's Swords*
Kamis, 18 Juni 2026

*Bacaan setahun:*
1 Raja Raja 3:16 – 5:18
Kisah Para Rasul 12:19–25; 13:1–12
Mazmur 74:18–23

*PEMBAPAKAN: BISA DIPELAJARI ATAU HARUS DIALAMI?*

*“Diaken haruslah suami dari satu isteri dan mengurus anak-anaknya dan keluarganya dengan baik.” (1 Timotius 3:12)*

Beberapa puluh tahun terakhir, istilah fathering atau pembapakan makin makin sering terdengar di gereja. Buku-buku tentang _"Bapa rohani",_ seminar _"Hati Bapa",_ sampai pelatihan kepemimpinan model kebapaan bermunculan. Intinya sama: pria diajar untuk jadi figur yang mengayomi, melindungi, memberi nilai, dan jadi teladan baik di rumah, gereja, maupun tempat kerja. Pertanyaannya: Apakah jadi Bapa yang baik bisa cukup dipelajari lewat seminar? Atau harus dialami dan dihidupi?

Realitanya, banyak pria kesulitan menjadi Bapa yang sehat karena mereka sendiri tidak pernah mengalami figur ayah yang sehat. Ada yang tumbuh tanpa ayah. Ada yang ayahnya hadir secara fisik tapi tidak emosional. Ada juga yang dibesarkan terlalu dimanja tanpa disiplin dan tanggung jawab. Pola itu sering terbawa sampai dewasa - tanpa sadar.

Karakter seorang Bapa bukan cuma soal teori, tapi soal pola yang tertanam di bawah sadar sejak kecil. Kalau yang tertanam adalah ketidakhadiran, kekerasan, atau permisit, maka itu yang mudah direplikasi. Itulah mengapa pembapakan paling kuat sebenarnya bukan di seminar, tapi di praktik harian. Saat seorang pria benar-benar hadir untuk anaknya main bersama mereka, mendisiplin dengan kasih, mendengar cerita mereka, mendoakan mereka -di situlah nilai ditransfer. Anak yang merasakan cinta dan ketegasan ayahnya akan lebih mudah menjadi ayah yang sehat di generasi berikutnya. Sebaliknya, kita sering melihat pola _"broken home"_ berulang. Bukan karena anak itu ingin gagal, tapi karena yang tertanam dalam memorinya adalah model relasi yang rusak.

Namun di sinilah kabar baiknya: pola bisa diputus. Seminar mungkin tidak otomatis mengubah seseorang. Tapi ia bisa menjadi trigger titik sadar. Yang menentukan adalah keputusan pribadi untuk memproses luka, belajar ulang, dan membangun pola baru. Karena menjadi bapa bukan soal status biologis. Menjadi bapa adalah soal tanggung jawab, kedewasaan, dan konsistensi.

Menariknya, kita juga bisa melihat fakta: Ada orang yang bukan Kristen, tak pernah ikut seminar fathering, tapi dikenal sebagai ayah yang penuh kasih dan bertanggung jawab. Sebaliknya, ada pemimpin Kristen yang mengajar tentang kebapakan, tetapi keluarganya sendiri berantakan. Artinya jelas: *Fathering bukan soal branding rohani Fathering adalah soal integritas hidup.* Karena generasi yang kuat lahir dari ayah yang hadir. Dan ayah yang hadir lahir dari pria yang berani berkorban dan bertanggung jawab. (DD)

*Questions:*
1. Apakah pola yang Anda hidupi hari ini adalah hasil luka masa lalu yang belum Anda selesaikan?
2. Jika anak Anda meniru cara Anda hidup hari ini, apakah Anda bangga atau justru khawatir dengan masa depan mereka?

*Values:*
Pembapakan bukan sekadar konsep rohani atau materi seminar. Ia adalah gaya hidup yang dibentuk oleh kesadaran, diproses melalui kedewasaan, dan dibuktikan lewat konsistensi.

Kingdom Quotes:
*Menjadi bapa yang baik bukan soal sempurna, tetapi soal hadir. Hadir secara fisik, emosional, spiritual, dan kehadiran yang konsisten itulah yang akan mengubah generasi.*

*King's Swords*Sabtu, 20 Juni 2026*Bacaan setahun:*1 Raja Raja 7:23 – 8:21Kisah Para Rasul 13:42 – 14:7Mazmur 76:1–12*KO...
06/20/2026

*King's Swords*
Sabtu, 20 Juni 2026

*Bacaan setahun:*
1 Raja Raja 7:23 – 8:21
Kisah Para Rasul 13:42 – 14:7
Mazmur 76:1–12

*KOMUNITAS EKSKLUSIF ATAU INKLUSIF?*

*“Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah,” (Efesus 2:19)*

Firman Tuhan yang kita baca hari ini adalah sebuah pesan Tuhan yang disampaikan oleh Paulus kepada jemaat Efesus. Secara umum Efesus adalah kota perdagangan yang sangat strategis Daerah Efesus (sekarang daerah Turki) adalah kawasan yang menjadi persimpangan benua Asia dan Eropa. Sebagai kota perdagangan yang sangat strategis maka penduduk Efesus adalah penduduk yang heterogen, dengan tiga kelompok besar, yaitu orang Rornawi, Yahudi, dan juga Yunani.

Dalam masyarakat yang beragam ini, jemaat Kristen di Efesus pun tidak luput dari konflik internal, khususnya antara orang percaya dari latar belakang Yahudi dan non-Yahudi, terutama terkait keistimewaan status dan adat istiadat. Selain itu, mereka juga diperhadapkan pada persoalan perbedaan status sosial antara tuan dan budak. Situasi ini kemudian membentuk semangat eksklusivitas. Dalam KBBI kata eksklusivitas bisa bermakna sebuah upaya untuk memisahkan, membatasi akses hanya untuk kalangan tertentu. Lawan kata dari eksklusivitas adalah sikap inklusif yang bermakna mengikutsertakan, melibatkan semua pihak tanpa memandang latar belakang atau dengan kata lain tidak ada yang dikecualikan.

Melalui surat ini, Paulus menegaskan bahwa Injil ditujukan bagi segala bangsa. Karya keselamatan Kristus bukan hanya untuk orang Yahudi, melainkan untuk semua orang, apa pun status dan asalnya. Efesus 2:17 berkata, "la datang dan memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang 'jauh' dan damai sejahtera kepada mereka yang dekat" Bagaimana hal ini dapat terjadi? Dibutuhkan hati yang terbuka, yang mengizinkan orang-orang yang berbeda menjadi satu keluarga di dalam Kristus. Namun, tanpa disadari, kita pun sering terjebak dalam spirit eksklusivisme ini. Betapa sering kita lebih nyaman berkumpul, beribadah, berkomsel, bahkan melayani bersama orang-orang yang kita anggap mirip dengan diri kita.

Memang natur manusia cenderung berkumpul dengan mereka yang serupa dengan dirinya. Kita tidak sedang melawan natur itu, melainkan belajar mengelolanya dengan membangun cara pandang baru. Apa pun perbedaan orang lain, mampukah kita menemukan unsur kesamaan menurut perspektif Allah? Misalnya, kita sama-sama orang berdosa yang menerima anugerah-Nya, sama-sama sedang diproses untuk dibentuk dalam karakter Kristus.

Pertanyaannya, apakah kita siap menemukan titik kesamaan dan membangun kesatuan, atau justru terus berfokus pada perbedaan? Injil memanggil kita bukan untuk hidup eksklusif, tetapi menjadi komunitas yang mencerminkan hati Allah-menerima, merangkul, dan mengasihi tanpa sekat. (HA)

*Questions:*
1. Apakah kita lebih sering berfokus pada perbedaan orang lain daripada kesamaan kita di dalam Kristus?
2. Sudahkah Anda membangun sikap inklusif yang merangkul, bukan membatasi, dalam komunitas iman Anda?

*Values:*
Injil meruntuhkan tembok pemisah dan memanggil setiap orang percaya hidup dalam kesatuan, menerima perbedaan, dan membangun komunitas yang inklusif di dalam Kristus.

Kingdom Quotes:
*Kasih itu selalu bisa menemukan persamaan di tengah perbedaan dan keberagaman.*

*King's Swords*Rabu, 17 Juni 2026*Bacaan setahun:*1 Raja Raja 2:13 – 3:15Kisah Para Rasul 11:19–30; 12:1–19Amsal 15:1–10...
06/17/2026

*King's Swords*
Rabu, 17 Juni 2026

*Bacaan setahun:*
1 Raja Raja 2:13 – 3:15
Kisah Para Rasul 11:19–30; 12:1–19
Amsal 15:1–10

*SELAMAT*

*"Dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.” (Matius 10:22 - TB)*

Dalam sebuah cerita pewayangan-Punokawan, terjadi sebuah dialog sebagai berikut _"Menurut kalian, apa kebutuhan pokok dalam hidup?"_ tanya Gareng. Bagong langsung menjawab, _"Harta! Buktinya semua orang ingin kaya!"_ Petruk memotong, _"Kelirul Yang paling penting itu kekuasaan. Semua orang ingin berkuasa."_ _"Kalian berdua keliru,"_ kata Gareng _"Apa gunanya punya gunung emas dan lumbung berlian jika tubuh sakit-sakitan, alias tidak selamat? Apa gunanya menjadi raja atau penguasa jika hidup diliputi ketakutan, alias tidak selamat?"_ _"Jadi yang paling penting itu selamat? Selamat bagaimana?"_ tanya Bagong dan Petruk Gareng menjawab perlahan, _"Selamat lahir dan batin, selamat raga dan jiwa, selamat di rumah, selamat di jalan, selamat di dunia, selamat di akhirat-selamat dalam segala hal."_

Selamat adalah kebutuhan setiap orang. Buktinya, kita bisa bangun tidur hari ini, itu anugerah keselamatan. Kita bertemu satu sama lain, itu pun keselamatan. Karena itu kita mengucapkan, _"Selamat pagi"_ Tekanannya ada pada kata selamat. Dalam Alkitab, kata selamat merupakan konsep yang mendasar. Mungkin kita mengira kata selamat selalu berkaitan dengan jiwa dan surga. Ternyata tidak hanya itu. Makna dasarnya justru juga menyangkut kehidupan jasmani dan keseharian manusia.

Pertama, *selamat berarti sehat atau keadaan tubuh yang baik.* Yusuf bertanya tentang Yakub, _"Apakah ayahmu yang tua yang kamu sebutkan itu selamat?"_ (Kejadian 43:27). Di sini, selamat berkaitan dengan kesehatan dan kesejahteraan hidup. Kedua, *selamat berarti damai, sukacita, dan kebahagiaan.* Yitro berkata kepada Musa bahwa bangsa itu akan pulang dengan puas senang (syalom) ke tempatnya (Keluaran 18:23). Selamat di sini berbicara tentang damai sejahtera. Ketiga, *selamat berarti utuh, aman, tenteram, makmur, dan berkecukupan terpelihara dari segala yang mencelakakan.* Nabi Zakharia bernubuat, _"Aku akan menabur damai sejahtera (syalom)..."_ (Zakharia 8:12). Ini menunjukkan bahwa keselamatan mencakup pemeliharaan Allah atas seluruh kehidupan.

Pengertian luas tentang keselamatan ini diteruskan dalam Perjanjian Baru. Kedatangan Tuhan Yesus membawa makna keselamatan yang lebih dalam: dosa diampuni, manusia dipulihkan, dan hubungan dengan Allah diperdamaikan, Itulah sebabnya kita mengaku Kristus sebagai Juruselamat. Selamat bukan hanya terhindar dari bahaya, tetapi mengalami pemulihan utuh di dalam Kristus-sekarang dan untuk kekekalan. (AU)

*Questions:*
1. Apakah Anda memahami keselamatan hanya sebagai jaminan surga, atau sebagai pemulihan hidup yang utuh didalam Kristus?
2. Apakah Anda sungguh hidup dalam damai dan rasa aman sebagai orang yang telah diselamatkan?

*Values:*
Keselamatan dalam Kristus bukan hanya pengampunan dosa, tetapi pemulihan menyeluruh—jiwa, hidup, damai, dan kekekalan.

Kingdom Quotes:
*Keselamatan bukan sekadar lolos dari kebinasaan, tetapi hidup utuh di bawah pemeliharaan Kristus Sang Juruselamat.*

Address

Central Avenue
Dover, NH
03820

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when ROCK DOVER posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Place Of Worship

Send a message to ROCK DOVER:

Share

Category