R.O.C.K. Ministries TAIWAN

R.O.C.K. Ministries TAIWAN We Help You To Fulfill Your Destiny

KEGIATAN SEPEKAN:

KEBAKTIAN UMUM
Minggu, Pk. 10.00-11.30

PEMURIDAN "HIDUP BERKERAJAAN"
Minggu, Pk. 11:45 - 12:30

KOMUNITAS KERAJAAN
Kamis, Pk. 20.00-21.30

DOA SEPAKAT VIRTUAL
Jum'at, Pk. 20.00-21.30
By Google Meet

03/06/2026

*King's Swords*
Kamis, 04 Juni 2026

*Bacaan setahun:*
2 Samuel 5:6 – 6:23
Kisah para Rasul 1:23 – 2:21
Mazmur 69:29–36

*REVELATION –- MASIHKAH ALLAH BERBICARA?*

*“dan meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu, supaya Ia memberikan kepadamu Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar. Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus” (Efesus 1:17-18)*

Revelation atau pewahyuan adalah penyingkapan sesuatu yang tersembunyi-sesuatu yang tidak bisa dijangkau hanya dengan logika manusia. la bukan hasil kecerdasan, melainkan terang dari Tuhan, Karena itu, untuk memahaminya, kita tidak cukup hanya mengandalkan pikiran, tetapi membutuhkan kepekaan _"mata hati"._

Kisah Yusuf dalam Kejadian 41:15-16 memberi gambaran yang jelas. Ketika Firaun meminta penjelasan atas mimpinya, Yusuf menjawab dengan rendah hati, _"Bukan sekali-kali aku, melainkan Allah..."_ la sadar bahwa sumber pewahyuan bukan dirinya. Di sinilah kita belajar bahwa manusia bukanlah sumber wahyu, melainkan hanya wadahnya.

Menariknya, jika kita melihat kehidupan para penerima wahyu seperti Yusuf, Daniel, Rasul Paulus, dan Yohanes, kita menemukan pola yang sama. Mereka bukan hidup dalam kenyamanan, melainkan dalam tekanan. Yusuf di penjara Mesir, Daniel di pembuangan Babel, Paulus di penjara Roma, dan Yohanes di pengasingan Patmos. Dari kehidupan mereka kita belajar bahwa pewahyuan sering kali lahir bukan di tengah kemudahan, tetapi di tengah kesendirian, tekanan, dan ketaatan yang diuji.

Apakah ini berarti kita tidak mungkin mengalami pewahyuan? Kita perlu membedakan bahwa wahyu yang menambah Kitab Suci memang telah selesai. Namun, pewahyuan dalam arti Tuhan membuka pengertian kita untuk mengenal Dia, itu masih terus berlangsung. Rasul Paulus bahkan berdoa supaya jemaat di Efesus menerima roh hikmat dan wahyu, agar mata hati mereka diterangi (Efesus 1:16-18), Artinya, setiap orang percaya memiliki kesempatan untuk mengalami pewahyuan pribadi-bukan untuk menjadi spektakuler, tetapi untuk semakin mengenal Tuhan dengan benar.

Masalahnya bukan pada apakah Tuhan masih berbicara, tetapi apakah hati kita masih peka. Pewahyuan tidak diberikan kepada mereka yang merasa sudah tahu, tetapi kepada mereka yang rendah hati, taat, dan rindu akan hadirat Tuhan. Karena itu, jangan hanya mencari jawaban dari Tuhan, tetapi carilah hati yang siap menerima suara-Nya. Saat mata hati diterangi, kita melihat persoalan dengan cara pandang surga. Di sanalah pewahyuan bekerja-bukan sekadar memberi informasi, tetapi mentransformasi kehidupan. Orang yang hidup dalam terang pewahyuan tidak hanya mengenal firman, tetapi hidup dipimpin oleh firman itu setiap hari. (DD)

*Questions:*
1. Apakah Anda masih mengandalkan Iogika sendiri, atau sudah melatih kepekaan _"mata hati"_ di hadapan Tuhan?
2. Bagaimana respons Anda saat berada dalam tekanan -- menjauh dari Tuhan, atau justru semakin peka mendengar suara-Nya?

*Values:*
Jika kita hidup dekat dengan Tuhan, taat, dan melatih kepekaan roh, kita pun dapat mengalami pewahyuan—bukan sekadar mengetahui sesuatu, tetapi sungguh mengenal Dia

Kingdom Quotes:
*Allah tidak pernah berhenti berbicara. Namun, hanya hati yang peka dan rendah yang mampu menangkap suara-Nya.*

03/06/2026

*King's Swords*
Rabu, 03 Juni 2026

*Bacaan setahun:*
2 Samuel 3:22 – 5:5
Kisah para Rasul 1:1–22
Mazmur 69:13–28

*TUJUAN HIDUPKU UNTUK BERBUAH*

*“Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku.” (Yohanes 15:8)*

Tuhan menginginkan setiap dari anak-anak-Nya dapat mengerti tujuan hidup yang sebenarnya, yaitu _"Kehidupan Yang Berbuah Lebat"._ Dan hal ini merupakan tujuan utama hidup setiap orang percaya. Kata berbuah lebat yang dimaksud melalui ayat di atas, bukan sekedar banyak saja tetapi terus menerus menghasilkan buah yang tetap dan lebat, sehingga melalui buah itulah orang akan dapat melihat bahwa Yesus sungguh-sungguh nyata dalam kehidupan setiap anak-anak-Nya.

Yesus menegaskan bahwa kemuliaan Bapa dinyatakan melalui buah yang dihasilkan dalam hidup kita. Artinya hidup kita tidak netral: jika tidak berbuah artinya kita tidak sedang memuliakan Tuhan. Banyak orang terlihat _"rohani"_ tetapi tidak berbuah. Seperti pohon yang rimbun daun tapi tidak ada hasil. Dapat kita katakan bahwa kehidupan yang tanpa buah adalah kehidupan yang tanpa tujuan ilahi.

Melalui kehidupan yang berbuah ini maka akan menghasilkan yang pertama adalah *buah karakter Kristus,* sebagaimana tertulis dalam Galatia 5:22-23. Kesembilan buah tersebut adalah *kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri.* Ini mencerminkan hidup yang dipimpin Allah dan karakter Kristus, bukan hasil usaha manusia semata.

Kedua, *transformasi kehidupan* yang disertai perubahan perilaku atau perbuatan, perubahan dari manusia lama menjadi manusia baru. Sehingga hidup kita memberkati orang lain, pelayanan yang berdampak, berfungsi sebagai terang serta garam di tengah dunia yang gelap ini sehingga dapat membawa orang lain kepada Kristus dan menjadi saksi Kristus yang hidup.

Coba cek apakah hidup kita menghasilkan buah? Untuk dapat menghasilkan buah yang terus menerus maka kita harus menjadi murid (Yunani: mathëtai) yang bahasa aslinya berarti orang yang belajar dan mengikuti sepenuhnya, orang yang hidupnya mencerminkan Gurunya. Untuk menjadi murid sejati tidak ada cara lain kita harus melekat dan tinggal di dalam Dia, artinya: miliki keintiman dengan Tuhan, melekat akan Firman-Nya, taat otoritas, siap menjalani proses tanpa persungutan.

Dengan menjadi murid sejati, maka dapat dipastikan hidup kita akan terus berbuah lebat untuk menjadi berkat dan Tuhan dipermuliakan melalui kehidupan kita semua. (TL)

*Questions:*
1. Bagaimana cara agar Anda dapat memiliki tujuan hidup yang berbuah?
2. Apa dampak ketika kita sungguh-sungguh menjadi murid sejati? Diskusikan!

*Values:*
Tujuan hidup orang percaya bukan sekadar hidup, tetapi berbuah dan buah itu bukan pilihan tetapi identitas kita sebagai murid Kristus

Kingdom Quotes:
*Tuhan tidak mencari dan tidak melihat seberapa sibuknya kita dalam pelayanan, tetapi seberapa banyak buah dari kehidupan kita untuk Kerajaan-Nya.*

02/06/2026

*King's Swords*
Selasa, 02 Juni 2026

*Bacaan setahun:*
2 Samuel 2:8 – 3:21
Yohanes 21:1–25
Mazmur 69:1–12

*HIDUP BERSAMA ALLAH DAN MENGHASILKAN BUAH*

*“Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” (Yohanes 15:4-5)*

Ketika Allah menciptakan manusia dan menempatkannya dalam taman Eden, manusia masih memiliki hubungan yang sempurna dengan Allah. Hubungan yang harmonis di antara Allah dan manusia ini hilang karena Adam dan Hawa tidak taat dan jatuh dalam dosa. Melalui pengorbanan Yesus di kayu salib membuka jalan bagi semua umat manusia yang menerima panggilan dan percaya kepada-Nya untuk dapat memiliki kembali hubungan yang intim dengan Allah.

Sering kali hidup kita berfokus pada hasil: ingin hidup berhasil, berdampak, dan menghasilkan sesuatu yang berarti dengan berbagai usaha. Namun Yesus menegaskan bahwa buah tidak dihasilkan dari usaha manusia semata, melainkan dari kedekatan dengan-Nya. Seperti ranting yang tidak dapat berbuah jika terpisah dari pokok anggur, demikian juga hidup kita tidak dapat menghasilkan kehidupan yang berarti tanpa tinggal di dalam persekutuan dengan Allah karena dari hubungan inilah, kehidupan yang berbuah sejati dimulai.

Hubungan yang intim dan persekutuan dengan Allah menghasilkan perubahan dari dalam. Ketika hidup kita melekat kepada-Nya, maka karakter kita dibentuk-kasih menggantikan kebencian, damai menggantikan kegelisahan, dan kesabaran menggantikan kemarahan. Inilah buah pertama yang terlihat yaitu buah karakter yang mencerminkan natur Allah.

Hubungan yang intim dan melekat kepada Allah akan membawa pengaruh dan terang bagi sekitar. Perkataan kita membangun, tindakan kita membawa damai, dan kehadiran kita menjadi saluran berkat tanpa harus memaksakan diri, sehingga secara alami hidup kita akan menjadi pengaruh bagi orang lain. Lebih jauh lagi, kehidupan bersama Allah menghasilkan buah pertumbuhan dan multiplikasi. Kehidupan dalam nilai-nilai dan karakter Kerajaan Allah di dalam diri kita tidak berhenti pada diri sendiri, tetapi mengalir kepada orang lain. Sehingga hidup kita menjadi alat bagi Kerajaan Allah untuk menjangkau, memulihkan, dan membawa kehidupan baru bagi orang lain.

Namun penting untuk diingat bahwa kehidupan yang berbuah bukan tujuan utamanya, melainkan kehidupan yang berbuah adalah hasil dari hubungan yang intim dengan Allah. Ketika kita mengejar buah tanpa membangun hubungan, kita akan menjadi lelah dan kosong, tetapi ketika kita mengejar keintiman dengan Allah, maka buah akan mengikuti dengan sendirinya. Mari kita bangun hubungan yang hidup dan tinggal di dalam hadirat Allah setiap hari, karena dari situlah akan mengalir kehidupan yang berbuah-bukan karena kekuatan kita, tetapi karena kehidupan-Nya ada di dalam kita. (RSN)

*Questions:*
1. Apa yang menjadi fokus hidup kita, kehidupan yang berbuah atau keintiman dengan Allah?
2. Bagaimana kita menghasilkan kehidupan yang berbuah?

*Values:*
Hubungan yang intim dan persekutuan dengan Allah mengubah hidup dari dalam, membawa terang bagi sekitar, dan menghasilkan buah dalam kehidupan.

Kingdom Quotes:
*Kehidupan bersama Allah menghasilkan kehidupan yang berbuah bukan karena kekuatan kita, tetapi karena kehidupan-Nya ada di dalam kita.*

31/05/2026

*King's Swords*
Senin, 01 Juni 2026

*Bacaan setahun:*
2 Samuel 1:1 – 2:7
Yohanes 20:10–31
Amsal 13:20 – 14:4

*FRUITFUL DISCIPLE*

*“Dalam hal inilah Bapa-Ku dimuliakan bahwa kamu berbuah banyak dan menunjukkan kamu adalah murid-murid-Ku.” (Yohanes 15:8 -TB2)*

Welcome June 2026. Tema utama renungan bulan Juni 2026 adalah Fruitful Disciple yang memiliki arti *Murid yang Berbuah.* Fruitful Disciple berarti murid Kristus yarng hidupnya menghasilkan buah nyata-karakter, tindakan, dan dampak yang memuliakan Allah. Kata _"berbuah"_ dalam Yohanes 15:8 berasal dari Yunani karpos, yang berarti hasil hidup yang terlihat, bukan sekadar pengetahuan rohani. Mari kita belajar tiga hal tentang Fruitful Disciple.

Yang pertama, Know Yourself -- *Kenali identitasmu dengan Benar.* Hal ini bukan sekadar mengenal diri, tetapi mengenal Allah, dini, dan musuh kita. Mengenal Allah kita, Yohanes 15:5- tanpa Dia kita tidak bisa berbuat apa-apa. Kata meno = tinggal/melekat terus. Konteks penulisan pada masa itu, Yesus berbicara kepada para murid-Nya yang harus tetap terhubung seperti ranting pada pokok anggur. Mengenal diri sendiri, 2 Korintus 5:17 -- kita adalah ciptaan baru, bukan lagi hidup di masa lalu kita. Mengenal musuh kita, 1 Petrus 5:8-iblis (diabolos) adalah penuduh yang selalu mencari celah. Pada masa kini, banyak orang gagal berbuah karena salah identitas--hidup dari luka lama, bukan dari kebenaran Allah.

Yang kedua, Know Your Destiny -- *Hidup dengan Tujuan Ilahi.* Tanpa memiliki tujuan, maka hidup kita menjadi reaktif, bukan produktif. Dalam Efesus 2:10 menegaskan tujuan hidup kita, yaitu kita diciptakan untuk pekerjaan baik (ergon agathon). Paulus dalam Filipi 3:14 mengingatkan fokus kehidupan kita adalah mengejar panggilan sorgawi. Paulus dalam konteks Ini meninggalkan masa lalu demi tujuan kekal. Dalam Yosua 1:9 mendorong kita untuk berani, dan tidak hidup dalam ketakutan sebab Tuhan menyertai kita. Murid yang berbuah tidak sibuk membandingkan diri dengan orang lain, namun berfokus menyelesaikan panggilan Tuhan.

Yang ketiga, Go and Produce Fruit -- *Bertindak dan Hasilkan Buah.* Iman sejati selalu bergerak. Yesus memberi perintah dalam Yohanes 15:16, _"Aku telah menetapkan kamu supaya kamu pergi dan menghasilkan buah."_ Kata tithemi = ditetapkan secara sengaja. Yesus mau kita memiliki buah Roh, Galatia 5:22-23, yaitu memiliki karakter yang nyata, bukan teori. Vesus mengingatkan dalam Matius 5:16 agar terang kehidupan kita terlihat nyata. Kita jangan hanya tahu firman, namun menghidupi firman. Dunia tidak butuh murid yang pasiť, namun yang tergerak, bergerak dan berdampak.

Murid sejati bukan diukur dari seberapa banyak ia tahu, tetapi seberapa nyata buahnya terlihat. Tinggal dalam Kristus, hidup dalam tujuan, dan bergerak dalam ketaatan akan menghasilkan hidup yang memuliakan Bapa. Stay blessed. (DW)

*Questions:*
1. Apakah kita sudah mengenali identitas kita dengan benar?
2. Apakah kita sudah mengetahui tujuan hidup kita?

*Values:*
Seorang Warga Kerajaan Allah adalah pribadi yang mengenal Sang Raja dengan benar dan mengenali dirinya sendiri.

Kingdom Quotes:
*Bukti bahwa kita adalah murid Kristus bukan dari apa yang kita tahu—namun dari buah yang nyata terlihat dalam hidup kita.*

31/05/2026

*King's Swords*
Minggu, 31 Mei 2026

*Bacaan setahun:*
1 Samuel 29:1 – 31:13
Yohanes 19:28 – 20:9
Mazmur 68:28–35

*SAYA BUKAN BOS, TAPI GEMBALA*

*“Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu… jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela… dan janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka… tetapi hendaklah kamu menjadi teladan." (1 Petrus 5:2-3)*

Dalam dunia, pemimpin sering dipandang sebagai _"bos"_-memiliki kuasa, memberi perintah, dan ingin dilayani. Namun, dalam Kerajaan Allah, konsep ini dibalik. Tuhan memanggil kita bukan untuk menjadi bos, melainkan menjadi gembala. Seorang bos berfokus pada hasil dan kekuasaan, sedangkan seorang gembala berfokus pada jiwa dan kasih. Gembala tidak hanya memimpin, tetapi juga berjalan bersama, merasakan, dan peduli.

Pertama, *gembala melayani, bukan memerintah.* Firman Tuhan berkata, _"Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu... jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela."_ Kata _"menggembalakan"_ (Yunani: poimaino) berarti merawat, menuntun, dan menjaga dengan kasih. Ini bukan sekadar memberi perintah, melainkan melibatkan hati. Seorang bos berkata: _"Kerjakan!"_ Namun seorang gembala berkata: _"Mari kita lakukan bersama."_ Seorang pemimpin yang berjiwa gembala tidak hanya memberi instruksi, tetapi hadir, mendampingi, dan menguatkan orang-orang yang dipimpinnya.

Kedua, *gembala tidak menguasai, tetapi mengasihi.* Firman Tuhan mengingatkan: _"Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah (Yunani: katakurieuō)"._ Kata katakurieuõ berarti menguasai secara keras atau menindas. Tuhan menolak gaya kepemimpinan seperti ini. Kita harus sadar bahwa orang-orang yang kita layani adalah milik Tuhan, bukan milik kita. Karena itu, kepemimpinan harus dijalankan dengan kerendahan hati, bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan untuk membangun dan memberkati.

Ketiga, *gembala menjadi teladan (Yunani: typos) hidup.* Seorang gembala dipanggil untuk menjadi contoh nyata. Kata typos berarti pola atau teladan yang dapat ditiru. Hidup seorang pemimpin harus mencerminkan apa yang ia ajarkan. Integritas lebih penting daripada kemampuan. Orang lain belajar bukan hanya dari kata-kata, tetapi dari kehidupan yang mereka lihat setiap hari.

Keempat, *gembala rela berkorban.* Dalam Yohanes 10:11, Yesus berkata bahwa gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya. Inilah teladan tertinggi. Kepemimpinan yang sejati selalu melibatkan pengorbanan-waktu, tenaga, bahkan perasaan. Melayani bukan tentang kenyamanan, tetapi tentang kasih yang nyata dalam tindakan.

Dari uraian ini, kita dapat membedakan antara bos dan gembala. Bos memerintah tetapi gembala melayani. Bos menguasai tetapi gembala mengasihi. Bos menuntut tetapi gembala memberi teladan. Bos mencari keuntungan tetapi gembala rela berkorban. Melalui kebenaran ini, kita diingatkan bahwa Tuhan memanggil setiap kita untuk memiliki hati seorang gembala. Di mana pun kita ditempatkan di keluarga, gereja, atau pekerjaan-jadilah pribadi yang melayani, mengasihi, memberi teladan, dan rela berkorban. Dengan demikian, hidup kita mencerminkan hati Kristus sebagai Gembala yang sejati. (TL)

*Questions:*
1. Apakah Anda saat ini memimpin dengan kasih atau ego?
2. Sudahkah hidup kita menjadi teladan bagi orang lain? Diskusikan!

*Values:*
Panggilan seorang gembala bukanlah panggilan untuk menjadi bos, melainkan panggilan untuk menjadi hamba yang melayani

Kingdom Quotes:
*Seorang gembala tidak mencari keuntungan pribadi dari domba-dombanya, tetapi berani berkorban dan memberikan hidupnya bagi domba-domba yang dipercayakan kepadanya.*

30/05/2026

*King's Swords*
Sabtu, 30 Mei 2026

*Bacaan setahun:*
1 Samuel 26:1 – 28:25
Yohanes 19:1–27
Mazmur 68:21–27

*MENGAPA TIDAK ADA KEBANGUNAN ROHANI?*

*“Dan makin lama makin bertambahlah jumlah orang yang percaya kepada Tuhan, baik laki-laki maupun perempuan” (Kisah Para Rasul 5:14)*

Kita sering menikmati cerita masa lalu, terlebih ketika masa itu dipenuhi kejayaan. Dalam sejarah gereja, kita dengan antusias mengingat kebangunan rohani melalui tokoh-tokoh seperti Charles Finney, Alexander Dowie, Evan Roberts, Smith Wigglesworth, dan Oral Roberts. Namun pertanyaannya sederhana: apakah kita hanya hidup dari cerita masa lalu? Tidak. Kita hidup hari ini. Jika gereja saat ini belum dipenuhi kuasa Allah seperti dahulu, apa yang sebenarnya tidak beres? Apakah masalahnya pada jemaat, atau memang belum waktunya Tuhan? Seorang hamba Tuhan pernah mengemukakan beberapa alasan yang patut kita renungkan.

Pertama, *gereja kehilangan kerinduan.* Aktivitas yang padat dan kesibukan yang tinggi perlahan mengikis rasa lapar akan hal-hal rohani. Kita bisa berjam-jam antusias membicarakan peluang bisnis, tetapi hanya beberapa menit mendengar firman Tuhan sudah terasa berat. Jika hati menjadi dingin, bagaimana kebangunan rohani bisa terjadi? Kerinduan tidak muncul dengan sendirinya; ia harus dijaga di tengah kesibukan hidup.

Kedua, *gereja menjadi lemah dalam doa.* Ketika seseorang sedang jatuh cinta, ia bisa berlama-lama tanpa merasa bosan. Bahkan gangguan kecil pun tidak mengurangi sukacitanya. Mengapa? Karena ada kasih. Demikian juga dengan kehidupan rohani. Jika kasih kepada Tuhan memudar, doa berubah menjadi rutinitas yang kering. Padahal dahulu, ketika hati masih menyala, doa adalah kebutuhan yang tidak tergantikan.

Ketiga, *gereja mulai berkompromi dengan dosa.* Ini persoalan serius. Ketika disiplin rohani melemah dan teguran terhadap dosa dihindari, maka kekudusan pun terkikis. Firman Tuhan mengajarkan untuk menegur dengan kasih, tetapi sering kali budaya _"sungkan"_ mengambil alih, terutama jika menyangkut mereka yang memiliki posisi atau kontribusi besar dalam gereja. Akibatnya, standar kebenaran diturunkan.

Karena itu, sudah seharusnya kita memiliki kepekaan rohani. Jika api kemuliaan Allah belum nyata di tengah gereja, jangan cepat menyalahkan keadaan. Mulailah dari diri sendiri. Bangkitkan kembali kerinduan, hidupkan doa, dan kembali kepada kekudusan. Kebangunan rohani bukan sekadar cerita masa lalu. Itu adalah undangan bagi kita hari ini-jika kita mau meresponsinya. (DH)

*Questions:*
1. Apakah hati kita masih lapar akan Tuhan, atau sudah tergantikan oleh hal lain?
2. Bagaimana kualitas doa kita —hidup atau hanya rutinitas?

*Values:*
Ketika kasih kepada Tuhan memudar, doa berubah dari kebutuhan menjadi kewajiban.

Kingdom Quotes:
*Tidak ada kebangunan tanpa kekudusan; tidak ada kemuliaan tanpa pertobatan.*

29/05/2026

*King's Swords*
Jumat, 29 Mei 2026

*Bacaan setahun:*
1 Samuel 21:1 – 23:29
Yohanes 18:1–24
Amsal 13:10–19

*BERMEGAH HANYA DALAM SALIB*

*“Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus” (Galatia 6:14)*

Rasul Paulus menulis kalimat ini dalam konteks tekanan religius yang kuat. Banyak orang bermegah dalam sunat, hukum Taurat, dan simbol keagamaan. Tetapi Paulus membuat pernyataan radikal: satu-satunya yang layak dibanggakan hanyalah salib Kristus.

Salib pada zaman itu bukan lambang rohani yang indah. Salib adalah simbol hukuman, kehinaan, dan kegagalan. Namun justru di situlah Paulus menemukan pusat kemuliaannya. Mengapa? Karena di salib, anugerah Allah dinyatakan sempurna. Di sana manusia tidak bisa menyombongkan diri. Semua prestasi runtuh. Semua reputasi hancur. Yang tersisa hanyalah kasih karunia.

Dalam Alkitab kita melihat konsistensi Paulus. Dalam Filipi 3:7 ia berkata bahwa segala keuntungan duniawinya dianggap rugi karena Kristus. Dalam Galatia 2:20 ia menegaskan bahwa dirinya telah disalibkan bersama Kristus. Artinya, salib bukan hanya peristiwa teologis, tetapi pengalaman eksistensial.

Ketika Paulus berkata, _"dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia,"_ ia sedang menjelaskan sebuah pemisahan identitas. Dunia dengan sistem nilai, ambisi, dan kebanggaannya tidak lagi menjadi pusat hidupnya. Dunia tidak lagi memiliki daya tarik yang mengikat jiwanya. Dan pada saat yang sama, la pun tidak lagi hidup untuk mendapatkan pengakuan dunia.

Renungan ini menantang kita secara pribadi. Dalam kehidupan sehari-hari, apa yang sebenarnya menjadi kebanggaan kita? Apakah kita diam-diam bermegah dalam jabatan, pelayanan, kekayaan, atau reputasi rohani? Apakah hati kita masih mudah terusik ketika tidak dihargai atau tidak diakui?

Salib mengajarkan kebebasan yang dalam. Orang yang bermegah dalam salib tidak perlu membuktikan diri. la tidak hidup untuk tepuk tangan manusia. la tidak runtuh saat kehilangan posisi. Sebab identitasnya tidak lagi bersumber dari dunia, melainkan dari Kristus yang tersalib. Bermegah dalam salib berarti menyerahkan seluruh dasar kebanggaan diri kepada Kristus. Ketika salib menjadi pusat hidup, kita dibebaskan dari kebutuhan akan pengakuan manusia, sehingga hidup kita dipenuhi damai sejahtera, kerendahan hati, dan keteguhan dalam segala keadaan. (DD)

*Questions:*
1. Jika semua pencapaian dan pengakuan Anda diambil hari ini, apakah Kristus saja masih cukup menjadi kebanggaan Anda?
2. Apakah keputusan-keputusan hidup Anda lebih ditentukan oleh nilai Kerajaan Allah atau oleh tekanan dan standar dunia?

*Values:*
Seperti Sang Raja, warga Kerajaan seharusnya tidak lagi terikat oleh daya tarik dunia, dan tidak hidup untuk mencari pengakuan dari dunia.

Kingdom Quotes:
*Bermegah dalam salib berarti hidup berpusat pada Kristus. Saat itu, dunia tidak lagi menguasai kita, dan kita mengalami kebebasan sejati dalam anugerah-Nya.*

27/05/2026

*King's Swords*
Kamis, 28 Mei 2026

*Bacaan setahun:*
1 Samuel 21:1 – 23:29
Yohanes 18:1–24
Amsal 13:10–19

*GEMBALA: TURUTILAH TELADANKU!*

*“Sebab itu aku menasihatkan kamu: turutilah teladanku!” (1 Korintus 4:16)*

Ayat nats hari ini merupakan pernyataan yang tegas dan berani dari Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus. Di dalam Alkitab, hanya ada dua tokoh yang berani menyampaikan ajakan seperti ini, yaitu Tuhan Yesus- _"Belajarlah kepada-Ku"_ (Matius 11:29)-dan Rasul Paulus. Hal ini menunjukkan bahwa kehidupan Paulus selaras dengan firman Tuhan. Perkataan dan tindakannya menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan, sehingga ia berani berkata, _"Turutilah teladanku."_

Meski tidak dijelaskan secara spesifik apakah Rasul Paulus pernah menggembalakan atau tidak, namun yang saya yakini di manapun Rasul Paulus pergi, dia akan tinggal beberapa lama di situ, dan memberitakan Injil. Tercatat, tiap kali ia pergi ke suatu daerah, maka di situ p**a akan terbuka suatu pelayanan penggembalaan, itulah sebabnya Rasul Paulus pasti akan mengutus murid-muridnya ke daerah-daerah yang telah ia rintis untuk menopang pelayanan di situ. Salah satunya ketika ia merintis pelayanan di Korintus, rasul Paulus akhirnya menempatkan Timotius, anak rohaninya untuk menopang pelayanan di jemaat Korintus.

Teladan Paulus mengajarkan bahwa kepemimpinan rohani bukan hanya soal perkataan, tetapi juga kehidupan. Otoritas untuk berkata, _"Turutilah teladanku,"_ lahir dari hidup yang berjalan dalam kebenaran. Ketika seorang pemimpin menghidupi nilai-nilai Kerajaan Allah, maka orang-orang yang dipimpinnya akan melihat, meniru, dan mengikuti. Kehidupan yang benar akan menularkan kebiasaan yang baik kepada orang lain. Siapa kawanan domba yang paling dekat dengan kita yang Tuhan percayakan? Ya, keluarga kita! Mulailah dari rumah kita masing-masing. Jangan sampai kawanan domba yang Tuhan percayakan tidak memperoleh teladan yang baik dari hidup kita, malah menjadi sandungan dan tidak menjadi berkat.

Setelah di dalam rumah, siapa lagi kawanan domba yang Tuhan percayakan? Ya, mereka adalah karyawan-karyawan yang bekerja dengan Anda, teman-teman sekolah/kampus Anda, bahkan orang-orang yang ada di dalam komunitas Anda. Mari tanya pada diri sendiri, _"Apakah hidupku sudah menjadi teladan bagi mereka?"_

Dunia melihat kehidupan kita seperti keindahan yang ada di 'Akuarium Raksasa'. Mereka punya ekspektasi yang tinggi atas kehidupan anak-anak Tuhan. Hidup kita harus jadi. berkat, jadi terang, jadi garam, jadi teladan bagi mereka! Oleh sebab itu, kita perlu menjaga hidup dengan sungguh-sungguh. Jagalah diri, jagalah perkataan, jagalah pengajaran, dan jagalah kawanan/orang-orang yang Tuhan percayakan kepada kita. Dengan demikian, hidup kita tidak menjadi sandungan, melainkan menjadi teladan yang membawa orang lain semakin dekat kepada Tuhan. (LA)

*Questions:*
1. Dalam hal apa hidup kita harus menjadi teladan bagi orang-orang yang kita gembalakan?
2. Bagian mana dari hidup kita yang masih perlu diperbaiki agar selaras dengan firman Tuhan?

*Values:*
Seorang gembala harus melayani dengan integritas, apa yang dikatakan sesuai dengan apa yang dilakukan, baru ia dapat dipercaya oleh kawanan yang ia layani.

Kingdom Quotes:
*Turutilah teladanku! Tidak hanya akan menjadi jargon bila kita betul-betul menghidupi Firman Tuhan.*

27/05/2026

*King's Swords*
Rabu, 27 Mei 2026

*Bacaan setahun:*
1 Samuel 19:1 – 20:42
Yohanes 17:6–26
Mazmur 68:7–14

*PEMIMPIN YANG MENGASIHI ATAU MENGINTIMIDASI*

*“Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: "Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?" Jawabnya: "Tidak ada, Tuhan." Lalu kata Yesus: "Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang." (Yohanes 8:10-11)*

Dalam buku _"Bukan Yesus yang Aku Kenal"_ diceritakan sebuah kisah sebagai berikut: seorang wanita tuna susila datang dalam keadaan kacau, tanpa tempat tinggal, sakit, dan tidak mampu membeli makanan untuk putrinya yang berusia dua tahun. Di tengah tangisnya, ia mengaku telah _"menyewakan"_ anaknya kepada pria yang memiliki penyimpangan seksual. Uang yang diperoleh dari satu jam itu lebih banyak daripada yang bisa ia dapatkan sendiri dalam semalam. la mengaku terpaksa melakukannya untuk membiayai ketergantungannya pada obat terlarang.

Mendengar kisah itu, hati siapa pun akan terguncang. Respons pertama yang muncul adalah keinginan untuk segera melaporkan tindakan tersebut kepada pihak berwenang. Namun, dalam kebingungan, muncul satu pertanyaan: apakah ia pernah mencari bantuan dari gereja? Jawaban wanita itu begitu mengejutkan, _"Gereja? Untuk apa saya ke sana? Mereka justru membuat saya merasa lebih buruk."_

Kisah ini menyingkapkan realitas yang menyakitkan. Dunia sering menawarkan standar kepemimpinan yang keras, di mana kuasa digunakan untuk mendominasi, menghakimi, atau menekan, bahkan atas nama kebenaran. Tanpa disadari, pola yang sama dapat masuk ke dalam kehidupan pelayanan (gereja). Kita bisa bersikap seperti ahli Taurat dan orang Farisi yang membawa perempuan pezinah kepada Yesus, bukan untuk dipulihkan, melainkan untuk dihakimi dan dijadikan alat menjebak Yesus.

Tanpa sadar kita juga terjebak pada syarat-syarat tertentu sebelum memberikan kasih. Atas nama kebenaran dan standar moral, kita menuntut perubahan hidup seseorang terlebih dahulu sebagai _"tiket"_ untuk mereka diterima. Namun, Yesus melakukan hal berbeda, la mendasarkan tindakan-Nya pada nilai perlindungan, pembelaan, dan pengampunan. Yesus tidak mengabaikan dosa, tetapi la memilih untuk memberi ruang bagi pemulihan.

Kasih Kristus adalah sumber kekuatan yang memberikan kemampuan bagi seseorang untuk mengalami pertobatan sejati. Tanpa kasih, kita hanya akan menuntut perubahan dan bukan membantu seseorang untuk berubah. Marilah dalam keluarga, pekerjaan, maupun pelayanan kita meneladani Kristus, menjadi sosok yang menjawab kebutuhan mendasar sesama, yaitu kasih dan pengampunan sehingga orang lain menemukan harapan, bukan penghakiman. (HA)

*Questions:*

1. Apakah kita lebih cepat menghakimi atau mengasihi ketika melihat orang yang jatuh dalam dosa?
2. Sudahkah kita menjadi saluran kasih yang membawa pemulihan bagi orang lain?

*Values:*
Kasih yang sejati tidak menunggu perubahan terjadi, tetapi hadir lebih dahulu untuk membuka jalan bagi pemulihan dan pertobatan.

Kingdom Quotes:
*Mari berhenti menggunakan otoritas untuk mengintimidasi, dan mulailah merangkul dengan kasih yang memulihkan.*

25/05/2026

*King's Swords*
Selasa, 26 Mei 2026

*Bacaan setahun:*
1 Samuel 17:38 – 18:30
Yohanes 16:5 – 17:5
Mazmur 68:1–6

*BAYANGAN ATAU WUJUD?*

*“Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat; semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus.” (Kolose 2:16–17)*

Agama selalu punya kecenderungan yang sama: sibuk dengan aturan. Apa yang boleh dimakan. Apa yang tidak boleh disentuh. Hari apa yang dianggap suci. Ritual apa yang harus dijalankan. Orang Yahudi hidup dengan sistem itu. Bahkan setelah menjadi Kristen, sebagian masih ingin membawa pola lama itu masuk ke dalam iman yang baru. Karena itulah Rasul Paulus menegaskan: jangan biarkan dirimu dihakimi oleh ritual. Semua itu hanya bayangan. Wujudnya adalah Kristus.

Bayangan tidak pernah menjadi tujuan. Bayangan hanya menunjuk kepada sesuatu yang lebih nyata. Namun ironisnya, banyak orang Kristen hari ini justru kembali jatuh pada hal yang sama. Salib dianggap terlalu sederhana. Anugerah dianggap terlalu mudah. Lalu ditambahkanlah berbagai aktivitas rohani untuk _"menyempurnakan"_ iman. Padahal, ketika kita menambahkan sesuatu untuk merasa lebih rohani, kita sedang mengatakan bahwa karya Kristus belum cukup. Paulus bahkan memperingatkan lebih keras lagi: _"Janganlah kamu biarkan kemenanganmu digagalkan oleh orang yang pura-pura merendahkan diri dan beribadah kepada malaikat..."_ (Kolose 2:18)

Kerohanian semu sering tampil dalam bentuk yang terlihat sangat saleh: merendahkan diri secara dramatis, berpantang ini dan itu, mengejar pengalaman rohani spektakuler, merasa lebih kudus karena disiplin lahiriah. Tetapi semua itu bisa menjadi jebakan. Mengapa? Karena fokusnya bukan lagi Kristus, melainkan performa rohani. Paulus berkata lebih tajam lagi: _"Kamu telah mati bersama Kristus... mengapa kamu masih mau takluk pada peraturan-peraturan seperti: jangan jamah ini, jangan kecap itu, jangan sentuh ini?"_ (Kolose 2:20-21) Aturan-aturan itu terlihat bijaksana. Tampak rohani. Tampak disiplin. Tetapi jika tidak berakar pada hubungan dengan Kristus, semuanya hanya kulit luar.

Agama bisa membuat kita sibuk. Tetapi hanya Kristus yang membuat kita hidup. Ritual bisa memberi rasa aman. Tetapi hanya salib yang memberi keselamatan. Disiplin rohani itu baik. Tradisi tidak selalu salah. Tetapi ketika ritual menjadi pusat dan Kristus menjadi pelengkap, saat itulah iman berubah menjadi bayangan kosong.

Salib bukan simbol kosong. Salib adalah kenyataan. Salib adalah penggenapan. Salib adalah pusat. Pertanyaannya sederhana: Apakah kita sedang hidup dalam wujud, atau masih mengejar bayangan? Jangan sampai kita terlihat rohani, tetapi kehilangan Kristus. Jangan sampai kita sibuk beragama, tetapi jauh dari Injil. Karena semua bayangan sudah digenapi, Dan wujudnya adalah Kristus. (DD)

*Questions:*
1. Apakah Anda merasa lebih rohani karena apa yang Anda lakukan, atau karena siapa yang Anda pegang—yaitu Kristus?
2. Jika semua ritual dan atribut keagamaan diambil dari hidup Anda, apakah relasi Anda dengan Kristus tetap utuh dan hidup?

*Values:*
Kekristenan bukan tentang menambah aturan agar terlihat kudus. Kekristenan adalah tentang kembali kepada Kristus sebagai pusat dan kepenuhan.

Kingdom Quotes:
*Disiplin rohani itu baik. Tradisi tidak selalu salah. Tetapi ketika ritual menjadi pusat dan Kristus menjadi pelengkap, saat itulah iman berubah menjadi bayangan kosong.*

Address

臺灣省桃園市楊梅區永美路395號5樓
Yangmei District
326

Opening Hours

Tuesday 10:00 - 16:00
Wednesday 10:00 - 16:00
Thursday 10:00 - 16:00
Friday 10:00 - 16:00
Saturday 10:00 - 13:00
Sunday 09:00 - 13:30

Telephone

+88634814852

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when R.O.C.K. Ministries TAIWAN posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Place Of Worship

Send a message to R.O.C.K. Ministries TAIWAN:

Share