02/08/2025
Renungan Katekismus Minggu Ke-30
Perjamuan Malam Tuhan dan Misa : Seberapa Besar Perbedaannya?
Bukankah menghiburkan hati, mengetahui bahwa Meja Perjamuan bukanlah bagi mereka yang tersenyum setiap saat dan memiliki rasa percaya diri yang tinggi, namun malah bagi mereka yang “yang menyesali dirinya karena dosa-dosanya” (Jawaban 81)? Perjamuan Malam Tuhan adalah bagi mereka yang memiliki “segala kelemahan yang masih tertinggal”, namun, walaupun mereka secara serius cacad, mereka “ingin makin dikuatkan imannya dan membenahi hidup mereka”.
Perjamuan Kudus adalah bagi mereka yang lemah, namun bukan bagi orang yang munafik. Orang-orang munafik adalah mereka yang tidak dapat melihat, atau tidak jujur terhadap adanya jurang di antara perkataan dan perbuatan mereka. Meja Perjamuan adalah bagi mereka yang membenci dosa-dosa mereka, bukan bagi mereka yang memanjakannya atau mencari-cari alasan untuknya atau tidak memiliki usaha untuk lari daripadanya. Orang-orang sedemikian tidak boleh diizinkan untuk mengikuti Perjamuan Kudus; jika tidak demikian maka mereka “menajiskan perjanjian Allah” dan “membangkitkan murka Allah atas seluruh jemaat” (Jawaban 82). 1Korintus 11 memuat ayat-ayat yang mencengangkan : “Jadi barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan. Karena itu hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan itu. Karena barangsiapa makan dan minum tanpa mengakui tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman atas dirinya. Sebab itu banyak di antara kamu yang lemah dan sakit, dan tidak sedikit yang meninggal” (1Kor 11:27-30).
Berbagian dalam Perjamuan Kudus dengan cara yang tidak layak berarti menunjukkan penghinaan terhadap perjanjian Allah dan, karenanya, menghasilkan kutuk perjanjian Allah pada umat perjanjian-Nya. Dan jika menurutmu hal ini adalah perkataan yang sulit untuk ditelan, maka kini kita beralih ke hal yang lebih kontroversial lagi.
Katekismus Heidelberg terkenal sebagai satu dokumen yang sangat tegas, nyata pada Jawaban 80 : “Itulah sebabnya Misa itu pada dasarnya tidak lain dan tidak bukan merupakan penyangkalan kurban dan penderitaan Yesus Kristus yang satu-satunya, dan penyembahan berhala yang terkutuk.”
Berbeda dengan kebaktian-kebaktian Protestan di mana pemberitaan firman Tuhan (khotbah) menjadi pusat utama, dalam ibadah Katolik, atau Misa, fokus utamanya adalah Ekaristi (yang disebut kaum Protestan sebagai Perjamuan Malam Tuhan atau Komuni / Perjamuan Kudus). Pendeta mungkin memberikan satu khotbah singkat sepuluh menit mengenai satu perikop Alkitab, namun perayaan Ekaristi adalah apa yang membuat Misa sebagai Misa.
Inti dari pengertian Katolik akan Ekaristi adalah satu kepercayaan dalam tubuh dan darah “substansial” nyata Kristus di dalam roti dan anggur. Orang Katolik percaya bahwa elemen-elemen itu ditransubstansiasi, sehingga ketika disucikan oleh pastor, maka roti dan anggur sesungguhnya menjadi daging dan darah Kristus. Bagi orang Katolik, Perjamuan Malam Allah bukan sekedar satu ibadah pengingat akan kematian Kristus, atau bahkan satu kehadiran rohani di mana kita berpesta akan Kristus dalam satu cara yang mistis dan rohani. Ekaristi, dalam tradisi Katolik, juga adalah satu pengorbanan.
Dan inilah yang oleh para perumus KH dipandang sangat menyinggung dalam Misa Katolik. Sesungguhnya, alasan KH menambahkan TJ80 dalam edisi ketiga adalah, yang paling mendekati, sebagai respon terhadap Konsili Trent. Pada tanggal 17 September 1562, di sesi keduapuluh dua dari Konsili Trent, perpanjangan tangan resmi dari Catholic Counter-Reformation bertemu dan menghasilkan satu pernyataan “perihal pengorbanan dari Misa”. Konsili Trent mengumumkan, dalam istilah yang tidak jelas, bahwa Misa merepresentasikan, bukan hanya secara simbolik namun secara fakta, akan pengorbanan penebusan Kristus (Katekismus Gereja Katolik, 1367).
Supaya adil, perlu dicatat bahwa teologi Katolik tidak menganggap Ekaristi sebagai pengorbanan ulang Kristus. “Pengorbanan Kristus dan pengorbanan Ekaristi adalah …. satu pengorbanan tunggal”. Maka, para teolog Katolik tidak sepakat dengan KH bahwa “Misa itu pada dasarnya tidak lain dan tidak bukan merupakan penyangkalan kurban dan penderitaan Yesus Kristus yang satu-satunya”. Pengorbanan Kristus dan Ekaristi adalah satu pengorbanan yang dilaksanakan dalam cara-cara yang berbeda, begitu alasan mereka. Pengajaran resmi Katolik tidak membantah bahwa kematian Kristus harus diulangi berkali-kali. Melainkan, mereka mengajarkan bahwa dalam Ekaristi, kematian Kristus ditarik ke dalam masa sekarang ini bagi kita untuk menikmatinya dalam sakramen. Tidak ada orang Katolik yang mengetahui teologi resminya akan mengklaim bahwa Misa mengulangi pengorbanan penebusan Kristus, karena pengorbanan itu “selalu ada” (CCC 1364). Maka kata-kata dalam KH tidak merefleksikan pemahaman teologi Katolik terhadap Misa (yang menyebabkan perbaikan oleh Gereja Kristen Reformasi).
Sekalipun KH tidak menjelaskan posisi Katolik secara akurat sepenuhnya, namun mudah untuk memahami bagaimana pembicaraan mengenai satu pengorbanan pengganti (propitiatory sacrifice) dalam Ekaristi terlihat hampir serupa seperti mengulangi pengorbanan Kristus yang hanya satu-satunya, sekali untuk selamanya, tidak boleh diulangi lagi (Ibrani 9:25–26; 10:10–18). Setidaknya kita keberatan terhadap hal-hal berikut :
(1) gagasan bahwa karya final Kristus (Yohanes 19:30) dapat sedemikian rupa menjadi bersifat sementara dan dapat ditarik ke dalam masa sekarang,
(2) kepercayaan bahwa Misa adalah satu pengorbanan atas dosa, dan
(3) ide bahwa elemen-elemen itu menjadi tubuh dan darah Kristus sebenarnya.
Lebih penting lagi, meskipun saya lebih s**a tidak mengungkit kembali polemik Protestan-Katolik, saya harus katakan bahwa saya masih berpikir bahwa pemujaan Katolik akan Kristus dalam roti dan anggur adalah serangan terhadap Allah. “Terkutuk” bukanlah kata yang tepat. Saya percaya ada orang-orang Katolik yang percaya kepada Yesus Kristus saja dan diselamatkan oleh iman terlepas dari usaha diri (works). Namun cara umat Katolik merayakan Ekaristi adalah jelas keliru.
Apakah hal itu merupakan pemberhalaan seperti yang dikatakan dalam KH? Argumen bahwa hal itu mungkin terjadi, meskipun bukan kesimp**an bahwa hal itu pasti terjadi, ¬ menemukan konfirmasi di tempat yang mengejutkan: para apologet Katolik.
Dalam buku mereka mengenai p**ang ke “rumah” ke Roma, apologet Katolik bernama Scott Hahn dan istrinya, Kimberly, menceritakan pengalaman pertama mereka dengan Misa. Kimberly menjelaskan :
“Pada satu malam, kami mendapat kesempatan untuk menghadiri satu Misa di mana ada satu prosesi Ekaristi di bagian akhir. Saya tidak pernah melihatnya sebelumnya. Ketika saya melihat baris demi baris para pria dan wanita berlutut dan menunduk ketika monstrans (bejana suci tempat roti dan anggur disimpan) lewat, saya berpikir, orang-orang ini percaya bahwa inilah Tuhan, bukan sekedar roti dan anggur. Jika inilah Yesus, memang itu adalah satu-satunya respon yang selayaknya. Jika seorang seharusnya berlutut di hadapan seorang raja hari ini, betapa lebih lagi di hadapan Raja segala raja? Tuhan atas segala tuhan? Lebih aman untuk berlutut atau sebaliknya?”
“Tapi, saya terus merenung, bagaimana jika bukan?” Jika bukan Yesus yang ada di monstrans, maka apa yang mereka lakukan itu adalah pemujaan berhala yang menjijikkan."
Peter Kreeft, seorang Katolik Roma yang menawan, mengatakan sesuatu yang serupa: “Jika doktrin Kehadiran Nyata Kristus dalam Ekaristi tidaklah benar, pemujaan ini adalah penyembahan berhala yang paling serius : membungkuk pada roti dan menyembah anggur! Dan jika itu benar, maka menolak untuk memujanya juga sama mengerikannya.” Memang benar tidak ada jalan lain untuk mengatasi dilema ini. Jika transubstansiasi benar, maka Misa menyenangkan Tuhan dan kita harus bersujud di hadapan hosti (roti) yang telah dikonsekrasi. Namun jika “Inilah tubuh-Ku” diartikan tidak lebih konkret daripada perkataan “Akulah pintu,” dan jika doktrin transubstansiasi hanya bekerja dengan mengimpor kategori Aristotelian, maka ketakutan Protestan terhadap Misa menjadi benar. Tidak perlu untuk berlutut.
Kreeft berpikir sangat mengejutkan bahwa saya tidak akan menunduk pada roti dan anggur dalam satu Misa karena dia percaya Kristus hadir secara terlihat di situ. Saya pikir adalah mengejutkan untuk menunduk pada roti dan anggur karena saya tidak percaya Kristus hadir secara terlihat di sana. Tidak mungkin kedua pihak sama-sama benar. Satu pihak pastilah sedang melakukan satu kesalahan yang berdosa. KH menegaskan bahwa pandangan Katolik akan Misa itu keliru. Saya setuju. Pribadi yang sama yang wafat di Kalvari 2,000 tahun yang lalu tidaklah dikorbankan di atas altar bagi dosa-dosa kita selama perayaan Ekaristi. Oleh karena itu, mengikuti logika yang dipaparkan oleh gereja Katolik sendiri, Protestan, yang menolak pemahaman Katolik Roma terhadap Yohanes 6, harus menyimpulkan bahwa bagian-bagian dari Misa adalah penyembahan berhala.
Memang benar, niat dari orang-orang Katolik yang tulus adalah untuk menyembah Kristus, karena Dia hadir dalam roti dan anggur. Mereka tidak melihat diri mereka sendiri seperti menyembah sepotong roti. Namun roti itu secara fisik tidak lebih dari sekedar roti. Ketika Yesus berkata, “Cawan ini … adalah perjanjian baru” (Lukas 22:20), kita tidak menyamakan cawan yang sebenarnya dengan perjanjian baru. Jadi mengapa kita mengartikan “inilah tubuhku” (Lukas 22:19) sebagai hal yang sama; roti telah menjadi tubuh Kristus yang sebenarnya? Tidak ada Kehadiran Nyata dalam Ekaristi sebagaimana dipahami umat Katolik sejak Konsili Lateran Keempat (1215). Semua ini berarti bahwa Perjamuan Malam Tuhan adalah untuk
dirayakan bukan di atas altar, melainkan di sekeliling meja (1 Kor. 11:20). Satu-satunya altar yang kita miliki hanyalah salib (Ibr. 13:10; 7:27; 10:10), dan satu-satunya pengorbanan yang terus dilakukan adalah pujian yang terucap di bibir kita (Ibr 13:15) dan ketaatan hidup kita (Rm. 12:1).
(Diterjemahkan bebas dari buku karya Kevin DeYoung “The Good News We Almost Forgot – Rediscovering The Gospel in a 16th century Catechism”)