ERC Taiwan

ERC Taiwan Evangelical Reformed Church 台北-台中
Gereja berbahasa Indonesia dengan teologi Reformed, di Taipei & Taizhong, Taiwan, R.O.C

Ibadah Minggu jam 10 pagi.

Didirikan dengan anugerah Allah Tritunggal untuk memberitakan Injil dan membawa orang-orang menjadi murid Kristus yang setia. Sejak Maret 2013 menjadi gereja yang mandiri tanpa afiliasi dengan sinode manapun.

02/12/2025
Renungan Katekismus Minggu Ke-30Perjamuan Malam Tuhan dan Misa : Seberapa Besar Perbedaannya?Bukankah menghiburkan hati,...
02/08/2025

Renungan Katekismus Minggu Ke-30
Perjamuan Malam Tuhan dan Misa : Seberapa Besar Perbedaannya?

Bukankah menghiburkan hati, mengetahui bahwa Meja Perjamuan bukanlah bagi mereka yang tersenyum setiap saat dan memiliki rasa percaya diri yang tinggi, namun malah bagi mereka yang “yang menyesali dirinya karena dosa-dosanya” (Jawaban 81)? Perjamuan Malam Tuhan adalah bagi mereka yang memiliki “segala kelemahan yang masih tertinggal”, namun, walaupun mereka secara serius cacad, mereka “ingin makin dikuatkan imannya dan membenahi hidup mereka”.

Perjamuan Kudus adalah bagi mereka yang lemah, namun bukan bagi orang yang munafik. Orang-orang munafik adalah mereka yang tidak dapat melihat, atau tidak jujur terhadap adanya jurang di antara perkataan dan perbuatan mereka. Meja Perjamuan adalah bagi mereka yang membenci dosa-dosa mereka, bukan bagi mereka yang memanjakannya atau mencari-cari alasan untuknya atau tidak memiliki usaha untuk lari daripadanya. Orang-orang sedemikian tidak boleh diizinkan untuk mengikuti Perjamuan Kudus; jika tidak demikian maka mereka “menajiskan perjanjian Allah” dan “membangkitkan murka Allah atas seluruh jemaat” (Jawaban 82). 1Korintus 11 memuat ayat-ayat yang mencengangkan : “Jadi barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan. Karena itu hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan itu. Karena barangsiapa makan dan minum tanpa mengakui tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman atas dirinya. Sebab itu banyak di antara kamu yang lemah dan sakit, dan tidak sedikit yang meninggal” (1Kor 11:27-30).
Berbagian dalam Perjamuan Kudus dengan cara yang tidak layak berarti menunjukkan penghinaan terhadap perjanjian Allah dan, karenanya, menghasilkan kutuk perjanjian Allah pada umat perjanjian-Nya. Dan jika menurutmu hal ini adalah perkataan yang sulit untuk ditelan, maka kini kita beralih ke hal yang lebih kontroversial lagi.
Katekismus Heidelberg terkenal sebagai satu dokumen yang sangat tegas, nyata pada Jawaban 80 : “Itulah sebabnya Misa itu pada dasarnya tidak lain dan tidak bukan merupakan penyangkalan kurban dan penderitaan Yesus Kristus yang satu-satunya, dan penyembahan berhala yang terkutuk.”
Berbeda dengan kebaktian-kebaktian Protestan di mana pemberitaan firman Tuhan (khotbah) menjadi pusat utama, dalam ibadah Katolik, atau Misa, fokus utamanya adalah Ekaristi (yang disebut kaum Protestan sebagai Perjamuan Malam Tuhan atau Komuni / Perjamuan Kudus). Pendeta mungkin memberikan satu khotbah singkat sepuluh menit mengenai satu perikop Alkitab, namun perayaan Ekaristi adalah apa yang membuat Misa sebagai Misa.
Inti dari pengertian Katolik akan Ekaristi adalah satu kepercayaan dalam tubuh dan darah “substansial” nyata Kristus di dalam roti dan anggur. Orang Katolik percaya bahwa elemen-elemen itu ditransubstansiasi, sehingga ketika disucikan oleh pastor, maka roti dan anggur sesungguhnya menjadi daging dan darah Kristus. Bagi orang Katolik, Perjamuan Malam Allah bukan sekedar satu ibadah pengingat akan kematian Kristus, atau bahkan satu kehadiran rohani di mana kita berpesta akan Kristus dalam satu cara yang mistis dan rohani. Ekaristi, dalam tradisi Katolik, juga adalah satu pengorbanan.
Dan inilah yang oleh para perumus KH dipandang sangat menyinggung dalam Misa Katolik. Sesungguhnya, alasan KH menambahkan TJ80 dalam edisi ketiga adalah, yang paling mendekati, sebagai respon terhadap Konsili Trent. Pada tanggal 17 September 1562, di sesi keduapuluh dua dari Konsili Trent, perpanjangan tangan resmi dari Catholic Counter-Reformation bertemu dan menghasilkan satu pernyataan “perihal pengorbanan dari Misa”. Konsili Trent mengumumkan, dalam istilah yang tidak jelas, bahwa Misa merepresentasikan, bukan hanya secara simbolik namun secara fakta, akan pengorbanan penebusan Kristus (Katekismus Gereja Katolik, 1367).
Supaya adil, perlu dicatat bahwa teologi Katolik tidak menganggap Ekaristi sebagai pengorbanan ulang Kristus. “Pengorbanan Kristus dan pengorbanan Ekaristi adalah …. satu pengorbanan tunggal”. Maka, para teolog Katolik tidak sepakat dengan KH bahwa “Misa itu pada dasarnya tidak lain dan tidak bukan merupakan penyangkalan kurban dan penderitaan Yesus Kristus yang satu-satunya”. Pengorbanan Kristus dan Ekaristi adalah satu pengorbanan yang dilaksanakan dalam cara-cara yang berbeda, begitu alasan mereka. Pengajaran resmi Katolik tidak membantah bahwa kematian Kristus harus diulangi berkali-kali. Melainkan, mereka mengajarkan bahwa dalam Ekaristi, kematian Kristus ditarik ke dalam masa sekarang ini bagi kita untuk menikmatinya dalam sakramen. Tidak ada orang Katolik yang mengetahui teologi resminya akan mengklaim bahwa Misa mengulangi pengorbanan penebusan Kristus, karena pengorbanan itu “selalu ada” (CCC 1364). Maka kata-kata dalam KH tidak merefleksikan pemahaman teologi Katolik terhadap Misa (yang menyebabkan perbaikan oleh Gereja Kristen Reformasi).
Sekalipun KH tidak menjelaskan posisi Katolik secara akurat sepenuhnya, namun mudah untuk memahami bagaimana pembicaraan mengenai satu pengorbanan pengganti (propitiatory sacrifice) dalam Ekaristi terlihat hampir serupa seperti mengulangi pengorbanan Kristus yang hanya satu-satunya, sekali untuk selamanya, tidak boleh diulangi lagi (Ibrani 9:25–26; 10:10–18). Setidaknya kita keberatan terhadap hal-hal berikut :
(1) gagasan bahwa karya final Kristus (Yohanes 19:30) dapat sedemikian rupa menjadi bersifat sementara dan dapat ditarik ke dalam masa sekarang,
(2) kepercayaan bahwa Misa adalah satu pengorbanan atas dosa, dan
(3) ide bahwa elemen-elemen itu menjadi tubuh dan darah Kristus sebenarnya.
Lebih penting lagi, meskipun saya lebih s**a tidak mengungkit kembali polemik Protestan-Katolik, saya harus katakan bahwa saya masih berpikir bahwa pemujaan Katolik akan Kristus dalam roti dan anggur adalah serangan terhadap Allah. “Terkutuk” bukanlah kata yang tepat. Saya percaya ada orang-orang Katolik yang percaya kepada Yesus Kristus saja dan diselamatkan oleh iman terlepas dari usaha diri (works). Namun cara umat Katolik merayakan Ekaristi adalah jelas keliru.
Apakah hal itu merupakan pemberhalaan seperti yang dikatakan dalam KH? Argumen bahwa hal itu mungkin terjadi, meskipun bukan kesimp**an bahwa hal itu pasti terjadi, ¬ menemukan konfirmasi di tempat yang mengejutkan: para apologet Katolik.
Dalam buku mereka mengenai p**ang ke “rumah” ke Roma, apologet Katolik bernama Scott Hahn dan istrinya, Kimberly, menceritakan pengalaman pertama mereka dengan Misa. Kimberly menjelaskan :
“Pada satu malam, kami mendapat kesempatan untuk menghadiri satu Misa di mana ada satu prosesi Ekaristi di bagian akhir. Saya tidak pernah melihatnya sebelumnya. Ketika saya melihat baris demi baris para pria dan wanita berlutut dan menunduk ketika monstrans (bejana suci tempat roti dan anggur disimpan) lewat, saya berpikir, orang-orang ini percaya bahwa inilah Tuhan, bukan sekedar roti dan anggur. Jika inilah Yesus, memang itu adalah satu-satunya respon yang selayaknya. Jika seorang seharusnya berlutut di hadapan seorang raja hari ini, betapa lebih lagi di hadapan Raja segala raja? Tuhan atas segala tuhan? Lebih aman untuk berlutut atau sebaliknya?”
“Tapi, saya terus merenung, bagaimana jika bukan?” Jika bukan Yesus yang ada di monstrans, maka apa yang mereka lakukan itu adalah pemujaan berhala yang menjijikkan."
Peter Kreeft, seorang Katolik Roma yang menawan, mengatakan sesuatu yang serupa: “Jika doktrin Kehadiran Nyata Kristus dalam Ekaristi tidaklah benar, pemujaan ini adalah penyembahan berhala yang paling serius : membungkuk pada roti dan menyembah anggur! Dan jika itu benar, maka menolak untuk memujanya juga sama mengerikannya.” Memang benar tidak ada jalan lain untuk mengatasi dilema ini. Jika transubstansiasi benar, maka Misa menyenangkan Tuhan dan kita harus bersujud di hadapan hosti (roti) yang telah dikonsekrasi. Namun jika “Inilah tubuh-Ku” diartikan tidak lebih konkret daripada perkataan “Akulah pintu,” dan jika doktrin transubstansiasi hanya bekerja dengan mengimpor kategori Aristotelian, maka ketakutan Protestan terhadap Misa menjadi benar. Tidak perlu untuk berlutut.
Kreeft berpikir sangat mengejutkan bahwa saya tidak akan menunduk pada roti dan anggur dalam satu Misa karena dia percaya Kristus hadir secara terlihat di situ. Saya pikir adalah mengejutkan untuk menunduk pada roti dan anggur karena saya tidak percaya Kristus hadir secara terlihat di sana. Tidak mungkin kedua pihak sama-sama benar. Satu pihak pastilah sedang melakukan satu kesalahan yang berdosa. KH menegaskan bahwa pandangan Katolik akan Misa itu keliru. Saya setuju. Pribadi yang sama yang wafat di Kalvari 2,000 tahun yang lalu tidaklah dikorbankan di atas altar bagi dosa-dosa kita selama perayaan Ekaristi. Oleh karena itu, mengikuti logika yang dipaparkan oleh gereja Katolik sendiri, Protestan, yang menolak pemahaman Katolik Roma terhadap Yohanes 6, harus menyimpulkan bahwa bagian-bagian dari Misa adalah penyembahan berhala.
Memang benar, niat dari orang-orang Katolik yang tulus adalah untuk menyembah Kristus, karena Dia hadir dalam roti dan anggur. Mereka tidak melihat diri mereka sendiri seperti menyembah sepotong roti. Namun roti itu secara fisik tidak lebih dari sekedar roti. Ketika Yesus berkata, “Cawan ini … adalah perjanjian baru” (Lukas 22:20), kita tidak menyamakan cawan yang sebenarnya dengan perjanjian baru. Jadi mengapa kita mengartikan “inilah tubuhku” (Lukas 22:19) sebagai hal yang sama; roti telah menjadi tubuh Kristus yang sebenarnya? Tidak ada Kehadiran Nyata dalam Ekaristi sebagaimana dipahami umat Katolik sejak Konsili Lateran Keempat (1215). Semua ini berarti bahwa Perjamuan Malam Tuhan adalah untuk
dirayakan bukan di atas altar, melainkan di sekeliling meja (1 Kor. 11:20). Satu-satunya altar yang kita miliki hanyalah salib (Ibr. 13:10; 7:27; 10:10), dan satu-satunya pengorbanan yang terus dilakukan adalah pujian yang terucap di bibir kita (Ibr 13:15) dan ketaatan hidup kita (Rm. 12:1).
(Diterjemahkan bebas dari buku karya Kevin DeYoung “The Good News We Almost Forgot – Rediscovering The Gospel in a 16th century Catechism”)

02/08/2025

Kebaktian Minggu ERC, 3 Agustus 2025.
A Thirst For God, Pdt. Nico Ong.
Indonesia - Community Music Center - 9 WIB.
Taipei - Like Co-working Space - 10 a.m. Local time.

21/07/2025
05/07/2025

Kebaktian Minggu ERC, 6 July 2025.
Possesions Will Perish, Pdt. Nico Ong.
Indonesia - Community Music Center - 9 WIB.
Taipei - Like Co-working Space - 10 a.m. Local time.

Renungan Katekismus Heidelberg Minggu Ke-26 BERSIH!  BERSIH!Amanat Agung dalam Matius 28 memiliki satu kata kerja impera...
29/06/2025

Renungan Katekismus Heidelberg Minggu Ke-26

BERSIH! BERSIH!

Amanat Agung dalam Matius 28 memiliki satu kata kerja imperatif (kata kerja yang digunakan untuk memberikan perintah) dan tiga participles (kata sifat) pendukung. Kata kerja utama dalam Amanat Agung itu bukan “pergilah”, sekalipun terlihat demikian dalam terjemahan Alkitab bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Kata kerja utamanya adalah perintah untuk “memuridkan” (make disciples). Tiga participles menjelaskan bagaimana perintah itu digenapi. Kita memuridkan segala bangsa dengan pergi, dengan membaptis, dan dengan mengajarkan mereka untuk menaati semua yang telah diperintahkan Tuhan Yesus. Kita telah memahami bagian ‘pergilah’ dalam Amanat Agung itu. Itulah sebabnya kita memiliki minggu penginjilan (missions week). Kita mengerti juga mengenai bagian pengajaran. Kita ‘pergi’ untuk ‘mengajar’. Namun kebanyakan dari kita tidak berpikir banyak mengenai bagian membaptis. Tuhan Yesus menjadikan 'membaptis' sebagai salah satu dari elemen utama penggenapan Amanat Agung. Maka hal itu pastilah sangat penting.

Baptisan adalah satu komponen inti dari Amanat Agung karena baptisan menandakan kita sebagai seorang pengikut Kristus dan meyakinkan kita bahwa melalui iman, kita telah diampuni oleh Allah. Ada banyak hal yang dapat kita jabarkan mengenai arti baptisan. Baptisan melambangkan kematian kita (dari dosa) dan kebangkitan kita kembali dengan Kristus. Baptisan melambangkan percikan darah Kristus pada kita. Namun pada esensinya, air baptisan mengingatkan kita bahwa dosa-dosa kita telah dibersihkan. Semua noda kita telah dibasuh bersih dengan sabun cuci anugerah Allah yang menggosok noda-noda dosa kita.

Kita tidak berpikir bahwa baptisan saja telah cukup. Entahkah kita dibaptis sebagai seorang dewasa ataukah seorang anak atau bahkan sebagai seorang bayi, kita seharusnya sering memikirkan akan baptisan kita. Maksudnya, mengingat peristiwa baptisan kita atau sekedar mengingat bahwa kita telah dibaptis dan telah dimeterai dengan janji Allah akan pengampunan. Ketika kita tersandung dan makan berlebihan hingga mencapai titik kerakusan, ketika kita kehabisan akal menghadapi anak-anak kita, ketika kita menyesali semangat kita mengkritisi orang lain, kita harus mengingat baptisan kita. Dengan iman kita telah diampuni dan telah dicuci bersih. Baptisan adalah pengingatnya, satu simbol pengampunan yang telah kita terima (sebagaimana nanti dinyatakan dalam TJ72 di Minggu ke-27).

Kami tidak memiliki TV cable di rumah, namun pada suatu hari saya tinggal di satu rumah yang memilikinya. Pada satu sore yang santai, saya menyalakan TV dan bolak-balik mencari saluran TV selama empat kali, namun dengan sia-sia tak menemukan sesuatu yang menarik untuk ditonton. Akhirnya saya berhenti setelah menonton sekitar enampuluh detik. Tak butuh lama untuk sampai pada adegan yang vulgar, satu dari sekian kali di mana tidak ada yang diperlihatkan namun ada hal-hal yang menandakan hal itu. Saya kemudian segera mengganti saluran TV lain. Namun jika saya jujur, saya berhenti di saluran itu untuk menonton karena saya mengamati cara berpakaian para wanita itu. Dan saya mengamatinya beberapa detik lagi bahkan setelah saya melihat bahwa adegan selanjutnya pasti akan mengarah ke sana. Adegan itu sensual dan mengarahkan pandangan padanya adalah dosa.

Saya merasa bersalah. Saya berusaha untuk membenarkan diri sendiri dalam pikiran saya. Ah, itu kan hanya beberapa detik. Mereka tidak memperlihatkan apapun. Toh saya bukan sengaja mengunduh video p***o. Itu ditayangkan hanya oleh TV cable. Hanya TV cable?! Sungguh alasan yang tidak masuk akal. Fakta sederhananya adalah bahwa tidak ada alasan bagi dosa, tidak bagi dosamu, pun tidak bagi dosaku. Namun setelah dosa itu saya mulai berpikir akan pembahasan Katekismus Minggu ke-26 ini : “Sebagaimana tubuhku pasti dibasuh secara lahiriah oleh air, yang biasa dipakai untuk menghilangkan kotoran tubuh, sepasti itu p**a aku telah dibasuh dengan darah dan Roh-Nya dari kecemaran jiwaku, yaitu semua dosaku.” (J69)

Saya telah dibaptis sebagai seorang bayi kecil beberapa puluh tahun yang lalu, namun janji akan anugerah Allah tidak berkurang maknanya bagiku. Saya dibasuh. Dosa-dosa saya tidak dibasuh dengan air secara magis seperti sulap layaknya. Tapi janji penyucian Tuhan yang ditandatangani kepadaku pada hari itu adalah milikku melalui iman. Ketika saya mengakui dosa-dosa saya, Allah selalu setia untuk mengampuni (1Yoh 1:7-9). Sepasti air yang dipercikkan ke atas kepalaku (atau membasahi sekujur tubuhmu jika dengan baptisan permandian, bukan baptisan percik), sepasti itu juga saya telah disucikan dengan darah Kristus. Tanda hitam dari enampuluh detik menonton TV cable itu (dan percayalah, itu bukanlah hal paling buruk yang pernah saya lakukan!) telah dicuci bersih.

Ketika saya masih muda, saya biasanya memaksakan diri secara fisik. Saya memanjat banyak pohon, banyak berolahraga, dan menjadi kotor seperti layaknya seorang anak laki-laki. Saya tidak keberatan kotor sedikit, tapi saya ingin menjadi bersih di akhir hari itu. Itu sebabnya saya mandi di malam hari, bukan di pagi hari. Saya tidak perlu membersihkan diri sebelum memulai hari. Namun saya butuh untuk menjadi bersih di penghujung hari. Setiap hari saya juga perlu menjadi bersih secara rohani. Jadi setiap hari saya punya alasan untuk mengingat baptisan saya. Di penghujung hari, ada makanan mentah dan sampah yang penuh dosa menempel di tubuh saya. Saya perlu berlutut di salib Kristus. Saya perlu dibasuh. Puji Tuhan atas darah-Nya yang menyelamatkan, alih-alih menodai. Puji Tuhan saya telah dibaptis dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.

(Diterjemahkan bebas dari buku karya Kevin DeYoung “The Good News We Almost Forgot – Rediscovering The Gospel in a 16th century Catechism”)

SAKRAMEN-SAKRAMEN Renungan Katekismus Heidelberg Minggu ke-25 TANDA-TANDA YANG TERLIHAT ATAS ANUGERAH YANG TAK TERLIHAT ...
22/06/2025

SAKRAMEN-SAKRAMEN

Renungan Katekismus Heidelberg Minggu ke-25

TANDA-TANDA YANG TERLIHAT ATAS ANUGERAH YANG TAK TERLIHAT
(Visible Signs of Invisible Grace)

Konflik di dalam gereja bukanlah hal yang baru; ada di setiap masa dari sejarah gereja. Isu pertama adalah mengenai kaum Yahudi – non Yahudi. Kemudian di abad keempat di Nicea muncullah doktrin Trinitas. Segera setelah itu, gereja bergumul dengan Pelagianisme dan ketidakmampuan manusia untuk menjalani hidup yang benar. Kemudian pribadi Kristus diperdebatkan di Konsili Chalcedon di pertengahan abad kelima (walau perdebatannya telah dimulai jauh sebelumnya). Pada masa Reformasi, doktrin pembenaran menjadi isu utama. Di abad ke-19 doktrin eskatologi (akhir zaman) menjadi sorotan. Di abad ke-20, otoritas Alkitab dipertanyakan. Isu zaman ini menyangkut keunikan Kristus dalam satu dunia yang pluralis dan standar Alkitab yang tak berubah mengenai seksualitas. Selalu ada sesuatu yang diperdebatkan.

Di abad ke-16, doktrin sakramen adalah salah satu dari isu-isu panas. Para reformator juga memiliki perbedaan pendapat, namun ada 4 hal yang disetujui mereka. Pertama, kita bukan diselamatkan oleh sakramen melainkan hanya oleh iman. Dalam gereja abad pertengahan, banyak orang Kristen memiliki pandangan takhayul mengenai sakramen. Inilah sebabnya mengapa para Reformator memiliki keberatan terhadap penggunaan istilah Latin “_ex opere operato_” (dari pekerjaan yang telah dikerjakan). Gereja Katolik mengajarkan bahwa sakramen bekerja secara obyektif berdasarkan penyaluran sakramen itu sendiri. Sepanjang _ex opere operato_ menekankan keabsahan sakramen meskipun orang yang memberikan sakramen tersebut tidak layak secara moral, maka itu adalah pengajaran yang solid (benar). Dari pemahaman Katolik akan _ex opere operato_, banyak pengunjung gereja mengharapkan sakramen untuk memberikan anugerah melalui semacam sihir, tak peduli bagaimana iman mereka. Sebaliknya Alkitab dengan jelas mengatakan: Kita tidak diselamatkan hanya karena telah dibaptis atau menerima Perjamuan Kudus; kita harus punya iman. Sakramen-sakramen adalah sarana anugerah, hanya jika dengan iman kita menerima kebenaran-kebenaran Injil yang dijanjikan dalam elemen-elemen sakramen itu.

Kedua, para Reformator sepakat, melawan Katolik Roma, bahwa jumlah sakramen yang diperintahkan oleh Kristus hanyalah dua : Baptisan dan Perjamuan Kudus (TJ 68). Gereja Katolik memiliki lima sakramen lainnya (total tujuh), namun tidak satupun yang secara eksplisit diperintahkan oleh Kristus dan tidak melekat pada satu janji. Sakramen Pengurapan sebagai konfirmasi bagi keselamatan atas nama Tritunggal tidak diperintahkan di manapun dalam Alkitab. Sakramen Imamat (penumpangan tangan), memiliki contoh dalam Alkitab namun skema penahbisan dalam Gereja Katolik adalah sebuah desain pasca-Alkitab yang rumit. Sakramen Pengakuan Dosa menunjuk pada kebutuhan kita untuk diingatkan akan pengampunan dosa, namun kitapun akan diingatkan akan pengampunan dosa ketika kita mengingat akan baptisan kita. Sakramen Pengurapan (orang sakit), atau ritus terakhir, atau pengurapan minyak kudus bagi orang sakit, berakar pada Yakobus pasal 5, namun tanda ini tidak diperintahkan oleh Allah. Pernikahan sebagai satu sakramen diselenggarakan berdasarkan penafsiran yang keliru atas Efesus 5:32 dalam Alkitab berbahasa Latin (Latin Vulgate). Sebaliknya, baptisan diharuskan bagi setiap murid Kristus sebagai simbol pengampunan dosa (Matius 28:19, Kisah Rasul 2:38) dan Perjamuan Kudus dengan jelas diperintahkan oleh Kristus (1 Kor 11:23) untuk diperingati secara berkala, jika bukan setiap minggu (Kisah Rasul 2:42).

Ketiga, para Reformator sepakat bahwa sakramen-sakramen dengan cara apapun tidak dapat menambahkan atau mengulang pengorbanan Kristus di atas salib. Sakramen tidak “mencapai” apapun, karena karya Kristus telah genap. Sebagaimana akan kita bahas dalam Minggu ke-30, Katolik memandang Perjamuan Kudus (Ekaristi) sebagai satu peragaan ulang atas kematian Kristus, namun ini hal yang terlalu jauh dari maksudnya sebagai tanda dan meterai. Katekismus Heidelberg menyatakan dengan tepat : “keselamatan kita yang sempurna berdasarkan kurban Kristus yang satu-satunya, yang telah terjadi bagi kita pada kayu salib” (J68).

Keempat, sebagaimana baru saja dibahas, sakramen adalah tanda dan meterai. Kita datang pada iman melalui pendengaran akan injil, bukan melalui air baptisan, bukan juga melalui roti dan anggur perjamuan. Sakramen tidak mendatangkan iman; namun sakramen meneguhkan iman, menjadikan kita lebih jelas memahami akan janji-janji Injil, dan meyakinkan kita akan keselamatan kita. Sebagaimana akan kita pelajari di minggu mendatang, sakramen dimaksudkan untuk memelihara iman kita, menguatkan kita, memperlengkapi kita dan menyakinkan kita akan perkenan Allah. Mereka adalah tanda-tanda kudus yang menyimbolkan fakta-fakta rohani injil, dan meterai yang mengingatkan kita akan janji-janji Allah yang pasti.

Maksud pembahasan mengenai tanda dan meterai ini adalah agar kita dapat memahami sakramen. Maka, sering dikutip definisi oleh bapak gereja Agustinus : “sakramen adalah tanda-tanda yang terlihat atas anugerah yang tidak terlihat”. Di dalam zaman yang meninggikan ibadah dengan indera (sensory worship) dan menjunjung gaya pembelajaran visual, kita sering lupa bahwa Allah telah memberikan pada kita tanda-tanda yang dipilih-Nya sendiri untuk digunakan dengan indera kita dalam ibadah. Dia telah memberikan kita sakramen-sakramen agar kita dapat melihat, mencium, merasa, dan meraba janji-janji injil yang sama yang kita dengar diberitakan dalam pemberitaan Firman.

(Diterjemahkan bebas dari buku karya Kevin DeYoung “The Good News We Almost Forgot – Rediscovering The Gospel in a 16th century Catechism”)

13/06/2025

Kebaktian Minggu ERC, 15 Juni 2025.
Liberation by the Spirit, Pdt. Nico Ong.
Indonesia - Community Music Center - 9 WIB.
Taipei - Like Co-working Space - 10 a.m. Local time.

Address

Like Co-Working Space, 台北市中正區許昌街42號8樓
Taipei
100

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when ERC Taiwan posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Place Of Worship

Send a message to ERC Taiwan:

Share