KMKI Taiwan

KMKI Taiwan Keluarga Masyarakat Kristen Indonesia di Taiwan

15/05/2026

*King's Swords*
Jumat, 15 Mei 2026

*Bacaan setahun:*
Hakim Hakim 20:1 – 21:25
Yohanes 8:31–59
Mazmur 61:1–8

*GAYA HIDUP SURGAWI DI RUANG PUBLIK*

*“Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi. (Kolose 3:1-2)*

Mercusuar berdiri di atas batu karang yang dihantam ombak besar di ruang publik yakni kawasan lautan. la tidak mencoba melawan ombak dengan kekuatan fisiknya, tetapi ia tetap berdiri tegak karena fondasinya tertanam jauh di dalam batu karang. Tugasnya sederhana: tetap bercahaya ke arah laut. Kita dipanggil untuk menjadi mercusuar yang fondasi pikirannya tertanam pada Kristus (Batu Karang). Cahaya 'gaya hidup surgawi' kita akan menolong orang lain yang sedang terombang-ambing di lautan dunia untuk menemukan arah p**ang.

Kemarin, Gereja merayakan Hari Kenaikan Tuhan Yesus ke Surga dan bacaan renungan ini hendak mengajak kita bagaimana orang Kristen berkarya di ruang publik melalui gaya hidup surgawi. Ruang publik berbicara tentang ranah masyarakat yang majemuk sedangkan gaya hidup surgawi adalah mengenai praktik nilai-nilai Kerajaan Allah dalam hidup orang Kristen. Kenaikan Kristus merupakan momentum bagi kita untuk menyatakan karya-Nya di ruang publik melalui pola kehidupan kita yang sesuai dengan nilai-nilai Kerajaan Allah.

Rasul Paulus dalam suratnya kepada Gereja di Kolose hendak menegaskan bahwa orang yang telah dibangkitkan bersama dengan Kristus adalah orang yang sudah meninggalkan kehidupan yang lama menuju kepada kehidupan yang baru sehingga menjadi ciptaan baru di dalam Kristus. Tanda seseorang yang telah dibangkitkan bersama dengan Kristus atau menjadi ciptaan baru adalah mencari perkara di atas, yakni pribadi Kristus itu sendiri sebagaimana ditegaskan pada ayat 1. Paulus menegaskan dua perintah bagi mereka yang telah menjadi ciptaan baru, yaitu *mencari perkara yang di atas dan pikirkanlah perkara yang di atas.*

Perkara-perkara yang patut dipikirkan bagi orang percaya adalah seperti yang tercantum pada Filipi 4:8 _"Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu."_ Maka dapat diketahui bahwa orang yang sudah menjadi ciptaan baru selalu memikirkan hal-hal yang baik dan memuliakan nama Tuhan melalui kehidupan yang berpaut pada nilai-nilai Kerajaan Allah.

Dengan mernikirkan perkara yang di atas, orang Kristen sedang membangun relasi yang intim dengan Sang Sumber Terang, yakni Yesus Kristus. Hidupkan terang itu setiap hari, agar dunia melihat Kristus melalui kita dan menemukan jalan menuju keselamatan yang sejati. (AH)

*Questions:*
1. Apakah hidup kita sudah menjadi terang yang menunjukkan Kristus di tengah dunia?
2. Hal apa yang perlu Anda ubah agar semakin hidup dalam nilai-nilai Kerajaan Allah?

*Values:*
Bangun kehidupan yang berakar pada Kristus dan nyatakan terangNya melalui sikap, perkataan, dan tindakan setiap hari.

Kingdom Quotes:
*Kenaikan Kristus ke sorga mendorong orang Kristen berkarya di ruang publik melalui gaya hidup surgawi yang dikerjakan oleh kuasa Roh Kudus.*

13/05/2026

*King's Swords*
Kamis, 14 Mei 2026

*Bacaan setahun:*
Hakim Hakim 18:1 – 19:30
Yohanes 8:12–30
Mazmur 60:5–12

*PERGI UNTUK KEMBALI*

*“Ketika mereka sedang menatap ke langit waktu Ia naik itu, tiba-tiba berdirilah dua orang yang berpakaian putih dekat mereka, dan berkata kepada mereka: "Hai orang- orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga." (Kisah Para Rasul 1:10-11)*

Hari ini adalah Hari Raya Kenaikan Yesus Kristus yaitu memperingati peristiwa ketika Yesus Kristus naik ke surga 40 hari setelah kebangkitan-Nya (Kisah Para Rasul 1:9-11). Dibandingkan dengan perayaan Natal atau Paskah, Hari Raya Kenaikan Tuhan Yesus sering terasa "kurang populer", padahal secara teologis memiliki makna yang sangat besar. Secara psikologis, kita lebih mudah terhubung dengan peristiwa Natal yang memperingati kelahiran Yesus karena memberikan sebuah pengharapan dan peristiwa Paskah yang menunjukkan pengorbanan dan kasih Kristus melalui peristiwa salib dan kebangkitan. Kenaikan Yesus Kristus ke surga terlihat seperti _"Yesus pergi"_ dan dimaknai sebagai sebuah perpisahan dan penutup cerita, bukan puncak kemenangan.

Dari sudut pandang Kerajaan Allah, kenaikan Yesus ke surga dan duduk di sebelah kanan Allah (Markus 16:19) adalah momen ketika Yesus resmi menjadi Raja yang memerintah. Sebuah transisi dari karya penebusan kepada pemerintahan kerajaan di mana Kerajaan Allah mulai dinyatakan secara aktif melalui gereja. Tanpa kenaikan Yesus Kristus tidak ada jaminan bahwa dunia ini sedang berada di bawah otoritas-Nya dan tidak ada dasar bagi gereja untuk bermisi. Salib sebagai simbol kemenangan Sang Raja dan peristiwa kebangkitan adalah validasi kemenangan itu, tetapi kenaikan Yesus sebagai penobatan Sang Raja yang secara resmi memerintah atas seluruh bumi di mana kerajaan Allah hadir dalam kehidupan orang percaya.

Kenaikan Yesus juga membuka jalan bagi pencurahan Roh Kudus pada hari Pentakosta (Kisah Para Rasul 2). Murid-murid dan kita semua tidak lagi bergantung pada kehadiran Yesus secara fisik, la menggantikan kehadiran fisik-Nya dengan kehadiran Roh Kudus yang memperlengkapi kita dengan kuasa untuk menjadi saksi. Roh Kudus adalah perpanjangan otoritas Raja di dalam dan melalui umat-Nya. Sebelum kenaikan Allah hadir bersama manusia (Immanuel - God with us), tetapi Sesudah kenaikan Allah hadir di dalam manusia melalui Roh Kudus (God in us). Jadi peristiwa kenaikan Yesus merupakan peningkatan kualitas relasi, bukan kehilangan. Peristiwa kenaikan Tuhan Yesus juga memberikan pengharapan akan kedatangan-Nya kembali sebab para malaikat berkata bahwa Yesus akan datang kembali dengan cara yang sama seperti la naik. Ini memberikan kepastian bahwa Kerajaan Allah akan digenapi secara sempurna.

Kenaikan Tuhan Yesus mengingatkan kita bahwa iman Kristen bukan hanya tentang masa lalu (salib dan kebangkitan), tetapi juga tentang masa kini di mana Kristus memerintah atas hidup kita dan masa depan di mana Kristus akan datang kembali. la bukan Tuhan yang _"pernah ada"_, tetapi Raja yang sedang memerintah hari ini. Yesus tidak hanya menyelamatkan kita, dan naik ke surga untuk memerintah tetapi la juga memenuhi kita dengan Roh-Nya supaya kita dapat hidup di bawah pemerintahan-Nya dan menjalankan misi-Nya. (RSN)

*Questions:*
1. Apakah hidup kita sudah tunduk kepada Raja yang naik ke sorga dan memerintah di dalam hidup kita?
2. Apakah makna kenaikan Yesus Kristus bagi hidup Anda? Diskusikan!

*Values:*
Kenaikan Tuhan Yesus ke surga bukan perpisahan atau akhir cerita, melainkan puncak kemenangan, awal pemerintahan-Nya atas seluruh bumi, dan pengharapan akan kedatangan-Nya kembali.

Kingdom Quotes:
*Tanpa kenaikan Yesus Kristus tidak ada jaminan bahwa dunia ini sedang berada di bawah otoritas-Nya dan tidak ada dasar bagi gereja untuk bermisi.*

12/05/2026

*King's Swords*
Rabu, 13 Mei 2026

*Bacaan setahun:*
Hakim Hakim 16:1 – 17:13
Yohanes 7:45 – 8:11
Mazmur 60:1–4

*JUAL DIRI*

*“Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.” (Yohanes 3:17)*

Beberapa waktu lalu publik heboh. Media sosial ramai membicarakan sejumlah artis yang tertangkap basah menjual diri di hotel mewah. Tarifnya fantastis, transaksinya rapi, dan kejadiannya begitu rahasia-sampai akhirnya terbongkar lewat penyamaran aparat. Seperti biasa, warganet langsung berubah jadi _"hakim dadakan."_ Timeline penuh caci maki, penghakiman moral, dan vonis sepihak.

Menariknya, salah satu artis yang terjerat kasus itu justru membela diri dengan mengutip kisah perempuan yang tertangkap basah berzinah dan dihadapkan kepada Yesus (Yohanes 8). Pesannya kira-kira begini: _"Kalian semua sok suci. Yesus saja tidak menghakimi perempuan itu."_ Dan... secara teks Alkitab, ia tidak sepenuhnya salah.

Yesus memang berkata, _"Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu."_ Seketika para imam, ahli Taurat, dan kerumunan itu bungkam. Satu per satu pergi. Tidak ada lagi yang merasa layak jadi algojo moral. Lalu Yesus berkata kepada perempuan itu, _"Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi."_

Masalahnya, banyak orang berhenti di kalimat pertama- _"Aku pun tidak menghukum engkau"_-dan sengaja mengabaikan kalimat kedua- _"Jangan berbuat dosa lagi."_ Yesus bukan sedang membenarkan dosa. Yesus sedang memulihkan martabat. Yesus tidak datang sebagai algojo, tapi juga bukan sebagai penonton yang permisif, la datang untuk menyelamatkan, mengangkat kembali nilai manusia yang sudah jatuh, rusak, dan kehilangan harga diri.

Dan di titik inilah kita perlu jujur: _"Menjual diri"_ tidak selalu berarti prostitusi. Setiap kali seseorang: menggadaikan integritas demi uang, menukar kebenaran dengan pop**aritas, mengorbankan prinsip demi jabatan, hidup dalam dosa tanpa rasa bersalah, di situlah manusia sedang menjual dirinya-pelan-pelan, murah, dan sering kali dengan dalih _"semua orang juga begitu."_ Ironisnya, dunia selalu memberi harga rendah untuk manusia, tapi Allah membayar harga tertinggi. Bukan dengan uang. Bukan dengan reputasi. Melainkan dengan darah Anak-Nya sendiri. Salib adalah pernyataan paling keras tentang nilai manusia.

Jika Kristus rela mati untukmu, itu berarti hidupmu terlalu mahal untuk dijual kepada dosa. Yesus mengampuni, ya. Tapi pengampunan-Nya bukan karpet merah untuk terus hidup dalam dosa. Pengampunan-Nya adalah pintu keluar-agar manusia sadar, bangkit, dan hidup berbeda. Ketika seseorang sungguh menyadari betapa berharganya dirinya di mata Allah, ia tidak akan lagi menukar hidupnya dengan kesenangan sesaat, uang cepat, atau validasi murahan. Yesus datang bukan hanya supaya kita tidak dihakimi, tetapi supaya kita tidak perlu lagi menjual diri. Setuju? (DD)

*Questions:*
1. Dalam bentuk apa hari-hari ini Anda sedang “menjual diri”?
2. Apakah Anda sedang berlindung di balik anugerah, tapi menolak pertobatan?

*Values:*
Sang Raja memang Maha pengampun, tapi pengampunan-Nya bukan tiket bebas dosa. Pengampunan-Nya adalah undangan untuk hidup baru.

Kingdom Quotes:
*Ketika seseorang sungguh memahami betapa mahal harga hidupnya di mata Allah, ia tidak akan lagi menjual dirinya demi kesenangan sesaat, keuntungan instan, atau validasi murahan.*

12/05/2026

*King's Swords*
Selasa, 12 Mei 2026

*Bacaan setahun:*
Hakim Hakim 14:1 – 15:20
Yohanes 7:14–44
Amsal 11:29 – 12:7

*HATI GEMBALA*

*“Yang hilang akan Kucari, yang tersesat akan Kubawa p**ang, yang luka akan Kubalut, yang sakit akan Kukuatkan, serta yang gemuk dan yang kuat akan Kulindungi; Aku akan menggembalakan mereka sebagaimana seharusnya.” (Yehezkiel 34:16)*

Panggilan hati untuk menjadi seorang gembala tidaklah semudah yang dibayangkan banyak orang. Pelayanan ini dipenuhi dengan doa, air mata, dan keteguhan iman untuk memantapkan langkah dalam menerima tugas serta tanggung jawab tersebut. Dalam pandangan awam, menjadi gembala sering kali hanya terlihat dari permukaannya: memiliki otoritas, posisi, serta perhatian dari domba-dombanya. Terlebih lagi jika dipercayakan memimpin jemaat yang besar dan kuat. Namun, kenyataannya tidak sesederhana itu. Justru sebaliknya, menjadi seorang gembala penuh dengan tantangan dan pengorbanan. Tidak sedikit yang harus mengorbankan waktu, tenaga, materi, bahkan perasaan karena kerap disalahpahami.

Ketika Tuhan memilih, memanggil, dan menetapkan seseorang menjadi gembala, proses itu tidak terjadi secara sembarangan. Ada proses doa, peneguhan, serta pengujian karakter oleh para pemimpin yang mempercayakan pelayanan tersebut. Hal ini bukan semata-mata soal karisma atau keterampilan, melainkan tentang panggilan hati dan karakter yang dimiliki. Selain itu, orang yang dipanggil pun perlu memiliki keselarasan visi dan misi, sehingga pelayanan yang dijalankan tidak menjadi sia-sia.

Kitab Yehezkiel dengan jelas menggambarkan bagaimana seharusnya hati dan fungsi seorang gembala. Fokusnya bukan pada status atau jabatan, melainkan pada tanggung jawab. Hati seorang gembala dipenuhi belas kasihan dan memiliki beban untuk melayani jiwa-jiwa. Beban ini bukan sekadar sesuatu yang berat, melainkan panggilan yang lahir dari hati. Seseorang dapat berprofesi sebagai pengusaha, pekerja seni, atau profesional, tetapi tetap memiliki hati untuk melayani jiwa-jiwa di mana pun ia berada. Seorang gembala dipanggil untuk mencari yang hilang, membawa kembali yang tersesat, membalut yang terluka, menguatkan yang lemah, serta melindungi domba-dombanya. la memahami keadaan setiap domba dan mengetahui kebutuhan mereka. Itulah esensi penggembalaan yang sejati.

Para gembala, apakah setiap kita sudah berfungsi dengan benar? Jika ada yang menggeser hati kita untuk tidak lagi fokus dengan domba-domba yang Tuhan percayakan, maka tarik diri sejenak, dan tanyakan pada hati kita, apakah kita masih ada di panggilan hidup kita? Jangan sampai kita melalaikan tugas dan tanggung jawab kita sebagai seorang gembala. Ingat, satu domba senilai kurban Kristus di atas kayu salib. Jangan mengabaikan mereka. Layanilah dengan penuh kasih dan kesetiaan. Jika kita ada di fase disalah mengerti, dianggap masih ada yang kurang untuk kita lakukan, jangan berhenti melayani mereka. Mintalah kasih karunia kepada Tuhan yang empunya domba-domba, agar kita tetap dapat melayani mereka dengan belas kasih Tuhan. (LA)

*Questions:*
1. Bagaimana Tuhan memilih, memanggil, dan menetapkan seseorang menjadi seorang gembala?
2. Sebutkan fungsi dan tanggung jawab seorang gembala?

*Values:*
Anda memerlukan kasih karunia Tuhan untuk melayani dan menggembalakan domba-domba yang Ia percayakan. Kasih karunia itu memampukan kita bertahan, bahkan dalam masa sulit.

Kingdom Quotes:
*Panggilan hati menjadi seorang gembala adalah kairos bagi kita untuk menggenapi rencana-Nya. Melayani sebagai seorang gembala ada kronos bagi kita untuk menyatakan kemuliaan-Nya. Jangan mundur!*

Pengurus KMKI Official meeting bersama Pak Arif Sulistiyo Kepala KDEI Taipei
11/05/2026

Pengurus KMKI Official meeting bersama Pak Arif Sulistiyo Kepala KDEI Taipei

11/05/2026

*King's Swords*
Senin, 11 Mei 2026

*Bacaan setahun:*
Hakim Hakim 12:1 – 13:25
Yohanes 6:60 – 7:13
Mazmur 59:9–19

*BUKAN UNTUK UNJUK GIGI*

*“Lalu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dibuat-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki” (Yohanes 6:11)*

Mukjizat penggandaan roti dan ikan adalah satu-satunya mukjizat yang dicatat dalam keempat Injil: Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes. Ini menunjukkan bahwa peristiwa ini memiliki bobot teologis yang sangat penting. Untuk memahaminya lebih dalam, kita perlu melihatnya juga dari perspektif Injil Markus.

Setelah peristiwa itu, Yesus kembali menyatakan kuasa-Nya dengan berjalan di atas air. Murid-murid mengira Dia hantu. Namun ketika Yesus naik ke perahu, Markus mencatat, _"Sebab sesudah peristiwa roti itu mereka belum juga mengerti, dan hati mereka tetap degil"_ (Markus 6:52). Di sini kita melihat sesuatu yang serius: mukjizat tidak otomatis menghasilkan pengertian. Setiap mukjizat yang dilakukan Yesus bukanlah sekadar demonstrasi kuasa, bukan untuk pamer kekuatan, tetapi sarana pewahyuan. Yesus sedang membentuk iman murid-murid-Nya, membawa mereka mengenal bahwa Dia adalah Mesias, dan mengajar mereka untuk bergantung sepenuhnya kepada Allah dalam segala situasi.

Bayangkan tekanan yang dihadapi para murid saat itu. Ribuan orang lapar, tanpa solusi yang memadai. Filipus berpikir secara rasional: _"Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup..."_ (ayat 7). Andreas melihat potensi, tetapi tetap pesimis: lima roti dan dua ikan terasa tidak berarti di tengah kebutuhan yang begitu besar (ayat 9).

Bukankah ini juga cermin hidup kita? Ada saat di mana kita berada dalam situasi buntu, di mana semua perhitungan manusia, logika, dan kemampuan kita tidak lagi cukup. Sebagian dari kita berpikir seperti Filipus, terjebak pada keterbatasan sumber daya. Sebagian lain seperti Andreas, melihat apa yang ada, tetapi tidak percaya bahwa itu bisa dipakai Tuhan.

Jika Anda rindu mengalami mukjizat, Anda harus berani keluar dari pola pikir yang membatasi Allah. Jangan mengurung kuasa-Nya dalam kerangka logika manusia. Allah tidak pernah bergantung pada kecukupan kita, tetapi pada ketaatan dan iman kita.

Apakah Anda sedang berada dalam situasi sulit seperti para murid? Ini bukan akhir. Justru ini adalah panggung bagi karya Allah dinyatakan. Jangan hanya menjadi penonton yang bersukacita atas mukjizat orang lain. Ambil bagian. Percaya. Dan biarkan Tuhan bekerja dalam hidup Anda. (DH)

*Questions:*
1. Apakah kita lebih sering berpikir seperti Filipus (terbatas pada logika) atau seperti Andreas (ragu pada apa yang ada)?
2. Dalam situasi sulit Anda sekarang, apakah Anda benar-benar percaya Tuhan sanggup bertindak?

*Values:*
Mukjizat bukan untuk pamer kuasa, tetapi untuk membentuk iman dan membuka mata rohani.

Kingdom Quotes:
*Masalahmu mungkin besar, tetapi tidak pernah lebih besar dari kuasa Tuhan.*

10/05/2026

*King's Swords*
Minggu, 10 Mei 2026

*Bacaan setahun:*
Hakim Hakim 10:1 – 11:40
Yohanes 6:25–59
Mazmur 59:1–8

*TRUTH YIELDS FRUIT AND GROWTH*

*“Inilah doaku, semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian, sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci, dan tak bercacat menjelang hari Kristus, penuh dengan buah kebenaran yang dikerjakan oleh Yesus Kristus untuk memuliakan dan memuji Allah.” (Filipi 1:9–11 - TB2)*

Tema minggu kedua bulan Mei 2026 adalah Truth Yields Fruit and Growth atau *Kebenaran Menghasilkan Buah dan Pertumbuhan.* Kebenaran bukan hanya untuk diketahui, tetapi untuk dihidupi hingga menghasilkan buah dan pertumbuhan. Paulus menegaskan bahwa kasih yang benar harus bertumbuh dalam pengetahuan dan pengertian, sehingga hidup kita berbuah bagi kemuliaan Allah. Mari kita belajar tiga hal tentang Truth Yields Fruit and Growth.

Yang pertama, *Berakar dengan Benar* (Fondasi yang menentukan arah hidup). Kata _"pengetahuan"_ dalam Yunani: epignosis = pengenalan yang mendalam dan pribadi. Ini bukan teori, tetapi relasi yang mengakar. Kolose 2:7 mengingatkan kita, _"Hendaklah kamu berakar di dalam Dia..."_ Jemaat Filipi hidup di tengah tekanan budaya Romawi; mereka perlu fondasi iman yang kuat. Dari jemaat Filipi, kita dapat belajar bahwa pertumbuhan sejati dimulai saat kita mau diproses, setia meski tak terlihat, dan terus melekat pada Tuhan. Akar yang dalam menentukan buah yang kuat. Apakah kehidupan kita sudah berakar dengan benar?

Yang kedua, *Bertumbuh dan Berbuah Kebenaran* (Proses yang menghasilkan karakter). Frasa "buah kebenaran" berasal dari karpos dikaiosynës = hasil hidup yang benar di hadapan Allah. Yohanes 15:5 menegaskan bahwa, _"Barangsiapoa tinggal di dalam Aku... la berbuah banyak."_ Paulus menekankan bahwa buah bukan hasil usaha manusia semata, tetapi karya Kristus di dalam kita, hari ini kita harus mengambil keputusan untuk hidup benar bukan sekadar niat, tetapi gaya hidup. Dibutuhkan komitmen dan konsistensi untuk melakukan kebenaran setiap hari. Apakah kehidupan kita sudah bertumbuh dan berbuahkan kebenaran?

Yang ketiga, *Menyingkirkan Penghambat Pertumbuhan* (Evaluasi yang jujur). Kata _"pengertian"_ menunjuk pada kepekaan rohani untuk membedakan yang baik. Ibrani 5:14 menyatakan bahwa orang dewasa rohani terlatih membedakan yang baik dan jahat. Pahamilah bahwa tanpa kepekaan, seseorang mudah jatuh dalam ego, kebebalan, dan hidup semaunya. Selanjutnya, kesombongan, tidak mau belajar, dan tidak bertanggung jawab akan menghambat pertumbuhan. Kerendahan hati membuka jalan bagi perubahan. Apakah kita sudah menyingkirkan semua penghambat pertumbuhan rohani kita?

Kebenaran yang sejati akan selalu menghasilkan buah dan pertumbuhan. Jika tidak ada pertumbuhan, perlu diperiksa apakah kita benar-benar berakar dalam Kristus. Tuhan tidak mencari orang yang cepat terlihat besar, tetapi yang setia bertumbuh dalam kebenaran. Stay blessed. (DW)

*Questions:*
1. Apakah kehidupan kita sudah berakar dengan benar?
2. Apakah kehidupan kita sudah bertumbuh dan berbuahkan kebenaran?

*Values:*
Seorang Warga Kerajaan Allah adalah pribadi yang berkomitmen untuk bertumbuh dan berbuahkan kebenaran.

Kingdom Quotes:
*Kalau kamu benar-benar hidup dalam kebenaran, buahnya pasti terlihat—bukan instan, tapi pasti nyata.*

08/05/2026

*King's Swords*
Sabtu, 9 Mei 2026

*Bacaan setahun:*
Hakim Hakim 9:1–57
Yohanes 6:1–24
Mazmur 58:1–11

*RASA TAKUT YANG SEHAT*

*“Takut kepada orang mendatangkan jerat, tetapi siapa percaya kepada TUHAN, dilindungi.” (Amsal 29:25 - TB)*

Benarkah ada orang yang tidak pernah merasa takut? Rasa takut hampir pasti hadir dalam kehidupan setiap orang, baik itu takut akan kemiskinan, takut tidak mendapatkan pasangan hidup, maupun takut menghadapi kematian. Ketakutan-ketakutan tersebut sering memengaruhi cara kita bertindak. Bahkan, ketakutan terhadap pandangan negatif orang lain dapat membuat kita tidak berkembang.

Tuhan pernah mengingatkan bangsa Israel pada masa lampau bahwa kekhawatiran terhadap apa yang dipikirkan orang-orang di sekitar mereka dapat membawa pada kejatuhan (Yesaya 51:7-16). Dalam Yesaya 51:7 tertulis: _"Dengarkanlah Aku, hai kamu yang mengetahui apa yang benar, hai bangsa yang menyimpan pengajaran-Ku dalam hatimu! Janganlah takut jika diaibkan oleh manusia dan janganlah terkejut jika dinista oleh mereka."_ Perhatian yang berlebihan terhadap perkataan orang lain membuat mereka akhirnya berkompromi (ayat 13): _"Sehingga engkau melupakan TUHAN yang menjadikan engkau, yang membentangkan langit dan meletakkan dasar bumi, sehingga engkau terus gentar sepanjang hari terhadap kepanasan amarah orang penganiaya, apabila ia bersiap-siap memusnahkan. Di manakah gerangan kepanasan amarah orang penganiaya itu?"_ Padahal, mereka dipanggil untuk memercayai Tuhan dan hidup berkenan kepada-Nya.

Nasihat ini juga relevan bagi kita saat ini, karena _"takut akan manusia"_ merupakan jerat bagi banyak orang Kristen. Akan jauh lebih baik jika kita memperoleh kepuasan dari melakukan hal-hal yang menyenangkan Allah. Rasa takut yang tidak tepat, yaitu takut terhadap penilaian manusia, dapat diubahkan menjadi keyakinan yang benar melalui rasa takut yang sehat kepada Allah (ayat 16): _"Aku menaruh firman-Ku ke dalam mulutmu dan menyembunyikan engkau dalam naungan tangan-Ku, supaya Aku kembali membentangkan langit dan meletakkan dasar bumi, dan berkata kepada Sion: Engkau adalah umat-Ku!"_

Takut akan Allah membebaskan kita dari rasa takut terhadap pandangan manusia. Ketika Tuhan berkata, _"Engkau adalah umat-Ku,"_ kita diingatkan akan identitas kita sebagai milik-Nya. Rasa takut yang benar kepada Allah menghasilkan sikap hormat yang membawa kita hidup berkenan kepada-Nya. Dengan demikian, kita perlu menyadari bahwa sebesar apa pun kuasa seseorang atau suatu pemerintahan, semuanya tetap berada di bawah kedaulatan dan kendali Allah. Pada akhirnya, setiap orang akan menghadapi penghakiman dari Allah. Oleh karena itu, kita harus lebih takut kepada Allah daripada kepada manusia. (AU)

*Questions:*
1. Apakah Anda lebih takut pada penilaian manusia daripada kehendak Allah?
2. Dalam situasi apa Anda perlu belajar lebih percaya kepada Tuhan daripada mengikuti ketakutan Anda?

*Values:*
Belajarlah menempatkan takut akan Allah sebagai prioritas, sehingga keputusan yang diambil tidak dikendalikan oleh opini manusia, melainkan oleh kebenaran firman Tuhan.

Kingdom Quotes:
*Ketika kita takut akan Allah, kita dibebaskan dari ketakutan akan manusia.*

08/05/2026

*King's Swords*
Jumat, 8 Mei 2026

*Bacaan setahun:*
Hakim Hakim 7:9 – 8:35
Yohanes 5:31–47
Amsal 11:19–28

*JANGAN NEKAT, JADILAH CERDAS DAN BERHATI-HATI*

*“Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung.” (Yosua 1:8)*

Kita semua pernah dengar pepatah: _"Pikir dulu, sesal kemudian tak berguna."_ Intinya sederhana: jangan asal jalan, kalau belum mikir arah. Bertindak hati-hati berarti bertindak dengan kesadaran, bukan sekadar reaksi. Bukan ikut perasaan, tapi pakai pertimbangan. Masalahnya, dipilih dan diurapi Tuhan bukan jaminan seseorang otomatis bijak dalam mengambil keputusan. Simson adalah contoh kerasnya. la nazir, dipilih, diberi kuasa luar biasa. Secara fisik, ia 'monster'. Secara mental, ia rapuh. la kuat lawan musuh, tapi kalah oleh keinginannya sendiri. la memaksakan kehendak, menabrak nasihat orang tua, dan bermain-main dengan batas. Ujungnya tragis: dikhianati, ditawan, matanya dicungkil. Bukan karena Tuhan gagal, tapi karena ia ceroboh.

Ini penting: banyak kehancuran bukan datang dari luar, tapi dari dalam. Dari keputusan yang salah, diambil dengan emosi, bukan hikmat. Cara kita bertindak lahir dari cara kita berpikir. Cara kita berpikir dibentuk oleh apa yang kita izinkan masuk ke pikiran. Dan kemampuan menguasai diri muncul dari pikiran yang tertata, bukan pikiran yang liar. Contoh simpel: Diskon besar. Flash sale. Limited stock. Otak panik. Tangan checkout. Padahal barangnya nggak perlu. Akhir bulan, saldo kering. Menyesal? lya. Berguna? Tidak. Atau contoh lain: Dokter bilang: "Kurangi gula, ini serius." Tapi karena sudah terbiasa, tetap dilanggar. Bukan karena tidak tahu, tapi karena tidak mau menguasai diri. Tahu yang benar tidak sama dengan melakukan yang benar.

Bahkan dalam hal rohani pun, banyak orang jatuh karena kurang hati-hati. Saat pandemi dan krisis ekonomi, bermunculan tawaran investasi "cepat kaya". Banyak orang Kristen ikut. Iming-iming besar, logika kecil. Akhirnya rugi, tertipu, kecewa. Karena emosi lebih cepat jalan daripada akal sehat. Pelajarannya jelas: Siapapun kita, sehebat apapun rohani kita, tetap bisa jatuh kalau ceroboh. Karena yang paling sering menjatuhkan kita bukan setan, tapi keputusan bodoh yang kita bela mati-matian.

Hati-hati bukan berarti takut. Hati-hati berarti sadar. Sadar bahwa setiap keputusan punya harga. Sadar bahwa tidak semua yang kelihatan menarik itu baik. Sadar bahwa tidak semua yang cepat itu benar. Latih dirimu untuk berhenti sejenak sebelum bertindak. Berhati-hatilah: ini bijak atau nekat? Ini dipimpin hikmat atau didorong nafsu? Ini akan membangun atau merusak? Karena orang yang menguasai diri, lebih kuat dari orang yang menaklukkan kota. Dan orang yang berhati-hati, sedang menabung masa depan. Jangan nekat. Jadilah cerdas. Karena masa depanmu terlalu berharga untuk dipertaruhkan oleh keputusan sesaat. (DD)

*Questions:*
1. Apakah selama ini kita hidup dipimpin pertimbangan atau dipimpin perasaan?
2. Apakah keputusan-keputusan kita lebih banyak dibentuk oleh Firman, atau oleh tren dan tekanan sekitar?

*Values:*
Penguasaan diri hari ini menentukan kualitas hidup besok. Siapa yang tidak bisa berkata “tidak” pada dirinya sendiri, cepat atau lambat akan berkata “menyesal”.

Kingdom Quotes:
*Hidup bukan soal seberapa cepat kamu bergerak, tapi seberapa tepat arahmu. Banyak orang kelihatan maju, padahal sedang menjauh dari tujuan.*

07/05/2026

*King's Swords*
Kamis, 7 Mei 2026

*Bacaan setahun:*
Hakim Hakim 6:1 – 7:8
Yohanes 5:16–30
Mazmur 57:7–11

*HATI GEMBALA YANG MELAYANI DALAM KEBENARAN*

*“Yang hilang akan Kucari, yang tersesat akan Kubawa p**ang, serta yang gemuk dan kuat akan Kuawasi. Aku akan menggembalakan mereka sebagaimana seharusnya” (Yehezkiel 34:16 - TB2)*

Isi pasal dalam Yehezkiel 34 merupakan teguran Tuhan terhadap para gembala Israel, yaitu pemimpin rohani yang gagal menggembalakan umat-Nya dengan benar. Pada waktu itu, mereka tidak peduli terhadap jemaat yang lemah, enggan mencari yang hilang, bahkan memanfaatkan domba-domba untuk keuntungan pribadi. Karena itu, Tuhan menyatakan murka-Nya dan berfirman, _"Aku sendiri yang akan menggembalakan umat-Ku."_ Hal ini menunjukkan betapa besar kasih Tuhan terhadap jiwa-jiwa ketika manusia mengabaikan kehendak-Nya. Teguran ini juga relevan bagi setiap orang percaya yang lalai terhadap tanggung jawab rohani dan panggilan hidupnya.

Dalam ayat-ayat tersebut terdapat beberapa makna penting dari bahasa Ibrani. Pertama, *"yang hilang akan Kucari."* Kata "mencari berasal dari kata baqash, yang berarti mencari dengan sungguh-sungguh, penuh kerinduan, dan tidak berhenti sampai ditemukan. Ini bukan pencarian biasa, melainkan tindakan penuh kasih dan tekad. Tidak semua yang hilang itu jahat; ada yang terluka, kecewa, atau lelah. Tuhan tidak tinggal diam, tetapi berinisiatif mencari. Seperti gembala yang meninggalkan sembilan puluh sembilan domba untuk menemukan satu yang hilang, demikian p**a Tuhan mencari setiap jiwa dengan kasih setia-Nya.

Kedua, *"yang tersesat akan Kubawa p**ang."* Kata "membawa p**ang" berasal dari shuv, yang berarti mengembalikan atau memulihkan. Tuhan tidak hanya menemukan yang tersesat, tetapi juga memulihkan arah hidupnya. Sejauh apa pun seseorang jatuh, Tuhan tetap menyediakan jalan untuk kembali. Pemulihan selalu terbuka bagi siapa saja yang mau kembali kepada-Nya dengan hati yang rendah dan terbuka.

Ketiga, *"yang gemuk dan kuat akan Kuawasi."* Kata _"mengawasi"_ berasal dari shamar, yang berarti menjaga dengan perhatian dan tujuan, bahkan dapat mencakup disiplin. Tuhan tidak hanya memperhatikan yang lemah, tetapi juga yang kuat, supaya mereka tidak menjadi sombong atau menyimpang. Keberhasilan tidak boleh menjauhkan seseorang dari Tuhan, melainkan mendorongnya untuk tetap rendah hati dan hidup dalam ketaatan.

Keempat, *"Aku akan menggembalakan mereka."* Kata _"menggembalakan"_ berasal dari ra'ah, yang berarti memberi makan, memimpin, merawat, dan melindungi. Ini menggambarkan hubungan yang dekat antara Tuhan dan umat-Nya. la menggembalakan dengan kasih, keadilan, dan kebenaran yang tidak berubah.

Karena itu, marilah kita memiliki hati seorang gembala: peduli kepada yang lemah, mencari yang tersesat, memulihkan tanpa menghakimi, serta menjaga dengan tulus tanpa manip**asi demi kemuliaan nama Tuhan. (TL)

*Questions:*
1. Apakah Anda pernah lalai untuk mencari yang terhilang? Mengapa?
2. Bagaimana kita bisa sunguh-sungguh memiliki hati gembala? Diskusikan!

*Values:*
Tuhan selalu melihat kesungguhan dan kerendahan hati kita dalam melayani bukan keberhasilan.

Kingdom Quotes:
*Selalu ada jalan dan kesempatan untuk kembali, Tuhan membuka jalan pemulihan untuk kita semua yang tersesat dan terhilang.*

Address

5F, No 395 Yongmei Road
Yangmei District

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when KMKI Taiwan posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share