Gereja Presbyterian Bukit Batok - GPBB - Jemaat Indonesia, Singapura

Gereja Presbyterian Bukit Batok - GPBB - Jemaat Indonesia, Singapura Gereja Indonesia di Singapura. Gereja Presbyterian Bukit Batok - Jemaat Indonesia, Singapura.

21 Bukit Batok Street 11, Singapore 659673

Kebaktian Setiap Hari Minggu
- Kebaktian Minggu @ 9:00 dan 11:00 di Lt 4
- Sekolah Minggu @ 11:00 di Lt 1
- Remaja @ 9:00 di Lt 1

Persekutuan Setiap Hari Minggu
- Pelaut @ 10:30 di Lt 1

Persekutuan Setiap Hari Sabtu
- Pemuda @ 17:00 di Lt 3
- Keluarga Muda @ 17:00 (Minggu ke-3) di Lt 1

Persekutuan Setiap Hari Jum'at
- Wanita @ 14:00 di Lt 1

Tentang GPBB:
1. Pegangan Ajaran
Sebagai Jemaat Gereja Presbyterian yang menerima Pengakuan Iman Westminster, maka GPBB mengakui Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. GPBB mengakui Alkitab, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, sebagai Firman Allah; dasar dari pengakuan iman dan praktek hidup bergereja.

2. Keanggotaan
Keanggotaan GPBB terbuka untuk semua bangsa, ras, status sosial, dan ekonomi. Menjadi anggota GPBB dapat diperoleh melalui baptisan (anak-anak dan dewasa), sidi, dan atestasi masuk dari gereja yang seazas.

Bukan Dengan Cara SayaHakim-hakim 7:1-18Kisah Gideon dalam Hakim-hakim 7:1–18 menunjukkan sebuah prinsip rohani yang ser...
11/09/2026

Bukan Dengan Cara Saya
Hakim-hakim 7:1-18

Kisah Gideon dalam Hakim-hakim 7:1–18 menunjukkan sebuah prinsip rohani yang sering kali sulit diterima manusia: Tuhan tidak selalu bekerja dengan cara yang kita inginkan. Gideon sedang menghadapi bangsa Midian yang besar dan kuat. Secara manusiawi, kemenangan membutuhkan tentara lebih banyak, strategi militer yang matang, dan perlengkapan perang yang kuat. Namun justru Tuhan berkata bahwa jumlah pasukan Gideon terlalu banyak. Dari 32.000 orang, Tuhan menguranginya menjadi hanya 300 orang.

Secara logika, keputusan itu tampak tidak masuk akal. Bagaimana mungkin 300 orang melawan pasukan yang begitu besar? Tetapi Tuhan sedang mengajarkan bahwa kemenangan sejati bukan berasal dari kekuatan manusia, melainkan dari kuasa-Nya. Tuhan berkata bahwa Ia tidak ingin Israel memegahkan diri dan berkata, “Tanganku sendirilah yang menyelamatkan aku” (Hak. 7:2).

Sering kali kita juga ingin Tuhan bekerja sesuai cara kita. Kita berpikir solusi terbaik adalah jalan yang paling cepat, paling aman, atau paling masuk akal. Namun Tuhan kadang membawa kita melewati jalan yang tidak kita pahami supaya kita belajar percaya kepada-Nya, bukan kepada kemampuan sendiri.

Dalam keluarga, kita mungkin ingin mengubah pasangan atau anak dengan nasihat keras, kontrol, atau tuntutan. Kita merasa tahu cara terbaik bagi mereka. Namun Tuhan sering bekerja melalui kesabaran, doa, keteladanan, dan kasih yang konsisten. Ada orang tua yang frustasi karena anaknya belum berubah, padahal Tuhan sedang membentuk hati seluruh keluarga melalui proses panjang itu. Kadang Tuhan berkata, “Bukan dengan caramu, tetapi dengan cara-Ku.”

Dalam pekerjaan, kita sering mengandalkan kompetensi, koneksi, dan perencanaan. Semua itu penting, tetapi bukan sumber utama pertolongan kita. Ada kalanya Tuhan mengizinkan keterbatasan terjadi supaya kita belajar bergantung kepada-Nya. Mungkin promosi yang diharapkan tidak datang, usaha tidak berjalan sesuai rencana, atau proyek mengalami kegagalan. Namun justru di tengah kelemahan itu Tuhan menunjukkan pemeliharaan-Nya dan membentuk...

Selengkapnya di https://gpbb.org/category/renungan

MEZBAH DOA GPBBJemaat diundang untuk bersama-sama datang dalam Mezbah Doa dan merenungkan firman Tuhan dengan tema:“Apak...
08/09/2026

MEZBAH DOA GPBB

Jemaat diundang untuk bersama-sama datang dalam Mezbah Doa dan merenungkan firman Tuhan dengan tema:
“Apakah Aku Bisa Hidup Tanpa Firman Tuhan?”
📖 Matius 4:4
📅 Jumat, 11 September 2026
⏰ Pukul 20.00 SGT
📍 Chapel Lt. 1

Jemaat juga diajak untuk berpuasa pukul 09.00–18.00 dan berbuka puasa bersama pukul 18.30 di MPH sebelum Mezbah Doa dimulai.

Kebaktian Bulan Misi GPBB September 2026.Firman Tuhan mengingatkan kita akan misiNya yang dititipkan ke dalam hidup kita...
08/09/2026

Kebaktian Bulan Misi GPBB September 2026.
Firman Tuhan mengingatkan kita akan misiNya yang dititipkan ke dalam hidup kita semua. Kiranya kita mencari dan menemukan kehendakNya di dalam hidup kita sehari-hari.

Renungan Mingguan: SPIRITUAL LEADERS AND INTEGRITY"Ketulusan dan kejujuran kiranya mengawal aku, sebab aku menanti-nanti...
04/09/2026

Renungan Mingguan: SPIRITUAL LEADERS AND INTEGRITY

"Ketulusan dan kejujuran kiranya mengawal aku, sebab aku menanti-nantikan Engkau." (Mazmur 25:21)
What does integrity mean in a person? Integrity is the quality of being honest and showing a consistent and uncompromising adherence to strong moral and ethical principles and values. In ethics, integrity is regarded as the honesty and truthfulness or earnestness of one's actions. Integrity can stand in opposition to hypocrisy.

Definisi tersebut sangat menarik dan bagus. Integritas adalah:

The quality of being honest.
Kualitas jati diri yang jujur. Being honest bukan doing honest. Jujur adalah identitas diri bukan berpura-pura jujur.

Konsisten dan tanpa kompromi terhadap prinsip dan nilai moral dan etika. Darimana diketahui kejujuran itu being atau doing? Yaitu dari konsistensinya. Dalam kondisi, situasi, kepentingan dan kebutuhan apapun, kejujuran menjadi satu standard dan selalu diperjuangkan menjadi identitas (being) dari kehidupannya.
Ada lima (5) komponen nilai pada integritas yaitu honest, accountable, reliable, transparent, and ethical in all aspects of life.

Kejadian 39:2,3, “Tetapi TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya; maka tinggallah ia di rumah tuannya, orang Mesir itu. Setelah dilihat oleh tuannya, bahwa Yusuf disertai TUHAN dan bahwa TUHAN membuat berhasil segala sesuatu yang dikerjakannya.”

Kejadian 39:23, “Dan kepala penjara tidak mencampuri segala yang dipercaya-kannya kepada Yusuf, karena TUHAN menyertai dia dan apa yang dikerjakan-nya dibuat TUHAN berhasil.”

Yusuf salah satu contoh jelas dan kuat mengenai integritas. Ia diberkati TUHAN dan manusia dimanapun, kapanpun, dalam situasi dan posisi apapun. Yusuf tetap berkepribadian jujur (honest), akuntabel (accountable), dapat diandalkan(reliable), transparan (transparent) dan beretika (ethical).

Yusuf ketika dibenci dan dizolimi oleh kakak-kakaknya, ketika ia menjadi budak, ketika menjadi manajer rumah Potifar, ketika menjadi narapidana, ketika menjadi pejabat, penguasa, ia tetap menjaga integritasnya, tetap pribadi yang sama tidak berubah, tidak menjadi arogan, over confidence dan kehilangan spiritualitasnya. Lima komponen integrity inilah yang ada pada diri Yusuf dan menjadi kunci TUHAN memberkati Yusuf dengan kesuksesan.

Sukses, kekuasaan, kekayaan, jabatan seringkali mengubah spirituality dan integrity seseorang, tetapi itu tidak terjadi pada Yusuf.

Pertanyaan kritis buat kita semua: Apakah kehidupan kita di Singapura dalam upaya perjuangan meraih sukses, kekayaan, kekuasaan, posisi karir dll telah membuat spiritualitas dan integritas kita mulai punah?

Semoga kita semua tetap menjadi manusia yang memiliki kerohanian yang baik dan integritas yang kuat sesukses dan setinggi apapun kekuasaan kita (J.Th)

Selamat melayani kepada Rev. Dr. Edward Goh sebagai senior minister BBPC
30/08/2026

Selamat melayani kepada Rev. Dr. Edward Goh sebagai senior minister BBPC

Ketika sebuah bangsa baru saja memenangkan pertempuran besar, biasanya siapa yang dielu-elukan? Tentu sang jenderal atau...
28/08/2026

Ketika sebuah bangsa baru saja memenangkan pertempuran besar, biasanya siapa yang dielu-elukan? Tentu sang jenderal atau sang pahlawan yang membalikkan keadaan. Namun dalam Hakim-hakim 5, kita menemukan sesuatu yang tidak biasa. Setelah kemenangan besar atas Sisera dan pasukan Kanaan, Debora dan Barak tidak menyanyikan lagu tentang kehebatan mereka sendiri. Nyanyian mereka dibuka dengan tegas: "Aku mau, aku mau menyanyikan bagi Tuhan, aku mau bermazmur bagi Tuhan, Allah Israel" (ay. 3 TB2). Kemenangan itu nyata dan melibatkan usaha manusia, tapi pujian diarahkan sepenuhnya kepada Tuhan yang berdaulat. Nyanyian ini juga menyerahkan penghakiman sepenuhnya ke tangan Tuhan (ay. 31). Bukan Debora yang membalas, tapi Tuhan sendiri yang bertindak atas musuh-Nya.

Lalu, siapa "musuh Tuhan" bagi kita hari ini? Kita tidak lagi berperang melawan Sisera. Tapi ada musuh yang jauh lebih halus: kecenderungan hati kita untuk diam-diam mengklaim jasa atas apa yang sebenarnya Tuhan kerjakan, entah itu keberhasilan dalam pekerjaan, pemulihan dari sakit, atau berkat dalam keluarga. Kita cepat berkata "saya berhasil karena kerja keras saya," tapi lupa mengakui bahwa kekuatan, kesempatan, bahkan nafas hidup kita sendiri adalah pemberian-Nya.

Menariknya, nyanyian Debora ini ditutup dengan pujian sama seperti banyak Mazmur. Dari awal (ay. 3) sampai akhir (ay. 31), fokusnya tidak pernah bergeser dari Tuhan. Bahkan detail penutupnya berkata: "negeri itu tenteram empat puluh tahun lamanya." Tapi damai ini ada batasnya dalam kitab Hakim-hakim, damai semacam ini selalu terikat pada hidup sang pemimpin. Begitu hakim itu mati, siklus penindasan berulang lagi. Ini bukan kegagalan Debora, tapi memang begitulah keterbatasan setiap kepemimpinan manusia sekalipun ia diurapi Tuhan. Di sinilah letak pengharapan kita yang sesungguhnya: bukan pada pemimpin, tokoh, atau bahkan diri kita sendiri, tapi pada Kristus, Sang Hakim dan Raja sejati, yang membawa perhentian yang tidak akan pernah berakhir (bdk. Matius 11:28; Ibrani 4:9-10).

Soli Deo Gloria bukan sekadar semboyan reformasi yang usang untuk dihafal. Ini adalah cara hidup: dalam pekerjaan, keluarga, pelayanan, siapa sebenarnya yang kita "nyanyikan"? Mari arahkan hidup kita untuk memuliakan Tuhan saja, dengan mengingat bahwa damai sejati bukan dari kekuatan kita, tapi dari Kristus yang berdaulat atas segala sesuatu bagi kemuliaan-Nya.

Soli Deo Gloria.
(CP)

Renungan Mingguan : IDENTITASBulan Agustus selalu menjadi bulan yang istimewa dan penuh perayaan bagi gereja kita. Di bu...
22/08/2026

Renungan Mingguan : IDENTITAS

Bulan Agustus selalu menjadi bulan yang istimewa dan penuh perayaan bagi gereja kita. Di bulan ini, kita merayakan tiga momen penting yang saling berdekatan: Hari Kebangsaan Singapura pada 9 Agustus, Hari Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus, dan hari ulang tahun gereja kita sendiri pada 20 Agustus. Rentetan perayaan ini memantik sebuah pertanyaan yang mendalam bagi kita sebagai sebuah komunitas: Di manakah letak identitas kita yang sesungguhnya?

Gereja kita memiliki perjalanan sejarah yang serupa dengan gereja-gereja imigran pada umumnya. Awalnya, komunitas ini dirintis oleh para perantau asal Indonesia. Seiring berjalannya waktu, gereja kita terus bertumbuh hingga menyentuh generasi kedua, ketiga atau bahkan keempat. Saat ini, banyak jemaat yang merupakan warga negara Singapura, yang lahir, bersekolah dan bertumbuh di negeri ini. Pergeseran ini mungkin dapat membuat kita merasa seolah hidup di antara dua dunia: akar budaya kita tertanam di Indonesia, tetapi rumah, realitas, dan masa depan kita ada di Singapura.

Pergumulan mengenai identitas ini bukanlah hal yang baru bagi umat Allah. Sebuah dokumen gereja mula-mula dari abad ke-2 Masehi, yaitu Surat untuk Diognetus, merangkum dengan baik paradoks identitas kekristenan kita di tengah dunia: "Mereka [umat Kristiani] tinggal di negara mereka masing-masing, tetapi hanya sebagai musafir; mereka ambil bagian dalam segala hal sebagai selayaknya warga negara, dan mereka menanggung semua kesulitan sebagai orang asing. Setiap negara asing adalah tanah air bagi mereka, dan setiap tanah air adalah negara yang asing." (Diognetus 5)

Pesan ini menegaskan satu hal penting: Apa pun warna paspor yang kita pegang hari ini, kewarganegaraan kita yang terutama adalah dari surga (Filipi 3:20). Identitas surgawi inilah yang menyatukan kita semua, melampaui latar belakang negara atau dari generasi mana kita berasal. Karena kita adalah warga Kerajaan Allah, panggilan kita di bumi menjadi sangat jelas. Sebagaimana firman Tuhan dalam Yeremia 29:7, kita...

Selengkapnya di https://gpbb.org/category/renungan

Illustration by Md. Mozibur Rahman at vecteezy

DIRGAHAYU GPBB Ke 31Matius 28:19-20 (TB)  Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dal...
20/08/2026

DIRGAHAYU GPBB Ke 31

Matius 28:19-20 (TB) Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,
dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."

Kiranya Tuhan memberkati umatNya dan Bukit Batok senantiasa

TALKSHOW PEMBINAAN – THE AI DISRUPTIONBagaimana AI mengubah dunia kerja, panggilan, dan profesionalisme Kristen? Mari be...
19/08/2026

TALKSHOW PEMBINAAN – THE AI DISRUPTION

Bagaimana AI mengubah dunia kerja, panggilan, dan profesionalisme Kristen? Mari bersama-sama berdiskusi dan melihat bagaimana kita dapat merespons perkembangan AI dengan bijaksana.

📅 Sabtu, 12 September 2026
⏰ 16.00–19.00
📍 L4R3
🍽️ Dinner provided

Terbuka bagi youth & professionals. Silakan mendaftar melalui QR Code pada poster.

16/08/2026

Thank you for Rev Dr Edward Goh for ministering God's Word to BBPC Indonesian Congregation today on both Sunday Services. May God the Trinity blesses Rev Edward and family in any circumstances.

Address

21 Bukit Batok Street 11
Singapore
659673

Telephone

+6565694365

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Gereja Presbyterian Bukit Batok - GPBB - Jemaat Indonesia, Singapura posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Place Of Worship

Send a message to Gereja Presbyterian Bukit Batok - GPBB - Jemaat Indonesia, Singapura:

Shortcuts

Share