Gereja Presbyterian Bukit Batok - GPBB - Jemaat Indonesia, Singapura

Gereja Presbyterian Bukit Batok - GPBB - Jemaat Indonesia, Singapura Gereja Indonesia di Singapura. Gereja Presbyterian Bukit Batok - Jemaat Indonesia, Singapura.

21 Bukit Batok Street 11, Singapore 659673

Kebaktian Setiap Hari Minggu
- Kebaktian Minggu @ 9:00 dan 11:00 di Lt 4
- Sekolah Minggu @ 11:00 di Lt 1
- Remaja @ 9:00 di Lt 1

Persekutuan Setiap Hari Minggu
- Pelaut @ 10:30 di Lt 1

Persekutuan Setiap Hari Sabtu
- Pemuda @ 17:00 di Lt 3
- Keluarga Muda @ 17:00 (Minggu ke-3) di Lt 1

Persekutuan Setiap

Hari Jum'at
- Wanita @ 14:00 di Lt 1

Tentang GPBB:
1. Pegangan Ajaran
Sebagai Jemaat Gereja Presbyterian yang menerima Pengakuan Iman Westminster, maka GPBB mengakui Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. GPBB mengakui Alkitab, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, sebagai Firman Allah; dasar dari pengakuan iman dan praktek hidup bergereja.

2. Keanggotaan
Keanggotaan GPBB terbuka untuk semua bangsa, ras, status sosial, dan ekonomi. Menjadi anggota GPBB dapat diperoleh melalui baptisan (anak-anak dan dewasa), sidi, dan atestasi masuk dari gereja yang seazas.

Renungan Mingguan: KECUKUPAN YANG MEMERDEKAKAN1 Timotius 6:6-10Rasul Paulus menulis kepada Timotius tentang sebuah keben...
13/06/2026

Renungan Mingguan: KECUKUPAN YANG MEMERDEKAKAN

1 Timotius 6:6-10
Rasul Paulus menulis kepada Timotius tentang sebuah kebenaran yang sering terlupakan dalam kehidupan modern: “Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar” (1 Tim. 6:6, TB2). Ayat-ayat ini tidak sedang merendahkan kerja keras atau kepemilikan harta, tetapi menempatkan semuanya dalam terang Injil. Paulus mengingatkan bahwa akar banyak persoalan rohani bukanlah uang itu sendiri, melainkan cinta akan uang yang menggeser Allah dari pusat kehidupan.
Dalam ayat 7–8, Paulus menegaskan realitas dasar hidup manusia: kita datang ke dunia tanpa membawa apa-apa dan pergi pun tanpa membawa apa-apa. Karena itu, makanan dan pakaian seharusnya cukup. Pernyataan ini menantang budaya yang terus mendorong rasa kurang, haus akan lebih, dan ketakutan akan tertinggal. Dalam perspektif iman Kristen, rasa cukup bukan lahir dari jumlah kepemilikan, melainkan dari kepercayaan bahwa Allah memelihara umat-Nya.

Paulus melanjutkan dengan peringatan serius: “Mereka yang ingin menjadi kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan” (ay. 9). Keinginan yang tidak terkendali menumpulkan hati nurani, merusak relasi, dan menjauhkan orang dari iman. Bahkan, Paulus mengatakan bahwa karena cinta akan uang, beberapa orang telah “menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka” (ay. 10). Ini adalah gambaran tragis tentang hati yang kehilangan arah.

Bagi orang percaya, ayat-ayat ini mengundang kita untuk menilai ulang motivasi hidup. Dalam pekerjaan, kita dipanggil untuk bekerja dengan tekun, tetapi bukan menjadikan karier dan penghasilan sebagai ilah. Dalam keluarga, kecukupan menolong kita membangun relasi yang penuh syukur, bukan penuh tuntutan. Dalam pelayanan, rasa cukup menjaga kita dari melayani demi pengakuan, keuntungan, atau ambisi pribadi.

Kecukupan yang sejati adalah kebebasan—kebebasan untuk bersyukur, memberi, dan hidup dengan damai di hadapan Allah. Ketika Kristus menjadi harta terbesar kita, maka uang dan materi kembali ke tempatnya yang benar: sebagai alat, bukan tujuan.

Pertanyaan Refleksi

Apakah motivasi saya bekerja lebih banyak didorong oleh rasa cukup di dalam Tuhan atau oleh keinginan yang tidak pernah puas?
Bagaimana sikap saya terhadap uang dan kepemilikan memengaruhi relasi dan nilai yang saya tanamkan dalam keluarga?
Apakah saya melayani dengan hati yang bebas dan bersyukur, atau ada motivasi tersembunyi untuk keuntungan pribadi?
Tuhan yang memelihara hidup kami, ajarlah kami mencukupkan diri di dalam Engkau. Bebaskan hati kami dari cinta akan uang dan gantikan dengan kasih kepada-Mu. Bentuklah kami menjadi pribadi yang bersyukur, setia, dan murah hati. Dalam nama Yesus Kristus kami berdoa. Amin. (YJ)

Photo by Jon Tyson on Unsplash

Mezbah Doa GPBB – Juni 2026"Siapa yang Paling Alkitabiah?"(Pengkhotbah 7:16–17; 2 Timotius 3:16)Mari bergabung dalam Mez...
07/06/2026

Mezbah Doa GPBB – Juni 2026

"Siapa yang Paling Alkitabiah?"
(Pengkhotbah 7:16–17; 2 Timotius 3:16)

Mari bergabung dalam Mezbah Doa GPBB untuk bersama-sama merenungkan Firman Tuhan dan mencari hikmat-Nya dalam memahami kebenaran Alkitab secara seimbang dan benar.

🗓 Jumat, 12 Juni 2026
🕗 Pukul 20.00 SGT
📍 Chapel Lt. 1
🙏 Pemimpin Doa: Pdt. Yudi Jatmiko
📖 Pemimpin Renungan: Pdt. Dr. Martus A. Maleachi

Jemaat juga diajak untuk berpuasa mulai pukul 09.00–18.00 dan berbuka puasa bersama pada pukul 18.30 di MPH sebelum Mezbah Doa dimulai.
Mari datang dengan hati yang haus akan Tuhan dan mengalami pembaruan melalui doa serta firman-Nya.

Pelayanan Pelatih Paduan Suara Gratia.Dkn. Bayu Wijayanto akan melayani sebagai Pelatih Paduan Suara Gratia untuk period...
07/06/2026

Pelayanan Pelatih Paduan Suara Gratia.

Dkn. Bayu Wijayanto akan melayani sebagai Pelatih Paduan Suara Gratia untuk periode Juni–Desember 2026.
Kiranya Tuhan senantiasa memberikan hikmat, kekuatan, dan penyertaan dalam setiap pelayanan yang dipercayakan.

Puji syukur atas Perjamuan Kudus yang dapat berlangsung baik hari ini. Kiranya Tuhan ingatkan kita akan kasih dan karyaN...
07/06/2026

Puji syukur atas Perjamuan Kudus yang dapat berlangsung baik hari ini. Kiranya Tuhan ingatkan kita akan kasih dan karyaNya melalui Kristus. Soli Deo Gloria

Terima kasih atas pelayanan firman Tuhan oleh GI Ivaneide Xavier De Souza dari Asia Pacific International (API) di kebak...
07/06/2026

Terima kasih atas pelayanan firman Tuhan oleh GI Ivaneide Xavier De Souza dari Asia Pacific International (API) di kebaktian umum GPBB hari ini. Kiranya Tuhan menjaga dan memberkati GI Ivaneide senantiasa.

Renungan Mingguan: ROTI KEHIDUPANCobalah rasakan terigu, huh, engak ada rasanya. Susah menyebutkan rasanya, pokoknya kag...
06/06/2026

Renungan Mingguan: ROTI KEHIDUPAN

Cobalah rasakan terigu, huh, engak ada rasanya. Susah menyebutkan rasanya, pokoknya kagak enak aja. Cobalah cicipi mentega, sama aja, hambar. Bagaimana kalau makan telor ayam mentah, rasanya amis. Coba cicipi baking powder, baking soda, atau emulsifier, ada yang pahit, asin dll. Tetapi sekarang, mari, kita gabungkan semuanya itu, jadikan satu dan buatlah roti. Di tangan The Baker akan menjadi sebuah bakery indah nan lezat dan sekarang Anda rasakan, Ehm, eunak tenan.

Aneh juga ya, roti yang indah dan enak terbuat dari bahan-bahan yang ketika masih sendiri-sendiri rasanya tidaklah enak. Tetapi, ketika sudah disatukan entah jadi kue atau roti, oh, bukan hanya sedap dipandang tetapi juga enak dimakan.

Kehidupan manusia juga demikian. Hidup ibarat roti, yang jika dilihat hanya sebagian-sebagian saja tidaklah enak, pahit dan cenderung tidak disukai. Hidup akan kehilangan makna dan keindahannya jika hanya dihidupi sendirian tanpa komunitas. Lihatlah hidup secara utuh. Rangkaikan satu bagian dengan bagian yang lain. Renungkan apa maksud dan rencana Tuhan, maka kita akan melihat ternyata hidup itu indah dan penuh makna. Keindahan hidup bukan karena sendiri-sendiri tetapi dalam kebersamaan.

Singapura adalah negara dengan multikulturalisme dan Toleransi. Singapura memiliki masyarakat majemuk yang terdiri dari etnis Tionghoa, Melayu, India, dan ras lainnya. Kehidupan di Singapura bercirikan kedisiplinan yang tinggi, keteraturan kelas dunia, dan perpaduan harmonis antara berbagai etnis dan budaya. Keragaman ini terlihat indah karena perpaduan dari berbagai ras, etnik dan budaya.

GPBB juga demikian, indah karena terdiri dari berbagai etnis yang menyatu sebagai satu tubuh Kristus di Bukit Batok. Singapura dan GPBB semakin indah karena semua unsur sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati (Filipi 2:2-3). Semua bangsa kagum dengan Singapura (dan harusnya juga kagum dengan GPBB) karena warganya hidup dengan rukun seperti Mazmur 133:1, “Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun.

Singapura telah mampu membuat Roti Kehidupan yang indah dan enak. GPBB, mari kita buat Roti Kehidupan agar GPBB juga indah dan “enak”

Selamat membuat roti kehidupan. (j.th)


Photo by Nadya Spetnitskaya on Unsplash

Terima kasih atas pelayanan firman Tuhan oleh GI Denni Boy Saragih dari UKRIDA di Persekutuan keluarga Senior dan Kebakt...
31/05/2026

Terima kasih atas pelayanan firman Tuhan oleh GI Denni Boy Saragih dari UKRIDA di Persekutuan keluarga Senior dan Kebaktian umum GPBB hari ini.

Kiranya Tuhan menjaga dan memberkati GI Denni & keluarga dan UKRIDA senantiasa

Puji syukur kepada Tuhan atas cuaca yang mendukung, persekutuan dari guru2 sekolah minggu GPBB kemarin di HarbourFront -...
31/05/2026

Puji syukur kepada Tuhan atas cuaca yang mendukung, persekutuan dari guru2 sekolah minggu GPBB kemarin di HarbourFront - Labrador Park outing 😊🙏

Renungan Mingguan: MENERIMA KARENA TELAH DITERIMARoma 15:7, Galatia 3:28Sudah hampir satu tahun kita belajar tentang hos...
30/05/2026

Renungan Mingguan: MENERIMA KARENA TELAH DITERIMA

Roma 15:7, Galatia 3:28

Sudah hampir satu tahun kita belajar tentang hospitality, baik melalui tema khotbah maupun materi K2. Ini tentu menjadi perjalanan refleksi yang baik bagi kita sebagai pengikut Kristus. Dalam praktiknya, tentu tidak mudah menghidupi hal ini di tengah-tengah konteks kehidupan dan budaya di Singapura. Namun, biarlah kita terus berjuang menjadikannya sebagai gaya hidup dan menjadi perjalanan yang terus membentuk kita.

Kita telah belajar bahwa keramahan yang Alkitabiah memiliki makna yang jauh lebih dalam dari sekadar bersikap ramah: yaitu kesediaan untuk membuka hati, hidup, dan kenyamanan kita bagi orang lain.

Roma 15:7 memberikan dasar yang kuat untuk itu. Rasul Paulus berkata: “Sebab itu terimalah satu sama lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kamu, untuk kemuliaan Allah.” (TB2) Rasul Paulus mengingatkan bahwa standar kita dalam menerima sesama bukan diukur dari kelayakan atau seberapa menyenangkan orang tersebut, melainkan pada satu fakta bahwa Kristus telah terlebih dahulu menerima kita yang tidak layak ini. Kita yang sesungguhnya tidak layak, penuh cela, dan asing bagi Allah – namun Kristus dengan segala kasih karunia-Nya telah menerima, mengampuni dan merangkul kita apa adanya.

Galatia 3:28 pun mengingatkan bahwa di dalam Kristus, tidak ada lagi sekat pemisah, baik suku maupun status social. Di hadapan salib Kristus, kita semua berdiri sebagai orang berdosa yang sama-sama ditebus. Oleh karena itu, gereja seharusnya menjadi tempat yang paling aman bagi siapa saja untuk datang dan diterima. Keramahan yang kita berikan kepada sesama bukanlah sebuah beban pelayanan, melainkan limpahan rasa syukur atas kasih Allah yang sudah meluap di dalam hidup kita.

Menjelang akhir perjalanan kita bersama buku The Gospel Comes with a House Key, Rosaria Butterfield mengingatkan kita dengan indah: "Christian hospitality cares for the things that our neighbors care about... It means starting where you are and looking around for who needs you." (hal. 166).

Ketika kita berhenti menghakimi dan mulai peduli pada apa yang dipedulikan sesama kita, kasih Kristus menjadi nyata. Melalui anugerah Tuhan, hospitality yang radikal namun sederhana inilah yang “meets people as strangers and makes them neighbors; it meets neighbors and make them family.” (hal. 172).

Marilah miliki ketulusan yang sama seperti saat Kristus menyambut kita, dan runtuhkanlah tembok prasangka di dalam hati. Saat kita belajar menerima sesama tanpa syarat, saat itulah nama Allah dipermuliakan melalui hidup kita. Selamat berefleksi, selamat menikmati perjalanan hospitality kita, dan teruslah menjadi berkat! (CP)

Halo Parents!Dikarenakan liburnya Sekolah Minggu GPBB pada 7, 14, 21 Juni, anak2 dipersilakan bergabung dgn BBPC Sunday ...
25/05/2026

Halo Parents!

Dikarenakan liburnya Sekolah Minggu GPBB pada 7, 14, 21 Juni, anak2 dipersilakan bergabung dgn BBPC Sunday School (jam 10 pagi) atau ikut kebaktian umum.

Address

21 Bukit Batok Street 11
Singapore
659673

Telephone

+6565694365

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Gereja Presbyterian Bukit Batok - GPBB - Jemaat Indonesia, Singapura posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Place Of Worship

Send a message to Gereja Presbyterian Bukit Batok - GPBB - Jemaat Indonesia, Singapura:

Share