GKPI Singapore

GKPI Singapore A caring church for all.

Iman dan Uang (1)Beberapa waktu yang lalu di blog ini kita membicarakan arti pekerjaan kita dan hubungan pekerjaan denga...
14/11/2019

Iman dan Uang (1)
Beberapa waktu yang lalu di blog ini kita membicarakan arti pekerjaan kita dan hubungan pekerjaan dengan iman kita sebagai orang Kristen. Dalam beberapa minggu ke depan, kita akan membicarakan topik yang sangat berhubungan dengan pekerjaan, yaitu uang.
Kenapa orang harus bekerja? Jawaban yang paling realistis, baik bagi seorang Kristen atau bukan, adalah: saya harus bekerja untuk menyambung hidup, agar asap di dapur tetap mengepul, dan saya dapat membantu orangtua dan keluarga saya!
Pertanyaan selanjutnya yang tak kalah penting adalah, pekerjaan apa yang paling anda inginkin? Kembali, jawaban yang paling realistis adalah: pekerjaan yang dapat dikerjakan dengan usaha sesedikit mungkin, untuk dapat meraup hasil sebesar mungkin, sehingga saya dapat pensiun secepat mungkin, dan tidak perlu kerja lagi. Dan bagi orang Kristen, mungkin ada yang berpikir, saya menginginkan pekerjaan yang menghasilkan cukup uang, sehingga tidak hanya asap di dapur tetap mengepul, tapi juga saya mampu memberikan persembahan besar ke gereja! Tapi apakah itu saja kaitan antara iman, kerja, dan uang?
Sebagai orang percaya, pedoman utama yang diberikan kepada kita untuk menghadapi segala permasalahan hidup di dunia ini - baik itu pekerjaan, hubungan pacaran, perkawinan, keluarga, maupun keuangan - adalah Firman Tuhan. Mengapa?
Kalau kita membuka Alkitab, tiga perkataan pertama di Kejadian 1:1 adalah “Pada mulanya ALLAH”. Ini artinya, segala sesuatu yang berlangsung di dunia ini - baik itu pekerjaan, hubungan pacaran, perkawinan, keluarga, maupun keuangan – semuanya berada dibawah kekuasaan Tuhan Allah. Sehingga jalan terbaik untuk menghadapi permasalahan di dunia ini adalah dengan mencari jawabannya di dalam Firman Tuhan.
Mengapa kita sering gagal dan frustasi dalam menghadapi masalah hidup kita, terutama masalah keuangan? Ini terjadi karena kita menghadapi masalah kita dengan jalan duniawi, atau jalan kita sendiri, yang sering kali tidak sesuai dengan kehendak Allah di dalam FirmanNya.
Kita tutup diskusi kita minggu ini dengan Mazmur 119:105 “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku”

Blog by Ronibasa Tobing, photo by Jordan Rowland on Unsplash

Tujuan Tuhan dalam ke-jomblo-an saya (30 Oct 2019)Banyak anak muda sekarang yang ragu2 untuk menikah atau tidak. Apalagi...
30/10/2019

Tujuan Tuhan dalam ke-jomblo-an saya (30 Oct 2019)
Banyak anak muda sekarang yang ragu2 untuk menikah atau tidak. Apalagi melihat tingginya angka perceraian, dan masalah2 lain yg sering kita lihat di pernikahan di sekitar kita. Lalu bagaimana kita basa tahu, sebagai orang Kristen, untuk menikah apa tidak? Pertanyaan ini digumulkan Rasul Paulus di dalam suratnya kepada jemaat di Korintus. Rasul Paulus mengaitkan pertanyaan ini kepada masa akhir jaman, saat Yesus Kristus kembali menjemput kita sebagai umatnya.
Kita yang sekarang hidup menantikan Kristus harus memutuskan apakah kita harus menikah atau tidak, dengan mempertimbangkan apakah dengan menikah saya dapat mempersiapkan diri dengan baik untuk akhir jaman? Apakah dengan menikah saya dapat semakin memusatkan perhatian dan kasih saya kepada Tuhan? Apakah dengan menikah saya dapat semakin baik melayani Tuhan? (1 Kor 7:17-33).
Kalau jawaban anda “Tidak”, mungkin hidup “single” lebih baik, karena walaupun Tuhan peduli dengan kehidupan kita di dunia sebagai seorang yang “single” atau menikah, segala sesuatu di dunia ini akan berlalu, dan Tuhan Allah akan mengganti semuanya ini dengan sesuatu yang abadi.
Yesus mengajarkan bahwa di dalam kehidupan kita yang kekal sebagai kelurga tidak ada lagi suami atau istri (Mat 22:30), melainkan semua orang akan berkumpul sebagai anak-anak Allah. Yang lebih penting bagi Tuhan di dunia ini, baik sebagai seorang yang “single “atau menikah, adalah supaya kita setia menjadi pengikut Yesus Kristus (1 Kor 11:1). Alkitab juga mengajarkan supaya kita mengikatkan diri kepada Tuhan (1 Kor 6:17), sebagai sumber kepuasan hidup kita. Jadikanlah Yesus Kristus kekasihMu, dan ingatlah akan pengorbananNya di kayu salib untuk menebus dosaMu!
Ronibasa Tobing

Tujuan Tuhan dalam pernikahan saya – 3 (22 Oct 2019)Pada awal 2018, kita dikejutkan dengan kasus perceraian Ahok dengan ...
22/10/2019

Tujuan Tuhan dalam pernikahan saya – 3 (22 Oct 2019)
Pada awal 2018, kita dikejutkan dengan kasus perceraian Ahok dengan Veronica Tan. Masalah ini bukan hanya menimpa mereka yang terkenal dan para selebritis. Angka perceraian di banyak negara, termasuk di Indonesia dan Singapura setiap tahun semakin tinggi. Berdasarkan data yang dikutip detikcom dari website Mahkamah Agung baru2 ini, sebanyak sebanyak 419.268 pasangan bercerai sepanjang 2018 di Indonesia, dibandingkan dengan 374.516 di tahun 2017. Menurut data 2018, di Singapura, kira2 satu dari setiap empat pernikahan berakhir dalam perceraian.
Mengapa orang memilih bercerai dengan pasangannya? Ada banyak kemungkinan. Contohnya dalam kasus Ahok, alasan yang diberikan adalah karena ada “orang ketiga”. Dalam hal perceraian karena zinah, Alkitab memberi petujuk dalam Matius 19:9 dan 1 Korintus 7:10-16. Ada juga orang yg bercerai karena alasan ekonomi. Tetapi alasan perceraian yang paling umum adalah karena kedua belah pihak sudah tidak saling mencintai lagi.
Apapun alasan dibelakangnya, perceraian adalah sesuatu yang menyakitkan. Apabila hubungan anda dengan pasangan anda kurang harmonis, ingatlah sebagai orang Kristen, Yesus mengajarkan bahwa perceraian bukanlah jalan keluar yang terbaik. Yesus berkata “mereka bukan lagi dua, melainkan satu…. apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia…” (Mat 19:6). Alasan yang paling penting untuk ajaran Yesus untuk tidak bercerai adalah karena perkawinan diciptakan Tuhan sejak awal sebagai gambaran janji kasih Yesus dan gerejaNya (Efe 5:22-33).
Pernikahan anda mungkin dipenuhi masalah dan kekecewaan. Tapi ingatlah, pernikahan yang bahagia dan bebas masalah bukanlah ukuran, tujuan, dan sumber pengharapan hidup kita. Alkitab mengajarkan supaya kita “bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.” (Rom 5:3-5). Berpengharapanlah kepada Tuhan, peganglah Firman dan janjiNya dalam menghadapi percobaan, termasuk dalam masa2 sulit dalam pernikahanmu, karena Dia tidak akan mengecewakanmu!
Ronibasa Tobing

Tujuan Tuhan dalam pernikahan saya – 2 (16 Oct 2019)Saya dan istri saya menikah pada kami berumur 27 and 26 tahun. Terus...
16/10/2019

Tujuan Tuhan dalam pernikahan saya – 2 (16 Oct 2019)
Saya dan istri saya menikah pada kami berumur 27 and 26 tahun. Terus terang pada waktu itu kami merasa belum siap, baik dari segi mental, apalagi dari segi finansial. Akan tetapi karena orangtua dari kedua belah pihak berkata bahwa kami sudah cukup usia, dan kami merasa Tuhan sudah memberikan pasangan yg seimbang dan seiman, saya dan istri menuruti saran orangtua untuk menikah.
Walaupun belum siap mental dan finasial, yang paling membantu kami dalam membangun pernikahan kami adalah dukungan doa dari teman2 dan tentu saja Firman Tuhan. Alkitab, terutama kitab Kejadian memberikan banyak petunjuk mengenai tujuan pernikahan sebagai orang percaya.
Pertama, tujuan pernikahan Kristen adalah untuk mendapatkan keturunan. Alkitab mencatat bahwa Tuhan Allah memberkati Adam dan Hawa sebelum memerintahkan mereka beranak cucu (Kej 1:27-28). Inilah sebabnya pernikahan adalah hal yang kudus dan mulia, karena pernikahan dibentuk dalam perintah Tuhan, dengan bersandar kepada kasih karunia Tuhan.
Alkitab berkata bahwa “tidak baik manusia itu seorang diri saja” (Kej 2:18). Tujuan pernikahan Kristen yang kedua adalah agar terjadi hubungan timbal balik, dimana suami dan istri dapat saling menolong dan bekerjasama dalam memelihara berkat dan karunia Tuhan.
Akhirnya Alkitab juga berkata bahwa pernikahan Kristen bertujuan supaya suami dan istri mengikat janji untuk saling mencintai dan mengasihi, saling memberikan dirinya satu kepada yang lain, dan mengungkapkan semuanya ini melalui hubungan seksual (Kej 2:21-25).
Alkitab memberikan banyak contoh pasangan suami istri yang patut diteladani, seperti Abraham dan Sarah, Yakub dan Rahel (di kitab Kejadian), Elkana dan Hana (1 Samuel), Akwila dan Priskila (Kisah Rasul) dan tentu saja Yusuf dan Maria. Tetapi gambaran pernikahan yang sejati adalah pernikahan yang digambarkan dengan hubungan Yesus Kristus dengan gerejaNya, dimana hubungan kasih antara suami dan istri adalah hubungan yang penuh pengorbanan dan yang menguduskan (Efe 5:22-32). Amin.
Ronibasa Tobing

Tujuan Tuhan dalam pernikahan saya – 1 (8 Oct 2019)Dalam kehidupan kita di masyarakat, termasuk dalam lingkungan gereja,...
08/10/2019

Tujuan Tuhan dalam pernikahan saya – 1 (8 Oct 2019)
Dalam kehidupan kita di masyarakat, termasuk dalam lingkungan gereja, status pernikahan dan keluarga adalah salah satu hal yang sangat penting. Bahkan dalam budaya Indonesia, dan Asia pada umumnya, pernikahan sering diatur sedemikian rupa untuk menjaga kehormatan keluarga. Kalau secara tradisional tujuan pernikahan adalah untuk status, sekarang tujuan pernikahan adalah untuk memenuhi kebutuhan akan kebahagiaan pribadi. Kalau kita bertanya kepada teman2 kita, banyak yang beranggapan kalau kita belum menikah, hidup menjadi kurang bahagia dan tidak sempurna.
Tetapi tahukan anda, bahwa ajaran iman Kristen adalah ajaran pertama di dunia yang mengangkat status orang yang tidak menikah sebagai cara hidup yang dapat diterima? Rasul Paulus dalam 1 Korintus 7 mengatakan, bahwa menikah itu baik, tapi tidak menikah juga baik. Alkitab bahkan mengajarkan gereja supaya membantu janda2 yang ditinggal suaminya, tanpa mengharuskan mereka supaya menikah kembali (Kis 6:1, 1 Kor 7:8, 1 Tim 5:16).
Sebagai kelanjutan pembahasan kita bulan lalu mengenai pacaran, bulan ini kita akan mempelajari ajaran Alkitab mengenai pernikahan, perceraian, dan juga bagi yang masih “single” atau “jomblo”. Sebelum kita berdiskusi lebih jauh mengenai pernikahan, ada baiknya kita mengingat Firman Tuhan mengenai apa yang lebih penting dari status pernikahan sebagai orang percaya “Sebab itu juga kami berusaha, baik kami diam di dalam tubuh ini, maupun kami diam di luarnya, supaya kami berkenan kepada-Nya”(2 Kor 5:9). Sampai minggu depan!
Ronibasa Tobing

Tujuan Tuhan dalam hubungan pacaran saya (Part 4 – 24 Sep 19)Setelah saya berpacaran beberapa tahun, mungkin anda berpik...
25/09/2019

Tujuan Tuhan dalam hubungan pacaran saya (Part 4 – 24 Sep 19)
Setelah saya berpacaran beberapa tahun, mungkin anda berpikir, bagaimana saya bisa yakin kalau pacar saya benar2 cinta dengan saya, dan saya benar2 cinta kepada pacar saya? Apakah kami sudah siap untuk menuju pernikahan, membangun rumah tangga bersama di dalam iman Kristiani?
Firman Tuhan dalam 1 Korintus 13:4-7 mengajarkan tanda2 cinta yang sesungguhnya bagi orang percaya. Apabila anda mulai serius dalam hubungan pacaran, ada baiknya anda dan sang pacar merenungkan deretan sifat2 cinta yang digambarkan dalam perikop ini. Apakah saya sabar dengan pacar saya? Apakah saya murah hati? Tidak cemburu? Tidak memegahkan diri dan tidak sombong? Tidak melakukan yang tidak sopan? Tidak mencari keuntungan diri sendiri? Tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain? Tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran? Selain itu, apakah saya menutupi segala sesuatu? Percaya segala sesuatu? Mengharapkan segala sesuatu? Dan yang paling penting, sabar menanggung segala sesuatu?
Apabila jawaban anda dan sang pacar adalah “ya” untuk semua pernyataan diatas, artinya, menurut Alkitab, kalian sungguh saling mengasihi satu sama lain. Kalau ada yang jawabannya “tidak”, atau “mungkin”, ada baiknya anda mendiskusikan lagi hubungan anda dengan sang pacar.
Apapun jawaban anda berdua, ingatlah Yesus Kristus! Peganglah selalu ajaranNya dalam menjalin hubungan pacaran sebagai orang beriman. Sebab Yesus telah yang menunjukkan kepada kita cinta kasih yang terbesar, saat dia memberikan nyawaNya untuk menyelamatkan kita di kayu salib (Yoh 15:13).
Tuhan berkati dan sampai minggu depan!
Ronibasa Tobing

Tujuan Tuhan dalam hubungan pacaran saya (Part 3 – 17 Sep 19)Cinta terkadang membuat kita mabuk kepayang. Waktu hangat2n...
17/09/2019

Tujuan Tuhan dalam hubungan pacaran saya (Part 3 – 17 Sep 19)
Cinta terkadang membuat kita mabuk kepayang. Waktu hangat2nya berpacaran, tak sedikit orang yang rela melakukan apapun demi bisa membahagiakan sang pacar. Saat saya pacaran dulu, saya sering dingatkan oleh para pembimbing saya di gereja, supaya berhati2 dalam berpacaran. Lantas saya berpikir, apa salahnya sih terlalu cinta pada pacar? Bukankah semakin sayang semakin bagus? Dan yang paling penting, sebagai orang beriman, apakah Alkitab memberikan batasan2 mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama berpacaran, khususnya mengenai kontak fisik?
Kalau kita merenungkan Firman Tuhan lebih dalam, kita akan sadar bahwa Alkitab seringkali memberikan petujuk bukan tentang “apa yang boleh dan apa yang tidak boleh” dilakukan, melainkan tentang “mengapa sesuatu dilakukan atau tidak dilakukan”. Misalnya, Tuhan Yesus mengajarkan dalam Matius 5:28 “Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya”. Ini berarti tanpa sentuhan fisik pun seseorang dapat jatuh ke dalam perzinahan. Dengan kata lain, saat berpacaran kita harus menghindari situasi2 yang membuat anda atau pacar anda “menginginkan (secara seksual) dalam hati”, seperti berduaan di tempat atau ruangan yang sepi.
Lantas bagaimana caranya kita mengungkapkan cinta kepada sang pacar sebagai orang beriman? Alkitab memberikan banyak petunjuk mengenai cara-cara mengungkapkan cinta yang jauh lebih bermakna daripada sekadar kontak fisik, termasuk dalam 1 Korintus 13. Kita akan membahasnya lebih lanjut minggu depan. Shalom!
Ronibasa Tobing

Tujuan Tuhan dalam hubungan pacaran saya (Part 2 – 10 Sep 19)Bolehkah orang Kristen berpacaran dengan orang tidak seiman...
10/09/2019

Tujuan Tuhan dalam hubungan pacaran saya (Part 2 – 10 Sep 19)
Bolehkah orang Kristen berpacaran dengan orang tidak seiman?
Minggu lalu kita membahas bahwa pacaraan adalah hubungan serius yang mempersiapkan sepasang pemuda/i sebelum memasuki pernikahan. Walaupun tidak membicarakan topik berpacaran secara khusus, Alkitab adalah sumber pedoman utama bagi orang percaya dalam hidup sebagai suami istri. Salah satu ajaran Alkitab mengingatkan “Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap”. (2 Kor 4:16). Apabila anda serius berpacaran dengan seseorang yang tidak seiman sekarang, bagaimana anda dapat membangun pernikahan yang baik suatu hari nanti, apabila anda dan pasangan anda berbeda pendapat dalam hal yang paling penting di dunia ini, yaitu iman anda di dalam Yesus Kristus?
Bagaimana kalau hubungan pacaran saya belum terlalu serius atau masih PDKT? Minggu lalu kita diingatkan bahwa hidup kita adalah dari Tuhan, oleh Tuhan, untuk Tuhan, dan bertujuan untuk memuliakan nama Tuhan (Kol 1:6, Rom 11:36). Pertanyaan yang tak kalah penting adalah: apakah hubungan pacaran anda hari ini, baik dengan sesama orang Kristen, maupun dengan orang yang bukan Kristen, dapat mendukung anda memuliakan nama Tuhan? Atau sebaliknya apakah hubungan pacaran anda menjadi halangan untuk menjadi semakin dekat dengan Tuhan, atau bahkan menjauhkan anda dari Tuhan?
Mari kita renungkan bersama minggu ini. Tetap semangat dan Tuhan berkati!

Ronibasa Tobing

Tujuan Tuhan dalam hubungan pacaran saya (Part 1 – 3 Sep 19)Pacaran adalah topik yang selalu hangat ditengah kalangan an...
05/09/2019

Tujuan Tuhan dalam hubungan pacaran saya (Part 1 – 3 Sep 19)
Pacaran adalah topik yang selalu hangat ditengah kalangan anak muda. Kalau kita lihat teman2 kita, ada yg sudah serius berpacaran, bahkan ada yang sudah bertunangan, tapi banyak juga yang baru mulai berpacaran, atau masih PDKT (pendekatan). Dalam lingkungan gereja, tidak sedikit orang Kristen yang memiliki pacar yang tidak seiman. Bolehkah orang Kristen berpacaran dengan orang tidak seiman?
Topik berpacaran tidak pernah muncul dalam Alkitab. Tapi bukan berarti pacaran itu tidak penting dalam perjalanan iman Kristiani. Pacaran adalah hubungan yang lebih dari sekedar ‘teman’, atau ‘sahabat’. Pacaraan adalah hubungan serius yang mempersiapkan sepasang pemuda/i sebelum memasuki pernikahan. Pacaran juga serius karena masalah dan kegagalan dalam pacaran sering kali menimbulkan kegalauan dan emosi jiwa, bahkan sampai mengganggu konsentrasi di pekerjaan.
Bulan ini kita akan membicarakan konsep dan etika berpacaran Kristiani, dan tantangan2 dalam menjalin hubungan pacaran sebagai orang beriman. Sebelum kita berdiskusi lebih jauh mengenai pacaran, ada baiknya kita melihat Firman Tuhan, yang mengingatkan kita bahwa hidup kita adalah dari Tuhan, oleh Tuhan, untuk Tuhan, dan bertujuan untuk memuliakan nama Tuhan (Kol 1:6, Rom 11:36)
Kita sambung minggu depan, selamat berkarya, dan Shalom!

Ronibasa Tobing

Tujuan Tuhan dalam pekerjaan saya (Part 4 – 26 August)Pada saat ini, banyak sekali orang mengatakan “sulit cari kerja”, ...
28/08/2019

Tujuan Tuhan dalam pekerjaan saya (Part 4 – 26 August)
Pada saat ini, banyak sekali orang mengatakan “sulit cari kerja”, karena kesulitan mendapatkan pekerjaan yang layak untuk menunjang kehidupan. Sementara pada saat yang sama, banyak orang yg sudah punya pekerjaan, merasa stress atau tertekan di pekerjaannya. Mungkin karena punya atasan yang sering marah2 dan kurang pengertian, atau karena ribut dengan teman2 sekerja, atau masalah2 lain. Ada juga orang Kristen yang tertekan di pekerjaannya, karena atasan atau teman2 sekerja sinis dengan agama mereka.
Terkadang sebagai orang percaya kita merenung, bagaimana Tuhan bisa memakai saya apabila saya bekerja dalam suasana sulit, dengan atasan dan teman sekerja yang kurang mendukung, bahkan sering membuat kita emosi, marah, dan hampir putus asa. Apa mungkin itu semua karena salah saya sendiri, dan mungkin lebih baik saya ganti pekerjaan saja? Tapi jaman sekarang cari kerja juga sulit, jadi bagaimana?
Alkitab mengatakan “ Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” (Efe 2:10). Ayat ini mengingatkan kita bahwa walau Tuhan tidak selalu mengubahkan pekerjaan kita, atau suasana di pekerjaan kita, tapi Ia mengubah kita, sebagai pekerja-Nya! Sebagai orang percaya semakin buruk situasi kerja kita, kita bukannya semakin emosi, tapi kita dimampukan untuk semakin teguh memegang iman kita. Bagaimana ini bisa terjadi? Roh Kudus! Ya, sebagai orang percaya kita tidak bekerja sendiri, tapi kita hidup dibawah pimpinan Roh Kudus, yang memampukan kita supaya kita tidak “gila hormat.. saling menantang .. dan saling mendengki.” (Gal 2:24-26).
Selamat berkarya, sampai minggu depan!
Ronibasa Tobing

Tujuan Tuhan dalam pekerjaan saya (Part 3 – 19 August)Banyak orang di Indonesia dan Singapura yang mempunyai pekerjaan t...
19/08/2019

Tujuan Tuhan dalam pekerjaan saya (Part 3 – 19 August)
Banyak orang di Indonesia dan Singapura yang mempunyai pekerjaan tetap, mencoba menambah penghasilan mereka dengan bekerja sebagai pengemudi taksi atau ojek online. Terkadang saya berpikir apakah hidup saya sebagai orang percaya mirip seperti mereka? Hari Senin sampai Jumat saya bekerja sebagai pegawai. Hari Sabtu dan Minggu saya aktif di “perkerjaan sampingan”, mengikuti berbagai kegiatan gereja. Atau mungkin sebagai orang Kristen, aktivitas gereja itu seharusnya menjadi “pekerjaan utama” saya, dan pekerjaan saya di kantor itu harus saya anggap sebagai “pekerjaan sampingan”?
Minggu lalu, kita diingatkan akan Amanat Agung Yesus untuk menjadikan semua bangsa menjadi muridNya dan mengajarkan mereka melakukan “segala sesuatu yang telah Yesus ajarkan kepada kita (Mat. 28:18-20).Yesus mengajarkan banyak hal tentang sikap dalam bekerja! Sikap Yesus terhadap pekerjaan kita adalah kunci mengapa pekerjaan kita penting dan yang akan mengubah pemikiran kita bahwa iman dan pekerjaan itu harus dipisahkan. Mungkin tempat kerja kita adalah satu-satunya tempat di mana teman sekerja kita bisa mengenal Tuhan Yesus dan iman kita. Tapi apakah itu berarti kita harus memprioritaskan penginjilan di tempat kerja kita? Jika memang demikian, apakah pekerjaan yang kita lakukan sekarang akan menjadi “pekerjaan sampingan” yang tidak terlalu penting? Mungkin kemudian kita menganggap pekerjaan kita hanyalah tempat untuk cari duit.
Alkitab mengatakan bahwa kalau kita bersikap seperti itu, kita tidak akan memuliakan Tuhan melalui sikap kita dalam bekerja. Sebagai orang percaya kita diingatkan agar “dengan rela menjalankan pelayanannya seperti orang-orang yang melayani Tuhan dan bukan manusia”, karena kita “akan menerima balasannya dari Tuhan" (Ef. 6:7-8). Ayat ini mengingatkan kita bahwa Tuhan mengharapkan sebuah pekerjaan yang dikerjakan dengan sangat baik, karena dari situlah kesaksian akan muncul di depan teman2 sekerja kita. Kombinasi pekerjaan yang seperti itulah yang Yesus inginkan. KeKristenan akan bekerja saat kita menjadi teladan yang hidup.Tetap semagat, giat bekerja, dan Tuhan memberkati!

Ronibasa Tobing

Address

2 Tah Ching Road
Singapore
618744

Telephone

+6590718829

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when GKPI Singapore posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category