Masjidil Haram Makkah Al-Mukarromah

Masjidil Haram Makkah Al-Mukarromah Masjidil Haram Makkah Mukarramah

KHUTBAH JUM'ATHARI JUM'AT WAGE, 24 OKTOBER 2025 M / 2 JUMADIL AWWAL 1447 HTEMA KHUTBAH: "HAKIKAT ISTIQAMAH MENURUT SANAD...
24/10/2025

KHUTBAH JUM'AT

HARI JUM'AT WAGE, 24 OKTOBER 2025 M / 2 JUMADIL AWWAL 1447 H

TEMA KHUTBAH: "HAKIKAT ISTIQAMAH MENURUT SANAD ULAMA' AHLUSSUNAH WAL JAMA'AH"

Oleh: Al-Habib Prof.Dr.KH.R. Shohibul Faroji Al-Azhmatkhan Al-Husaini. SAg.,BN.,MA.,MN.,DN.,PhD.

KHUTBAH I

اَلْحَمْدُ للّٰهِ الْمَوْجُوْدِ أَزَلًا وَأَبَدًا بِلَا مَكَانٍ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ الْأَتَمَّانِ الْأَكْمَلَانِ، عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ، أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ الْعَلِيِّ الْقَدِيْرِ الْقَائِلِ فِيْ مُحْكَمِ كِتَابِهِ: إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ (فصلت: ٣٠)

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Dari atas mimbar khatib berwasiat kepada kita semua, terutama kepada diri khatib pribadi, untuk senantiasa berusaha meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan cara melaksanakan semua kewajiban dan menjauhkan diri dari seluruh yang diharamkan.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Definisi Istiqamah Menurut Al-Qur’an

Kata Istiqamah berasal dari akar kata:

قَامَ – يَقُوۡمُ – اِسۡتَقَامَ – اِسۡتِقَامَةً

Artinya: tegak, lurus, konsisten, tetap di atas sesuatu tanpa menyimpang.

Dalam Kitab Lisan al-‘Arab, Ibn Manzhur (juz 12, hlm. 503), Definisi Istiqamah secara umum adalah:

الاسْتِقَامَةُ: الاعْتِدَالُ، وَلُزُومُ الطَّرِيقِ الْمُسْتَقِيمِ

“Istiqamah adalah keadaan lurus dan tetap berada di jalan yang lurus.”

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Perintah Istiqamah ditegaskan oleh Allah di dalam Al-Qur’an dalam beberapa ayat:

1. Surah Fushshilat [41]: 30

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

"Sesungguhnya orang-orang yang berkata tuhan kami adalah Allah, kemudian mereka Istiqamah (komitmen) terhadap wahyu-wahyu Allah (Al-Qur'an) yang di turunkan kepada Malaikat Jibril, hendaknya mereka jangan takut, jangan sedih, dan berikan kabar gembira dengan surga yang dijanjikan Allah kepada mereka".

2. Surah Asy-Syura [42]: 15

فَلِذَٰلِكَ فَادْعُ وَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ

“Beristiqamahlah sebagaimana engkau diperintahkan, maksudnya tetaplah pada dakwah kepada Allah sebagaimana engkau berada saat ini.”

3. Surah al-Jinn [72]: 16

وَأَنْ لَوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًا

“Seandainya mereka istiqamah di atas jalan itu, maksudnya agama Islam dan ketaatan kepada Allah.”

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Dari beberapa Hadits, Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam juga mendefinisikan bahwa Istiomah adalah:

Hadits 1

عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الثَّقَفِيِّ قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، قُلْ لِي فِي الْإِسْلَامِ قَوْلًا لَا أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا بَعْدَكَ. قَالَ: قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ، ثُمَّ اسْتَقِمْ.

“Katakanlah: Aku beriman kepada Allah, kemudian beristiqāmahlah.” (HR. Muslim, no. 38)

Hadits 2

إِسْتَقِيمُوا وَلَنْ تُحْصُوا

“Beristiqamahlah kalian, namun kalian tidak akan mampu (sempurna melakukannya).” (HR. Ahmad, no. 22176; Ibnu Majah, no. 3972)

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Para Sahabat Nabi Muhammad Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam juga menjelaskan tentang Istiqamah.

1. Abu Bakr Ash-Shiddiq Radhiyallahu Anhu meriwayatkab dalam Tafsir Al-Qur'an Al-‘Azhim (juz 7, hlm. 166), karya Ibnu Katsir:

قَالَ أَبُو بَكْرٍ: الِاسْتِقَامَةُ أَنْ لَا تُشْرِكَ بِاللَّهِ شَيْئًا

Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu Anhu berkata: “Istiqamah adalah tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apa pun.”

Dalam Kitab Ma‘alim At-Tanzil (juz 7, hlm. 123), karya Al-Baghawi, Diriwayatkan bahwa Umar bin Khattab Radhiyallahu Anhu berkata tentang Istiqamah:

الِاسْتِقَامَةُ أَنْ تَسْتَقِيمَ عَلَى الْأَمْرِ وَالنَّهْيِ وَلَا تَرُوغَ رَوْغَانَ الثَّعْلَبِ

“Istiqamah ialah tetap teguh di atas perintah dan larangan Allah tanpa berpaling seperti rubah.”

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Para Tabi‘in menjelaskan tentang pentingnya Istiqamah

1. Al-Ḥasan Al-Bashri (w. 110 H), menjelaskan Istiqamah Diriwayatkan oleh Ibn Abi Hatim dalam Tafsir Ibn Abi Hatim (juz 10, hlm. 3302):

ِإِسْتَقَامُوا عَلَى طَاعَةِ اللَّهِ، فَلَمْ يَرْغَبُوا عَنْهَا إِلَى غَيْرِهِ

“Mereka istiqamah di atas ketaatan kepada Allah, tidak berpaling darinya kepada selain-Nya.”

2. Mujahid (w. 104 H), menjelaskan tentang Istiqamah Diriwayatkan oleh Ath-Thabari dalam Jami‘ Al-Bayan (juz 24, hlm. 73):

إِسْتَقَامُوا عَلَى طَاعَةِ اللَّهِ حَتَّى مَاتُوا

“Mereka beristiqamah di atas ketaatan kepada Allah hingga mereka wafat.”

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Para Tabi‘ut Tabi‘in, seperti Sufyan Ats-Tsauri (w. 161 H) juga menjelaskan tentang Istiqamah, Diriwayatkan oleh Abu Nu‘aim dalam Ḥilyat Al-Awliya (juz 6, hlm. 390):

الِاسْتِقَامَةُ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ كَرَامَةٍ

“Istiqamah lebih baik daripada seribu karamah.”

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Para Ulama' terkemuka Ahlussunah Wal Jamaah juga menjelaskan pentingnya Istiqamah.

1. Imam Al-Qusyairi (w. 465 H) dalam Kitab Ar-Risalah Al-Qusyairiyyah, hlm. 86:

الِاسْتِقَامَةُ مَقَامٌ عَظِيمٌ، بِهَا تَكْمُلُ أَحْوَالُ الْعَبِيدِ وَتَتِمُّ أُمُورُهُمْ

“Istiqamah adalah maqam yang agung; dengan istiqamah keadaan para hamba menjadi sempurna dan urusan mereka terselesaikan.”

2. Imam Al-Ghazali (w. 505 H) dalam Kitab Ihya’ ‘Ulumuddin (juz 4, hlm. 424):

الِاسْتِقَامَةُ أَنْ يَكُونَ الْبَاطِنُ كَالظَّاهِرِ فِي الِالْتِزَامِ بِالطَّاعَةِ

“Istiqamah ialah kesesuaian antara batin dan lahir dalam komitmen ketaatan kepada Allah.”

3. Imam An-Nawawi (w. 676 H) dalam Kitab Syarḥ Shahih Muslim (juz 2, hlm. 98):

الِاسْتِقَامَةُ هِيَ الِاعْتِدَالُ فِي الطَّاعَةِ عَلَى دِينِ اللَّهِ

“Istiqamah adalah keseimbangan dan keteguhan dalam ketaatan di atas agama Allah.”

4. Ibnu ‘Atha’illah As-Sakandari (w. 709 H) dalam Kitab Al-Ḥikam Al-‘Atha’iyyah, hikmah no. 20:

كُنْ رَجُلَ الِاسْتِقَامَةِ، وَلَا تَكُنْ رَجُلَ الْكَرَامَةِ، فَإِنَّ نَفْسَكَ مُتَحَرِّكَةٌ فِي طَلَبِ الْكَرَامَةِ وَرَبُّكَ يَطْلُبُ مِنْكَ الِاسْتِقَامَةَ

“Jadilah orang yang beristiqamah, bukan pemburu karamah; sebab nafsumu mencari karamah, sementara Tuhanmu menuntut istiqamah darimu.”

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Istiqamah adalah salah satu tonggak yang sangat penting bagi sebuah bangsa atau umat agar bisa berjaya, menempati posisi yang mulia dan memimpin lajunya peradaban dunia. Suatu umat atau sebuah bangsa yang kehilangan permata istiqamah ini akan kehilangan arah dan mudah dikalahkan oleh musuh-musuhnya. Karena dengan hilangnya istiqamah, moral akan rusak, perbuatan keji dan hina akan menyebar, kerusakan akan merajalela, kekacauan akan merata dan umat akan dihantui oleh rasa hasud, dengki dan permusuhan. Sebaliknya istiqamah akan memberikan buah yang manis di tengah-tengah umat yang berpegang teguh dengannya. Seorang warga atau individu yang istiqamah akan hidup tenang, damai, taat dan tunduk kepada Allah, tidak menyakiti orang lain, bersabar ketika disakiti orang lain, selalu berperan serta dalam melakukan perbaikan-perbaikan di tengah masyarakat dan membimbing orang yang tersesat ke jalan yang benar.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Jadi istiqamah adalah suatu keniscayaan bagi setiap individu dari sebuah umat atau bangsa, lebih-lebih para pemimpin. Pemimpin dalam skala besar ataupun kecil. Pemimpin dalam lingkup yang luas ataupun unit yang paling kecil. Mulai dari pemimpin suatu negara, pemimpin daerah, pemimpin perusahaan, sampai kepala rumah tangga.

Imam Rifa’i pernah menyatakan:

اِسْتَقِمْ بِنَفْسِكَ يَسْتَقِمْ بِهَا غَيْرُكَ، كَيْفَ يَكُوْنُ الظِّلُّ مُسْتَقِيْمًا وَالْعُوْدُ أَعْوَجُ

“Istiqamahkan dirimu maka orang lain akan menjadi istiqamah karenamu, bagaimana mungkin bayangan sebuah benda akan lurus jika bendanya bengkok?”

Oleh karenanya sebuah komunitas, perkumpulan atau institusi apa pun yang berharap baik dan merindukan kesuksesan dan kejayaan haruslah dimulai dari istiqamah pemimpinnya. Jika pemimpin dan yang dipimpin istiqamah, guru dan murid istiqamah, suami dan istri istiqamah, direktur dan karyawan istiqamah, pejabat dan rakyat istiqamah dan seluruh lapisan masyarakat di semua bidang dan lini senantiasa istiqamah, maka kebaikan dan kesalehan akan merata di tengah masyarakat kita.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Marilah kita selalu istiqamah di jalan Allah meski zaman berubah, walaupun tahun telah berganti. Kita manfaatkan masa-masa hidup yang sementara ini untuk taat kepada Allah. Kehidupan kita di dunia ini adalah nikmat yang harus disyukuri dengan berupaya meraih kebaikan dunia dan akhirat. Kita diberi amanah berupa nikmat waktu, agar kita beramal tanpa ditunda-tunda lagi, tanpa kebingungan dan kehilangan arah. Hari-hari kita hidup di dunia, itulah umur kita. Orang yang tidak memanfaatkan umurnya maka umur itu yang akan melindasnya tanpa ia bisa meraih apa pun dari kehidupan yang fana ini. Al-Hasan al-Bashri pernah mengatakan:

ابْنَ آدَمَ، إِنَّمَا أَنْتَ أَيَّامٌ، كُلَّمَا ذَهَبَ يَوْمٌ، ذَهَبَ بَعْضُكَ

“Wahai manusia, engkau tidak lain adalah hari-hari yang terus berjalan, setiap lewat suatu hari maka sebagian dari dirimu telah hilang dan lenyap.”

Bahkan al-Khalil bin Ahmad al-Farahidi sangat menyayangkan waktu yang berlalu begitu saja hanya untuk makan. Ia mengatakan:

“Waktu yang sangat aku sayangkan pergi begitu saja adalah saat aku makan.”

Kita mungkin tidak bisa mencapai tingkatan beliau. Tapi setidaknya apa yang beliau sampaikan menjadi cambuk bagi kita untuk selalu memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Marilah kita terus istiqamah. Kita rawat dan jaga keimanan kita dari hal-hal yang merusak dan memutuskannya. Kita konsisten dalam taat kepada Allah. Ketaatan kepada Allah adalah cahaya di alam kubur, penyelamat di atas jembatan shirath di hari kemudian dan keberuntungan di hari kebangkitan.

Marilah kita berdoa di hari yang penuh barakah ini. Mudah-mudahan kita dianugerahi kemampuan oleh Allah untuk istiqamah, melakukan semua jenis kebaikan dan menjauhi segenap dosa dan kemaksiatan di sepanjang kehidupan. Sehingga kita menjadi insan-insan yang saleh dan layak menjadi pilar-pilar masyarakat madani yang kita cita-citakan. Marilah kita berdoa dengan doa Imam al-Hasan al-Bashri:

اَللّٰهُـمَّ أَنْتَ رَبُّنَا فَارْزُقْنَا الْاسْتِقَامَةَ

“Ya Allah, Engkau adalah Tuhan kami, maka karuniakanlah kepada kami istiqamah di jalan-Mu.”

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Demikian khutbah singkat pada siang hari yang penuh keberkahan ini. Semoga bermanfaat dan membawa barakah bagi kita semua. Amin.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHUTBAH II

اَلْحَمْدُ للّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُـمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُـمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اَللّٰهُـمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عِبَادَ اللّٰهِ، إنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ

KHUTBAH JUM'ATHARI JUM'AT KLIWON, 10 OKTOBER 2025 M / 18 RABI'UL AKHIR 1447 HTEMA KHUTBAH: "HAKIKAT IKHLAS PERSPEKTIF AL...
10/10/2025

KHUTBAH JUM'AT

HARI JUM'AT KLIWON, 10 OKTOBER 2025 M / 18 RABI'UL AKHIR 1447 H

TEMA KHUTBAH: "HAKIKAT IKHLAS PERSPEKTIF AL-QUR'AN, AL-HADITS DAN NASEHAT ULAMA'"

Oleh: Al-Imam An-Naqib Al-Habib Prof.Dr.KH.R. Shohibul Faroji Al-Azhmatkhan Al-Husaini. SAg.,BN.,MA.,MN.,DN.,PhD.

اَلْحَمْدُ للّٰه، اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ نَبِيَّهُ مُحَمَّدًا صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّذِيْ أَنْعَمَ عَلَيْنَا بِأَنْوَاعِ امْتِنَانِهِ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ اِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا ﷺ الَّذِيْ جَعَلَهُ اللّٰهُ خَيْرَ خَلْقِهِ. اَللّٰهُـمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ﷺ اَشْرَفِ عِبَادِهِ. أَما بعد: فَيَا عِبَادَ الِلّٰهِ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ، بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Ma'syiral Muslimin Rahimakumullah

Saya berpesan kepada pribadi saya sendiri, juga kepada para hadirin sekalian, marilah kita terus berusaha meningkatkan iman, dan taqwa kita kepada Allah dengan menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya.

Ma'syiral Muslimin Rahimakumullah

Dalam meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Allah, kita wajib melakukan ibadah dengan ikhlas, setulus hati. Hakikat Ikhlas adalah mempersembahkan semua gerak tubuh kita sepanjang hidup hanya karena Allah subhânau wa ta’âlâ. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Artinya: “Dan saya tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS Adz-Dzâriyât: 56)

Pengertian ibadah bukan hanya shalat dan membaca Al-Quran saja. Namun sekolah, belajar di pesantren, bekerja mencari nafkah untuk keluarga, membantu orang tua, berbaik budi kepada teman, makan, minum dan sejenisnya bisa juga bernilai ibadah tergantung niat kita. Semua itu merupakan bagian dari ibadah, persisnya ibadah ghairu mahdlah.

Ibadah baik mahdlah maupun ghairu mahdlah, masing-masing membutuhkan niat yang ikhlas, murni karena Allah. Jika tidak mampu ikhlas secara penuh, seseorang hanya akan diberi pahala dengan presentase sebesar mana ikhlasnya.

Jika persentase ikhlas seseorang dalam hati hanya sebesar 40 persen, selebihnya dia berniat bukan karena Allah—untuk tujuan supaya mendapatkan materi, misalnya—niscaya ia hanya akan mendapatkan balasan dari 40 persen niatnya tersebut. Artinya kadar balasan keikhlasan seseorang tergantung pada persentase ikhlasnya dalam hati. Sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih Bukhari yang pertama kali disebut, riwayat dari Sayyidina Umar bin Khattab radliyallâhu anh:

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

Artinya: “Sesungguhnya amal-amal itu tergantung dengan niatnya. Dan setiap orang tergantung atas apa yang ia niatkan.”

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Abdussalam Ash-Shafûriy dalam kitabnya Nuzhatul Majâlis mengisahkan nasehat Asy-Syaikh Ma’ruf Al-Karkhi sebagai berikut:

وَقَالَ مَعْرُوفْ الْكَرْخِي مَنْ عَمِلَ لِلثَّوَابِ فَهُوَ مِنَ التُّجَّارِ

Artinya: “Barangsiapa beramal supaya dapat pahala, maka ia bagaikan orang yang sedang berdagang.”

(Maksudnya, ia beramal dengan angan-angan mendapatkan keuntungan itu seolah-olah seperti sedang tukar-menukar, yakni amal dengan pahala)

وَمَنْ عَمِلَ خَوْفاً مِنَ النَّارِ فَهُوَ مِنَ الْعَبِيْدِ

“Barangsiapa melakukan sebuah tindakan karena takut neraka, ia termasuk hamba Allah.”

وَمَنْ عَمِلَ لِلّٰهِ فَهُوَ مِنَ الْأَحْرَارِ

“Dan barangsiapa yang bertindak karena Allah semata, ia merupakan orang yang merdeka.”

Orang yang ikhlas, diibaratkan dalam hadits qudsiy seperti tangan kanan memberikan sesuatu, namun tangan kirinya tidak sampai tahu. Maksudnya, amal-amal baik kita seharusnya kita sembunyikan serapat mungkin hingga kepada orang terdekat pun.

Uwais al-Qarni, salah satu orang shalih yang hidup pada zaman Nabi walaupun beliau tidak pernah bertemu secara fisik dengan Nabi mengatakan, “Orang yang mendoakan saudaranya atas tanpa sepengetahuan yang didoakan itu lebih baik daripada mengunjungi rumahnya, silaturahim, dan bertemu secara langsung.

Bagaimana bisa demikian?

Iya, karena orang yang bertemu secara langsung, mengunjungi secara langsung, terdapat kemungkinan unsur riya’ (pamer) menyelinap pada hati orang yang mendoakan. Namun jika mendoakan tanpa sepengetahuan saudara yang kita doakan, itu ibadah yang benar-benar ikhlas.

Ada orang di tengah keheningan malam, dalam kamar sendirian, menyebut nama-nama saudaranya kemudian mendoakan mereka. Inilah di antara contoh ikhlas yang betul-betul ikhlas.

Bahkan dalam hadits dikisahkan, orang yang mendoakan saudaranya seperti demikian, akan mendapatkan doa balik yang sama sebagaimana yang ia panjatkan, ia didoakan serupa dari malaikat. Malaikat mendoakan dengan kalimat وَلَكَ بِمِثْلٍ (kamu juga akan mendapatkan sebagaimana yang kamu panjatkan)

Ma'syiral Muslimin Rahimakumullah

Ada sebuah kisah isrâîliyyat dalam kitab Ihya’ Ulumiddin. Imam Al-Ghazali bercerita, terdapat satu kaum penyembah pohon. Salah seorang ahli ibadah yang mengetahui fenomena ini hendak menghancurkan tempat peribadatan penyembahan pohon tersebut.

Pada hari pertama saat hamba tersebut datang, iblis menghadang. “Sudahlah, kamu jangan potong ini pohon. Andai saja kamu potong, penyembah-penyembahnya akan bisa mencari tuhan sejenis. Percuma kamu potong. Sudahlah, kamu beribadah sendiri saja sana!” goda iblis pada ahli ibadah.

Mendapat penghadangan demikian, ahli ibadah ini marah. Ia kemudian menghantam tubuh iblis yang datang menjelma sebagai sosok orang tua. Iblis pingsan seketika.

Iblis tak patah arang. Iblis mencoba melanjutkan godaannya bisikannya di Hari Kedua.

“Begini saja, Kamu ini hamba yang melarat. Kamu beribadah saja sana kepada Allah, setiap malam kamu akan aku kasih uang dua dinar. Kamu ini bukan rasul. Kamu bukan utusan Tuhan. Biarkan rasul saja yang bertugas memotong pohon ini!” rayu Iblis.

Ahli ibadah terbujuk rayu. Ia terbuai dengan bujuk rayu Iblis. Ia membayangkan, bagaimana ini tidak solusi yang indah. Pohon akan ada yang memotong. Ia tetap bisa beribadah kepada Allah, Sedangkan kemelaratannya akan segera berakhir. Ia tinggalkan lokasi. Ia beribadah di malam harinya. Pagi harinya, ia temukan dua dinar secara tiba-tiba.

Ma'syiral Muslimin Rahimakumullah

Pada hari ketiga, iblis ternyata tidak menunaikan janjinya. Sekarang, iblis tidak lagi mengirim uang dua dinar. Atas tipuan ini, karena merasa kesal atas perilaku iblis yang berbohong, hamba yang ahli ibadah menjadi naik pitam. Darahnya mendidih. Ia kembali tergerak untuk meruntuhkan pohon yang disembah masyarakat sekitar yang baru saja ia urungkan kemarin hari.

Saat akan memotong, ia kembali dihalangi iblis. Kemarin lusa, pada hari pertama, saat terjadi duel, ia yang menang. Iblisnya jatuh pingsan. Kali ini, ia justru yang pingsan, iblis yang menang. Sebab apa? Ia keheranan. Setelah siuman dari pingsan, hamba ini bertanya kepada iblis. “Bagaimana saya yang kemarin menang, pada hari ini berubah menjadi kalah?” tanyanya.

Iblis menjelaskan, “Iya, kalau kemarin kamu marah sebab niat hatimu murni, ikhlas karena Allah. Namun pada hari ini kamu marah bukan karena Allah. Hari ini kamu marah sebab tadi malam tidak aku kasih dua dinar. Marahmu bukan karena Allah. Oleh karena itu, aku bisa mengalahkanmu.”

Ma'syiral Muslimin Rahimakumullah

Dalam sebuah hadits dikisahkan, ada orang yang dikasih kekayaan oleh Allah subhânahu wa ta’âlâ. Pada Hari Kiamat, ia ditanya oleh Allah, “Apa yang kamu lakukan atas semua kenikmatan yang telah aku berikan?”

“Ya Tuhan, aku telah menyedekahkan harta-hartaku sepanjang siang-malam.” Jawab hamba ini.

Kemudian Allah menjawab balik “kamu berbohong.”

Tidak hanya Allah saja yang menjawab, malaikatpun mengatakan demikian. “Kamu berbohong. Kamu melakukan hal demikian hanya supaya akan kebanjiran komentar masyarakat ‘oh, si Fulan ini orang yang tajir, dermawan, baik hati, s**a menolong’.”

Akhirnya, amal Fulan tersebut menjadi hangus, tidak berbuah sama sekali.

Ma'syiral Muslimin Rahimakumullah

Kata ikhlas dalam Al-Qur’an di antaranya disebut untuk menggambarkan susu yang murni. Susu keluar dari perut hewan yang mana dalam perut hewan terdapat darah dan kotoran, namun susu sama sekali tidak tercampur kedua kotor tersebut. Susu keluar murni sebagai susu.

Kita di dunia ini, atas kekotoran-kekotoran yang ada, kita perlu memurnikan segala perilaku kita, kita persembahkan kepada Allah subhânahu wa ta’âlâ.

وَإِنَّ لَكُمْ فِي الْأَنْعَامِ لَعِبْرَةً نُسْقِيكُمْ مِمَّا فِي بُطُونِهِ مِنْ بَيْنِ فَرْثٍ وَدَمٍ لَبَنًا خَالِصًا سَائِغًا لِلشَّارِبِينَ

Artinya: “Dan sungguh, pada hewan ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari apa yang ada dalam perutnya (berupa) susu murni antara kotoran kotoran dan darah, yang mudah ditelan bagi orang yang meminumnya.” (QS Al An’am: 66)

Al-Imam Al-Husain bin Ali Radhiyallahu Anhu berkata:

اَلنَّاسُ كُلُّهُمْ هَلْكَى اِلاَّ الْعَالِمُوْنَ، وَالْعَالِمُوْنَ كُلُّهُمْ هَلْكَى اِلاَّ الْعَامِلُوْنَ، وَالْعَامِلُوْنَ كُلُّهُمْ هَلْكَى اِلَّا الْمُخْلِصُوْنَ، وَالْمُخْلِصُوْنَ فِىْ خَطَرٍ عَظِيْمٍ.

Artinya: “Semua manusia akan binasa kecuali orang yang berilmu. Semua orang berilmu akan binasa kecuali orang yang mengamalkan ilmunya. Orang yang mengamalkan ilmunya akan binasa kecuali orang yang ikhlas. Mereka yang ikhlas masih dalam kekhawatiran yang agung.”

Ma'syiral Muslimin Rahimakumullah

Dengan demikian, perlu kita tegaskan di sini, bahwa Hakikat Ikhlas adalah:

اَلْإِخْلاَصُ هُوَ تَجْرِيْدُ قَصْدِ التَّقَرُّبِ اِلَى الِلّٰهِ تَعَالَى عَنْ جَمِيْعِ الشَّوَاهِبِ

Artinya: Ikhlas adalah memurnikan tujuan taqarrub kepada Allah ta’âlâ dari segala hal yang mencampurinya.

Oleh karena itu, ikhlas menduduki posisi kunci dalam semua kegiatan kita.

Mari kita selalu berusaha dan berdoa kepada Allah, semoga kita dipermudah oleh Allah dalam beribadah dengan Cahaya Ikhlas lillâhi ta’âlâ.

بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ العَظِيْمِ، وَجَعَلَنِي وَإِيَّاكُمْ بِماَ فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. إِنَّهُ هُوَ الْبَرُّ التَّوَّابُ الرَّؤُوْفُ الرَّحِيْمِ. أعُوْذُ بِالِلّٰهِ مِنَ الشيطن الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، هُوَ الْحَيُّ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ، الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِيْنَ

*KHUTBAH II*

الحمد لِلّٰهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللّٰهُ وَاللّٰهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اَللّٰهُـمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللّٰهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُـمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللّٰهُـمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اَللّٰهُـمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اَللّٰهُـمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَ الِلّٰهِ ! إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللّٰهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ الِلّٰهِ أَكْبَرْ

Sebuah manuskrip dalam bentuk lukisan Kakbah, yang dilukis oleh As-Sulthan Asy-Sayyid Mir Mahbub Ali Khan bin Mir Muhamm...
29/07/2025

Sebuah manuskrip dalam bentuk lukisan Kakbah, yang dilukis oleh As-Sulthan Asy-Sayyid Mir Mahbub Ali Khan bin Mir Muhammad Quthbuddin Al-Azhmatkhan Al-Husaini, pada tahun 1870 M, Pendiri Asyraf Internasional, di Hyderabad India, melukis Tentang Ka'bah di Zaman Nabi Muhammad Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam masih hidup yaitu tahun 570-632 M, dan lukisan ini telah disimpan di Kerajaan Saudi Arabia sebagai Lukisan yang diakui oleh Kerajaan. Berdasarkan Literatur Kuno yang menerangkan tentang Ka'bah.

BENDA-BENDA BERSEJARAH YANG DI SIMPAN DI DALAM KA'BAHOleh: Al-Imam An-Naqib Al-Mufassir Al-Muhaddits Al-Hafizh Al-Mufti ...
26/07/2025

BENDA-BENDA BERSEJARAH YANG DI SIMPAN DI DALAM KA'BAH

Oleh: Al-Imam An-Naqib Al-Mufassir Al-Muhaddits Al-Hafizh Al-Mufti Asy-Syaikh Al-Akbar Al-Mursyid Ruhul Islam As-Sayyid Al-Habib Prof.Dr.KH.R. Shohibul Faroji Al-Azhmatkhan Al-Husaini.SAg.,BN.,MA.,MN.,PhD.

Benda-benda yang disimpan di dalam Ka'bah antara lain:
1. KUNCI KA'BAH: Kunci ini memiliki makna mendalam dalam tradisi Islam dan dipercayakan kepada keluarga Shaibi untuk membuka dan menutup pintu Ka'bah.
2. KOTAK MARMER: Kotak ini digunakan untuk menyimpan minyak dan wewangian yang digunakan untuk membersihkan bagian dalam Ka'bah.
3. PINTU EMAS DAN PERAK: Pintu kecil di dalam Ka'bah yang dilapisi dengan emas dan perak, menunjukkan detail arsitektur Ka'bah yang penuh dengan nilai seni dan religius.
4. TEMPAT SHOLAT NABI MUHAMMD SAW: Area khusus di dalam Ka'bah yang dipercaya sebagai tempat sholat Nabi Muhammad SAW, memiliki pola unik menyerupai sajadah yang terpahat di lantai Ka'bah.
5. AL-MULTAZAM: Area di Ka'bah yang terletak di antara pintu dan Hajar Aswad, dianggap sebagai lokasi yang mustajab untuk berdoa.
6. HIASAN DAN ARTEFAK: Bagian dalam Ka'bah dihiasi dengan berbagai artefak yang diberikan oleh raja, sultan, dan penguasa pada masa lalu, seperti lampu gantung yang terbuat dari logam mulia, emas, berlian.
7. PILAR-PILAR: Tiga pilar yang menopang atap bangunan Ka'bah, terbuat dari kayu berkualitas tinggi yang telah berusia ribuan tahun.
8. KISWAH DAN INTERIOR: Kain hitam yang menutupi Ka'bah, bagian dalamnya dihiasi dengan sulaman ayat-ayat Al-Qur’an yang dirancang dengan sangat teliti.
9. AL-QUR'AN: Terdapat kotak berisi Al-Qur'an di dalam Ka'bah, seperti yang disebutkan dalam catatan Ibnu Jubair.
10. PAPAN BERTULISKAN NAMA-NAMA: Papan yang bertuliskan nama-nama yang melakukan pembangunan Ka'bah, seperti yang disebutkan dalam catatan Ibnu Bathuthah.

REFERENSI:
1. Kitab Al-Asy-ya' Al-Hammah Al-Tsaminah Al-Makhzunah Al-Mahfuzhah Fi Al-Ka'bah (adalah sebuah kitab yang membahas tentang benda-benda penting dan berharga yang disimpan dan dipelihara di dalam Ka'bah), karya Al-Habib Prof.Dr.KH.R. Shohibul Faroji Al-Azhmatkhan Al-Husaini.
2. Akbar al-Ziyarat karya Al-Azraqi (sejarahwan abad ke-9 M yang mendokumentasikan isi dalam Ka'bah).
3. Rihlah Ibnu Jubair karya Ibnu Jubair (catatan perjalanan ke Mekkah yang mendeskripsikan isi Ka'bah pada abad ke-12 M).
4. Rihlah Ibnu Batutah karya Ibnu Batutah (catatan perjalanan ke Mekkah yang mendeskripsikan isi Ka'bah pada abad ke-14 M).
5. Tafsir al-Quran al-'Adzim karya Ibnu Katsir (menjelaskan ayat-ayat Al-Qur'an yang terkait dengan Ka'bah).
6. Al-Jami' li Ahkam al-Quran karya Al-Qurthubi (menjelaskan hukum-hukum yang terkait dengan Ka'bah).
7. Tarikh al-Umam wa al-Muluk karya At-Thabari (sejarah Islam yang mencakup pembangunan dan renovasi Ka'bah).
8. Al-Bidayah wa al-Nihayah karya Ibnu Katsir (sejarah Islam yang mencakup peristiwa-peristiwa penting di Ka'bah).
9. Kitab al-Manazil karya Nashr Khasr Al-Khurrasani (mendokumentasikan bangunan dan struktur Ka'bah).
10. Kitab al-Masjid al-Haram karya Al-Fasi (mendokumentasikan sejarah dan deskripsi Masjid al-Haram).
11. Siyar A'lam al-Nubala karya Adz-Dzahabi (kumpulan biografi tokoh-tokoh Islam yang terkait dengan Ka'bah).
12. Al-Mawzu'at karya Ibnu al-Jauzi (kumpulan hadits dan atsar yang terkait dengan Ka'bah).
13. Al-Itqan fi 'Ulum al-Quran karya As-Suyuthi (ilmu-ilmu Al-Qur'an yang terkait dengan Ka'bah).
14. Tarikh Mekkah karya Al-Azraqi (sejarah Mekkah yang mencakup pembangunan dan renovasi Ka'bah).
15. Al-Masjid al-Haram wa al-Ka'bah karya Abdul Malik al-Jazairi (deskripsi dan sejarah Masjid al-Haram dan Ka'bah).
16. Sejarah Ka'bah dan Masjid al-Haram karya Muhammad Sa'id Miftah (sejarah dan deskripsi Ka'bah dan Masjid al-Haram).

BIOGRAFI SYAIKH ABDUL WAHAB BIN ZAIN AL-ABIDIN AL-SHAIBI, PEMEGANG KUNCI KA'BAH KE-110 (MULAI TAHUN 2024 M)Oleh: Al-Imam...
26/07/2025

BIOGRAFI SYAIKH ABDUL WAHAB BIN ZAIN AL-ABIDIN AL-SHAIBI, PEMEGANG KUNCI KA'BAH KE-110 (MULAI TAHUN 2024 M)

Oleh: Al-Imam An-Naqib Al-Mufassir Al-Muhaddits Al-Hafizh Al-Mufti Asy-Syaikh Al-Akbar Al-Mursyid Ruhul Islam As-Sayyid Al-Habib Prof.Dr.KH.R. Shohibul Faroji Al-Azhmatkhan Al-Husaini.SAg.,BN.,MA.,MN.,PhD.

Syekh Abdul Wahab bin Zainal Abidin Assyaibi Dilantik sebagai Pewaris ke-110 Kunci Ka'bah

Syekh Abdul Wahab bin Zainal Abidin Assyaibi, yang berusia 78 tahun, resmi dilantik sebagai penjaga baru Ka'bah dan pewaris ke-110 kunci Ka'bah, menggantikan Syekh Shalih Zainal Abidin Al-Shaibi yang wafat pada 16 Zulhijjah 1445 H. Pelantikan berlangsung pada malam 18 Dzulhijjah 1445 H, dalam sebuah acara sakral dan penuh tradisi di Makkah.

Syekh Abdul Wahab berasal dari keluarga Bani As-Syaibah, keluarga yang secara turun-temurun dipercaya menjaga Ka'bah sejak masa Nabi Muhammad SAW. Ia adalah generasi ke-78 sejak peristiwa Fathu Makkah dan ke-110 sejak masa Qushay bin Kilab.

Tugas utama penjaga kunci Ka'bah meliputi membuka, menutup, membersihkan, mencuci, serta mengganti kain penutup Ka'bah (Kiswah). Tradisi ini bermula ketika Nabi Muhammad SAW menyerahkan kunci Ka'bah kepada Utsman bin Thalhah dengan pesan agar keturunannya menjaga Ka'bah selama-lamanya, kecuali jika dirampas oleh orang zalim.

Dalam pidatonya, Syekh Abdul Wahab menekankan pentingnya menjaga kesucian Ka'bah, persatuan umat Islam, dan meneruskan tradisi leluhurnya dengan penuh tanggung jawab.

REFERENSI:

Sumber Informasi dari Kerajaan Saudi Arabia, Tahun 2024

Address

Makkah Al-Mukarromah
Mecca

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Masjidil Haram Makkah Al-Mukarromah posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category