07/09/2026
Teks: Ulangan 27:11-14.
Pada hari itu Musa memberi perintah kepada bangsa itu: "Sesudah kamu menyeberangi sungai Yordan, maka mereka inilah yang harus berdiri di gunung Gerizim untuk memberkati bangsa itu, yakni suku Simeon, Lewi, Yehuda, Isakhar, Yusuf dan Benyamin. Dan mereka inilah yang harus berdiri di gunung Ebal untuk mengutuki, yakni suku Ruben, Gad, Asyer, Zebulon, Dan serta Naftali. Maka haruslah orang-orang Lewi mulai bicara dan mengatakan kepada seluruh orang Israel dengan suara nyaring:
Tema: Kutukan-kutukan dari Gunung Ebal.
✝️Pada waktu hukum Taurat ditulis, untuk dilihat dan dibaca oleh semua orang, ganjaran² darinya harus diberitahukan. Dan untuk melengkapi khidmatnya upacara ikatan kovenan mereka dengan Allah, mereka harus menyatakan persetujuan mereka atas ganjaran² itu dengan penuh kesungguhan. Hal ini sudah diperintahkan untuk mereka lakukan sebelumnya (11:29-30), dan karenanya ketetapan itu di sini dimulai dengan agak tiba-tiba (ay. 12). Sepertinya di Kanaan, yaitu bagian yang selanjutnya jatuh menjadi milik pusaka Efraim (suku Yosua), ada dua gunung yang letaknya berdekatan, dengan sebuah lembah di antaranya, yang satu disebut Gerizim dan yang lain Ebal. Pada sisi kedua gunung ini, yang saling berhadapan, semua suku harus dipanggil untuk berbaris, enam suku di sisi yang satu dan enam suku lagi di sisi yang lain, sehingga di lembah itu, di kaki masing-masing gunung, mereka berkumpul bersama secara sangat berdekatan, begitu dekat sehingga para imam yang berdiri di antara mereka dapat didengar oleh orang-orang yang berada di sebelah mereka pada kedua sisi. Lalu ketika semua orang disuruh diam, dan memberi perhatian, salah satu dari para imam, atau mungkin lebih dari satu imam yang berjarak cukup jauh satu sama lain, menyerukan dengan suara lantang salah satu kutukan yang disebutkan selanjutnya di sini. Dan seluruh umat yang berdiri pada sisi dan kaki gunung Ebal berkata: Amin. Orang-orang yang berdiri lebih jauh melihat tanda dari orang-orang yang berdiri lebih dekat dan dapat mendengar seruan itu. Lalu berkat yang berlawanan dengan kutuk itu diserukan, “Diberkatilah orang yang tidak melakukan ini dan itu,” dan kemudian orang-orang yang berdiri pada sisi dan kaki gunung Gerizim berkata: Amin. Hal ini tidak bisa tidak pasti membuat mereka sangat tergerak dengan segala berkat dan kutukan, janji dan ancaman, dari hukum Taurat, dan tidak hanya membuat seluruh umat mengenal semuanya itu, tetapi juga mengajar mereka untuk menerapkannya pada diri mereka sendiri.
I. Menyangkut upacara ini, ada sesuatu yang harus dilaksanakan, secara umum, dan itu harus dilaksanakan hanya sekali dan tidak boleh diulangi, tetapi akan terus dibicarakan hingga kepada keturunan-keturunan yang akan datang.
1.Allah telah menetapkan suku-suku mana yang harus berdiri di atas gunung Gerizim dan suku-suku mana di gunung Ebal (ay. 12-13), untuk mencegah pertengkaran yang bisa saja timbul seandainya mereka dibiarkan mengaturnya sendiri. Enam suku yang ditunjuk untuk mengucapkan berkat adalah semuanya anak-anak dari perempuan merdeka, sebab kepada merekalah janji itu diberikan (Gal. 4:31). Lewi di sini ditempatkan di antara semua suku yang lain, untuk mengajar para hamba Tuhan agar mereka menerapkan pada diri mereka sendiri berkat dan kutuk yang mereka khotbahkan kepada orang lain, dan agar dengan iman mengucapkan amin juga untuk menyetujuinya.
2.Tentang suku-suku yang harus berkata amin untuk menyetujui berkat-berkat itu dikatakan, mereka berdiri untuk memberkati bangsa itu, tetapi tentang suku-suku yang lain dikatakan, mereka berdiri untuk mengutuki, tanpa menyebutkan bangsa itu, karena enggan menduga bahwa siapa saja dari bangsa ini, yang telah diambil Allah sebagai milik-Nya sendiri, akan tertimpa kutukan itu. Atau mungkin, cara pengungkapan yang berbeda itu menyiratkan bahwa hanya ada satu berkat yang harus diserukan secara umum atas bangsa Israel, sebagai bangsa yang berbahagia, dan bahwa keadaannya akan selalu demikian, jika mereka menurut. Dan untuk menyetujui berkat ini suku-suku yang ada di atas gunung Gerizim harus berkata: Amin. “Berbahagialah engkau, hai Israel, dan kiranya engkau selamanya demikian.” Tetapi kemudian kutukan-kutukan masuk sebagai pengecualian dari aturan umum, dan kita tahu bahwa exceptio firmat regulam – pengecualian membuktikan adanya aturan. Israel adalah suatu umat yang diberkati, tetapi, jika bahkan di antara mereka ada orang-orang tertentu yang berbuat hal-hal yang dilarang seperti yang disebutkan, hendaklah mereka tahu bahwa tidak ada bagian atau hak mereka dalam perkara ini, tetapi bahwa mereka berada di bawah kutuk. Hal ini menunjukkan betapa siapnya Allah untuk menganugerahkan berkat. Jika ada yang jatuh di bawah kutukan, itu salah mereka sendiri, mereka menimpakannya ke atas kepala mereka sendiri.
3.Kaum Lewi dan para imam, yaitu orang-orang dari mereka yang telah ditunjuk untuk keperluan itu, harus menyerukan segala kutukan dan juga berkat tersebut. Mereka ditahbiskan untuk memberkati (Ul. 10:8), dan para imam melakukannya setiap hari (Bil. 6:23). Tetapi mereka harus memisahkan antara yang berharga dan yang hina. Mereka tidak boleh memberikan berkat itu secara sembarangan, tetapi harus menyatakannya kepada orang-orang yang berhak mendapatkannya, supaya jangan sampai mereka yang tidak berhak atasnya berpikir bahwa mereka ikut berbagi di dalam berkat itu karena berada di dalam kerumunan umat. Perhatikanlah, hamba-hamba Tuhan harus memberitakan kengerian-kengerian hukum Taurat seperti juga penghiburan² Injil. Mereka tidak boleh hanya memikat umat untuk melakukan kewajiban mereka dengan janji-janji berkat, tetapi juga harus membuat umat ngeri dengan ancaman² kutukan, hingga umat mau melakukan kewajiban mereka.
4.Kutukan² itu dinyatakan di sini, tetapi berkat-berkatnya tidak. Sebab barangsiapa ada di bawah hukum Taurat berada di bawah kutukan, tetapi suatu kehormatan yang disediakan bagi Kristuslah untuk memberkati kita, dan dengan begitu melakukan bagi kita apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tak berdaya. Dalam khotbah Kristus di bukit, yang merupakan gunung Gerizim yang sesungguhnya, kita hanya mendapatkan berkat-berkat saja (Mat. 5:3, dst.).
5.Untuk tiap-tiap kutukan itu umat harus berkata: Amin. Mudah untuk memahami arti dari kata amin bagi berkat. Orang Yahudi memiliki suatu pepatah untuk mendorong orang mengucapkan amin bagi doa-doa yang bersifat umum, barangsiapa menjawab amin kepada orang yang memberkati, maka dia menjadi seperti orang yang memberkati. Tetapi bagaimana mereka dapat berkata amin untuk kutukan-kutukan itu?
(1) Jawaban amin itu adalah pengakuan iman mereka akan kebenaran dari kutukan-kutukan itu, bahwa kutukan-kutukan ini dan kutukan-kutukan serupa bukanlah hantu jadi-jadian untuk menakut-nakuti anak-anak dan orang bodoh, melainkan pernyataan yang sungguh-sungguh akan murka Allah atas segala kefasikan dan kelaliman manusia. Dan tidak satu iota pun dari kutukan-kutukan itu akan jatuh sia-sia ke tanah.
(2) Jawaban amin itu adalah pengakuan akan adilnya kutukan-kutukan ini. Ketika mereka berkata amin, mereka pada dasarnya berkata, bukan hanya, sudah pasti akan terjadi demikian, melainkan juga, memang adil bahwa demikianlah yang harus terjadi. Orang-orang yang melakukan hal-hal seperti itu pantas untuk jatuh dan terbaring di bawah kutuk.
(3) Jawaban amin itu merupakan laknat yang begitu kuat atas diri mereka sendiri hingga mengharuskan mereka untuk tidak berurusan dengan perbuatan² jahat yang atasnya kutukan itu di sini ditimpakan. “Kiranya murka Allah jatuh menimpa kami jika kami sampai berbuat hal-hal yang demikian.” Kita membaca tentang orang-orang yang bersumpah kutuk dan bagi kita hal itu merupakan bentuk biasa dari sumpah yang khidmat untuk hidup menurut hukum Allah (Neh. 10:29). Bahkan, orang Yahudi berkata (seperti yang dikutip oleh cendekiawan Uskup Patrick), “Seluruh umat, dengan mengucapkan amin ini, menjadi terikat bagi satu sama lain, bahwa mereka akan berpegang pada hukum-hukum Allah. Melalui ikatan ini setiap orang diwajibkan, sebisa mungkin, untuk mencegah sesamanya melanggar hukum-hukum ini, dan untuk menegur orang-orang yang telah melanggar, supaya jangan sampai mereka menanggung dosa dan kutuk untuk orang-orang itu.”
.KPR1:8.
* *