14/03/2026
Sepuluh malam pertama Ramadhan datang dengan cahaya,
Masjid bercahaya, saf penuh tanpa ruang yang tersisa.
Langkah kaki berpusu menuju rumah Allah,
Takbir bergema, doa beriringan bersama.
Anak kecil, orang tua, pemuda dan sahabat,
Semua hadir membawa harapan dan taubat.
Seolah-olah seluruh jiwa rindu pada Tuhan,
Meriah tarawih, hidup malam dengan iman.
Namun masa terus berjalan tanpa menoleh,
Ramadhan melangkah menuju malam yang lebih mulia.
Sepuluh malam terakhir menjelma penuh rahsia,
Malam yang dijanjikan lebih baik dari seribu bulan.
Tetapi anehnya, saf semakin jarang terisi,
Ruang yang dahulu penuh kini sunyi.
Takbir masih bergema, namun tidak seperti dulu,
Langkah kaki yang datang semakin berkurang satu persatu.
Kini, malam kian melabuhkan tirai,
Ke-sepuluh akhir menjelma.
Namun di manakah jejak langkahmu?
Hening menggantikan suara.
Di manakah kalian wahai sahabat?
Ke mana hilangnya semangat yang dahulu hebat?
Mengapa berhenti di pertengahan jalan,
Sedangkan kemenangan hampir di penghujung Ramadhan?
Bukankah di malam-malam inilah rahmat memuncak,
Ampunan Allah terbuka seluas langit dan bumi?
Bukankah di malam-malam inilah tersembunyi
Malam agung, Lailatul Qadar yang dinanti?
Wahai yang pernah memenuhi saf masjid dahulu,
Kembalilah sebelum Ramadhan pergi meninggalkan kita.
Jangan biarkan rumah Allah sunyi tanpa zikir,
Sedang pintu langit terbuka menanti hamba yang hadir.
Mari kita hidupkan kembali malam yang tersisa,
Dengan sujud, doa dan air mata.
Agar saat Ramadhan melabuhkan tirainya nanti,
Masjid tetap meriah⦠dan hati kita menang di sisi Ilahi.