09/03/2026
Di halaman madrasah yang sunyi hari ini, kami terasa kehilangan bayang yang dahulu memimpin langkah. Tanggal petang 17 Ramadhan yang hening, hela nafasmu terhenti, hilang sudah jerihmu memikul beban dakwah.
Engkau datang bukan membawa nama, tetapi membawa cahaya.
Dari tanganmu terbangun sebuah madrasah, dari lidahmu hidup ayat-ayat hikmah, dari sabarmu kami belajar berjalan menuju Tuhan.
Kini jasadmu kembali ke bumi,
namun didikanmu masih bernafas di setiap dinding, di setiap mushaf yang dibuka, di setiap doa yang kami angkat ke langit.
Wahai murabbi kami,
engkau pergi dalam diam, tetapi meninggalkan gema yang panjang.
Rindu ini tidak bersuara, namun berat terasa di dada.
Kami mencari sosokmu di serambi ilmu, pada tempat engkau dahulu duduk menasihati kami.
Jika hari ini madrasah ini masih berdiri,
itulah saksi bahawa hidupmu tidak sia-sia.
Engkau telah menanam benih yang akan terus tumbuh, walau tanganmu sudah tiada.
Tenanglah di sisi Tuhanmu, wahai guru yang kami cintai.
Kami mungkin kehilangan jasadmu,
tetapi tidak akan pernah kehilangan jalan yang engkau tunjukkan.
Doa kami akan sentiasa menyusulmuโ
hingga suatu hari nanti, rindu ini dipertemukan kembali di taman keabadian.
Innalillah, wainna ilaihi rojiun..
kredit Jannah