Vimuttivana 解脱林

Vimuttivana 解脱林 Letting go of greed, hatred and delusion

10/11/2024

巴利語經文(點右端»隱藏本欄)
漢譯增支部經文
增支部4集253經/言說經第四(莊春江譯)
  「比丘們!有這四種聖的言說,哪四種?在看見的上有看見的言說情況、在聽聞的上有聽聞的言說情況、在覺知的上有覺知的言說情況、在了知的上有了知的言說情況,比丘們!這是四種聖的言說。」[AN.8.68, DN.33, 312段]
  犯戒的怖畏品第五,其攝頌:
  「分裂、犯戒、學,以及躺臥與值得塔者,
   慧的增長、多助益,四種住立的言說。」
  第五個五十則完成。

Anguttara Nikàya
025. Apattibhayavaggo- Fear to do faults
4.253. Catuttavohàrasuttaṃ -Fourth on ways of expression.
Bhikkhus, these four ways of expression are noble. What four?
The seen he says I saw,
the heard he says I heard,
the experienced he says I experienced and
the cognized he says I cognized.
Bhikkhus, these four ways of expression are noble.

03/11/2024

巴利語經文(點右端»隱藏本欄)
漢譯增支部經文
增支部4集246經/臥經(莊春江譯)
  「比丘們!有這四種臥,哪四種?亡者的躺臥、受用欲者的躺臥、獅子的躺臥、如來的躺臥。比丘們!而哪一種是亡者的躺臥?比丘們!大多數亡者以朝上躺臥,比丘們!這被稱為亡者的躺臥。
  比丘們!而哪一種是受用欲者的躺臥?比丘們!大多數受用欲者以左脅躺臥,比丘們!這被稱為受用欲者的躺臥。
  比丘們!而哪一種是獅子的躺臥?比丘們!獸王獅子尾巴隨放入腿中間、[左]腳放在[右]腳上後,以右脅作躺臥。牠醒來、使上半身(前身)上升後環視下半身(後身),比丘們!如果獸王獅子看見任何身體[毛]的混亂或散亂,比丘們!獸王獅子以那個成為不悅意的。比丘們!但如果獸王獅子沒看見任何身體的混亂或散亂,比丘們!獸王獅子以那個成為悅意的。比丘們!這被稱為獅子的躺臥。
  比丘們!而哪一種是如來的躺臥?比丘們!這裡,如來就從離諸欲後,從離諸不善法後……(中略)進入後住於不苦不樂,平靜、念遍純淨的第四禪,比丘們!這被稱為如來的躺臥。比丘們!這是四種臥。」

Anguttara Nikàya
025. Apattibhayavaggo- Fear to do faults
4.246. Seyyāsuttaṃ- On lying.
Bhikkhus, there are four lying positions. What four?
The lying position of ghosts, of one enjoying sensuality, of a lion and the lying position of the Thus Gone One.
Bhikkhus, what is the lying position of ghosts?
For most of the time, ghosts lie upside on their back. To this, is said the lying position of ghosts.
Bhikkhus, what is the lying position of one with sensual lust?
For most of the time, those enjoying sexuality lie turning to their left flank. To this, is said the lying position of those enjoying sexuality .
Bhikkhus, what is the lying position of the lion?
Bhikkhus, the king of animals lies turning to his right flank, placing one foot over the other, fixing the tail between his thights. Thoughtfully he straightens the fore part of the body and looks at the hind part of the body and if he notices any parts of the body is disordered or displaced he is not happy. If he notices that no parts of the body is disordered or displaced he is happy. This is the lying position of the lion.
Bhikkhus, what is the lying position of the Thus Gone One?
Here, bhikkhus, the bhikkhu secluded from sensual desires, secluded fro unskilful qualities, enters and remains in the first absorption…second absorption. . . third absorption. . fourth absorption. This is called the lying position of the Thus Gone One.
Bhikkhus, these four are the lying positions.

05/10/2024
This  morning Hokkien  Dhamma talk is now available on YouTube
29/08/2024

This morning Hokkien Dhamma talk is now available on YouTube

31 Planes of Existence Part 1

31/07/2024

巴利語經文(點右端»隱藏本欄)
漢譯增支部經文
4.第四個五十則
(16) 1.根品
增支部4集151經/根經(莊春江譯)
  「比丘們!有這四根,那四個呢?信根、活力根、念根、定根,比丘們!這是四根。」

Anguttara Nikàya
016. Indriyavaggo
4.151. Indriyasuttaü - Faculties.
Bhikkhus, these four are faculties. What four?
The faculty of faith, of effort, of mindfulness and of concentration.
Bhikkhus, these four are faculties.

18/12/2022

Anguttara Nikaya
Book of the One
XII. Anàpattivagga
Not ecclesiastical offences

154.Bhikkhus, the bhikkhus who explain the wicked offences as not wicked offences, do it for the unpleasantness, detriment and bad luck of gods and men.
They accrue much demerit and exterminate the good teaching.

155.Bhikkhus, the bhikkhus who explain the not wicked offences as wicked offences, do it for the unpleasantness, detriment and bad luck of gods and men.
They accrue much demerit and exterminate the good teaching.

24/09/2022

本生經
第 三 篇
二六○ 使者本生譚
〔菩薩=王〕
序分 此本生譚,是佛在祇園精舍時,對某貪欲比丘所作之談話。此事於第九
319 篇之鴛鴦本生譚1(四三四)中將再記出。而佛告比丘:「比丘〔汝之貪欲〕非自
今日始,前生汝即為貪欲,且為貪欲,為劍斬頭。」於是佛為說過去之因緣。
主分 昔日,波羅奈國梵與王治國時,菩薩為其王子,達成年後,於得叉尸羅
修習種種技術。因父王之死,繼治王國。彼頗為美食者,為此彼具美食王之名,實
彼一餐費十萬〔兩〕,食如是奢侈之饗宴。又為食事而不食於家中,為使多人觀看自
己食事之狀,為使羨慕自己之福業,於城門造寶玉所鏤之亭,於餐食之時,遮以白
傘為裝飾,坐黃金造之玉座,王族之少女等隨侍,以十萬〔兩〕高價之美麗器皿,
攝取百味之飲食。
然,有某貪欲之男,見其餐食之狀,思欲食其菜餚,不能抑制其欲。彼思:「甚
善,予有善巧方便。」彼佩套褲,高舉雙手,大聲高呼:「大王!予乃使者,予乃使
者。」接近王前而來。當時於其國中,凡自稱「我為使者」者,任誰不得遮攔;因此多
人避於兩側,為彼開道。彼以快步前進,由王之食皿中抄取一塊食物,納入口中張
大其頰。爾時,持大刀者思欲「斬彼之頭」,拔劍欲發。王制之曰:「勿打。」王云:
「汝勿拘泥,盡可食之。」彼洗手而坐。食事終時,王與其男自己之飲物及檳榔子,
問曰:「予友!汝云『予為使者』,為誰之使者耶?」答云:「大王!予為愛慾之使者,
胃腑之使者。愛欲命我『汝往』,於是我為使者而來。」於是唱初之二偈:
一 遙遠來行乞 為此且成仇
我胃腑使者 君主勿怒我
二 青年無晝夜 來參此庵下
我胃腑使者 君主勿怒我
王聞其語云:「此語真實。所有世間一切生物,皆為胃腑之使者,依愛欲之力而
行動。愛欲實推動一切之生者,彼云有趣之事。」王頗中意此男而唱第三之偈:
三 婆羅門,我將與汝紅色牛 千之牝牛添牡牛
使者何不與使者 吾等實即彼使者
如是唱畢,王曰:「今依此人聞今所未曾聞,未曾思之事。」王甚歡悅,對彼多
與褒美。
結分 佛述此法語後,說明聖諦之理--說聖諦之理竟,貪欲比丘得不還果,
多人達預流果--佛為作本生今昔之結語:「爾時貪欲之男是今之貪欲比丘,美食王
即是我。」
註1 烏本生譚(kakajataka)是一四○則,恐為鴛鴦本生譚 Cakkavakajataka 之誤。鴛鴦
本生譚是在第九篇第四三四則

23/09/2022

Khuddaka Nikaya
Jātaka No. 259.
TIRĪṬA-VACCHA-JĀTAKA.

“Ketika sendirian,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang perolehan seribu pakaian, bagaimana Yang Mulia Ānanda (Ananda)
menerima lima ratus pakaian dari para wanita dalam kerajaan Raja Kosala, dan menerima lima ratus pakaian dari Raja Kosala. Cerita pembukanya dikemukakan di atas, di dalam Sigāla Jātaka219, Buku II.


Dahulu kala ketika Brahmadatta adalah Raja Benares, Bodhisatta terlahir sebagai putra dari seorang brahmana di Kerajaan Kāsi. Di hari pemberian namanya, mereka memberikannya nama Tirīṭavaccha (Tiritavaccha). Seiring berjalannya waktu, dia tumbuh dewasa dan belajar di Takkasilā.

Dia kemudian menikah dan menjalani kehidupan rumah tangga, tetapi kematian orang tuanya membuatnya amat sedih sehingga dia pun menjalani kehidupan sebagai seorang petapa dan tinggal di dalam hutan, bertahan hidup dengan memakan akar-akaran dan buah-buahan.

Selagi dia tinggal di sana, terjadi pemberontakan di daerah perbatasan Benares. Raja memimpin pasukannya ke tempat tersebut, tetapi dia kalah di dalam pertempuran. Untuk menyelamatkan dirinya, diam-diam dia menunggangi seekor gajah dan lari masuk ke dalam hutan. Keesokan paginya, Tiritavaccha sedang keluar untuk mengumpulkan buah-buahan, dan raja tiba di gubuknya. “Gubuk seorang petapa,” pikirnya dan turun dari gajahnya. Lelah terkena angin dan sinar matahari serta merasa haus, dia mencari kendi air di sekeliling tempat itu, tetapi tidak dapat menemukannya.

Di ujung jalan gubuk tersebut, dia melihat sebuah sumur, tetapi tidak melihat adanya tali dan ember untuk mengambil air. Rasa hausnya terlalu besar untuk dapat ditahannya; dia pun melepaskan tali pelana yang ada di badan gajahnya, mengikatnya di sisi dan turun ke dalam sumur dengan menggunakan tali itu.

Akan tetapi, tali itu terlalu pendek, kemudian dia mengikatkannya pada pakaian luarnya dan turun lebih dalam lagi ke bawah. Tetapi, dia tetap tidak bisa mencapai air di dalam sumur, dia hanya bisa menyentuh air sumur itu dengan kakinya; dia merasa sangat haus! “Jika saya bisa melegakan dahagaku ini,” pikirnya, “maka kematian adalah sesuatu hal yang pantas diterima!” Maka dia pun terjun ke bawah dan minum untuk melepaskan dahaganya, tetapi dia tidak bisa naik kembali ke atas, sehingga dia tetap berada di dalam sumur tersebut. Dan gajah itu, yang dirinya demikian terlatih, berdiri diam menunggu sang raja.

Pada sore harinya, Bodhisatta p**ang ke gubuknya, penuh dengan buah-buahan, dan melihat gajah itu. “Menurutku,” pikirnya, “raja ada datang ke sini, tetapi tidak ada yang terlihat kecuali gajah yang dipersenjatai ini. Apa yang harus kulakukan?”

Kemudian dia menghampiri gajah yang berdiri menunggu rajanya. Dia pergi ke tepi sumur itu dan melihat raja berada di dalamnya. “Jangan takut, Paduka!” teriaknya. Dia menempatkan
sebuah tangga dan menolong raja keluar. Dia menghangatkan badan sang raja, membasuhnya dengan minyak, kemudian memberikan buah-buahan kepadanya untuk dimakan, dan menanggalkan persenjataan gajah itu. Selama dua atau tiga hari, raja beristirahat di sana, kemudian pergi setelah membuat Bodhisatta berjanji untuk mengunjunginya. Para pasukan kerajaan berkemah di dekat kota. Ketika melihat kep**angan raja, mereka pun mengawalnya.

Setelah satu setengah bulan berlalu, Bodhisatta kembali ke Benares dan bermalam di dalam taman. Keesokan harinya, dia datang ke istana untuk meminta derma makanan. Kala itu, raja membuka sebuah jendela dan sedang melihat keluar ke arah halaman istana. Sewaktu melihat Bodhisatta, dia pun langsung mengenalinya dan turun dari istananya untuk memberikan salam kepadanya.

Dia kemudian membawanya ke panggung kerajaan, memberikan takhta sebagai tempat duduk kepadanya di bawah naungan payung putih. Dia memberikan makanannya sendiri
kepada sang petapa untuk dimakan, dan dia juga memakannya.

Kemudian raja membawanya kembali ke taman, dan memerintahkan pengawal untuk membuat alas jalan dan tempat tinggal untuknya, kemudian menyediakan segala keperluan seorang petapa. Setelah memberi perintah kepada seorang tukang taman untuk melayaninya, raja pun berpamitan dan kembali. Sejak saat itu, sang petapa mendapatkan makanannya dari dalam istana: kehormatan dan penghargaan besar pun diberikan kepadanya.

Para menteri kerajaan tidak bisa menerima perlakuan ini. “Jika seorang prajurit,” kata mereka, “yang menerima kehormatan demikian, apa yang akan dilakukannya?” Mereka kemudian pergi menjumpai wakil raja dan berkata, “Yang Mulia, raja bersikap terlalu berlebihan kepada seorang petapa. Apa yang dilihatnya di dalam diri orang tersebut? Mohon Anda bicarakan ini dengan raja. Dan wakil raja itu pun berbicara kepada raja, mengucapkan bait pertama berikut:
Tidak ada pengetahuan di dalam dirinya yang dapat kulihat; dia bukanlah seorang kerabat dan juga bukan seorang temanmu; Mengapa petapa ini, Tiritavaccha, mendapatkan (derma) makanan yang demikian mewah?

Raja mendengarkannya. Kemudian raja berkata, untuk berbicara kepada putranya itu, “Anakku, ingatkah Anda bagaimana suatu ketika saya pergi bertempur di perbatasan dan bagaimana saya kalah dalam pertempuran itu, kemudian tidak p**ang selama beberapa hari?” “Saya ingat,” jawabnya. “Orang inilah yang telah menyelamatkan nyawaku,” kata raja, dan raja menceritakan kepadanya apa yang telah terjadi semuanya.

“Baiklah, Anakku, sekarang ini penyelamatku ada di sini bersamaku, saya tidak bisa membalas apa yang telah diperbuatnya untukku, tidak juga cukup bahkan dengan
memberikannya kerajaanku kepadanya.” Dan raja mengucapkan dua bait berikut:
Ketika sendirian, di dalam hutan yang seram, dia yang mencoba berbuat baik kepada diriku, tidak ada orang lain; Dalam penderitaanku, dia mengulurkan tangan membantuku;
Dia menarikku ke atas dalam keadaan setengah mati dan membuatku kembali dapat berdiri.

Dikarenakan perbuatannya itu sendirian, saya dapat kembali lagi, keluar dari cengkeraman maut, ke alam manusia ini. Memberikan balasan terhadap kebaikan yang demikian
ini adalah hal yang benar; dengan memberikan persembahan yang berlimpah dan menyediakan keperluannya.

Demikian raja berkata, seolah-olah seperti membuat bulan muncul di langit. Ketika kebaikan dari Bodhisatta dipaparkan demikian, secara sendirinya kebaikannya itu tersebar ke segala penjuru; perolehannya menjadi semakin meningkat, demikian juga dengan kehormatan yang diberikan kepadanya.

Setelah kejadian itu, baik wakil raja maupun para menteri dan siapa pun tidak lagi mengatakan apa-apa yang menentang dirinya kepada raja. Raja hidup dengan menjalankan nasihat dari Bodhisatta, dia memberikan derma dan melakukan kebajikan-kebajikan lainnya, sampai akhirnya dia terlahir kembali di alam surga. Dan Bodhisatta, setelah mengembangkan kesaktian dan pencapaian meditasi, terlahir kembali di alam brahma.

Kemudian Sang Guru menambahkan, “Orang bijak di masa lampau juga memberikan pertolongan.” Dan setelah menyampaikan uraian-Nya demikian, Beliau mempertautkan
kisah kelahiran mereka: “Ānanda adalah raja, dan Aku sendiri adalah sang petapa.”

218 Dhammapada, syair 186 dan 187.
219 No. 152, juga lihat No. 156.

Diterbitkan oleh : INDONESIA TIPITAKA CENTER (ITC)
Sekretariat : Jl. H. Misbah
Komp. Multatuli Indah
Blok B No. 3-4-5
Medan-Sumut

23/09/2022

本生經
第 三 篇
二五九 提利達瓦奢仙本生譚
〔菩薩苦=行者〕
序分 此本譚,是佛在祇園精舍時,對阿難尊者由拘薩羅王之婦人手得五百
及由王之手得五百共接受千衣之事所作之談話。此事已於第二篇之豺本生譚〔第一
五二〕中詳細述說。
主分 昔日,波羅奈國梵與王治國時,菩薩生於迦尸國之婆羅門家,於命名日,
稱提利達瓦奢童子。不久達成熟之年,於得叉尸羅修習種種技術。在度家庭生活之
間,因雙親之死,大為感慨,遁世入於隱遁者之生活,住森林中,食樹根及野生之
漿果。當彼住於其處時,波羅奈王之國境起內亂,國王進往國境戰敗,戰慄於死之
恐怖,乘於象脊由一方之血路逃出,彷徨於森林之中。晨起,提利達瓦奢出外探尋
野生之漿果而不在,王來到彼之庵前。
王思﹕「此概為苦行者之庵。」由象降下,為風與熱所疲渴,探尋水瓶,到處不
見。探尋結果,方發現水井,但不見有汲水之繩瓶。彼口渴不堪,解象腹之束帶,
使象立於水井之側,結帶於象足,提帶降入井中,然來至水面,結上衣於帶之端,
更向下降,其仍然不充分,彼用足尖觸水,愈益覺渴,自思:「只求癒渴,死亦無妨。」
於是跳入水中,充分飲水,不能再出,立於其處。象善受訓練,不往他處,立於其
處看護於王。
菩薩於黃昏攜漿果歸來,見象自思:「此王者之外觀,雖然如此,但只一武裝之
象,是何緣故?」往象方接近。象知彼接近,立於一方。菩薩往井邊見王:「大王勿
憂。」菩薩奮力掛梯,救王出井,擦王身體,塗菜種油,使其沐浴,與以漿果,解象
之武裝。王休養二三日後,與菩薩約束前來王所,然後向歸途就道。王之軍隊屯於
市之近郊,見王歸來,群集於王之四週。
一方,菩薩於一月半之後,到著波羅奈住於遊園,翌日一面托缽來至王城之門。
王開大窗,眺望宮庭,見菩薩而知之,由高樓降下前來,向菩薩敬禮,導入廣間。
使坐玉座,飾以白傘。自為整理菜餚,饗宴菩薩,自己亦與共食。然後伴往遊園,
於彼處為彼圍以迴廊,修造住家,總與修行者必要之諸器具,附添園丁,作禮而去。
自此以來,菩薩於宮城為食處,受大款待與尊敬。大臣等對彼不服,自思:「若
武士受如此款待,彼更將如何?」於是往副王之所告曰:「殿下!我王對一苦行者太
過執心,未悉對彼作何思想?殿下應速向王忠告。」副王承諾:「甚善。」與大臣等共
往王前為禮唱第一之偈:
一 彼亦無何智所生 既非親族亦非友
依何彼得持三杖1 緣何使彼享美食
王聞之告太子曰:「太子!予往國境,因戰敗二三日未曾歸來之事,汝尚記憶
否?」太子答:「予尚記憶。」王云:「爾時予賴其人得以拾回性命。」於是詳述事之經
過。王云:「太子!予命之恩人來予所時,縱與予之王國尚不能報予依彼所受之恩。」
於是唱其他之二偈:
二 戰敗恐怖之荒野 我獨陷入水中時
困苦惱身伸援手 救我苦難沈溺中
三 依彼努力我得歸 離閻魔手還人世
提利達瓦奢受福 我與彼富與供物
如是王稱讚菩薩之德,恰似空中昇起之月,到處使知彼之德行,向彼布施益多,
尊敬愈高。爾來副王大臣等又其他諸人,亦均對王不敢有何云問。王善守菩薩之訓
誡,行布施積功德到天上界,菩薩發神通及等持,成生梵天界之身。
結分 佛云:「古之諸賢人亦為救人而效力。」佛告此語,作本生今昔之結語:
「爾時之王是阿難,苦行者即是我。」

註1 「持三杖」(tedandiko)為修行者吊水瓶之杖,三根杖,捆為一束。

23/09/2022

Khuddaka Nikaya
Jataka Tales 259 Tirīṭavacchajātaka
The Story about (the Brahmin) Tirīṭavaccha

In the present the king of Kosala gives 1,000 robes to Ven. Ānanda, who then gives 500 to monks in need, and 500 to his attendant monk, who passes them to other novices. The king asks the Buddha if this is proper, and the latter tells a story of how when he was an ascetic in a previous life he had saved the king’s life, and had been honoured because of it. The honour was questioned, but the king stood by his decision.

“When all alone.” This story the Teacher told while living at Jetavana, about the gift of a thousand garments, how the venerable Ānanda received five hundred garments from the women of the household of the king of Kosala, and five hundred from the king himself. The circumstances have been described above, in the Sigālajātaka [Ja 152], of the Second Book.

This was told by the Teacher while at Jetavana how elder Ānanda received a present of a thousand robes. The elder had been preaching to the ladies of the king of Kosala’s palace as described above in the Mahāsārajātaka [Ja 92].

As he preached there in the manner described, a thousand robes, worth each a thousand pieces of money, were brought to the king. Of these the king gave five hundred to as many of his queens. The ladies put these aside and made them a present to our elder, and then the next day in their old ones went to the palace where the king took breakfast. The king remarked, “I gave you dresses worth a thousand pieces each. Why are you not wearing them?” “My lord,” they said, “we have given them to the elder.” “Has elder Ānanda got them all?” he asked. They said: “Yes, he has.” “The Supreme Buddha,” said he, “allows only three robes. Ānanda is doing a little trade in cloth, I suppose!”

He was angry with the elder; and after breakfast, visited him in his cell, and after greeting, sat down, with these words: “Pray, sir, do my ladies learn or listen to your preaching?”

“Yes, sire; they learn what they ought, and what they ought to hear, they hear.”

“Oh, indeed. Do they only listen, or do they make you presents of upper garments or under-garments?”

“Today, sire, they have given me five hundred robes worth a thousand pieces each.”

“And you accepted them, sir?”

“Yes, sire, I did.”

“Why, sir, didn’t the Teacher make some rule about three robes?”

“True, sire, for every monk three robes is the rule, speaking of what he uses for himself. But no one is forbidden to accept what is offered; and that is why I took them – to give them to monks whose robes are worn out.”

“But when these monks get them from you, what do they do with their old ones?”

“Make them into a cloak.”

“And what about the old cloak?”

“That they turn into a shirt.”

“And the old shirt?”

“That serves for a coverlet.”

“The old coverlet?” “Becomes a mat.” “The old mat?” “A towel.” “And what about the old towel?”

“Sire, it is not permitted to waste the gifts of the faithful; so they chop up the old towel into bits, and mix the bits with clay, which they use for mortar in building their houses.”

“A gift, sir, ought not to be destroyed, not even a towel.”

“Well, sir king, we destroy no gifts, but all are used somehow.”

This conversation pleased the king so much, that he sent for the other five hundred robes which remained, and gave them to the elder. Then, after receiving his thanks, he greeted the elder in solemn state, and went his way.

The elder gave the first five hundred robes to monks whose robes were worn out. But the number of his fellow monastics was just five hundred. One of these, a young monk, was very useful to the elder; sweeping out his cell, serving him with food and drink, giving him toothbrush and water for cleansing his mouth, looking after the privies, living rooms, and sleeping rooms, and doing all that was needed for hand, foot, or back. To him, as his by right for all his great service, the elder gave all the five hundred robes which he had received afterwards. The young monk in his turn distributed them among his fellow-students. These all cut them up, dyed them yellow as a kaṇikāra flower; then dressed therein they waited upon the Teacher, greeted him, and sat down on one side.

“Sir,” they asked, “is it possible for a holy disciple who has entered on the First Path to be a respecter (a person who has a high regard for someone or something) of persons in his gifts?”

“No, monks, it is not possible for holy disciples to be respecters of persons in their gifts.”

“Sir, our spiritual teacher, the Treasurer of the Dhamma, gave five hundred robes, each worth a thousand pieces, to a young monk; and he has divided them amongst us.”

“Monks, in giving these Ānanda was no respecter of persons. That young fellow was a very useful servant; so he made the present to his own attendant for the sake of his service, for goodness’ sake, and by right, thinking that one good turn deserves another, and with a wish to do what gratitude demands. In former days, as now, wise men acted on the principle one good turn deserves another.” And then, at their request, he told them a story of the past.

In the past, while Brahmadatta was king of Benares, the Bodhisatta was born as the son of a brahmin in Kāsi. On his nameday they called him Teacher Tirīṭavaccha. In due time he grew up, and studied at Taxila. He married and settled down, but his parents’ death so distressed him that he became an ascetic, and lived in a woodland dwelling, feeding upon the roots and fruits of the forest.

While he lived there, a disturbance arose on the frontiers of Benares. The king repaired there, but was worsted in the fight; fearing for his life, he mounted an elephant, and fled away covertly through the forest. In the morning, Tirīṭavaccha had gone abroad to gather wild fruit, and meanwhile the king came upon his hut. “An ascetic’s hut!” said he; down he came from his elephant, weary with wind and sun, and athirst; he looked about for a waterpot, but none could he find. At the end of the covered walk he spied a well, but he could see no rope and bucket for the drawing of water. His thirst was too great to bear; he took off the girth which passed under the elephant’s belly, made it fast on the edge, and let himself down into the well. But it was too short; so he tied on to the end of it his lower garment, and let himself down again. Still he could not reach the water. He could just touch it with his feet: he was very thirsty! “If I can but quench my thirst,” he thought, “death itself will be sweet!” So down he dropped, and drank his fill; but he could not get up again, so he remained standing there in the well. And the elephant, so well trained was he, stood still, waiting for the king.

In the evening, the Bodhisatta returned, laden with wild fruits, and espied the elephant. “I suppose,” he thought, “the king is come; but nothing is to be seen save the armed elephant. What’s to do?” And he approached the elephant, which stood and waited for him. He went to the edge of the well, and saw the king at the bottom. “Fear nothing, O king!” he called out; then he placed a ladder, and helped the king out; he massaged the king’s body, and anointed him with oil; after which he gave him of the fruits to eat, and loosed the elephant’s armour. Two or three days the king rested there; then he went away, after making the Bodhisatta promise to pay him a visit.

The royal forces were encamped nearby the city; and when the king was perceived coming, they flocked around him.

After a month and half a month, the Bodhisatta returned to Benares, and settled in the park. Next day he came to the palace to ask for food. The king had opened a great window, and stood looking out into the courtyard; and so seeing the Bodhisatta, and recognising him, he descended and gave him greeting; he led him to a dais, and set him upon the throne under a white umbrella; his own food the king gave him to eat, and ate himself of it. Then he took him to the garden, and caused a covered walk and a dwelling to be made for him, and furnished him with all the necessaries of an ascetic; then giving him in the charge of a gardener, he bade farewell, and departed. After this, the Bodhisatta took his food in the king’s dwelling: great was the respect and honour paid to him.

But the courtiers could not endure it. “If a soldier,” they said, “were to receive such honour, how would he behave!” They betook them to the viceroy, “My lord, our king is making too much of an ascetic! What can he have seen in the man? You speak with the king about it.” The viceroy consented, and they all went together before the king. And the viceroy greeted the king, and uttered the first verse:

1. “There is no wit in him that I can see;
He is no kinsman, nor a friend of you;
Why should this ascetic with three bits of wood,
Tirīṭavaccha, have such splendid food?”

The king listened. Then he said, addressing his son, “My son, you remember how once I went to the marches, and how I was conquered in war, and came not back for a few days?”

“I remember,” said be.

“This man saved my life,” said the king; and he told him all that had happened. “Well, my son, now that this my preserver is with me, I cannot requite him for what he has done, not even were I to give him my kingdom.” And he recited the two verses following:

2. “When all alone, in a grim thirsty wood,
He, and no other, tried to do me good;
In my distress he lent a helping hand;
Half-dead he drew me up and made me stand.

3. By his sole doing I returned again
Out of death’s jaws back to the world of men.
To recompense such kindness is but fair;
Give a rich offering, nor stint his share.”

So spoke the king, as though he were causing the moon to rise up in the sky; and as the virtue of the Bodhisatta was declared, so was declared his own virtue everywhere; and his takings increased, and the honour shown to him. After that neither his viceroy nor his courtiers nor any one else did say anything against him to the king. The king lived in the Bodhisatta’s admonition; and he gave alms and did good, and at the last went to swell the hosts of heaven. And the Bodhisatta, having cultivated the Super Knowledges and Attainments, became destined to the Brahmā Realm.
Then the Teacher added, “Wise men of old gave help too,” and having thus concluded his discourse, he identified the Jātaka as follows, “Ānanda was the king, and I was the ascetic.”

22/09/2022

Khuddaka Nikaya
Jātaka No. 258.
MANDHĀTU-JĀTAKA.

“Di mana matahari dan bulan,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang seorang bhikkhu yang tidak puas (menyesal).

Dikatakan bahwasanya bhikkhu ini, sewaktu berpindapata di Sāvatthi, melihat seorang wanita yang berpakaian amat cantik dan menjadi jatuh cinta kepadanya. Kemudian bhikkhu-bhikkhu lainnya membawa dia ke dalam balai kebenaran dan memberitahukan Sang Guru bahwa dia adalah seorang yang menyesal. Sang Guru menanyakan apakah semuanya itu benar, dan dia pun mengiyakannya.

“Bhikkhu,” kata Sang Guru, “kapankah Anda bisa memuaskan nafsu dambaan (taṇhā) ini, yang dimulai ketika Anda itu terlahir sebagai seorang perumah tangga? Nafsu itu sedalam
lautan, tidak ada yang bisa memuaskannya. Di kehidupan masa lampau, terdapat seorang raja yang amat berkuasa (seorang Cakkavati212), yang dilayani oleh ribuan pengikutnya, menguasai empat p**au yang besar213 yang dikelilingi p**a oleh dua ribu p**au kecil lainnya. Raja itu bahkan juga menjadi raja dewa ketika berada di Alam Dewa Catumahārājika, dan juga di Alam Dewa Tāvatiṁsā, selama tiga puluh enam (kali pergantian) Sakka. Bahkan orang seperti ini saja tidak mampu memuaskan nafsunya dan meninggal sebelum berhasil melakukan itu, kapankah Anda mampu untuk melakukannya?” Dan Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau.

Dahulu kala, pada masa-masa awal dunia (kehidupan) ini, hiduplah seorang raja yang bernama Mahāsammata. Dia memiliki seorang putra, Roja, yang kemudian memiliki putra yang bernama Vararoja, yang memiliki putra yang bernama Kalyāṇa, yang memiliki putra bernama Varakalyāṇa, yang memiliki putra bernama Uposatha, dan Uposatha memiliki seorang putra yang bernama Mandhātā. Mandhātā (Mandhata) adalah seseorang yang memiliki tujuh benda berharga214 dan empat kondisi215, dia adalah seorang Cakkavati.

Ketika dia mengepalkan tangan kirinya kemudian menyentuhkannya ke tangan kanan, maka akan terjadi hujan tujuh jenis batu permata, setinggi lutut, seakan-akan awan hujan surgawi muncul di langit; dia adalah seorang yang benar-benar luar biasa. Selama delapan puluh empat ribu tahun dia menjadi seorang pangeran, selama waktu yang sama p**a dia mengambil bagian dalam memerintah kerajaan (wakil raja), dan selama waktu yang sama p**a lagi dia memerintah sebagai raja; masa kehidupannya berlangsung selama satu asaṅkheyya216.

Pada suatu hari, dia tidak mampu memuaskan kehausannya akan kesenangan indriawi dan menunjukkan tanda-tanda ketidakpuasan. “Mengapa Anda kelihatan tidak puas, Paduka?” tanya para menterinya. “Ketika kekuatan dari (jasa) kebajikanku telah terlihat, apa lagi guna kerajaan ini?

Tempat manakah yang cocok untuk dikunjungi?” “Alam dewa, Paduka.” Maka dengan menggunakan Cakkaratana, beserta para pengawalnya, dia pergi ke Alam Dewa
Catumahārājika. Keempat raja dewa beserta rombongan para dewa lainnya, pergi untuk menyambutnya, dengan membawa untaian bunga surgawi dan wewangian; setelah menemaninya ke tempat mereka, mereka memberikan kekuasaan alam dewa mereka kepada dirinya.

Dia memerintah dalam kebesarannya, dan waktu yang lama pun berlalu. Akan tetapi, di sana dia juga tidak bisa memuaskan kehausannya akan kesenangan indriawi, sehingga dia kemudian terlihat tidak puas. “Mengapa, Paduka?” tanya keempat raja dewa, “Anda terlihat tidak puas?” Dan raja membalas, “Tempat apa yang lebih indah dari alam dewa ini?”

Mereka menjawab, “Paduka, kami ini hanya bagaikan para pelayan (dewa). Alam Dewa Tāvatiṁsā lebih indah dari alam dewa ini.”

Mandhata kemudian mengendarai Cakkaratana, bersama dengan para pengawalnya, menuju ke Alam Tāvatiṁsā. Dan Sakka, raja para dewa, dengan membawa untaian bunga surgawi dan wewangian berada di antara rombongan para dewa lainnya, pergi untuk menyambutnya, dan menuntun jalannya.

Ketika raja berbaris di antara rombongan para dewa tersebut, putra sulungnya mengambil Cakkaratana dan turun kembali ke alam manusia, ke kerajaannya sendiri. Sakka menuntun Mandhata ke Alam Tāvatiṁsā, dan memberikan setengah kekuasaannya kepada dirinya.

Setelah itu, mereka berdua memimpin alam dewa tersebut. Waktu terus berjalan, sampai
Sakka hidup selama tiga puluh enam juta tahun217 dan terlahir kembali di alam manusia; Sakka yang lainnya muncul (menggantikan yang lama), dia juga memimpin bersama dengannya, hidup selama tiga puluh enam juta tahun dan terlahir kembali di alam manusia.

Dengan keadaan yang sama, tiga puluh enam Sakka memimpin secara silih berganti. Akan tetapi, Mandhata tetap berkuasa, bersama dengan rombongannya. Seiring berjalannya waktu, kekuatan dari kehausannya akan kesenangan indriawi pun ikut terus berkembang dan menjadi lebih kuat.

“Apalah gunanya mendapatkan hanya setengah kerajaan ini?” katanya di dalam hati, “Saya akan membunuh Sakka sehingga hanya tinggal saya seorang diri yang memimpin alam ini.”
Akan tetapi, dia tidak mampu membunuh Sakka.

Nafsu dambaannya (taṇhā) ini adalah akar dari kemalangannya. Kekuatan dari kehidupannya mulai berkurang, usia tua mulai menyerang dirinya; tetapi tubuh seorang manusia tidak bisa hancur terurai di alam surga. Maka dia pun jatuh dari alam surga, ke dalam sebuah taman. Tukang taman memberitahukan kedatangannya kepada seluruh anggota kerajaan; mereka datang dan memberikan kepadanya sebuah tempat untuk beristirahat di dalam taman.

Di sana sang raja berbaring dalam keadaan lemah dan tak bertenaga. Para menteri bertanya kepadanya, “Paduka, Anda ingin kami sampaikan apa kepada orang-orang?” “Sampaikan dariku,” balasnya, pesan ini kepada orang-orang: Maharaja Mandhata, setelah memimpin di empat p**au besar beserta dua ribu p**au kecil di sekelilingnya, memimpin di Alam Dewa Catumahārājika, menjadi raja para dewa di Alam Tāvatiṁsā selama kurun waktu pergantian Sakka sebanyak tiga puluh enam kali, sekarang terbaring menanti ajal.” Setelah mengucapkan kata-kata ini, dia pun wafat dan menerima buah (hasil perbuatan) sesuai dengan perbuatannya.

Kisah ini selesai, Sang Guru mengucapkan bait-bait berikut dalam kebijaksanaan-Nya yang sempurna:
Di mana matahari dan bulan berada,
orang-orangnya adalah pelayan dari Mandhata:
Di segala penjuru bumi (dunia) tempat terlihatnya sinar di siang hari, di sanalah Raja Mandhata berkuasa.

Tidak ada yang dapat memuaskan nafsu kesenangan indriawi, meskipun dengan hujan emas (batu permata). Karena kesenangan indriawi hanya memberikan sedikit kepuasan dan banyak penderitaan.

Setelah memahami ini, orang bijaksana tidak akan bersenang-senang dalam kesenangan indriawi.

Para siswa Yang Tercerahkan Sempurna berbahagia dengan melenyapkan segala nafsu dambaan (keinginan)218.

Setelah uraian ini selesai, Sang Guru memaklumkan kebenaran dan mempertautkan kisah kelahiran mereka:—Di akhir kebenarannya, bhikkhu yang menyesal (tidak puas) itu dan banyak lagi yang lainnya mencapai tingkat kesucian Sotāpanna:—“Pada masa itu, Aku adalah Maharaja Mandhata (Mandhātā ).

212 Nama yang diberikan secara khusus kepada seorang penakluk dunia. Secara harfiah kata ini berarti “Pemutar roda”, dan ‘roda (cakka)’ dikenal sebagai lambang kerajaan di India. Lihat keterangan selengkapnya di DPPN, Appendix, halaman 1343.
213 Pubbavideha, Jambudīpa, Aparagoyāṇa, dan Uttarakuru.
214 sattaratana; Cakkaratana (benda berharga berupa roda), Hatthiratana (gajah; Chaddanta kula atau Uposatha-kula), Assaratana (kuda; Valāhaka), Veḷuriyaratana (lapislazuli, dari Vepullapabbata), Wanita (dari keluarga Madda atau Uttarakuru), Gahapati (bendahara), dan Parināyaka (penasihat).
215 iddhī ; bentuk tubuh yang luar biasa, usia yang jauh lebih panjang dibandingkan dengan manusia lain, kesehatan yang baik, dan terkenal di antara semua golongan rakyatnya.
216 asaṅkheyya (kappa) = 10 juta pangkat 20 kappa; 1 kappa = 1 mil kubik berisi biji sesawi dikali 100 tahun untuk setiap biji sesawi.
217 saṭṭhi ca vassasatasahassāni tisso ca vassakoṭiyo.

Diterbitkan oleh : INDONESIA TIPITAKA CENTER (ITC)
Sekretariat : Jl. H. Misbah
Komp. Multatuli Indah
Blok B No. 3-4-5
Medan-Sumut

Address

803 Jalan Balik Pulau, Mukim 16
Air Itam
11500

Opening Hours

Monday 08:00 - 14:00
Tuesday 08:00 - 14:00
Wednesday 08:00 - 14:00
Thursday 08:00 - 14:00
Friday 08:00 - 14:00
Saturday 13:00 - 15:00
Sunday 13:00 - 15:00

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Vimuttivana 解脱林 posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Place Of Worship

Send a message to Vimuttivana 解脱林:

Share