Gereja Kumetiran

Gereja Kumetiran FansPage Resmi
Paroki HSPMTB Kumetiran
Yogyakarta


Sekretariat:
WA : 0895 6393 94567 (Chat Only) Ia mem­bangun kapel untuk pelayanan rohani.

Paroki HSP Maria Tak Bercela Kumetiran memiliki sejarah yang cukup panjang dan terkait erat dengan usaha misi dan situasi politik pada waktu itu. Pada tahun 1922, Rm Frans Strater SJ, seorang pim­pinan Jesuit di Yogyakarta mencoba mengembangkan kerasulan pewartaan dan menanamkan ajaran Gereja Katolik di wilayah Yogya­karta. Tujuannya agar Kerajaan Allah dapat dikenal, diketahui dan dirasakan oleh

masyarakat. Ia setiap hari mengadakan kunjungan ke pedesaan-pedesaan di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Ia juga mendirikan beberapa sekolahan termasuk di antaranya Sekolah Guru Agama. Untuk men­dukung pendidikan tersebut, Rm. Frans Strater SJ juga mendirikan As­rama khusus bagi siswa-siswi SGA.Atas bantuan KRT Harjokusuma, seorang Bupati yang kemudian menjadi Patih KPH Danurejo VIII, Rm. Frans Strater mendapat sebi­dang tanah seluas 5.400 m2 lengkap dengan sebuah bangunan rumah yang berbentuk tiga joglo milik Bpk. Raden Penewu Karto Kaskoyo (seorang perangkat kraton) yang terletak di tengah-tengah kampung Pringgokusuman. Karena seorang asing, Rm Strater tidak boleh memiliki tanah, maka sertipikat tanah tersebut kemudian diatas na­makan Rama Djoyoseputro SJ. Pada tahun 1939, tempat dan bangunan tersebut menjadi asrama calon Guru Agama. Namun fungsi itu tidak berlangsung lama sebab pada tahun 1942 di Yogyakarta kedatangan tentara Dai Nippon. Mereka menangkap dan menginternir orang-orang Eropa dan meram­pas semua bangunan yang dikuasai oleh orang-orang Eropa tersebut. Seminari dan Gereja Kotabaru pun tak lepas dari pendudukan Jepang. Tempat-tempat itu dijadikan gedung pemerintahan dan gudang per­bekalan sehingga peribadatan tidak mungkin diadakan di Gereja Ko­tabaru apalagi para gembala juga ditangkap dan dilarang mengajar agama. Akibat dari penangkapan dan pelarangan pengajaran agama tersebut, asrama SGA tidak berfungsi lagi karena tidak ada siswa yang belajar. Pada tahun 1943, asrama SGA tutup. Bagaikan ada benih tumbuh di atas tanah yang tandus, demikianlah yang terjadi dengan keadaan Gereja. Setelah para gem­bala ditangkap oleh tentara Jepang, muncul tokoh-tokoh awam katolik yang mengambil alih kegiatan gerejani. Mereka memberikan pelajaran agama di rumah-rumah, mempersiapkan orang untuk menerima bap­tisan dan menyelenggarakan ibadat sabda. Usaha ini terus berkem­bang, sampai akhirnya Bruder Endrodarsono SJ yang waktu itu meng­urus asrama Calon Guru Agama menawarkan agar asramanya itu digunakan untuk melaksanakan kegiatan Gerejani, sebagai pengganti Gereja Kotabaru yang dikuasai oleh Jepang. Pada tanggal 13 Agustus 1944, untuk pertama kalinya di asrama Calon Guru Agama itu diadakan perayaan Ekaristi oleh Rm B. Su­marno SJ dari Paroki Bintaran. Sejak saat itulah secara rutin asrama SGA itu menjadi tempat beribadat. Atas peran serta kaum awam kato­lik dan ketekunan Bruder Endro dalam mengajar agama, membimbing anak-anak muda, perkembangan umat semakin meningkat. Kemudian ada peristiwa yang menggembirakan untuk masyarakat Indonesia, khususnya juga umat katolik Yogyakarta. Tentara Jepang ditarik kembali ke negaranya karena kota Hirosima dan Nagasaki di­jatuhi bom atom oleh Amerika Serikat. Mereka mengembalikan kepada para pemiliknya semua gedung yang dikuasainya, termasuk diantaranya Gereja Kotabaru. Maka dengan diserahkannya Gereja Kotabaru, Gereja ini dapat difungsikan kembali untuk peribadatan, umat Kotabaru yang selama mengungsi ke Kumetiran untuk meng­ikuti peribadatan. Sebagian besar umat memang kembali ke Kotabaru, tetapi umat di sekitar Kumetiran atau umat di bagian barat Jalan Malioboro tetap menginginkan beribadat di Gereja Kampung bekas asrama SGA itu. Karena banyaknya umat yang tetap bertahan dan kemandirian umat di Gereja Kampung Kumetiran, maka sejak tanggal 31 Desember 1945, secara administratif Gereja Kampung Kumetiran tidak lagi dilayani oleh Gereja Kotabaru dan kemudian ditetapkan sebagai Paroki mandiri dengan nama Pelindung Hati Santa Perawan Maria Tak Ber­cela

INFO PERAYAAN EKARISTI PEKAN SUCI PASKAH‼️‼️‼️
28/03/2026

INFO PERAYAAN EKARISTI PEKAN SUCI PASKAH‼️‼️‼️

Bakti Sosial Pembagian Sembako: Wujud Kepedulian Gereja bagi Umat yang MembutuhkanBakti Sosial berupa pembagian sembako ...
24/12/2025

Bakti Sosial Pembagian Sembako: Wujud Kepedulian Gereja bagi Umat yang Membutuhkan

Bakti Sosial berupa pembagian sembako dilaksanakan setelah Misa ke-2 di Gereja HSPMTB Kumetiran sebagai wujud nyata kepedulian Gereja terhadap umat yang membutuhkan. Program ini secara khusus ditujukan bagi umat yang telah terdata melalui kupon, sehingga bantuan diberikan secara tepat sasaran. Bagi keluarga penerima, kegiatan ini bukan hanya pemberian bantuan materi, melainkan juga tanda perhatian dan kasih Gereja kepada umatnya.

Sasaran utama penerima bantuan berasal dari berbagai lingkungan di Paroki HSPMTB Kumetiran yang telah melalui proses verifikasi. Panitia memusatkan kegiatan pembagian di area Gereja agar proses distribusi dapat berjalan lebih tertib dan terkoordinasi, mengingat jumlah penerima yang cukup banyak. Mekanisme pembagian dilakukan secara berurutan sesuai dengan daftar penerima, sehingga tidak terjadi penumpukan dan setiap umat dapat menerima bantuan dengan nyaman.

Kegiatan bakti sosial ini menegaskan bahwa kepedulian terhadap sesama bukan sekadar program tahunan, melainkan bagian dari identitas Gereja sebagai komunitas yang saling menopang dan berbagi. Bantuan yang diberikan tidak hanya berupa sembako, tetapi juga perhatian dan kepedulian yang menguatkan hati umat. Melalui tindakan sederhana namun bermakna ini, Gereja menghadirkan kasih Allah secara nyata di tengah kehidupan umat.

Sebagaimana tertulis dalam Kitab Amsal 19:17, “Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi Tuhan, yang akan membalas perbuatannya itu.” Kiranya semangat berbagi dan kepedulian ini terus tumbuh, menginspirasi seluruh umat untuk saling peduli dan setia menghadirkan kasih dalam kehidupan sehari-hari.

Tim Dokumentasi: Thomas | Sari
Kontributor: Bagaskara | Dearis

“Mental Health Starts with Me!: Suara dan Harapan dari Kumetiran”Gereja HSPMTB Paroki Kumetiran mengadakan acara “Mental...
05/12/2025

“Mental Health Starts with Me!: Suara dan Harapan dari Kumetiran”

Gereja HSPMTB Paroki Kumetiran mengadakan acara “Mental Health Starts with Me!” sebagai ruang refleksi bagi umat, khususnya anak muda. Narasumber utama, Stella Vania Puspitasari, M.Psi., Psikolog Klinis Anak dan Remaja, menekankan bahwa kelompok yang paling membutuhkan perhatian adalah anak-anak dan remaja. Fase di mana mereka sedang mencari jati diri dan sangat rentan terhadap tekanan emosional. Bu Yasinta selaku panitia menambahkan bahwa kesadaran kesehatan mental perlu dibangun sejak dini, terutama ketika generasi saat ini lebih dekat dengan media sosial dibanding keluarga. Dalam sesi diskusi, sejumlah peserta muda, termasuk Friedo dan Nugi, menyampaikan bahwa proses mengenal diri merupakan langkah awal yang penting agar seseorang berani membuka diri dan mencari tempat bercerita yang aman. Mereka juga menyoroti teman sebaya yang tumbuh dalam keluarga toxic atau memiliki kondisi mental rapuh sebagai kelompok yang paling membutuhkan dukungan.

Acara ini dinilai berotensi besar untuk diperluas ke sekolah-sekolah maupun komunitas sehingga edukasi kesehatan mental hadir lebih dekat dengan kehidupan anak muda, materi yang disampaikan relevan dan mudah diterapkan. Harapannya, setiap peserta mampu menjadi pendengar yang baik menghadirkan empati dan dukungan nyata ketika ada teman yang datang untuk curhat.

Kegiatan ini menegaskan bahwa kesehatan mental bukanlah isu modern semata, melainkan kebutuhan dasar setiap manusia. Inisiatif gereja untuk menghadirkan ruang aman seperti ini menunjukkan kepedulian yang relevan dengan tantangan zaman dan membuka kesempatan bagi generasi muda untuk saling menguatkan.
Seperti tertulis dalam 1 Tesalonika 5:11, “Karena itu hiburkanlah seorang akan yang lain dan saling membangunlah kamu.” Dan sebagaimana Galatia 6:2 mengingatkan, “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu.”

Semoga gerakan ini terus bertumbuh, dan setiap orang berani menyatakan: “Mental Health Starts with Me!”

Dokumentasi : Bagaskara
Kontributor : Bagaskara | Michelle .ar_wotah | Dearis

🌟Pesta Nama yang Menyentuh Hati: Menelusuri Makna, Gerak, dan Syukur Umat Kumetiran🌟Sabtu penuh makna menjadi penanda Pe...
11/07/2025

🌟Pesta Nama yang Menyentuh Hati: Menelusuri Makna, Gerak, dan Syukur Umat Kumetiran🌟

Sabtu penuh makna menjadi penanda Pesta Nama Gereja Katolik Hati Santa Perawan Maria Tak Bercela Kumetiran. Sejak pagi, umat tumpah ruah dalam sukacita lewat senam bersama, lalu menutup hari dengan perayaan ekaristi yang hangat dan reflektif. Menurut Ibu Crescentia Sri Handayani selaku ketua panitia Paskah hingga Pesta Nama dari wilayah 11 & 13 terungkap bahwa kegiatan ini bukan hanya simbolik, tetapi juga menjadi proses pembentukan iman yang melibatkan seluruh lapisan umat.

Dalam satu hari yang padat namun terstruktur, rangkaian kegiatan melibatkan PIA, PIR, OMK, hingga umat dewasa dan KLMTD. "Hari itu kami anggap sebagai puncak dari seluruh rangkaian sejak Paskah. Dengan satu titik momentum, umat diajak bergerak bersama dari tubuh hingga hati,” jelas Bu Yani. Selain itu, agar suasana sukacita semakin terasa, panitia menghadirkan konsep unik: peserta diberikan pengalaman seperti berbelanja di supermarket, di mana mereka dapat memilih sendiri dua barang sesuai keinginan masing-masing. “Dengan cara ini, kami berharap umat semakin semangat hadir dan merasa diperhatikan,” tuturnya. Potong tumpeng oleh tiga selebran Romo juga menjadi lambang syukur sekaligus penghormatan kepada Santa Perawan Maria tak Bercela.

Makna terdalam pada rangkaian kegiatan Pesta Nama ini adalah agar umat semakin mengenal Pelindung Gereja, dan dari sana tumbuh rasa kasih dan keinginan terlibat aktif dalam kehidupan menggereja. “Dengan lebih mengenal maka kita akan semakin ‘sayang’, dan akhirnya ingin lebih dekat lagi,” ujarnya penuh haru. Momen paling menyentuh baginya justru bukan di tengah keramaian, melainkan di Panti Bawah Paroki tempat di mana panitia saling menguatkan, berbagi tawa dan air mata. Seperti tertulis dalam Kolose 3:23, "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia." Sebuah pesan kuat bahwa pelayanan yang dikerjakan dengan tulus akan selalu menemukan jalannya.

📸 Nathan | Zaga | Irene | Indika | Bimo | Amalia
📄 |

🕊 Menyapa Umat, Menjalin KasihDalam semangat pelayanan dan cinta kasih, Romo Paroki HSPMTB Kumetiran mengunjungi 48 ling...
09/07/2025

🕊 Menyapa Umat, Menjalin Kasih

Dalam semangat pelayanan dan cinta kasih, Romo Paroki HSPMTB Kumetiran mengunjungi 48 lingkungan.
Lebih dari sekadar kunjungan, ini adalah perjumpaan yang meneguhkan iman, mempererat persaudaraan, dan menyalakan kembali sukacita dalam komunitas.

Semoga setiap langkah dan sapaan Romo bisa menjadi saluran berkat bagi seluruh umat 💒✨



Tim Dokumentasi: Umat setiap lingkungan
Kontributor: Bagaskara | Dearis 

"Menyeberangi Pintu Suci: Ziarah Iman di Tahun Yubileum 2025"Di tengah semangat Tahun Yubileum 2025, umat Katolik dari b...
08/07/2025

"Menyeberangi Pintu Suci: Ziarah Iman di Tahun Yubileum 2025"

Di tengah semangat Tahun Yubileum 2025, umat Katolik dari berbagai penjuru Tanah Air menjalani peziarahan rohani melintasi Porta Sancta atau Pintu Suci. Salah satunya adalah kelompok dari Lingkungan Sosro, Paroki Kumetiran, yang dipimpin oleh Pak Dudun. Kegiatan ini merupakan bagian dari tradisi istimewa yang hanya terjadi setiap 25 tahun, sebuah Tahun Pengampunan yang penuh makna bagi setiap peziarah untuk memperoleh indulgensi penuh.

Ziarah ke Pintu Suci di Keuskupan Agung Semarang ini diikuti oleh berbagai lingkungan. Termasuk 13 umat dari Lingkungan Sosro Kumetiran, yang terdapat juga 5 orang muda. Bagi Pak Dudun, momen ini sangat menyentuh. Beliau menggambarkan ketika menyentuh Pintu Suci merupakan pengalaman yang membuatnya merinding, sebuah tanda spiritual bahwa ia mengalami pembaruan iman secara personal. Saat pertama kali mendengar tentang kegiatan ini pada awal 2025, dan mempersiapkan diri untuk mengunjungi Pintu Suci di Yogyakarta. Baginya, lokasi tersebut dipilih bukan tanpa alasan, melainkan memiliki nilai historis dan spiritual yang dalam. “Tidak mungkin asal saja dijadikan Porta Sancta oleh Monsinyur.,” ujarnya.

Lebih dari sekadar perjalanan fisik, menyeberangi Pintu Suci adalah ziarah batin. Momentum ini membantu umat baik muda maupun tua untuk mengenal dan memahami makna tempat suci yang dikunjungi. Terlebih bagi umat Paroki Kumetiran, berpartisipasi dalam kegiatan ini memperkuat kesadaran akan warisan iman dan tradisi gereja. Sebagaimana tertulis dalam Mazmur 84:6 : “Berbahagialah manusia yang kekuatannya di dalam Engkau, yang berhasrat mengadakan ziarah.” Maka jelaslah, langkah mereka adalah wujud nyata kerinduan akan pengampunan dan pembaharuan hidup dalam Kristus.

Tim Dokumentasi : Liza .lz | Thomas | Besta
Kontributor : Bagaskara | Dearis 

Ucap syukur kepada Allah dan proficiat atas Tahbisan Imam melalui tangan Bapak Uskup Mgr. Robertus Rubiyatmoko, Pr., Rm....
27/06/2025

Ucap syukur kepada Allah dan proficiat atas Tahbisan Imam melalui tangan Bapak Uskup Mgr. Robertus Rubiyatmoko, Pr., Rm. Benedictus Aditya Relliantoko, Pr. pada tanggal 27 Juni 2025 di Kapel Seminari Tinggi St. Paulus Kentungan Yogyakarta. Semoga dengan rahmat tahbisan menjadi khas dari Hati Yesus Yang Mahakudus, ramah rengkuh dengan sepenuh hati, sabar mengampuni yang berdosa dan peduli mempersatukan umat beriman.

"Allah Melimpahkan Kasih-Nya" (Roma 5:8)


----------------------------------------------
Gereja Hati Santa Perawan Maria Tak Bercela
Paroki Kumetiran Yogyakarta
Berkah Dalem
Segala Informasi dapat diketahui melalui
Instagram : .yk
YouTube : PAKENYOT Gereja Kumetiran
FansPage Facebook : Gereja Kumetiran

"Kenaikan Yesus Kristus: Sebuah janji, harapan, dan panggilan untuk meneruskan karya-Nya di dunia"Hari Raya Kenaikan Yes...
19/06/2025

"Kenaikan Yesus Kristus: Sebuah janji, harapan, dan panggilan untuk meneruskan karya-Nya di dunia"

Hari Raya Kenaikan Yesus Kristus merupakan momen istimewa bagi umat Katolik. Peristiwa ini menandai penyempurnaan karya keselamatan Yesus, di mana Ia naik ke surga dan bersatu dengan Allah Bapa. Penjelasan Tim Pelayanan Tata Perayaan dan Peribadatan Gereja Katolik Hati Santa Perawan Maria Tak Bercela Kumetiran, bahwa kenaikan Yesus adalah bukti nyata janji Allah kepada umat-Nya, memberi harapan akan kehidupan kekal. "Dengan naik ke surga, Yesus menunjukkan jalan menuju tujuan akhir kita,". Peristiwa ini juga membuka jalan bagi turunnya Roh Kudus pada hari Pentakosta, yang menjadi memandu dan menghibur bagi umat Kristiani.

Selain itu, momen ini juga mengingatkan umat akan amanat Yesus kepada para murid-Nya untuk memberitakan Injil ke seluruh dunia, menjadikan perayaan ini bukan hanya sebagai refleksi spiritual tetapi juga sebagai panggilan misi bagi gereja.
Sebagai umat Katolik, perayaan ini memperkuat iman dan keyakinan akan janji Tuhan Yesus. Seperti tertulis dalam Kisah Para Rasul 1:9 : "Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka." Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa kehidupan di dunia hanyalah perjalanan menuju kesatuan dengan Allah. Melalui Kenaikan-Nya, Yesus memberikan harapan bagi setiap orang yang percaya, bahwa suatu hari mereka pun akan bersama-Nya di surga.

Dokumentasi: Michael | Sari | Kalista | Arya | Irene | Tata | Besta | Zaga
Kontributor: Bagaskara | Lyra .xelaa | Gelar | Dearis

✨ Mengenal lebih dalam hati Bunda Maria melalui Sarasehan Spiritualitas ✨Sebagai pelindung paroki, Hati Santa Perawan Ma...
17/06/2025

✨ Mengenal lebih dalam hati Bunda Maria melalui Sarasehan Spiritualitas ✨

Sebagai pelindung paroki, Hati Santa Perawan Maria Tak Bercela menjadi inspirasi umat dalam memperdalam iman dan spiritualitasnya. Semoga setiap peserta semakin merasakan kasih Tuhan melalui sarasehan ini! 💙🙏



Mengenal Lebih Dekat Spiritualitas Hati Santa Perawan Maria Tak Bercela
Sarasehan Spiritualitas yang digelar di Gereja Katolik Hati Santa Perawan Maria Tak Bercela Kumetiran menjadi momen refleksi bagi umat untuk lebih memahami spiritualitas yang melandasi gereja mereka. Acara ini bukan sekadar pertemuan biasa, namun sebuah kesempatan untuk memperdalam hubungan dengan pelindung paroki, yakni HSPMTB (Hati Santa Perawan Maria Tak Bercela). Seperti yang disampaikan oleh Ibu Lusi dari panitia penyelenggara, "Makna utama dari sarasehan ini adalah agar umat semakin mengenal lebih dalam Hati Santa Perawan Maria Tak Bercela sebagai pelindung paroki kita."
Sarasehan ini merupakan gagasan dari Romo Paroki dan dilaksanakan oleh Panitia Paskah hingga Pesta Nama Santa Pelindung. Persiapan sudah dimulai sejak Februari, dan berkat dukungan dari Romo serta umat, segala tantangan dapat dihadapi dengan baik. "Umat mungkin hanya mengetahui Santa pelindung Paroki, tapi tidak memahami spiritualitasnya. Ini yang menjadi tujuan sarasehan," jelas Ibu Lusi.
Sarasehan ini memberikan kesempatan bagi umat untuk membawa pulang pemahaman yang lebih dalam tentang hati Bunda Maria. Mereka yang hadir pertama kali pun tidak perlu khawatir, karena seperti yang dikatakan Ibu Lusi, "Semua yang datang pasti akan membawa buah tangan saat pulang, terutama karena semakin mengenal Hati Bunda Maria." Dalam semangat keimanan, sarasehan ini juga sejalan dengan firman Tuhan dalam Lukas 2:19 : "Tetapi Maria menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya." Semoga melalui acara ini, umat semakin mampu meneladani keheningan dan kebijaksanaan Bunda Maria dalam perjalanan spiritual mereka.

Dokumentasi : Friedo | Anas
Kontributor : Bagaskara | Gelar | Dearis

✨ Paskah Anak: Momen Iman & Sukacita Si Kecil ✨“Paskah adalah kemenangan atas maut dan pintu keselamatan bagi kita semua...
16/06/2025

✨ Paskah Anak: Momen Iman & Sukacita Si Kecil ✨

“Paskah adalah kemenangan atas maut dan pintu keselamatan bagi kita semua!”
Di Gereja Katolik Hati Santa Perawan Maria Tak Bercela Kumetiran, perayaan Paskah Anak menjadi ruang istimewa untuk memperkenalkan kasih Yesus yang bangkit kepada anak-anak. Dalam misa khusus ini, anak-anak terlibat langsung: mulai dari nyanyian persembahan di depan altar hingga menerima parcel Paskah sebagai tanda kasih dan sukacita.

Ignatius Sigit Sudaryadi dari Tim Tata Perayaan menegaskan, “Kalau Yesus tidak bangkit, maka kita tidak dapat diselamatkan dan tinggal di rumah Bapa.”
Melalui keterlibatan aktif dan pengalaman liturgi sejak dini, anak-anak belajar bahwa iman bukan sekadar pengetahuan, tetapi hidup yang dijalani bersama Yesus.

Seperti tertulis dalam Lukas 18:16-17:
"Biarkanlah anak-anak itu datang kepada-Ku... sebab orang-orang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah."

Perayaan ini bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan investasi iman bagi generasi penerus Gereja.

📸 Dokumentasi: .lz
📝 Kontributor: .xelaa

Address

Kumetiran Kidul No. 13
Yogyakarta City
55272

Opening Hours

Monday 08:00 - 22:30
Tuesday 08:00 - 22:30
Wednesday 08:00 - 22:30
Thursday 08:00 - 22:30
Friday 08:00 - 22:30
Saturday 08:00 - 22:30
Sunday 08:00 - 22:30

Telephone

+62274518586

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Gereja Kumetiran posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Place Of Worship

Send a message to Gereja Kumetiran:

Share