Gereja Kristen Jawa ( GKJ ) Samironobaru dinyatakan sebagai gereja dewasa pada tanggal 1 Januari 1973 dari pepanthan GKJ Sawokembar. Walaupun sebagai gereja dewasa, kegiatan kebaktiannya masih menggunakan Wisma Immanuel karena memang belum memiliki Gedung gereja sendiri. Pada tanggal 9 Maret 1974, atas berkat Tuhan yang terwujud dari semangat warganya, GKJ Samironobaru dapat membeli sebidang tanah
seluas 875 M2 di Kampung Kepuh, Kecamatan Gondokusuman, berdekatan dengan Wisma Immanuel. Dalam perkembangan waktu selanjutnya, gereja dapat membeli tanah di sekitarnya dan hingga kini tanah yang dimiliki gereja seluas 2.030 M2
Pada tanggal 1 Januari 1976 , GKJ Samironobaru telah memanggil seorang Pendeta Jemaat atas diri bapak Pendeta Imam Sukardja, bertepatan dengan peletakan batu pertama pembangunan gedung gereja GKJ Samironobaru. Kehidupan berjemaat yang “ sehati-sepikir “ bergotong royong dalam karya nyata, satu tekad dan kesadaran tinggi untuk memiliki rumah ibadah sendiri akhirnya membuahkan hasil dengan dibangunnya sebuah gedung gereja dan dapat
diselesaikan pada tahun 1984 yang digunakan sebagai rumah ibadah sejak tanggal 10 Juni 1984 sampai saat ini. Hingga usianya yang ke 37 tahun ini, GKJ Samironobaru telah memiliki 9 (sembilan) wilayah dengan jumlah warga 1.484 orang termasuk warga dewasa sebanyak 1.113 orang. Pada saat ini GKJ Samironobaru dilayani oleh seorang pendeta jemaat atas diri Ibu Pdt Apy Heny Hartiningsih S.Th, M.Min sejak tahun 1999 karena bapak Pdt Imam Sukardja S.Th memasuki masa emiritus. GKJ Samironobaru telah menjadi tempat berhimpunnya orang-orang seiman dari berbagai latar belakang gerejawi dan budaya daerah di Indonesia karena sebagian dari warganya adalah mahasiswa yang menuntut ilmu di Yogyakarta.