Wihara Buddha Prabha memunyai nama asli Hok Tik Bio, terletak di Gondomanan sehingga dikenal juga dengan nama Wihara Gondomanan. Di dalam lingkungan umat Buddha di Indonesia, Wihara Buddha Prabha ini termasuk dalam Majelis Buddhayana Indonesia. Wihara Buddha Prabha diperkirakan selesai didirikan pada tanggal 15 Agustus 1990 oleh para pemuka masyarakat Tionghua pada masa itu. Bangunan wihara ini me
miliki luas bangunan 2500 meter persegi. Kemegahan Gondomanan adalah kado istimewa Sri Sultan Hamengkubuwono II kepada permaisuri beliau yang berasal dari Tiongkok. Tanahnya sendiri konon adalah pemberian dari Pangeran Gondomanan yang berada di sebelah timur Keraton Yogyakarta. Di Yogyakarta, awalnya masyarakat Tionghua menempati lahan seputar Pasar Beringharjo (Malioboro), kemudian sejak abad ke-19, pemukiman mereka meluas sampai di selatan Loji Agung, sebagaimana dicatat dalam Babad Mentawis Ngayogyakarta. Singkat cerita dalam perjalanan yang cukup panjang ketika dalam pencarian sebuah tempat yang memungkinkan untuk menggores lembaran baru dalam sejarah agama Buddha di Yogyakarta, bangunan ini kemudian ditemukan pada tahun 1971 oleh Pakme Santoso, Suhu Ting Ling, dan Pakme Hu Lan dalam kondisi yang sangat memperihatinkan. Sejak ratusan tahun, bangunan ini tidak pernah dikunjungi orang. Sejak saat itu, Pakme Santoso merasa terpanggil untuk merenovasi bangunan yang sudah berantakan tersebut, dengan prinsip mempertahankan bentuk asli yang sudah ada. Setelah dapat difungsikan, Pakme Santoso dan beberapa ibu lainnya yang masih sedikit jumlahnya melakukan puja bakti secara Mahayana, hingga kemudian Bhante Ashin Jinarakkhita, pelopor kebangkitan agama Buddha di Indonesia, memutuskan sembahyang yang pertama dilakukan pada tanggal 26 imlek, sekitar tahun 1975. Perenovasian wihara ini berkat jasa Pakme Santoso yang berbekal dari usaha sepatunya di Jalan Malioboro dan dana dari donatur. Pada tahun 1978, gambar-gambar yang menceritakan tentang kerajaan China pada tembok wihara dicat ulang. Untuk melestarikan gambar aslinya, Pakme membayar para pelukis untuk membuat gambar tersebut seperti aslinya pada seng kualitas terbaik. Kondisi selanjutnya memperlihatkan kemajuan pesat di Wihara Buddha Prabha, baik di bidang konstruksional maupun fungsional, hingga akhirnya terbentuk organisasi, seperti Generasi Muda Cetiya Buddha Prabha, Sekber PMVBI Provinsi DIY, dan Majelis Buddhayana Indonesia Provinsi DIY, di mana anggotanya adalah mayoritas mahasiswa Buddhis di Yogyakarta. Organisasi-organisasi ini memegang peranan penting terhadap perkembangan wihara ini. Sultan kemudian menghibahkan tanah tersebut untuk pendirian sebagai tempat peribadatan masyarakat Tionghua. Berkaitan dengan itu, ada dua tempat peribadatan di Kota Yogayakarta, yakni Wihara Buddha Prabha di Gondomanan, dan Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Kwan Tee kiong di Poncowinatan.