Haedar Nashir

Haedar Nashir Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2015-2027
(3)

PANCASILA HILANG DI MANA?Oleh: Haedar Nashir (Ketua Umum PP Muhammadiyah)Hari Lahir Pancasila diperingati setiap tahun. ...
01/06/2026

PANCASILA HILANG DI MANA?

Oleh: Haedar Nashir (Ketua Umum PP Muhammadiyah)

Hari Lahir Pancasila diperingati setiap tahun. Semoga peringatan hari kelahiran Pancasila tidak berhenti pada kemegahan upacara dan pidato kata-kata. Sementara agenda terpenting mengenai implementasi nilai-nilai luhur Pancasila terabaikan di dunia nyata. Tuntutan utamanya ialah lahir gerakan politik yang kuat secara kolektif dan tersistem untuk mewujudkan Pancasila dalam berbangsa dan bernegara.

Pancasila mesti benar-benar dijadikan praktik hidup pribadi, kolektif, dan sistem bernegara. Bagaimana mewujudkan praktik berpolitik yang menggambarkan Pancasila. Yakni politik berbasis musyawarah dan hikmah kebijaksanaan, bukan politik kuasa untuk menang-menangan. Mengelola partai politik mesti menjunjung tinggi nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, dan Keadilan sebagaimana terkandung dalam lima sila Pancasila.

Negara membikin lembaga untuk pembinaan ideologi Pancasila. Apakah nilai dasar Pancasila terbukti dilembagakan dalam sistem kehidupan politik, ekonomi, sosial, budaya, dan penyelenggaraan ketatanegaraan secara nyata.

Melembagakan Pancasila cukup pada pokok-pokok nilai dasarnya yang melahirkan alam pikiran, etika, dan orientasi kebijakan yang adiluhung. Melembagakan nilai Pancasila tidak perlu detail dan diarahkan menjadi pedoman praktis ala Orde Baru.

Pancasila itu ideologi moderat, dengan seluruh nilai dari lima silanya bersifat tengahan yang tidak ekstrem. Pancasila tidak berwatak sekuler, liberal, dan kapitalistik maupun marxisme dan ideologi ekstrem lainnya.

Pancasila sejalan dan tidak bertentangan dengan ajaran agama. Paham Pancasila moderat dalam memandang agama, tidak anti dan alergi agama. Karenanya pandangan tentang Pancasila maupun paham kebangsaan dan kenegaraan harus tetap moderat, tidak dibawa ke kanan atau ke kiri.

Pancasila mesti menjadi nilai dasar membangun Indonesia. Refleksikan apakah arah dan kebijakan pemerintahan Negara Republik Indonesia saat ini benar-benar sejalan dengan nilai-nilai Pancasila. Apakah berbagai perundang-undangan, peraturan, dan cara mengelola pemerintahan berbanding lurus dengan Pancasila.

Jangan sampai berbagai produk perundang-undangan dan kebijakan-kebijakan strategis negara lebih berkiblat pada kepentingan-kepentingan tertentu yang tidak sejalan dengan hajat hidup orang banyak dan nilai luhur Pancasila.

Pancasila penting dibumikan ke dunia nyata Indonesia. Indonesia masih memiliki masalah-masalah serius yang bersifat struktural. Korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, eksploitasi sumber daya alam, kesenjangan sosial, premanisme, dan praktik oligarki masih menjadi problem serius di negeri tercinta.

Apakah ada kebijakan-kebijakan signifikan untuk memecahkan masalah-masalah krusial itu secara masif dan sistematik dari pusat sampai daerah?

Agenda utama yang diperlukan saat ini ialah implementasi Pancasila secara serius dan sistemik dalam seluruh perikehidupan berbangsa-bernegara. Kuncinya terletak pada komitmen dan ikhtiar optimal seluruh aktor pelaksana Pancasila yakni para pejabat dan seluruh elite negeri yang mengawal Republik ini.

Pola pikir dan praktik hidup para penyelenggara pemerintahan negara maupun elite dan warga bangsa penting dicek-list apakah sudah sejalan dan mencerminkan nilai-nilai luhur Pancasila? Jangan anomali, jauh panggang dari api.

Apakah generasi milenial, generasi-Z, dan generasi Alfa di negeri tercinta mengetahui dan memahami Pancasila? Generasi belia Indonesia biasanya menuntut bukti dan keteladanan, bagaimana nilai-nilai luhur Pancasila itu benar-benar dipraktikkan dalam kehidupan nyata. Mereka perlu role-model dari seluruh pejabat, elite politik, dan tokoh bangsa sebagai guru bangsa yang benar-benar dapat digugu dan ditiru. Bagaimana berbangsa dan bernegara dengan benar, baik, dan penuh keluhuran yang membawa Indonesia makin maju, adil, makmur, berdaulat, dan bermartabat sarat makna.

Jika nilai dari setiap sila Pancasila sudah benar-benar diimplementasikan secara nyata dalam kehidupan pribadi, kolektif, dan penyelenggaraan bernegara maka Pancasila itu berarti hadir di Negara Indonesia tercinta. Jangan sampai wujud Pancasila itu ada seperti tiada. Kaya kata-kata tapi miskin praktik nyata. Sebab, jika Pancasila tidak terwujud dalam kehidupan nyata berbangsa dan bernegara, maka sejatinya ia hilang dari bumi Indonesia!

Innalillahi wa inna ilaihi rajiunKeluarga besar Muhammadiyah berduka atas wafatnya Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpi...
22/05/2026

Innalillahi wa inna ilaihi rajiun

Keluarga besar Muhammadiyah berduka atas wafatnya Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Hamim Ilyas, pada Sabtu (23/5) sekitar pukul 01.40 WIB di RSA UGM, Yogyakarta.

Almarhum sebelumnya menjalani perawatan di rumah sakit tersebut selama kurang lebih sepuluh hari. Setelah sempat pulang, kondisi beliau kembali menurun dan dirawat lagi sejak Rabu (20/5).
Muhammadiyah kehilangan sosok ulama, intelektual, sekaligus cendekiawan Muslim yang dikenal alim, teduh, dan rendah hati.

Pemikiran almarhum tentang Tauhid Rahamutiyah menjadi salah satu gagasan penting dalam pengembangan Islam Berkemajuan di Muhammadiyah.

Tauhid Rahamutiyah merupakan konsep teologi Islam yang menegaskan bahwa Allah Swt Yang Maha Esa memiliki sifat dasar rahmah atau kasih sayang.

Gagasan yang dipopulerkan Prof. Hamim Ilyas tersebut menempatkan kasih sayang transformatif sebagai inti keimanan dan amal saleh.

Dalam pandangan ini, seluruh ciptaan dan syariat Allah ditujukan untuk menghadirkan kemaslahatan, keadilan sosial, perdamaian, dan kesejahteraan umat manusia. Karena itu, ajaran Islam tidak berhenti pada tataran konseptual dan ritual semata, melainkan harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang membawa manfaat bagi kehidupan.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyampaikan duka cita yang mendalam atas wafatnya almarhum. Semoga Allah Swt. menerima seluruh amal ibadahnya, mengampuni segala khilafnya, serta menempatkannya di jannatun na’im.

Melakukan Grand Opening Gedung Ibrahim Tower 13 lantai milik RS Roemani Muhammadiyah Semarang pada Rabu (20/5).Hadirnya ...
21/05/2026

Melakukan Grand Opening Gedung Ibrahim Tower 13 lantai milik RS Roemani Muhammadiyah Semarang pada Rabu (20/5).

Hadirnya gedung ini diharapkan dapat membawa RS Roemani Muhammadiyah Semarang terus memperoleh kepercayaan masyarakat sekaligus menjadi bagian dari dakwah pelayanan kesehatan Muhammadiyah yang membawa keberkahan bagi umat.

Rumah sakit, lembaga pendidikan, sosial, ekonomi, dan berbagai institusi lain di Muhammadiyah disebut sebagai Amal Usaha Muhammadiyah (AUM). Istilah tersebut memiliki makna filosofis yang menyatukan dimensi spiritual dan ikhtiar duniawi. Amal itu dimensi langit, sedangkan usaha itu dimensi bumi atau duniawi. Maka menyatunya keduanya itulah yang menjadi amal usaha.

Dan Muhammadiyah tidak pernah lelah membangun kesehatan bangsa. Rumah Sakit Muhammadiyah tidak hanya hadir untuk melayani masyarakat yang sakit, tetapi juga bergerak dalam pelayanan kesehatan komunitas secara luas.

Meninjau persiapan launching TK ABA Semesta di Gamping, Sleman pada Selasa (12/5).Dari 20.000 lebih TK ABA di seluruh In...
13/05/2026

Meninjau persiapan launching TK ABA Semesta di Gamping, Sleman pada Selasa (12/5).

Dari 20.000 lebih TK ABA di seluruh Indonesia, harus ada yang menonjol dan menjadi pusat keunggulan (center of excellence).

TK ABA Semesta kedepan juga harus terintegrasi dengan TK ABA lainnya.

‘Aisyiyah merupakan pelopor Taman Kanak-kanak, sehingga harus mampu menjaga kepeloporan itu dan menjadi tetap yang terdepan untuk penyediaan pendidikan bermutu bagi anak-anak Indonesia.

Hari ini Kamis (7/5) menghadiri Groundbreaking Gedung KH Ahmad Dahlan Tower 20 Lantai Universitas Muhammadiyah Cirebon (...
07/05/2026

Hari ini Kamis (7/5) menghadiri Groundbreaking Gedung KH Ahmad Dahlan Tower 20 Lantai Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC).

Kemajuan Perguruan Tinggi Muhammadiyah-‘Aisyiyah (PTMA) bukan hanya diukur dari megahnya bangunan yang berdiri, tetapi sejauh mana keberadaannya mampu melahirkan generasi unggul, memperkuat ilmu pengetahuan, serta memberi manfaat nyata bagi masyarakat luas.

Diharapkan UM Cirebon kedepan dapat terus meneguhkan komitmennya sebagai perguruan tinggi yang unggul, inovatif, dan berkemajuan, sekaligus menjadi pusat pendidikan, penelitian, dan pemberdayaan masyarakat di wilayah Cirebon dan sekitarnya.

Mendidik dengan KeteladananOleh: Haedar NashirKetua Umum Pimpinan Pusat MuhammadiyahIndonesia memiliki cita ideal dan pr...
02/05/2026

Mendidik dengan Keteladanan

Oleh: Haedar Nashir

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah
Indonesia memiliki cita ideal dan proyek kemanusiaan raksasa, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Usaha mencerdaskan kehidupan bangsa adalah membangun sumberdaya insani yang cerdas akal budinya secara utuh, baik secara kognisi atau nalar dan ilmu pengetahuan, juga secara spiritual dan moral maupun sikap tindakan yang luhur. Pada saat yang sama tercipta ekosistem budaya cerdas, yakni sistem pengetahuan kolektif dan lingkungan kehidupan yang utama mengandung segala kebajikan hidup bersama.

Dalam diri insan dan ekosistem yang cerdas terkandung kehidupan serbautama seperti kejujuran, kebaikan, keterpercayaan, keadilan, etika luhur, kepedulian, keberbagian, toleransi, sikap tengahan, dan seluruh kebajikan terbaik lainnya. Pada saat yang sama terhindar dari kebodohan atau kejahiliyahan hidup seperti penyimpangan, kesewenangan, korupsi, keberlebihan, kekerasan, penindasan, dan segala sikap tindak yang merusak kehidupan.

Pendidikan merupakan jalan strategis berkelanjutan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Dalam UUD 1945 ditegaskan Pemerintah memiliki kewajiban konstitusional mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pemerintah juga bertanggungjawab memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia.

Adapun Tujuan pendidikan nasional menurut UU No 20 Tahun 2003 Pasal 3 adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Dengan demikian sangatlah tidak memadai jika pendidikan hanya menekankan aspek kognisi dan ranah keilmuan atau sains semata. Pendidikan harus bersifat holistik pada jantung utama mendidik manusia sebagai makhluk Tuhan yang utuh dengan lingkungannya yang mendukung. Seluruh proses pendidikan holistik tersebut tentu tidak akan sekali terwujud apalagi secara instan, tetapi menuntut usaha yang terus menerus secara berkesinambungan yang melibatkan semua pihak dan lembaga.

Di antara faktor yang sangat penting dalam usaha mendidik anak bangsa ialah keteladanan para pemimpin dan elite negeri, baik yang berada dalam sistem pemerintahan sebagai tanggungjawab konstitusional maupun para elite bangsa di lingkungan masyarakat luas. Keteladanan adalah segala keutamaan terkait perkataan, perilaku, sifat, atau perbuatan yang baik dan patut ditiru atau dicontoh oleh orang lain. Keteladanan berfungsi sebagai acuan positif untuk membentuk karakter dan tingkah laku yang baik. Jika para elite negeri menunjukkan keteladanan yang baik maka warga bangsa akan meniru dan mengikuti secara positif. Sebaliknya manakala hilang keteladanan, maka luruhlah daya tiru dan contoh kebajikan di negeri ini.

Kyai Haji Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah dan Pahlawan Nasional berkata, “Seorang pemimpin sejati dapat mengayomi dan memimpin dengan hati.”. Yakni hati yang cerdas sebagai akal-murni yang mencerahkan. Sementara Ki Hadjar Dewantara menyatakan dalam ujarannya yang terkenal, “Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani”. Artinya, di depan memberi teladan, di tengah membangun semangat, di belakang memberi dorongan.

Kini, ketika Indonesia memeringati Hari Pendidikan Nasional, maka di antara yang sangat penting dan mendesak untuk dihadirkan ialah keteladanan dari para pendidik dan aktor penyelenggara lembaga pendidikan. Demikian halnya keteladanan dari seluruh pemimpin dan elite bangsa di berbagai lingkungan kehidupan. Keteladanan para guru dan seluruh pihak yang terlibat dalam dunia pendidikan maupun para orangtua di lingkungan keluarga sangatlah diperlukan. Sebagaimana pepatah, “Guru kencing berdiri, Anak didik kencing berlari”, yang berlaku untuk semua aktor di dunia pendidikan maupun secara umum para pemimpin dan elite di negeri tercinta.

Keteladanan pendidik dan elite negeri berpengaruh atas keberhasilan pendidikan dalam mencapai tujuannya. Apalah artinya pendidikan tanpa keteladanan sebagai role-model untuk menjadi rujukan nyata para siswa dan seluruh generasi bangsa. Apalah makna kedahsyatan kata-kata dan pidato para pemimpin serta elite bangsa di semua kesempatan tentang pentingnya sumberdaya manusia dan kebudayaan yang luhur dan utama, jika tidak disertai keteladanan dalam wujud sikap dan tindakan nyata.

Keteladanan mesti menjadi gerakan bersama seluruh komponen bangsa, termasuk tua dan muda di berbagai lingkungan. Seperti pesan pepatah dalam Tunjuk Ajar Melayu: “Elok muda menjaga laku, Elok tua menjaga malu. Elok muda menjaga negeri, Elok tua menjaga budi”. Jangan sampai di negeri ini hilang keteladanan karena hidup terlalu mengejar materi, kesenangan inderawi, dan segala kesuksesan duniawi yang mengabaikan nilai luhur, moral, dan etika.

Mari bangkitkan gerakan keteladanan dimulai dari para pemimpin dan elite bangsa sebagai pemilik kuasa wibawa. Pemimpin dan elite bangsa itu laksana jantung di tubuh bangsa. Bila jantung melemah dan berhenti berdetak, maka terputuslah pasokan darah ke seluruh organ tubuh manusia, sebagai penanda akhir kehidupan. Jangan sampai Republik ini terhenti denyut nadi kehidupannya karena tiada detak jantung keteladanan dari para elite pemimpin bangsa.

Seluruh subjek didik dan generasi belia di Republik tercinta saat ini sungguh haus keteladanan. Generasi Z dan Alfa memerlukan uswah hasanah yang memberi jalan dan arah hidup mereka yang benar dan sarat makna. Keteladanan bukan dalam jargon pidato dan keindahan retorika. Keteladanan bukan dalam wajah digdaya para pemegang kuasa maupun keagungan simbolik para tokoh wibawa di dunia maya. Kata kuncinya sangatlah sederhana, keteladan di dunia nyata dalam wujud “kata sejalan tindakan, yang luhur dan serbautama”!

Pimpinan Pusat Muhammadiyah bersama dengan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan lakukan Penandatang...
24/04/2026

Pimpinan Pusat Muhammadiyah bersama dengan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan lakukan Penandatanganan Kerja Sama Strategis Program Jaminan Sosial Ketenagakerjaan, Investasi, dan Pengembangan Catur Dharma Perguruan Tinggi.

Kerjasama ini merupakan sebuah langkah penting. Bukan hanya sekadar formalitas, namun perlu diwujudkan menjadi program-program strategis bersama, utamanya dalam hal pelayanan dan perlindungan tenaga kerja.

Muhammadiyah dalam melakukan gerakan dakwahnya tentu melibatkan banyak sekali tenaga kerja. Bagaimana para tenaga kerja dapat terjamin hak-hak dasarnya, memberikan kepastian hukum yang jelas, serta memberikan perlindungan bagi pekerja dari perlakuan tidak adil atau risiko bahaya selama bekerja.

Menghadiri penandatanganan Nota Kesepahaman antara Pimpinan Pusat Muhammadiyah dengan Universitas Indonesia (UI) sekalig...
14/04/2026

Menghadiri penandatanganan Nota Kesepahaman antara Pimpinan Pusat Muhammadiyah dengan Universitas Indonesia (UI) sekaligus menyampaikan Kuliah Umum bertajuk Intelektual, Masyarakat Sipil, dan Perubahan Sosial yang digelar di Balai Sidang Universitas Indonesia pada Senin (13/4).

Peran intelektual tidak boleh berhenti pada aktivitas akademik semata, melainkan harus menghadirkan pencerahan dan pembebasan bagi kehidupan masyarakat.

Intelektual memiliki tanggung jawab moral untuk menghadirkan pemikiran yang mampu mengatasi berbagai persoalan umat dan bangsa.

Keilmuan yang dikembangkan tidak cukup hanya bersifat teoritis, tetapi harus berorientasi pada perubahan sosial yang lebih adil dan berkemajuan.

Kehidupan kebangsaan saat ini masih terdapat kecenderungan berpikir dangkal dan hanya melihat realitas pada permukaan. Karena itu, intelektual dituntut mampu menggali makna yang lebih substantif dari setiap persoalan serta menghadirkan solusi yang mencerahkan.

Fungsi intelektual sejatinya adalah membebaskan manusia dari berbagai bentuk keterbelakangan, baik dalam aspek pemikiran, budaya, maupun kehidupan sosial.

Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menerima kunjungan Duta Besar (Dubes) Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi pada Se...
08/04/2026

Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menerima kunjungan Duta Besar (Dubes) Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi pada Selasa (7/4) di Kantor PP Muhammadiyah Jakarta Pusat.

PP Muhammadiyah menyampaikan bela sungkawa atas perang dan tragedi kemanusiaan di Iran akhir-akhir ini. Namun di sisi lain, kita optimis perang di berbagai belahan bumi manapun untuk segera diakhiri atas nama kemanusiaan dan perdamaian.

Bagi kami peristiwa atau tragedi ini bukan menyangkut Iran sebagai entitas bangsa atau negara yang semata-mata Islam, tapi jauh lebih daripada itu Iran yang merdeka dan berdaulat, semua berhak hidup damai, tanpa serangan oleh siapapun dan atas nama apapun.

Perang dan agresi militer dari satu negara ke negara lain bukan hanya menghancurkan entitas satu negara, melainkan juga menghancurkan sebuah peradaban. Selain itu, terjadinya agresi yang tidak bisa dihentikan oleh hukum internasional menunjukkan gelapnya peradaban modern kini.

Maka PP Muhammadiyah menyampaikan simpati, kepedulian, dan juga menyampaikan keprihatinan, sekaligus juga kami percaya Iran mampu keluar dari tragedi yang merusak peradaban ini dan nantinya akan tumbuh menjadi negara yang kuat.

Gugur sebagai Syuhada BangsaInnalillahi wa inna ilaihi rojiun.Turut berduka cita yang mendalam atas gugurnya prajurit TN...
31/03/2026

Gugur sebagai Syuhada Bangsa

Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.
Turut berduka cita yang mendalam atas gugurnya prajurit TNI, Praka Farizal Romadhon, dalam menjalankan tugas mulia sebagai bagian dari misi perdamaian dunia United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL). Dukacita yang sama juga kepada dua prajurit TNI lainnya yang telah terkonfirmasi meninggal dunia.

Khusus almarhum Praka Farizal Romadhon merupakan anggota keluarga besar Muhammadiyah, yang telah menunjukkan pengabdian, keberanian, dan ketulusan dalam menjaga perdamaian dunia. Gugurnya Almarhum menjadi kehilangan besar, tidak hanya bagi TNI dan bangsa Indonesia, tetapi juga bagi Muhammadiyah.

Kami mendoakan semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah para almarhum, mengampuni dosa-dosanya, serta menempatkan mereka di tempat terbaik di sisi-Nya. Kepada keluarga yang ditinggalkan, semoga diberikan ketabahan, kekuatan, dan keikhlasan.

Kita telah kehilangan tiga tunas bangsa dan negara. Pengorbanan para prajurit pembawa misi perdamaian adalah teladan tentang cinta tanah air dan komitmen terhadap kemanusiaan.

Kaum belia Indonesia lainnya perlu meniru pengabdiannya, sesuai dengan bidang dan tugas masing-masing di seluruh tanah air tercinta!

Address

Yogyakarta City

Opening Hours

Monday 09:00 - 17:00
Tuesday 09:00 - 17:00
Wednesday 09:00 - 17:00
Thursday 09:00 - 17:00
Friday 09:00 - 17:00
Saturday 09:00 - 17:00
Sunday 09:00 - 17:00

Telephone

+62274553132

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Haedar Nashir posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Place Of Worship

Send a message to Haedar Nashir:

Share