10/05/2018
Rasulullah dan seorang pengemis
Rasulullaah adalah pemilik akhlaq yang sangat mulia, beliau adalah teladan bagi seluruh umat Muslim, seperti firman Allah yang termaktub di dalam Al-Qur'an surah Al-Ahzab ayat 21.
"Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah."
(Al-Qur'an Surah Al-Ahzab 33: Ayat 21)
Begitu mulianya akhlaq Rasulullaah shalallaahu 'alaihi wasallam, sehingga kita patut meneladaninya, banyak sekali hal yang dapat kita teladani dari akhlaq Rasulullaah diantaranya pemaaf dan tidak pemarah, yang dapat ditilik dari kisah Rasulullah dengan seorang pengemis yang menjelek-jelekkan beliau.
Suatu ketika Abu Bakar r.a. berkunjung ke rumah anaknya, 'A'isyah r.a., salah seorang istri Nabi.
Abu Bakar r.a. bertanya kepada anaknya, "Wahai anakku, adakah sunnah kekasihku, Rasulullaah saw., yang belum aku kerjakan?"
'A'isyah r.a. menjawab, "Wahai Ayah, engkau adalah ahli Sunnah. Hampir tidak ada satu Sunnah pun yang belum Ayah lakukan, kecuali satu."
"Apakah itu?" Abu Bakar r.a. penasaran.
"Setiap pagi Rasulullaah saw. pergi ke sudut pasar Madinah dengan membawa makanan dan menyuapi seorang pengemis Yahudi buta di sana," kata 'A'isyah r.a.
Meskipun sering dicaci maki dan dijelek-jelekkan, setiap pagi Rasulullah mendatanginya sembari membawa makanan.
Tanpa mengguratkan kekesalan, beliau menyuapi pengemis buta tersebut dengan lemah lembut dan penuh kasih sayang.
Setiap kali suapan masuk ke mulut pengemis itu, akan terdengar pesan kebencian kepadanya, agar tidak mendekati orang bernama Muhammad.
Rasulullah tak pernah marah kepadanya. Beliau juga tak pernah memusuhi pengemis buta itu. Malahan, beliau menyuapinya setiap pagi hingga beliau wafat.
Setelah Rasulullah wafat, tidak ada lagi orang yang membawakan makanan dan menyuapi pengemis Yahudi buta itu.
"Oh, begitu.... Baiklah, besok akan kubawakan makanan kepada pengemis buta itu," ujar Abu Bakar r.a. mantap.
Keesokan harinya Abu Bakar r.a. pergi ke pasar membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis itu. Dia mendatangi pengemis itu dan menyuapinya.
Ketika dia mulai menyuapi, si pengemis marah sambil berteriak, "Siapakah Kamu?"
Abu Bakar r.a. menjawab, aku orang yang biasa menyuapimu."
"Bukan! Kau bukan orang yang biasa mendatangiku," teriak pengemis buta itu.
"Apabila dia (Rasulullah) datang kepadaku, tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah."
"Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu makanannya dihaluskan dengan mulutnya. Setelah itu dia berikan kepadaku dengan tangannya sendiri," ujar pengemis itu marah.
Abu Bakar r.a. tidak dapat menahan air matanya. Dia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, "Aku memang bukan orang yang biasa datang kepadamu. Aku adalah salah satu sahabatnya. Orang yang mulia itu telah tiada. Dia adalah Muhammad Rasulullah saw."
Mendengar tangisan Abu Bakar r.a., dan tahu bahwa orang yang selama ini menyuapinya itu selalu dicaci maki, dilecehkan dan direndahkan martabatnya, pengemis itu pun berkata "Benarkah demikian?"
"Selama ini aku menghinanya, memfitnahnya, tetapi dia tidak pernah memarahiku sedikit pun. Dia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi. Dia begitu mulia," rintihnya penuh penyesalan.
Kemudian pengemis buta itu, dengan segenap hati, mengucapkan ikrar dua syahadat di hadapan Abu Bakar r.a.
"Asyhadu anlâ ilâha illallâh wa asyhadu anna muhammadan rasûlullâh."
Dari kisah tadi, kita dapat memetik hikmah yang telah Rasulullah teladankan kepada kita. Beliau tak pernah marah kepada sang pengemis meski telah dijelek-jelekkan olehnya. Beliau memaafkan kata-kata sang pengemis yang menjelekkan dirinya. Beliau tetap berbuat baik terhadapnya, tidak marah sekalipun kepada sang pengemis dan tetap menyuapinya makan setiap pagi hingga beliau wafat.
Semoga dengan kisah tadi kita dapat memetik hikmah dan pelajaran serta meneladani akhlaq yang telah Rasulullah ajarkan kepada kita.