09/04/2020
Dalam al-Muntakhabat, Hadlratusy Syekh KH. Achmad Asrori Al-ishaqi RA menafsirkan basmalah dengan penafsiran Isyari yang sangat menarik. Menurut Beliau, “bismillaahirrahmaanirrahiim” memiliki tiga isyarat.
Pertama, petunjuk wujud Allah. Kedua, petunjuk wujud Rasulillah Muhammad SAW. Ketiga, petunjuk wujud semua ciptaan Allah.
Isyarat pertama diambil dari lafal jalalah (Allah). Sebab lafal jalalah adalah isim Zat yang wajib wujud. Lafal jalalah adalah isim Zat yang mengakomodir dan mengumpulkan semua asmaul husna yang lain. Kalau dalam Ilmu Nahwu, lafal jalalah adalah a’raful ma’arif, isim makrifat yang paling makrifat.
Isyarat kedua diambil dari kata al-Rahman. Sebab makna al-Rahman adalah Zat yang menganugerahi nikmat-nikmat yang agung. Dan telah maklum bahwa eksistensi Nabi Muhammad SAW adalah kenikmatan teragung yang pernah dianugerahkan oleh Allah SWT kepada kita.
Isyarat ketiga diambil dari kata al-Rahim. Sebab makna al-Rahim adalah Zat yang menganugerahi nikmat-nikmat yang halus/lembut. Karena telah maklum p**a bahwa seluruh ciptaanNya, apa pun itu, bila dinisbatkan dan dibandingakan dengan nikmat diutusnya Nabi Muhammad SAW untuk semesta alam adalah sesuatu yang sangat kecil dan remeh nilainya. Mungkin suatu nikmat tersebut akan terlihat besar dan luar biasa manfaatnya bagi kehidupan manusia. Namun sekali ia dibandingkan dengan nikmat diutusnya Nabi SAW, seketika ia menjadi tampak kecil lagi remeh.
Sehingga tidak ada nikmat satupun, kecuali Rasulullah Muhammad SAW adalah nikmat yang lebih agung, lebih besar, dan lebih sempurna dari yang lain.
Kenapa nikmat diutusnya Nabi SAW disebut sebagai nikmat yang paling agung?. Karena kalau kita mengacu pada (doktrin) ajaran tentang Nur Muhammad yang menyatakan bahwa semua makhluk –tanpa terkecuali—diciptakan dan kecipratan nur tersebut dengan kadarnya masingmasing, berarti kita dan semua kenikmatan dunia bahkan alam semesta ini tidak akan pernah ada. Dan juga, orientasi serta manfaat yang telah dan akan diberikan oleh Nabi SAW tak hanya sebatas di dunia ini saja, namun juga di akhirat nanti dengan adanya konsep syafaat. Semoga kita semua memperoleh syafaat dari Beliau, Asysyaafi’il Musyaffa’. Amin.
***
Yang ini bisa ditiru. Di awal akan dimulainya sebuah rapat (kecil), Kepala Pondok kami, al-Ustaz Dr. KH. Muhammad Musyaffa’ membimbing kami untuk membaca tiga shalawat ini sebanyak tiga kali. Kalau rapat besar dan pesertanya dalam jumlah banyak, di Alfithrah Kedinding SOPnya biasanya dimulai dengan istighatsah singkat dan shalawat fii Hubbi. Dan tulisan di atas juga saya kutip dari disertasi doktoral Ust. Musyaffa’.
Dan kalau yang ini tak perlu ditiru. Setiap kali saya menyeduh kopi (sachetan), saat mengaduknya dengan menggunakan sachet kopi itu sendiri yang dilinting, sebisa mungkin saya juga sambil membaca tiga shalawat ini sebanyak tiga kali.
*Urutan shalawat ini ada yang ketuker. Yang nomor dua (habibil mahbub) haruse dibaca pertama kali. Dan yang pertama (thibbil qulub), haruse di urutan kedua.