21/09/2026
Tiga Hari Bandung Bersama Gus Salam YS, Hidupkan Kesadaran hingga Baitullah
Pengetahuan Banyak, Tapi Sudahkah Kita Sadar?
BANDUNG — Pengetahuan bisa membuat seseorang tahu banyak hal. Namun, pengetahuan belum tentu membuat hidup berubah. Di situlah kesadaran mengambil peran penting—mengubah apa yang diketahui menjadi sesuatu yang benar-benar dihayati dan dijalani.
Pesan inilah yang akan disampaikan Gus Salam YS, penulis, pendidik, sekaligus pembimbing ruhani yang mengembangkan gerakan spiritual modern berbasis Asmaul Husna Quotient (AHQ), dalam rangkaian syiarnya di Bandung, Jawa Barat, pada 23–26 September 2026.
Mengusung tema “Mengapa Kesadaran Lebih Penting daripada Pengetahuan?” Gus Salam YS akan hadir dalam kajian inspiratif di Masjid Al Ihsan Kopo Permai II, Rabu, 23 September 2026, mulai pukul 09.00 hingga 11.00 WIB.
Kajian tersebut mengajak peserta melihat kembali hubungan antara ilmu, refleksi, dan tindakan dalam kehidupan sehari-hari.
Sebab, mengetahui sesuatu adalah satu hal. Menyadari dan menjadikannya sebagai bagian dari perjalanan hidup adalah hal yang berbeda.
“Pengetahuan memberi tahu, tapi kesadaran mengubah hidup.”
Pesan tersebut menjadi titik refleksi, bahwa perubahan yang bermakna tidak selalu dimulai dari bertambahnya pengetahuan. Ia bisa dimulai ketika seseorang berani berhenti sejenak, melihat ke dalam diri, kemudian menyadari apa yang selama ini dijalani.
Kesadaran sebagai Pondasi Perubahan
Sehari setelahnya, Kamis, 24 September 2026, Gus Salam YS kembali hadir dalam Kajian Islami di Masjid Lembang Al Azizah.
Kali ini tema yang diangkat adalah “Kesadaran adalah Pondasi Perubahan”
Dalam kehidupan yang terus bergerak, perubahan menjadi sesuatu yang hampir tidak bisa terhindarkan. Namun, tidak semua perubahan menghasilkan kehidupan yang lebih baik.
Tanpa kesadaran, perubahan bisa saja hanya berlangsung sementara. Seseorang mungkin mengubah kebiasaan, lingkungan, bahkan cara hidup, tetapi tanpa kesadaran yang tumbuh dari dalam, perubahan tersebut belum tentu bertahan.
Sebaliknya ketika kesadaran hadir, perubahan memiliki akar.
Kajian yang berlangsung pukul 09.00–11.30 WIB tersebut menjadi ruang untuk kembali melihat ke dalam diri. Apa yang perlu diperbaiki, apa yang perlu dilepaskan, dan ke arah mana kehidupan hendak dibawa.
Dalam perspektif AHQ, kesadaran bukan sekadar aktivitas berpikir. Kesadaran menjadi bagian dari perjalanan manusia untuk mengenali dirinya, menghadirkan nilai-nilai Asmaul Husna dalam kehidupan, kemudian menerjemahkannya melalui sikap dan tindakan.
Dari Kesadaran Menuju Perjalanan Baitullah
Rangkaian kegiatan kemudian berlanjut pada Sabtu, 26 September 2026 melalui agenda Kajian Hakikat Umrah “Jalan Barokah Menuju Baitullah” bersama PT Amisya Mubarokah Dauly Haji & Umroh.
Bertempat di Resto Almaz Fried Chicken Soekarno Hatta, Bandung, kegiatan ini menghadirkan Gus Salam YS sebagai pembicara utama bersama Dr Diah Gusrayani MPd, dosen sekaligus public speaker.
Mengangkat semangat “Menggali Hakikat Umrah, Menguatkan Niat, Menggerakkan Syiar”, agenda tersebut tidak hanya berbicara tentang perjalanan menuju Tanah Suci.
Lebih jauh dari itu, perjalanan umrah ditempatkan sebagai bagian dari perjalanan batin seorang manusia menuju Baitullah.
Karena perjalanan ke Tanah Suci bukan semata-mata berpindah tempat. Ada perjalanan niat di dalamnya. Ada proses mempersiapkan hati. Ada upaya memahami kembali untuk apa seseorang datang memenuhi panggilan Allah.
Dengan semangat tersebut, kegiatan ini juga membuka ruang bagi peserta yang ingin mengenal lebih jauh tentang perjalanan umrah, termasuk sebagai marketing, mitra syiar, maupun calon pesyiar Baitullah.
“Bukan hanya tentang menjual perjalanan umrah, tetapi menjadi bagian dari perjalanan seseorang menuju Baitullah.”
——
Pengetahuan mengajarkan manusia untuk tahu.
Kesadaran mengajarkan manusia untuk berubah.
Dan perubahan mengarahkan manusia untuk menjalani hidup dengan niat yang lebih bermakna.
Dari ruang kajian, kesadaran diajak tumbuh. Dari kesadaran, perubahan mulai dibangun. Dan dari perubahan itulah seseorang diharapkan mampu menghadirkan nilai-nilai kebaikan dalam perjalanan hidupnya.
Melalui pendekatan Asmaul Husna Quotient (AHQ), Gus Salam YS selama ini membawa gagasan tentang pentingnya menghadirkan nilai-nilai Ilahiah dalam kehidupan manusia, bukan berhenti pada pengetahuan tentang nama-nama Allah, tetapi menghidupkannya dalam sikap, karakter, dan tindakan.
Rangkaian kegiatan di Bandung pada 23–26 September 2026 pun menjadi kesempatan untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan.
Pada akhirnya, perjalanan hidup bukan hanya tentang seberapa banyak yang kita ketahui, tetapi tentang seberapa sadar kita menjalani apa yang telah kita ketahui. (*)