04/01/2026
Dari tanah suci Bangkalan, di makam sang guru besar Nusantara Syaikhona Moh. Cholil, langkah sejarah dimulai lagi.
Gus Yahya hadir bukan hanya sebagai pemimpin, tapi sebagai penyambung ruh.
Napak tilas ini adalah jalan mengingat: bahwa NU lahir bukan dari kesepakatan biasa, melainkan dari restu langit yang diantarkan melalui jejak para wali.
Dengan subuh berjamaah dan tahlil khidmat, setiap langkah dimulai dari doa.
Lalu tongkat dan tasbih pun bergerak dari tangan dzurriyah Kiai As’ad - Romo Yai Raden Azaim Ibrahimy, menyusuri estafet spiritual kepada dzurriyah KH Muhammad Hasyim Asy’ari, lalu ke Rais Aam, hingga akhirnya sampai ke tangan Ketua Umum PBNU.
Tasbih itu bukan sekadar benda. Itu adalah mandat: bahwa menjalankan organisasi sebesar NU harus tetap berpijak pada dzikir, ketenangan, dan kesadaran bahwa kita hanya penerus amanah para muassis.
Di sini, sejarah berbisik:
“Jangan hanya jalankan struktur.
Jalankan juga ruhnya.
Jaga sanadnya,
jaga restunya,
jaga niatnya.”
Melangkah dari Bangkalan hingga Jombang, kita diajak menghidupkan kembali ingatan kolektif bahwa NU adalah kisah tentang sambung-sanad, sambung-ruh, dan sambung-semangat yang tak boleh terputus.
Semoga napak tilas ini mengingatkan kita semua:
NU takkan pernah berjalan sendiri. Ia selalu digerakkan oleh doa dari masa lalu, dan diwariskan untuk masa depan.