16/02/2020
Telah berp**ang pdt. em. Supangat. Semasa hidupnya, beliau melayani di GKJ Wonosari, Gunungkidul.
Beliau-lah yang membaptis saya sewaktu masih anak-anak.
Pada zaman dulu, wilayah pelayanan GKJ Wonosari sangat luas. Bahkan sampai menjangkau wilayah pantai selatan seperti di Planjan, Kemadang, dan Karang Ngawen. Kalau tidak salah, GKJ Wonosari dulu pernah punya lebih dari 10 kring dan pepanthan. Sebelum pdt. Supiarso menjadi pendeta, pak Pangat melayani semua itu sendirian. Bayangkan betapa repotnya.
Jangan dibayangkan pak Pangat menjangkaunya dengan mobil. Beliau mengendarai Honda CB untuk menuju ke tempat pelayanan yang jaraknya bisa sampai 40 km itu. Pada saat itu, hampir sebagian wilayah Gunungkidul belum teraliri listrik dan sepi.
Pada suatu hari, saat sedang perjalanan pelayanan, pak Pangat mengalami kecelakaan parah. Terutama pada kakinya. Dokter di rumah sakit Berhesda menyarankan agar kakinya diamputasi. Namun pak Pangat menolak. Dia memutuskan untuk mempertahankan kakinya, apa pun yang terjadi. Meski itu nyawa sebagai taruhannya karena terkena infeksi.
Ternyata keputusannya tepat. Luka-luka di kakinya dapat sembuh. Mungkin ini adalah sebuah keajaiban. Namun kecelakaan itu membuat lutut di kakinya tidak dapat ditekuk. Sejak saat itu, pak Pangat berjalan dengan terpincang-pincang.
Namun semangat pelayanannya tetap berkobar. Karena sudah mustahil mengendarai sepeda motor, maka gereja membelikan mobil tronthong warna hijau. Mobil inilah yang setia mengantarkan pak Pangat menjalani tugas pelayanan selama puluhan tahun berikutnya.
Ciri khas pak Pangat adalah menjabat tangan orang lain dengan genggaman yang sangat kuat. Hampir seperti remasan. Ini adalah bukti kehangatan dan keramahan pak Pangat pada sesiapa pun.
Jujur saja, sewaktu kecil saya sering sebel kalau pak Pangat sedang berdoa syafaat. Bisa lamaaaaaaaaaa sekali. Maklum anak kecil, nggak sabaran ingin segera jajan bakso di Taman Bunga usai p**ang dari gereja.
Sugeng kondur pak Pangat. Benih-benih yang ditaburkan pak Pangat ini sudah bertumbuh menjadi gereja-gereja dewasa. (copas dari sahabat GKJ )