12/06/2024
Kegelisahan Kami Sebagai Seorang Kader NU
Polemik pro kontra perizinan pengelolaan tambang oleh PBNU memang menuai pro dan kontra di tengah masyarakat. Sebagai kader NU, berikut adalah curhatan yang mewakili kami sebagai kader NU di bawah akan kegelisahan yang dirasakan melihat tudingan dan cercaan yang ditujukan kepada organisasi yang menjadi rumah tercinta perjuangan dan berkhidmah ini.
Bukan rakus atau haus kekuasaan, melainkan sebuah ikhtiar untuk meraih kemajuan demi kemaslahatan umat secara luas. Bukankah setelah sekian lama dimiskinkan dan dipinggirkan, NU pun berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk membangun bangsa?
Simak catatan Wakil Katib PWNU DIY Yai Fajar Abdul Bashir ini dengan kepala dingin. Semoga dapat menambah perspektif kita dalam menyikapi polemik yang terjadi.
NU Tidak Boleh Maju?
NU Harus Miskin?
Itulah kira-kira anggapan orang-orang yang ribut dan mempersoalkan izin pengelolaan tambang oleh PBNU. Anehnya, banyak orang NU juga ikut ribet seperti kesambet. Coba orang-orang NU yang ikut ribet itu dikasih tahu bahwa ada gedung Madrasah Ma'arif yang hampir roboh dan minim fasilitas, apakah mereka akan ramai-ramai berdonasi membangun gedung Madrasah Ma'arif tersebut? Jawabannya tidak. Malah tambah mencela, "Pendidikan NU tidak bermutu dan tidak maju."
Ironisnya, ungkapan ini sering muncul dari orang-orang NU sendiri. Nah, sekarang NU akan berikhtiar mencari solusi pembiayaan melalui pengelolaan tambang. Mereka berteriak keras dengan alasan yang tidak jelas. Kenapa tidak menolak pengelolaan tambang sejak dulu ketika dikelola oleh pihak asing dan para konglomerat?
NU itu dulu sudah mati-matian memperjuangkan bangsa Indonesia. Pasca Soekarno, NU dikebiri selama 32 tahun di masa Orde Baru. NU sama sekali tidak diberi kesempatan sedikitpun "menikmati" kemerdekaan. NU sengaja dimiskinkan, tidak ada sekolah, apalagi perguruan tinggi. Kalaupun toh ada sekolah Ma'arif, itupun dibuat la yamutu wala yahya. Satu-satunya yang bisa berkembang adalah pesantren, karena pesantren NU dulu dibuat bersama-sama masyarakat, itupun dengan fasilitas yang serba terbatas.
Setelah Orde Baru runtuh, NU mulai bangkit dan diberi kesempatan untuk ikut andil, bukan andil utama, ke dalam sistem pengelolaan negara. Perlahan-lahan NU mulai membangun fasilitas pesantren dan pendidikan umum.
Nah, sekarang baru mau sedikit menikmati tanah airnya sendiri dengan diberi kesempatan mengelola tambang, sudah banyak yang berteriak keras. Bahkan tidak sedikit orang-orang NU sendiri juga terhasut ikut berteriak tidak karuan.
Saya ingatkan, NU itu sudah terbiasa "puasa" dan insyaAllah tidak haus kekuasaan dan materi. Kesetiaan NU untuk bangsa Indonesia tidak diragukan. Namun, saat ini PBNU hanya ingin berikhtiar dan meminta haknya sebagai warga negara untuk ikut membangun bangsa. Tapi kalian sudah berteriak keras seolah NU rakus, NU politis, NU kadunyan, dan lain-lain. Saya katakan "Tidak". NU tidak seperti yang kalian bayangkan. Jangan hanya tambang, jiwa dan ragapun diserahkan untuk bangsa ini. Apa yang dilakukan PBNU saat ini semata berikhtiar demi kemaslahatan umat secara keseluruhan. Dalam hal ini, saya salut terhadap Ketum Gus Yahya yang terus berjalan maju dan tidak memperdulikan riuh-riuh orang-orang yang tidak ingin NU "Jaya".
Terus maju PBNU! Saya berani mengatakan NU wajib ikut mengelola tambang selama perizinan IPAL-nya sesuai undang-undang dan keperuntukannya demi kemaslahatan umat.
Fajar Abdul Bashir
(Wakil Katib PWNU DIY)