Komisi Remaja Efrata Tulungagung

Komisi Remaja Efrata Tulungagung Komisi Remaja "EFRATA" GKAA Tulungagung
Jl. P.Diponegoro 30 Tulungagung

Persekutuan Remaja : Setiap Sabtu pukul 18.30 WIB

P.A : Setiap Rabu pukul 18.30

15/02/2016

KEMBALI DAN SEMAKIN KUAT

Baca: Lukas 22 : 24-38

Tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu." (Lukas 22:32)

Ada yang menarik di balik cidera parah yang dialami oleh Luke Shaw, bek kiri klub Manchester United, saat bertanding melawan PSV Eindhoven pada September 2015. Kaki kanannya patah akibat tebasan kaki pemain PSV, membuatnya mengerang kesakitan. Ia diperkirakan akan absen bertanding minimal enam bulan. Dukungan pun mengalir dari berbagai pihak, terutama dari rekan-rekan Shaw di Manchester United. Kiper David de Gea berkicau di akun Twitter: “Kami berharap kamu kembali dalam kondisi lebih kuat.”

Yesus bukan hanya berharap, tapi mempersiapkan Petrus, agar tetap kuat dalam menghadapi pencobaan. Yesus tahu Petrus akan gagal. Dia tidak berdoa supaya Petrus batal menyangkal-Nya, tetapi Dia berdoa agar iman Petrus jangan sampai gugur. Yesus pun menyatakan harapan-Nya, agar Petrus dapat kembali dari masa-masa sulit yang dialaminya dengan kondisi lebih kuat. Yesus berharap agar masa-masa sulit yang dialami Petrus bukan hanya akan membuatnya lebih kuat—secara iman dan mental—melainkan juga dapat menguatkan orang lain.

Dalam hidup ini, meskipun kita mengalami masa sulit, Tuhan tidak akan membiarkan kita terpuruk. Justru Dia berharap kita dapat lebih kuat setelah masa sulit itu berlalu, supaya kita dapat menolong orang lain yang sedang mengalami masa sulit juga. Jika saat ini kita diizinkan mengalami pergumulan, kegagalan, atau jatuh dalam dosa, terimalah penguatan iman dan semangat dari Tuhan. Segera bangkit dan jadilah kuat, karena Tuhan mau memakai hidup kita untuk menolong sesama.

MASA-MASA SULIT DAPAT MEMPERLEMAH ATAU,
SEBALIKNYA, JUSTRU MEMPERKUAT KITA

22/10/2014

DOA ITU MENGUBAHKAN
Lukas 22:39-46

Ketika bergumul dengan kanker tulang, pada saat-saat terakhir hidupnya teman saya menulis, “Saya percaya doa tidak selalu mampu mengubah keadaan, tapi mampu mengubah cara pandang saya. Saya percaya doa tidak mampu mengembalikan mereka yang saya cintai, tapi mampu memberikan kebahagian bagi mereka. Saya percaya doa tidak selalu mampu memperbaiki hati yang hancur, tapi mampu mengubahnya menjadi sumber kekuatan dan penghiburan. Dan, saya percaya doa tidak selalu mampu mewujudkan keinginan saya, tapi mampu mengubahnya menjadi keinginan-Nya.”

Yesus sebagai manusia mengalami pergumulan seperti kita. Ketakutan hebat menyelimuti-Nya pada akhir hidup-Nya hingga Dia makin sungguh-sungguh berdoa (ay. 44). Yesus menyadari beratnya penderitaan yang harus Dia pikul. Dalam doa-Nya, Yesus pun berharap agar Bapa-Nya, jika berkenan, mengambil cawan derita itu dari hidup-Nya. Sekalipun doa itu tidak dapat mengubah jalan hidup-Nya, namun Yesus percaya bahwa Bapa mampu mampu mengubah peristiwa itu menjadi sumber kekuatan dan penghiburan. Dia pun memilih taat, mengikuti kehendak Bapa-Nya (ay. 42).

Tuhan akan selalu mendengarkan doa kita, namun Dia tidak akan selalu mengabulkan permintaan kita. Namun, sekalipun kita tidak menerima apa yang kita minta, doa itu dapat mengubah sikap hati kita. Apakah keinginan hati kita lebih kuat sehingga kita terus “memaksa Tuhan” untuk memenuhi keinginan kita atau, sebaliknya, kita memilih untuk taat dan mengikuti keinginan hati-Nya?

DOA BUKANLAH SARANA UNTUK MEWUJUDKAN KEINGINAN HATI KITA,
MELAINKAN UNTUK MENGAMINI KEINGINAN HATI TUHAN

03/07/2014

MEMILIH PEMIMPIN
Yeremia 22:13-19

Menjelang Pemilu, kita diterpa beragam iklan para calon pemimpin negeri. Demi mendongkrak pop**aritas, mereka menggunakan banyak cara untuk mempromosikan diri. Tidak jarang hal itu membuat kita bingung dalam memilih. Alhasil, orang Kristen bisa jadi keliru memilih karena termakan iklan atau karena ajakan untuk memilih berdasarkan kesamaan suku atau agama.

Firman Tuhan memberi tuntunan kepada kita untuk memilih pemimpin yang baik, yakni orang yang mengenal Allah. Namun, mendeteksi karakter tersebut ternyata tak sesederhana menyimak tampilan iklan mereka. Karakter ini juga tidak dapat dikenali dari suku atau agama seseorang. Melalui nabi Yeremia, Tuhan mengajar kita untuk melihat perwujudan karakter “mengenal Allah” dalam tindakan nyata: melakukan keadilan, kebenaran, memperhatikan dan memperlakukan orang sengsara dan miskin dengan adil.

Rupanya dalam memilih pemimpin, kita memang perlu meneliti rekam jejak kehidupan sang calon. Bagaimana kebijakan yang pernah ia buat? Apakah ia dikenal sebagai pribadi yang memiliki integritas? Hal itu perlu diperhatikan karena dapat dijadikan petunjuk apakah ia mengenal Allah atau tidak.

Dalam menghadapi Pemilu Presiden kali ini, orang Kristen tak boleh acuh tak acuh, namun harus bersikap arif. Jangan lagi terjebak pada daya pikat iklan atau mengikuti ajakan untuk menilai calon berdasarkan kulitnya saja. Mengikuti petunjuk Firman Tuhan, marilah kita memilih pemimpin yang baik bagi negeri ini.

KITA DAPAT MENDETEKSI KUALITAS KEPEMIMPINAN SESEORANG DARI SIKAP, KEBIJAKAN, DAN TINDAKANNYA

09/04/2014

SUDAH JATUH DITIMPA TANGGA
Baca: 1 Samuel 1:1-18

Demikianlah terjadi dari tahun ke tahun; setiap kali Hana pergi ke rumah TUHAN, Penina menyakiti hati Hana, sehingga ia menangis dan tidak mau makan. (1 Samuel 1:7)

Dalam hidup, terkadang kita dapat mengalami apa yang disebut sudah jatuh ditimpa tangga. Karena sebuah kesalahan sepele, kita kena damprat bos. Kita pun harus mengerjakan lagi pekerjaan itu dari awal dan harus lembur di kantor. Lalu, dengan tubuh penat kita p**ang mengendarai motor tua. Baru separuh jalan, tiba-tiba motor macet, kehabisan bensin. Terpaksalah kita menuntunnya. Sesampai di rumah, istri sudah menunggu. Bukan dengan sapaan ramah, tapi omelan karena kita p**ang larut malam. “Mengapa sepanjang hari ini aku mengalami situasi yang menyebalkan?” pikir kita.

Hana pun mengalami berbagai kemalangan secara bertubi-tubi. Hati perempuan mana yang tidak pilu jika tidak mampu memberikan keturunan untuk sang suami? Saat itu, hal ini sebuah aib besar, dan Hana pun merasakan kepiluan ini. Tidak berhenti di situ, Penina, istri Elkana yang lain, setiap kali bertemu selalu menyakiti hati dan merendahkan Hana. “Mengapa semua penderitaan ini bertubi-tubi menimpaku?” demikianlah kiranya jeritan hati Hana. Hana sungguh mengalami apa yang disebut: sudah jatuh ditimpa tangga.

Memang tidak nyaman ketika kita harus menderita secara beruntun dan seolah-olah tidak terlihat ada jalan keluar. Namun, dalam situasi seperti itulah kita diminta untuk tetap tenang, sabar, dan banyak berdoa. Ya, Tuhan mendengar dengan jelas kepiluan hati kita. Dan nyatalah bahwa doa yang kita naikkan dengan hati yang hancur, tidak dipandang hina oleh Tuhan. Seperti terbukti dalam hidup Hana.

DI TENGAH PENDERITAAN YANG BERLANGSUNG SECARA BERUNTUN,
PERCAYALAH BAHWA TANGAN TUHAN SENANTIASA MENUNTUN

27/03/2014

KUNCI SUKSES

Yosua 1:1-9

Hanya, kuatkan dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh, bertindaklah hati-hati sesuai dengan seluruh hukum yang telah diperintahkan kepadamu oleh hamba-Ku Musa; janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya engkau beruntung, ke mana pun engkau pergi. (Yosua 1:7)

Banyak cara yang ditawarkan dunia untuk sukses. Seribu satu seminar ditawarkan dengan tarif jutaan rupiah. Banyak p**a yang tergiur dengan ajakan itu, dan rela membayar mahal dengan harapan bisa sukses. Seusai seminar, jurus yang dipelajari diterapkan, tetapi nyatanya lebih banyak yang gagal daripada yang berhasil.

Firman Tuhan berkata lain tentang jalan menuju keberhasilan ini. Saat Yosua menggantikan Musa, Allah berkata Israel akan mendapatkan daerah baru. Namun tanah itu berpenghuni sehingga harus direbut melalui peperangan. Ini berat. Allah memahami keraguan Yosua, maka sampai tiga kali Dia berkata, "Kuatkan dan teguhkanlah hatimu...." Dia tidak menjabarkan strategi perang untuk memperoleh tanah itu kepada Yosua. Menurut Allah, kunci keberhasilan terletak pada ketaatan akan firman-Nya. Apa pun tantangan yang mereka hadapi, mereka memiliki kekuatan untuk mengatasi semua itu, dan kekuatan itu tidak lain Allah sendiri.

Pelajaran yang dapat kita petik adalah: tangan Allah yang kuat itu akan menolong kita. Cara terbaik untuk menghadapi tantangan hidup adalah dengan hidup menurut firman-Nya. Masalahnya, kita sering tidak mengutamakan pesan Alkitab dalam mencari penyelesaian masalah, namun menjadikannya alternatif terakhir bila masalah tak kunjung usai. Ubahlah sikap itu, dan raihlah kesuksesan dengan mematuhi firman-Nya. Janji Tuhan ini berlaku dari dulu hingga kini. Peganglah janji-Nya, Dia tidak pernah mengecewakan.

FIRMAN TUHAN ADALAH PERTOLONGAN UTAMA,
BUKAN PERTOLONGAN CADANGAN DALAM MENYELESAIKAN MASALAH

24/03/2014

ADA YANG MENGALIRKAN
Nehemia 2:1-8

Dan raja mengabulkan permintaanku itu, karena tangan Allahku yang murah melindungi aku. (Nehemia 2:8)

Orang yang berkedudukan tinggi bisa jadi menimbulkan rasa takut di hati kita. Kita mungkin takut secara berlebihan pada pimpinan, orang tua, bos, majikan, karena mereka memiliki otoritas untuk memerintah kita melakukan hal-hal yang tidak kita inginkan.

Kita memang patut menghormati mereka, tetapi tidak seharusnya kita menganggap mereka memiliki otoritas mutlak atas hidup kita. Sebagai orang percaya, kita tahu hanya ada satu pemegang otoritas mutlak, yakni Allah kita. Atasan atau pemimpin kita hanyalah alat di tangan Allah untuk melaksanakan rencana-Nya.

Kisah Nehemia memberi sebuah bukti nyata akan kebenaran ini. Setelah mendengar kondisi buruk Yerusalem, Nehemia sangat ingin membangun kembali tembok kota itu. Ia sadar, untuk melakukannya perlu sumber daya yang tidak sedikit. Ia pun memberanikan diri mengajukan permohonan kepada Raja Artahsasta. Sang raja tentu saja memiliki otoritas untuk menjawab ya atau tidak. Nyatanya, ia memutuskan mengabulkan permohonan Nehemia. Bagi Nehemia, hal itu terjadi karena Allah menggerakkan hati sang raja.

Meskipun kelihatannya pemimpin atau atasan memiliki kuasa atas diri kita, sejatinya mereka seperti batang air yang dikendalikan Allah untuk mengalir sesuai dengan kehendak-Nya (Amsal 21:1). Tindakan mereka tidak mungkin melampaui kedaulatan Allah. Mereka pun dapat dipakai Allah menggenapi rencana-Nya atas hidup kita. Kesadaran ini akan mendorong kita memiliki sikap yang benar terhadap mereka: hormat, namun tidak ketakutan.

MENGETAHUI SIAPA YANG MEMEGANG KENDALI ATAS HIDUP KITA
MEMBEBASKAN KITA DARI RASA TAKUT AKAN MANUSIA

22/03/2014

SYUKUR DALAM DOA

Filipi 1:3-11

Seorang nenek sedang melamun memikirkan keadaan anak, menantu, dan cucu-cucunya yang tinggal di luar kota. Dalam hati dan pikirannya, terbersit kepedulian yang besar sehingga menimbulkan riak-riak kekhawatiran akan nasib mereka. Kakek menegurnya. Daripada khawatir, mengapa tidak menyerahkan mereka ke dalam perlindungan Tuhan? Nenek pun menghentikan lamunannya dan mulai berdoa bagi keluarga yang sangat dikasihinya itu. Pelan-pelan kekhawatirannya sirna, berganti dengan syukur dan sukacita.

Dalam pendahuluan suratnya bagi jemaat di Filipi, Paulus melukiskan perasaannya yang penuh syukur dan sukacita manakala ia mengingat mereka (ay. 3 dan 4). Ia melukiskan bagaimana jemaat tersebut selalu ada di dalam hatinya (ay. 7). Meskipun dalam kondisi terpenjara, ia tidak tercekam oleh kekhawatiran. Ia tidak kehilangan sukacita karena Kristus. Terali penjara tidak sanggup mengungkung pengharapannya. Di sana ia juga tekun berdoa supaya jemaat di Filipi semakin bertumbuh dalam kasih dan pengetahuan yang benar (ay. 9). Paulus tidak membuang-buang waktu dengan mengeluh.

Kita pun dapat meneladani sikap tersebut. Alih-alih larut dalam kesedihan, kemurungan, atau kekhawatiran akan kerabat yang tinggal jauh dari kita, alangkah baiknya jika kita memanjatkan doa bagi mereka. Sekalipun kita tidak mengetahui secara persis keadaan mereka, kita dapat bersyukur dan bersukacita atas pemeliharaan Tuhan. Ucapan syukur dan sukacita ini selanjutnya akan melipatgandakan kasih kita satu sama lain

UCAPAN SYUKUR DALAM DOA MELIPATGANDAKAN KASIH KITA

22/03/2014

MELIHAT LEBIH DALAM
1 Samuel 16:1-13

Pada acara Britain’s Got Talent 2009, seorang perempuan paruh baya menghadap dewan juri, lalu memperkenalkan diri sebagai kontestan. Ia mengaku berasal dari sebuah daerah yang tidak terlalu terkenal, tetapi berkata bahwa dirinya telah dipersiapkan sejak lama untuk menjadi penyanyi profesional. Melihat penampilannya yang lugu dan klaimnya yang terlalu berani, para juri hanya tersenyum. Beberapa penonton tertawa sinis. Namun, begitu perempuan itu mulai melantunkan lagu, reaksi mereka berubah. Keraguan berganti jadi kekaguman. Tak ada yang menyangka sosok yang sederhana itu ternyata bisa menyanyi dengan indah, dan pada babak final tampil sebagai runner-up. Namanya Susan Boyle.

Samuel pada awalnya juga memandang sebelah mata pada Daud. Ketika Tuhan meminta Samuel mengurapi raja yang baru, ia mengira bahwa kandidat yang pantas ialah anak Isai yang bertubuh tinggi besar, yang cocok untuk maju berperang. Ia terkejut ketika Tuhan justru memilih Daud, yang setiap hari menggembalakan domba. Ya, Tuhan mampu melihat lebih dalam daripada daya lihat manusia.

Kadang-kadang kita juga gagal menilai orang dengan benar. Mungkin kita menganggap rendah orang lain berdasarkan kesan pertama yang kurang meyakinkan, padahal ia sebenarnya berpotensi besar, bahkan mungkin lebih baik dari kita. Sepatutnya kita tidak terbiasa buru-buru menilai seseorang dari penampilannya, namun belajar untuk sungguh-sungguh mengenal dan menghargainya dengan sebaik mungkin.

MANUSIA SERING HANYA MELIHAT APA YANG DI DEPAN MATA,
LALU TERTIPU OLEH MATANYA SENDIRI

Kebaktian Padang Komisi Remaja Efrata GKAA Abdiel Anugerah Tulungagung
22/03/2014

Kebaktian Padang Komisi Remaja Efrata GKAA Abdiel Anugerah Tulungagung

Address

Jalan Panglima Diponegoro No. 30
Tulungagung
66200

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Komisi Remaja Efrata Tulungagung posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share