26/05/2026
Pernyataan Abdurrahman Wahid bahwa “Islam datang bukan untuk mengubah budaya leluhur menjadi budaya Arab” adalah pesan penting tentang cara memahami agama secara substansial, bukan sekadar simbolik. Gus Dur ingin menegaskan bahwa nilai Islam bersifat universal, tetapi ekspresi budaya setiap bangsa tetap bisa berbeda sesuai sejarah dan identitasnya.
Indonesia sejak awal tumbuh dengan wajah Islam yang khas: berdialog dengan budaya lokal, bukan menghapusnya. Karena itu kita melihat tradisi, bahasa, pakaian, seni, hingga adat daerah tetap hidup berdampingan dengan ajaran agama. Islam di Nusantara berkembang bukan lewat pemaksaan identitas budaya asing, tetapi melalui pendekatan hikmah, akhlak, dan penghormatan terhadap masyarakat setempat.
Satirnya, kadang sebagian orang merasa semakin “asing” justru dianggap semakin “islami.” Padahal bahasa Arab adalah bahasa, bukan ukuran tingkat keimanan seseorang. Mengganti kata “aku” menjadi “ana” atau “sampeyan” menjadi “antum” tidak otomatis membuat moral lebih baik. Sebab inti agama bukan pada aksen budaya yang dipakai, melainkan pada kejujuran, keadilan, adab, dan kemanusiaan yang dijalankan.
Gus Dur tampaknya ingin mengingatkan bahwa ada perbedaan antara ajaran dan budaya. Ajaran Islam membawa nilai ketuhanan dan etika universal, sementara budaya Arab adalah produk sejarah masyarakat Arab. Ketika keduanya dicampur tanpa pemahaman, orang bisa sibuk meniru simbol luar tetapi lupa membangun substansi akhlak di dalam.
Pandangan ini juga menjadi pengingat bahwa menjaga budaya lokal bukan berarti menolak agama. Justru budaya yang baik bisa menjadi wadah untuk menyampaikan nilai agama dengan lebih membumi dan diterima masyarakat. Indonesia kuat karena mampu merawat keberagaman tanpa kehilangan spiritualitasnya.
Pada akhirnya, pesan Gus Dur adalah tentang keseimbangan: menyerap nilai luhur agama tanpa kehilangan jati diri bangsa. Karena agama seharusnya memperkaya peradaban, bukan membuat seseorang tercerabut dari akar budayanya sendiri.
Menurut Anda, apakah generasi hari ini sudah mampu membedakan antara ajaran agama dan budaya yang melekat padanya?