07/09/2026
_*قَيِّدُوا الْعِلْمَ بِالْكِتَابِ*_
بسم الله الرحمن الرحيم
┏🔰♻━━━━━━━━━━━━━━┓
Serial Kajian ensiklopedi Larangan
*Musholla umi barokah*
┗━━━━━━━━━━━━━━♻🔰┛
tema : 596 باب الزجر عن السباب
*Larangan Mencaci*
Hadits lengkap dari redaksi lain
عَنْ أَبِي جُرَيٍّ جَابِرِ بْنِ سُلَيْمٍ قَالَ رَأَيْتُ رَجُلًا يَصْدُرُ النَّاسُ عَنْ رَأْيِهِ لَا يَقُولُ شَيْئًا إِلَّا صَدَرُوا عَنْهُ قُلْتُ مَنْ هَذَا قَالُوا هَذَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْتُ عَلَيْكَ السَّلَامُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَرَّتَيْنِ قَالَ لَا تَقُلْ عَلَيْكَ السَّلَامُ فَإِنَّ عَلَيْكَ السَّلَامُ تَحِيَّةُ الْمَيِّتِ قُلْ السَّلَامُ عَلَيْكَ قَالَ قُلْتُ أَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ قَالَ أَنَا رَسُولُ اللَّهِ الَّذِي إِذَا أَصَابَكَ ضُرٌّ فَدَعَوْتَهُ كَشَفَهُ عَنْكَ وَإِنْ أَصَابَكَ عَامُ سَنَةٍ فَدَعَوْتَهُ أَنْبَتَهَا لَكَ وَإِذَا كُنْتَ بِأَرْضٍ قَفْرَاءَ أَوْ فَلَاةٍ فَضَلَّتْ رَاحِلَتُكَ فَدَعَوْتَهُ رَدَّهَا عَلَيْكَ قَالَ قُلْتُ اعْهَدْ إِلَيَّ قَالَ لَا تَسُبَّنَّ أَحَدًا قَالَ فَمَا سَبَبْتُ بَعْدَهُ حُرًّا وَلَا عَبْدًا وَلَا بَعِيرًا وَلَا شَاةً قَالَ وَلَا تَحْقِرَنَّ شَيْئًا مِنْ الْمَعْرُوفِ وَأَنْ تُكَلِّمَ أَخَاكَ وَأَنْتَ مُنْبَسِطٌ إِلَيْهِ وَجْهُكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ الْمَعْرُوفِ وَارْفَعْ إِزَارَكَ إِلَى نِصْفِ السَّاقِ فَإِنْ أَبَيْتَ فَإِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِيَّاكَ وَإِسْبَالَ الْإِزَارِ فَإِنَّهَا مِنْ الْمَخِيلَةِ وَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمَخِيلَةَ وَإِنْ امْرُؤٌ شَتَمَكَ وَعَيَّرَكَ بِمَا يَعْلَمُ فِيكَ فَلَا تُعَيِّرْهُ بِمَا تَعْلَمُ فِيهِ فَإِنَّمَا وَبَالُ ذَلِكَ عَلَيْهِ. (رواه أبوا داو)
Abu Jurai Jabir bin Sulaim berkata, "Aku melihat seorang laki-laki yang pemikirannya dijadikan sandaran oleh orang banyak. Ia tidak mengatakan sesuatu kecuali orang-orang akan mengikutinya. Aku lalu bertanya, ‘Siapakah dia?’ Orang-orang menjawab, ‘Ini adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Aku pun berkata, 'Wahai Rasulullah, 'alaikas salam'. Sebanyak dua kali. Beliau bersabda, "Jangan engkau ucapkan 'alaikas salam', karena 'alaikas salam adalah penghormatan dan salam untuk mayit. Tetapi ucapkanlah 'assalamu 'alaika'.’ Jabir bin Sulaim berkata, ‘Aku lalu bertanya, ‘Apakah engkau utusan Allah?’ Beliau menjawab, ‘Ya, aku adalah utusan Allah, Dzat yang jika engkau tertimpa musibah, lalu engkau berdoa kepada-Nya, maka Dia akan menghilangkannya darimu. Jika kamu tertimpa paceklik, lalu engkau berdoa maka Dia akan menumbuhkan (tanaman) bagi kamu. Jika engkau berada di suatu tempat yang luas kemudian kendaraanmu hilang, lalu engkau berdoa kepada-Nya, maka Dia akan mengembalikannya kepadamu.’ Jabir bin Sulaim berkata, ‘Lalu aku berkata, ‘Berilah kami perjanjian.’ Beliau bersabda, ‘Jangan sekali-kali engkau mencela orang lain.’ Jabir bin Sulaim berkata, ‘Setelah itu aku tidak pernah mencela sekali pun; kepada orang merdeka atau budak, unta atau kambing.’ Beliau bersabda lagi, ‘Janganlah engkau remehkan perkara kebaikan, berbicaralah kepada saudaramu dengan wajah yang penuh senyum dan berseri, sebab itu bagian dari kebaikan. Angkatlah sarungmu hingga setengah betis, jika tidak maka hingga kedua mata kaki. Janganlah engkau julurkan sarungmu karena itu bagian dari sifat sombong, sesungguhnya Allah tidak menyukai sifat sombong. Jika ada seseorang yang mencela dan memakimu karena cela yang ia ketahui darimu, maka janganlah engkau balas memaki karena cela yang engkau ketahui padanya, karena hal itu akan memberatkannya (pada hari kiamat)" Setelah Jabir bin Sulaim membuat perjanjian di hadapan Rasul dengan wasiat maka dirinya tidak pernah mencela manusia lagi, bahkan kepada binatang sekalipun. Dia selalu menjaga lisannya. Ini menunjukkan apa yang ada pada shahabat yang Allah ridhai dan mereka ridha dengan-Nya selalu melaksanakan apa yang datang dari Allah dan Rasul-Nya. Para shahabat selalu ingin melakukan yang baik-baik dan yang utama sunnah-sunnah. Shahabat adalah panutan bagi orang-orang sesudahnya. Mereka layak mendapatkan julukan shalihin dari hamba-Nya. Kita selalu berdoa agar terhindar dan terjauhkan dari akhlak yang mungkar para pemuja hawa nafsu.(HR.Abu Dawud).
عن ابن عمر رضي الله عنهما ؛ قال : قال رسول الله ﷺ: «إذا سبك رجل بما يعلم منك، فلا تسبّه بما تعلم منه، فيكون أجر ذلك لك، ووباله عليه (1) .
Diriwayatkan dari Ibnu Umar رضي الله عنهما, ia berkata, Rasulullah ﷺ. bersabda, “Apabila seseorang mencacimu dengan sesuatu yang ia ketahui maka janganlah engkau membalasnya dengan sesuatu yang engkau meengatahui tentangnya. Sebab dengan itu engkau mendapat pahala sedang ia akan mendapat akibat buruknya,” (Shahih lighairihi, HR al-Manawi dalam kitab Faidhul Qadir [I/372]).
عن عبدالله بن مسعود رضي الله عنه ؛ قال : قال رسول الله ﷺ : سباب المسلم فسوق وقتاله كفر (۲).
Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه, ia berkata, Rasulullah ﷺ. bersabda, “Mencaci seorang muslim adalah perbuatan fasik dan memeranginya adalah peruatan kufur,” (HR Bukhari [48] dan Muslim [64]).
kefasikan dalam bahasa arab artinya “khuruj anilhaq” keluar dari kebenaran. Dalam bahasa syari’at maka kefasikan lebih besar (berat) daripada sekedar kemaksiatan.
Dan tatkala Nabi menamakan perbuatan tersebut dengan kekufuran berarti ini lebih besar lagi tingkatannya daripada sekedar kefasikan. Berarti dosanya besar.
Oleh karenanya ini dinamakan oleh Nabi kufrun (kekufuran), dan ini dikatakan sebagai keburukan. Kalau dia s**a membunuh seorang muslim khawatir dia akan masuk dalam kekufuran (mengantarkan dalam kekufuran).
Ada yang mengatakan lagi bahwa yang dimaksud dengan kufur adalah kufur asghar tapi derajatnya lebih besar dari kefasikan namun tidak sampai derajat mengeluarkan seseorang dari Islam.
عن أبي هريرة رضي الله عنه،أن رسول الله ؛ ﷺ : المتسابان ما قالا فعلى البادىء منهما حتى يعتدي المظلوم (۳).
Diriwayatkan dari Abu Hurairah رضي الله عنه, bahwasanya Rasulullah ﷺ. bersabda, “Dua orang yang saling mencela menurut apa yang mereka katakan sedang dosanya ditimpakan kepada orang yang memulai terlebih dahulu, kecuali apabila orang yang dicaci membalas melebihi apa yang dikatakan oleh orang yang memulai,” (HR Muslim [2587]).
Kandungan bab;
۱ تحريم سب المسلم والحكم على من سبه بغير حق بالفسوق .
Haram hukumnya mencela seorang muslim dan menjadi fasiq bagi orang yang mencaci tanpa alasan yagn benar.
لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلاَ اللَّعَّانِ وَلاَ الْفَاحِشِ وَلاَ الْبَذِيءِ
“Seorang Mukmin bukanlah seorang yang s**a mencela, s**a melaknat, berkata keji dan berkata kotor.” (HR. Tirmidzi, Ahmad dan yang lainnya.)
٢- إذا سبك رجل ما يعلم فيك وعيرك بذلك، فلا تقابل ذلك بمثله، ليبوء بإثمك وإثمه .
Apabila seseorang mencela dan mencaci dengan sesuatu yang ia ketahui tentangmu maka janganlah engkau balas dengan hal yang sama. Agar ia menanggung dosamu dan dosanya sendiri.
٣- لا يلحق المظلوم إثم ما لم يعتدي ويزيد، ولكن من يستطيع السيطرة على نفسه إذا جعلها طريقاً للشيطان، إلا من عصم الله ورحم وقليل ما هم .
Orang yang terzhalimi tidak mendapatkan dosa selama ia tidak melewati batas dan tidak memberi balasan melebihi celaan yang dikatakan kepadanya. Namun siapakah yang mampu menahan diri disaat ia membukakan peluang untuk syaitan, kecuali orang yang dipelihara dan dirahmati Allah hanya saja orang seperti itu sangat sedikit.
٤- إذا انتصر المسبوب لنفسه استوفى ظلامته، وبرىء الأول من حقه، وبقي عليه إثم الابتداء .
Apabila orang yang dicela membela diri dengan membalas celaan tersebut berarti imbaslah sudah dan orang yang mencela terlepas dari beban, yang tinggal hanyalah dosa akibat ia yang memulai.
📆 : *Senin, 7September2026M/Selasa 26Rabiulawwal1448H*
👤 Pemateri :
*Ustadz Muhammad Qasim Muhajir, Lc* حفظه الله