Forsamat Tegal

Forsamat Tegal FORSAMAT adalah Forum Silaturrahmi Antar Majlis Ta'lim Kab. Tegal - Kota Tegal dan Kab. Brebes ( wil

Forsamat ( Forum Silaturahmi Antar Majlis Ta"lim ) didirikan oleh gabungan majlis ta"lim di wilayah kabupatenTegal - kota Tegal kab Brebes, pada tanggal 01 Sya"ban 1431 H. Tujuan Forsamat adalah menyatukan visi dikalangan majlis ta"lim dalam rangka ikut menegakkan aqidah islam ( ahlussunnah wal jamaah ) dan meningkatkan taraf hidup masyarakat di bidang agama dan ekonomi.

24/02/2015

Manusia di dunia dalam ucapan dan berbuatan mereka mengikuti, ada yg mengikuti hawa nafsunya, temannya, yg di televisi, yg di barat atau mengikuti yg di timur..
Mereka mengikuti dalam hal kebiasaan dan pakaian, mereka tidak mengikuti Nabi saw bahkan mereka melakukan yg di larang oleh Nabi saw!!

Ini adalah kesalahan yangg besar bagi orang muslim dan beriman, jika meninggal mereka telah kehilangan rahasia pengikutan untuk Nabi Muhammad saw, maka bagaimana keadaannya jika di bangkitkan bersama orang-orang kafir, fasiq dan orang-orang dholim? Kemana dia pergi bersama mereka!!? ( Alhabib Umar bin Muhammad Bin Hafidz )

30/01/2015

Sekilas Kehidupan Nabi SAW Bagian 21

Wafat Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam

Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam wafat pada usia 63 tahun. Ada yang me¬ngatakan lain dari hal itu. Beliau wafat pada hari Senin, tanggal 12 bulan Rabi ‘al-Awwal setelah menderita sakit se¬lama empat hari. Jenazah suci beliau dikebumikan pada malam Rabu. Pada detik-detik menjelang ajalnya, beliau me¬masukkan tangannya ke dalam air di bokor, lalu sambil mengusap wajah beliau berdoa, “Ya Allah, tolonglah aku menghadapi sakaratul maut.” Jenazah beliau dikafani de¬ngan kain selimut berwarna kekuning-kuningan. Para saha¬bat terkejut, ‘Umar bin Khaththab tidak percaya bahwa beliau Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam wafat. ‘Utsman bin Affan saking kagetnya menjadi gagu, ‘Ali bin Abi Thalib diam termangu. Di antara semua yang hadir tidak ada yang lebih tabah daripada ‘Abbas dan Abu Bakar ash-Shiddiq—radhiyallahuanhum ajmain.

Mengenai soal memandikan jenazah beliau, para saha¬bat berbeda pendapat, apakah dimandikan bersama pakaian beliau atau tidak. Dalam keadaan serba bingung mereka me-ngantuk dan tidur. Terdengar suara tak diketahui dari mana asalnya. Suara tersebut mengatakan, “Mandikan beliau ber¬sama pakaiannya!” Mereka kaget dan terjaga, lalu mulai memandikan jenazah beliau sebagaimana yang diserukan suara tadi. Yang bertugas memandikan jenazah beliau ialah ‘Ali bin Abi Thalib, al-‘Abbas dan dua orang anak lelakinya yaitu al-Fadhl dan Qatsam, serta dua orang maulanya, Usamah dan Syaqran. Pemandian itu disaksikan oleh Aus bin Khauli dari kaum Anshar. ‘Ali bin Abi Thalib yang meng¬usap jenazah beliau tidak melihat ada sesuatu yang keluar dari tubuh beliau. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, hidup dan mati Anda tetap dalam keadaaan sangat baik.”
Jenazah suci beliau dikafani dengan kain putih tidak berjahit, tanpa gamis dan tanpa sorban. Hanya beberapa lipat kain yang juga tidak dijahit. Kemudian jenazah dishalati oleh kaum Muslim secara munfarid, tidak berjamaah dan tidak diimami siapa pun. Liang kuburnya dialasi dengan qathifah (permadani) berwarna merah. Setelah jenazah beliau dimasukkan ke dalam liang lahad, kemudian ditutup dan di atasnya ditumpuk batu bata sebanyak sembilan buah.
Menjelang penguburan jenazah beliau kaum Muslim berbeda pendapat, apakah lahdan atau syiqqan,9 pada waktu itu di Madinah ada dua orang yang biasa mengelola penguburan jenazah, yaitu Abu Thalhah biasa mengubur secara lahdan, dan Abu ‘Ubaidah yang biasa mengubur secara mi¬ring. Pada akhirnya kaum Muslim sepakat menyerahkan masalah cara penguburan jenazah beliau kepada salah satu dari dua orang tersebut yang datang lebih dulu, dialah yang akan mengerjakan penguburan. Ternyata yang datang lebih dulu adalah orang yang biasa mengubur jenazah secara lah¬dan, yaitu Abu Thalhah. Kemudian dialah yang mengatur cara penguburan jenazah Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam Penguburan dila¬kukan di dalam rumah ‘A’isyah radhiallahu anha Kelak, jenazah Abu Ba¬kar dan ‘Umar—radhiyalldhuanhum-—dikuburkan juga di tempat itu.
________________________________________

26/01/2015

Sekilas Kehidupan Nabi SAW Bagian 19

Senjata Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam

Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam mempunyai 9 buah pedang: pedang yang dinamai Ma’tsur adalah pedang pertamanya. Pedang yang dinamai Dzulfiqar termasuk harta rampasan perang dari Perang Badr, yang dulunya kepunyaan Bani al-Hajjaj as-Sahmiyyin. Beliau mimpi melihat seekor lalat kabur meng¬hilang. Mimpi itu ditakwilkan sebagai suatu kekalahan, dan terbukti pada Perang Uhud.

Pedang-pedang yang lain dinamai al-Battar yang berarti pemenggal, al-Hatf yang berarti maut, al-Mukhdzim yang berarti sama dengan al-Battar, yaitu pemenggal, ar-Rasub yang berarti hunjaman, juga ada yang bernama al-‘Adhab, pemberian Sa‘ad bin ‘Ubadah. Pedang yang lain dinamai al-Qadhib yang berarti lembut, yakni yang terhalus di antara pedang-pedang yang lain. Kemudian al-Qal‘i yang diperoleh dari sebuah benteng terletak di tengah sahara. Anas bin Malik radhiallahu anhu mengatakan bahwa pegangan pedang Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam berlapis perak. Masih ada dua belah pedang lainnya yang tanpa nama.

Beliau mempunyai empat buah tombak. Ada yang mengatakan bukan empat, melainkan lima buah. Yang per¬tama beliau namai al-Matswa karena hunjamannya sung¬guh mantap dan tepat sasaran. Yang kedua dinamai al-Mutsni. Yang ketiga sebuah tombak pendek dinamai an- Nab‘ah. Tombak yang berukuran besar dinamai al-Baidha’. Yang lain lagi adalah senjata berbentuk seperti tongkat, di¬namai al-Anzah. Tongkat ini bagian ujungnya terbuat dari besi runcing semacam ujung tombak. Beliau selalu mem¬bawanya pada waktu ‘Idul Adha dan ‘Idul Fitri. Sebelum shalat, tombak itu ditancapkan di tanah sebagai penyekat. Ada kalanya beliau membawanya ketika berjalan.
Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam mempunyai 7 buah baju besi. Masing- masing beliau namai: Dzdtal-Fudhul, Dzat-al-Wisyah, Dzat al-Hawasyi, as-Sa’diyyah (diambil dari nama tempat), Fidhdhah, al-Batra’ (karena ukurannya pendek) dan al-Khirniq, diambil dari nama anak kelinci.
Dalam Perang Badr dan Perang Hunain beliau mema¬kai Dzat al-Fudhul. Konon beliau mempunyai baju besi yang pada zaman dahulu pernah dipakai oleh Nabi Dawud a.s. ketika berperang dan membunuh Jalut. Beliau juga mem¬punyai mighfar (pelindung kepala dari besi) yang beliau na¬mai as-Sabugh, dan yang lainnya beliau namai al-Mausyah.
Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam mempunyai enam buah panah. Masing- masing bernama, az-Zaura’, ar-Rauha’, ash-Shafra’, asy- Syauhath, al-Katum dan as-Sadad. Konon masih ada sebuah lagi, yaitu al-Baidha’. Selain itu beliau juga mempunyai se¬buah jabah (tempat anak panah), yaitu al-Kafur. Beliau mem¬punyai sebuah sabuk (semacam ikat pinggang lebar) ter¬buat dari kulit.
Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam mempunyai beberapa buah perisai. Ada yang dinamai az-Zaluq. Diberi nama demikian karena dapat membuat pedang musuh meleset. Perisai yang kedua dina¬mai al-Fatq, dan ada perisai hadiah dari seseorang, pada perisai itu ada gambar sebuah patung. Beliau menghapus gambar patung itu dengan mengusapkan telapak tangannya.
Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam mempunyai pelindung kepala lain yang terbuat dari kuningan. Beliau menamainya al-Muwasysyah. Ada lagi pelindung kepala yang dinamai as-Sabugh atau Dzu as-sabugh.
Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam juga mempunyai panji (bendera pe¬rang). Yang satu berwarna hitam, disebut dengan nama al-‘Uqab, dan yang lain berwarna kuning, yaitu sebagaimana disebut di dalam Sunan Abu Dawud.
Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam mempunyai tongkat yang bagian atasnya melengkung, yang panjangnya sehasta. Beliau selalu mem¬bawanya dan pada waktu menunggang unta, tongkat itu dicantelkan di lengan. Selain itu beliau juga mempunyai tongkat lain yang agak panjang, yang selalu digunakan un¬tuk bersandar pada saat sedang berdiri. Tongkat ini dinamai al-‘Urjun. Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam juga mempunyai tongkat pendek terbuat dari kayu disebut al-Mamsyuq. Konon tongkat pen¬dek itu secara estafet dipakai oleh empat orang Khulafa’ ar-Rasyidun (Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman dan Ali bin Abi Thalib—radhiyallahu’anhum).
Pakaian dan Perkakas Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam
Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam wafat meninggalkan dua baju habrah (sema¬cam baju kehormatan), sehelai kain sarung buatan Yaman, dua baju shahari (baju yang lazim dipakai di padang pasir), satu baju lainnya yang kainnya ditenun tipis, satu jubah buatan Yaman, satu baju berwarna hitam persegi empat, satu kisa’ (baju amat longgar berwarna putih), beberapa kopiah kecil dan satu helai selimut.
Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam mempunyai sebuah wadah cermin khu¬sus, sisir terbuat dari gading, gunting dan siwak (semacam sikat gigi).
Beliau mempunyai kasur terbuat dari kulit berisi sera¬but, sebuah qadah (mangkuk) pegangannya berlapis perak, dan dua qadah lainnya masing-masing disebut ar-rayyan dan mughits. Beliau juga mempunyai mikhdhab (sejenis wadah) terbuat dari tembaga sebagai alat untuk membuat inai (pa¬car) dan katm (semacam ramuan basah untuk menyejukkan kepala bila terasa panas). Beliau juga mempunyai taur (wadah terbuat dari batu), sebuah cawan terbuat dari kulit (rakwak), sebuah gelas keramik, sebuah wadah air untuk mandi ter¬buat dari kuningan, sebuah bokor disebut al-ghira dan se¬buah takaran yang digunakan untuk menakar gandum wak¬tu berzakat fitrah, dan sebuah mudd (timbangan untuk me-nimbang gandum).
Beliau mempunyai sebuah tempat tidur. Kaki-kakinya terbuat dari kayu keras. Beliau juga mempunyai qathifah (alas duduk terbuat dari beludru, permadani), sebuah cincin perak berukir kalimat “Muhammad Rasulullah.” Konon cin¬cin itu terbuat dari besi bersepuh perak, hadiah dari Najasyi. Selain itu beliau juga mempunyai dua pasang khuf (semacam sepatu terbuat dari kain tebal atau kulit) seder¬hana. Kisd’ (pakaian sangat longgar) berwarna hitam serta sorban yang juga berwarna hitam yang diberi nama sahab, beliau berikan kepada ‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu. Konon pernah terjadi, pada suatu hari ketika beliau melihat ‘Ali datang memakai sorban hitam, beliau berkata kepada para sahabat: “Ali datang kepada kalian dengan memakai sahab.” Beliau mempunyai juga dua pakaian khusus untuk shalat Jumat. Beliau juga mempunyai sehelai sapu tangan. Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam mempunyai jubah sutra, jubah thayalisah (semacam baju toga) dan jubah lain yang dipakai untuk peperangan.

23/01/2015

Sekilas Kehidupan Nabi SAW Bagian 18

Hewan-hewan Tunggangan Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam

Ada lebih dari 10 ekor kuda yang pernah menjadi tung¬gangan Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam. Para ahli sejarah berbeda pendapat tentang hal ini. Kesepuluh ekor kuda itu masing-masing bernama:
• As-Sakb. Kuda inilah yang menjadi tunggangan. Ra¬sulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam dalam perang Uhud. As-Sakb adalah kuda yang berbelang putih pada bagian muka serta bagian kakinya. Ia sangat gesit dan lincah.
• Al-Murtajiz. Dinamai demikian karena suaranya amat menarik. Dia atas punggung kuda inilah Khuzaimah bin Tsabit gugur sebagai syahid.
• Al-Lizaz, hadiah dari Muqauqis, Raja Mesir. Dinamai al-Lizaz karena kuda ini bertubuh kuat dan kekar.
• Al-Lahif, hadiah dari Rabi‘ah bin Abi al-Barra’. Dinamai al-Lahif karena kuda ini bertubuh gemuk dan besar.
• Azh-Zhirb, hadiah dari Farwah al-’Judzami. Dinamai de¬mikian karena kuda Ini’ sangat tangguh.
• Al-Ward, hadiah dari Tamim ad-Dari.
• Al-Mirwah, dinamai al-Mirwah karena kecepatan larinya ibarat angin.
• As-Sabhah, jangkauan kaki depannya demikian jauh bagaikan tangan orang yang sedang berenang. ‘
• Al-Bahr, dibeli Rasululullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam dari pedagang Yaman.
Ada beberapa ekor kuda yang lain, yaitu: al-Mandub, an-Najib, al-Ya‘sub, as-Surhan.

Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam juga memiliki beberapa ekor bagal tung¬gangan, di antaranya: bagal tunggangan pertama dalam se¬jarah Islam adalah bagal betina hadiah dari al-Muqauqis yang dinamai Daldil. Hingga Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam wafat, bagal betina itu masih hidup sampai tua dan habis gigi geraham¬nya. Karena Daldil kesulitan mengunyah, beberapa orang sa¬habat menolongnya dengan memotong lembut dedaunan yang dimakannya. Kecuali bagal betina yang bernama Dal¬dil, Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam mempunyai beberapa ekor bagal betina lain, seperti yang bernama Ailiyah, hadiah dari raja Ailah. Juga ada yang bernama Daumatul-Jandal. Sedangkan bagal betina yang bernama Fiddhah, merupakan hadiah dari Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallahu anhu. Dan seekor bagal betina hadiah dari Farwah al-Judzami berwarna putih yang kemudian menjadi tunggangan beliau dalam perang Hunain.
Selain kuda dan bagal, beliau juga mempunyai dua ekor keledai. Yang satu bernama Afir dan yang lain bernama Ya‘fur. Tak ada riwayat yang menuturkan beliau mempunyai lembu.
Unta Perah dan Hewan Ternak Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam
Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam mempunyai unta perah (unta betina yang diperah susunya) sebanyak 20 ekor. Semuanya digembalakan tiap hari oleh beberapa orang di padang rumput. Dari ter¬nak perahan itulah keluarga Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam mendapat peng¬hidupan. Semua ternak perahan itu beliau bagikan kepada para istrinya. Tiap malam beliau mendapat jatah kiriman susu dua qirbah (wadah terbuat dari kulit) besar, Unta-unta perahan masing-masing dinamai: al-Hana’, as-Samra’, al-‘Aris, as-Sa‘diyyah, al-Baghum, al-Yasirah, ad-Diba’, asy-Syaqra’ dan Burdah.
Kambing perahan beliau tujuh ekor, masing-masing ber¬nama: ‘Ajwah, Zamzam, Suqya, Barakah, Wirsah, Ithlal dan Ithraf. Kambing-kambing perahan itu digembalakan oleh Ummu Aiman di perbukitan Uhud. Tiap petang ia p**ang membawa susu ke rumah istri Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam yang sedang men¬dapat giliran

21/01/2015

Sekilas Kehidupan Nabi SAW Bagian 17

Peperangan yang Diikuti Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam dan yang Tidak Diikuti

Peperangan yang diikuti Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam disebut ghazwah. Sedangkan peperangan yang tidak diikuti Rasulullah dan hanya mengutus orang lain untuk mewakili beliau dalam memimpin pasukan disebut Sariyyah. Para pakar sejarah Is¬lam berbeda pendapat mengenai jumlah ghazwah. Menurut mereka paling banyak 27 kali. Ada yang mengatakan ku¬rang dari itu. Peperangan yang dalam arti benar-benar per¬tempuran dan saling bunuh hanya terjadi 9 kali, yaitu: Pe¬rang Badr, Uhud, Muraisi‘, Khandaq, Quraidhah, Khaibar, al-Fath, Hunain dan Tha’if. Pakar sejarah yang lain menam¬bahkan: Perang Wadi al-Qura dan Perang al-Ghabah.

Sedangkan jumlah sariyyah, termasuk insiden-insiden bersenjata dalam rangka operasi pengamanan kawasan seki¬tar Madinah, seluruhnya berjumlah 56 kali. Ada p**a yang mengatakan 50 kali.

Ibadah Haji dan ‘Umrah Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam

Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam menunaikan ibadah haji hanya satu kali, yaitu haji wada (perpisahan). Dan melakukan ‘Umrah seba¬nyak 4 kali. Yang pertama pada tahun ke-6 Hijriyyah, tahallul-nya. di Hudaibiyyah, tetapi tidak sampai masuk kota Makkah. Yang kedua pada tahun ke-7 Hijriyyah, setelah terjadi kesepakatan dengan orang-orang Quraisy (yang wak¬tu itu masih menolak Islam). Yang ketiga terjadi pada tahun ke-8 Hijriyyah, menyusul terjadinya peristiwa Penaklukan Makkah (al-Fath). ‘Umrah yang ketiga dilakukan dalam per¬jalanan p**ang dari Tha’if. Sedangkan ‘umrah yang keem¬pat terjadi pada tahun ke-10 Hijriyyah bersamaan dengan Haji Wada‘

12/01/2015

Sekilas Kehidupan Nabi SAW Bagian 15

Para Sekretaris Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam

Para sekretaris yang menangani penulisan surat Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam adalah: Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman dan Ali—radhiyallahu’anhum (empat orang sahabat Nabi yang kemudian menjadi empat khulafa’ar-rasyidun), Thalhah bin ‘Ubaidillah, Zubair bin Awwam, ‘Amir bin Fuhairah, Abdullah bin al-Arqam, Ubay bin Ka‘ab, Tsabit bin Qais bin Syammas, Khalid bin Sa‘ad, Hanzhalah bin ar-Rabi‘, Zaid bin Tsabit, Mu’awiyah bin Abi Sufyan, Syarahbil bin Hasanah, al-’Ala’ bin al-Hadhrami, Khalid bin al-Walid, al-Mughirah bin Syubah, Abdullah bin Rawahah dan Hudzaifah bin al-Yaman. Di antara mereka, yang paling tetap dan khusus adalah Mu‘awiyah bin Abi Sufyan dan Zaid bin Tsabit.
Sebagian Surat-surat Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam

Dalam surat yang dikirimkan Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam kepada Kaisar Romawi, Heraclius, beliau berkata:

Bismillahirrahmanirrahim. Dari Muhammad Rasulullah kepada Heraclius, Kaisar Romawi. Salam sejahtera bagi orang yang mengikuti petunjuk yang benar (al-huda). Amma badu, aku me¬nyeru Anda supaya menyambut baik dakwah (ajakan) Islam. Peluklah Islam, Anda akan selamat dan Allah akan memberi Anda dua imbalan. Apabila Anda menolak, Anda akan memikul dosa kaum Arisiyyin. Wahai Ahlul Kitab, marilah sepakat pada satu kalimat, yakni: kita tidak menyembah selain Allah, dan kita tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Tidak juga sebagian dari kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling, katakanlah kepada mereka, ‘Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang ber¬serah diri kepada Allah (Muslimun).’

Dalam surat yang dikirimkan kepada Najasyi, beliau me¬nulis:
1. Dari Muhammad Rasulullah kepada Najasyi, Raja Habasyah (Ethiopia). Amma ba‘du untuk Anda saya panjatkan puji syukur kepada Allah yang tiada tuhan selain Dia, Maharaja, Mahasuci, Mahasejahtera, Maha Pemberi kesela¬matan (keamanan), Maha Pemelihara. Aku bersaksi bahwa Isa putra Maryam adalah ruh Allah dan kalimat-Nya yang disampai¬kan kepada Maryam Perawan suci yang baik dan menjaga kehor¬matannya. Ia lalu hamil mengandung ‘Isa, lalu Allah menciptakannya dari Ruh-Nya dan meniupkannya, sebagaimana Allah menciptakan Adam dengan tangan-Nya. Saya mengajak Anda untuk menyembah Allah Yang Mahaesa, tiada sekutu bagi-Nya. Saya juga menyeru agar senantiasa memelihara ketaatan kepada-Nya, dan agar Anda mengikuti serta mengimani apa yang telah datang kepadaku, karena sungguh saya adalah utusan Allah (Rasulullah). Dan sungguh saya menyeru Anda serta semua bala tentara Anda kepada Allah. Sungguh saya telah menyampaikan dan saya telah menasihati. Terimalah nasihat saya. Dan saya telah mengutus putra pamanku, Ja‘far, dan beberapa orang kaum Muslim. Keselamatan dan kesejahteraan bagi orang yang mengikuti petunjuk yang benar.
Usai membaca surat Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam yang diserahkan oleh ‘Amr bin Umayyah adh-Dhamiri, Najasyi berkata, “Aku bersaksi, demi Allah, bahwa dia (Muhammad Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam) adalah seorang Nabi tuna aksara (ummi) yang sedang dinantikan oleh Ahlul Kitab. Musa memberi kabar gembira bahwa dia (Nabi tuna aksara) itu menunggang keledai se-bagaimana kabar gembira yang dikabarkan ‘Isa bahwa dia menunggang unta.” Setelah mengucapkan kalimat itu Najasyi lalu menulis surat jawaban kepada Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam.:
Bismillahirrahmanirrahim. Kepada Muhammad Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam dari Najasyi Ashhamah. Salam sejahtera bagi Anda, wahai Rasulullah, juga rahmat serta berkah Allah, Yang tiada tuhan selain Dia dan yang menunjukiku kepada Islam. Amma ba‘du. Wahai Rasulullah, surat Anda telah saya terima. Sungguh, demi Penguasa langit dan bumi, kabar Anda tentang ‘Isa tidak lebih dari apa yang telah Anda sebutkan.
Selanjutnya Najasyi menulis:
Kami sudah memahami apa yang Anda sampaikan. Karena itu saya bersaksi bahwa Anda adalah Rasulullah, seorang yang ju¬jur dan terpercaya. Saya membaiat Anda dan membaiat anak paman Anda, dan menyatakan keislaman saya di hadapannya. Saya mengutus putra saya untuk menemui Anda. Tetapi jika Anda menghendaki agar saya datang sendiri, sungguh saya akan melakukannya wahai Rasulullah, karena saya bersaksi bah¬wa apa yang Anda katakan adalah benar. Wassalamu ‘alaika wa rahmatulahi wa barakatuhu.
Dalam surat yang dikirimkan Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam kepada Kisra (Maharaja Persia), beliau menulis:
Bismillahirrahrnanirrahim. Dari Muhammad Rasulullah kepada Kisra, Maharaja Persia. Salam sejahtera bagi orang yang meng¬ikuti petunjuk yang benar, beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah Yang Mahaesa dan tiada sekutu bagi-Nya. Saya menyeru Anda de¬ngan seruan Allah. Sungguh saya adalah utusan Allah kepada segenap manusia untuk memberi peringatan kepada orang- orang yang hidup dan mengabari akan datangnya siksa bagi orang-orang yang mengingkari Allah (orang-orang kafir). Peluk¬lah Islam, Anda tentu selamat, dan jika berpaling, Anda akan memikul dosa orang-orang Majusi (kaum penyembah api).
Surat itu dikirim melalui utusan ‘Abdullah bin Hudzaifah as-Sahmi. Ketika Kisra membaca surat itu, dia merobek¬nya. Ketika mendengar laporan itu, Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam berucap, “Allah akan merobek-robek kerajaannya hingga hancur lebur!”
Di dalam kitab Al-Amwal yang ditulis oleh Abu ‘Ubaid bin ‘Umair bin Ishaq disebutkan: “Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam menulis surat kepada Kisra dan kepada Kaisar. Kisra merobek surat beliau setelah membacanya, sedangkan Kaisar setelah mem¬baca surat itu kemudian melipat dan menyimpannya. Ber¬kaitan dengan kejadian itu Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam berucap, “Mereka (Kisra dan bangsawan-bangsawan sekitarnya) merobek-robek (surat itu), sedangkan mereka (Kaisar dan bangsawan- bangsawan sekitarnya) menyimpannya.” Sebuah riwayat menuturkan bahwa ketika Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam mendengar laporan tentang jawaban Kisra, beliau berucap, “Allah akan merobek-robek kerajaannya!” Dan ketika beliau mendengar jawaban Heraclius, beliau berucap, “Kerajaannya akan tetap.

12/01/2015

Sekilas Kehidupan Nabi SAW Bagian 16

Pejabat-pejabat Pemerintahan Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam

Para pejabat pemerintahan Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam tersebar di ber¬bagai daerah, di antaranya: Badzan bin Saman, anak lelaki Bahram. Ia ditugasi menjadi pengurus pemerintahan di Yaman. Untuk mengurus pemerintahan di Shan’a’ (sebuah kawasan di Yaman), beliau mengangkat Khalid bin Sa‘id. Ziyad bin Lubaid al-Anshari diangkat sebagai kepala daerah Hadhramaut. Abu Musa al-Asy’ari menjadi kepala wilayah Zabid dan Adn. Mu’adz bin Jabal sebagai kepala daerah di al-Jund, daerah Yaman. Abu Sufyan bin Harb di Najran dan anak lelakinya, Yazid, di Taima’. ‘Itab bin Usaid di Makkah merangkap sebagai penyelenggara musim haji bagi kaum Muslim pada tahun 8 Hijriyyah. ‘Ali bin Abi Thalib diangkat sebagai hakim di Yaman. ‘Amr bin al-‘Ash di Oman dan sekitarnya. Abu Bakar ash-Shiddiq ditugasi memimpin jamaah haji ke Makkah pada tahun 9 Hijriyyah. Namun kemudian Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam mengutus ‘Ali bin Abi Thalib menggantikan Abu Bakar, khususnya untuk menyampaikan Surah al-Bara’ah (beberapa ayat awal Surah al-Bara’ah/ at-Taubah.)

Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam juga mengangkat banyak pejabat yang bertugas mengelola harta sedekah dan zakat.

Para Mu’adzdzin Nabi Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam

Jumlah mu’adzdzin beliau empat orang. Dua di Madinah, yaitu Bilal bin Rabah dan Abdullah bin Ummi Maktum al-Qurasyi, seorang tunanetra. Mu’adzdzin beliau di Masjid Quba’ ialah Sa‘ad al-Qarzh maula ‘Ammar. Mu’adzdzinbeliau di Makkah adalah Abu Mahdzurah Aus al-Jamhi al-Makki.
Penyair, Khatib, dan Pendendang[1] Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam
Penyair Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam yang gigih membela agama Islam adalah Ka‘ab bin Malik, Abdullah bin Rawahah dan Hassan bin Tsabit. Mereka adalah kaum Anshar.
Empat orang penyair yang memberikan andil besar dalam dakwah Islam, adalah mereka yang di kemudian hari menjadi para khulafa’ ar-rasyidun (Abu Bakar ash-Shiddiq, ‘Umar bin al-Khaththab, ‘Utsman bin ‘Affan dan ‘Ali bin Abi Thalib—radhiyallahu‘anhum). Sayyid Mushthafa ash- Shiddiqi berhasil menghimpun syair-syair karya kakeknya, Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallahu anhu dalam suatu koleksi (kump**an catatan-catatan khusus).
Para sahabat lain yang terkenal sebagai para penyair adalah Ka’ab bin Zuhair, az-Zabarqan, ‘Abbas bin Mirdas, ‘Abbas bin Abdul Muththalib, paman Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam dan anak lelakinya, ‘Abdullah bin ‘Abbas.
Para khatib Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam antara lain, Tsabit bin Qais bin Syammas al-Anshari. Pada saat Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam sedang dalam perjalanan jauh, para sahabat yang kerap menden-dangkan lagu-lagu hiburan di hadapan Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam ada¬lah ‘Abdullah bin Rawahah, ‘Amir bin al-Akwa’, Anjasyah (seorang budak hitam), dan al-Barra’ bin Malik—radhiyallahu’anhum.
________________________________________
[1] Orang yang menyanyikan lagu-lagu ringan sambil menuntun unta untuk menghibur penunggangnya dalam perjalanan jauh, sekaligus memberi semangat kepada unta yang ditungganginya. Nyanyian se¬perti itu di Jawa terkenal dengan “uro-uro” yang dilakukan oleh pe¬tani yang sedang membajak tanah dengan bantuan kerbau—Penerj.

05/01/2015

Sekilas Kehidupan Nabi SAW Bagian 14

Para Pengawal Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam

Para pengawal beliau di antaranya: Sa‘ad bin Mu’adz (di Perang Badr), Abu Bakar ash-Shiddiq (di al-Arisy), Dzakwan bin Abdi Qais, Muhammad bin Maslamah (di Perang Uhud), Zubair bin al-Awwam (saat Perang Khandaq), ‘Ubbad bin Bisyr, Sa‘ad bin Abi Waqqash, Abu Ayyub (di Perang Khaibar), Bilal (di lembah al-Qura). Setelah turun firman Allah, Dan Allah melindungimu dari (kejahatan) manusia (QS 6:67) beliau tidak lagi memerlukan pengawal.

Para Utusan Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam Kepada Para Penguasa dan Raja-raja
• ‘Amr bin Umayyah adh-Dhamiri, dialah utusan pertama yang diutus kepada Raja Najasyi (Habasyah. Ethiopia) yang nama aslinya adalah Ashhamah, yang berarti pemberian. Pada waktu ia menyampaikan surat Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam kepada Najasyi, raja itu turun dari singgasana dan duduk di lantai, kemudian memeluk agama Islam. Ia wafat pada saat Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam masih hidup, yaitu pada tahun ke-9 H. Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam menshalatinya (shalat gaib).
• Dihyah biri Khalifah al-Kalbi, dia diutus Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam kepada Kaisar Romawi, Heraclius. Dia mempercayai ke¬nabian Muhammad Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam dan berniat hendak memeluk Islam tetapi tidak disetujui golongan bangsawan di kerajaannya. Dia takut kehilangan kerajaan dan kekua¬saannya sehingga tidak jadi memeluk agama Islam.
• ‘Abdullah bin Hudzafah as-Sahmi diutus Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam kepada Kisra, Maharaja Persia. Dia merobek surat dari Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam. Ketika mendengar berita itu, Ra-sulullah berucap, “Allah akan mengoyak-ngoyak keraja annya hingga hancur.”
• Hathib bin Abi Balta‘ah diutus kepada al-Muqauqis (Pe¬nguasa Mesir). Ia merasa tertarik pada agama Islam. Dia menghadiahkan Mariyah al-Qibthiyyah dan Sirin serta seekor bagal betina berwarna putih berbelang-be¬lang hitam, untuk Rasulullah saw. Selain itu, dikirimkan p**a kepada beliau uang sebesar 1000 dinar dan 20 helai pakaian.
• Para ahli sejarah kehidupan Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam menyebut¬kan bahwa beliau pernah mengutus enam orang utusan dalam waktu satu hari pada tahun ke-7 Hijriyyah. Sete¬lah melaksanakan tugas, masing-masing melaporkan kepada beliau mengenai apa yang dikatakan oleh pi¬hak yang mereka datangi.
• ‘Amr bin al-‘Ash diutus kepada Jaifir dan ‘Abd, dua orang putra al-Jalandi, Raja Oman. Dua orang putra raja itu menyatakan keislamannya melalui Amr dan menyerahkan harta sedekah bagi kaum Muslim. Kewenangan menggunakan sedekah itu sepenuhnya diserahkan ke¬pada mereka. Hingga Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam wafat, harta sedekah itu masih ada.
• Salith bin Amr al-‘Amiri diutus Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam kepada Haudzah bin Ali, penguasa Yamamah. Ia menghormati kedatangan utusan Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam Sebagai jawaban atas ajakan untuk memeluk agama Islam, ia mengatakan, “Alangkah baik dan indah agama yang Anda tawarkan. Aku adalah seorang ahli pidato dan penyair di kalangan bangsaku. Sampaikan kepadaku beberapa masalah (un¬tuk kuteruskan kepada masyarakatku.)” Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam tidak bersedia mengikuti kemauannya. Haudzah tidak memeluk agama Islam.
• Syuja bin Wahb al-Asadi diutus Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam kepada al-Harits bin Abi Syamr al-Ghassani, Raja Balqa di negeri Syam. Ia mencampakkan surat yang diterimanya dari al-Asadi seraya berkata, “Aku akan datang sendiri kepa¬danya!” Akan tetapi Kaisar melarangnya. (Sebagaimana diketahui pada masa itu negeri Syam termasuk dalam wilayah kekuasaan Romawi).
• Al-Muhajir bin Abi Ummayah al-Makhzuml diutus ke¬pada al-Harits al-Hamiri di Yaman.
• Al-Ala’ bin al-Hadhrami diutus kepada al-Mundzir, raja Bahrain, putra as-Sawi. Al-Mundzir bersedia memeluk Islam.
• Abu Musa al-Asy‘ari diutus ke negeri Yaman. Ia disertai oleh Mu’adz bin Jabal. RakyatYaman dan kaum bangsa¬wan di sana memeluk agama Islam tanpa kekerasan.

Address

Desa Pepedan Kec Dukuh Turi
Tegal

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Forsamat Tegal posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share