10/03/2026
Refleksi Perjalanan 3 Tahun Masjid Perjuangan Tegal
11 Maret 2023 – 11 Maret 2026
Tiga tahun lalu, di sebuah sudut Kota Tegal—di antara deretan ruko yang sebagian kosong, di tengah lingkungan yang tidak selalu identik dengan suasana religius, sebuah niat dan tekad ditanamkan: menghidupkan masjid sebagai rumah Allah yang benar-benar hidup untuk umat.
Tidak ada modal besar.
Tidak ada donatur tetap.
Bahkan sering kali saldo kas masjid nyaris kosong, kadang-kadang sampai minus.
Namun satu hal yang selalu ada sejak hari pertama:
Bismillahirrahmanirrahim.
Dengan semangat 5 B—
Bismillah, Belajar, Berbuat, Berbagi, dan Bersama—
langkah demi langkah kecil mulai dijalani.
Sejak awal Masjid ini dibuka 24 jam, agar siapa pun yang membutuhkan tempat singgah bisa datang.
Musafir bisa beristirahat.
Orang yang lelah bisa duduk menenangkan hati.
Bahkan mereka yang tidak punya tempat untuk bermalam bisa menemukan ruang aman untuk tidur.
Di sini, masjid tidak hanya menjadi tempat sujud…
tetapi juga tempat manusia kembali menemukan harapan.
Ada dapur sederhana yang kadang hanya mampu menyajikan makanan ala kadarnya.
Namun dari piring-piring sederhana itu, lahir kehangatan dan persaudaraan.
Ada program berbagi beras yang berjalan meski dalam keterbatasan, mengalir ke beberapa pesantren di Kota dan Kabupaten Tegal.
Ada halaqah Al-Qur’an yang terus berusaha dihidupkan.
Ada kajian yang terus digelar.
Ada kegiatan membersihkan masjid dan musholla di berbagai tempat, mengajak banyak orang untuk kembali peduli kepada rumah-rumah Allah.
Semua berjalan tanpa kemewahan, tetapi penuh dengan keikhlasan.
Para pengurus dan jamaahnya pun kebanyakan bukan orang-orang kaya.
Bahkan banyak di antara mereka yang masih termasuk mustahik, bukan muzaki.
Namun mungkin justru dari sanalah Allah mengajarkan sesuatu yang sangat indah:
Bahwa memakmurkan masjid tidak selalu dimulai dari kelimpahan harta… tetapi dari kelimpahan niat dan keikhlasan.
Tiga tahun ini penuh dengan cerita.
Ada hari-hari penuh semangat.
Ada juga hari-hari ketika kelelahan datang dan pertanyaan muncul: mampukah perjalanan ini terus berjalan?
Namun setiap kali keraguan datang, selalu ada pengingat yang sama:
Kita hanya berikhtiar.
Hasilnya adalah urusan Allah.
Hari ini, setelah tiga tahun perjalanan itu berlalu, kami tidak berani mengatakan bahwa kami telah berhasil.
Kami hanya bisa mengatakan:
kami masih terus belajar, masih terus berjuang, dan masih terus berharap.
Berharap agar Masjid Perjuangan Tegal tetap menjadi tempat:
tempat orang bersujud dengan rendah hati,
tempat Al-Qur’an dipelajari, AlQuran dihafal dan diajarkan
tempat kebaikan dibagikan,
dan tempat persaudaraan dirajut kembali.
Karena pada akhirnya,
masjid bukan hanya bangunan dengan kubah dan dinding.
Masjid adalah tempat di mana iman, harapan, dan kemanusiaan bertemu.
Dan selama masih ada orang yang datang untuk bersujud, belajar, berbagi, dan berjalan bersama…
perjuangan ini akan terus hidup.
Dengan bismillah... Kami akan terus berusaha belajar, berbuat, berbagi dan bersama bagaimana memakmurkan Masjid Allah ini