GP ANSOR Demangharjo

GP ANSOR Demangharjo Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from GP ANSOR Demangharjo, Religious organisation, Demangharjo, Tegal.

Mengenang KH. Thohir Bakri: Sang Pionir di Balik Seragam Ansor dan Ketukan Mesin Tik BubutanNUOKe – Di sebuah kawasan di...
23/04/2026

Mengenang KH. Thohir Bakri: Sang Pionir di Balik Seragam Ansor dan Ketukan Mesin Tik Bubutan

NUOKe – Di sebuah kawasan di selatan Tugu Pahlawan, tepatnya di Praban, sejarah besar pemuda Nahdlatul Ulama bermula. Di sanalah, pada tahun 1908, lahir seorang bayi bernama Thohir Bakri yang kelak akan menghabiskan hampir seluruh napas hidupnya untuk mengonsolidasikan kaum santri dalam satu barisan organisasi.

KH. Thohir Bakri bukan sekadar nama dalam struktur organisasi. Ia adalah sosok di balik impian besar melihat santri-santri di seluruh penjuru Nusantara mengenakan seragam kebesaran dan berorganisasi secara modern.

Dari Pesantren ke Panggung Pergerakan
Perjalanan intelektual Kyai Thohir berakar dari bimbingan orang tuanya sebelum akhirnya berkelana ke jantung pendidikan pesantren di Jombang. Ia menimba ilmu di Pesantren Peterongan dan memperdalam sanad pendidikannya di Pesantren Tebuireng.

Di Tebuireng inilah, watak organisatorisnya mulai nampak. KH. Ahmad Abdul Hamid, sahabat karibnya saat nyantri, mengenang Thohir sebagai pemuda yang penuh angan-angan visioner.

"Selama di pondok, ia selalu mengungkapkan mimpinya, kapankah santri-santri di seluruh Indonesia bisa menjadi anggota ANO (Ansor Nahdlatul Oelama), lengkap dengan pakaian seragamnya," tulis KH. Ahmad Abdul Hamid, teman karib saat nyantri di Tebuireng dalam catatannya. Demi mewujudkan itu, Thohir muda tak segan berkali-kali sowan kepada KH. Wahid Hasyim untuk meminta nasihat.

"Ketrak-Ketruk" di Gedung Bubutan
Lahirnya Gerakan Pemuda (GP) Ansor merupakan jawaban atas maraknya organisasi kepemudaan kedaerahan seperti Jong Java dan Jong Sumatera pada medio 1920-an. Dimulai dari Syubbanul Wathan (Pemuda Tanah Air) pada 1924, di mana Thohir menjabat sebagai Wakil Ketua mendampingi Abdullah Ubaid, embrio organisasi pemuda NU ini terus berevolusi hingga membentuk kepanduan Ahlul Wathan.

Puncaknya terjadi pada Muktamar NU ke-9 di Banyuwangi, April 1934. ANO resmi disahkan sebagai Departemen Pemuda NU dengan KH. Thohir Bakri dipercaya sebagai Ketua pertamanya.

Ada fragmen menarik yang terekam dalam ingatan H.A.A. Achsien. Dalam tulisan di harian Duta Masyarakat (1959), ia mengenang suasana di sekretariat ANO, Gedung Bubutan VI/2 Surabaya.

"Setiap saya datang ke Surabaya menemui KH. Thohir Bakri, beliau selalu ada di kantor, ketrak-ketruk menghadapi mesin tulis," kenang Achsien. Pemandangan punggung sang Kyai yang sibuk membalas sendiri surat-surat dari cabang-cabang ANO se-Indonesia menjadi bukti betapa ia adalah pekerja keras yang tekun.

Dedikasi Hingga Akhir Hayat
Karier KH. Thohir Bakri membentang luas melampaui urusan pemuda. Ia tercatat pernah menjadi Ketua NU Surabaya, memimpin Sarbumusi (serikat buruh), menjabat Kepala KUA Surabaya, hingga menjadi anggota Konstituante. Seluruh tenaga dan pikirannya tumpah ruah untuk NU dan Indonesia.

Sang pionir yang dikenal sederhana namun visioner ini akhirnya berpulang ke Rahmatullah pada 26 Juli 1959. Meski raganya telah tiada, ketukan mesin tik dari Bubutan itu seolah masih bergema dalam semangat jutaan kader Ansor yang kini berseragam lengkap di seluruh pelosok negeri—persis seperti mimpi yang ia bisikkan di lorong-lorong Pesantren Tebuireng seabad yang lalu.

Sumber: Berbagai Sumber Content Curator NUOKe

* *

Terima kasih banyak kepada Benny Azainuntuk semua dukungan kalian! Selamat sudah menjadi penggemar berat dalam streak 🔥!
09/03/2026

Terima kasih banyak kepada Benny Azain

untuk semua dukungan kalian! Selamat sudah menjadi penggemar berat dalam streak 🔥!

25/07/2025

Dalam memberikan nama untuk anak-anaknya, K.H. Ahmad Shiddiq senantiasa mengkaitkan calon nama yang bernuansa seni dengan pengabdian atau peristiwa-penstiwa penting. Seperti kelahiran puteranya yang lahir bersamaan dengan karimya sebagai anggota DPR Gotong-Royong, yaitu Mohammad Balya Firjaun Barlaman, demikian juga Ken Ismi Asiati Afrik Rozana, lahir bertepatan dengan konferensi Asia Afrika.

K.H. Ahmad Shiddiq menikah dengan Nyai Hj. Sholihah binti Kiai Mujib pada tanggal 23 Juni 1947, dan dikaruniai 5 orang anak, di antaranya: K.H. Mohammad Farid Wajdi, Drs. H. Mohammad Rafiq Azmi, Hj. Fatati Nuriana, Mohammad Anis Fuaidi (wafat kecil) dan K.H. Farich Fauzi (pengasuh Pondok Pesantren Al-Ishlah Kediri).

Nyai Sholihah tidak berumur panjang, Allah memanggilnya ketika putera-puterinya masih kecil. Sehingga keempat anaknya itu di asuh oleh Nyai Hj. Nihayah (adik kandung ketiga Nyai Sholihah). Melihat eratnya hubungan anak-anak dengan bibinya, maka Nyai Zulaikho (kakaknya) kemudian mendesak K.H. Ahmad Shiddiq agar melamar Nihayah. Dan Kiai Mujib pun menerima lamaran tersebut. Dari pernikahannya dengan Nyai Hj. Nihayah, ia dikaruniani 8 orang anak, di antaranya:

Asni Furaidah (isteri Zainal Arifin, S.E.)
Drs. H. Moh. Robith Hasymi (Jember)
Ir. H. Mohammad Syakib Sidqi (Dosen di Sumatera Barat)
H. Mohammad Hisyarn Rifqi (suami Tahta Alfina Pagelaran, Kediri)
Ken Ismi Asiati Afrik Rozana, BA (isteri Drs. Nurfaqih, guru SMA Jember)
Dra. Nida, Dusturia (isteri Tijani Robert Syaifun Nuwas bin Kiai Hamim Jazuli)
H. Mohammad Balya Firjaun Barlaman (pengasuh Pondok Pesantren Astra Jember)
Mohammad Muslim Mahdi (wafat kecil)
Karya dan Jasa K.H. Ahmad Shiddiq
Ketokohan K.H. Ahmad Shiddiq terbaca masyarakat sejak menyelesaikan belajar di Pondok Pesantren Tebuireng, K.H. Ahmad Shiddiq muda mulai aktif di GPII (Gabungan Pemuda Islam Indonesia) Jember. Karirnya di GPII melejit sampai di kepengurusan tingkat Jawa Timur, dan pada Pemilu 1955, ia terpilih sebagai anggota DPRD sementara di Jember.

Perjuangan K.H. Ahmad Shiddiq dalam mempertahankan kemerdekaan dimulai dengan jabatannya sebagai Badan Eksekutif Pemerintah Jember, bersama A. Latif Pane (PNI), P. Siahaan (PBI) dan Nazarudin Lathif (Masyumi). Pada saat itu, bupati dijabat oleh Soedarman, Patihnya R. Soenarto dan Noto Hadinegoro sebagai sekretaris Bupati.

Selain itu, K.H. Ahmad Shiddiq juga berjuang di pasukan Mujahidin (PPPR) pada tahun 1947. Saat itu Belanda melakukan Agresi Militer yang pertama. Belanda merasa kesulitan membasmi PPPR, karena anggotanya adalah para kiai. Agresi tersebut kemudian menimbulkan kecaman internasional terhadap Belanda sehingga muncullah Perundingan Renville yang memutuskan sebagai berikut:

Mengakui daerah-daerah berdasar perjanjian Linggarjati, dan
Ditambah daerah-daerah yang diduduki Belanda lewat Agresi harus diakui Indonesia.
Sebagai konsekuensinya perjanjian Renville, maka pejuang-pejuang di daerah kantong (termasuk Jember) harus hijrah. Para pejuang dari Jember kebanyakan mengungsi ke Tulungagung. Di sanalah K.H. Ahmad Shiddiq mempersiapkan pelarian bagi para pejuang yang mengungsi tersebut.

20/06/2025

MENDOGMA ANAK MENCINTAI AGAMA TAPI MEMBENCI TANAH AIR ADALAH PENDIDIKAN PARA PENISTA AGAMA.

𝘼𝙗𝙙𝙪𝙡𝙡𝙤𝙝 𝙁𝙖𝙞𝙯𝙞𝙣

Sahabat Umar Ra mengatakan:

لَوْلَا حُبُّ الْوَطَنِ لَخَرُبَ بَلَدُ السُّوْءِ فَبِحُبِّ الْأَوْطَانِ عُمِرَتِ الْبُلْدَانِ

“Seandainya tidak ada cinta tanah air, niscaya akan semakin hancur negeri yang terpuruk. Maka dengan cinta tanah air, negeri-negeri termakmurkan.” (Al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin, juz 1 hal 17, cet. Al-Haromain)

Membenci tanah air adalah dogma sesat para bangsat, mereka yang kerap kali mendoktrin anaknya dengan hanya memuja Agama namun memusuhi Negara, pemerintah dan para pemimpin bangsa adalah adalah begundal penjajah eksodan gelap dari harakah timur Tengah atas nama khilafah, mereka merusak dan mematahkan pohon keberagaman tanah air yang harus dilawan dan dibersihkan dari bumi kita.

Cadar gamis jilbab dan simbolik Keagamaaan yang dipakai hanya digunakan untuk meracuni dan merusak pikiran pikiran cinta budaya, cinta peradaban dan cinta kearifan lokal tanah air ini. Yang paling mengerikan adalah pekikan takbir, dan tulisan kalimat thayyibat di sematkan di mana mana, dikibarkan ke mana mana, seakan pemilik tunggal kalimat tauhid Tuhan. Namun prilakunya tak seperti mewakili kalimat Tuhan.

Kalau kita cerdas maka kita akan merasakan sebuah sensasi cinta aroma arab dikumandangkan di mana mana, dengan bergengsi menyebutkan, ana, antum, akhi ummi, di sisi lain dengan perasaan malu menggunakan istilah kedaerahan serta keindonesiaan. Inilah awal mula keterpurukan prilaku kita dalam mengejawantahi dan merasakan aroma bahasa dan budaya bumi nusantara ini. Dari sinilah realitas kita telah terjajah.

Realita keterpurukan imoralitas dan dekadensi nilai budaya tersebut tidak berdiri sendiri, ada musabab yang perlu dijadikan tolak ukur valid kekhawatiran kita bersama yakni menjamur, pendidikan serta boarding Islamic, Menjamurnya Rumah tahfiz Yayasan anak yatim duafa, dengan donasi tidak jelas sanad tidak jelas dengan hasil instan, dan menawarkan hal yang tidak masuk akal tidak jelas konsepnya menafikan keberkahan, Lalu pulang melawan orang tya, orang tua dianggap sesaat dan lain sebagainya.

Hal itu diperoleh dari dogma gurunya dengan paham pembedahan dan takfiriyah dengan pemahaman kasar dan tekstual tanpa melalui pemahaman para Ulama yang alim dan sesuai disiplin ilmunya, serta hafal Qur, an instan, yang didirikan sebuah lembaga dan dengan pemahaman tafsirnya kasar, menjadi jihadis dan dan didik harakah Islamiyah yakni khilafah tahririyah dan islam kaffah. Pemahaman itulah yang membentuk prilaku anak Indonesia brutal walaupun berbaju Agama.

Akankah kita rela dan mengamininya, lalu dengan bangga menitipkan anak kita ke pondok yang dianggap membangunkan karakter Islamnya tapi membenci bangsa dan merapuhkan nasionalisme kecintaan Negara? Jika ya maka berarti akan membunuh karakter keindonesiaanya dan menghancurkan masa depannya, karena mereka telah menjadi generasi terorisme dan radikalisme di masa depan untuk bangsa dan Agamanya.

Terakhir didiklah anak kita dengan seimbang antara cinta Agama dan tanah air di pesantren pesantren Nusantara yang kaya toleransi dan moderasi Agamanya serta menjunjung tinggi budaya dan kebaikan adat istiadanya. Ajaklah berguru kepada para kiyai dan masyayikh Ahlussunnah yang bijaksana dan kuat dalamnya mengembangkan Islami Rahmstalil Alaminya.

23/05/2025

*Kontribusi Nahdlatul Ulama dalam Memperkuat Persatuan Bangsa Indonesia: Sebuah Tinjauan Ilmiah*

Nahdlatul Ulama (NU), sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, telah memberikan sumbangsih signifikan dalam memperkuat persatuan dan keutuhan bangsa Indonesia. Berdiri pada 31 Januari 1926, NU tidak hanya berperan sebagai organisasi keagamaan, tetapi juga sebagai aktor sosial-politik yang mendorong kohesi sosial dan stabilitas nasional. Kontribusi NU dalam mempersatukan warga negara Indonesia tercermin melalui pendekatan ideologis, kultural, dan aksi nyata yang berlandaskan pada nilai-nilai Islam moderat, nasionalisme, dan pluralisme. Berikut adalah analisis ilmiah mengenai peran NU dalam memperkokoh persatuan bangsa.

1. Landasan Ideologis: Islam Nusantara dan Nasionalisme.
NU mengembangkan konsep *Islam Nusantara*, sebuah pendekatan yang mengintegrasikan nilai-nilai Islam dengan budaya lokal Indonesia. Pendekatan ini menekankan toleransi, moderasi, dan penghormatan terhadap keberagaman budaya serta agama (Hefner, 2019). Dengan mempromosikan *Islam Nusantara*, NU berhasil menciptakan narasi keagamaan yang inklusif, yang menjembatani perbedaan antar kelompok etnis, agama, dan budaya di Indonesia. Konsep ini memperkuat identitas kebangsaan yang berbasis pada *Bhinneka Tunggal Ika*, sehingga mencegah potensi konflik horizontal yang dapat memecah belah bangsa.

Selain itu, NU secara konsisten mendukung ideologi Pancasila sebagai dasar negara. Pada masa awal kemerdekaan, tokoh-tokoh NU seperti KH. Wahid Hasyim turut memperjuangkan penerimaan Pancasila sebagai konsensus nasional yang mengakomodasi semua golongan (Mujiburrahman, 2006). Komitmen ini menunjukkan bahwa NU tidak hanya berperan dalam ranah keagamaan, tetapi juga dalam membangun fondasi ideologis yang mempersatukan rakyat Indonesia di bawah satu bingkai kebangsaan.

2. Peran Sosial dan Kultural.
NU memiliki jaringan yang luas melalui pesantren, madrasah, dan majelis taklim di seluruh Indonesia. Lembaga-lembaga ini menjadi pusat pendidikan dan pembinaan nilai-nilai kebangsaan serta toleransi antarumat beragama. Melalui pendidikan, NU menanamkan pemahaman bahwa keberagaman adalah aset bangsa, bukan ancaman. Penelitian oleh Van Bruinessen (1994) menunjukkan bahwa pesantren-pesantren NU telah menjadi agen sosialisasi yang efektif dalam membentuk karakter warga negara yang cinta damai dan menjunjung tinggi persatuan.

Selain itu, NU aktif dalam kegiatan sosial seperti pengentasan kemiskinan, bantuan bencana, dan mediasi konflik. Misalnya, melalui Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI) NU, organisasi ini membantu masyarakat tanpa memandang latar belakang agama atau etnis, yang pada gilirannya memperkuat solidaritas sosial. Aksi-aksi ini mencerminkan prinsip *rahmatan lil alamin* (rahmat bagi seluruh alam), yang menjadi landasan NU dalam berkontribusi pada keharmonisan sosial.

3. Kontribusi Politik dan Stabilitas Nasional.
Dalam ranah politik, NU telah berperan sebagai penyeimbang dalam dinamika sosial-politik Indonesia. Pada masa Orde Lama dan Orde Baru, NU menjadi kekuatan yang menjaga stabilitas dengan menolak ekstremisme, baik dari ideologi kiri maupun kanan (Fealy, 1998). Pada era Reformasi, NU terus memainkan peran sebagai penjaga demokrasi dengan menentang gerakan radikalisme dan separatisme yang mengancam keutuhan bangsa. Misalnya, NU secara tegas menolak narasi khilafah yang bertentangan dengan konsep negara-bangsa Indonesia.

NU juga aktif dalam diplomasi antaragama dan internasional. Melalui forum-forum seperti Konferensi Islam Dunia untuk Perdamaian dan Anti-Kekerasan pada 2017, NU mempromosikan citra Indonesia sebagai negara yang damai dan pluralis. Upaya ini tidak hanya memperkuat posisi Indonesia di mata dunia, tetapi juga meningkatkan kepercayaan warga negara terhadap identitas nasional mereka.

4. Dampak terhadap Ketahanan Nasional.
Kontribusi NU dalam mempersatukan warga negara memiliki implikasi langsung terhadap ketahanan nasional. Dengan jaringan yang mencakup jutaan anggota dan simpatisan, NU mampu menangkal upaya-upaya yang bertujuan memecah belah bangsa, seperti propaganda radikalisme, separatisme, atau konflik berbasis identitas. Penelitian oleh Bush (2015) menunjukkan bahwa organisasi seperti NU memiliki peran strategis dalam mencegah polarisasi sosial melalui pendekatan moderasi beragama dan dialog lintas budaya.

Lebih lanjut, NU telah berhasil membangun *social capital* yang kuat melalui kepercayaan masyarakat terhadap integritas dan independensinya. Hal ini membuat NU menjadi institusi yang disegani, yang mampu memobilisasi masyarakat untuk menjaga persatuan di tengah tantangan seperti hoaks, ujaran kebencian, dan konflik politik.

Kesimpulan.
Secara ilmiah, Nahdlatul Ulama telah memberikan kontribusi besar dalam mempersatukan warga negara Indonesia melalui pendekatan ideologis, sosial, kultural, dan politik yang berbasis pada moderasi, toleransi, dan nasionalisme. Dengan mempromosikan *Islam Nusantara*, mendukung Pancasila, dan menjalankan aksi-aksi sosial yang inklusif, NU telah memperkuat kohesi sosial dan mencegah perpecahan bangsa. Kontribusi ini tidak hanya relevan pada masa lalu, tetapi juga terus berperan dalam menjaga keutuhan Indonesia di tengah dinamika global dan tantangan internal. Oleh karena itu, NU dapat dianggap sebagai pilar penting dalam membangun ketahanan nasional dan memastikan bahwa warga negara Indonesia tetap bersatu dalam keberagaman.

Referensi.
- Bush, R. (2015). *Religious Politics and Secular States: Egypt, India, and Indonesia*. Johns Hopkins University Press.
- Fealy, G. (1998). *Ulama and Politics in Indonesia: A History of Nahdlatul Ulama, 1952–1967*. PhD Dissertation, Monash University.
- Hefner, R. W. (2019). *Islam and Pluralism in Indonesia: The Role of Nahdlatul Ulama*. Journal of Democracy, 30(4), 105-119.
- Mujiburrahman. (2006). *Feeling Threatened: Muslim-Christian Relations in Indonesia’s New Order*. Amsterdam University Press.
- Van Bruinessen, M. (1994). *NU: Tradisi, Relasi-relasi Kuasa, Pencarian Wacana Baru*. LKiS.

19/04/2025

*RISALAH ASWAJA MBAH HASYIM 02*
https://whatsapp.com/channel/0029Vb45F5m8PgsNStDI9p3C
قال المؤلف رحمه الله تعالى :
فَصْلٌ فِيْ بَيَانِ السُّنَّةِ وَالْبِدْعَةِ
اَلسُّنَّةُ بِالضَّمِّ وَالتَّشْدِيْدِ كَمَا قَالَ أَبُو الْبَقَاءِ فِيْ كُلِّيَّتِهِ: لُغَةً اَلطَّرِيْقَةُ وَلَوْ غَيْرَ مَرْضِيَّةٍ. وَشَرْعًا اِسْمٌ لِلطَّرِيْقَةِ الْمَرْضِيَّةِ الْمَسْلُوْكَةِ فِي الدِّيْنِ سَلَكَهَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَوْ غَيْرُهُ مِمَّنْ عُلِمَ فِي الدِّيْنِ كَالصَّحَابَةِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ لِقَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ مِنْ بَعْدِيْ. وَعُرْفًا مَا وَاظَبَ عَلَيْه مُقْتَدًى نَبِيًّا كَانَ اَوْ وَلِيًّا. وَالسُّنِّيُّ مَنْسُوْبٌ اِلَى السُّنَّةِ حُذِفَ التَّاءُ لِلنِّسْبَةِ.

*Pasal Menjelaskan Tentang Sunnah dan Bid’ah*

Lafadz as-Sunnah dengan dibaca dhammah (sin-nya) dan tasydid sebagaimana dituturkan oleh Imam al-Baqa’ dalam kitab Kulliyat-nya secara etimologi adalah thariqah (jalan) sekalipun yang tidak diridhai.
Menurut terminologi syara’ as-Sunnah merupakan thariqah (jalan) yang diridhai yang ditempuh dalam agama sebagaimana yang telah ditempuh oleh Rasulullah _shallallahu ‘alayhiwasallam_ atau selain beliau yakni mereka yang memiliki otoritas sebagai panutan di dalam masalah agama seperti para sahabat _Radliyallahu ‘anhum_.[1]
Hal ini didasarkan pada sabda Nabi _shallallahu ‘alayhiwasallam_: “Tetaplah kalian untuk berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin setelahku.”
Sedangkan menurut terminologi ‘urf, sunnah adalah apa yang dipegangi secara konsisten oleh tokoh yang menjadi panutan apakah ia sebagai nabi ataupun wali. Adapun istilah as-Sunni merupakan bentuk pen*sbatan dari lafadz as-Sunnah dengan membuang ta’ untuk pen*sbatan.[2]

*Catatan:*
[1] Kata _as Sunnah_ jika ditemukan dalam hadits-hadits Rasulullah, maka yang dimaksud adalah ajaran Nabi _shalallahu alayhi wasallam_.
👉 Berikut beberapa hadits yang sering disalah pahami:
1. Hadits tentang pernikahan
النكاح سنتي فمن رغب عن سنتي فليس مني
_Nikah adalah sunnah-ku, barang siapa yang membenci sunnah-ku maka dia bukan ummatku_
⛔ Sebagian orang berdasarkan hadits ini mengatakan bahwa hukum dasar nikah adalah sunnah, padahal para ulama mengatakan bahwa hukum dasar menikah adalah mubah (boleh), meski bisa berubah menjadi sunnah. Lebih fatal, dalam memaknai lanjutan hadits tersebut dia mengatakan, orang yang tidak menikah bukan umat Nabi Muhammad (bukan muslim). Padahal betapa banyak para ulama dan para wali yang tidak menikah, karena menyibukkan diri dalam ilmu dan ibadah.
👆Makna hadits di atas adalah bahwa menikah adalah salah satu syari'at (ajaran) Islam, seseorang yang membenci syariat Islam maka dia bukan seorang muslim.
2. Hadits tentang keutamaan menghidupkan sunnah
من أحيا سنتي عند فساد أمتي كان له أجر شهيد
_Barangsiapa yang menghidupkan sunnah-ku di saat rusaknya umatku maka baginya pahala orang yang mati syahid_
⛔ Sebagian orang keliru dalam memahami hadits ini, sehingga mereka menyibukkan diri dengan amalan-amalan yang hukumnya sunnah dan mengabaikan amalan-amalan yang hukumnya wajib.
👆Makna sunnah Nabi dalam hadits di atas adalah ajaran Nabi yang meliputi akidah dan ahkam. Bahwa seseorang yang mau mendakwahkan dan mengajarkan syariat Islam; baik akidah maupun ahkam di saat umat Islam diliputi oleh kebodohan terhadap syariat Islam, maka orang tersebut akan mendapatkan pahala orang yang mati syahid, meskipun dia mati dia atas tempat tidurnya.
[2] Ahlussunnah adalah golongan yang mengikuti sunnah Nabi; ajaran Nabi baik aqidah, ahkam maupun akhlak/tashawwuf.

والله اعلم بالصواب

17/04/2025

*RISALAH ASWAJA MBAH HASYIM 01*

قال المؤلف رحمه الله تعالى :
مقدمة
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
اَلْحَمْدُ للهِ شُكْرًا عَلَى نَوَالِهِ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَﺁلِهِ وَبَعْدُ
فَهَذَا كِتَابٌ أَوْدَعْتُ فِيْهِ شَيْئًا مِنْ حَدِيْثِ الْمَوْتَى وَأَشْرَاطِ السَّاعَةِ، وَشَيْئًا مِنَ الْكَلاَمِ عَلَى بَيَانِ السُّنَّةِ وَالْبِدْعَةِ وَشَيْئًا مِنَ الأَحَادِيْثِ بِقَصْدِ النَّصِيْحَةِ وَالَى اللهِ الْكَرِيْمِ أَمُدُّ اَكُفَّ الْاِبْتِهَالِ أَنْ يَنْفَعَ بِهِ نَفْسِيْ وَأَمْثَالِيْ مِنَ الْجُهَّالِ وَأَنْ يَجْعَلَ عَمَلِيْ خَالِصًا لِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ إِنَّهُ جَوَادٌ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ، وَهَذَا أَوَانُ الشُّرُوْعِ فِي الْمَقْصُوْدِ بِعَوْنِ الْمَلِكِ الْمَعْبُوْدِ .
"Pengantar, dengan menyebut dan bertabarruk dengan nama Allah, _ar Rohmaan, ar Rohiim_ (aku memulai mengarang kitab ini). Segala puji bagi Allah sebagai sebuah ungkapan rasa syukur atas segala anugerah-Nya. Shalawat dan salam mudah-mudahan terlimpah curahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad _shallallahu alayhi wasallam_ dan seluruh keluarga beliau.[1]
Setelah membaca _basmalah, hamdalah dan shalawat_, Ini adalah kitab yang di dalamnya aku titipkan hadits-hadits tentang orang-orang yang mati, tanda-tanda hari kiamat, penjelasan tentang sunnah dan bid’ah dan beberapa hadits dengan tujuan memberi nasehat-nasehat. [2]
Kepada Allah Dzat Yang Maha Mulia aku berdoa dengan sepenuh hati, aku memohon agar kitab ini memberikan manfaat untuk diri kami dan orang-orang bodoh semisal kami.[3]
Mudah-mudahan Allah menjadikan amal kami ikhlas karena Allah, Dzat Yang Maha Pemurah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.[4]. Dengan segala pertolongan Allah Dzat yang wajib disembah penyusunan kitab ini dimulai.[5]

*Catatan*
[1] Telah menjadi kebiasaan para _muallif_ (pengarang kitab), mereka memulai karangannya dengan membaca _basmalah, hamdalah dan sholawat._
[2] Dalam muqoddimah kitab, muallif menjelaskan isi kitab yang beliau tulis, yaitu:
1. Hadits-hadits tentang orang-orang yang mati
2. Tanda-tanda hari kiamat
3. Penjelasan tentang sunnah dan bid’ah
4. Beberapa hadits tentang nasehat-nasehat.
[3] Ungkapan ketawadlu'an muallif, dan menunjukkan bahwa pencipta manfaat adalah Allah. Demikian juga madlorrot, Allah yang telah menciptakannya.
[4] Karena ikhlas adalah syarat diterimanya amal sholih
[5] Karena seseorang tidak akan mampu melakukan suatu kebaikan kecuali dengan pertolongan dan taufiq Allah. Inilah makna dari _hawqolah:_
لا حول ولا قوة الا بالله

والله اعلم بالصواب

Risalah Tentang Kritis Atas Doktrin Faham Wahhabi-SalafiSebuah Pengantar Penulisبسمﷲ الرحمن الرحيم  "Dengan menyebut nam...
25/02/2025

Risalah Tentang Kritis Atas Doktrin Faham Wahhabi-Salafi

Sebuah Pengantar Penulis

بسمﷲ الرحمن الرحيم

"Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang".
...فَلاَ تُزَكُّوا أنْفُسَكُم هُوَ أعْلَمُ بِمَنِا تَّقَي

….janganlah kamu merasa sudah bersih, Dia (Allah) lebih mengetahui siapa yang bertakwa".(An-Najm: 32).

قُلْ كُلٌّ يَّعْمَلُ عَلَى شَاكِلَتِهِ فَرَبُّكُم اَعْلَمُ بِمَنْ هُوَاَهْدَى سَبِيْلاً

…Katakanlah (hai Muhamad): Biarlah setiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing, karena Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih lurus (jalan yang ditempuhnya)”. (Al-Isra: 84).

Segala puji bagi Allah seru sekalian alam, shalawat dan salam terlimpah atas penghulu manusia, yang terdahulu dan yang terakhir, junjungan kita Nabi Muhamad Saw., juga atas segenap keluarganya yang suci dan para sahabatnya yang mulia sampai hari kemudian.

Risalah dihadapan pembaca yang budiman ini mencoba menelaah doktrin dan fatwa sebagian kelompok muslimin kontemporer. Banyak hal yang sebenarnya soal furu’iyah ditarik oleh golongan ini menjadi soal ushul.

Kelompok kontemporer ini malah menempatkan tuduhan haram, bid’ah, syirik atau tidak sesuai dengan sunnah Nabi, lebih didasarkan pada ketidaksiapan menerima perbedaan.

Bahkan, tidak sedikit dilandaskan pada ketidaktahuan dan kekuranglengkapan pemahaman mereka mengenai nash dan kelemahan metodologi. Dan Risalah ini ingin mengajak para pembaca untuk membuka dialog. Tanpa hendak bertendensi mengadili siapa salah, siapa benar.

Belakangan, fenomena radikalisme atas nama agama cenderung menguat. Sikap keras itu tidak hanya mengarah sebagai kritik sosial-politik. Tapi juga pada akhirnya menjadi soal klaim.

Kelompok ini mengklaim dirinya telah menjalankan syariat paling benar dan paling murni. Mereka menyatakan diri sebagai pengikut para salaf saleh.

Kelompok ini sejak awal menyatakan diri sebagai kalangan muwahhidun. Kelompok yang menjaga kemurnian tauhid.

Muhamad Ibnu Abd Wahab sendiri ,sang imam kelompok ini, menyatakan diri sebagai penerus Ibnu Taimiyah. Sedangkan, Ibnu Taimiyah dikenal sebagai salah seorang ulama mazhab Hanbali.

Posisi Imam Ahmad bin Hanbal, sedemikian sentral dalam perjalanan intelektual Ibnu Taimiyah. Sayangnya, kecenderungan kelompok ini menjadi literalis dan terlalu mudah menyerang kelompok lain.

Klaim ini dibarengi dengan lontaran tuduhan dan kritik tajam kepada kelompok lain sebagai sesat, bodoh, bid’ah dan syirik.

Mereka tidak segan-segan mengkafirkan sesama Muslim termasuk para ulama di luar kelompoknya. Hati-hatilah, ingat firman Allah Swt. diatas (Al-Isr.a’: 84 dan An- Najm: 32) dan hadis nabi Saw. pada kajian berikutnya.

ᴅɪʙᴀɢɪᴋᴀɴ ᴏʟᴇʜ:
_ᴀʟ-ғᴀᴛɪʜ ᴀsᴡᴀᴊᴀ☆☆☆_

آدَابُ الْـمُتَعَلِّمِ(Adab Santri)لِلْمُتَعَلِّمِ آدَابٌ فِى نَفْسِهِ وَآدَابٌ مَعَ أُستَاذِهِ وَآدَابٌ مَعَ إِخْوَانِه...
15/02/2025

آدَابُ الْـمُتَعَلِّمِ
(Adab Santri)

لِلْمُتَعَلِّمِ آدَابٌ فِى نَفْسِهِ وَآدَابٌ مَعَ أُستَاذِهِ وَآدَابٌ مَعَ إِخْوَانِه

Kanggo Santri ana ketetapan adab kanggo awake dewek, adab karo gurune, lan adab karo kanca kancane.

أَمَّا آدَابُهُ فِى نَفْسِهِ فَكَثِيْرَةٌ مِنْهَا تَرْكُ العُجْبِ، العُجْبُ هُو اسْتِعْظَامُ النِّعْمَةِ وَالرُّكُوْنُ إِلَيْهَا مَعَ نِسْيَانِ إِضَافَتِهَا إِلَى الْـمُنْعِم

Anapun adab kanggo awak deweke maka kuwe akeh,
Diantarane kuwe ora ‘ujub.
’Ujub kuwe gumedhe maring nikmat lan luwih condong maring rumangsa gedhe serta klalen ora nyandarkan nikmat tersebut maring Dzat kang Aweh Nikmat (Allah).

10/02/2025

وَأَمَّا ثَمَرَتُهَا فَسَعَادَةُ الدَّارَيْنِ

Anapun hasile Taqwa kuwe begjo dunia lan begjo akhirat.

أَمَّا فِى الدُّنْيَا فَارْتِفَاعُ القَدرِ وَجَمَال الصُّيت وَالذِّكْرِ وَاكْتِسَابُ المَوَدَّةِ مِنَ النَّاسِ، لِأَنَّ صَاحِبَ التَقْوَى يُعَظِّمُهُ الْأَصَاغِرُ، وَيَهَابُهُ الْأَكَابِرُ، وَيَرَاهُ كُلُّ عَاقِلٍ أَنَّهُ الأَوْلَى بِالبَرِّ وَالْإِحْسَانِ

Anapun neng Dunia: wong sing taqwa pasti terangkat derajate, harum namane lan sesebutanne, bakal oleh kecintaan saka manusia, karena Wong sing taqwa bakal dibesarkan nang orang-orang cilik lan disegani wong-wong gedhe,
Wong sing berakal bakal mandeng bahwa sesungguhnya Wong sing taqwa luwih utama untuk diberi kebaikan lan diperlakukan dengan apik

وَأَمَّا فِى الآخِرَةِ فَالنَّجَاةُ مِنَ النَّارِ وَالفَوَزِ بِدُخُوْلِ الجَنَّةِ وَكَفَىَ المُتَّقِيْنَ شَرفا أَنَّ اللّٰه يَقُوُلُ فِيْهِم

Anapun neng akhirat : Orang sing taqwa pasti selamat saking neraka lan olih kemenangan kelawan mlebu suwarga, cukuplah kemuliaan kanggo wong sing bertaqwa sebuah Firman Allah :

إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَواْ وَّٱلَّذِينَ هُم مُّحۡسِنُونَ

“Satemene Gusthi Allah iku beserta para Manungsa sing Takwa lan Para Manungsa sing berbuat kebaikan.” (An-Nahl : 128)

Address

Demangharjo
Tegal
52183

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when GP ANSOR Demangharjo posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Place Of Worship

Send a message to GP ANSOR Demangharjo:

Share