GSKI "Berea" Tangerang.

GSKI "Berea" Tangerang. Ibadah Raya : Minggu, 10.00 WIB
Ibadah Sekolah Minggu, 10.00 WIB
WA 087880202381


Jl. Mutiara Raya,Ruko pasar Modern mutiara Karawaci Tangerang. Blok B-51.

22/06/2026

๐•ฝ๐–Ž๐–Œ๐–๐–™๐–Š๐–”๐–š๐–˜๐–“๐–Š๐–˜๐–˜ ๐•บ๐–‹ ๐•ฎ๐–๐–—๐–Ž๐–˜๐–™:

Kita harus memiliki hati yang lentur untuk dibentuk oleh Tuhan. Inilah kelemahlembutan yang Tuhan kehendaki.

23 Juni 2026
Pdt. Dr. Erastus Sabdono

22/06/2026

๐“๐‘๐”โœ๏ธ๐‡ ๐ƒ๐€๐ˆ๐‹๐˜
๐„๐๐‹๐ˆ๐†๐‡๐“๐„๐๐Œ๐„๐๐“
23 Juni 2026

*HARUS MAU SELALU BERUBAH*

Jika kita mau menjadi besar di mata Tuhan, tidak ada cara yang mudah; harus ada proses pembentukan. Untuk memasuki proses itu, seseorang harus memiliki kelemahlembutan. Unsur-unsur negatif dalam diri dan karakter kita harus dikikis, dan pengikisan itu menyakitkan, bahkan bisa sangat menyakitkan. *Tanpa kelemahlembutan, mustahil kita dapat dibentuk oleh Tuhan.* Firman Tuhan dalam Matius 18:3 mengatakan bahwa jika kita tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil, kita tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Karena itu, kita harus memiliki hati yang lentur untuk dibentuk oleh Tuhan. Inilah kelemahlembutan yang Tuhan kehendaki.

Tujuan kita belajar kebenaran bukan sekadar mengisi pikiran dengan pengertian teologi, melainkan sungguh-sungguh menjadi pelaku firman. Tidak ada yang lebih membahagiakan selain menyukakan hati Tuhan melalui perbuatan yang sejalan dengan firman yang telah kita pelajari. Kita harus selalu merasa bahwa kita belum menjadi seperti yang Tuhan kehendaki. *Melalui teguran, nasihat, dan hajaran Tuhan, seseorang harus mau terus berubah.* Jangan berpikir bahwa anugerah adalah โ€œall inโ€ yang otomatis membuat kita masuk surga. Pemikiran seperti ini sangat menyesatkan dan mengganggu orang yang sungguh-sungguh ingin bertumbuh menuju kesempurnaan.

Anugerah tidak otomatis membuat seseorang menjadi sempurna. Seseorang harus bertobat seperti anak kecil melalui proses perubahan pikiran. Hal ini bukan terjadi dalam satu momentum, melainkan melalui proses panjang yang berlangsung terus-menerus. *Pembaruan pikiran tidak akan terjadi jika kita tidak menyediakan perhatian yang sungguh-sungguh untuk itu.* Berbahagialah kita yang terus mengisi pikiran dengan kebenaran firman Tuhan. Tuhan akan memberikan firman sesuai dengan tingkat kedewasaan rohani kita. Dalam bahasa Yunani, Matius 18:3 menggunakan kata paidion, yaitu anak usia sekitar 7โ€“14 tahun, usia yang efektif untuk dididik. Setinggi apa pun pencapaian kita dalam akademis atau bisnis, kita tetap harus memiliki kelenturan hati seperti anak usia tersebut. Tuhan dapat mewarnai jiwa kita jika kita memberi diri untuk diwarnai.

Yeremia 18:1-6 menjelaskan bahwa Tuhan seperti penjunan yang membentuk kita. Dalam setiap peristiwa yang kita lihat, dengar, dan alami, kita harus bertanya: bagian mana dalam diriku yang hendak Tuhan bentuk? *Orang yang lemah lembut adalah orang yang merindukan pembentukan Tuhan setiap saat melalui segala peristiwa hidupnya.* Kerinduan ini bukan untuk memanip**asi Tuhan, melainkan karena kita ingin menikmati Tuhan. Seseorang tidak dapat menikmati Tuhan jika tidak memiliki sikap rela menerima setiap kejadian sebagai sesuatu yang Tuhan izinkan untuk kebaikan. Jika terus bersungut-sungut atas peristiwa yang dialami, seseorang tidak akan pernah haus dan rindu akan Tuhan.

Kita harus menyadari bahwa pembentukan Allah dapat terjadi melalui peristiwa-peristiwa yang menggores sangat dalam jiwa kita. Untuk menghasilkan perubahan yang intens, Tuhan dapat mengizinkan goresan yang dalam melalui berbagai peristiwa. Pada usia tertentu, demi percepatan pertumbuhan, Tuhan bisa mengadakan pembentukan melalui pengalaman yang sangat menyengat dan mengganggu jiwa. Goresan itu menghasilkan perubahan yang signifikan. Orang saleh seperti Ayub pun mengalami pembentukan yang hebat. Dalam Ayub 23:10 tertulis, โ€œIa tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas.โ€ Untuk mencapai kadar kemurnian yang tinggi, Ayub harus melalui goresan yang sangat dalam.

Tuhan Yesus memberkati๐Ÿ™

MELALUI TEGURAN, NASIHAT, DAN HAJARAN TUHAN, SESEORANG HARUS MAU TERUS BERUBAH.

22/06/2026

๐•ฝ๐–Ž๐–Œ๐–๐–™๐–Š๐–”๐–š๐–˜๐–“๐–Š๐–˜๐–˜ ๐•บ๐–‹ ๐•ฎ๐–๐–—๐–Ž๐–˜๐–™:

Ketika Tuhan memukul atau menghajar kita, kita harus menerimanya dengan rendah hati tanpa memberontak.

22 Juni 2026
Pdt. Dr. Erastus Sabdono

22/06/2026

๐“๐‘๐”โœ๏ธ๐‡ ๐ƒ๐€๐ˆ๐‹๐˜
๐„๐๐‹๐ˆ๐†๐‡๐“๐„๐๐Œ๐„๐๐“
22 Juni 2026

*MAU MENERIMA TEGURAN*

Keempat, *orang yang lemah lembut adalah orang yang mau menerima teguran orang lain.* Ia lentur dalam menerima teguran, peringatan, dan hajaran Tuhan (Yak. 1:21). Terimalah firman Tuhan dengan lemah lembut untuk dikenakan kepada diri sendiri, bukan untuk ditujukan kepada orang lain. Kita harus menjadi seperti anak-anak yang selalu bersedia diajar oleh Tuhan melalui firman-Nya. Datanglah kepada Tuhan dengan kerendahan hati, sebab suatu hari keadaan kita semua akan tampak jelas di hadapan-Nya. Karena itu, tidak ada yang perlu kita sombongkan hari ini, sekalipun kita kaya, cantik, tampan, atau cerdas.

Contoh seorang yang lemah lembut adalah Daud yang mau menerima teguran nabi Allah. Dalam 2 Samuel 12:13, ketika Daud ditegur oleh Nabi Natan, ia berkata, โ€œAku telah berdosa kepada Tuhan.โ€ Ini adalah hal yang luar biasa. Daud sebenarnya bisa saja membunuh Nabi Natan di depan umum karena teguran tersebut. Selanjutnya, ketika Daud melarikan diri dari kejaran Absalom, ia bertemu dengan Simei yang mengutukinya. Daud melarang hulubalangnya memenggal kepala orang itu. Ia menyadari bahwa jika peristiwa itu datang dari Tuhan, maka itu dapat menjadi teguran yang mendewasakannya. *Jangan sampai kita mengeraskan hati sehingga Tuhan menghajar kita dengan lebih keras.* Banyak orang menolak teguran karena merasa orang yang menegur tidak pantas menegurnya. Kita harus peka supaya tidak dipermalukan oleh Tuhan.

*Jika kita ditegur Tuhan dan tidak mau berubah, kita sendiri yang akan menuai akibatnya.* Ketika ditegur atau dikritik, kita harus mengamati isi teguran itu dengan saksama. Jangan melihat siapa yang menegur, tetapi apa yang ditegur. Jika benar, kita harus berterima kasih kepada orang yang telah menjadi saluran Tuhan untuk menegur kita. *Tuhan selalu menegur dengan lemah lembut dan tidak mempermalukan kita, kecuali jika perbuatan kita memang telah melampaui batas.*

Sering kali kita ditegur pada waktu dan tempat yang menurut kita tidak tepat. Akibatnya, kita menolak dan melawannya. Namun Daud tidak melawan. Karena itu wajar jika Tuhan menyebut dia seorang yang berkenan di hati-Nya. Daud bukan manusia sempurna yang tidak pernah bersalah, tetapi responsnya terhadap kesalahan itulah yang membuatnya agung dan indah. Dalam Mazmur 51:7 (TB), ia berkata, โ€œSesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku.โ€ Terlihat kelapangan hati dan kejujuran Daud mengenai dirinya. *Kita harus memiliki kelapangan hati dan kejujuran mengenai keadaan kita yang belum sempurna, sehingga tidak mempersoalkan siapa, kapan, dan di mana teguran itu datang.*

Ketika Tuhan memukul atau menghajar kita, kita harus menerimanya dengan rendah hati tanpa memberontak. Daud adalah teladan dalam penyerahan diri dan kesiapan untuk ditegur setiap saat. Tuhan tahu kapan waktu yang tepat dan seberapa berat teguran yang perlu diberikan. *Kelemahlembutan adalah modal utama agar seseorang mengalami pertumbuhan iman dan pembentukan menuju kesempurnaan.* Yusuf juga mengakui bahwa penderitaan yang dialaminya bukan musibah, melainkan cara Allah memberkati hidupnya dan keluarganya di Kanaan.

Jika Yusuf tidak mengalami penderitaan yang berat, ia tidak akan menjadi Zafnat-Paaneah, penguasa kedua setelah Firaun yang menyelamatkan Mesir dan saudara-saudaranya. Yusuf yang dahulu manja dan sangat dilindungi ayahnya tidak dapat langsung dipercaya Tuhan untuk menjadi orang besar. Ia harus dibentuk dan diproses. Namun tanpa kelemahlembutan, seseorang tidak akan sanggup diproses oleh Tuhan.

Tuhan Yesus memberkati๐Ÿ™

ORANG YANG LEMAH LEMBUT ADALAH ORANG YANG MAU MENERIMA TEGURAN ORANG LAIN.

20/06/2026

๐“๐‘๐”โœ๏ธ๐‡ ๐ƒ๐€๐ˆ๐‹๐˜
๐„๐๐‹๐ˆ๐†๐‡๐“๐„๐๐Œ๐„๐๐“
21 Juni 2026

*MEMPERLEBAR HATI*

Gereja bukanlah showroom; gereja adalah bengkel. Gereja bukan mencari orang benar, melainkan mencari orang-orang berdosa dan rusak untuk diubahkan. Kita harus belajar menerima orang lain sebagaimana adanya. Tuhan Yesus sendiri menjamin bahwa Ia tidak akan membuang orang yang datang kepada-Nya (Yoh. 6:37). Tuhan menerima setiap orang. Namun kenyataannya, di gereja ada orang-orang moralis yang tidak memberi kesempatan kepada orang berdosa untuk mengenal kebenaran dan diselamatkan. Sesungguhnya kita harus menerima mereka. Kecuali jika orang itu meninggalkan kita dan nyata-nyata tidak mau bertobat, maka itu bukan lagi tanggung jawab kita. Tetapi selama mereka masih duduk mendengarkan khotbah dan mau menerima pelayanan, kita harus memberi kesempatan bagi mereka untuk diubahkan dan diselamatkan.

Sikap dan roh yang dipancarkan oleh โ€œorang-orang kudusโ€ di gereja sering kali membuat orang berdosa semakin tidak mau bertobat karena merasa gereja bukan tempat yang aman. *Gereja yang benar membuat orang berdosa merasa amanโ€”bukan aman untuk hidup dalam dosa, melainkan aman karena diterima supaya bisa diubahkan Tuhan.* Jika kita bisa membuat orang baik menjadi lebih baik, itu tidak mengherankan. Namun jika kita bisa membuat orang berdosa menjadi baik, itu luar biasa. Banyak orang tidak betah di gereja karena merasa tidak disambut, lalu pergi dengan pemikiran bahwa mereka tidak layak berada di antara para moralis yang mengaku sebagai โ€œorang-orang kudus.โ€

Ketika Tuhan Yesus menyambut orang berdosa seperti Zakheus (Luk. 19:1-10) atau perempuan berdosa yang mengurapi-Nya, tokoh-tokoh agamaโ€”para moralis yang merasa diri kudusโ€”justru bersungut-sungut dan mempersalahkan-Nya. Namun Tuhan tidak memedulikan sikap mereka. Dengan integritas yang mengagumkan, Ia menerima orang berdosa. Pada akhirnya, orang-orang berdosa itu mewarisi Kerajaan Surga. Rasul Paulus menasihati orang percaya agar saling menerima seperti Kristus telah menerima kita (Rm. 15:7; Ef. 4:2), sehingga kita tidak saling menghakimi, menghukum, atau membinasakan. Kelemahlembutan seperti ini meredakan kegeraman.

*Di mana pun kita berada, kita akan selalu berjumpa dengan orang-orang yang sukar kita terima, dan justru di situlah Tuhan hendak memperlebar hati kita.* Jika dahulu hati kita sempit, Tuhan ingin memperluasnya. Seperti pedagang yang bersikap lemah lembut kepada konsumennya demi dapat menjual dagangannya, demikian p**a kita harus berani bersikap lemah lembut supaya orang dapat diselamatkan. Mungkin tidak ada yang memberi kita mahkota di bumi karena sikap dan perjuangan itu, tetapi suatu hari Tuhan akan memberikan mahkota kehidupan di Langit dan Bumi Baru.

*Kita harus belajar menerima orang lain karena hidup ini singkat; jika terus menyimpan sakit hati, kepahitan, dan penolakan, persoalan kita tidak akan pernah selesai, bahkan akan berubah menjadi penyakit batin.* Kita pasti akan bertemu dengan orang-orang yang tidak cocok dengan kita. Karena itu, kita harus mulai belajar lemah lembut di dalam keluarga terlebih dahulu, baru di luar. *Kebesaran jiwa untuk menerima orang lain sebagaimana adanya akan mengalirkan kuasa yang memberkati.* Hal ini tidak mudah, tetapi kita harus melatih diri memperbesar kapasitas jiwa supaya memiliki kebesaran hati seperti Tuhan Yesus Kristus.

Banyak pertikaian di gereja, perusahaan, dan rumah tangga terjadi karena ketidakmampuan menerima orang lain apa adanya. Milikilah kebesaran jiwa. Walaupun kita mampu membalas atau bertindak, tetapi kita memilih tidak melakukannyaโ€”di situlah kemerdekaan. Kita harus menjadi hamba yang melayani di mana pun berada. *Keadaan sulit di bumi ini akan membuat kita kokoh dan kuat, serta membuat kita tidak terlalu melekat pada dunia ini dan akan lebih mudah โ€œterbangโ€ ke surga.* Percayalah, Tuhan tidak akan memberikan pencobaan yang melampaui kemampuan kita. Tuhan itu adil; jangan membalas kejahatan dengan kejahatan kepada siapa pun.

Alkitab menunjukkan bahwa Tuhan Yesus dapat bergaul dengan orang-orang terbuang pada zaman-Nya. Ia tidak seperti para moralis yang semena-mena terhadap orang lain. *Memang Tuhan tidak menyukai dosa, tetapi Ia mengasihi orang berdosa.* Dalam kehidupan bermasyarakatโ€”di gereja, tempat kerja, sekolah, kampus, bahkan di rumahโ€”kita akan dipertemukan dengan orang-orang yang sulit kita terima, bahkan seperti duri dalam daging. Lebih menyakitkan lagi jika โ€œduriโ€ itu adalah pasangan hidup kita sendiri. Namun kita masih dapat memilih menjadikannya sebagai sparing partner untuk saling menyempurnakan di dalam Tuhan. Di sinilah kita belajar menerima orang lain sebagaimana adanya, dan melalui itu kita akan mengalami kebebasan dan kemerdekaan yang sesungguhnya.

Tuhan Yesus memberkati๐Ÿ™

DI MANA PUN KITA BERADA, KITA AKAN SELALU BERJUMPA DENGAN ORANG-ORANG YANG SUKAR KITA TERIMA, DAN JUSTRU DI SITULAH TUHAN HENDAK MEMPERLEBAR HATI KITA.

20/06/2026

๐•ฝ๐–Ž๐–Œ๐–๐–™๐–Š๐–”๐–š๐–˜๐–“๐–Š๐–˜๐–˜ ๐•บ๐–‹ ๐•ฎ๐–๐–—๐–Ž๐–˜๐–™:

Gereja bukanlah showroom; gereja adalah bengkel. Gereja bukan mencari orang benar, melainkan mencari orang-orang berdosa dan rusak untuk diubahkan.

21 Juni 2026
Pdt. Dr. Erastus Sabdono

20/06/2026

๐“๐‘๐”โœ๏ธ๐‡ ๐ƒ๐€๐ˆ๐‹๐˜
๐„๐๐‹๐ˆ๐†๐‡๐“๐„๐๐Œ๐„๐๐“
20 Juni 2026

*TIDAK MENDENDAM*

Kedua, *orang yang lemah lembut adalah orang yang tidak mendendam, tidak menyimpan kesalahan orang lain.* Tuhan menghendaki agar kita menanggalkan kesalahan orang lain. Jika kenyataan ini kita lakukan, maka orang-orang di sekitar kita akan mengalami kasih Kristus yang sesungguhnya yang kita peragakan sebagai anak-anak Allah. Kita pasti akan menemui orang-orang yang melukai kita. Lalu bagaimana kita bisa mengampuni? Mengampuni bukan berarti kita membiarkan diri diperlakukan sesuka hati oleh orang tersebut. Tidak demikian. Kita tetap harus memiliki kebijaksanaan, hikmat, dan integritas supaya tidak merusak kepercayaan yang Tuhan berikan kepada kita.

*Justru ketika kita diperlakukan tidak adil, di situlah kesempatan kita untuk bersaksi dan memancarkan cahaya Kristus.* Tanpa digosok, cahaya itu tidak akan keluar. Jika kita berbuat baik hanya karena orang berbuat baik kepada kita, itu belumlah cahaya yang indah. Namun jika kita dapat berbuat baik kepada orang yang melukai kita, kepada orang yang memperlakukan kita tidak adil, barulah pancaran kasih Tuhan itu terlihat. Sangat mungkin kita mengalami perlakuan tidak adil di tempat kerja, dalam pergaulan, di sekolah, di kampus, bahkan di lingkungan gereja. Namun di situlah kita diberi kesempatan sebagai bangsawan surgawi untuk berperilaku seperti Kristus, yaitu menunjukkan kelemahlembutan.

Pada umumnya kita mudah berkata, โ€œAku tersinggung, aku marah, aku tidak bisa menerima perlakuan seperti ini.โ€ Sikap seperti ini tidak boleh terus dipelihara. Jika itu muncul, berarti kita masih memiliki harga diri yang belum disalibkan. *Apabila ada orang memperlakukan kita tidak adil, berpikirlah: sampai sejauh mana orang dapat hidup dan berbuat jahat kepada kita?* Semua pasti ada batasnya, dan ada Tuhan yang membela kita. Sangat mungkin ada di antara kita yang sedang mengalami hal-hal seperti ini, sehingga kita berkata, โ€œAku marah, aku tersinggung.โ€ Namun mari belajar untuk tidak jatuh ketika mengalaminya. Dengan sabar Tuhan membentuk kita melalui berbagai peristiwa, termasuk ketika kita diperlakukan tidak adil.

*Hanya ada satu tempat di mana keadilan ditegakkan secara sempurna, yaitu di Langit Baru dan Bumi Baru.* Tidak ada satu tempat pun di bumi ini yang sepenuhnya adil. Keadilan yang sempurna hanya ada dalam Kerajaan Bapa di surga. Karena itu, kita harus membuktikan kebenaran yang kita miliki melalui tindakan nyata. Kita hanya memiliki satu kali kesempatan hidup, maka kita harus mau dibentuk dan diubahkan oleh Tuhan.

Ketiga, *orang yang lemah lembut adalah orang yang mau menerima keadaan orang lain sebagaimana adanya.* Ia tidak memaksakan ukuran bajunya kepada orang lain, karena setiap orang memiliki ukuran yang berbeda. Tuhan Yesus adalah Pribadi yang lemah lembut. Dalam Matius 11:28-30 Tuhan berkata, โ€œDatanglah kepada-Ku, kamu yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.โ€ Tuhan menerima keadaan kita yang letih lesu dan berbeban berat. Ia tidak menuntut kita melakukan sesuatu yang tidak mampu kita lakukan. Bahkan untuk hal-hal yang seharusnya dapat kita lakukan tetapi kita gagal melakukannya, Tuhan tetap menyambut kita. Dalam banyak bagian Perjanjian Baru, jelas terlihat bagaimana Tuhan menyambut pelacur dan pemungut cukai. Ini bukan berarti Tuhan berkompromi dengan dosa, melainkan karena Ia menerima orang berdosa. Hal inilah yang sering kali tidak kita lakukan.

Sering kali kita menyamakan antara perbuatan dan pribadi seseorang. Kita memang akan bertemu dengan orang-orang yang jahat dan buruk perilakunya. Namun mari meneladani Tuhan Yesus: kita membenci perbuatannya, tetapi tidak membenci orangnya. Mungkin di antara kita ada yang memiliki saudara atau kerabat seperti itu. Rasanya ingin menjauhkan diri atau membuangnya. Namun jika Tuhan masih mengajar kita untuk menerima, maka kita harus belajar menerimanya. Menerima bukan berarti hidup bersama atau membiarkan kejahatan terus berlangsung. Namun hati kita tidak boleh menyimpan dendam. Kita harus belajar menerima orang lain sebagaimana adanya. Justru ketika kita dapat menghadapi orang yang kaku, egois, mudah marah, mudah tersinggung, atau memiliki harga diri yang tinggi, lalu tetap bersikap benar terhadap mereka, di situlah keindahan karakter Kristus dinyatakan.

Tuhan Yesus memberkati๐Ÿ™

ORANG YANG LEMAH LEMBUT ADALAH ORANG YANG TIDAK MENDENDAM, TIDAK MENYIMPAN KESALAHAN ORANG LAIN.

10/06/2026

๐“๐‘๐”โœ๏ธ๐‡ ๐ƒ๐€๐ˆ๐‹๐˜
๐„๐๐‹๐ˆ๐†๐‡๐“๐„๐๐Œ๐„๐๐“
10 Juni 2026

*MASALAH HIDUP VS. MASALAH KEKEKALAN*

Dalam Matius 10:28, Tuhan Yesus berkata, โ€œDan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.โ€ Rasa takut kepada Tuhan bukanlah rasa takut seperti maling melihat polisi, bukan p**a rasa takut seorang terdakwa di depan meja hakim, melainkan takut karena menghormati dan mengasihi Tuhan. Kadang-kadang, dari cara orang memuji dan menyembah Tuhan saja sudah terlihat seberapa ia takut akan Tuhan.

Jadi, kalau orang tidak mengerti kebenaran, maka di gereja yang dipersoalkan adalah, โ€œMasalahmu apa? Bawalah kepada Tuhan.โ€ *Ironisnya, banyak orang takut akan masalah hidup, tetapi tidak takut akan masalah kekekalan.* Padahal, bagi orang yang mengerti kebenaran, semua masalah hidup dapat diselesaikanโ€”bahkan sebelum mati pun Tuhan dapat membereskannyaโ€”asal kita hidup bertanggung jawab. Ada hukumnya, ada tatanannya. Yang tidak akan selesai dengan sendirinya adalah masalah kekekalan dan keselamatan abadi; hal inilah yang harus digumuli.

Kita belajar bahwa supaya kapal tidak tenggelam, kita harus membuang muatan. Demikian juga dengan hidup kita; agar kapal hidup kita tidak tenggelam, kita harus membongkar muatan yang tidak perlu. Maksudnya, jangan kita terikat pada percintaan dunia. Terlalu banyak orang percaya bahwa Tuhan itu baik dan berkuasa, tetapi sejatinya mereka tidak memiliki pengenalan akan Pribadi-Nya, rencana-Nya, dan maksud ilahi-Nya. Jika hanya soal pemenuhan kebutuhan jasmani seperti makan dan minum, dewa apa pun dapat melakukannya. Namun, keselamatan abadi hanya dimiliki oleh Allah Bapa dan Putra Tunggal-Nya, Tuhan Yesus Kristus. Tidak ada yang dapat memperkenalkan Allah Bapa selain Tuhan Yesus, dan kita memiliki Tuhan Yesus.

Hari-hari ini banyak terjadi penyesatan. Jika kita hanya membicarakan hal-hal yang baik dan nasihat-nasihat yang bagus, banyak motivator yang mampu melakukannya. Tetapi jika berbicara soal kesempurnaan dan surga, hanya firman Tuhanlah jawabannya. Paulus berkata, โ€œKarena pengenalan akan Tuhanku lebih mulia daripada semuanya, oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah.โ€ Kata โ€œsampahโ€ dalam bahasa Yunani adalah skubalon, yang menunjuk bukan sekadar kertas buangan, melainkan kotoran hewan. Jadi, supaya kita memperoleh Kristus, harus ada barter.

Yang membuat kita tidak dapat memiliki Kristus adalah Iblis. Di balik yang kelihatan, ada manuver Iblis. Iblis mencegah orang menjadi sempurna. Orang jahatโ€”seperti penjudi, pemerkosa, dan pezinaโ€”jika tidak bisa ditahan untuk tidak pergi ke gereja, Iblis tidak mempermasalahkannya. Mereka boleh tetap ke gereja, asalkan tidak menjadi aktivis. Tetapi jika mereka tetap menjadi aktivis pun, Iblis tidak selalu mencegah; ia hanya membuat mereka tidak perlu total, tidak perlu melepaskan semuanya. Iblis tahu bahwa jika kita melepaskan semuanya, kita akan memperoleh Kristus.

Itulah barter yang dimaksudkan: apabila kita melepaskan semuanya, kita akan memperoleh Kristus. Oleh karena itu, *banyak orang Kristen rajin ke gerejaโ€”menjadi aktivis, bahkan pendetaโ€”namun tetap membatasi diri dan tidak melepaskan segala sesuatu; sesungguhnya mereka tidak memperoleh Kristus.* Paulus berkata, โ€œMelepaskan semuanya dan menganggapnya sampah supaya aku memperoleh Kristus.โ€ Itulah prinsip barter.

Kita memang sangat sulit melepaskan semuanya. Karena itu, kita harus berkata, โ€œJagai aku, Tuhan, jangan sampai aku tidak mengingini Tuhan Yesus dan tidak mampu melepaskan semuanya.โ€ Perlu diperhatikan bahwa percaya kepada Tuhan seperti anak-anak percaya kepada orang tua: menuruti apa yang diperintahkan. Tuhan mengajar kita bahwa Allah itu baik dan perkasaโ€”itu benar. Tetapi Allah juga mengajar kita untuk melakukan apa pun yang Dia kehendaki. Seperti yang Ia perintahkan kepada pemuda kaya, โ€œJuallah segala milikmu, bagikan kepada orang miskin, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku.โ€ Orang muda kaya ini telah melakukan hukum; kebenarannya berdasarkan perbuatan hukum, bukan kepercayaan kepada Pribadi Tuhan. Ia telah menghormati orang tua, tidak membunuh, tidak berzina, tetapi ia menolak dan tidak dapat percaya kepada Pribadi Tuhan.

Berbeda dengan Abraham yang disuruh keluar dari Ur-Kasdim dan ia pergi. Abraham disuruh mempersembahkan anaknya dan ia melakukannya. Namun, lebih dahsyat lagi Tuhan Yesus yang berkata, โ€œBiarlah kehendak-Mu yang jadi.โ€ Dan Tuhan Yesus sungguh-sungguh taat sampai mati, bahkan mati di kayu salib.

Tuhan Yesus memberkati๐Ÿ™

SEMUA MASALAH HIDUP DAPAT DISELESAIKAN, BAHKAN SEBELUM MATI PUN TUHAN DAPAT MEMBERESKANNYA, ASAL KITA HIDUP BERTANGGUNG JAWAB.

08/06/2026

๐“๐‘๐”โœ๏ธ๐‡ ๐ƒ๐€๐ˆ๐‹๐˜
๐„๐๐‹๐ˆ๐†๐‡๐“๐„๐๐Œ๐„๐๐“
09 Juni 2026

*MERASAKAN KEDAHSYATAN KEKEKALAN*

Miskin di hadapan Tuhan artinya kita menyadari bahwa kita tidak bisa hidup tanpa Tuhanโ€”dalam arti panggilan untuk mengandalkan Tuhanโ€”dan menunjuk pada ketidakberdayaan yang bukan berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan jasmani. Orang percaya tidaklah mempersoalkan hal itu, karena orang percaya yang ditebus oleh darah Tuhan Yesus Kristus adalah orang-orang yang dimiliki oleh Tuhan. *Kita tidak perlu berharap dan menanti perlindungan Tuhan, karena kita sudah berada dalam perlindungan-Nya; kita adalah milik-Nya.* Maka, apabila kita mengandalkan Tuhan, hal itu bukan bertalian dengan masalah jasmaniah, melainkan bertalian dengan masalah kesempurnaan, di mana kita harus berurusan dengan Tuhan setiap saat.

Pernahkah kita meratapi hidup masa lalu kitaโ€”ketika kita tidak hidup dalam kebenaran, hidup sesuka hatiโ€”dan meratapi betapa kita jauh dari standar kesucian yang Tuhan kehendaki? Pernahkah kita menyadari bahwa keadaan tersebut sangat membahayakan dan, jika terus dilanggengkan, akan menggiring kita kepada api kekal? Pernahkah kita merenungkan hal ini? Jika hanya masalah kebutuhan jasmani, kita dapat melihat bahwa orang-orang yang hidup tanpa Tuhan, bahkan orang-orang ateis, tetap bisa eksis. Alam semesta ini tidak akan meninggalkan tatanannya: apa yang kamu tabur, itulah yang kamu tuai. Namun, jika soal kesempurnaan, orang harus aktif, harus mencari Tuhan dan berkata, โ€œTuhan, tanpa Engkau aku tidak bisa menjangkau-Mu. Hanya Engkau yang dapat menjangkauku. Jika Tuhan sudah menjangkauku, aku akan menjangkau orang yang Kaukehendaki untuk kujangkau.โ€

Paulus berkata dalam Filipi 3, โ€œSeperti Dia menangkap aku, aku menangkap apa yang Dia kehendaki untuk aku tangkap.โ€ *Justru anugerah menempatkan kita pada posisi yang sulit, karena setiap orang yang menerimanya harus terus bergerak menuju kesempurnaan; di situlah kita menyadari ketidakberdayaan yang menuntut campur tangan Tuhan.* Matius 10:28 berkata agar kita jangan takut terhadap apa yang dapat membunuh tubuh. Soal makan dan minum, orang yang tanpa Tuhan pun bisa eksis dan mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri, bahkan bisa merasa bahagia menurut standarnya. Orang yang menyembah ilah-ilah lain pun hidupnya bisa berjalan. Lalu apakah kita meminta pertolongan Tuhan hanya untuk melakukan hal yang sama? Apakah kita berpikir bahwa Tuhan sebagai Bapa tidak melindungi kita sehingga kita harus terus-menerus meminta tolong untuk hal-hal jasmani?

Kita tidak perlu merengek-rengek, karena hal itu dapat merusak etos kerja. Berjuanglah dan bertanggung jawablah. Jangan kita memperkarakan hal-hal jasmani seolah-olah hendak merusak tatanan yang telah Tuhan tetapkan. Kita harus menjadi juru bicara Tuhan yang mengerti kebenaran ini dan menyampaikannya kepada saudara-saudara seiman. Gereja harus menjadi pusat pengajaran, sedangkan pusat pelayanan adalah hidup kita masing-masing di rumah. Tuhan tidak mungkin melupakan kita. Namun, dalam hal kesempurnaan, kita harus membayarnya dengan keseriusan, yaitu segenap hidup kita. Jika kita mencari kebenaran, maka dalam mencari nafkah pun kita akan menjadi cerdas, rajin, bertanggung jawab, dan jujur. Ingatlah bahwa bersama Tuhan kita akan mampu melewati semua masalah.

Jangan kita meragukan Bapa. Betapa sering Tuhan berkata, โ€œJangan ragukan tangan kuat-Ku yang melindungimu. Engkau milik-Ku, kecintaan-Ku. Semua yang ada padamu adalah milik-Ku. Aku tidak akan mengingkari kesetiaan ini. Tetapi Aku melakukannya supaya kamu bersedia untuk Aku didik, supaya kamu layak masuk ke dalam rumah-Ku.โ€ Itulah persoalannya. Kita sedang berada dalam krisis. Dunia terus menuju kegelapan abadi; bagaimana mungkin kita bisa tenang? Alkitab berkata, โ€œJangan takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh.โ€ Yang perlu kita takuti hanyalah Tuhan. Jadi, ketika kita berkata, โ€œTuhan, aku miskin di hadapan-Mu,โ€ artinya: Tuhan, tanpa Engkau aku tidak bisa hidup. Tidak bisa hidup di sini bukan berarti tidak bisa makan dan minum, melainkan tidak bisa hidup dalam kesempurnaan dan keberkenanan di hadapan Bapa.

Masalahnya bukan soal makan dan minum, melainkan tentang mencapai target menjadi manusia yang berkenan kepada Tuhan. Kita cenderung hidup sembarangan; apalagi jika memiliki uang dan kekuasaan, kita dapat berbuat sesuka hati dan menjadi kurang ajar. Padahal hidup kita hanya sekitar tujuh puluh tahun. *Kita harus merasakan ketegangan akan kedahsyatan kekekalan mulai dari sekarang, supaya kita bersiap-siap.*

Tuhan Yesus memberkati๐Ÿ™

08/06/2026

๐•ฝ๐–Ž๐–Œ๐–๐–™๐–Š๐–”๐–š๐–˜๐–“๐–Š๐–˜๐–˜ ๐•บ๐–‹ ๐•ฎ๐–๐–—๐–Ž๐–˜๐–™:

Justru anugerah menempatkan kita pada posisi yang sulit, karena setiap orang yang menerimanya harus terus bergerak menuju kesempurnaan; di situlah kita menyadari ketidakberdayaan yang menuntut campur tangan Tuhan.

09 Juni 2026
Pdt. Dr. Erastus Sabdono

Address

Jalan Mutiara Raya, Ruko Pasar Modern Karawaci Tangerang. Kel. Bencongan, Kelapa Dua-Kab. Tangerang
Tangerang

Telephone

+81318442068

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when GSKI "Berea" Tangerang. posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Place Of Worship

Send a message to GSKI "Berea" Tangerang.:

Shortcuts

Share