Regina Mantilla / Rome Catholic's Veil

Regina Mantilla / Rome Catholic's Veil MANTILLA/ MANTIYA/ VEIL/ KERUDUNG MISA sejak jaman Kristen Perdana Terima Kasih atas atensi, minat dan keingintahuannya.

Sedikit pemberitahuan ttg Page Regina Mantilla, bahwa di Page ini kami sebenarnya tidak berdagang namun karena melihat bahwa tidak sedikit peminat kaum perempuan Katolik yang ingin mengenal dan mengenakan mantilla sebagai ujub salah satu Devosi, maka kami juga menyediakan pemesanan dan pembelian Mantilla. Karena kami bukan pedagang, jadi bahan Mantilla yg kami sediakan adalah bahan seleksi dgn mut

u terbaik (bukan bahan kulakan). Jadi hrg kami bukan hrg Kompetitif maupun hrg komersil dgn berdasarkan harga pasaran sekarang setelah adanya bbrp kali kenaikan di semua sektor. Dan ckp b*k pertanyaan masuk via inbox 'yang hanya sekedar mencari tau harga utk di bandingkan dgn pedagang dari bahan kulakan'. Bagi kami tidak masalah .... cuma mohon sedikit memiliki ETIKA. Saya adalah awam yg memliki kerinduan melihat umat perempuan Kristen rapi berpenutup kepala (bisa dlm bentuk syal / scarf) dalam peribadatan sbg ujud rasa hormat terhadap Ekaristi Kudus. Niat sy, tidak mencari keuntungan, tapi lebih berfokus kepada pelayanan pribadi dgn pembuatan Mantilla. Mantilla sangat gampang di buat, tapi tidak semua orang bisa membuat krn keterbatasan waktu ....

Saya tergerak utk berpartisipasi, karena melihat banyaknya peminat umat perempuan Kristen yang rindu mengenakan kerudung Misa utk peribadatan.

03/05/2026
Kedua Paus Leo ini terpaut lebih dari 120 tahun.Tapi mereka terlihat mirip.. 😯
01/05/2026

Kedua Paus Leo ini terpaut lebih dari 120 tahun.
Tapi mereka terlihat mirip.. 😯

Romo Oktavianus Pelagian Ranta: Dari Altar Suci ke Barisan Bhayangkara, Kisah Langka Pastor-Polisi dari NTTDi tengah nar...
01/05/2026

Romo Oktavianus Pelagian Ranta: Dari Altar Suci ke Barisan Bhayangkara, Kisah Langka Pastor-Polisi dari NTT
Di tengah narasi umum tentang panggilan hidup yang biasanya berjalan dalam satu jalur, kisah Romo Oktavianus Pelagian Ranta justru menghadirkan cerita berbeda—unik, langka, dan inspiratif. Ia bukan hanya seorang imam Katolik, tetapi juga perwira polisi. Dua dunia yang tampak kontras itu ia jalani dalam satu panggilan pengabdian: untuk Tuhan dan untuk negara.

Akar Kehid**an: Lahir dari Tanah Manggarai

Romo Oktavianus lahir di Pagal, Manggarai, Nusa Tenggara Timur, pada 8 Oktober 1995. Sejak kecil, ia tumbuh dalam lingkungan religius yang kuat, yang kemudian membentuk panggilannya untuk menjadi imam Katolik.

Perjalanan imamatnya dimulai ketika ia masuk Seminari Tinggi Ritapiret, salah satu pusat pendidikan calon imam terkemuka di NTT. Di sana, ia menempuh studi filsafat dan teologi sebagai fondasi panggilan hidupnya.

Setelah bertahun-tahun menjalani formasi rohani dan intelektual, ia akhirnya ditahbiskan sebagai imam pada tahun 2023—sebuah momen sakral yang menandai totalitas pengabdiannya kepada Gereja.

Melayani Umat: Dari Paroki ke Panggilan yang Tak Terduga

Pasca tahbisan, Romo Oktavianus menjalani pelayanan sebagai pastor rekan di Paroki Santa Familia Wae Nakeng, Manggarai Barat. Di sana, ia aktif melayani umat, membimbing kehid**an rohani, dan menjadi figur penguat iman bagi masyarakat.

Namun, perjalanan hidupnya berubah drastis ketika ia menerima penugasan dari Keuskupan Ruteng. Atas arahan uskup—yang merespons kebutuhan pelayanan di lingkungan TNI-Polri—Romo Oktavianus diminta mengikuti seleksi perwira Polri.

Awalnya ia terkejut. Bahkan keluarganya sempat keberatan. Namun sebagai imam diosesan, ia memilih taat pada keputusan gereja.

> Baginya, panggilan itu bukan sekadar pilihan pribadi, tetapi bentuk ketaatan total.

Menembus Seleksi Ketat: Jalan Berat Menuju Seragam Polisi

Tahun 2024 menjadi titik balik besar. Romo Oktavianus mengikuti seleksi SIPSS (Sekolah Inspektur Polisi Sumber Sarjana)—jalur khusus untuk menjadi perwira Polri.

Prosesnya tidak mudah. Ia harus melewati berbagai tahapan ketat:

āœ… Seleksi administrasi

āœ… Tes kesehatan

āœ… Ujian psikologi

āœ… Tes kompetensi keahlian

āœ… Uji kesamaptaan jasmani

āœ… Wawancara mental ideologi dan kepribadian

Semua dilakukan dengan sistem gugur yang sangat kompetitif.

Dari ratusan peserta, hanya segelintir yang lolos. Dan di antara mereka, satu nama mencetak sejarah:
Romo Oktavianus Pelagian Ranta—imam Katolik pertama di Indonesia yang lulus seleksi perwira Polri.

Menjadi Pastor Sekaligus Polisi: Dua Panggilan, Satu Misi

Setelah dinyatakan lulus, ia menjalani pendidikan di Akademi Kepolisian (Akpol) Semarang selama enam bulan.

Namun yang membuat kisah ini luar biasa bukan sekadar kelulusannya, melainkan peran yang akan ia jalani:

šŸ”¹ Sebagai pastor, ia tetap melayani kebutuhan
rohani

šŸ”¹ Sebagai perwira Polri, ia menjadi bagian dari
institusi negara

Ia direncanakan bertugas di lingkungan pembinaan mental (Pusbintal) Polri, sebuah posisi strategis yang menggabungkan iman dan kedisiplinan.

Di titik ini, jelas bahwa dua identitasnya tidak saling bertentangan—melainkan saling melengkapi.

Makna Lebih Dalam: Simbol Pengabdian Total

Kisah Romo Oktavianus bukan sekadar cerita unik, tetapi simbol dari:

āœ”ļø Ketaatan terhadap panggilan

āœ”ļø Integrasi iman dan nasionalisme

āœ”ļø Dedikasi lintas batas profesi

Ia membuktikan bahwa pelayanan kepada Tuhan tidak harus terpisah dari pelayanan kepada negara. Justru keduanya bisa berjalan berdampingan dalam satu misi besar:
mengabdi kepada manusia.

Penutup

Di tengah dunia yang sering memisahkan peran spiritual dan profesional, Romo Oktavianus Pelagian Ranta hadir sebagai jembatan. Dari altar ke barak, dari mimbar ke medan pengabdian—ia membawa pesan bahwa panggilan hidup sejati tidak selalu linear, tetapi selalu bermakna.

01/05/2026

(Neo-Aramaic Barat): Ini adalah versi yang paling mirip dengan bahasa Aramaic yang digunakan dalam Alkitab. Bahasa ini hanya dipakai di tiga desa : Maaloula, Jubb'adin, dan Bakh'a. Menariknya, baik umat Kristen maupun Muslim di desa-desa tersebut menggunakan bahasa ini.
Bahasa Aramaic, Salah satu bahasa yg dipakai orang di zaman Yesus masih berkarya di bumi secara langsung dan juga yg dipakai oleh Yesus langsung.
Lagu Bapa Kami Cristian Catholik

30/04/2026
Memetik Pesan Paus Leo untuk "Kawanan kecil": "Seperti D**a Mengharumkan dalam Diam"Membaca dengan penuh minat dan perha...
28/04/2026

Memetik Pesan Paus Leo untuk "Kawanan kecil":
"Seperti D**a Mengharumkan dalam Diam"

Membaca dengan penuh minat dan perhatian kotbah Paus Leo XIV kepada "Kawanan kecil" di Kota Antik Hippo, sekarang Annaba, Aljazair saya menyadari realita ini. Ada saat-saat ketika berdiri di tengah dunia terasa seperti menjadi bagian dari kawanan kecil—tidak begitu terlihat, tidak terlalu diperhitungkan. Dalam keheningan seperti itu, pesan Paus Leo menyentuh dengan lembut: hidup orang beriman tidak selalu tampil besar, tetapi bisa hadir bagai d**a—terbakar perlahan, mengharumkan dalam diam, tanpa banyak ribut.

Saya merasa gambaran "d**a" oleh Paus itu begitu jujur. Tidak semua hal harus keras agar bermakna. Ada kekuatan yang justru bekerja dalam diam: dalam kesetiaan menjalani hari, dalam keputusan kecil untuk tetap hidup jujur, dalam kesediaan untuk peduli ketika yang lain memilih acuh. Seperti percakapan Yesus dengan Nikodemus dalam Injil Yohanes, hidup baru ternyata tidak lahir dari ambisi untuk menjadi besar, melainkan dari keberanian untuk membuka diri pada karya Allah yang sering tak terlihat.

Agar berani terhadap karya Allah, Paus mengangkat kisah Santo Agustinus yang perjalanan imannya jarang lurus dan rapi. Ada pencarian, kegelisahan, bahkan keterjatuhan. Namun di balik itu, selalu ada kemungkinan untuk kembali—sering kali ditopang oleh kesetiaan yang sederhana dari yang lain, seperti doa seorang ibu, Santa Monika, yang tidak pernah lelah berharap agar putranya berbalik - bertobat.

Barangkali yang dibutuhkan bukanlah menjadi lebih besar, melainkan menjadi lebih sungguh. Hadir dengan utuh di tengah sesama, tanpa perlu kehilangan jati diri, tanpa harus menutup diri dari perbedaan. Dalam ruang-ruang yang sering dipenuhi kecurigaan atau jaga jarak, setiap sikap baik—sekecil apa pun—dapat menjadi jembatan: sapaan yang tulus, perhatian yang sederhana, keberanian untuk berdiri di pihak yang lemah.

"D**a" tidak pernah menjadi pusat perhatian. Ia hilang perlahan, namun justru di situlah ia memberi arti. Mungkin hidup pun menemukan maknanya dengan cara yang serupa: bukan dalam sorotan gemerlap, melainkan dalam kesediaan untuk setia dalam hal kecil dan memberi, sedikit demi sedikit.

Dan di tengah kekecilan dan keterbatasan itu, selalu ada keyakinan yang diam-diam bertumbuh: kasih tidak pernah sia-sia. Dari hal-hal kecil, kebaikan dapat menyebar seperti "d**a", mengharumkan lebih jauh dari yang disangka.

Address

Tangerang

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Regina Mantilla / Rome Catholic's Veil posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Place Of Worship

Send a message to Regina Mantilla / Rome Catholic's Veil:

Share