01/05/2026
Romo Oktavianus Pelagian Ranta: Dari Altar Suci ke Barisan Bhayangkara, Kisah Langka Pastor-Polisi dari NTT
Di tengah narasi umum tentang panggilan hidup yang biasanya berjalan dalam satu jalur, kisah Romo Oktavianus Pelagian Ranta justru menghadirkan cerita berbedaāunik, langka, dan inspiratif. Ia bukan hanya seorang imam Katolik, tetapi juga perwira polisi. Dua dunia yang tampak kontras itu ia jalani dalam satu panggilan pengabdian: untuk Tuhan dan untuk negara.
Akar Kehid**an: Lahir dari Tanah Manggarai
Romo Oktavianus lahir di Pagal, Manggarai, Nusa Tenggara Timur, pada 8 Oktober 1995. Sejak kecil, ia tumbuh dalam lingkungan religius yang kuat, yang kemudian membentuk panggilannya untuk menjadi imam Katolik.
Perjalanan imamatnya dimulai ketika ia masuk Seminari Tinggi Ritapiret, salah satu pusat pendidikan calon imam terkemuka di NTT. Di sana, ia menempuh studi filsafat dan teologi sebagai fondasi panggilan hidupnya.
Setelah bertahun-tahun menjalani formasi rohani dan intelektual, ia akhirnya ditahbiskan sebagai imam pada tahun 2023āsebuah momen sakral yang menandai totalitas pengabdiannya kepada Gereja.
Melayani Umat: Dari Paroki ke Panggilan yang Tak Terduga
Pasca tahbisan, Romo Oktavianus menjalani pelayanan sebagai pastor rekan di Paroki Santa Familia Wae Nakeng, Manggarai Barat. Di sana, ia aktif melayani umat, membimbing kehid**an rohani, dan menjadi figur penguat iman bagi masyarakat.
Namun, perjalanan hidupnya berubah drastis ketika ia menerima penugasan dari Keuskupan Ruteng. Atas arahan uskupāyang merespons kebutuhan pelayanan di lingkungan TNI-PolriāRomo Oktavianus diminta mengikuti seleksi perwira Polri.
Awalnya ia terkejut. Bahkan keluarganya sempat keberatan. Namun sebagai imam diosesan, ia memilih taat pada keputusan gereja.
> Baginya, panggilan itu bukan sekadar pilihan pribadi, tetapi bentuk ketaatan total.
Menembus Seleksi Ketat: Jalan Berat Menuju Seragam Polisi
Tahun 2024 menjadi titik balik besar. Romo Oktavianus mengikuti seleksi SIPSS (Sekolah Inspektur Polisi Sumber Sarjana)ājalur khusus untuk menjadi perwira Polri.
Prosesnya tidak mudah. Ia harus melewati berbagai tahapan ketat:
ā
Seleksi administrasi
ā
Tes kesehatan
ā
Ujian psikologi
ā
Tes kompetensi keahlian
ā
Uji kesamaptaan jasmani
ā
Wawancara mental ideologi dan kepribadian
Semua dilakukan dengan sistem gugur yang sangat kompetitif.
Dari ratusan peserta, hanya segelintir yang lolos. Dan di antara mereka, satu nama mencetak sejarah:
Romo Oktavianus Pelagian Rantaāimam Katolik pertama di Indonesia yang lulus seleksi perwira Polri.
Menjadi Pastor Sekaligus Polisi: Dua Panggilan, Satu Misi
Setelah dinyatakan lulus, ia menjalani pendidikan di Akademi Kepolisian (Akpol) Semarang selama enam bulan.
Namun yang membuat kisah ini luar biasa bukan sekadar kelulusannya, melainkan peran yang akan ia jalani:
š¹ Sebagai pastor, ia tetap melayani kebutuhan
rohani
š¹ Sebagai perwira Polri, ia menjadi bagian dari
institusi negara
Ia direncanakan bertugas di lingkungan pembinaan mental (Pusbintal) Polri, sebuah posisi strategis yang menggabungkan iman dan kedisiplinan.
Di titik ini, jelas bahwa dua identitasnya tidak saling bertentanganāmelainkan saling melengkapi.
Makna Lebih Dalam: Simbol Pengabdian Total
Kisah Romo Oktavianus bukan sekadar cerita unik, tetapi simbol dari:
āļø Ketaatan terhadap panggilan
āļø Integrasi iman dan nasionalisme
āļø Dedikasi lintas batas profesi
Ia membuktikan bahwa pelayanan kepada Tuhan tidak harus terpisah dari pelayanan kepada negara. Justru keduanya bisa berjalan berdampingan dalam satu misi besar:
mengabdi kepada manusia.
Penutup
Di tengah dunia yang sering memisahkan peran spiritual dan profesional, Romo Oktavianus Pelagian Ranta hadir sebagai jembatan. Dari altar ke barak, dari mimbar ke medan pengabdianāia membawa pesan bahwa panggilan hidup sejati tidak selalu linear, tetapi selalu bermakna.