29/06/2024
Om Swastyastu ||
KEWAJIBAN ANAK BERBAKTI PADA ORANG TUA.
[APHB Tabanan mengucapkan selamat hari Keluarga Nasional 2024]
Orang tua memiliki tugas yang sangat berat dalam kehidupannya. Salah satu tugas beratnya adalah memelihara dan mendidik anak-anaknya agar kelak menjadi anak yang dapat diharapkan. Di dalam proses memelihara dan mendidik tentu sangat banyak proses kehidupan yang dilalui.
Tidak sedikit orang tua yang memilah rasa s**a hanya untuk anak-anaknya. Sedangkan rasa dukanya untuk mereka sendiri. Orang tua akan merasa sangat bahagia ketika anak-anaknya dapat meminum susu dan memakan buah yang manis dan segar.
Saat anak dalam kandungan maupun saat anak baru dilahirkan, baik ibu ataupun ayah melakukan brata yang sangat ketat demi kebaikan anaknya. Bahkan di dalam Veda–Manavadharmasastra II.227 dijelaskan “kesulitan dan kesakitan yang dialami oleh orang tua pada waktu melahirkan anaknya tidak dapat dibayar walaupun dalam seratus tahun”.
Hal ini menegaskan bahwa rasa sakit yang tidak terhingga saat melahirkan seorang anak tidak dapat dibandingkan dengan penderitaan-penderitaan yang lain. Nyawa adalah taruhan bagi seorang ibu untuk menghadirkan seorang anak ke dunia.
Itulah sebabnya dalam Hindu Dharma menjadi alasan yang sangat real bahwa orang tua disebut sebagai perwujudan Dewa dan Dewi yang nyata di dunia, sehingga menyentuh kaki orang tua sama dengan menyentuh kaki suci Dewa dan Dewi.
Kemudian orang tua menjadi guru yang pertama dan utama dalam membimbing dan mendidik anak-anaknya hingga harus disekolahkan kelak. Di dalam proses pendidikan di sekolah, orang tua kembali memeras keringat untuk memenuhi kebutuhan dunia pendidikan anaknya.
Setiap persembahan yang dihaturkan dan setiap doa yang dilantunkan kepada Tuhan oleh orang tua adalah untuk keselamatan anak-anaknya, bahkan tidak menutup kemungkinan melebihi harapan keselamatan dirinya sendiri.
Orang tua menginginkan kebahagiaan menjadi selimut dalam setiap langkah dan setiap detak jantung kehidupan anaknya. Orang tua terkadang rela menahan rasa lelah dan terkadang menyembunyikan air mata demi melihat senyuman anak-anaknya.
Itulah sebabnya p**a di dalam Hindu Dharma seorang anak disebut dengan “Putra”. Putra berarti seorang penyelamat atas segala penderitaan. Keselamatan orang tualah yang menjadi alasan utama seorang anak disebut putra. Baik penderitaan di dunia sekala maupun di dunia niskala kelak.
Sehingga seorang anak tidak dibenarkan untuk tidak menghormati orang tuanya. Apalagi dengan mencari alasan-alasan pembenaran bahwa “melahirkan, membesarkan dan mendidik anak adalah tugas orang tua”.
Seorang anak hendaknya bersyukur telah dilahirkan, dirawat dan dididik oleh orang tua–sehingga menjadi manusia yang utuh. Kelahiran menjadi manusia sangatlah utama dalam Hindu Dharma. Bahkan para Dewa sangat berharap terlahir menjadi manusia.
Hal ini sangat penting, karena hanya dengan terlahir menjadi manusialah seseorang mendapat harapan untuk mencapai tujuan tertinggi dalam hidup, yakni moksa dengan cara melakukan kebajikan.
Sudah seharusnya seorang anak menghargai jerih payah dan sekaligus dapat membahagiakan orang tua. Orang tua adalah perantara seorang anak dapat melakukan kebajikan melalui proses pendidikan. Melalui alasan itu p**alah seorang anak dalam pendidikan disebut sebagai seorang siswa.
______________________
Di dalam pustaka suci Veda–Manavadharmasastra II.121, II.228, II.232, II.234 dijelaskan mengenai pahala yang diterima bagi seorang anak yang mampu membahagiakan orang tuanya.
1. Seorang anak akan mendapat umur panjang, pengetahuan, kemasyuran, dan mendapat energi yang dapat membuat seorang anak menjadi kuat dalam menjalani kehidupan.
2. Seorang anak akan mendapat anugerah dari setiap pemujaan yang ia lakukan kehadapan Tuhan.
3. Kelak ia akan diterima diketiga dunia, badannya menjadi bercahaya dan akan menikmati kebahgiaan di swarga loka.
4. Setiap tugas yang dilakukan seorang anak akan selalu berhasil, baik itu yang bersifat keduniawian maupun dalam hal spiritualitas.
*Pen. Ketua APHB Kabupaten Tabanan.
Foto by. Good News