10/12/2024
SELAYANG PANDANG TENTANG MASJID SALAMAH TIPES
Dirangkum oleh : Gunung WS
Cerita ini aku mulai dari pasca peristiwa G30SPKI, orang-orang tua menyebutnya GESTOK.
Di kampungku waktu itu bisa dihitung dengan jari orang Islam yang sholat. Kampung Begalon, baik yang masuk Tipes maupun Panularan itu termasuk daerah merah, kalau nggak simpatisan PKI atau yang lain yaitu PNI. Maka nggak heran perilaku Molimo (M 5) menjadi kebiasaan wong kampung. Mabuk (miras), Main (judi), Madon (zina), Maling, Madat (narkoba).
Malah di kampung Begalon sekitar Rusunawa disebut Kampung Bethikan (bethik itu salah satu nama kartu judi).
Juga ada cerita orangtua yang s**a iming-iming ke anaknya : le ngko nek pakmu nembus pingin dolanan sing apiik tak tukokne...๐ (nak, nanti kalau bapakmu dapat undian judi, kamu kala ingin mainan yang bagus, bapak belikan).
Setiap ada acara selamatan bayi lahir, kematian (pitung dinan/7hari, 40 hari, 100 hari, setahun, dua tahun sampai tiga tahun/nyewu), midodareni (malam penganten) pada ujungnya digelar kalangan judi. Nanti setiap dari kalangan yang menang memberi cuk (semacam infak untuk tuan rumah).
Di kampung juga banyak pasangan kumpul kebo yang tinggal bersama hingga beranak-pinak. Biasanya kalau sudah beranak baru ngajukan nikah di KUA.
Juga ada beberapa wanita lajang yang tinggal di rumah sendiri tapi selalu gonta-ganti pasangan, baik dengan pemuda kampung maupun luar kampung.
Untuk urusan miras di kampungku bukan barang langka, ada diantara bapak-bapak yang di rumahnya sedia paling tidak sebotol ciu. Alasannya : nggo anget-anget weteng le ! ben ra masuk angin (Buat menghangatkan perut nak, biar nggak masuk angin).
Di setiap acara orang punya kerja (kondangan) sudah biasa ada yang nenggak ciu. Bahkan pernah ada warga yang mendirikan perkumpulan namanya PANGUNCI (Paguyuban Ngunjuk Ciu). Demikian gambaran kebobrokan moral kampung tersebut.
Semangat beragama di kampungku dimulai dari orang-orang tua yang masih tertatih-tatih nglakoni agama (sholat). Di kampungku yang nglakoni sholat selain orangtuaku diantaranya ada mbah Bei Nurakhim, pak Kemi Parjono, pak Sastro, bu/mbah Jah (ibunya Abdul Karim, Thohir), di daerah Tipes selatan ada mbah Hj. Salamah, Bp. Hendrosurasmo, Bp. Sahari, dll.
Di utara sekitar rusunawa (dulu kuburan umum sebelum jadi rusun) ada satu tokoh Islam yaitu mbah Ahmad Klelar.
Di bulan Romadhon warga bisa sholat tarawih di tempat Mbah Bei Nurakhim, Mbah Hj. Salamah, dan di musholanya Bp. Sahari. Lokasinya dulu di seberang utara masjid Salamah. Kalau daerah rusun di rumahnya Mbah Ahmad Klekar.
Sebelum ada masjid Salamah, di sepanjang kampung Tipes mulai dari pinggir sungai besar di selatan sampai ke utara kampung Baron Gede ( asrama tentara), belum ada masjid satupun. Aku sendiri dan kawan-kawan, serta orang-orang tua kalau sholat Jum'at pergi ke masjid Tegalsari Laweyan atau kalau ke timur ke masjid Taqwa Panularan, atau masjid Al Huda.
Pada sekitar tahun 1970an Bapak Abdul Qodir datang ke kampungku. Beliau membeli rumah dan kemudian tinggal di kampung kami. Dari situlah beliau memulai dakwah di daerah Tipes dan Begalon.
Beliau sangat ringan tangan/tenaga dalam kebaikan/dakwah. Mengajar ngaji dari mulai huruf hijaiyah sampai bisa baca Al Qur'an, mengajari bab agama dari awal, mulai dari berwudlu, sholat, dst.
Baik dari para orang tua maupun anak-anak. Baik di rumahnya sendiri maupun datang ke rumah-rumah tetangga yang mengundang.
Suami-istri bahu membahu dalam dakwah, karena kebetulan mereka belum dikaruniai anak, jadi bisa fokus dalam kegiatan dakwah.
Pak Abdul Qodir adalah seorang pegawai Depag/KUA di suatu daerah di Solo, sedang istrinya awalnya jualan sembako selanjutnya beralih profesi dagang pakaian di Pasar Klewer. Dengan izin Allah usaha inilah yang mengantarkan ekonomi mereka meningkat sehingga bisa berangkat haji.
Pada tahun 1976, beliau bersama tokoh-tokoh Islam lainnya di Tipes seperti yang tersebut di atas, bersama-sama mewujudkan berdirinya masjid yang pertama ada di daerah itu. Atas kerelaan dan keikhlasan dari Ibu Hj. Salamah, beliau mewakafkan tanahnya sebagai tempat berdirinya masjid yang namanya diambil dari pewakafnya yaitu Masjid Salamah.
Dengan berdirinya masjid Salamah, Alhamdulillah dakwah dan syiar Islam lebih berkembang. Baik dari batas selatan Tipes pinggir sungai sampai ke utara Begalon, Baron, lambat laun tersentuh dakwah Islam.
Semua aktifis masjid baik dari kalangan sepuh, maupun pemuda saling bahu membahu dalam dakwah Islam. Para pemuda waktu itu dipelopori diantaranya Hasyim Budi Santosa, Taufiq Hidayat, Siddiq Wiyono, Anshori, Abu Wakhid, dll.
Sementar untuk juniornya diantaranya aku sendiri, Jarno Abdullah, Abdul Karim Mulyono, Saroso Nashir, Mun Slamet, Joko Indi, Thoyyib Joko Daryono, Amirudin, dll.
Dari masjid ini Islam di daerah ini mulai berkembang dan menginspirasi berdirinya masjid-masjid yang lain. Seperti di sebelah barat masjid Baiturrahim, di selatan masjid Baitussalam, di utara masjid IPHI. Dan masjid-masjid lain menyusul seperti masjid AnNur Rusunawa, masjid Al Ikhlas barat Rusun 2, dan terakhir masjid Al Azhar Syifa Budi.
Semoga terus berkembang dan berjaya syiar Islam di kampung kita...Aamiin.
Wallahu a'lam.
Nama-nama dalam tulisan adalah sebagian yang tertulis karena masih banyak lagi yang tidak tertulis, bukan dimaksudkan untuk menonjolkan, menganggap lebih utama, menyombongkan diri. Tetapi sebagai kelengkapan sebuah cerita saja. Seandainya ada yang kurang berkenan kami terima dan akan mengoreksinya.