10/06/2026
Kajian Humaira
04 Juni 2026
Ustadz Rofiq Jauhari, S. Pd. I
Tema: Berhala Modern, Tak Terlihat Tapi Melalaikan.
Imam Ad Dzahabi bercerita, Abu Ishaq Ibrahim bin Adham dari Samarkand dia adalah putra raja, kegiatannya hanya berburu rusa.
Di saat sedang berburu rusa, dia mendengar suara, "Ya Abba Ishaq, kesia-siaan apa yg Engkau lakukan?".
Maka suara itu membawa nya pada surat Al Mukminun: 115
"Apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu main-main (tanpa ada maksud) dan kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?".
Dia merenungkan siapa aku ini? Untuk apa aku diciptakan?
Kemudian Abu Ishaq keluar dari istana menuju Syam. Sampai di tepi Damaskus (Suriah) kemudian dia bekerja di kebun anggur di Suriah. Dia hidup dari kemewahan menuju kesederhanaan. Maka dia di sebut Sulthonuzzahidin (sulthon nya orang-orang yang zuhud)
Itulah sepenggal kisah dari orang sholih yang telah meninggalkan kesia-siaan.
Seringkali aktifitas di dunia itulah yang menyita sebagian besar waktu dan tenaga kita. Kehidupan dunia telah mendistraksi fokus kita. Ketika kita sedang dalam hiruk pikuk dunia itu, kita menjadi lupa siapa kita? Bahwa kita sejatinya adalah seorang hamba. Dan tugas kita adalah beribadah kepada Allah ﷻ.
Ketika kita lelah dalam kehidupan, ketika kita merasa bingung maka lihat kembali kompas hidup kita, ada 2 ayat dalam Al Qur'an yang bisa dijadikan sebagai acuan:
1. Surah Ad Dzariyat: 56
2. Surah Al A'raf: 172
A. Surah Ad Dzariyat: 56
"Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku."
Bahwa tugas kita hanyalah beribadah kepada Allah. Lalu bagaimana agar kita sadar bahwa kita seorang hamba? Jawabannya adalah di surah Al A'raf 172.
B. Surah Al A'raf: 172
"(Ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari tulang punggung anak cucu Adam, keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksiannya terhadap diri mereka sendiri (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami melakukannya) agar pada hari Kiamat kamu (tidak) mengatakan, “Sesungguhnya kami lengah terhadap hal ini,".
Bahwa di surah ini sebelum kita diciptakan Allah telah mengambil perjanjian dengan kita, kita telah bersaksi (mengakui) bahwa Allah Rabb kita.
Menurut ulama Sholih Al Fauzan, Rabb memiliki 4 makna:
1. Al Mudabbir (Allah yang Maha mengatur alam semesta )
2. Al Mushlih (Allah yang memelihara dengan kebijaksanaannya)
3. Al Jaabir (Allah Maha Berkehendak/yg bisa memaksa siapapun/ yg mempunyai kewenangan)
Sudut pandang yang positif akan membawa kita pada nilai2 keagungan Allah ﷻ
1. 1. Al Qaim (Allah adalah Dzat yang berdiri sendiri)
Itulah kita dahulu pada saat Allah ciptakan, kita mengakui Allah sebagai Rabb tetapi dalam proses kehidupan, kita mengalami distraksi. Dunia telah mengalihkan perhatian kita, mengganggu fokus kita.
Dalam suatu hadist disebutkan, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah; kedua orang tuanyalah yang menjadikannya penganut agama Yahudi, atau Nasrani, atau Majusi.''
(HR. Bukhari & Muslim)
Fitrah di dalam hadis tersebut bukanlah suci dari dosa tetapi adalah fitrah mentauhidkan Allah.
Setiap anak adam yang dilahirkan dia membawa fitrah yaitu lahir dalam keadaan mentauhidkan Allah.
Kemudian hadist tersebut menyebutkan, "kedua orang tuanyalah yang menjadikan kafir". Maka bisa disimpulkan ada faktor yang membuat distraksi yaitu:
- orang tua
- lingkungan (circle)
Maka ketika kita sudah bersaksi untuk mentauhidkan Allah, lalu ketika hidup di dunia, kita lalai karena adanya berhala modern. Bukankah Allah pantas menghukum kita?
Karena Allah itu Dzat yang Maha Pencemburu. Allah menegur atau menghukum kita atas suatu kesalahan, Allah memberikan 4 tahap dalam teguran tersebut:
1. Al imhal
Allah memberikan kita waktu toleransi. Allah memberi kita kesempatan kedua.
1. Al istidraj
Semakin dia tenggelam dalam kelalaiannya, semakin dia bermaksiat, maka Allah bukakan pintu rezeki dan banyak nikmat. Allah uji dengan banyaknya nikmat itu, agar hatinya sibuk dengan nikmat tanpa mengingat Allah.
Allah sibukkan hati nya untuk menghitung nikmat, bukan untuk berdzikir.
1. Ar Roin
Hatinya sudah menghitam, sudah mati rasa untuk kembali kepada Allah.
1. Al Ahzbu
Diberikan hukuman oleh Allah.
Inilah yang kita jadikan pondasi untuk kemudian kita jadikan dasar untuk bersikap.
Setiap tahun kita melaksanakan ibadah Qurban tetapi apakah kita tahu mengapa Allah memerintahkan Nabi Ibrahim menyembelih Isma'il?
Bukan hanya Allah memerintahkan kita untuk menyembelih kepemilikan tetapi ada pelajaran yang lebih dahsyat daripada itu. Yaitu, menurut Imam at Thabari disebutkan karena porsi ibadah Nabi Ibrahim terdistraksi dengan adanya anak.
Nabi Ibrahim bergelar Kholilullah, yaitu kekasih Allah karena mempunyai cinta yang murni, yaitu tidak hanya sekedar cinta tetapi loyalitas dan totalitas dalam mencintai Allah.
Maka Allah memerintahkan Ibrahim membawa Isma'il dan Hajar ke Mekkah. Jauh dari kampung halamannya. Allah tidak mau porsi ibadahnya terdistraksi karena hadirnya anak.
Kemudian setelah Nabi Isma'il itu berumur beberapa tahun, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelihnya. Hal ini juga ujian keimanan Nabi Ibrahim ketika fokus ibadahnya terganggu karena anak.
Ujian Nabi Ibrahim:
1. Bapaknya adalah pembuat patung/berhala yang ketika di dakwahi tetapi tetap menyembah berhala
2. Allah memerintahkan Ibrahim untuk membawa Isma'il dan Hajar ke padang pasir tandus, tidak ada rumah tidak ada tanda-tanda kehidupan dan jauh darinya.
Dan ketika itu Nabi Ibrahim tidak merisaukan rezki untuk Isma'il dan Hajar tetapi Nabi Ibrahim berdo'a agar diberi anak keturunan yang mendirikan sholat. Juga berdo'a agar tempat itu (Mekkah) menjadi negri yang aman dan banyak rezki dari buah-buahan.
1. Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih Nabi Isma'il.
Maka apa yang harus kita kerjakan?
Didalam hadist Qudsi Allah meminta kita dengan satu kata, " Ya 'ibadi Tafarragh"
Tafarragh itu artinya luang/longgar/sempat.
"Luangkan waktu untuk beribadah kepadaKu, maka Akan penuhi dadamu dengan rasa cukup. Dan akan aku hilangkan kefakiran dari dirimu.
Jika kamu tidak kerjakan, Maka akan aku penuhi kedua tanganmu dengan aktifitas (kesibukan) yang tidak ada ujungnya, yang tidak ada manfaatnya. Dan Aku tidak akan hilangkan kefakiran dari dirimu."
Tafarragh adalah skala prioritas.
Siapa yang bisa memprioritaskan Allah maka Allah akan berikan rasa cukup dalam hatinya.
Menurut Ibnu Hazm untuk tiga perkara lihatlah ke bawah, yaitu untuk rizki, kesehatan dan waktu luang, agar kita bersyukur.
Untuk ibadah maka lihatlah orang yang telah mati.
Beberapa contoh berhala modern adalah handphone, uang dan semua hal yang melalaikan kita dalam tugas ketaatan kepada Allah.
Yang dimaksud berhala di sini bukan "yang disembah" tetapi adalah yang memalingkan totalitas ketika beribadah kepada Allah.
Maka kita harus bijak menentukan skala prioritas, bijak untuk bersikap, bijak untuk berbuat karena kita adalah seorang hamba.
Wallahu’alam bishawab 🤲🏼