10/09/2026
https://www.youtube.com/live/ynkKDlq1R3c?si=Wa12F3s46tTBZXI3
___________________________________
"Matinya Keinginan Berbuat Baik"
(Ustadz Dr. M. AbduhTuasikal, M.Sc)
Kajian Humaira, 3 September 2026
*Lanjutan Dampak Buruk Maksiat:
11. Dosa itu melemahkan hati dalam keinginannya untuk berbuat baik.
Dan sebaliknya, dosa akan terus memperkuat dorongan untuk terus berbuat maksiat.
Menurut para ulama, balasan dari kejelekan adalah kejelekan yang lainnya, hingga lama kelamaan keinginan untuk bertaubat pun lama-lama makin melemah dan hilang dari hati.
Langkah-langkah bertaubat:
a. Menyesali dosa yang telah lalu
b. Kembali taat untuk saat ini
c. Bertekad tidak mau mengulangi lagi
Jika maksiat terus dilakukan dan bahkan hingga separuh dirinya berada di ambang kematian, ia mungkin tidak akan kembali kepada Allah.
Hamba yang seperti ini bisa saja melafadzkan istighfar atau dia menyatakan taubat, tetapi taubatnya adalah dusta. Lisannya mengucapkan istighfar, tetapi hatinya tetap terikat pada dosa.
Hal itu merupakan penyakit paling berbahaya bagi hati karena akan menimbulkan kebinasaan.
Iradah : keinginan
Keinginan untuk berbuat baik, dan keinginan untuk berbuat buruk. Semua itu tergantung pada pilihan kita, tidak ada paksaan dari Allah.
Qs. Al Mudatstsir ayat 37
Manusia mempunyai 2 pilihan, yaitu maju (untuk taat kepada Allah), atau mundur untuk berpaling dari Allah (maksiat)
Iradah ada 2 macam, yaitu:
a. Iradah kauniyah -> kehendak Allah yang pasti terjadi, meskipun belum tentu Allah cintai.
Contoh: adanya syaithan, iblis, orang yang jahat, dsb.
b . Iradah syar'iyyah: Kehendak Allah karena Allah cinta, namun belum tentu terjadi.
Contoh:
- Allah mencintai orang yang mendirikan shalat, namun kenyataannya banyak orang yang tidak melakukan shalat.
- Allah menginginkan Abu Lahab (paman Nabi) untuk beriman kepada Allah, namun Abu lahab memilih untuk berpaling dari Allah.
Bagi orang yang memilih untuk mundur (berpaling dari Allah) pasti ada konsekuensinya.
-> Qs. Al Mudatstsir 38
Setiap manusia tergadai karena dosanya.
Jika dosanya masih tertahan, maka dia tidak selamat. Dia hanya bisa selamat jika dosanya sudah terhapus.
Qs. Al Mudatstsir 39
Yang selamat (dari dosa yang tertahan) adalah golongan kanan (ashabul yamin).
Ashabul yamin memiliki 4 amalan:
a. Mengerjakan shalat -> berkaitan dengan ibadah
b. Memberi makan orang miskin -> berkaitan dengan sosial
c. Tidak ikut-ikutan orang yang membicarakan kebathilan/menentang Islam -> berkaitan dengan lingkungan
d. Mengimani hari pembalasan/hari kiamat -> berkaitan dengan aqidah
Maka kita bisa menjadi baik jika ibadah, sosial, lingkungan, dan aqidah kita bagus. Itu semua bisa terwujud karena pilihan kita.
Namun faktor terbesarnya adalah karena adanya hidayah dari Allah.
-> QS. Al Mudatstsir ayat 55
Peringatan itu manfaat bagi orang yang mau mengambilnya
-> QS. Al Mudatstsir 56
Tidak ada yang bisa mengambil peringatan kecuali atas kehendak Allah (adanya hidayah Allah).
Fudhail bin Iyadh pernah berdoa karena ia merasa tidak mampu mendidik anaknya, maka ia memohon kepada Allah untuk mendidiknya. -> Fudhail memohon hidayah Allah untuk anaknya.
Doa Fudhail tsb dapat kita amalkan dengan lafadz sbb:
ุงููููููู
ูู ุฅููููู ุงุฌูุชูููุฏูุชู ุฃููู ุฃูุคูุฏููุจู ููููุฏููุ ููููู
ู ุฃูููุฏูุฑูุ ููุฃูุฏููุจููู ุฃูููุชู ููู.
โYa Allah, sungguh aku telah bersungguh-sungguh untuk mendidik anakku, tetapi aku tidak mampu. Maka didiklah ia untukku.โ
Wallahu a'lam bish-shawab