Santri Buroq

Santri Buroq Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Santri Buroq, Religious organisation, Kampung Sewu RT 02/RW 04, Surakarta.

  BERSHOLAWAT  BI HALAL #20230507
07/05/2023

BERSHOLAWAT
BI HALAL
#20230507

01/12/2022
*UNDANGAN* KEPADA :Yth . Bpk / Ibu / Sdr /I.......Jama'ah Assalamu' Alaikum Wr. Wb.Salam silaturahim kami haturkan kepad...
13/11/2022

*UNDANGAN*

KEPADA :
Yth . Bpk / Ibu / Sdr /I.......
Jama'ah

Assalamu' Alaikum Wr. Wb.

Salam silaturahim kami haturkan kepada Bapak/Ibu/Saudara/i Semoga senantiasa mendapatkan Rahmat dari Allah SWT. Amin."


Dengan Ini Kami
Mengharapkan kehadiran Bapak/Ibu/Saudara/i Pada :

*Hari Tgl/Bln/Thn* : Senin 14 November 2022

*Waktu* : Jam 19:30 - selesai ( bakda isya' )

*TEMPAT* : Masjid "Nurul Huda"Honggo Pradatan

*ALAMAT*: Kampung Sewu RT 01/RW 04 , jebres , Surakarta

*Acara* : Kajian Rutin *KITAB BULUGHUL MAROM*

*Ustadz* : Kiai Abdul Hamid Nawawi , S. Hi ( Gus Hamid )

Demikian undangan ini kami buat. Atas perhatian dan Kehadirannya Bpk/Ibu/Sdr/I Kami ucapkan Terima Kasih.

Jazakumullah Khoiron Khatsiro.

Wallahul Muwaffiq ila Aqwamit Tharieq

Wassalamu Alaikum Wr.Wb. . .

NB :
1. bawa infaq terbaiknya.
2 . mohon semua jama ah hadir.
3 . ajak jama'ah yang lain

*UNDANGAN* KEPADA :Yth . Bpk / Ibu / Sdr /I.......Di MardhotillahAssalamu' Alaikum Wr. Wb.Salam silaturahim kami haturka...
07/11/2022

*UNDANGAN*

KEPADA :
Yth . Bpk / Ibu / Sdr /I.......
Di Mardhotillah

Assalamu' Alaikum Wr. Wb.

Salam silaturahim kami haturkan kepada Bapak/Ibu/Saudara/i Semoga senantiasa mendapatkan Rahmat dari Allah SWT. Amin."


Dengan Ini Kami
Mengharapkan kehadiran Bapak/Ibu/Saudara/i Pada :

*Hari Tgl/Bln/Thn* : Senin 07 November 2022

*Waktu* : Jam 19:30 - selesai ( bakda isya' )

*TEMPAT* : Masjid "Nurul Huda"Honggo Pradatan

*ALAMAT*: Kampung Sewu RT 01/RW 04 , jebres , Surakarta

*Acara* : Kajian Rutin ( *Majlis Lembah Manah* )

*KITAB BULUGHUL MAROM MUALIF*
Imam ibnu hajar al-atsqolani

*Ustadz* : Kiai Abdul Hamid Nawawi , S. Hi ( Gus Hamid )

Demikian undangan ini kami buat. Atas perhatian dan Kehadirannya Bpk/Ibu/Sdr/I Kami ucapkan Terima Kasih.

Jazakumullah Khoiron Khatsiro.

Wallahul Muwaffiq ila Aqwamit Tharieq

Wassalamu Alaikum Wr.Wb. . .

NB :
1. bawa infaq terbaiknya.
2 . mohon semua jama ah hadir.
3 . ajak jama'ah yang lain

Keutamaan Fadhilah Maulid Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasallam...(Kitab An Ni'matul Kubro Imam Ibnu Hajar Al Haitami...
26/09/2022

Keutamaan Fadhilah Maulid Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasallam...

(Kitab An Ni'matul Kubro Imam Ibnu Hajar Al Haitami As Syafi'i Halaman 5-7)

PDF Kitab 👇🏻:
https://archive.org/download/lionsunna1515_NEEMATU_KUBRA_IBNU_HAGAR_HAITAMY/%D9%A4%D9%A4-%20%D8%A7%D9%84%D9%86%D8%B9%D9%85%D8%A9%20%D8%A7%D9%84%D9%83%D8%A8%D8%B1%D9%89%20%D8%B9%D9%84%D9%89%20%D8%A7%D9%84%D8%B9%D8%A7%D9%84%D9%85%20%D9%81%D9%8A%20%D9%85%D9%88%D9%84%D8%AF%20%D8%B3%D9%8A%D8%AF%20%D9%88%D9%84%D8%AF%20%D8%A2%D8%AF%D9%85.pdf

01/08/2022

Rutinan Akhir Bulan, Ranting NU Kampung Sewu

07/07/2022

AMALAN ANTI KANTONG KERING

Dalam suatu kesempatan KH. Kholil Bisri (kakak kandung KH. Musthofa Bisri) memberikan ijazah 'aam kepada para santri muda berupa "vitamin" anti kanker. Ijazah ini beliau dapatkan langsung dari ibunda beliau sendiri, Nyai Ma'rufah. Kanker yg dimaksud bukanlah penyakit yg sudah kita mafhum selama ini, melainkan KANtong KERing.

Kaifiyahnya sederhana:

1. Sholat sunnah Dhuha (terserah mau berapa roka'at, minimal 2 raka'at/maksimal 8 raka'at);

2. Baca do'a sholat dhuha sebagaimana biasanya.

3. Wirid surat Al Kautsar yg pendek itu (cuma) 14 kali.

4. Selesai.beliau, yg mengamalkan ini insya Alloh tidak akan punya KanKer dan selalu dicukupi Alloh kebutuhannya. Tentu saja, insya Alloh.

Saya bagikan kembali ijazah ini karena beliau dulu mempersilahkan p**a untuk diamalkan oleh masyarakat umum.

Semoga bermanfaat 🙏

Qobiltu...

اللهم صل على سيدنا محمد وعلى ال سيدنا محمد

29/06/2022

SiMbah KH. Maimoen Zubair; Sang Waliyulloh yang bersembunyi di balik Jubah Keulamaan

Hayatul Makki, biasa orang-orang memanggilnya dengan Gus Hayat, sekarang menjadi Pengasuh Pondok Pesantren Alif Baa Tanbihul Ghofilin Mantrianom, Bawang, Banjarnegara itu sempat mengaku tidak percaya dengan kewalian Mbah Moen (Al-Maghfurlah KH. Maimoen Zubair).

Pada suatu hari dia akan sowan Mbah Moen, dalam hatinya ngrenteg : "Nek bener-bener Mbah Moen itu Wali maka nanti saya akan kepengin makan dengan nasi tumpeng berikut beraneka ragam lauknya, tapi masa ada di ndalem nasi tumpeng itu?" Gumamnya dalam hati.

"Sopo iku?" Tanya Mbah Moen setelah Makki berada di depan beliau. "Hayat Makki Mbah Mantrianom Banjarnegara". Jawab Gus Hayat. "Oh mlebu ngene, mangan s*k" tanpa mau menerima uluran tangan Makki dan justru
Mbah Moen langsung menyuruh Makki masuk ke ruang dalam yang biasa untuk menyuguh para tetamu si Mbah. Mbah Maimoen memang mengenal sejak lama dan bersahabat dengan ayah Gus Hayat.

Di ruangan dalam ternyata ada ibu Nyai yang memang sudah mengenal Hayat Makki dan mempersilakan Makki untuk makan. Ajaibnya. Nasi tumpeng berikut lauknya sama persis seperti apa yang dikrenteg kan sesaat tadi sebelum Makki sowan. Setengah tak percaya mulai detik itu juga Gus Hayat percaya bahwa Mbah Moen bukan orang sembarangan. Benar benar Wali. Ngerti sejeroning winarah.

Kemudian Makki pamitan namun ternyata Mbah Moen tidak kerso disalami sembari seperti memasang muka "rada marah" terhadap 'kelakuan' Hayat Makki siang itu.

Pulanglah Hayat Makki ke rumahnya dengan menyisakan tanda tanya kenapa Mbah Moen seperti marah sama saya. Dan dia berjanji akan menjadi "santri kinasihan"; dengan siap segalanya jika ada dhawuh dari Si Mbah.

Beberapa tahun kemudian, tepatnya di bulan haji tahun 2019, Mbah Moen tiba-tiba ingin tindak haji dan yang akan mengantarkannya adalah Hayat Makki. Beliau menyuruh putranya, Gus Ghofur "telponke Makki, kon neng Sarang. Mbatiri aku haji". Dhawuh simbah singkat.

"Gus, jenengan supados teng Sarang kersane mangke nderekke siMbah tindak haji, saged mboten?" Suara Gus Ghofur dari HP.

"Tenaane Gus?" Ampun ngarang lah." Jawab Gus Hayat.
Di situ ada Gus Majid Kamil dan Gus Hayat pun menanyakan apa benar kabar itu. Gus Majid pun menjawab benar. Ternyata juga siMbah ada di situ dan langsung ngendiko "Makki... iki aku loh sing ngomong..." suara khas SiMbah terdengar di HP Gus Hayat yang langsung dijawab :"Sendiko Dhawuh Mbah".

Hari itu juga Gus Hayat langsung meluncur ke Sarang. Setelah bertemu si Mbah dhawuh : "Makki, kowe mbatiri aku haji yo? Wis duwe pasport? " "Sampun gadah Mbah". Sejurus kemudian siMbah berkata:
"Visaku durung dadi, urusi yoh, kowe durung duwe juga toh". Tek kei wektu rong dino" lanjut Mbah Moen yang hanya dijawab "Siaaap Mbah" oleh Hayat Makki.

Kemudian Mbah Moen mengajak Gus Hayat masuk ke dalam kamar pribadinya. Dan di atas dipan tempat tidurnya ada rak yang berisi sebuah koper. Lumayan besar dan siMbah menyuruh diambil. Setelah bertanya "ibu Nyai nang ndi?" Lantas dijawab "teng ruang wingking Mbah", jawab Gus Hayat. Koper itu lantas dibuka berisi lembaran uang yang banyak sekali. "Cepat bawa pergi koper ini".

Setelah itu Gus Hayat pamitan. Koper uang itu dititipkan ke santri untuk sementara disimpan di rumah Gus Hayat di Bawang, Banjarnegara karena saat itu juga harus segera pergi ke Jakarta untuk keperluan mengurus visa yang diberi dateline "hanya 2 hari". Waktu yang terbilang mustahil untuk mengurus visa haji yang biasanya memakan waktu cukup lama itu.

Sesampainya di Jakarta dia langsung menuju masjid Istiqlal. Dinihari. Dia mujahadah munajat minta sama Alloh pertolongan agar memudahkan mengurus visa. Sempat dimarahin sama "petugas masjid Istiqlal" karena memang waktunya sudah dinihari menjelang subuh.

Pagi hari saat sholat subuh tak disangka Gus Hayat bertemu dengan Jenderal Budi Gunawan, Kepala BIN yang kebetulan pagi itu ke masjid Istiqlãl dan bertanya pada Gus Hayat.

"Ada keperluan apa pagi pagi sudah di sini Mas Hayat"? Sapa sang Jenderal. "Begini Pak, saya sedang ada tugas dari Mbah Maimoen Zubair untuk membuat visa haji, apakah bapak bisa mengantarkan saya ke Pak Presiden?"

"Oke siap. Mari saya antarkan. " Jawab Sang Jenderal. Kemudian mereka berdua menuju istana negara. Kebetulan Gus Hayat sudah mengenal baik Pak Jokowi sewaktu masih menjabat Wali Kota Solo, karena Gus Hayat pernah menjadi anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah.

"Pak Presiden. Mohon ijin saya sedang ada tugas dari Mbah Maimoen, beliau akan tindak haji tahun ini sedang membutuhkan visa haji."

"Baiklah Mas Hayat. Nanti saya akan kondis*kan secepatnya. Untuk Imigrasi, Kemenag dan Kemenlu segera saya kumpulkan hari ini."

"Nanti juga saya siapkan pesawat khusus, bisa dari Garuda atau maskapai yang lain". Sambung Pak Presiden.

"Enggih Pak, namun Mbah Moen sampun gadeh tiket piyambak dan kadose mboten kerso menawi diistimewakan" jawab Gus Hayat sambil sesekali mengucap syukur.

Singkat cerita. Visa pun jadi. Dengan waktu singkat p**a. Kemudian langsung p**ang ke Banjarnegara untuk keperluan menyiapkan bekal secukupnya dan membawa serta "koper ajaib" itu.

Sesampainya di Sarang siMbah langsung bertanya : "piye wis olih visane?" "Sampun Mbah" jawab Gus Hayat.
"Pinter kowe hek hek hek" tawa khas Mbah Maimoen karena bahagia.

Kemudian berangkatlah siMbah Maimoen ke tanah suci dengan ditemani Gus Hayat. Sesampainya di Mekkah. Beliau thowaf di lantai 2 dengan menaiki kursi roda yang didorong oleh Gus Hayat. Setiap kali sampai pojokan ka'bah yang ada multazam nya beliau bertanya sama Gus Hayat :"Makki..kowe weruh pora kae loh sing nang nduwure Multazam?" Gus Hayat pun menjawab sekenanya :"Namung sorot lampu Mbah,"
"Makii..makkii.. kowe ora paham toh.. kae Malakul Maut lagi nungguni aku, kawit mau ndelengke aku wae.."

Gus Hayat setengah tidak percaya dan menganggap itu hanya guyonan si Mbah saja.
Sampai kemudian siMbah sering bertanya :"saiki dino opo?" Kapan dino seloso"? Pertanyaan tentang hari Selasa itu hampir setiap hari ditanyakan siMbah. Sampai kemudian Gus Hayat berinisiatif dan matur ke siMbah. "Ngaten mawon Mbah
Menawi pon dugi hari Senin sonten mangke kulo matur teng jenengan."

"Oh iyo tenan yoh" jawab SiMbah. Kemudian setelah beberapa hari di Mekkah siMbah dawuh lagi untuk mengambilkan koper yang kemarin berisi uang itu.

"Makki..ini dibuka kopernya". Perintah siMbah. "Bagikan semua isinya kepada orang-orang." Lanjut beliau.

Kemudian koper itu dibuka oleh Gus Hayat. Isinya duit semua. Masih baru. Yang Mata uang asing; Poundsterling, Euro, Dollar Amerika, Dollar Singapura, Riyal, Ringgit dan beberapa lembar ratusan ribu rupiah. Jumlah keseluruhannya sekitar 3,5 Milyar rupiah.

Gus Hayat bergegas menuju pelataran Masjidil Harom dan membagikan uang-uang tersebut pada orang-orang yang berlalu lalang menuju ataupun keluar dari masjid. Aksinya itu diketahui oleh 'askar; polisi kerajaan Arab Saudi. Hampir saja ditangkap, tapi dengan bahasa Arab Gus Hayat menjelaskan bahwa aksi bagi bagi uang ini adalah perintah langsung Syaikh Maimoen Zubair Ulama besar Indonesia. Mendengar nama Syaikh Maimoen ajaibnya si 'askar tadi malah tersenyum dan malah mempersilahkan untuk meneruskan bagi-bagi BLT (Bantuan Langsung Tunai) itu.

Setelah hampir habis Gus Hayat berinisiatif untuk menyisakan segepok Dollar Amerika. Tidak dihabiskan semua dan segera kembali ke hotel tempat siMbah menginap.

"Wis kowe bagi kabeh duite Maki..?" Tanya siMbah. "Sampun Mbah, tapi kulo nyisihkan sekedik niki". Gus Hayat menunjukkan uang dollar tersebut dari kantong bajunya. "Wah..pinter kowe...hek hek hek". Sahut siMbah dengan tawa khasnya.

"Kebeneran Makki...aku dipeseni Megawati kon tukokna tasbih warna merah karo duit kuwi nggo tuku klambi awakmu lan oleh-oleh kanggo Bu Nyai yoh.." lanjut Mbah Maimoen.

"Sendiko dhawuh Mbah". Jawab Gus Hayat yang kemudian menghitung uang sisa bagi bagi tersebut ternyata segepok uang dollar Amerika itu jika dirupiahkan lumayan banyak. Seratus juta rupiah.

Waktupun berjalan. Sampai ketika senin sore ba'da ashar tanggal 5 Agustus 2019 siMbah tiba-tiba memanggil Gus Hayat.
"Makki.. aku ganteng pora?" Sambil sesekali bercermin di kaca.
"Saestu ganteng Mbah. Umpami wonten 1.000 widodari mangke ingkang 999 naksir lan tresno panjenengan Mbah.."

"Hek hek hek...oh koyo ngono yoh.." jawab SiMbah. "Lah terus widodari sing siji nang ndi?" Lanjut siMbah. "Kagem kulo Mbah" jawab Gus Hayat dan langsung disambut tawa khas siMbah.."Hek hek hek..pinter kowe Maki..."

Kemudian siMbah minta dipijitin sampai berpesan dan bertanya "iki dino opo?" "Senin Mbah." Jawab Gus Hayat yang mulai merasakan ada sesuatu yang aneh, perasaan tidak ingin kehilangan dan tak ingin jauh-jauh dar siMbah.

"Kowe nang kene wae yoh" pesan si Mbah.
"Nggih Mbah". Jawab Gus Hayat sambil menahan haru. Benar saja. Menjelang dinihari sekitar pukul 03.00 si Mbah bangun yang ternyata Gus Hayat masih ketiduran disamping tempat tidur siMbah masih dalam posisi orang memijit kaki beliau.

SiMbah terbangun sepagi itu dan meminta Gus Hayat untuk menyandarkan tubuhnya di atas kursi. Tenang sekali raut wajahnya. Sambil melantunkan Qosidah kes**aan beliau. Sanjungan terhadap Siti Khadijah. "Sa'duna fiddunya Wafuzna bil Ukhro.. bi Khadijatal Kubro wa Fathimatazzahro.." kemudian sesekali melafadzkan dzikir Alloh Alloh..dengan suara yang mulai pelan.. Namun Gus Hayat melihat siMbah mulai lemas dan berinisiatif untuk segera dibawa ke Rumah sakit.

Setelah sampai di Rumah Sakit tak berselang lama KH Maimun Zubair dinyatakan meninggal pada hari Selasa (6/8/2019) pukul 04.17 waktu setempat.

Inna lillahi wa inna ilaihi Roji'un. Indonesia bahkan dunia Islam berduka. Suasana pagi itu mendung. Hujan rintik-rintik. Mendung lagi. Seakan para penghuni langit pun ikut berduka. Jenazah siMbah pertama kalinya di sholatkan di Kantor Daker Makkah. Tempat shalat jenazah di Lantai I Kantor PPIH tersebut. Setelah dirawat beberapa saat di Rumah Sakit al-Noer, Makkah.

Setelah dishalatkan di Kantor Urusan Haji Indonesia Makkah sebelum dibawa ke Masjid al-Haram sebelum zhuhur dan dishalatkan lagi setelah shalat zhuhur. Jenazah beliau ditutupi dengan kain hijau bertuliskan lafadz istirja' ; Inna Lillahi Wa Inna ilaihi Roji'un. Khas Indonesia. Namun sesampainya di Masjidil Harom kelambu diganti dengan warna hitam. Lambang penghormatan, biasanya dipakai untuk para raja.

Imam Masjidil Haram memerintahkan untuk menempatkan jenazah Mbah Maimoen tepat di depan Ka'bah. Tidak seperti jenazah yang lain yang memang ditempatkan di ruangan khusus tempat jenazah biasa disholatkan di masjid terbesar sejagad tersebut. SiMbah dimuliakan di masjidil Haram ketika disholatkan. Di depan ka'bah.

Setelah ribuan bahkan jutaan orang menshalati karena memang musim haji banyak sekali orang di Mekkah. Jenazah dibawa ke pemakaman Jannatul Ma'wa. Tempat pemakaman tertua di kota Mekkah yang di situ di makamkan jazad mulia sayyidah Khadijah al-Kubro istri tercinta Baginda Nabi. Beberapa ulama besar juga dimakamkan di situ. Banyak sekali yang mendo'akan. Dubes RI untuk Saudi. Para jama'ah haji Indonesia maupun belahan dunia manapun yang sempat mengenal bahkan hanya mendengar namanya. Para Ulama. Para Habaib. Bahkan HRS ikut mendo'akan di atas makam beliau setelah sebelumnya sempat salah tempat menempati sebuah makam di samping makam siMbah, karena kelambu hitam yang untuk menutup jenazah siMbah dibawa kabur oleh jama'ah haji asal Afrika. Mungkin untuk Tabarukan. Ngalap berkah.

Begitulah SiMbah Maimoen Zubair. Kewaliannya tersingkap setelah beliau wafat. Terbukti dengan begitu dimuliakannya beliau mulai dari proses Rumah Sakit. Sholat jenazah di Masjidil Haram hingga pemakaman. Dido'akan para ulama dan habaib dari seluruh dunia. Menyatukan hati beberapa kubu yang sebelumnya mungkin beda pendapat dan sempat "berseberangan". Merukunkan umat. Bahkan setelah jazad beliau dimakamkan di Jannatul Ma'la perijinan masuk ke area makam yang semula sangat ketat sekarang dilonggarkan. Bahkan cenderung diizinkan padahal kita tahu sendiri Arab Saudi tidak begitu familiar dengan orang yang "ziarah kubur".

"Indunisiy, Syaikh Maimoen Zubair" bicara seperti itu ketika di depan pemakaman Jannatul Ma'la maka petugas jagapun membiarkan masuk. Bahkan sekarang konon sudah tidak ada penjagaan. Barokah Mbah Maimoen, Ziarah Kubur mulai ramai di sekitar pemakaman tertua di Kota Makkah itu.

Khususon ilã hadroti Ruuhi Simbah Kyai Maimoen Zubair wa Ahli Jannatil Ma'wa fi Makkah al-Mukarramah Lahum Al-Fãtihah.

Ditulis sejak semalam sampai pukul 01.30 dinihari dan dirampungkan pagi ini. Jum'at 24 Juni 2022.

Seperti dikisahkan oleh Lik Khotibul Umam Wiranu (Sahabat Gus Hayat), yang juga alumni Sarang; kemarin malam Rabu waktu beliau 'ngaji rutinan' di kediaman Mas Hary Budiyantoro dengan tambahan dari penulis secukupnya.

Wallohu A'lam.

27/06/2022

Biografi KH. Dimyati Rois

Kelahiran

KH. Dimyati Rois atau yang lebih dikenal dengan panggilan Abah Dim lahir pada 5 juni 1945 di Tegal Glagah Bulakamba, Brebes, Jawa Tengah. Beliau merupakan putra kelima dari sepuluh bersaudara yaitu dari pasangan KH. Rois dan Nyai Djusminah.
Saudara-saudara beliau diantaranya Ny. Khanifah, KH.Tohari Rois, KH. Masduki Rois, H. Murai Rois, KH. Saidi Rois, Ny. Khotijah, KH. Syatori Rois, Ny. Mukoyah dan Ny. Daroroh. KH. Dimyati Rois,
Latar belakang KH. Dimyati Rois adalah asli turunan petani dan santri baik dari pihak ayah maupun dari pihak ibu. Selain itu, kedua orang tuanya selalu mengajarkan dan melatih kepada putra-putrinya untuk senantiasa taat dalam beribadah.

Keluarga

Pada 1 Januari 1978, KH. Dimyati Rois melepas masa lajangnya dengan menikahi Hj. To’ah, putri tunggal dari pasangan KH. Ibadullah dan Hj. Fatimah.
Buah dari pernikahannya, beliau dikaruniai sepuluh putra-putri, yaitu, H. Gus Fadlullah, H. Gus Alamudin BA., Hj. Ning Lailatul Arofah, H. Gus Qomaruzzaman, Hj. Ning Lama’atus Sobah, H.Gus Hilmi, H.Gus Thoha Mubarok, H.Gus Husni Mubarok, H.Gus M. Iqbal dan Gus Abu Khafsin Almuktafa.
KH. Dimyati Rois membekali putra-putrinya dengan nilai-nilai agama Islam, mengajari putra-putrinya untuk menuntut ilmu dan terus belajar, karena menurut beliau bahwa seseorang tidak akan menjadi pandai tanpa adanya suatu proses pembelajaran.

Pendidikan

KH. Dimyati Rois sejak kecil memang sudah terlihat berbeda jika dibandingkan dengan para saudaranya yang lain, beliau begitu pendiam, tetapi rajin, disiplin dan ulet.
Dengan s*kap rajinnya tersebut, beliau memulai pendidikannya dengan belajar di di SR (Sekolah Rakyat). Di sekolah formal tersebut KH. Dimyati Rois menyelesaikannya dan mendapatkan sertifikat sebagai tanda kelulusan.
Setelah selesai pendidikan formal, kemudian pada sekitar tahun 1956 beliau melanjutkan pendidikannya dengan belajar di Pondok Pesantren APIK, Kauman, Kaliwungu, Kendal yang diasuh oleh KH. Ahmad Ru’yat. Beliau mondok di Pondok Pesantren APIK selama kurang lebih 14-15 tahun.
Setelah selesai di Pondok Pesantren APIK, kemudian beliau melanjutkan pendidikannya dengan berguru kepada KH. Mahrus Aly di Ponpes Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, akan tetapi itu hanya sebentar dan setelah itu kemudian beliau melanjutkan berguru pada Mbah Imam, pengasuh Pondok Pesantren Sarang, Rembang, Jawa Tengah, di sana beliau hanya belajar kurang lebih sekitar 5 tahun.
Namun, setelah beberapa tahun berkelana menuntut ilmu di daerah Rembang, Tuban dan Kediri, pada akhirnya beliau kembali lagi ke Pondok Pesantren APIK, Kauman, Kaliwungu, Kendal. Tak berapa lama kemudian, beliau diangkat menjadi Lurah Pondok oleh Pengasuh Pondok Pesantren APIK, yaitu KH. Humaidullah Irfan (kakak KH. Ibadullah Irfan).
Ilmu-ilmu yang beliau pelajari selama beliau di pondok antara lain ilmu nahwu, sorof, ushul fiqh, kitabnya Imam Al-Ghazali dan masih banyak lagi kitab-kitab yang lainnya. Kecerdasan KH. Dimyati Rois telah nampak diwaktu masih belajar di pondok yang beliau singgahi, selama beliau di pondok tidak ada waktu yang terlewati dengan sia-sia. Melainkan digunakan untuk belajar, maka tidak aneh jika KH. Dimyati Rois memiliki wawasan yang luas tentang keislaman.

Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)

Pada waktu Muktamar NU di Jombang, KH. Dimyati Rois terpilih menjadi salah satu ulama yang tergabung dalam tim Ahlul Hal Wal Aqdi (AHWA) yang berjumlah 9 ulama khos se-Indonesia.
Dalam ormas NU, kiprah beliau tidak diragukan lagi. Beliau pernah menduduki kepengurusan dari mulai tingkat PCNU Kendal, PWNU Jawa Tengah, hingga PBNU. Beliau pernah menjadi pengurus Tanfidziyah, Syuriyah hingga Mustasyar PBNU. Di samping sebagai ulama yang ‘alim, beliau juga dikenal sebagai mubaligh yang ulung. Maka tidaklah mengherankan jika beliau banyak dikenal di kalangan santri dan kaum nahdliyin.
Selain itu, dalam dunia politik, beliau juga pernah menjadi pengurus DPW PPP Jawa Tengah, DPP PKB dan DPP PKD. Pada masa Orde Baru, beliau pernah menjadi anggota MPR RI melalui jalur Utusan Golongan yang diajukan PPP (Partai Persatuan Pembangunan). Setelah Orde Baru tumbang dan muncullah era Reformasi, para politisi dan pengurus PBNU bergerak membentuk partai baru sebagai usulan kaum nahdliyin yang ingin aspirasinya tertampung.
Beliau masuk dalam jajaran pengurus PBNU yang ikut mendeklaras*kan lahirnya PKB. Beliau bersama KH. Cholil Bisri, KH. Mustofa Bisri, KH. Abdurrahman Wahid, KH. Munasir Ali, KH. Muchit Muzadi, KH. Ma’ruf Amin, KH. Ilyas Ruchiyat dan ulama lainnya menjadi Deklarator PKB. Setelah Gus Dur dilengserkan dalam Sidang Istimewa (SI MPR RI) dan memasuki pemilu kedua di era Reformasi, mulai muncullah riak-riak dalam dunia perpolitikan Indonesia termasuk menimpa PKB.
Dalam tubuh PKB terpecah belah menjadi beberapa partai, diantaranya PNU, PKNU dan Partai Kejayaan Demokrasi (PKD). Dalam kubu Pondok Pesantren Langitan, Pondok Pesantren Lirboyo dan Pondok Pesantren Tegalrejo melahirkan PKNU. Sedangkan kubu Matori Abdul Jalil melahirkan PKD dan Ketua Dewan Syuranya dipegang oleh beliau. Namun, PKD tidak masuk dalam parpol yang lolos verifikasi KPU sehingga dengan sendirinya bubar.
Setelah vakum dalam dunia politik beberapa tahun, beliau kembali didapuk oleh Ketua Umum DPP PKB, Muhaimin Iskandar, untuk menjadi pengurus Dewan Syura DPP PKB. Di kemudian hari, Ketua Dewan Syura DPP PKB kosong sepeninggal KH. Aziz Manshur. Tidak butuh waktu lama, Muhaimin Iskandar selaku Ketua Umum DPP PKB memohon agar beliau berkenan menjadi Ketua Dewan Syura DPP PKB menggantikan KH. Aziz Manshur. Dengan berat hati, beliau pun menyanggupinya demi kebesaran PKB.

Teladan

Sebagai seorang ulama KH. Dimyati Rois memiliki kepribadian yang sangat baik dan penuh kesederhanaan, baik dengan para pengikut (santrinya) maupun dengan masyarakat yang lain. Kesederhanaan beliau ditunjukan dengan berpakaian yang sederhana, dan beliau juga tidak akan makan apabila tidak benar-benar lapar.
Selain itu beliau juga s**a bergaul dengan siapapun, baik dengan pedagang, pejabat, orang kaya, orang miskin, buruh bahkan anak-anak. Beliau terkenal sebagai seorang yang sabar, pemurah dan ramah, disamping itu beliau tidak mengajarkan sesuatu yang tidak beliau kerjakan, dengan kata lain segala sesuatu yang beliau ajarkan atau berikan pada muridnya sudah atau sedang ia kerjakan sendiri.
Hal ini merupakan salah satu faktor yang membuat para santri maupun jamaahnya simpatik terhadap kepribadian beliau, sehingga petuah dan ajaran-ajarannya dapat diterima dan sangat diperhatikan oleh para jamaah pada umumnya dan oleh para santri pada khususnya.
Salah satu kelebihan yang tidak banyak dimiliki kiai lain adalah kemampuannya dalam kewirausahaan. Tak hanya mengajar mengaji, beliau memiliki berbagai usaha yang menghasilkan uang sekaligus melatih para santrinya untuk bisa berwirausaha, terutama dalam bidang pertanian dan perikanan. Beliau juga dikenal sebagai kiai yang banyak memiliki ilmu hikmah atau ilmu kesaktian. Hal ini menambah kewibawaannya di kalangan masyarakat.

Semoga beliau selalu diberikan kesehatan serta umur panjang agar dapat trus menuntun kita semua dijalan yg diridhoi oleh Allah SWT.
Amiin🤲🙂

Sumber : copas dari grup WA

Gus Miek pernah berkata kpd Gus Dur saat berada di beranda langgar di kompleks makam auliya Tambak."Gus, sampean itu pak...
27/06/2022

Gus Miek pernah berkata kpd Gus Dur saat berada di beranda langgar di kompleks makam auliya Tambak.
"Gus, sampean itu paku buminya NU. Kelak sepeninggal sampean NU bakal kena fitnah.." kata Gus Miek.
"Kenapa bisa begitu Gus, apakah sdh tdk ada lagi para masyayikh yg menjaga NU?" tanya Gus Dur.
"Bukan krn itu, tp itu disebabkan dunia sdh ada diatas kepala warga NU dan banyak org bodoh yg mencabik NU," jawab Gus Miek.
Kemudian kedua tokoh besar NU itu berdoa dgn khusyu sambil sesekali sesegukkan menahan tangis.
Selesai berdoa wajah Gus Miek sumringah sambil mengatakan "Fitnah itu hanya seumur jagung". Mendengar itu Gus Dur pun tertawa lepas.

27/06/2022

Orang non muslim tidak membaca al qur'an dan tidak p**a membaca hadist yang mereka baca adalah dirimu ( kita) maka jadilah muslim yang baik

BUROQ

27/06/2022

Habib Luthfi: Sebaiknya Uang Masjid Jangan Diatasnamakan Wakaf atau Sedekah Jariyah

Habib Luthfi bin Yahya menyarankan, uang yang masuk ke masjid jangan diatasnamakan wakaf atau sedekah jariyah, sebab nanti alokasinya hanya akan kembali ke masjid saja. Jika diatasnamakan wakaf atau sedekah jariyah, maka kas masjid akan menumpuk karena tidak bisa dialokas*kan ke yang lain.

"Sebaiknya uang masjid diatasnamakan dana sosial saja, supaya pihak takmir lebih leluasa mengelolanya dan bisa mengalokas*kan labanya kepada selain masjid," jelas Habib Luthfi di majelis Jumat Kliwon yang berlangsung di Kanzus Sholawat Pekalongan, Jawa Tengah, Jumat (5/1).

Dikatakan Habib Luthfi, melalui dana sosial yang terkumpul di masjid tersebut, dapat dibuat untuk mendirikan supermarket, toko kecil-kecilan, sampai bisa membeli lahan sawah atau kebun. Tanamilah lahan itu dengan singkong atau padi.

"Hasil dari usaha itu semua bisa untuk kepentingan umum masyarakat, seperti membantu biaya pemakaman, membelikan sarung untuk jama'ah masjid yang tidak punya sarung, membantu modal usaha, dan lain-lain," ujarnya.

Habib Luthfi kurang setuju jika dana masjid menumpuk karena diatasnamakan wakaf, namun kaum fakir-miskin masyarakat setempat tidak terurus. Nanti kalau ada missionaris masuk dengan membawa mie instan, beras dan lain-lain, baru geger.

Bukannya kita ingin memanjakan kaum fakir-miskin, tapi ingin memberdayakan mereka. Jangan beri mereka ikan, tetapi berilah kail agar mereka bisa mencari ikan sendiri.

Selanjutnya Habib Luthfi mempersilahkan dana yang masuk ke masjid atau musholla dimanfaatkan untuk mendirikan lembaga keuangan mikro tanpa riba.

"Jika saya memberi penjelasan lebih, mungkin sedikit akan menyinggung perasaan sebagian orang. Mereka yang sering umroh, mungkin dalam setahun bisa 2 atau 3 kali, coba uangnya dialokas*kan saja untuk kesejahteraan umat. Taruhlah jika biaya umroh 1 kali adalah 20 juta, maka sudah berapa dana yang akan terkumpul ? Itu baru 1 orang, bagaimana jika dari banyak orang? Kalau umroh mungkin hanya untuk mendapat nama saja, agar disebut mampu umroh berkali-kali," tandasnya.

menurut Habib Luthfi, biaya yang akan digunakan umroh tersebut bisa digunakan untuk memberi pinjaman modal pada tetangganya yang kekurangan, dengan tanpa bunga dan pengembaliannya dibebaskan kapan saja, jangan sampai bisa umroh berkali-kali namun tetangga kanan-kirinya kelaparan. (Abdul Muiz/Fathoni)

Address

Kampung Sewu RT 02/RW 04
Surakarta
57123

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Santri Buroq posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share