NU Ranting Pajang Surakarta

NU Ranting Pajang Surakarta PENGURUS NAHDLATUL ULAMA
RANTING PAJANG
KECAMATAN LAWEYAN KOTA SURAKARTA
Sekretariat: Norowangsan RT 04 RW 13 Pajang Laweyan Surakarta

Rutinan NU Ranting Pajang
26/01/2024

Rutinan NU Ranting Pajang

27/02/2022

MARI MENJADI WARGA NU SECARA UTUH DAN MENYELURUH

Menjadi warga NU bukan hanya melalui pengakuan lisan saja, namun juga harus disertai dengan tindakan-tindakan yang selaras dengan esensi nama NU itu sendiri.

Menjadi warga NU juga bukan hanya sebatas menjalankan tradisi amalan NU saja seperti tahlilan, yasinan dan amaliyah lainnya.

Untuk bisa disebut sebagai Warga NU yang kaffah kriteria ringkasnya diantaranya:

1. FIKROH (Pola Pikir/ Sikap)

Dalam berinteraksi dalam berbangsa , bernegara dan beragama selalu berpola pikir dan bersikap :

a. At-Tawassuth atau sikap tengah-tengah, sedang-sedang saja, tidak ekstrim kiri ataupun ekstrim kanan.

b. At-Tawazun atau seimbang dalam segala hal, termasuk dalam penggunaan dalil 'aqli (dalil yang bersumber dari akal pikiran rasional) dan dalil naqli (bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits)

c. Al-I'tidal atau tegak lurus.

d. Tasamuh atau toleransi.

Yakni menghargai perbedaan serta menghormati orang yang memiliki prinsip hidup yang tidak sama. Namun bukan berarti mengakui atau membenarkan keyakinan yang berbeda tersebut dalam meneguhkan apa yang diyakini.

MAFHUMNYA MUKHALAFAH-nya :

Apabila ada orang yg mengaku sebagai Warga NU tetapi dalam pola pikir dan bersikap kok keluar dari empat hal tersebut di atas, maka perlu dipertanyakan lagi ke-NU-annya.

2. HAROKAH

Warga dan Pengurus NU harus bergerak sesuai dengan cara NU. Gerakan NU yang baik adalah gerakan yang selaras dan satu koordinasi dengan keorganisasian NU. Siapapun bisa bergerak untuk NU. Bisa berjuang bersama struktural maupun sebagai kultural.

MAFHUM MUKHALAFAH-nya:

Apabila ada orang yg mengaku sebagai Warga NU tetapi dalam pergerakannya kok tidak selaras dan satu koordinasi dengan keorganisasian NU, maka pengakuannya sebagai Warga NU perlu diselidiki lagi.

3. JAM'IYYAH (Organisasi)

Untuk menjadi Warga NU seutuhnya , Jam'iyyahnya harus mengikuti Jam'iyyahnya NU yang tersebar dalam bentuk Badan Otonom NU maupun Lembaga NU.

MAFHUM MUKHALAFAH-nya:

Apabila ada orang yg mengaku sebagai Warga NU tetapi Jam'iyyahnya kok mengikuti Jam'iyyah yg jelas jelas berseberangan dengan garis perjuangan NU , maka ke-NU-an nya perlu dicurigai.

4. AMALIYAH

Untuk menjadi Warga NU yang kaaffah, amaliyahnya harus mengikuti amaliyahnya NU, seperti Maulid Nabi Muhammad Saw, Ziarah Qubur, Manaqib, Istighosah, Tawasul, DLL....

MAFHUM MUKHALAFAH-nya:

Apabila ada orang yg mengaku sebagai Warga NU tetapi kok malah menyesat-sesatkan Maulid Nabi Saw, mensyirik-syirikkan ziarah Qubur, membid'ah-bid'ahkan Manaqib dan Istighosah, mengkafir-kafirkan Tawasul, jelas ke-NU-annya hanya sebatas kamuflase belaka.

5. SIYASYAH (Politik)

Untuk menjadi Warga NU yang kaaffah, politiknya harus mengikuti politiknya NU, yaitu Politik Kebangsaan bukan Politik Kekuasaan, yaitu :

Arah perjuangan Politiknya untuk menjaga dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan menerima PANCASILA sebagai Azas tunggal dalam Bernegara, tanpa mempersoalkan apapun partainya, serta apapun warna bajunya.

MAFHUM MUKHALAFAH-nya:

Apabila ada orang yg mengaku sebagai Warga NU tetapi dalam berpolitiknya kok merongrong Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan menolak PANCASILA sebagai Azas tunggal dalam Bernegara, maka jelas tertolak ke-NU-annya.

6. GHIRAH (Semangat Juang)

Untuk menjadi Warga NU yang kaaffah harus memiliki semangat juang yang tinggi dan tangguh dalam mewujudkan perjuangan NU dalam menjaga Agama Islam Ahlussunnah Wal Jamaa’ah An-Nahdliyah yang rahmatan lil alamin dan memperjuangkan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

MAFHUM MUKHALAFAH-nya:

Apabila ada orang yg mengaku sebagai Warga NU tetapi semangat juangnya kok malah menodai nilai nilai Islam Ahlussunnah Wal Jamaa’ah An-Nahdliyah yang rahmatan lil alamin dan merongrong Negara Kesatuan Republik Indonesia, maka pengakuannya sebagai Warga NU hanyalah kedustaan belaka.

7. AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR

Untuk menjadi Warga NU yang kaaffah dalam beramar ma’ruf nahi munkar harus dilakukannya dengan cara yg ma’ruf , bukan dengan cara yg munkar. Karena beramar ma’ruf nahi munkar yg dilakukan dengan cara yang munkar , pelakunya menjadi bagian dari kemunkaran itu sendiri.

MAFHUM MUKHALAFAH-nya:

Apabila ada orang yg mengaku sebagai Warga NU tetapi dalam beramar ma’ruf nahi munkar kok dilakukannya dg cara yang mungkar , maka ke-NU-annya sangat di ragukan .

13/09/2021

Rutinan NU PAJANG & SONDAKAN

11/09/2021
Sanad Ilmu NU Sampai Kepada Rasululloh SAW.Sanad Imam Syafi’i (wafat 204 H) kepada Rasululloh SAW memiliki 2 Jalur ; Jal...
01/09/2021

Sanad Ilmu NU Sampai Kepada Rasululloh SAW.

Sanad Imam Syafi’i (wafat 204 H) kepada Rasululloh SAW memiliki 2 Jalur ;
Jalur Imam Malik dan Jalur Imam Abu Hanifah.

1. Jalur Imam Malik

Imam Malik bin Anas (w. 179 H, Pendiri Madzhab Malikiyah) berguru kepada :
① Ibnu Syihab al-Zuhri (w. 124 H),
② Nafi’ Maula Abdillah bin Umar (w. 117 H),
③ Abu Zunad (w. 136 H),
④ Rabiah al-Ra’y (w. 136H), dan
⑤ Yahya bin Said (w. 143 H)

Kesemuanya berguru kepada :
① Abdullah bin Abdullah bin Mas’ud (w. 94 H),
② Urwah bin Zubair (w. 94 H),
③ al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar (w. 106 H),
④ Said bin Musayyab (w. 94 H),
⑤ Sulaiman bin Yasar (w. 107 H),
⑥ Kharihaj bin Zaid bin Tsabit (w.100 H),
⑦ dan Salim bin Abdullah bin Umar (w.106 H).

Kesemuanya berguru kepada :
① Umar bin Khattab (w. 22 H),
② Utsman bin Affan (w. 35 H),
③ Abdullah bin Umar (w. 73 H),
④ Abdullah bin Abbas (w. 68 H), dan
⑤ Zaid bin Tsabit (w. 45 H).

Kesemuanya adalah Sahabat dari Rasululloh SAW.

2. Jalur Imam Abu Hanifah.

Imam Syafi'i berguru kepada : Muhammad bin al-Hasan (w. 189 H),
berguru kepada Abu Hanifah (w. 150 H, Pendiri Madzhab Hanafiyah),
berguru kepada Hammad bin Abi Sulaiman (w. 120 H).

Berguru kepada :
① Ibrahim bin Yazid al-Nakhai (w. 95 H),
② al-Hasan al-Basri (w. 110 H), dan
③ Amir bin Syarahbil (w. 104 H).

Kesemuanya berguru kepada :
① Syuraih bin al-Haris al-Kindi (w. 78 H),
② Alqamah bin Qais al-Nakhai (w. 62 H),
③ Masruq bin al-Ajda’ al-Hamdani (w. 62 H),
④ al-Aswad bin Yazid bin Qais al-Nakhai (w. 95 H).

Kesemuanya berguru kepada :
① Abdullah bin Mas’ud (w. 32 H) dan
② Ali bin Abi Thalib (w. 40 H)

Kesemuanya adalah para Sahabat dari Rasululloh SAW.

Madzhab Syafi'iyah terdiri dari beberapa generasi (Thabqah).

Generasi / Thabqah I : Murid-Murid Imam Syafi’i ;

Abdullah bin Zubair Abu Bakar al-Humaidi (w. 219 H),
Abu Ya’qub Yusuf bin Yahya al-Buwaithi (w. 231 H),
Ishaq bin Rahuwaih (w. 238 H),
Abu Utsman al-Qadhi Muhammad bin Syafi’i (w. 240 H),
Ahmad bin Hanbal (w. 241 H, Pendiri Madzhab Hanbali),
Harmalah bin Yahya bin Abdullah al-Tajibi (w. 243 H),
Abu Ali al-Husain bin Ali bin Yazid al-Karabisi (w. 245 H),
Abu Tsaur al-Kulabi al-Baghdadi (w. 246 H),
Ahmad bin Yahya bin Wazir bin Sulaiman al-Tajibi (w. 250 H),
al-Bukhari (w. 256 H),
al-Hasan bin Muhammad bin al-Shabbah al-Za’farani (w. 260 H).

Generasi / Thabqah II :

Abu Ibrahim Ismail bin Yahya al-Muzani (w. 264 H),
Ahmad bin al-Sayyar (w. 268 H),
al-Rabi’ bin Sulaiman (w. 270 H),
Abu Dawud (w. 275 H),
Abu Hatim (w. 277 H),
al-Darimi (w. 280 H),
Ibnu Abi al-Dunya (w. 281 H),
Abu Abdillah al-Marwazi (w. 294 H),
Abu Ja’far al-Tirmidzi (w. 295 H),
Al-Junaid al-Baghdadi (w. 298 H).

Generasi / Thabqah III :

al-Nasai (w. 303 H),
Ibnu Suraij (w. 306 H),
Ibnu al-Mundzir (w. 318 H),
Abu Hasan al-Asy’ari (w. 324 H, Imam Ahlissunah Dalam Aqidah),
Ibnu al-Qash (w. 335 H),
Abu Ishaq al-Marwazi (w. 340 H),
al-Mas’udi (w. 346 H),
Abu Ali al-Thabari (w. 350 H),
al-Qaffal al-Kabir al-Syasyi (w. 366 H),
Ibnu Abi Hatim (w. 381 H),
Al-Daruquthni (w. 385 H).

Generasi / Thabqah IV :

al-Qadhi Abu Bakar al-Baqillani (w. 403 H),
Ibnu al-Mahamili (w. 415 H),
Mahmud bin Sabaktakin (w. 422 H),
Abu Muhammad al-Juwaini (w. 438 H),
al-Mawardi (w. 458 H),
Ahmad bin Husain al-Baihaqi (w. 458 H),
al-Qadhi al-Marwazi (w. 462 H),
Abu al-Qasim al-Qusyairi (w. 465 H),
Abu Ishaq al-Syairazi (w. 476 H),
Imam al-Haramain (w. 478 H),
Al-Karmani (w. 500 H).

Generasi / Thabqah V :

al-Ghazali (w. 505 H),
Abu Bakar al-Syasyi (w. 507 H),
al-Baghawi (w. 516 H),
al-Hamdzani (w. 521 H),
al-Syahrastani (w. 548 H),
al-Amudi (w. 551 H),
Ibnu Asakir (w. 576 H),
Ibnu al-Anbari (w. 577 H),
Abu Syuja’ al-Ashbihani (w. 593 H).

Generasi / Thabqah VI :

Ibnu al-Atsir (w. 606 H),
Fakhruddin al-Razi (w. 606 H),
Aminuddin Abu al-Khair al-Tibrizi (w. 621 H),
al-Rafii (w. 623 H),
Ali al-Sakhawi (w. 643 H),
Izzuddin bin Abdissalam (w. 660 H),
Ibnu Malik (w. 672 H),
Muhyiddin Syaraf al-Nawawi (w. 676 H),
Al-Baidhawi (w. 691 H).

Generasi / Thabqah VII :

Ibnu Daqiq al-Id (w. 702 H),
Quthbuddin al-Syairazi (w. 710 H),
Najmuddin al-Qamuli (w. 727 H),
Taqiyuddin al-Subki (w. 756 H),
Tajuddin al-Subki (w. 771 H),
Jamaluddin al-Asnawi (w. 772 H),
Ibnu Katsir (w. 774 H),
Ibnu al-Mulaqqin (w. 804 H),
al-Zarkasyi (w. 780 H).

Generasi / Thabqah VIII :

Sirajuddin al-Bulqini (w. 805 H),
Zainuddin al-Iraqi (w. 806 H),
Ibnu al-Muqri (w. 837 H),
Syihabuddin al-Ramli (w. 844 H),
Ibnu Ruslan (w. 844 H),
Ibnu Zahrah (w. 848 H),
Ibnu Hajar al-‘Asqalani (w. 852 H),
Jalaluddin al-Mahalli (w. 864 H),
Kamaluddin Ibnu Imam al-Kamiliyah (w. 874 H).

Generasi / Thabqah IX :

Jalaluddin al-Suyuthi (w. 911 H),
al-Qasthalani (w. 923 H),
Zakariya al-Anshari (w. 928 H),
Zainuddin al-Malibari (w. 972 H),
Abdul Wahhab al-Sya’rani (w. 973 H),
Ibnu Hajar al-Haitami (w. 974 H),
al-Khatib al-Syirbini (w. 977 H),
Ibnu al-Qasim al-Ubbadi (w. 994 H).

Generasi / Thabqah X :

Syamsuddin al-Ramli (w. 1004 H),
Abu Bakar al-Syinwani (w. 1019 H),
Syihabuddin al-Subki (w. 1032 H),
Ibnu ‘Alan al-Makki (w. 1057 H),
al-Raniri (w. 1068 H),
Syihabuddin al-Qulyubi (w. 1070 H),
Muhammad al-Kaurani (w. 1078 H),
Ibrahim al-Maimuni (w. 1079 H),
Ali al-Syibramalisi (w. 1078 H),
Abdurrauf al-Fanshuri (w. 1094 H).

Generasi / Thabqah XI :

Najmuddin al-Hifni (w. 1101 H),
Ibrahim al-Kaurani (w. 1101 H), Ilyas al-Kurdi (w. 1138 H),
Abdul Karim al-Syarabati (w. 1178 H),
Jamaluddin al-Hifni (w. 1178 H),
Isa al-Barmawi (w. 1178 H),
Athiyah al-Ajhuri (w. 1190 H),
Ahmad al-Syuja’i (w. 1197 H).

Generasi / Thabqah XII :

Abdushomad al-Palimbani (w. 1203 H),
Sulaiman al-Jamal (w. 1204 H),
Sulaiman al-Bujairimi (w. 1221 H),
Arsyar al-Banjari (w. 1227 H),
Muhammad al-Syinwani (w. 1233 H),
Muhammad al-Fudhali (w. 1236 H),
Khalid al-Naqsyabandi (w. 1242 H),
Abdurrahman Ba’alawi al-Hadhrami (w. 1254 H),
Khatib al-Sanbasi (w. 1289 H),
Ibrahim al-Bajuri (w. 1276 H).

Generasi / Thabqah XIII :

Zaini Dahlan (w. 1303 H),
al-Bakri Muhammad Syatha (w. 1310 H),
Nawawi al-Bantani (w. 1315 H),
Shalih Darat (w. 1321 H),
Muhammad Amin al-Kurdi (w. 1332 H),
Ahmad Khatib al-Minangkabawi (w. 1334 H),
Mahfudz al-Tarmasi (w. 1338 H),
Ahmad Khalil al-Bangkalani (w. 1345 H),
Yusuf bin Ismail al-Nabhani (w. 1350 H).

Generasi /Thabqah XIV :

Hadrotus Syech KH. Hasyim Asy’ari (w. 1367 H), Pendiri Jam'iyyah Nahdlatul Ulama (NU).

31/08/2021

Address

Surakarta

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when NU Ranting Pajang Surakarta posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Place Of Worship

Send a message to NU Ranting Pajang Surakarta:

Share