16/02/2026
Dua hari menuju Ramadhan.
Suasana mulai berubah pelan pelan.
Iklan makanan bermunculan, restoran menawarkan paket berbuka paling mewah, meja meja dihias seindah mungkin.
Tapi nyatanya, makanan semewah apa pun tidak pernah benar benar bisa menggantikan momen sahur dan berbuka
bersama keluarga.
Bukan soal rasanya.
Bukan soal mahalnya.
Ada yang tidak bisa dibeli dari kebersamaan yang sederhana.
Di banyak rumah di Indonesia, sahur mungkin hanya nasi hangat, telur dadar, sambal seadanya.
Ibu berjalan pelan membangunkan satu per satu.
Ayah duduk masih mengantuk, tapi tetap menunggu semua lengkap di meja.
Tak ada dekorasi istimewa, tak ada foto yang diunggah, tapi di situlah hangat itu terasa.
Berbuka pun begitu.
Segelas air putih, kurma dua butir, lalu doa yang lirih.
Suara azan terdengar dari masjid dekat rumah.
Tak ada yang sibuk membandingkan menu, karena yang dirindukan sebenarnya adalah tatap muka dan tawa kecil yang mungkin jarang terjadi di hari biasa.
Dua hari lagi Ramadhan datang.
Barangkali yang perlu kita siapkan bukan hanya daftar menu, tapi juga waktu untuk p**ang lebih cepat, duduk lebih lama, dan benar benar hadir.
Sebab pada akhirnya, yang kita kenang bukan hidangannya, melainkan siapa yang duduk di sebelah kita saat azan magrib berkumandang.