GBI Imanuel Surabaya

GBI Imanuel Surabaya Gereja Baptis Imanuel Indonesia Surabaya
WORSHIP TIME : 08.00 WIB
News and updates on the church activity Worship Services : Sunday 9.15am

GBI Imanuel Surabaya | Pdt. Yohanton LapanB’Sorat HaRo’eh | Jumat, 4 September 2026Tidak Semua Jawaban Tuhan Berupa Peru...
03/09/2026

GBI Imanuel Surabaya | Pdt. Yohanton Lapan
B’Sorat HaRo’eh | Jumat, 4 September 2026

Tidak Semua Jawaban Tuhan Berupa Perubahan Keadaan | Daniel 9:20-27

Ayat Kunci: Ketika engkau mulai menyampaikan permohonan keluarlah suatu firman, maka aku datang untuk memberitahukannya kepadamu, sebab engkau sangat dikasihi—Daniel 9:23

Daniel masih berada dalam suasana doa ketika malaikat Gabriel datang kepadanya. Ia bukan hanya membawa jawaban atas permohonan Daniel, tetapi juga membawa pengertian tentang apa yang sedang Tuhan kerjakan bagi umatNya. Bahkan dikatakan bahwa ketika Daniel mulai menyampaikan permohonannya, suatu firman telah keluar.

Ini menunjukkan bahwa doa Daniel tidak berhenti sebagai ungkapan kesedihan di hadapan Tuhan. Doanya menjadi jalan bagi Daniel untuk menerima pengertian tentang rencana Tuhan. Tuhan tidak sekadar menjawab apa yang Daniel ingin ketahui, tetapi memperlihatkan sesuatu yang jauh lebih besar: rencanaNya bagi Yerusalem, umatNya, penghapusan dosa, datangnya keadilan yang kekal, dan kedatangan Mesias.

Di sinilah kita menemukan sesuatu yang penting tentang doa. Kadang-kadang Tuhan menjawab doa bukan dengan segera mengubah keadaan, tetapi dengan memberikan pengertian supaya kita mampu melihat keadaan dari sudut pandangNya.

Daniel berdoa tentang keadaan bangsanya, tetapi Tuhan membawanya melihat rencana yang melampaui keadaan itu. Dari penderitaan umat, Tuhan menunjukkan karyaNya yang lebih besar sampai kepada kedatangan Mesias.

Karena itu, ketika kita berdoa dan keadaan belum berubah, jangan menganggap Tuhan tidak bekerja. Bisa jadi, sementara kita meminta Tuhan mengubah keadaan, Tuhan sedang mengubah cara kita melihat keadaan tersebut. Doa bukan hanya tempat kita menyampaikan keinginan kepada Tuhan, tetapi juga tempat kita belajar memahami kehendakNya.

Studi Kata: Châmad (חָמַד)
Kata yang diterjemahkan “sangat dikasihi” dalam Daniel 9:23 berkaitan dengan akar kata Châmad, yang memiliki nuansa sesuatu yang berharga, menyenangkan, atau sangat diingini. Dalam konteks Daniel, ungkapan ini menunjukkan bahwa Daniel dipandang berharga di hadapan Tuhan.

Gabriel menyampaikan hal ini ketika Daniel sedang berdoa. Jadi, sebelum Daniel menerima penjelasan tentang perkara besar yang akan terjadi, ia terlebih dahulu diteguhkan bahwa dirinya dikenal dan dihargai oleh Tuhan.

Makna Bagi Kita: Kita tidak berdoa kepada Tuhan yang jauh dan tidak peduli. Kita datang kepada Tuhan yang mengenal kita dan mendengar seruan kita. Karena itu, ketika jawaban belum kita pahami, kita tetap dapat percaya kepada Pribadi yang mendengar doa kita.

Yang Harus Dilakukan Hari Ini: Dalam doa hari ini, selain menyampaikan permohonan, mintalah Tuhan memberi pengertian tentang apa yang sedang Ia kerjakan dalam hidupmu.

Refleksi Diri: Ketika Tuhan belum mengubah keadaan, apakah aku masih mau percaya bahwa Dia sedang bekerja dan memintaNya menolongku memahami kehendakNya?

Kata Bijak: “Doa bukan hanya tentang meminta Tuhan mengubah keadaan, tetapi juga memberi kita pengertian untuk melihat keadaan melalui kehendakNya.” — Yohanton Lapan

Doa:
Tuhan Yesus, ajarlah aku berdoa dengan hati yang percaya. Ketika keadaan belum berubah dan jawabanMu belum kupahami, berikan aku pengertian untuk melihat rencanaMu. Aku percaya Engkau mendengar setiap seruanku dan mengenal hidupku. Tolong aku tetap percaya dan berjalan dalam kehendakMu. Dalam nama Tuhan Yesus aku berdoa. Amin.

GBI Imanuel Surabaya | Pdt. Yohanton LapanB’Sorat HaRo’eh | Kamis, 3 September 2026Janji Sudah Ada, Tetapi Daniel Tetap ...
02/09/2026

GBI Imanuel Surabaya | Pdt. Yohanton Lapan
B’Sorat HaRo’eh | Kamis, 3 September 2026

Janji Sudah Ada, Tetapi Daniel Tetap Berdoa | Daniel 9:1-19

Ayat Kunci: Ya Tuhan, dengarlah! Ya, Tuhan, ampunilah! Ya Tuhan, perhatikanlah dan bertindaklah dengan tidak bertangguh, oleh karena Engkau sendiri, Allahku, sebab kotaMu dan umatMu disebut dengan namaMu!—Daniel 9:19

Daniel membaca kitab-kitab suci dan memahami bahwa masa tujuh puluh tahun yang dinubuatkan Yeremia bagi Yerusalem telah genap. Menariknya, Daniel tidak menganggap genapnya waktu itu sebagai alasan untuk duduk menunggu. Ia justru mencari Tuhan dengan berdoa, berpuasa, dan mengaku dosa.

Dalam doanya, Daniel tidak hanya berbicara tentang kesalahan orang lain. Ia memakai kata “kami” dan mengakui bahwa bangsanya telah berdosa dan tidak taat kepada Tuhan. Ia menyadari bahwa mereka tidak memiliki dasar untuk menuntut pemulihan. Karena itu, permohonannya tidak dibangun di atas kebaikan Israel, tetapi pada belas kasihan Tuhan dan namaNya sendiri.

Di sini kita menemukan sesuatu yang penting: mengetahui janji Tuhan seharusnya tidak membuat kita pasif. Janji Tuhan justru dapat membawa kita semakin sungguh-sungguh mencari Dia. Daniel mengetahui apa yang Tuhan janjikan, tetapi pengetahuan itu membuatnya berlutut.

Kadang-kadang kita menginginkan janji Tuhan digenapi tanpa membiarkan janji itu terlebih dahulu membawa kita lebih dekat kepada Tuhan. Kita ingin pemulihan, tetapi tidak ingin hati kita diperiksa. Kita ingin jawaban, tetapi tidak selalu mau datang kepadaNya dengan kerendahan hati.

Daniel menunjukkan bahwa menantikan pekerjaan Tuhan bukan berarti berhenti berdoa. Ketika kita mengetahui apa yang Tuhan kehendaki, respons kita bukan mengambil alih pekerjaanNya, melainkan semakin sungguh mencari wajahNya.

Studi Kata: Tachanûn (תַּחֲנוּן) — Daniel 9:3
Tachanûn berarti permohonan belas kasihan atau permohonan yang sungguh-sungguh. Kata ini menggambarkan seseorang yang datang kepada Tuhan dengan menyadari bahwa ia membutuhkan kemurahanNya.

Makna Bagi Kita: Daniel tidak berdoa karena merasa Israel layak menerima pemulihan. Ia memohon karena percaya pada belas kasihan Tuhan. Doa yang benar membawa kita untuk mengakui kebutuhan kita dan kembali bergantung kepadaNya.

Yang Harus Dilakukan Hari Ini: Bacalah kembali satu janji Tuhan yang sedang kamu nantikan, lalu doakan janji itu dengan hati yang berserah kepadaNya.

Refleksi Diri: Ketika mengetahui janji Tuhan, apakah hal itu membuatmu semakin mencari Tuhan atau justru membuatmu hanya menunggu hasilnya?

Kata Bijak: “Janji Tuhan bukan alasan untuk berhenti berdoa; janjiNya justru mengundang kita untuk semakin mencari wajahNya.” — Yohanton Lapan

Doa:
Tuhan Yesus, ajar aku memahami janjiMu dengan benar. Jangan biarkan aku hanya menunggu penggenapan janjiMu, tetapi tuntun aku untuk semakin mencari dan percaya kepadaMu. Bentuklah hatiku agar tetap rendah hati dan bergantung pada belas kasihanMu. Dalam nama Tuhan Yesus aku berdoa. Amin.

GBI Imanuel Surabaya | Pdt. Yohanton LapanB’Sorat HaRo’eh | Rabu, 2 September 2026Tetap Berdoa Ketika Tekanan Datang | D...
01/09/2026

GBI Imanuel Surabaya | Pdt. Yohanton Lapan
B’Sorat HaRo’eh | Rabu, 2 September 2026

Tetap Berdoa Ketika Tekanan Datang | Daniel 6:1-28

Ayat Kunci: Daniel, hamba Allah yang hidup, Tuhanmu yang kausembah dengan tekun, telah sanggupkah Ia melepaskan engkau dari singa-singa itu?—Daniel 6:21

Daniel berada di tengah pemerintahan Media-Persia dan dipercaya menduduki posisi penting karena memiliki roh yang luar biasa. Para pejabat lain kemudian mencari kesalahan dalam pekerjaannya, tetapi tidak menemukan alasan untuk menjatuhkannya. Akhirnya mereka menyerang satu hal yang tidak mungkin dipisahkan dari hidup Daniel: kesetiaannya kepada Tuhan.

Ketika larangan berdoa kepada siapa pun selain raja diberlakukan selama tiga puluh hari, Daniel tidak mengubah kebiasaannya. Ia tetap berdoa tiga kali sehari seperti yang biasa dilakukannya. Daniel tahu bahwa ketaatan itu dapat membawanya ke gua singa, tetapi ia tidak membiarkan ancaman mengubah siapa dirinya di hadapan Tuhan. Daniel akhirnya dimasukkan ke dalam gua singa, tetapi Tuhan menyertainya dan mengatupkan mulut singa-singa itu.

Kisah Daniel menunjukkan bahwa ketekunan dalam mencari Tuhan dibentuk sebelum tekanan datang. Daniel tidak mulai berdoa ketika menghadapi gua singa. Ia sudah memiliki kehidupan doa yang teratur jauh sebelum ancaman itu muncul. Karena itu, ketika tekanan datang, ia tidak perlu mencari-cari kembali dasar imannya.

Sering kali kita ingin memiliki iman yang kuat ketika masalah datang, tetapi kita kurang memperhatikan bagaimana kehidupan kita bersama Tuhan ketika keadaan masih tenang. Padahal, tekanan tidak selalu menciptakan karakter; sering kali tekanan justru memperlihatkan karakter yang sudah dibangun sebelumnya.

Karena itu, jangan membangun kehidupan rohani hanya berdasarkan keadaan. Tetaplah mencari Tuhan ketika belum ada masalah, tetaplah berdoa ketika semuanya berjalan baik, dan tetaplah setia ketika belum ada sesuatu yang mendesak. Ketekunan yang dibangun dalam keseharian akan menolong kita tetap berdiri ketika keadaan berubah.

Studi Kata: תְּדִיר — Tədîr
Dalam Daniel 6:21, kata yang diterjemahkan “tekun” adalah Tədîr, yang berarti terus-menerus, tetap, atau berlangsung secara konsisten. Kata ini menggambarkan sesuatu yang tidak hanya dilakukan sesekali, tetapi terus berlangsung.

Makna Bagi Kita: Daniel dikenal bukan karena satu tindakan heroik, tetapi karena kesetiaannya yang terus-menerus kepada Tuhan. Iman yang kokoh dibangun melalui kesetiaan dalam hal-hal sederhana yang dilakukan berulang kali.

Yang Harus Dilakukan Hari Ini: Tetapkan kembali waktu untuk berdoa dan membaca firman Tuhan, lalu lakukan dengan setia meskipun hari ini tidak sedang menghadapi masalah.

Refleksi Diri: Apakah hubunganmu dengan Tuhan sudah menjadi bagian yang tetap dalam kehidupan sehari-hari, atau baru sungguh-sungguh mencariNya ketika sedang membutuhkan pertolongan?

Kata Bijak: Iman yang bertahan dalam tekanan dibentuk melalui kesetiaan yang dijalani setiap hari—Yohanton Lapan

Doa:
Tuhan Yesus, ajar aku untuk tetap setia mencariMu, bukan hanya ketika menghadapi masalah, tetapi juga dalam keseharian hidupku. Tolong aku membangun kehidupan doa dan firman yang konsisten, sehingga ketika tekanan datang, aku tetap teguh di dalamMu. Dalam nama Tuhan Yesus aku berdoa. Amin.

GBI Imanuel Surabaya | Pdt. Yohanton LapanB’Sorat HaRo’eh | Selasa, 1 September 2026Sudah Tahu, Tetapi Tidak Merendahkan...
31/08/2026

GBI Imanuel Surabaya | Pdt. Yohanton Lapan
B’Sorat HaRo’eh | Selasa, 1 September 2026

Sudah Tahu, Tetapi Tidak Merendahkan Diri | Daniel 5:1-31

Ayat Kunci: “Tetapi tuanku, Belsyazar, anaknya, tidak merendahkan diri, walaupun tuanku mengetahui semuanya ini.” — Daniel 5:22

Dalam Daniel 5, kita menyaksikan malam terakhir kekuasaan Babel. Raja Belsyazar mengadakan pesta besar bersama para pembesarnya. Dalam suasana pesta itu, ia memerintahkan agar perkakas emas dan perak yang dahulu diambil dari Bait Suci di Yerusalem dibawa ke dalam perjamuan. Mereka minum dari perkakas kudus tersebut sambil memuji dewa-dewa mereka. Belsyazar bukan sekadar sedang berpesta; ia sedang memperlakukan sesuatu yang kudus seolah-olah tidak memiliki nilai di hadapan Tuhan.

Tiba-tiba muncul jari tangan manusia yang menulis di dinding istana: “Mene, Mene, Tekel, Upharsin.” Ketakutan segera menguasai Belsyazar. Para orang bijaknya tidak mampu menjelaskan tulisan tersebut. Akhirnya Daniel dipanggil dan menyampaikan maknanya dengan tegas. Mene berarti masa pemerintahan Belsyazar telah dihitung dan diakhiri. Tekel berarti ia telah ditimbang dengan neraca dan didapati terlalu ringan. Peres berarti kerajaannya akan dibagi dan diberikan kepada Media dan Persia.

Namun, di tengah penjelasan Daniel, ada satu kalimat yang justru sangat menonjol. Daniel mengingatkan Belsyazar tentang apa yang telah terjadi kepada Nebukadnezar, pendahulunya. Belsyazar mengetahui semuanya itu. Ia tahu bagaimana Tuhan merendahkan Nebukadnezar karena kesombongannya. Ia memiliki sejarah yang seharusnya menjadi pelajaran. Tetapi pengetahuan itu tidak membuatnya merendahkan diri.

Di sinilah persoalan Belsyazar menjadi sangat dekat dengan kehidupan kita. Ada perbedaan antara mengetahui kebenaran dan membiarkan kebenaran mengubah kehidupan. Seseorang dapat mengetahui siapa Tuhan, memahami firmanNya, bahkan mengetahui bagaimana Tuhan bekerja dalam kehidupan orang lain, tetapi pengetahuan itu belum tentu menghasilkan kerendahan hati.

Belsyazar tidak kekurangan informasi tentang Tuhan. Yang kurang adalah respons hati terhadap apa yang sudah diketahuinya. Ia melihat sejarah, tetapi tidak belajar darinya. Ia mengetahui kuasa Tuhan, tetapi tetap meninggikan dirinya. Ia mengetahui apa yang terjadi kepada Nebukadnezar, tetapi memilih mengulangi kesalahan yang sama.

Karena itu, pertanyaan yang lebih dalam bagi kita bukan hanya, “Seberapa banyak yang sudah saya ketahui tentang Tuhan?” Pertanyaannya adalah, “Apa yang terjadi dalam hidup saya karena saya mengetahui semua itu?” Firman Tuhan seharusnya tidak berhenti sebagai pengetahuan di pikiran. Kebenaran yang kita terima seharusnya membawa kita kepada kerendahan hati, pertobatan, dan perubahan sikap.

Ada kalanya Tuhan sudah berkali-kali berbicara kepada kita melalui firman, nasihat, pengalaman, bahkan melalui kehidupan orang lain. Kita memahami maksudnya, bahkan mungkin mampu menjelaskannya kepada orang lain. Tetapi jika semuanya hanya berhenti sebagai pengetahuan, hati kita dapat menjadi semakin keras tanpa kita sadari. Belsyazar mengingatkan kita bahwa mengetahui kebenaran tanpa merendahkan diri di hadapan kebenaran adalah bahaya rohani yang serius.

Karena itu, jangan hanya bertanya apakah kita sudah mendengar firman Tuhan. Tanyakan juga apakah firman itu sudah membuat kita menjadi pribadi yang lebih rendah hati di hadapanNya. Sebab Tuhan tidak mencari orang yang sekadar mengetahui banyak hal tentang Dia, tetapi orang yang membiarkan pengenalan akan Dia membentuk cara hidupnya.

Studi Kata: Tekel (תְּקֵל)
Kata Tekel dalam Daniel 5:27 adalah kata Aram yang berarti “ditimbang.” Daniel menjelaskan bahwa Belsyazar telah ditimbang dengan neraca dan didapati terlalu ringan. Gambaran ini menunjukkan bahwa kehidupan Belsyazar berada di bawah penilaian Tuhan. Ia memiliki kedudukan sebagai raja, tetapi kedudukan itu tidak membuatnya benar di hadapan Tuhan.

Yang menarik, penilaian tersebut tidak berdiri sendiri. Sebelum menyampaikan vonis Tekel, Daniel terlebih dahulu mengatakan bahwa Belsyazar “mengetahui semuanya itu”, tetapi tidak merendahkan diri (Daniel 5:22). Jadi, masalahnya bukan kekurangan pengetahuan, melainkan kegagalan merespons pengetahuan itu dengan kerendahan hati.

Makna Bagi Kita: Pengetahuan tentang Tuhan seharusnya menghasilkan perubahan dalam sikap hidup. Semakin kita mengenalNya, semakin kita belajar merendahkan diri, menerima teguran, dan hidup dalam ketaatan.

Yang Harus Dilakukan Hari Ini: Ingat kembali satu kebenaran firman yang sudah kamu ketahui tetapi belum sungguh-sungguh kamu lakukan, lalu mulai taati hari ini.

Refleksi Diri: Apakah ada kebenaran yang sudah lama kamu ketahui, tetapi belum kamu izinkan mengubah sikap atau keputusanmu?

Kata Bijak: “Pengetahuan tentang Tuhan tidak akan banyak berarti jika hati kita tidak mau tunduk kepadaNya.” — Yohanton Lapan

Doa:
Tuhan Yesus, ampuni aku jika selama ini aku lebih banyak mengetahui firmanMu daripada melakukannya. Lembutkan hatiku dan ajar aku merendahkan diri di hadapanMu. Biarlah setiap kebenaran yang aku terima tidak berhenti dalam pikiranku, tetapi nyata dalam sikap dan kehidupanku. Dalam nama Tuhan Yesus aku berdoa. Amin.

GBI Imanuel Surabaya | Pdt. Yohanton LapanB’Sorat HaRo’eh | Senin, 31 Agustus 2026Ketika Kesombongan Ditundukkan oleh Ke...
30/08/2026

GBI Imanuel Surabaya | Pdt. Yohanton Lapan
B’Sorat HaRo’eh | Senin, 31 Agustus 2026

Ketika Kesombongan Ditundukkan oleh Kedaulatan Allah | Daniel 4:1-37

Ayat Kunci (Parafrasa): “Maka sekarang aku, Nebukadnezar, memuji, meninggikan dan memuliakan Raja Sorga, yang segala perbuatanNya adalah benar dan jalan-jalanNya adalah adil, dan yang sanggup merendahkan mereka yang berlaku congkak.” — Daniel 4:37

Dalam pasal 4, kita membaca kesaksian pribadi Raja Nebukadnezar tentang bagaimana Allah berhadapan dengan kesombongan manusia. Di tengah kejayaan dan kemakmuran kerajaannya, Nebukadnezar mendapat mimpi tentang sebuah pohon yang sangat tinggi dan subur, yang menjadi tempat berlindung bagi berbagai makhluk. Namun, seorang penjaga kudus dari surga memerintahkan agar pohon itu ditebang dan hanya tunggul serta akarnya yang dibiarkan di dalam tanah. Daniel kemudian menjelaskan bahwa pohon itu menggambarkan Nebukadnezar sendiri, yang telah menjadi besar dan berkuasa. Daniel bahkan menasihatinya untuk meninggalkan dosa dan melakukan keadilan serta menunjukkan belas kasihan kepada orang-orang tertindas.

Namun, peringatan itu tidak segera dihiraukan. Dua belas bulan kemudian, ketika Nebukadnezar berjalan di atas istana kerajaan dan membanggakan Babel sebagai hasil kekuatan dan kemuliaannya sendiri, suara dari surga menyatakan hukuman atas kesombongannya. Ia kehilangan kedudukannya sebagai raja dan hidup seperti binatang di padang, sampai akhirnya ia mengangkat matanya ke langit dan mengakui bahwa Yang Mahatinggi berkuasa atas kerajaan manusia. Ketika akal budinya kembali dan ia memuliakan Allah, kedudukannya sebagai raja pun dipulihkan.

B’Sorat HaRo’eh hari ini mengingatkan kita tentang bahaya kesombongan dan pentingnya mengakui kedaulatan Allah atas seluruh hidup kita. Dalam kehidupan sehari-hari, keberhasilan dapat membuat seseorang perlahan-lahan merasa bahwa semua yang dimilikinya adalah hasil kemampuan, kerja keras, strategi, dan kekuatannya sendiri. Tanpa disadari, kita dapat menikmati pemberian Tuhan tetapi mulai melupakan Sang Pemberi.

Kesombongan tidak selalu terlihat dalam perkataan yang kasar atau sikap yang merendahkan orang lain. Kesombongan juga dapat muncul ketika hati mulai mengambil kemuliaan yang seharusnya diberikan kepada Tuhan. Nebukadnezar melihat kerajaannya dan berkata, pada intinya, bahwa semua itu adalah hasil kekuatan dan kemuliaannya. Di situlah masalahnya: ia bukan sekadar menikmati keberhasilan, tetapi mengambil kemuliaan bagi dirinya sendiri.

Karena itu, keberhasilan seharusnya tidak membuat kita semakin jauh dari Tuhan, tetapi semakin rendah hati di hadapanNya. Firman Tuhan berkata, “Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan” (Amsal 16:18). Namun, kisah Nebukadnezar juga menunjukkan bahwa Allah bukan hanya sanggup merendahkan orang yang congkak, tetapi juga memulihkan orang yang mau merendahkan diri dan mengakui kedaulatanNya. Yakobus 4:6 berkata, “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.”

Jangan menunggu sampai Tuhan harus merendahkan kita melalui sebuah kejatuhan. Belajarlah merendahkan hati setiap hari. Ketika berhasil, bersyukurlah. Ketika dipercaya, tetap rendah hati. Ketika memiliki kemampuan, ingatlah bahwa kemampuan itu juga berasal dari Tuhan. Sebab semakin tinggi Tuhan mengangkat kita, semakin dalam p**a seharusnya kita menyadari bahwa semua kemuliaan adalah milikNya.

Studi Kata: Shephar (שְׁפַל)
Kata “merendahkan” dalam Daniel 4:37 berasal dari bahasa Aram shephar, yang berkaitan dengan makna merendahkan, merendahkan kedudukan, atau membawa seseorang dari tempat tinggi ke keadaan yang rendah. Kata ini menekankan tindakan Allah yang menundukkan orang yang meninggikan dirinya.

Makna Bagi Kita: Allah tidak berkenan ketika manusia mengambil kemuliaan yang menjadi milikNya. Karena itu, kerendahan hati bukan sekadar sikap sopan, tetapi pengakuan bahwa hidup, kemampuan, keberhasilan, dan segala yang kita miliki berasal dari Tuhan.

Yang Harus Dilakukan Hari Ini
Ucapkan syukur kepada Tuhan atas satu keberhasilan atau berkat yang kamu terima, lalu akui dengan sadar bahwa semuanya berasal dari kemurahanNya.

Refleksi Diri
Apakah ada keberhasilan dalam pekerjaan, keluarga, atau pelayanan yang akhir-akhir ini membuatmu lebih mengandalkan kemampuan sendiri daripada Tuhan?

Kata Bijak
“Semakin tinggi Tuhan mengangkat kita, semakin rendah hati kita seharusnya di hadapanNya.” — Yohanton Lapan

Doa
Tuhan Yesus, ampuni aku jika keberhasilan membuatku lupa bahwa semuanya berasal dariMu. Jauhkan aku dari kesombongan dan ajar aku untuk selalu rendah hati. Biarlah seluruh kemampuan, keberhasilan, dan hidupku menjadi kesaksian bagi kemuliaan namaMu. Dalam nama Tuhan Yesus aku berdoa. Amin.

GBI Imanuel Surabaya | Pdt. Yohanton LapanB’Sorat HaRo’eh | Minggu, 30 Agustus 2026Iman Tanpa Syarat | Daniel 3:1-30Ayat...
29/08/2026

GBI Imanuel Surabaya | Pdt. Yohanton Lapan
B’Sorat HaRo’eh | Minggu, 30 Agustus 2026

Iman Tanpa Syarat | Daniel 3:1-30

Ayat Kunci (Parafrasa)
“Jika Tuhan kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyalaNyala itu. Tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan.” — Daniel 3:17-18

Dalam Daniel 3, kita menyaksikan ujian iman yang sangat berat ketika Raja Nebukadnezar mendirikan patung emas di dataran Dura dan memerintahkan semua orang untuk menyembahnya ketika musik dibunyikan. Siapa pun yang menolak akan dicampakkan ke dalam perapian yang menyalaNyala. Bagi Sadrakh, Mesakh, dan Abednego, perintah tersebut bukan sekadar persoalan politik, tetapi menyentuh langsung kesetiaan mereka kepada Tuhan. Mereka harus memilih antara menyelamatkan diri dengan menyembah patung atau tetap setia kepada Tuhan dengan segala risikonya.

Ketika mereka dituduh dan diperhadapkan kepada Nebukadnezar, mereka tidak menyangkal kuasa Tuhan. Mereka justru berkata bahwa Tuhan sanggup melepaskan mereka dari perapian. Namun, yang lebih penting adalah kalimat berikutnya: “Tetapi seandainya tidak...” Mereka tidak menjadikan keselamatan sebagai syarat untuk tetap menyembah Tuhan. Mereka percaya kepada kuasa Tuhan, tetapi iman mereka tidak bergantung pada hasil yang mereka inginkan. Ketika akhirnya mereka dilemparkan ke dalam api, Tuhan menyertai mereka. Api tidak membakar tubuh mereka; bahkan tali yang mengikat mereka pun terbakar. Melalui peristiwa itu, kuasa Tuhan dinyatakan dan ketiga pemuda tersebut tetap hidup dalam kesetiaan kepadaNya.

B’Sorat HaRo’eh hari ini mengingatkan kita bahwa iman sejati tidak menjadikan jawaban doa sebagai syarat untuk tetap setia kepada Tuhan. Dalam kehidupan sehari-hari, kita mudah memiliki iman yang bersifat transaksional: kita bersedia percaya selama Tuhan menyembuhkan, memberkati, membuka jalan, menyelesaikan masalah, atau memberikan hasil sesuai dengan doa kita. Ketika jawaban Tuhan tidak segera datang, iman kita mulai goyah.

Sadrakh, Mesakh, dan Abednego menunjukkan sesuatu yang berbeda. Mereka percaya bahwa Tuhan sanggup, tetapi mereka juga tetap berkata, “seandainya tidak.” Artinya, iman mereka tidak dibangun di atas apa yang Tuhan lakukan bagi mereka, melainkan di atas siapa Tuhan itu. Mereka tidak menyembah Tuhan hanya karena Dia mampu menyelamatkan mereka; mereka menyembah karena Dia adalah Tuhan yang layak disembah.

Hal yang sama kita lihat dalam kehidupan Ayub. Di tengah penderitaannya, ia tetap berpegang kepada Tuhan sekalipun tidak memahami apa yang sedang Tuhan kerjakan. Dalam Perjanjian Baru, Petrus juga mengingatkan bahwa iman diuji melalui berbagai pencobaan supaya kemurniannya terbukti dan menghasilkan puji-pujian, kemuliaan, dan kehormatan pada waktu Yesus Kristus menyatakan diri (1 Petrus 1:6-7). Karena itu, jangan ukur kesetiaan Tuhan hanya dari keadaan yang sedang kita alami. Ada kalanya Tuhan mengeluarkan kita dari api, tetapi ada kalanya Dia menyertai kita di dalam api. Dalam kedua keadaan itu, Dia tetap Tuhan dan tetap layak dipercaya.

Studi Kata: Hēʾ (הֵן) — “Tetapi Seandainya Tidak”
Frasa “tetapi seandainya tidak” dalam Daniel 3:18 merupakan bagian penting dari pengakuan iman ketiga pemuda tersebut. Mereka mengakui bahwa Tuhan memiliki kuasa untuk menyelamatkan, tetapi mereka tidak menuntut Tuhan harus menyelamatkan mereka dengan cara yang mereka harapkan.

Makna Bagi Kita: Iman yang dewasa tidak berkata, “Tuhan, aku akan tetap percaya jika Engkau melakukan apa yang kuinginkan.” Iman berkata, “Tuhan, aku percaya kepadaMu sekalipun aku belum memahami apa yang sedang Engkau kerjakan.” Kesetiaan kepada Tuhan tidak boleh bergantung pada hasil yang kita harapkan.

Yang Harus Dilakukan Hari Ini
Tetaplah bersyukur, berdoa, dan setia kepada Tuhan dalam satu pergumulan yang belum mendapatkan jawaban sesuai harapanmu.

Refleksi Diri
Apakah aku tetap mau percaya dan setia kepada Tuhan ketika jawabanNya berbeda dari yang kuharapkan?

Kata Bijak
“Iman sejati tidak menjadikan jawaban doa sebagai syarat untuk tetap setia kepada Tuhan.” — Yohanton Lapan

Doa
Tuhan Yesus, ampuni aku jika selama ini imanku masih bergantung pada jawaban yang kuharapkan. Ajarlah aku memiliki iman seperti Sadrakh, Mesakh, dan Abednego: percaya bahwa Engkau sanggup menolong, tetapi tetap setia sekalipun jawabannya berbeda. Dalam setiap keadaan, biarlah hatiku tetap menyembah dan mempercayaiMu. Dalam nama Tuhan Yesus aku berdoa. Amin.

GBI Imanuel Surabaya | Pdt. Yohanton LapanB’Sorat HaRo’eh | Sabtu, 29 Agustus 2026Ketika Dunia Berguncang, Carilah Hikma...
28/08/2026

GBI Imanuel Surabaya | Pdt. Yohanton Lapan
B’Sorat HaRo’eh | Sabtu, 29 Agustus 2026

Ketika Dunia Berguncang, Carilah Hikmat dari Tuhan | Daniel 2:1-49

Ayat Kunci (Parafrasa): “Berkatalah raja kepada Daniel: ‘Sesungguhnya, Allahmu itu Allah yang mengatasi segala allah dan Yang berkuasa atas segala raja, dan Yang menyingkapkan rahasia-rahasia, sebab engkau telah dapat menyingkapkan rahasia itu.’”—Daniel 2:47

Daniel 2 memperlihatkan sebuah krisis besar di istana Babel. Raja Nebukadnezar bermimpi dan menjadi sangat gelisah karena tidak dapat mengingat isi mimpinya. Ia kemudian menuntut para orang berilmu, ahli jampi, dan ahli nujum untuk memberitahukan sekaligus menafsirkan mimpinya. Ketika mereka tidak mampu melakukannya, raja memerintahkan agar mereka dibinasakan. Daniel pun berada dalam ancaman yang sama, tetapi ia tidak merespons dengan kepanikan. Ia meminta waktu kepada raja dan mengajak Hananya, Misael, dan Azarya untuk mencari belas kasihan Tuhan melalui doa.

Tuhan kemudian menyingkapkan rahasia itu kepada Daniel dalam suatu penglihatan malam. Daniel segera memuji Tuhan karena menyadari bahwa hikmat dan kuasa berasal dariNya. Ketika menghadap Nebukadnezar, Daniel tidak mengambil kemuliaan bagi dirinya sendiri, tetapi dengan tegas mengatakan bahwa tidak ada manusia yang sanggup menyingkapkan rahasia tersebut; Tuhan di surgalah yang menyatakannya. Mimpi itu menggambarkan patung besar dengan berbagai jenis logam yang melambangkan kerajaan-kerajaan dunia yang silih berganti. Namun, pada akhirnya sebuah batu yang bukan berasal dari tangan manusia meremukkan patung tersebut dan menjadi gunung yang memenuhi seluruh bumi. Pesannya jelas: kerajaan manusia memiliki kemegahan dan kekuasaan, tetapi semuanya berada di bawah kedaulatan Tuhan.

Pesan friman Tuhan hari ini adalah tentang tempat kita mencari hikmat ketika kehidupan berada dalam tekanan. Kita pun dapat menghadapi situasi yang tidak mampu kita pecahkan dengan kemampuan sendiri—masalah keluarga, pekerjaan, pelayanan, keuangan, maupun keputusan penting yang menyangkut masa depan. Dalam keadaan seperti itu, kita mudah panik atau terlalu cepat mengandalkan pengalaman, koneksi, kemampuan, dan perhitungan manusia. Daniel menunjukkan bahwa ketika kemampuan manusia mencapai batasnya, kita tidak perlu kehilangan arah. Kita dapat datang kepada Tuhan dan meminta hikmatNya.

Namun, Daniel tidak hanya berdoa sendirian. Ia mengajak ketiga sahabatnya untuk bersama-sama mencari belas kasihan Tuhan. Ini menunjukkan pentingnya komunitas iman ketika kita menghadapi pergumulan. Ada saatnya kita membutuhkan orang-orang yang dapat berdiri bersama kita dalam doa, bukan sekadar memberikan pendapat. Tuhan memang memberikan manusia kemampuan untuk berpikir dan mengambil keputusan, tetapi kemampuan itu harus ditempatkan di bawah ketergantungan kepadaNya.

Patung dalam mimpi Nebukadnezar juga mengingatkan bahwa apa yang terlihat kuat di dunia ini tidaklah kekal. Kerajaan berganti, kekuasaan berubah, dan apa yang tampak kokoh dapat runtuh. Karena itu, jangan menjadikan keadaan dunia sebagai dasar utama bagi rasa aman kita. Ketika keadaan berubah dan masa depan tampak tidak pasti, tetaplah menaruh kepercayaan kepada Tuhan yang berdaulat atas sejarah. Kita tidak selalu mengetahui apa yang akan terjadi, tetapi kita mengenal Dia yang memegang apa yang akan terjadi.

Studi Kata: Gâlâh (גְּלָה)
Kata Aram yang digunakan untuk “menyingkapkan” dalam Daniel 2 berkaitan dengan akar Gâlâh, yang berarti membuka, menyingkapkan, atau membuat sesuatu yang sebelumnya tersembunyi menjadi diketahui. Dalam konteks Daniel 2, Tuhan menyatakan sesuatu yang tidak mampu diketahui melalui kemampuan manusia semata.

Makna Bagi Kita: Tidak semua hal dalam hidup harus kita ketahui sekarang. Namun, kita dapat mempercayai Tuhan yang mengetahui apa yang tidak kita ketahui. Karena itu, ketika menghadapi sesuatu yang belum jelas, jangan biarkan ketidakpastian menguasai hati. Mintalah hikmat Tuhan, gunakan pertimbangan yang sehat, dan tetap berjalan dalam ketaatan kepada firmanNya.

Yang Harus Dilakukan Hari Ini: Ambillah waktu untuk berdoa secara khusus mengenai satu persoalan yang sedang membingungkanmu, dan jika diperlukan, ajaklah orang percaya yang dewasa rohani untuk berdoa bersama.

Refleksi Diri: Ketika menghadapi masalah yang tidak dapat kamu kendalikan, apakah kamu lebih dahulu panik dan mengandalkan kemampuan sendiri, atau datang kepada Tuhan untuk mencari hikmatNya?

Kata Bijak: “Kita tidak harus mengetahui seluruh jalan di depan kita; kita hanya perlu percaya kepada Tuhan yang mengetahui seluruh jalan itu.” — Yohanton Lapan

Doa:
Tuhan Yesus, ketika hidupku berada dalam tekanan dan aku tidak mengetahui jalan keluarnya, ajar aku untuk tidak dikuasai ketakutan. Berikanlah hikmat untuk mengambil keputusan yang benar dan hati yang tetap percaya kepadaMu. Tolong aku menggunakan kemampuan yang Engkau berikan tanpa menjadikannya sebagai pengganti ketergantunganku kepadaMu. Dalam setiap ketidakpastian, biarlah aku tetap mengingat bahwa Engkau berdaulat atas hidupku. Dalam nama Tuhan Yesus aku berdoa. Amin.

GBI Imanuel Surabaya | Pdt. Yohanton LapanB’Sorat HaRo’eh | Jumat, 28 Agustus 2026Berani Berbeda di Tengah Tekanan | Dan...
27/08/2026

GBI Imanuel Surabaya | Pdt. Yohanton Lapan
B’Sorat HaRo’eh | Jumat, 28 Agustus 2026

Berani Berbeda di Tengah Tekanan | Daniel 1:1–21

Ayat Kunci (Parafrasa): Maka Allah mengaruniakan kepada Daniel kasih dan sayang dari pemimpin pegawai istana itu—Daniel 1:9

Daniel, Hananya, Misael, dan Azarya adalah pemuda-pemuda Yehuda yang dibawa ke Babel pada masa pemerintahan Yoyakim. Di sana mereka menghadapi proses asimilasi yang dirancang untuk membentuk identitas baru bagi mereka: mereka diajar bahasa dan tulisan orang Kasdim, diberi nama baru, serta mendapatkan makanan dan minuman dari santapan raja. Babel tidak hanya ingin menguasai mereka secara politik, tetapi juga berusaha membentuk cara berpikir dan identitas mereka.

Di tengah tekanan tersebut, Daniel mengambil keputusan penting: ia berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan anggur yang diminumnya. Daniel tidak memberontak atau bertindak kasar. Ia menyampaikan permintaannya dengan hikmat kepada pemimpin pegawai istana dan meminta agar mereka diuji selama sepuluh hari dengan makanan sederhana dan air. Allah kemudian memberi mereka kesehatan, pengetahuan, dan kepandaian, dan ketika mereka diuji oleh raja, mereka didapati sepuluh kali lebih cerdas daripada para ahli dan ahli jampi di seluruh kerajaan.

B’Sorat HaRo’eh hari ini mengingatkan kita bahwa integritas sering kali diuji justru ketika kompromi terlihat lebih mudah dan menguntungkan. Dunia tidak selalu meminta kita meninggalkan iman secara terang-terangan. Sering kali tekanan datang melalui kesempatan yang tampaknya baik, tetapi mengharuskan kita mengorbankan kejujuran, kekudusan, atau prinsip firman Tuhan. Dalam pekerjaan, bisnis, pendidikan, pergaulan, bahkan pelayanan, kita dapat diperhadapkan pada pilihan antara mempertahankan prinsip atau mengambil jalan yang lebih mudah.

Daniel menunjukkan bahwa integritas dimulai dari keputusan hati sebelum tekanan datang. Ia sudah menetapkan sikapnya sebelum harus berhadapan dengan konsekuensi. Namun, Daniel juga tidak menggunakan integritas sebagai alasan untuk menjadi kasar atau tidak bijaksana. Ia tetap menghormati orang yang berwenang dan mencari jalan yang benar untuk menjalankan keyakinannya. Inilah integritas yang sehat: teguh dalam prinsip, tetapi tetap bijaksana dalam sikap.

Kita juga perlu berhati-hati agar tidak menjadikan kisah Daniel sebagai rumus bahwa setiap orang yang taat pasti mendapatkan keberhasilan, promosi, atau kehidupan yang lebih mudah. Daniel memang mengalami perkenanan Tuhan dan memperoleh kemampuan yang luar biasa, tetapi inti kisah ini bukanlah keuntungan yang diterima Daniel. Intinya adalah bahwa di tengah Babel, Daniel tetap menjadi milik Tuhan. Karena itu, ketika kita memilih untuk hidup benar, tujuan utama kita bukan supaya Tuhan membuat kita lebih sukses daripada orang lain, melainkan supaya hidup kita tetap setia kepadaNya dalam keadaan apa pun.

Studi Kata: Ḥēn (חֵן)
Kata Ḥēn berarti perkenanan, kemurahan, atau penerimaan. Dalam Daniel 1:9, Allah membuat Daniel mendapat perkenanan dan kasih sayang di hadapan pemimpin pegawai istana.

Makna Bagi Kita: Perkenanan Tuhan dapat bekerja melalui orang-orang di sekitar kita, tetapi perkenanan itu bukan alasan untuk berkompromi. Tetaplah hidup benar dan bijaksana, sambil percaya bahwa Tuhan sanggup membuka jalan sesuai kehendakNya.

Yang Harus Dilakukan Hari Ini
Tetapkan satu prinsip firman Tuhan yang tidak akan kamu kompromikan, lalu jalankan dengan sikap yang bijaksana.

Refleksi Diri
Apakah ada tekanan untuk berkompromi dengan kebenaran yang sedang kamu hadapi saat ini?

Kata Bijak
“Integritas berarti tetap benar ketika kompromi terlihat lebih mudah.”—Yohanton Lapan

Doa
Tuhan Yesus, berikan aku hati seperti Daniel yang teguh memegang kebenaran tanpa kehilangan hikmat dan kasih. Tolong aku menolak setiap kompromi dan tetap hidup benar di mana pun Engkau menempatkanku. Berikan aku keberanian, hikmat, dan perkenananMu untuk menjalani setiap tanggung jawab dengan setia. Dalam nama Tuhan Yesus aku berdoa. Amin.

Address

Jimerto 2A
Surabaya
60272

Opening Hours

09:15 - 11:00

Telephone

+62315345707

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when GBI Imanuel Surabaya posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share