GBI Imanuel Surabaya

GBI Imanuel Surabaya Gereja Baptis Imanuel Indonesia Surabaya
WORSHIP TIME : 08.00 WIB
News and updates on the church activity Worship Services : Sunday 9.15am

GBI Imanuel Surabaya | Pdt. Yohanton LapanB’Sorat HaRo’eh | Rabu, 5 Agustus 2026Berani Menyuarakan Kebenaran di Tengah A...
04/08/2026

GBI Imanuel Surabaya | Pdt. Yohanton Lapan
B’Sorat HaRo’eh | Rabu, 5 Agustus 2026

Berani Menyuarakan Kebenaran di Tengah Ancaman | Yeremia 26:1-24

Ayat Kunci (Parafrasa): Berdirilah di pelataran rumah TUHAN dan katakanlah kepada segala kota Yehuda segala firman yang Kuperintahkan kepadamu. Janganlah kaukurangi sepatah kata pun. Tetapi para imam, para nabi, dan seluruh rakyat menangkap dia serta berkata: “Engkau harus mati!” (Yeremia 26:2, 8)

Dalam Yeremia 26, kita melihat nabi Yeremia berada di bawah tekanan dan ancaman yang nyata akibat ketaatannya menyuarakan kebenaran. Pada awal pemerintahan Raja Yoyakim, TUHAN memerintahkan Yeremia untuk berdiri di pelataran Bait Suci dan menyampaikan pesan pertobatan yang sangat tegas. Tuhan memperingatkan bahwa jika bangsa itu tidak mau mendengarkan firmanNya, maka Bait Suci yang mereka bangga-banggakan akan dijadikan seperti Silo—hancur dan telantar—dan kota Yerusalem akan menjadi kutuk bagi segala bangsa.

Mendengar nubuat yang menusuk hati itu, respons para imam, para nabi, dan seluruh rakyat sangat keras dan penuh kemarahan. Mereka menangkap Yeremia dan menuntut hukuman mati baginya. Di hadapan para pemuka Yehuda yang berkumpul untuk menyidangnya, Yeremia tidak menjadi gentar atau menarik kembali ucapannya. Dengan keberanian iman yang luar biasa, ia menegaskan bahwa TUHAN-lah yang mengutusnya. Ia menyerahkan hidupnya ke tangan mereka, sambil memperingatkan bahwa jika mereka membunuhnya, mereka akan menanggung darah orang yang tidak bersalah. Melalui pembelaan Ahikam bin Safan serta ingatan para tua-tua akan nubuat Nabi Mikha di masa lampau, Tuhan meluputkan Yeremia dari hukuman mati.

Kisah Yeremia ini memberikan teladan tentang integritas dan keberanian iman dalam menghadapi tekanan kehidupan. Kita hidup di zaman ketika menyuarakan dan mempertahankan kebenaran sering kali mendatangkan risiko sosial yang besar. Di tempat kerja, kita mungkin menghadapi tekanan untuk ikut dalam praktik yang tidak benar. Di lingkungan sosial, kita mungkin mengalami penolakan karena memilih hidup kudus dan tidak berkompromi dengan dosa.

Ketika kebenaran yang kita pegang mulai mendatangkan “ancaman” berupa penolakan, kritikan tajam, atau kerugian materi, jangan mundur dan jangan mengurangi tuntutan firman Tuhan hanya demi mencari aman atau menyenangkan manusia.

Dunia mungkin dapat mengintimidasi kenyamanan lahiriah kita, tetapi ingatlah bahwa Tuhan yang mengutus kita adalah Tuhan yang memegang kendali penuh atas hidup kita. Tuhan tetap menyertai dan memegang orang-orang yang setia kepadaNya, baik melalui pertolongan yang nyata maupun melalui kekuatan untuk bertahan dalam setiap keadaan. Beranilah menyuarakan kebenaran dan hidup dalam integritas, sebab perkenanan Tuhan jauh lebih berharga daripada penerimaan manusia.

Studi Kata: Gâra’ (גָּרַע)
Kata “kurangi” dalam kalimat “Janganlah kaukurangi sepatah kata pun” pada ayat 2 berasal dari kata Ibrani Gâra’ (גָּרַע). Kata ini berarti mengurangi, mengambil sebagian, menghilangkan, atau membuat sesuatu menjadi tidak lengkap.

Makna Bagi Kita:
Istilah Gâra’ mengingatkan kita bahwa firman Tuhan tidak boleh dipotong atau disesuaikan hanya agar lebih mudah diterima manusia. Yeremia dipanggil untuk menyampaikan seluruh pesan Tuhan, termasuk bagian yang menegur dan memanggil bangsa itu kepada pertobatan. Demikian juga kita dipanggil untuk menerima dan menaati firman Tuhan secara utuh, bukan hanya memilih bagian yang sesuai dengan keinginan kita.

Yang Harus Dilakukan Hari Ini:
Tetaplah berdiri teguh pada integritas dan kebenaran firman Tuhan dalam tugas atau pekerjaanmu hari ini, tanpa rasa takut terhadap intimidasi atau ketidaksukaan orang lain.

Refleksi Diri:
Apakah belakangan ini kita pernah menyembunyikan atau mengurangi prinsip kebenaran iman hanya karena takut ditolak atau tidak diterima oleh orang-orang di sekitar kita?

Kata Bijak:
Jangan kehilangan perkenanan Tuhan hanya demi mendapatkan penerimaan manusia—Yohanton Lapan

Doa:
Tuhan Yesus, karuniakanlah kepadaku keberanian iman seperti Yeremia. Ampuni aku jika terkadang aku masih takut terhadap penilaian manusia. Hari ini aku berkomitmen untuk hidup dalam kebenaranMu yang utuh, tanpa kompromi. Jadilah pembela dan perisaiku di tengah setiap tantangan hidup yang kuhadapi. Dalam nama Tuhan Yesus. Amin.

GBI Imanuel Surabaya | Pdt. Yohanton LapanB’Sorat HaRo’eh | Selasa, 4 Agustus 2026Saat Kesempatan Pertobatan Terlewatkan...
03/08/2026

GBI Imanuel Surabaya | Pdt. Yohanton Lapan
B’Sorat HaRo’eh | Selasa, 4 Agustus 2026

Saat Kesempatan Pertobatan Terlewatkan | Yeremia 19:1-15

Ayat Kunci (Parafrasa): Lalu haruslah engkau memecahkan buyung itu di depan mata orang-orang yang berjalan bersama-sama engkau, dan katakan kepada mereka: Beginilah firman TUHAN semesta alam: Demikianlah Aku akan memecahkan bangsa ini dan kota ini, seperti orang memecahkan bejana tanah liat yang tidak dapat diperbaiki lagi (Yeremia 19:10-11)

Dalam Yeremia 19, pesan Tuhan kepada bangsa Yehuda bergeser dari sebuah kesempatan untuk dibentuk ulang menjadi sebuah peringatan tentang penghakiman yang tidak dapat dihindari. Jika pada pasal sebelumnya nabi Yeremia melihat tanah liat yang masih lembut di rumah tukang periuk, kali ini TUHAN memerintahkan Yeremia untuk membeli sebuah buyung (botol atau kendi) dari tanah liat. Yeremia disuruh membawa beberapa tua-tua bangsa dan imam-imam terkemuka menuju ke Lembah Ben-Hinom, sebuah tempat yang dipenuhi praktik penyembahan berhala yang keji.

Di hadapan para pemimpin tersebut, Yeremia menyampaikan nubuat tentang malapetaka besar yang akan membuat telinga setiap orang yang mendengarnya berdenging. Puncaknya, Allah memerintahkan Yeremia untuk menghempaskan dan memecahkan buyung tanah liat itu di depan mata mereka hingga hancur berkeping-keping. Tindakan visual ini membawa pesan profetik yang tegas: karena Yehuda terus-menerus mengeraskan hati dan menolak firman Tuhan, Allah akan mendatangkan penghukuman atas bangsa dan kota itu seperti kendi yang pecah dan tidak dapat diperbaiki lagi.

Firman Tuhan hari ini memberikan peringatan serius tentang bahaya hati yang terus-menerus menolak teguranNya. Dalam perjalanan iman kita sehari-hari, Tuhan sering kali menegur kita dengan lembut ketika kita mulai berjalan di jalur yang salah—melalui firman, teguran orang lain, atau suara hati yang diteguhkan oleh Roh Kudus. Saat hati kita masih lembut, Tuhan dengan kasihNya bersedia membentuk kembali hidup kita yang mulai rusak akibat dosa atau keputusan yang keliru.

Namun, ketika kita terus-menerus menolak teguranNya, menyepelekan firmanNya, dan mengeraskan hati terhadap kebenaran, kita sedang berjalan menuju kehancuran yang disebabkan oleh pemberontakan kita sendiri. Kesabaran Tuhan adalah kesempatan untuk bertobat, bukan izin untuk terus hidup dalam ketegaran hati. Ketika akibat dosa akhirnya datang, penyesalan sering kali muncul terlambat dan meninggalkan kehancuran yang mahal bagi rumah tangga, karier, dan masa depan. Hari ini, dengarkanlah suaraNya. Jangan tunggu sampai hidupmu hancur oleh pilihan yang salah. Milikilah hati yang cepat bertobat, lembut, dan taat kepada kebenaran firmanNya.

Studi Kata: Baqbuq (בַּקְבֻּק)
Kata “buyung” dalam kalimat “membeli buyung dari tanah liat” menggunakan kata Ibrani Baqbuq (בַּקְבֻּק). Kata ini menunjuk kepada sebuah kendi tanah liat yang telah dibentuk dan dibakar, sehingga menjadi wadah yang keras dan rapuh.

Makna Bagi Kita:
Gambaran Baqbuq menjadi peringatan tentang bahaya hati yang terus menolak teguran Tuhan. Berbeda dengan tanah liat di tangan tukang periuk yang masih dapat dibentuk, hati yang terus mengeraskan diri terhadap firman Tuhan akan kehilangan kesempatan untuk mengalami pembaruan. Karena itu, jagalah hati tetap lembut dan bersedia dikoreksi oleh Tuhan.

Yang Harus Dilakukan Hari Ini:
Ujilah hatimu secara jujur di hadapan Tuhan. Jika ada area hidup atau kebiasaan buruk yang selama ini sering ditegur oleh Roh Kudus namun masih kamu pertahankan, ambillah keputusan untuk bertobat dan melepaskannya hari ini.

Refleksi Diri:
Apakah selama ini kamu memiliki hati yang responsif dan mudah dibentuk oleh firman Tuhan, ataukah kamu sering mengeraskan hati dan mencari pembenaran atas kesalahanmu?

Kata Bijak:
Kesabaran Tuhan adalah kesempatan untuk bertobat, bukan izin untuk terus hidup dalam ketegaran hati—Yohanton Lapan

Doa:
Tuhan Yesus, ampuni aku jika selama ini aku sering mengeraskan hatiku terhadap teguran firmanMu. Hari ini aku mau menundukkan egoku di hadapanMu. Lembutkan setiap kedegilan dan kekakuan hatiku, dan karuniakanlah kepadaku hati yang selalu siap untuk bertobat serta taat kepada jalanMu. Dalam nama Tuhan Yesus. Amin.

GBI Imanuel Surabaya | Pdt. Yohanton LapanB’Sorat HaRo’eh | Senin, 3 Agustus 2026Saat Kebaikan Dibalas Kejahatan | Yerem...
02/08/2026

GBI Imanuel Surabaya | Pdt. Yohanton Lapan
B’Sorat HaRo’eh | Senin, 3 Agustus 2026

Saat Kebaikan Dibalas Kejahatan | Yeremia 18:18-23

Ayat Kunci (Parafrasa): Mereka berkata, “Marilah kita mengadakan persepakatan terhadap Yeremia...” Tetapi Engkau, ya TUHAN, mengetahui segala rancangan mereka untuk membunuh aku. (Yeremia 18:18, 23)

Dalam Yeremia 18:18-23, kita melihat sisi kemanusiaan nabi Yeremia yang berada di titik didih akibat penolakan dan konspirasi yang kejam. Orang-orang yang dilayani Yeremia—bahkan termasuk imam, orang bijaksana, dan para nabi dari bangsanya sendiri—bersekutu untuk menjatuhkannya. Mereka berkata, “Marilah kita memukul dia dengan lidah kita dan jangan memperhatikan setiap perkataannya.” Mereka merancang penghancuran terhadap nama baik dan kehidupan Yeremia secara sengaja.

Mendengar rencana jahat tersebut, Yeremia mengalami luka hati yang sangat dalam dan mengadukan keluhannya kepada TUHAN. Pergumulan Yeremia terasa sangat menyakitkan karena ia merasa bahwa kebaikannya dibalas oleh mereka dengan kejahatan. Ia mengingatkan Tuhan bagaimana ia pernah berdiri di hadapanNya untuk membela mereka dan memohon agar murka Tuhan disurutkan dari bangsa itu. Namun sekarang, mereka justru menggali lubang untuk menangkapnya. Dalam kepedihan yang pekat itu, Yeremia menumpahkan doa ratapan yang keras dan menyerahkan pergumulan serta keadilan kepada TUHAN.

Peristiwa ini berbicara tentang realitas yang sering kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari: luka akibat dikhianati dan ditolak. Di tempat kerja, dalam lingkaran pertemanan, atau bahkan di tengah keluarga, mungkin kita pernah mengalami keadaan ketika kebaikan, kejujuran, dan ketulusan justru dibalas dengan fitnah, gosip (“dipukul dengan lidah”), atau dijatuhkan dari belakang. Ketika kebaikan dibalas dengan kejahatan, respons alami kita adalah menjadi pahit, menyimpan dendam, dan ingin membalas dengan cara yang sama.

Firman Tuhan hari ini mendidik kita melalui pergumulan Yeremia. Ketika kita diserang dan dikhianati, jangan membalas fitnah dengan fitnah atau menggunakan cara-cara dunia untuk membalas dendam. Bawalah seluruh rasa sakit, air mata, dan ketidakadilan yang kita alami langsung ke hadapan TUHAN di dalam doa. Tuhan mengetahui setiap rancangan tersembunyi yang berniat menjatuhkan kita. Serahkan pembelaan dan penghakiman sepenuhnya ke dalam tangan Tuhan, karena Dialah Hakim yang paling adil. Tugas kita adalah menjaga hati agar tidak ikut menjadi kotor dan pahit oleh kejahatan orang lain. Tetaplah melangkah dalam kebenaran, sebab perlindungan Tuhan jauh lebih besar daripada konspirasi manusia.

Studi Kata: Shûchâh (שּׁוּחָה)
Kata “lubang” dalam ungkapan “mereka telah menggali lubang” pada ayat 20 dan 22 menggunakan kata Ibrani Shûchâh (שׁוּחָה). Kata ini menggambarkan sebuah lubang atau perangkap yang sengaja dibuat untuk menangkap dan mencelakakan seseorang. Dalam konteks Yeremia, kata ini menunjukkan adanya rancangan tersembunyi dari orang-orang yang ingin menjatuhkan nabi Tuhan.

Makna Bagi Kita:
Shûchâh mengingatkan kita bahwa terkadang orang benar pun dapat menghadapi rancangan buruk, tuduhan, atau perlakuan tidak adil dari orang lain. Namun Yeremia menunjukkan bahwa kita tidak perlu membalas dengan cara yang sama. Tuhan melihat setiap rancangan yang tersembunyi dan tetap menjadi pembela bagi orang yang berjalan dalam kebenaran. Jagalah hati tetap bersih, sebab jebakan manusia tidak pernah dapat menggagalkan rencana Tuhan.

Yang Harus Dilakukan Hari Ini:
Lepaskan pengampunan bagi orang-orang yang telah mengecewakan atau memfitnah kita. Bawalah rasa sakit itu dalam doa dan serahkan pembelaan hidup kita kepada Tuhan.

Refleksi Diri:
Ketika kita dikhianati atau disalahpahami oleh orang lain, apakah kita lebih fokus untuk membalas, atau memilih menyerahkan diri kepada keadilan Tuhan?

Kata Bijak:
Fitnah manusia tidak mampu menggagalkan rencana Tuhan atas hidup kita—Yohanton Lapan

Doa:
Tuhan Yesus, Engkau mengetahui setiap luka dan kekecewaan di hatiku akibat perlakuan tidak adil orang lain. Hari ini aku menyerahkan semua rasa sakit ini ke hadapanMu. Aku memilih untuk mengampuni dan menaruh seluruh pembelaan hidupku ke dalam tanganMu. Jagalah hatiku agar tetap bersih dan tulus di hadapanMu. Dalam nama Tuhan Yesus. Amin.

GBI Imanuel Surabaya | Pdt. Yohanton LapanB’Sorat HaRo’eh | Minggu, 2 Agustus 2026Tanah Liat di Tangan Tuhan | Yeremia 1...
01/08/2026

GBI Imanuel Surabaya | Pdt. Yohanton Lapan
B’Sorat HaRo’eh | Minggu, 2 Agustus 2026

Tanah Liat di Tangan Tuhan | Yeremia 18:1-17

Ayat Kunci: Masakan Aku tidak dapat bertindak kepada kamu seperti tukang periuk ini, hai kaum Israel!, demikianlah firman TUHAN. Sungguh, seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tangan-Ku, hai kaum Israel! (Yeremia 18:6)

Dalam Yeremia 18:1-17, TUHAN membawa nabi Yeremia ke sebuah tempat pembelajaran yang sangat visual: rumah tukang periuk. Di sana, Yeremia memperhatikan bagaimana tukang periuk sedang bekerja membentuk sebuah bejana di atas pelarikannya. Namun, bejana dari tanah liat yang sedang dikerjakannya itu mendadak rusak di tangannya. Menariknya, tukang periuk itu tidak membuang tanah liat yang rusak tersebut. Ia justru membentuknya kembali menjadi bejana lain, sesuai dengan apa yang dipandang baik olehnya.

Melalui pemandangan ini, Allah menyampaikan pesan tentang kedaulatanNya kepada bangsa Yehuda. Allah menegaskan bahwa Dia memiliki hak mutlak atas hidup mereka seperti tukang periuk atas tanah liat. Jika suatu bangsa yang diancam hukuman mau berbalik dari kejahatannya, Allah membatalkan malapetaka itu. Sebaliknya, jika bangsa yang dijanjikan berkat justru memberontak, Allah akan membatalkan berkatNya. Sayangnya, bangsa Yehuda merespons dengan ketegaran hati; mereka menolak dibentuk kembali dan lebih memilih berjalan mengikuti rencana jahat serta kedegilan hati mereka sendiri, sehingga mereka mendatangkan kehancuran atas diri mereka.

Gambaran rumah tukang periuk ini berbicara sangat kuat mengenai proses pembentukan hidup kita. Banyak di antara kita yang saat ini merasa hidup seperti “bejana yang rusak”—mengalami kegagalan dalam bisnis, keretakan rumah tangga, kehancuran karier, atau kesalahan masa lalu yang membuat kita merasa tidak berguna lagi. Kita sering kali putus asa dan menganggap masa depan sudah berakhir.

Firman Tuhan hari ini membawa kabar pengharapan yang besar: kita tidak dibuang. Selama hidup kita tetap berada di dalam tangan Tuhan, kegagalan dan kerusakan bukanlah akhir dari segalanya. Tuhan sanggup membentuk kembali sisa-sisa hidup yang hancur menjadi bejana sesuai dengan kehendakNya. Kuncinya adalah kelembutan hati. Jangan seperti bangsa Yehuda yang tegar tengkuk dan melawan saat diproses. Milikilah hati yang lembut seperti tanah liat; izinkan Tuhan mengikis ego, membentuk karakter, dan mengarahkan jalanmu melalui setiap peristiwa hidup, karena rancanganNya atasmu selalu berakhir dengan kebaikan.

Studi Kata: Chômer (חֹמֶר)
Kata “tanah liat” dalam ungkapan “seperti tanah liat di tangan tukang periuk” (Yeremia 18:6) menggunakan kata Ibrani Chômer (חֹמֶר) (Strong’s H2563). Kata ini merujuk kepada tanah liat atau lumpur yang menjadi bahan dasar seorang tukang periuk untuk membentuk sebuah bejana (clay, mire).

Makna Bagi Kita:
Istilah Chômer menggambarkan sikap hati yang Tuhan kehendaki dari umatNya. Seperti tanah liat yang berada di tangan tukang periuk, kita dipanggil memiliki hati yang lembut, mau diarahkan, dan bersedia menerima pembentukan Tuhan melalui firman serta proses kehidupan. Masalah Yehuda bukan karena tangan Sang Penjunan tidak mampu membentuk mereka, tetapi karena mereka menolak untuk dibentuk. Karena itu, Tuhan menghendaki kita tidak mengeraskan hati, melainkan tetap menyerahkan hidup kita ke dalam tanganNya.

Hati yang lembut di hadapan Tuhan memungkinkan Dia memperbaiki, membentuk, dan memakai hidup kita sesuai dengan kehendakNya.

Yang Harus Dilakukan Hari Ini:
Lepaskan segala bentuk kekecewaan, kepahitan, dan pemberontakan hatimu atas situasi sulit yang sedang terjadi. Ambillah sikap berserah penuh dan katakan, “Tuhan, bentuklah hidupku sesuai kehendakMu.”

Refleksi Diri:
Ketika proses hidup terasa menekan dan tidak nyaman, apakah kamu meresponsnya dengan mengeraskan hati dan mengeluh, atau berserah dengan iman di tangan Tuhan?

Kata Bijak:
Tanah liat di tangan manusia hanyalah lumpur, tetapi di tangan Tuhan menjadi bejana kemuliaan—Yohanton Lapan

Doa:
Tuhan Yesus, aku sadar akulah tanah liat itu dan Engkaulah Tukang Periukku. Ampuni aku jika selama ini aku sering mengeraskan hati dan berontak saat prosesMu terasa menyakitkan. Hari ini aku berserah penuh di tanganMu. Bentuk ulang hidupku, pulihkan kegagalanku, dan jadikan aku bejana yang memuliakan namaMu. Dalam nama Tuhan Yesus. Amin.

GBI Imanuel Surabaya | Pdt. Yohanton LapanB’Sorat HaRo’eh | Sabtu, 1 Agustus 2026Melekat kepada Tuhan | Yeremia 13:1-11A...
31/07/2026

GBI Imanuel Surabaya | Pdt. Yohanton Lapan
B’Sorat HaRo’eh | Sabtu, 1 Agustus 2026

Melekat kepada Tuhan | Yeremia 13:1-11

Ayat Kunci (Parafrasa):
TUHAN mengikat Israel dan Yehuda kepadaNya supaya menjadi umatNya, menjadi nama, pujian, dan kemuliaan bagiNya, tetapi mereka tidak mau mendengar—Yeremia 13:11

Dalam Yeremia 13:1-11, TUHAN menyampaikan pesan kepada bangsa Yehuda melalui sebuah peragaan yang sederhana tetapi sangat kuat. Allah memerintahkan Yeremia untuk membeli sebuah ikat pinggang lenan, memakainya tanpa mencucinya, lalu pergi ke sungai Efrat dan menyembunyikannya di celah-celah bukit batu. Setelah beberapa waktu, Tuhan memerintahkan Yeremia mengambil kembali ikat pinggang itu. Ketika ditemukan, ikat pinggang tersebut telah rusak dan tidak berguna lagi.

Melalui gambaran itu, TUHAN menunjukkan kondisi rohani Israel dan Yehuda. Seperti ikat pinggang yang seharusnya melekat erat pada pemakainya, demikianlah Tuhan menghendaki umatNya tetap melekat kepadaNya. Kelekatan itu seharusnya membuat mereka menjadi umat yang membawa nama, pujian, dan kemuliaan bagi Tuhan. Namun, karena mereka memilih mengikuti kekerasan hati dan berjalan menurut keinginan mereka sendiri, hidup mereka kehilangan tujuan yang Tuhan tetapkan.

Pesan ini juga berbicara kepada kita hari ini. Nilai hidup seseorang tidak terutama ditentukan oleh pencapaian, jabatan, atau apa yang dimilikinya, tetapi oleh hubungannya dengan Tuhan. Hidup yang jauh dari Tuhan perlahan kehilangan arah dan kekuatan rohaninya.

Sering kali tanpa disadari, kesibukan, ambisi, kenyamanan, atau berbagai daya tarik dunia dapat membuat hati kita mulai menjauh dari Tuhan. Kita mungkin tetap menjalankan aktivitas keagamaan, tetapi hati tidak lagi sungguh-sungguh melekat kepadaNya.

Karena itu, hari ini Tuhan mengingatkan kita untuk memeriksa kembali kedekatan kita denganNya. Jangan biarkan hati kita menjadi kering dan kehilangan fungsi seperti ikat pinggang yang telah rusak. Kembalilah melekat kepada Tuhan melalui doa, firman, dan ketaatan, sebab hanya di dalam Dia hidup kita menemukan tujuan dan kemuliaan yang sejati.

Studi Kata: Dâbaq (דָּבַק)
Kata “melekat” dalam ungkapan “seperti ikat pinggang melekat pada pinggang seseorang” (Yeremia 13:11) berasal dari kata Ibrani Dâbaq (דָּבַק) (Strong’s H1692). Kata ini berarti melekat erat, berpaut, bergabung dengan kuat, atau berpegang teguh (to cling, cleave, hold fast).

Makna Bagi Kita:
Istilah Dâbaq menunjukkan hubungan yang Tuhan kehendaki dengan umatNya. Seperti ikat pinggang yang melekat pada tubuh pemakainya, demikianlah Tuhan memanggil kita untuk hidup dekat dan bergantung kepadaNya.

Masalah Yehuda bukan karena mereka tidak mengenal Tuhan, tetapi karena mereka tidak lagi melekat kepadaNya. Ketika seseorang mulai menjauh dari Tuhan, hidupnya perlahan kehilangan arah dan fungsi yang Tuhan rancangkan.
Tuhan tidak hanya ingin kita datang kepadaNya ketika membutuhkan pertolongan, tetapi hidup dalam kelekatan yang terus-menerus melalui setiap keputusan, sikap, dan langkah kehidupan.

Yang Harus Dilakukan Hari Ini:
Ambillah waktu khusus hari ini untuk kembali membangun kedekatan dengan Tuhan melalui doa dan firmanNya.

Refleksi Diri:
Apakah kesibukan, ambisi, atau kenyamanan hidup telah membuat hatimu semakin jauh dari Tuhan?

Kata Bijak:
Nilai hidup tidak ditentukan oleh apa yang kita miliki, tetapi oleh kepada siapa kita melekat—Yohanton Lapan

Doa:
Tuhan Yesus, ampuni aku jika kesibukan dan daya tarik dunia sering membuat hatiku menjauh dariMu. Hari ini aku mau kembali melekat erat kepadaMu. Jagalah hidupku agar tetap memiliki hati yang dekat denganMu dan pakailah seluruh hidupku untuk mendatangkan hormat dan kemuliaan bagi namaMu. Dalam nama Tuhan Yesus. Amin.

GBI Imanuel Surabaya | Pdt. Yohanton LapanB’Sorat HaRo’eh | Jumat, 31 Juli 2026TUHAN TIDAK SALAH MEMANGGILMU | Yeremia 1...
30/07/2026

GBI Imanuel Surabaya | Pdt. Yohanton Lapan
B’Sorat HaRo’eh | Jumat, 31 Juli 2026

TUHAN TIDAK SALAH MEMANGGILMU | Yeremia 1:4-19

Ayat Kunci (Parafrasa): Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau... Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapa pun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi... Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau...—Yeremia 1:5, 7–8

Dalam pasal 1:4–19, kita dihadapkan pada kisah pemanggilan Yeremia yang luar biasa di masa mudanya. TUHAN datang kepada Yeremia dengan sebuah pernyataan tentang kedaulatanNya: sebelum Yeremia lahir, Tuhan telah mengenal, menguduskan, dan menetapkannya sebagai nabi bagi bangsa-bangsa. Merasa gentar dengan tanggung jawab yang begitu besar, Yeremia langsung menyampaikan keberatannya. Ia merasa tidak layak karena dua keterbatasan: ia masih terlalu muda dan tidak pandai berbicara.

Namun, Tuhan tidak membiarkan keterbatasan Yeremia menjadi alasan untuk menolak panggilanNya. Tuhan menjawab keberatan Yeremia, menjamah mulutnya, menaruh firmanNya dalam mulutnya, dan memberikan tugas untuk mencabut dan meruntuhkan, serta membangun dan menanam. Meskipun Yeremia diutus kepada bangsa yang akan menentangnya, Tuhan memberikan jaminan perlindungan yang kokoh. Tuhan menjadikan Yeremia seperti kota yang berbenteng, tiang besi, dan tembok tembaga. Bukan berarti Yeremia tidak akan mengalami penderitaan, tetapi perlawanan manusia tidak akan mampu menggagalkan tugas yang Tuhan percayakan kepadanya.

Firman Tuhan hari ini berbicara sangat kuat bagi setiap kita yang sering kali merasa “tidak mampu” ketika Tuhan menggerakkan hati mereka untuk melangkah melakukan kebenaran. Panggilan Tuhan tidak pernah terbatas pada mimbar gereja. Ketika Tuhan menggerakkan Anda untuk memimpin keluargamu kembali kepada Tuhan, menegakkan integritas di tempat kerja yang penuh kecurangan, atau menjadi berkat di lingkungan masyarakat, respons pertama kita sering kali sama dengan Yeremia: menyampaikan keberatan. Kita merasa terlalu muda, kurang berpengalaman, tidak punya modal, atau tidak pandai berbicara.

Firman Tuhan hari ini menegaskan bahwa Tuhan tidak menunggu kita menjadi sempurna dan sepenuhnya mampu sebelum memanggil kita. Ketika Tuhan memanggil, Dia juga menyertai dan memperlengkapi kita untuk menjalankan tugas yang dipercayakanNya. Karena itu, jangan biarkan kesadaran akan keterbatasanmu membuatmu menolak setiap kesempatan untuk melakukan kebaikan dan menaati Tuhan. Berhentilah mengukur masa depan dan tanggung jawabmu hanya dengan kekuatan diri sendiri. Jika Tuhan mempercayakan kepadamu sebuah tanggung jawab, percayalah bahwa Dia juga sanggup menolong dan memperlengkapimu. Jangan takut pada tantangan atau penolakan manusia. Bersama Tuhan, engkau dapat tetap berdiri teguh di tengah perlawanan, karena perlawanan manusia tidak akan menggagalkan tujuan Tuhan atas hidupmu.

Studi Kata: Yātṣar (יָצַר)
Kata “membentuk” dalam kalimat “Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu” pada ayat 5 menggunakan kata Ibrani Yātṣar. Kata ini berkaitan dengan tindakan membentuk atau menciptakan sesuatu dengan maksud tertentu, seperti seorang tukang periuk yang membentuk tanah liat.

Makna Bagi Kita:
Istilah Yāṣar mengingatkan kita bahwa hidup kita berada di bawah pengetahuan dan kedaulatan Tuhan. Kita bukan keberadaan yang tidak dikenal olehNya. Karena itu, keterbatasan kita tidak dapat menjadi ukuran terakhir bagi apa yang dapat Tuhan kerjakan melalui hidup kita. Tuhan yang membentuk kita juga sanggup menolong dan memperlengkapi kita untuk menjalankan kehendakNya.

Yang Harus Dilakukan Hari Ini:
Jangan biarkan kesadaran akan keterbatasanmu membuatmu menolak setiap kesempatan untuk melakukan kebaikan dan menaati Tuhan. Ketika kamu dihadapkan pada tanggung jawab atau kesempatan untuk berbuat baik hari ini, ambillah langkah iman dan percayalah bahwa Tuhan dapat menolong dan memperlengkapimu.

Refleksi Diri:
Apakah selama ini kamu terlalu fokus pada kelemahan dirimu sehingga menolak kesempatan untuk bertumbuh dan melakukan kebaikan yang Tuhan percayakan kepadamu?

Kata Bijak:
Keterbatasan kita bukan alasan untuk berhenti; di tangan Tuhan, keterbatasan dapat menjadi tempat di mana pertolongan dan kuasaNya nyata—Yohanton Lapan.

Doa:
Tuhan Yesus, ampuni aku jika aku sering kali minder, takut, dan menyampaikan keberatan karena melihat keterbatasan diriku. Hari ini aku mau percaya bahwa Engkau mengenal dan membentuk hidupku dengan tujuanMu. Tolong dan perlengkapi aku untuk menjalankan setiap tanggung jawab yang Engkau percayakan. Pimpin setiap langkahku agar aku tetap berdiri teguh menghadapi tantangan dan tetap setia melakukan kehendakMu. Amin.

GBI Imanuel Surabaya | Pdt. Yohanton LapanB’Sorat HaRo’eh | Kamis, 30 Juli 2026BAHAYA DI BALIK KEBERHASILAN | Yesaya 39:...
29/07/2026

GBI Imanuel Surabaya | Pdt. Yohanton Lapan
B’Sorat HaRo’eh | Kamis, 30 Juli 2026

BAHAYA DI BALIK KEBERHASILAN | Yesaya 39:1-8

Ayat Kunci (Parafrasa): Yesaya bertanya: “Apakah yang telah dilihat mereka di dalam istanamu?” Jawab Hizkia: “Semua yang ada di dalam istanaku telah mereka lihat. Tidak ada barang yang tidak kuperlihatkan kepada mereka di dalam perbendaharaanku.”—Yesaya 39:4

Dalam pasal 39, suasana berubah drastis dari babak kesembuhan menjadi sebuah kegagalan rohani akibat kelengahan. Setelah Raja Hizkia disembuhkan oleh TUHAN, utusan dari Merodakh-Baladan, raja Babel, datang membawa surat dan pemberian setelah mendengar bahwa Hizkia sakit dan telah sembuh. Namun, alih-alih mengarahkan perhatian kepada TUHAN yang telah menyembuhkannya, Hizkia justru membuka seluruh kekayaan kerajaannya kepada para utusan tersebut.

Hizkia memperlihatkan perak, emas, rempah-rempah, minyak yang berharga, seluruh perbendaharaannya, dan segala sesuatu yang ada di dalam istana serta seluruh wilayah kekuasaannya. Tidak ada satu pun yang tidak ia tunjukkan kepada mereka. Setelah itu, nabi Yesaya datang membawa teguran dari Tuhan: segala sesuatu yang telah diperlihatkan Hizkia kepada para utusan Babel itu suatu saat akan diangkut ke Babel, dan bahkan keturunannya akan menjadi sida-sida di istana raja Babel.

Firman Tuhan hari ini memberikan peringatan yang serius bagi kita mengenai ujian di masa kelimpahan dan keberhasilan. Sering kali, kita sangat kuat dan intim dengan Tuhan ketika berada di lembah penderitaan, seperti Hizkia ketika menghadapi sakit yang parah. Namun, keberhasilan juga dapat menguji hati kita. Ketika doa-doa kita dijawab—bisnis mulai maju, karier meningkat, anak-anak berhasil, atau pelayanan kita diakui orang—di situlah kita perlu berhati-hati agar tidak mulai mengandalkan keberhasilan dan kemampuan diri sendiri.

Tanpa sadar, kita dapat mulai menggunakan cerita tentang berkat Tuhan untuk mencari kekaguman dan pengakuan bagi diri sendiri, baik melalui ucapan langsung maupun media sosial. Kita lupa bahwa semua yang kita miliki adalah anugerah dari Tuhan, bukan semata-mata hasil kehebatan kita. Karena itu, tetaplah rendah hati ketika berada di puncak keberhasilan. Jadikan setiap keberhasilan sebagai kesempatan untuk mengingat kebaikan Tuhan dan memuliakan namaNya, bukan untuk meninggikan diri sendiri.

Studi Kata: Nâkôth (נָכֹאת)
Kata Nâkôth dalam Yesaya 39:2 adalah harta benda yang merujuk pada rempah-rempah, balsam, atau bahan aromatik yang berharga. Benda-benda tersebut termasuk dalam kekayaan yang diperlihatkan Hizkia kepada para utusan Babel.

Makna Bagi Kita:
Kekayaan, keberhasilan, dan apa pun yang kita miliki dapat menjadi berkat, tetapi semuanya tetap harus ditempatkan di bawah pengakuan bahwa Tuhan adalah sumbernya. Ketika keberhasilan mulai digunakan untuk meninggikan diri dan mencari pujian manusia, berkat dapat berubah menjadi pintu masuk bagi kesombongan dan kelengahan rohani.

Yang Harus Dilakukan Hari Ini:
Periksalah motivasi hatimu hari ini. Ketika kamu membagikan cerita tentang keberhasilan atau berkatmu kepada orang lain, pastikan tujuannya adalah untuk memuliakan Tuhan, bukan untuk mencari kekaguman bagi dirimu sendiri.

Refleksi Diri:
Ketika berada di posisi yang baik dan menikmati keberhasilan, apakah kamu lebih sering menonjolkan kemampuan dan apa yang kamu miliki, ataukah mengingat dan menceritakan kebaikan Tuhan?

Kata Bijak:
Kekurangan menguji apakah kita tetap percaya kepada Tuhan; keberhasilan menguji apakah kita tetap mengingat bahwa kita membutuhkan Tuhan—Yohanton Lapan.

Doa:
Tuhan Yesus, ampuni aku jika di dalam keberhasilan dan berkatMu, hatiku terkadang menjadi sombong dan ingin dipuji manusia. Jagalah hatiku agar tetap rendah hati. Aku sadar bahwa semua yang ada padaku adalah milikMu. Biarlah setiap keberhasilanku mengingatkan aku kepada kebaikanMu, sehingga hidupku hanya meninggikan namaMu dan bukan kehebatanku. Amin.

GBI Imanuel Surabaya | Pdt. Yohanton LapanB’Sorat HaRo’eh | Rabu, 29 Juli 2026KETIKA AIR MATA MENJADI DOAAyat Kunci: Per...
28/07/2026

GBI Imanuel Surabaya | Pdt. Yohanton Lapan
B’Sorat HaRo’eh | Rabu, 29 Juli 2026

KETIKA AIR MATA MENJADI DOA
Ayat Kunci: Pergilah dan katakanlah kepada Hizkia: Beginilah firman TUHAN, Allah Daud, bapa leluhurmu: Telah Kudengar doamu dan telah Kulihat air matamu. Sesungguhnya Aku akan memperpanjang hidupmu lima belas tahun lagi—Yesaya 38:5

Dalam pasal 38, Raja Hizkia harus menghadapi ancaman yang sangat berbeda dari ancaman tentara Asyur: penyakit yang telah membawanya ke ambang kematian. Hizkia jatuh sakit dan sudah hampir mati. Keadaan menjadi semakin kelam ketika nabi Yesaya datang membawa pesan dari TUHAN: “Sampaikanlah pesan terakhir kepada keluargamu, sebab engkau akan mati, tidak akan sembuh lagi.” Secara manusiawi, dan berdasarkan firman yang disampaikan melalui nabi, masa hidup Hizkia tampaknya telah sampai pada akhirnya.

Namun, respons Hizkia sangat luar biasa. Ia tidak menjadi pahit atau mempersalahkan Tuhan. Ia membalikkan wajahnya ke arah dinding, lalu berdoa kepada TUHAN dengan air mata yang bercucuran. Ia mengingatkan Tuhan akan kesetiaan dan ketulusan hatinya dalam berjalan di hadapanNya. Sebelum Yesaya keluar dari pelataran tengah, firman TUHAN datang kembali kepada Yesaya untuk menyampaikan jawaban atas doa Hizkia. Tuhan mendengar doa dan melihat air mata Hizkia. Dia tidak hanya menyembuhkan Hizkia, tetapi juga memerintahkan penggunaan kue ara sebagai bagian dari tindakan penyembuhan tersebut, serta memberikan tanda ajaib berupa mundurnya bayang-bayang pada penunjuk matahari Ahaz sejauh sepuluh tapak.

B’Sorat HaRo’eh hari ini menyingkapkan kuasa dari sebuah doa yang lahir dari kedalaman hati kita. Di dalam perjalanan kehidupan ini, ada kalanya kita menerima kabar yang tampaknya sudah final dan tidak bisa diubah menurut kalkulasi dunia—entah itu perkataan dokter tentang penyakit yang tampaknya mustahil disembuhkan, keputusan bank yang mengarah pada kebangkrutan, atau perkataan orang lain tentang kehancuran masa depan.

Ketika situasi hidupmu membentur jalan buntu, jangan menyerah pada nasib. Berbaliklah kepada Tuhan—seperti Hizkia yang membalikkan wajahnya ke dinding, masuklah ke dalam doa dan bawalah seluruh bebanmu kepadaNya. Air mata yang keluar dari hati yang hancur dan tulus dapat menjadi ungkapan doa yang tidak selalu mampu diucapkan dengan kata-kata. Tuhan kita bukanlah Tuhan yang tidak peduli; Dia adalah Bapa yang penuh belas kasihan. Doa yang disertai air mata penyerahan membawa seluruh ketakutan dan harapan kita ke hadapan Tuhan. Di dalam kedaulatanNya, Tuhan sanggup mengubah keadaan, memperpanjang kesempatan, dan memberikan pemulihan sesuai dengan kehendakNya.

Studi Kata: Dim‘ah (דִּמְעָה)
Kata “air matamu” dalam Yesaya 38:5 berasal dari kata Ibrani דִּמְעָה (dim‘āh), yang berarti air mata atau tangisan. Tuhan berkata kepada Hizkia, “Aku telah melihat air matamu,” menunjukkan bahwa penderitaan dan kesedihan Hizkia tidak tersembunyi dari hadapanNya.

Makna Bagi Kita: Tuhan tidak menuntut kita untuk selalu terlihat kuat di hadapanNya. Kita dapat datang kepadaNya dengan kejujuran, membawa kesedihan, ketakutan, dan beban yang kita alami. Air mata bukanlah tanda bahwa kita tidak memiliki iman; tetapi air mata juga bukan alat untuk memaksa Tuhan mengubah kehendakNya. Kita datang kepada Tuhan dengan jujur dan menyerahkan diri kepada belas kasihan serta kehendakNya.

Yang Harus Dilakukan Hari Ini: Jika ada beban terberat yang selama ini kamu pendam sendiri, bawalah itu ke hadirat Tuhan hari ini; tuangkan seluruh isi hatimu dengan jujur di hadapanNya.

Refleksi Diri: Ketika menghadapi jalan buntu dan kabar buruk dalam hidup, apakah kamu hanya larut dalam kesedihan, ataukah membawa seluruh isi hatimu kepada Tuhan?

Kata Bijak: Tuhan tidak selalu menjawab air mata kita dengan cara yang kita harapkan, tetapi Dia tidak pernah mengabaikan hati yang datang kepadaNya—Yohanton Lapan.

Doa: Tuhan Yesus, Engkau adalah Tuhan yang melihat setiap air mataku dan mendengar setiap seruan hatiku yang terdalam. Hari ini aku membawa setiap jalan buntu dan kabar buruk dalam hidupku ke hadapanMu. Nyatakanlah belas kasihanMu dan tuntunlah aku melewati keadaan ini. Berikanlah kepadaku kekuatan, kesembuhan, dan pemulihan sesuai dengan kehendakMu. Amin.

Address

Jimerto 2A
Surabaya
60272

Opening Hours

09:15 - 11:00

Telephone

+62315345707

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when GBI Imanuel Surabaya posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share