Muslimbiasa

Muslimbiasa Muslimbiasa adalah wadah dan media komunikasi untuk semua muslim dengan ragam latar belakangnya. Bagi kami, representasi setiap muslim adalah harga mati.

20/04/2019

Tidur di ruang publik? Merusak estetika? Melanggar fungsi? Atau mewadahi keterpinggiran?

Perdebatannya tidak usai, tapi selagi berdebat, biarkan mereka tidur. Mereka lelah dan barangkali memang tidak ada tempat tidur yang mudah diakses oleh mereka.

Baskoro Aris Sansoko sebagai pembuat narasi di atas percaya bahwa ruang publik layak menjadi tempat untuk rihat. Baginya, penting tidur diwadahi di ruang publik untuk bisa lebih melihat spektrum keutuhan masyarakat.
FB: https://m.facebook.com/muslimbiasa
IG: https://instagram.com/muslimbiasa

16/04/2019

Halo gaes, Assalamualaikum semuanya.

Muslimbiasa balik lagi nih. Kali ini dengan video-video singkat yang bakal kasih perhatian utama untuk Kota Surabaya.

Muslimbiasa kali ini pengen buat capture Surabaya secara lebih jujur dan organik. Biar kita bisa ngelihat Kota Surabaya lebih apa-adanya.

Dengan segala romansa, tragedi, dan kebingungannya. Muslimbiasa bakal menelusuri penggunaan ruang, ekspresi identitas, dan isu-isu kehidupan manusia urban di ruang publik Kota Surabaya.

Bagi kamu yang bukan warga Surabaya, tak perlu khawatir, karena Muslimbiasa akan berusaha mengulas dengan cara yang kamu dapat refleksikan untuk kotamu.

So yeah, like FB Muslimbiasa dan follow IG untuk eksplorasi selanjutnya. Untuk kelanjutan video di atas, silakan kunjungi IG dan FB Muslimbiasa ya!

IG: https://instagram.com/muslimbiasa

[Setelah Tidak Percaya Generasi]Apakah ada satu hal yang dapat diperoleh dari mempercayai generasi? Apakah kesadaran ber...
13/01/2019

[Setelah Tidak Percaya Generasi]

Apakah ada satu hal yang dapat diperoleh dari mempercayai generasi? Apakah kesadaran berada di dalam satu generasi memiliki fungsi? Salah satu wacana akan fungsi kesadaran generasi tersebut adalah munculnya solidaritas di dalam satu generasi yang sama.

Tentu wacana ini bisa diuji. Cara uji sederhananya, apakah pernah ada gerakan sosial berlandaskan identitas generasi yang secara nyata menghadirkan pengaruh besar dalam kehidupan sosial? Sejauh ini tidak ada.
Gerakan-gerakan yang memberikan pengaruh besar sejauh ini landasannya tidak pernah tentang generasi. Revolusi Bolshevik di Rusia terjadi bukan disatukan di bawah identitas generasi, tapi identitas kelas proletar. Gerakan Klan Saud yang berawal di bagian dalam jazirah Arab disatukan di bawah identitas agama. Gerakan feminisme gelombang pertama tidak diusung karena mereka perempuan generasi tertentu, tetapi karena mereka perempuan yang perlu memperoleh haknya.

Jika dikatakan identitas generasi akan menjadi landasan gerakan masa depan, terutama identitas generasi millenial, sampai sekarang tidak ada indikasi ke arah demikian. Memang banyak wacana-wacana millennial digulirkan namun muaranya tidak berujung pada pembangunan solidaritas dilandaskan pada generasi itu sendiri.

Yang terjadi malah sebaliknya, konsep generasi millennial berusaha diperebutkan oleh identitas-identitas lainnya. Oleh karenanya banyak identitas yang berusaha mendekatkan dirinya dengan konsep millennial. Cara pendekatan itu sendiri memang tidak harus dengan secara terus terang menggunakan nama seperti “muslim millennial” atau “partai millennial”, tapi tetap diwujudkan dari pengolahan visual, pemilihan kata, dan pilihan media untuk berkomunikasi.

Ini semua dilakukan untuk menggaet semakin banyak massa mengambang (tidak solid) untuk bergabung dalam identitasnya. Setelah berhasil mengundang melalui identitas millennial, lalu kemudian diajaklah sesuai dengan identitas mula yang dimiliki.
Seandainya pihak yang menyerukan “muslim millennial” adalah mereka yang ingin mendirikan khilafah islamiyah, tentu tidak mungkin di dalam kelompoknya akan diajari “berjuang untuk bangsa negara” sebagai bagian dari identitas “muslim millennial” versi kelompoknya. Di sisi lain “partai millennial” yang sejatinya berhaluan sekuler dan liberal tidak akan mengajarkan pengikutnya dari generasi millennial untuk “meninggalkan konsep negara dan memilih khilafah”.

Dari sini dapat dilihat bahwa identitas millennial, ketimbang berfungsi untuk membangun solidaritas, sejauh ini hanya menjadi identitas yang membuat manusia mengambang dan diperebutkan oleh identitas lainnya. Perebutan millennial ini tidak serta merta menjadi hal buruk sebetulnya. Namun, sebagaimana pada perebutan pada umumnya, selalu ada pemaknaaan yang mendominasi dalam perebutan tersebut.

Pemaknaan yang mendominasi ini bahkan mendominasi sejak awal dalam penentuan makna millennial itu sendiri. Bahkan pemaknaan pencetus awal istilah millennial ini dikalahkan oleh pemaknaan yang dominan berkembang.

Strauss dan Howe menyatakan bahwa generasi millennial adalah generasi yang kolektif. Kolektif berarti mendahulukan kepentingan komunal dibandingkan kepentingan pribadi yang dikatakan bertolak belakang dengan generasi X. Namun pemaknaan yang berkembang tentang generasi millennial adalah generasi yang individualis.

Pemaknaan millenial yang dominan berasal dari profil demografis orang-orang yang berada dalam suatu lokasi geografis tertentu. Dalam hal ini tentu yang mudah diakses oleh para politisi, pegiat media, sampai bisnis, yaitu profil demografis orang-orang yang dikategorikan muda di kawasan perkotaan.

Tidak hanya dipisahkan konteks geografis, juga dipisahkan oleh konteks kelas. Gambaran generasi millenial tentu tidak diambil dari pemuda tunawisma dan pemuda-pemuda dari kelompok marjinal. Dalam lingkungan yang etnisnya seragam, pemaknaan millennial juga didasarkan pada pengalaman etnis tertentu tersebut tidak melihat dari sisi etnis yang lain.

Bahkan dari sisi ekspresi pun ada pemaknaan dominan mengenai millennial. Pernah dengar wacana bahwa “sudah zaman millennial kok masih saja demonstrasi” ? Wacana ini melekatkan millennial pada perilaku tidak mau melakukan demonstrasi.

Ini membuat pemaknaan dominan mengenai generasi dan melandaskan identitas generasi padanya membuat banyak orang bisa kehilangan relevansi dengan karakteristik yang umum dimiliki oleh etnisnya, agamanya, dan kelasnya.

Dan pada akhirnya menghilangkan kemungkinan membangun solidaritas berdasarkan identitas yang memiliki rekam jejak mampu berikan pengaruh dalam kehidupan sosial. Muaranya menjadi orang dengan posisi mengambang yang akan diperebutkan.

Pada akhirnya, memercayai generasi tidak mengantarkan seseorang ke dalam kehidupan yang lebih baik. Bahkan dapat membawanya lepas dari identitas yang lebih mungkin untuk memberikannya arah gerak yang lebih jelas.

Tidak memercayai generasi atau tidak lagi memercayai generasi bisa jadi langkah awal untuk kembali pada identitas yang lebih dapat memberikan dampak baik.

Membangun solidaritas dengan para pekerja, kelompok marjinal, buruh tani, atau para pebisnis tentu lebih memiliki daya pengaruh yang baik. Membangun solidaritas sesama pemilik gender, etnis, agama, haluan ideologis, atau kebangsaan tertentu setidaknya lebih memiliki rekam jejak yang mampu hadirkan perubahan pada kehidupan masyarakat.

[5 Hal Penting untuk Muslim dari Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat]Bersikap bodo amat. Mungkin, sikap tersebut terden...
12/01/2019

[5 Hal Penting untuk Muslim dari Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat]

Bersikap bodo amat. Mungkin, sikap tersebut terdengar kurang baik. Apalagi di Indonesia yang dari kecil kita sudah terlanjur dijejali untuk bersikap peduli bagi sesama. Bersikap memberi perhatian seringkali, baik dalam pergaulan maupun yang tertuang dalam pelajaran di bangku sekolah, hanya tersedia dalam nama “peduli”. Sayangnya, rasa “peduli” ini tak jarang berubah menjadi sikap yang tak mengenakkan. Mulai dari menanyakan hal yang privat hingga pada tahap tertentu mengintervensi seseorang untuk menentukan pilihan hidupnya.

Kalau boleh dibuat permisalan, kita bisa anggap rasa peduli itu seperti sorot lampu. Sorot lampu terasa bermanfaat apabila dia tidak dipancarkan dari jarak sangat dekat. Sorot lampu juga bermanfaat jika dalam waktu tertentu saja; bukan terus menerus. Seperti sorot lampu, perhatian juga mampu membuat capek dan gerah bagi yang menerimanya secara berlebihan.

Sebuah buku berjudul “The Subtle Art of Not Giving A F*ck” atau terjemahan bahasa Indonesianya, yakni “Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat” ini menyajikan ide-ide untuk bersikap bodo amat yang apik dan, yang paling penting, waras. Apa saja ide ide tersebut? Saya sudah merangkum 5 poin tersebut khusus untuk anda.

[ Jangan mencoba bahagia! ]
Terdengar janggal memang,bagaimana bisa sebuah buku yang berisi tentang tips pengembangan diri malah menyarankan untuk tidak mencoba mengejar kebahagiaan? Alasannya sederhana: penerimaan terhadap pengalaman negatif sebetulnya adalah pengalaman positif.

Manson juga mengutip pernyataan Albert Camus, seorang filsuf eksistensialis, yang berpendapat bahwa kita tak akan bahagia apabila terus berupaya menemukan kebahagiaan dan kita tak akan pernah benar-benar hidup jika terus-menerus mencari arti hidup. Intinya: jangan berusaha! Bagi muslim, tentu kita mesti tahu bahwa kita hanyalah seorang hamba. Dengan demikian kita tidak akan terlalu bersikeras mengejar kebahagiaan d iluar kemampuan kita.

[ Problem = perjalanan mencari bahagia ]

Masalah, seringkali dipandang sebagai sesuatu yang harus dihindari sepenuhnya atau sebisa mungkin tidak hinggap. Namun sejatinya masalah akan selalu datang dalam hidup kita. Hidup kita ibarat rumus yang tidak akan pernah selesai, kecuali kita mati.

Menghilangkan masalah sangat mungkin berarti merusak kehidupan secara langsung, tidak lain karena memang hidup kita terdiri dari masalah-masalah.

[ Anda tidak spesial! ]

Sejak kecil, mungkin agar tidak minder, kita dibesarkan di lingkungan yang menganggap kita sebagai orang yang unik dan spesial. Sekecil apapun perbedaan akan dijadikan alasan untuk membesarkan diri kita agar tidak minder.

Seiring kita menua, akhirnya kita sadar bahwa tidak istimewa seperti yang dibayangkan. Kita hanyalah 1 dari sekian banyak orang yang serupa. Hal itulah yang kemudian menjadi duri dalam diri kita dan tentu untuk menanganinya adalah menyadari bahwa kita tidak istimewa; sedini mungkin.

Sebagai muslim, sikap egaliter dan rendah hati adalah yang bisa dipetik dari poin ini.

[ Apa tujuan dari penderitaanmu? ]

Tidak sedikit orang yang membetah-betahkan diri dalam menderita, padahal sebetulnya ya tidak ada manfaatnya atau malah besar ruginya. Misalnya, terjebak dalam lingkungan kerja yang toxic, terjebak dalam romansa yang menggersangkan jiwa, atau bahkan pergulatan batin dalam diri sendiri yang dipendam terlalu lama dan mengganggu cara berpikir.

Dalam poin sebelumnya disebutkan bahwa kita tak sebaiknya menghindari masalah namun sejatinya kita mesti selektif dalam memilih masalah. Hal ini tentu untuk menghindarkan diri memubazirkan sumber daya kita: waktu, perhatian, tenaga, hingga uang.

[ Ambil pilihan dan tanggung jawab terhadap pilihan! ]

Hidup kita singkat dan sumber daya terbatas. Kita dituntut untuk mengambil banyak keputusan penting yang diharapkan mampu mengubah hidup kita ekstrim menjadi lebih baik, misalnya menjadi kaya dalam waktu cepat atau mendapat bentuk tubuh ideal dalam tempo sesingkat-singkatnya. Akhirnya tuntutan mengambil pilihan tersebut menjadi pemicu berbagai kekecewaan yang akhirnya muncul di lain waktu.

Tuntutan mengambil pilihan itu seringkali tidak mudah. Kita seringkali selalu siap disergap kecemasan bahkan untuk mengambil hal yang memang udah seharusnya kita bisa pertanggungjawabkan, misalnya urusan jodoh atau yang lebih remeh seperti makanan.

Jauh dalam bilik dan relung hati setiap manusia, kita sangat takut dituntut bertanggung jawab atas pilihan kita dan kita sangat membenci untuk dijadikan pihak yang dipersalahkan atas tanggung jawab kita.

Maka, langkah awal dalam mengambil pilihan adalah kita mesti memilah apa saja yang bisa dan tidak bisa kita pertanggungjawabkan. Kemudian, kita mesti sadar p**a bahwa terkadang kita bertanggung jawab terhadap bukan salah kita. Menyadari hal tersebut adalah bagian memelihara kewarasan kita dalam mengambil keputusan dan pilihan.

5 poin tersebut hanyalah secuplik poin dari buku Mark Manson. Penulis menyarankan anda untuk membaca atau malah membeli buku ini untuk dijadikan referensi. Selamat membaca dan memelihara kewarasan!

Wakaf (selain) Kuburan Oleh Noven Lukito Mahasiswa Ilmu Ekonomi Syariah Universitas Airlangga  Dalam beberapa “sinetron ...
08/12/2018

Wakaf (selain) Kuburan

Oleh Noven Lukito
Mahasiswa Ilmu Ekonomi Syariah Universitas Airlangga

Dalam beberapa “sinetron azab” di TV, wakaf seringkali berupa kuburan atau masjid. Kemudian ahli waris yang mungkin kebetulan juga pengelola wakaf, mengalami kesulitan ekonomi dan mengambil alih obyek wakaf dengan paksa. Lalu ahli warisnya kena azab. Wakaf digambarkan sebagai beban dan dituturkan dengan amat suram.

Padahal wakaf tidak melulu tentang kuburan atau masjid. Pada zaman Rasulullah, Umar ibn Khattab memperoleh sebidang tanah di Khaibar, kemudian ia menghadap kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk memohon petunjuk. Umar berkata: “Ya Rasulullah, saya mendapatkan sebidang tanah di Khaibar, saya belum pernah mendapatkan harta sebaik itu, maka apakah yang engkau perintahkan kepadaku?” Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Bila kamu s**a, kamu tahan pokoknya tanah itu dan kamu sedekahkan hasilnya.”

Kemudian Umar menyedekahkan tanahnya dan mewasiatkan bahwa tanah tersebut tidak boleh dijual, tidak boleh dihibahkan, dan tidak boleh diwarisi. Umar menyalurkan hasil tanah tersebut kepada orang-orang fakir, kaum kerabat, hamba sahaya, ibnu sabil, dan tamu (HR. al-Nasa’i). [1]

Kemudian contoh lainnya adalah kisah sumur Utsman. Suatu ketika, umat muslim terpaksa harus membeli air dari sumur seorang Yahudi. Utsman bin Affan pun membeli setengah kepemilikan sumur, bagiannya ia wakafkan. Sehari digratiskan oleh Utsman, sehari berbayar oleh Yahudi. Akhirnya air dari sumur tersebut tidak laku ketika hari berbayar. Orang Yahudi itu pun menjual seluruh kepemilikan sumur pada Utsman.

Berjalannya waktu, aset wakaf berkembang. Sekililingnya menjadi ditanami kurma dan menjadi kebun kurma, kurma dijual, setengah hasilnya untuk anak yatim setengahnya masuk rekening a.n. Utsman bin Affan. Uang dari rekening tersebut digunakan untuk membeli tanah dan terbangun hotel bintang 5. Setengah hasilnya untuk umat, setengahnya diakumulasikan kembali ke rekening Utsman bin Affan. [2]

Pada dua kasus itu, wakaf berhasil mewujudkan kesejahteraan sosial. Wakaf Umar dan Utsman adalah aset produktif yang hasilnya dirasakan oleh orang-orang disekitarnya.

Di Mekah, ada wakaf tanah dari raja Abdul Aziz yang kini dibangun Zam-Zam Tower. Sampai sekarang keuntungannya diperuntukkan bagi Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Kemudian ada Syed Omar bin Ali Junied yang mewakafkan Masjid di Bencoolen st, Singapura untuk kepentingan umum. Oleh MUIS (Majlis Ugama Islam Singapura), pengelola wakaf dengan pihak manajemen, Warees investment, dibangun ulang masjid dan hotel. Keuntungan dari hotel 65% nya untuk masjid dan sisanya untuk kepentingan sosial. [3]

Di Indonesia, Dompet Dhuafa menginisiasi Rumah Sehat Terpadu sebagai salah satu bukti implementasi wakaf dalam bidang kesehatan. Dalam bidang ekonomi ada Bank Wakaf Mikro, wakaf uang yang digulirkan untuk mendorong usaha kecil mikro di Indonesia.

Kesanggupan pengelola wakaf/nadzhir juga harus diperhatikan. Maka, wakaf tak harus berdiri sendiri. Wakaf bisa dibarengi dengan investasi atau bekerja sama dengan lembaga tertentu yang dapat meminimalisir risiko. Seperti pengembangan Zam-Zam Tower yang bekerjasama dengan Bin Ladln Group dan Munshat Real Estate sebagai pengembang dan didanai dengan Sukuk Al-Intifa’ (investasi berbasis akad sewa gedung) dari investor. [4]

[ Pengelola Wakaf yang Profesional ]

Tanggung jawab Nadzhir sangat besar, oleh karenanya Nadzhir harus profesional dan amanah. Untuk meningkatkan profesionalitas perlu sekolah nadzhir yang kurang lebih memuat materi : (1) dasar-dasar keislaman, (2) fikih muamalah khususnya wakaf, (3) manajemen keuangan dan investasi, dan (4) isu kontemporer perwakafan. [5]

Imam Saptono, peneliti BWI menyebutkan kendala bagi penyelarasan kurikulum dan sertifikasi nazhir adalah perijinan, karena menurut undang-undang, regulator tidak diperbolehkan melaksanakan sertifikasi. Oleh karenanya Nazhir di seluruh Indonesia perlu bertemu dan membentuk asosiasi Nazhir sehingga dapat merumuskan kurikulum dan membuat program sertifikasi Nazhir.

[ Membangun Indonesia dengan Wakaf ]

Di Indonesia, pemegang regulasi wakaf adalah Badan Wakaf Indonesia (BWI). BWI sendiri menggiatkan wakaf uang atau wakaf tunai. Menurut BWI, potensi wakaf tunai di Indonesia mencapai 180 Triliun.[6] Wakaf uang bisa dibayarkan melalui bank syariah, koperasi, organisasi pengelola zakat, kampus dan organisasi atau institusi lain yang terdaftar di BWI. Jumlah kontribusi wakaf tunai bisa bermacam-macam atau tidak dibatasi, bahkan ada yang mulai dari seribu rupiah. Wakaf tunai yang terkumpul bisa digunakan untuk membangun infrastruktur, kesehatan, pendidikan, pembangunan ekonomi, dan kemaslahatan umat lainnya. Pahalanya akan terus mengalir pada pemberi wakaf meskipun ia telah tiada.


Referensi

1. Nafis, Cholil. 2011. “Rethinking” Fiqh Waqf. BWI. Tersedia di : http://bit.ly/Waqf1
2. Sukri, Mhd. Alfahjri. 2018. Inspirasi Sumur Utsman bin Affan. ACT Tersedia di : https://act.id/news/detail/inspirasi-wakaf-sumur-ustman-bin-affan
3. Sukmana, Raditya. 2018. Optimalisasi Wakaf untuk Socio Economic Development. disampaikan di . Materi dapat diunduh di : http://bit.ly/SosialisasiSukukWakaf
4. Saptono, Imam T. 2018. Optimalisasi Wakaf untuk Socio Economic Development. disampaikan di . Materi dapat diunduh di : http://bit.ly/SosialisasiSukukWakaf
5. Indrawan, Imam Wahyudi. 2015. Menggagas Sekolah Nazhir. BWI Tersedia di : http://bwi.or.id/index.php/in/publikasi/artikel/1558-menggagas-sekolah-nazhir.html
6. Nurfadhilah, Umi Nur. 2018. Potensi Wakaf Tunai Capai Rp 180 Triliun. Republika. Tersedia di : https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/wakaf/18/10/16/pgovmd384-potensi-wakaf-tunai-capai-rp-180-triliun

Menyikapi Kebebasan dalam Menghina Orang Lain  Luqman H. A. Saputro Mahasiswa Hubungan Internasional  Terdapat beberapa ...
07/12/2018

Menyikapi Kebebasan dalam Menghina Orang Lain

Luqman H. A. Saputro
Mahasiswa Hubungan Internasional

Terdapat beberapa hal menarik yang disampaikan oleh Rowan Atkinson pada tanggal 16 Oktober 2012. Dalam sebuah sesi tatap muka di Parlemen Britania Raya, komedian yang terkenal akan perannya sebagai Mr. Bean tersebut mengawali pidatonya dengan mengungkapkan bahwa kebebasan berekspresi merupakan hal terpenting nomor dua bagi setiap orang.

Bagi Atkinson, makanan yang masuk ke dalam mulut, kebebasan berpendapat, dan rumah tempat berteduh merupakan tiga hal yang paling berharga dalam kehidupan manusia. Jika dituliskan dengan gaya Indonesia, maka kebutuhan pokok manusia versi Atkinson adalah pangan, wicara, dan papan.

Terang saja Atkinson berkata demikian. Sebagai seorang pelawak profesional, kebebasan berpendapat merupakan syarat mutlak baginya. Penghidupannya sangat bergantung pada seberapa luas dan luwes jiwa kreatifnya mampu merangkai kata-kata pengundang tawa. Tanpa kebebasan berpendapat, Atkinson tidak akan mampu menghibur penggemarnya sekaligus mengisi perutnya dan memiliki tempat untuk bernaung.

Namun fokus perhatian Atkinson bukanlah pada kebebasannya dalam melawak. Melainkan pada fakta yang menunjukkan bahwa tidak semua orang menikmati hak yang sama. Muncul kasus seperti ditangkapnya pria yang mengolok kuda polisi gay, pemuda yang mencibir Gereja Scientology sebagai sebuah sekte pemujaan (cult) belaka, hingga pemilik bar hanya karena menayangkan ayat Injil pada layar televisi.

Penangkapan tersebut menunjukkan bahwa kebebasan masyarakat biasa dalam berpendapat lebih rentan untuk dikriminalisasi. Atas dasar itulah kemudian Rowan Atkinson mendukung kampanye Reform Section 5.

Dengan mengusung slogan “Silahkan Menghina Saya”, kampanye Reform Section 5 merupakan gerakan yang bertujuan untuk mengubah Bagian 5 dari Undang-Undang Ketertiban Publik di Inggris dan Wales. Mereka menuntut agar parlemen menghapuskan kata “insulting” (menghina) pada bagian tersebut. Sebelumnya, tercantum pada Bagian 5 bahwa penggunaan kalimat atau tindakan yang bersifat menghina, mengancam, atau mengandung kekerasan merupakan tindakan kriminal.

Bagian tersebut dipandang bermasalah karena menetapkan penghinaan sebagai perbuatan melanggar hukum sama saja dengan membungkam kebebasan berekspresi warga negara.

Atkinson berargumen bahwa hinaan sejatinya merupakan sebuah konsep yang subjektif. Tergantung siapa yang memandang, apa saja bisa disebut sebagai penghinaan. Kritik, sarkasme, hingga pendapat yang berbeda bisa saja dikategorikan sebagai sebuah penghinaan. Ceroboh dalam memidanakan penghina sama saja dengan merepresi Hak Asasi Manusia. Benar-benar tidak demokratis.

Gerakan Reform Section 5 terbilang sukses. Kampanye tersebut mendapat dukungan dari Dewan Rakyat Britania Raya. Dukungan tersebut ditindaklanjuti dengan pengesahan Bagian 57 dari Crime and Courts Act. Amandemen tersebut menghapus kata “menghina” dan mulai berlaku sejak tanggal 1 Februari 2014.

Kebebasan Berekspresi di Indonesia
Sementara di Indonesia, hingga kini kita sedang mengalami darurat kebebasan berpendapat. Dari penolakan terhadap wacana Perda Syariah hingga gurauan tentang wajah orang Boyolali, tanggapannya selalu sama. Melapor ke polisi. Ibarat anak manja, orang-orang yang merasa pandangan politiknya berbeda atau tidak terima dengan ucapan seorang politisi memilih untuk lapor polisi. Semestinya, dalam demokrasi gagasan politik dilawan dengan gagasan politik p**a.

Gurauan yang dianggap menghina cukup dibalas dengan gurauan yang lebih cerdas. Ketergantungan terhadap polisi justru menumpulkan otak kita sehingga tidak mampu berpikir kritis.

Kasus yang tak kalah menarik adalah Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) yang bermasalah. Merujuk pada data rilisan Southeast Asia Freedom of Expression Network (SAFENet), sejak tahun 2008 terdapat 251 kasus yang menjerat sejumlah netizen Indonesia dengan UU ITE (per November 2018).

Sebagai contoh, Prita Mulyasari dituduh mencemarkan nama baik Rumah Sakit Omni Internasional. Zakki Amali dilaporkan karena pemberitaan kasus plagiarisme yang dilakukan oleh Rektor Universitas Negeri Semarang. Anindya Shabrina dan Baiq Nuril membeberkan cerita atau bukti pelecehan seksual, namun justru dilaporkan balik.

Berkat UU ITE, segala komplain yang kita utarakan di dunia maya bisa menjadi tiket yang mampu mengantarkan kita ke hotel prodeo.

Memang, hinaan seringkali tidak beresensi. Akan tetapi, memidanakan sebuah celaan adalah tindakan yang berlebihan. Terlebih jika dilakukan dengan ceroboh dan sembarangan seperti UU ITE yang justru menjadi instrumen penutup mulut warga negara yang merasa dicurangi. Bahaya apabila asas keadilan bagi warga negara justru menjadi dusta belaka.

Dalam pidatonya, Atkinson menawarkan solusi yang sederhana. Perbanyak pendapat. Semakin banyak pendapat yang muncul maka kita akan terbiasa dalam menyikapi pendapat yang beragam. Begitu p**a dengan hinaan. Semakin banyak hinaan yang muncul memicu kekebalan pada mental kita sehingga kita mampu menanggapi hinaan tersebut dengan tenang dan cerdas.

Dengan demikian, dialog yang matang dan demokratis dapat tercipta.Khususnya di Indonesia. Tanpa melibatkan polisi, tanpa persekusi.

( Lihat video Rowan Atkinson berikut ini https://www.youtube.com/watch?v=h3UeUnRxE0E )

Foto oleh Cahaya Maulidian di Wikimedia Commons dengan lisensi CC BY-SA 4.0 .

Badan India, Cara Jawa, Napas Islam: Wayang Purwa dan Dakwah Islam di Indonesia M. Rizaldy Yusuf Founder Muslimbiasa Per...
02/12/2018

Badan India, Cara Jawa, Napas Islam: Wayang Purwa dan Dakwah Islam di Indonesia

M. Rizaldy Yusuf
Founder Muslimbiasa

Percaya atau tidak, nenek moyang bangsa Indonesia adalah orang orang yang sangat mudah bergaul alias supel. Kesupelan mereka dapat dirunut dari berbagai macam produk kebudayaan yang dapat kita lihat saat ini. Produk produk tersebut bermacam-macam mulai dari berupa bahasa, syair, makanan, cara kerja dalam kehidupan sehari-hari seperti cara bercocok-tanam hingga ke tataran kehidupan beragama. Dalam kaitannya dengan kebudayaan, saat itu cara merebut hati masyarakat oleh para pembawa agama Islam umumnya dilakukan dengan kesenian dan salah satunya adalah Wayang Purwa.

[ Sejarah Wayang Purwa ]

Untuk menelusuri asal-usul Wayang Purwa, penting untuk mengetahui sumber cerita dari wayang, yakni cerita Ramayana dan Mahabharata. Ramayana adalah cerita yang ditulis oleh Resi Walmiki. Cerita utamanya ditulis oleh seseorang namun pengembangannya ditambah di sana-sini oleh banyak orang dan dikatakan baru pada abad kedua cerita Ramayana memiliki bentuk yang tetap. Konon identitas Resi Walmiki adalah guru dari K**i dan Lawa yang merupakan anak dari Rama dan Sinta yang lahir saat Sinta dibuang ke hutan dalam rangka menghindari kecurigaan rakyat Ayodya yang dipimpin oleh Rama (Abdullah, 2001:24).

Mahabharata adalah epos (cerita kepahlawanan) yang menggambarkan peperangan antara kaum Pandawa dan kaum Kurawa. Epos Mahabharata juga mengalami penggubahan di berbagai zaman. Pada tahun 400 SM muncul kisah mengenai asal bangsa Bharata namun Pandawa belum dikenal. Pada tahun 400-200 SM muncul kisah-kisah tentang Mahabharata dengan Pandawa sebagai pahlawan dan pemegang peran utama serta Krisna digambarkan sebagai setengah Dewa. Epos ini ditulis oleh Bhagawan Vyasa atau Begawan Abiyasa. Terdapat 3 naskah Mahabharata yang paling dikenal, yakni edisi Calcuta, edisi Bombay, dan edisi Madras. Jumlah pasti naskah Mahabharata tidak dapat diketahui, bahkan Bahandar Research Institute of Poona tercatat pernah berhasil mengumpulkan 1284 naskah (R. Sudarsono, 1978 dalam Abdullah, 2001:29). Mahabharata terdiri atas 18 parwa yang dapat diartikan sebagai jilid (book atau volume).

Para sastrawan Jawa Kuno kemudian menyadur kedua cerita tersebut ke dalam berbagai kakawin atau sajak berirama India dalam bahasa Jawa Kuno seperti Arjuna Wiwaha (Prijohutomo, 1953 dalam Abdullah, 2001). Dari kakawin-kakawin itulah cerita untuk wayang purwa dibuat. Wayang adalah kata asli bahasa Jawa yang berarti bayangan atau bayang-bayang yang diberi pengertian sebagai permainan atau pertunjukan dalam konsep Jawa. Mengenai tambahan purwa, ada yang berpendapat bahwa wayang purwa dinamakan demikian untuk membedakan dengan adanya wayang madya; secara harfiah purwa memiliki arti pertama. Wayang madya merupakan kelanjutan wayang purwa yang menceritakan cerita Parikesit menjadi raja sampai zaman Jenggala dan Kediri (Abdullah, 2001:71).

Wayang Purwa awalnya diciptakan oleh Prabu Jayabaya dari kerajaan Mamenang di Jawa Timur pada sekitar tahun 1069 Caka atau sekitar 1147 Masehi (Moebirman, 1973 dalam Abdullah,2001). Saat itu wayang terbuat dari daun lontar (tal) sehingga disebut wayang tal. Saat itu wayang tal menggambarkan dewa-dewa dan setan/hantu dari mitologi masa itu. Asal mengenai pembuatan wayang purwa juga terdapat beberapa pendapat. Paling tidak terdapat dua pendapat paling populer untuk merunut asal-usul wayang purwa. Pendapat pertama adalah bahwa wayang purwa awal mula ditemukan yakni zaman Jayabaya terbuat dari daun lontar dan baru dirubah bentuk serta bahannya pada zaman Majapahit dan Demak (Drs. Effendi Zarkasyi dalam Abdullah, 2001). Bentuk wayang saat itu digambarkan agak primitif dan potongannya alami dan dibentuk serupa patung-patung yang ada di zaman itu.

Pendapat kedua adalah pendapat dari Prof. Ki Moesa’i Machfoeld yang menyatakan bahwa wayang purwa adalah hasil besutan Wali Songo dan keterangan ini didasarkan dari naskah kuno bertuliskan huruf Arab Gundul yang disimpan oleh Raden Panji Saleh. Beliau merupakan juru kunci makam Syeikh Ibrahim Asmono di Tuban. Beliau menerangkan bahwa Sunan Bonang, Sunan Giri, dan Sunan Kalijaga (yang kemudian ketiga serangkai Wali ini dikenal sebagai Wali Janget Tinelon) yang telah memperhalus wayang beber yang merupakan seni Hindu peninggalan zaman Airlangga Kahuripan menjadi Wayang Kulit seperti adanya sekarang sebagai media dakwah Islamiyah. Wayang Beber saat itu berupa wayang gambar berkelompok pada kain panjang nan lebar dan dalam pertunjukannya laksana gambar mati. Oleh ketiga wali tersebut, Wayang Kulit dibuat dengan kulit sapi, diberi detail yang rinci, dan diberi cat dalam kombinasi warna yang tepat dalam rangka menunjukkan perwatakan masing masing sehingga saat dipentaskan akan memperharu sukma (Abdullah, 2001:73).

01/12/2018

2018 Masih Percaya Generasi?

Baskoro Aris Sansoko
Founder Muslimbiasa

Jika ada suatu ironi menarik yang terjadi di masyarakat, jawablah pertanyaan ini. Layakkah menyatakan bahwa kelompok radikal adalah mereka yang berjenggot, bercadar, dan bercelana cingkrang? Tentu tidak. Layakkah menyatakan bahwa gay adalah mereka yang melambai, s**a sembarangan grepe badan laki-laki lain, dan anggota gym? Tentu tidak.

Sekarang. Layakkah menyatakan bahwa generasi millennial adalah mereka yang lebih percaya user generated content, wajib memiliki akun sosial media, lebih minat membaca lewat smartphone, lebih pilih ponsel daripada televisi, dan menjadikan keluarga sebagai pusat pertimbangan? [1] Atau generasi millennial adalah mereka yang gampang bosan pada barang yang dibeli, hobi melakukan pmebayaran no-cash, s**a dengan yang serba cepat dan instan, memilih pengalaman dibandingkan aset, berbeda perilaku dari satu grup dan grup yang lain, jago multitasking, kritis terhadap fenomena sosial, dikit-dikit posting, dan lebih s**a berbagi? [2]

Yakinlah pertanyaan ini akan banyak dijawab dengan “Mengapa tidak?”

Tentu dua pertanyaan pertama dan terakhir berbeda. Membenarkan dua pertanyaan pertama dapat mengakibatkan prasangka buruk yang kemudian banyak mengarah pada tindakan diskriminasi [3]. Membenarkan dua pertanyaan kedua, sejauh ini, tidak memberikan akibat buruk apapun.

Tapi, tanpa adanya akibat buruk pun, tentu aku yakin kamu menyadari bahwa membenarkan semua jawaban pertanyaan di atas adalah bentuk pembangunan stereotype dangkal yang tidak memberikan informasi apa-apa. Sebagian menyebut tak ubahnya seperti mitos atau pernyataan ramalan horoskop [4].

Apalagi, jika penerimaan atas stereotype seperti itu ditambah dengan mitos umum lainnya terkait generasi, yaitu antara satu generasi dan generasi lain memiliki pola pemikiran dan perilaku yang berbeda bahkan bertentangan.

Kira-kira terangkum dalam ungkapan, “Generasi Millennial itu begini dan begitu, beda dengan generasi Baby Boomers yang tidak begini dan begitu.” Apalagi biasanya ditambahkan dengan menyalahkan generasi lain. “Gara-gara generasi Baby Boomers korupsi subur, generasi Millennial lah solusinya,” pernah mendengarkan pertanyaan demikian terutama dari politisi Millennial?

Padahal sejak 1971, ada sosiolog yang memandang bahwa perbedaan dan pertentangan antar generasi lebih berasal dari persepsi generasi tersebut dibandingkan kondisi nyatanya [5]. Penelitian sejenis yang dilakukan pada tahun 2012 juga memberikan hasil bahwa tingkat persepsi akan perbedaan secara signifikan mengalahkan tingkat kenyataan akan perbedaan [6].

Pada tahun 2010, terdapat seorang peneliti yang meninjau berbagai penelitian empiris yang menyoroti perbedaan generasi dalam sikap-sikap generasi tersebut dalam bekerja. Hasilnya adalah walaupun terdapat berbagai penelitian empiris yang dapat menunjukkan adanya perbedaan, namun tingkatnya tidak signifikan. Beberapa penelitian yang ditinjau tidak menunjukkan bahwa generasi Millennial lebih altruis dibandingkan generasi X [7].

Penelitian lain pada tahun 2006 bahkan lebih tidak ragu dalam menggunakan istilah mitos terhadap perbedaan perilaku kerja dari generasi yang berbeda. Tidak hanya itu, penelitian yang juga menyatakan bahwa perbedaan generasi lebih merupakan masalah persepsi ini juga mengatakan bahwa persepsi semacam ini buruk di lingkungan kerja. Buruk karena dapat menghadirkan persepsi negatif dari atasan ke bawahan atau sebaliknya dan dapat mendorong munculnya tindakan diskriminasi dalam kerja [8].

Apakah pandangan yang sifatnya lebih banyak mitosnya ini dilahirkan dari para politisi bingung atau agamawan yang asal bicara? Tidak juga. Paham yang dapat disebut dengan generasionalisme ini lahir tidak hanya dari pemikir-pemikir dari kalangan politisi namun juga dari sosiolog seperti Mannheim, Edmunds, Turner, Kertzer, dan sebagainya [9]. Hari ini generasionalisme juga dipopulerkan oleh akademisi seperti Strauss dan Howe yang menghasilkan teori generasi dan mencetuskan istilah generasi Millennial [10].

(Kalian yang merasa bagian dari generasi Millennial, berterima kasihlah pada keduanya!)

Seorang sosiolog bernama Bordieu bahkan menyatakan bahwa sejatinya generasi itu asalnya tidak ada. Cuma kemudian ada tokoh kharismatik tertentu yang berkata, “Bangkitklah wahai generasiku!” atau akademisi tertentu yang menyatakan, “Orang-orang dengan kelahiran dari tahun ini ke tahun itu adalah generasi anu.” Ucapan-ucapan semacam ini yang diulang-ulang dalam alam wacana (discourse), kemudian tersampaikan pada khalayak, dan menghasilkan persepsi yang kuat bahwa generasi itu benar-benar ada. Benar-benar ada dalam artian dianggap sebagai sesuatu yang terjadi secara alamiah [9].

Padahal boro-boro alamiah, generasi itu, sama seperti horoskop atau janji-janji politisi, cuma cerita yang direka-reka dan kemudian dipercaya!





[ Referensi ]

(1) Aditya, R., 2017. Inilah 5 Ciri Generasi Millennial yang Sebenarnya, Sulit sih Buat Nggak Mengakui. Hipwee. Tersedia di: https://www.hipwee.com/feature/inilah-5-ciri-generasi-millennial-yang-sebenarnya-sulit-sih-buat-nggak-mengakui/

(2) Wijayanti D, S., 2018. 10 Ciri Dasar Generasi Millennial, Kamu Termasuk Gak Nih?. IDNTimes. Tersedia di: https://www.idntimes.com/life/inspiration/sinta-wijayanti-d/10-ciri-dasar-generasi-millennial-c1c2

(3) Koomen, W. dan van der Pligt, J., 2016. The Psychology of Radicalization and Terrorism. New York: Routledge.

(4) Hoover, E., 2009. The Millennial Muddle: How Stereotyping Students Became a Thriving Industry and A Bundle of Contradictions. The Chronicle of Higher Education.

(5) Bengston, V. L. dan Kuypers, J. A., 1971. Generational Difference and The Developmental Stake. Aging and Human Development. 2.

(6) Lester, S. W., Standifer, R. L., Schultz, N. J., dan Windsor, J. M., 2012. Actual Versus Perceived Generational Differences at Work: An Empirical Examination. Journal of Leadership & Organizational Studies. 19(3).

(7) Twenge, J. M., 2010. A Review of the Empirical Evidence on Generational Differences in Work Attitudes. Journal of Business and Psychology. 25.

(8) Davis, J. B., Pawlowski, S. D., dan Houston, A., 2006. Work Commitments of Baby Boomers and Gen-Xers in the IT Profession: Generational Differences or Myth?. Journal of COmputer Information Systems. 46(3).

(9) Purhonen, S., 2015. Generations on Paper: Bordieu and The Critique of ‘Generationalism’. Social Science Information. 55 (1).

(10) Strauss, W. dan Howe, N. Generations: The History of America’s Future, 1584 to 2069. Quill.

Address

Surabaya
60253

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Muslimbiasa posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Place Of Worship

Send a message to Muslimbiasa:

Share