26/05/2026
BODOH
“…tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan… Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia…”
— 1 Korintus 1:23–25
Ada ungkapan yang mengatakan bahwa kepandaian masih bisa diukur dan memiliki batas, tetapi kebodohan seolah tidak berbatas. Terlepas dari benar atau tidaknya ungkapan itu, kehidupan memang sering memperlihatkan sebuah paradoks: keberhasilan tidak selalu dimiliki oleh mereka yang paling tinggi nilai akademisnya.
Tidak sedikit pengusaha besar justru berasal dari latar belakang akademis biasa-biasa saja, bahkan ada yang tidak menyelesaikan pendidikan formalnya. Almarhum Bob Sadino pernah memberi pernyataan yang cukup provokatif kepada mahasiswa: jangan terlalu lama terjebak teori, tetapi beranilah terjun langsung ke dunia usaha. Tentu tidak semua orang setuju dengan pandangannya. Namun ada satu hal menarik yang ingin ia tekankan: semakin seseorang merasa sangat memahami teori, terkadang justru semakin besar rasa takutnya untuk melangkah.
Banyak orang akhirnya menjadi pengamat, komentator, atau ahli teori, tetapi tidak pernah benar-benar berani mengambil risiko untuk bertindak. Pengetahuan yang seharusnya menolong, justru kadang menjadi tembok yang menghambat keberanian.
Paradoks seperti ini ternyata juga terjadi dalam iman Kristen.
Pemberitaan tentang Kristus yang disalibkan sejak awal memang dianggap tidak masuk akal. Bagi orang Yahudi, Mesias seharusnya tampil sebagai Raja yang penuh kuasa, bukan sosok yang mati tergantung di kayu salib. Karena itu salib menjadi “batu sandungan.” Sementara bagi dunia Yunani yang menjunjung filsafat dan logika, berita tentang Allah yang datang menjadi manusia lalu mati disalib dianggap sebagai kebodohan dan absurditas.
Namun justru di situlah letak hikmat Allah yang terbesar.
Apa yang dianggap hina oleh dunia dipakai Allah untuk menyatakan kemuliaan-Nya. Apa yang dianggap lemah dipakai Allah untuk meruntuhkan kesombongan manusia. Rasul Paulus menuliskan:
“Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat…”
(1 Korintus 1:27)
Lalu apakah berarti orang Kristen memang bodoh?
Menurut ukuran dunia, mungkin iya. Iman kepada Kristus sering dianggap tidak rasional, terlalu sederhana, bahkan tidak modern. Dunia lebih menghargai kecerdasan intelektual, kemampuan berdebat, gelar, pencapaian, dan logika manusia. Tetapi Alkitab menunjukkan bahwa hikmat manusia mempunyai keterbatasan. Ada wilayah ilahi yang tidak dapat ditembus hanya dengan kecerdasan akal.
Salib adalah contohnya.
Tidak semua hal tentang Allah dapat dipahami hanya melalui logika; sebagian harus diterima dengan iman. Dan justru di situlah banyak orang tersandung, karena manusia pada dasarnya lebih s**a menyelamatkan dirinya sendiri daripada menerima anugerah Allah.
Ironisnya, mereka yang dianggap “bodoh” karena percaya kepada Kristus, justru menerima keselamatan, pengharapan, damai sejahtera, dan hidup kekal. Sedangkan dunia yang merasa dirinya berhikmat sering kali gagal mengenal Allah.
Jadi, jika dunia menganggap kita “bodoh” karena percaya kepada Kristus yang disalibkan, jangan terlalu heran. Sebab sejak awal Injil memang bukan dirancang untuk memuaskan kesombongan manusia, melainkan untuk menyelamatkan manusia.
Dan mungkin justru di situlah hikmat yang sejati dimulai: ketika manusia berhenti meninggikan dirinya, lalu merendahkan hati untuk percaya kepada Allah.
(DD)