26/08/2026
PELAYANAN: MENJADI TELADAN, BUKAN TUAN
(1 Petrus 5:2–3)
“Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri. Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu.”
Kata pelayanan dalam kehidupan bergereja sering disalahpahami. Banyak orang berpikir pelayanan hanyalah tugas pendeta, majelis, singer, pemain musik, atau panitia kebaktian. Padahal, dalam bahasa aslinya, pelayanan mencakup jauh lebih luas.
Dalam bahasa Yunani Perjanjian Baru, ada tiga istilah penting:
* Diakonos → pelayan meja, hamba yang menyiapkan makanan. Dari sini lahirlah kata diaken.
* Doulos → budak atau hamba yang tidak memiliki hak untuk menentukan kehendaknya sendiri, melainkan menjalankan kehendak tuannya.
* Leitourgos → pelayan publik, seseorang yang mengabdikan dirinya bagi kepentingan masyarakat. Dari kata ini muncul istilah liturgy.
Jadi, pelayanan bukan pertama-tama soal jabatan, tetapi soal sikap hati seorang hamba.
John Stott pernah menekankan bahwa kepemimpinan Kristen adalah panggilan untuk melayani, bukan kesempatan untuk memerintah. Semakin besar tanggung jawab seseorang, semakin besar p**a kerendahan hati yang seharusnya menyertainya.
Henri Nouwen menggambarkan pelayan sejati sebagai the wounded healer—seseorang yang hadir bagi orang lain bukan karena dirinya lebih tinggi atau lebih kuat, tetapi karena ia sendiri menyadari kerapuhan dan ketergantungannya kepada Allah.
Gagasan tentang melayani sebenarnya bukan hanya dikenal di dalam gereja. Dalam kehidupan berbangsa, kita mengenal istilah “abdi negara.” Kata abdi mengandung makna seseorang yang mengabdikan dirinya bagi pihak yang dilayani—dalam konteks ini, masyarakat dan negara.
Karena itu, jabatan dan kewenangan seharusnya tidak membuat seseorang merasa menjadi tuan, tetapi semakin menyadari tanggung jawabnya untuk melayani. Istilah abdi negara mengingatkan kita bahwa kewenangan diberikan untuk melayani, bukan untuk dilayani.
Ketika istilah itu semakin sering digantikan dengan “aparatur negara” atau “aparatur pemerintah”, istilah administratif tersebut tentu tidak salah. Namun kita perlu menjaga agar identitas sebagai aparatur tidak membuat kita melupakan semangat sebagai abdi: hadir untuk melayani masyarakat, bukan sekadar menjalankan kewenangan.
Prinsip yang sama berlaku dalam pelayanan gereja.
Yesus berkata:
“Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu.”
(Matius 20:26–27)
Namun bagaimana dengan kita yang sering menyebut diri “Pelayan Tuhan”?
Apakah kita sungguh menyadari identitas itu, atau diam-diam kita merasa lebih tinggi dari jemaat?
Apakah kita tersinggung bila tidak dihormati, karena kita merasa pantas dilayani?
Apakah jabatan pelayanan membuat kita semakin rendah hati, atau justru semakin ingin didengar, dihargai, dan diutamakan?
Dietrich Bonhoeffer menekankan bahwa kepemimpinan Kristen harus berakar pada pelayanan. Artinya, pelayanan bukan hak istimewa, melainkan panggilan untuk memberikan diri, bahkan ketika tidak dihargai.
Pelayan sejati bukan mencari kehormatan, melainkan menghadirkan Kristus.
Pelayanan sejati bukan tentang panggung atau jabatan, melainkan tentang teladan hidup.
Itulah sebabnya Rasul Petrus berkata: jangan memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi jadilah teladan bagi kawanan domba.
Dalam Kerajaan Allah, kebesaran tidak diukur dari seberapa banyak orang tunduk kepada kita, tetapi dari seberapa rela kita merendahkan diri untuk melayani.
Maka marilah kita kembali kepada semangat 1 Petrus 5:
Melayani dengan sukarela, bukan terpaksa.
Memberi diri, bukan mencari keuntungan.
Menjadi teladan, bukan penguasa.
Sebab pada akhirnya, kita semua yang disebut pelayan Tuhan perlu mengingat satu hal:
Kita bukan tuan, melainkan pelayan.
Dan justru di situlah letak kehormatan yang sejati.
Amin.
(DD)