Dakwah Santri Milenial

Dakwah Santri Milenial Media dakwah santri Ahlus Sunnah Wal Jama'ah

|| KETIKA LUPA SESUATU DAN INGIN MENGINGATNYA KEMBALI ||Sering lupa adalah lumrahnya sebagai Manusia, namun bukan berart...
17/08/2025

|| KETIKA LUPA SESUATU DAN INGIN MENGINGATNYA KEMBALI ||

Sering lupa adalah lumrahnya sebagai Manusia, namun bukan berarti kita ingin melupakannya untuk selamanya (kecuali mantan yaa 😀)
Maka dalam hal ini mimin ada faidah ilmu yg in syaa allah bermanfaat sebagai amalan agar dimudahkan untuk mengingat kembali sesuatu yg kita lupakan

1. Bacalah Sholawat ini
اللهم صل وسلم على سيدنا محمد عدد ما ذكرك وذكره الذاكرون وغفل عن ذكرك وذكره الغافلون

✓ Bacalah Sholawat ini berulang² in syaa allah akan mendapatkan Futuh sehingga dapat mengingat kembali apa yg sedang kita lupa.

2. Letakkan telapak tangan ke dahi kita lalu bacalah doa ini

3x يا مبدئ يا معيد
ذكّرني ما نسيت

In syaa allah juga akan dimudahkan untuk mengingat kembali apa yg sedang kita lupa dengan izin Allah SWT.

Semoga bermanfaat

KIAI BAHAR SIDOGIRI: MEMBUAT SYAIKHONA KHOLIL BANGKALAN MENETESKAN AIR MATA SAMPAI 7 TURUN DARI KETURUNAN BELIAU HARUS M...
15/08/2025

KIAI BAHAR SIDOGIRI: MEMBUAT SYAIKHONA KHOLIL BANGKALAN MENETESKAN AIR MATA SAMPAI 7 TURUN DARI KETURUNAN BELIAU HARUS MONDOK DI SIDOGIRI

Kiai Bahar bin Norhasan bin Noerkhotim mondok di pesantren Syaikhona Kholil Bangkalan pada umur 9 atau 12 tahun. Di antara teman seperiode beliau ketika mondok di Bangkalan adalah KH Manaf Abd Karim, pendiri Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur. Tidak banyak keterangan tentang bagaimana Kiai Bahar saat nyantri di Bangkalan, baik tahun atau kegiatan kesehariannya. Namun kisah yang masyhur adalah tentang beliau ditakzir dan “diusir” oleh gurunya.

Alkisah, ketika Bahar kecil mondok di pesantren Syaikhona Kholil, beliau bermimpi tidur dengan istri Syaikhona Kholil. Pagi harinya (versi lain waktu Subuh) Syaikhona Kholil keluar dengan membawa pedang (versi lain golok tumpul) sambil marah-marah pada santrinya.

“Korang ajer! Sapah malemmah tedung bereng bi’ tang bineh. Ayoh ngakoh! Sapah malemmah tedung bereng bi’ tang bineh?! (Kurang ajar! Siapa tadi malam yang tidur dengan istri saya? Ayo mengaku! Siapa yang tadi malam tidur dengan istri saya?!),” kata Syaikhona Kholil dalam bahasa Madura.

Semua santri ketakutan dan tidak ada yang berani menjawab, karena mereka merasa tidak melakukannya. Lalu Syaikhona Kholil menyuruh mereka berjalan dua-dua (bergandengan) di depan beliau.

“Ayuh keluar wek-duwek! (Ayo keluar dua-dua!),” bentak Syaikhona Kholil yang terkenal keras itu.

Para santri pun keluar secara bergandengan. Namun, santri yang terakhir tidak ada gandengannya. Syaikhona Kholil yang mengetahui hal itu heran dan berkata, “Leh, riyyah kemmah berengah? (Lah, ini mana gandengannya?).”

“Sobung Kiaeh (tidak ada Kiai),” jawab santri yang tanpa pasangan tersebut dengan gemetar.

“Paleng se ngetek jiah se tedung bi’ tang bineh! Ayuh sare’en, sare’en! (Mungkin yang bersembunyi itu yang tidur dengan istri saya! Ayo cari, cari!),” perintah beliau.

Segera semua santri (yang waktu itu berjumlah 20 orang) mencari Bahar kecil yang bersembunyi di biliknya (kamar) karena merasa bersalah dengan mimpi yang dialaminya. Akhirnya Bahar kecil ditemukan dan dibawa ke hadapan Syaikhona Kholil. Dengan berterus terang, Bahar kecil menceritakan apa yang dialaminya itu, “Enggi kauleh Kiaeh, keng kauleh nekah mempeh! (Ya, memang saya yang melakukannya Kiai, tapi cuma mimpi!).”

Setelah mendengarkan penuturan santrinya itu, Syaikhona Kholil menghukumnya dengan disuruh menebang pohon-pohon bambu (barongan) di belakang dalem (rumah) dengan pedang tumpul yang sejak tadi dalam genggaman beliau.

“Setiah be’en etindak bi’ engko’! Barongan se bedeh neng budinah romah ruah ketok kabbi sampek berse! Jek sampek bedeh karenah tekkaah daun settong! (Sekarang kamu saya tindak. Rumpun bambu yang ada di belakang rumah saya itu tebang semua sampai bersih! Jangan sampai ada sisanya, meskipun selembar daun!),” kata beliau.

Dalam riwayat lain, Syaikhona Kholil mengatakan, “Reng-perreng poger kabbih, seareh koduh mareh! (Bambu-bambu itu tebang semua, sehari harus selesai).” Ajaib, ternyata Bahar kecil bisa merampungkannya setengah hari.

Setelah selesai dari tugasnya, Bahar kecil pergi menghadap Syaikhona Kholil, untuk melaporkan hasil pekerjaannya. Syaikhona Kholil yang melihatnya menghadap bertanya dengan nada tinggi, “Mareh (sudah)?!”

Bahar kecil menjawab singkat, “Enggi, ampon (Iya, sudah)” sambil menyerahkan kembali pedang yang dibawanya tadi.

Setelah itu, Syaikhona Kholil mengajaknya ke dalam suatu ruangan yang di dalamnya tersedia beberapa talam penuh nasi, lengkap dengan lauk-pauknya, yang konon cukup untuk makan 40 orang. Ternyata Syaikhona Kholil menyuruhnya menghabiskan semuanya.

“Setiah, riyyah kakan patadek! Jek sampek tak epetadek. Mon sampek tak apetadek, e padhdheng been! (Sekarang, makan ini sampai habis! Jangan sampai tidak dihabiskan. Kalau tidak dihabiskan, saya tebas kamu!),” perintahnya dengan nada mengancam.

Secara akal, tidak mungkin satu orang bisa menghabiskan makanan sebanyak itu. Tetapi ternyata Bahar kecil bisa memakan semuanya sampai habis dalam waktu singkat.

Setelah selesai, Syaikhona Kholil membawanya ke ruangan lain yang penuh dengan aneka buah-buahan.

“Setiah, riyyah petadek! (Sekarang, habisakan ini!),” perintah beliau. Segera Bahar kecil melaksanakan perintah gurunya. Buah-buahan dalam ruangan itu pun habis dalam waktu singkat.

Setelah itu, Bahar kecil diajak keluar dari ruangan itu oleh Syaikhona Kholil dengan menangis. Bahar kecil tidak mengerti, kenapa gurunya menangis.

“Tang elmoh la epatadek bi’ Mas Bahar. Wes lah kakeh moleh (Ilmuku sudah dihabiskan oleh Mas Bahar. Sudah pulanglah kamu!),” kata Syaikhona Kholil kepada Bahar kecil seraya mengusap air matanya. Nasi, lauk-pauk, serta buah-buahan merupakan isyarah akan aneka macam ilmu Syaikhona Kholil.

Riwayat lain menyebutkan bahwa Syaikhona Kholil berkata, “Engkok nyareh elmoh neng Sidogiri payah, setia lah ekoneiin pole (Saya menacari ilmu ke Sidogiri dengan susah payah, sekarang sudah dijemput [baca: diambil] kembali).”

Dan sebagian riwayat menyebutkan, setelah Bahar kecil selesai membabat pohon bambu, beliau disiram/dimandikan oleh Syaikhona Kholil. Ketika disiram, beliau melafalkan niat wudhu. Setelah itu Syaikhona Kholil menyuruh beliau pulang ke Sidogiri.

Saat Bahar kecil pulang ke Sidogiri, Syaikhona Kholil mengikutsertakan 7 santrinya dari Madura untuk menjadi santri Bahar kecil. Masa mondok Bahar kecil kepada Syaikhona Kholil adalah seminggu, atau kurang dari satu bulan. Setelah pulang, Bahar kecil langsung menjadi Pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri. Karena usianya yang sangat muda Bahar kecil dikenal dengan sebutan Kiai Alit (dalam bahasa Jawa, “alit” berarti “kecil”).

Menurut riwayat, setelah peristiwa itu, Syaikhona Kholil Bangkalan pernah berkata tentang Sidogiri, “Tujuh turun dari keturunan saya harus mondok di Sidogiri.”

Disarikan dari buku "Jejak Langkah 9 Masyayikh Sidogiri 2" diterbitkan oleh Sidogiri Penerbit.

|| DOA AGAR CEPAT MEMPUNYAI RUMAH ||Ijazah dari Alhabib Sholeh Bin Muhsin Alhamid Tanggulﺍَﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺭَﺏٌَ ﺍﻟْﺒَﻴْﺖ ﺃَﺳْ...
04/08/2025

|| DOA AGAR CEPAT MEMPUNYAI RUMAH ||

Ijazah dari Alhabib Sholeh Bin Muhsin Alhamid Tanggul

ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺭَﺏٌَ ﺍﻟْﺒَﻴْﺖ ﺃَﺳْﺄَﻟُﻚَ ﺑِﺠَﺎﻩِ ﺃَﻫْﻞِ ﺍﻟْﺒَﻴْﺖ ﺃَﻥْ ﺗُﻴَﺴِّﺮَ ﻟِﻲْ ﺧَﻴْﺮَ ﺑَﻴْﺖ ﺣَﺘَّﻰ ﻻَ ﻧَﻘُﻮْﻝَ ﻳَﺎ ﻟَﻴْﺖ."

Artinya: "Ya Allah, Engkau pemilik Baitullah, hamba memohon dengan wasilah/perantara Ahlul Bait (Rasulullah SAW) agar Engkau mudahkan untukku sebaik-baiknya rumah, sehingga kami tidak mengucap 'Seandainya aku punya rumah".

Baca doa ini secara istiqomah (terus-menerus) terutama selepas Sholat 5 waktu
In Syaa Allah hajat ingin mempunyai rumah akan dimudahkan oleh Allah SWT.

Semoga bermanfaat.

Assalamualaikum....Motivasi pagiSemoga hari ini lebih baik dari hari kemarin kawan²
03/08/2025

Assalamualaikum....
Motivasi pagi
Semoga hari ini lebih baik dari hari kemarin kawan²

Ladang kebaikan yg mudah ditanami dan dipanen adalah dengan lisan.. Yaitu Ketika digunakan untuk berdzikir dan menyampai...
28/07/2025

Ladang kebaikan yg mudah ditanami dan dipanen adalah dengan lisan..
Yaitu Ketika digunakan untuk berdzikir dan menyampaikan keilmuan

Tetapi Sumber malapetaka juga mudah terjadi dan datang dari Lisan.....
Yaitu ketika tidak dijaga dan digunakan untuk berkata kasar atau kotor.

Ijazah dari cicit Syaikhona kholil Bangkalan Agar dimudahkan segala urusanJalur ijazah silahkan langsung kepada shohibul...
27/07/2025

Ijazah dari cicit Syaikhona kholil Bangkalan
Agar dimudahkan segala urusan

Jalur ijazah silahkan langsung kepada shohibul ijazah lora ismail al kholili

03/05/2024

أصل كلمة : إيوَهْ التي بمعنى نعم
هو : إي والله، خذفت لفظ الجلالة وأُزيد هاء السكت في أخره، فصار : إيوه

والله أعلم

••• Syekh Muhammad Yasin Al-Fadani •••Syekh Yasin bercerita, ia mempunyai banyak guru. Guru pertamanya adalah ayahnya se...
19/01/2024

••• Syekh Muhammad Yasin Al-Fadani •••

Syekh Yasin bercerita, ia mempunyai banyak guru. Guru pertamanya adalah ayahnya sendiri, Syekh Muhammad Isa bin Udiq Al-Fadani Al-Minangkabawi Al-Indunisi. Ayahnya merupakan orang yang s**a menghidupkan malam dengan ketaatan kepada Allah. Siangnya s**a berpuasa, tidak menyibukkan diri kecuali kepada Allah.

Syekh Yasin belajar Al-Qur'an hingga khatam kepada ayahnya. Ia khatam di usia 8 tahun, dan diadakan haflah untuk khatamannya. Setelah itu bersama saudara kandungnya, Syekh Muhammad Thoha, Syekh Yasin masuk ibtidaiyah awal-awal 1346 H.

Saat di rumah, sang ayah membantunya memahami pelajaran, mengajari ilmu tajwid, tauhid, dan fiqh, menggunakan kitab berbahasa Indonesia. Syekh Yasin belajar kitab Safinatun Najah, muqaddimah jurumiyah dan syarahnya Mukhtasar Jiddan karya Sayyid Ahmad Zaini Dahlan. Semuanya diajari sang ayah sampai khatam.

Kemudian belajar kitab Abi Syuja' sampai bab tentang muamalat. Kemudian sang ayah, Syekh Muhammad Isa, memberikan ijazah 'ammah. Dan secara khusus mengisahkan agar tekun berzikir kepada kepada Allah SWT, yang sanadnya diambil oleh Syekh Muhammad Isa dari saudaranya Syekh Mahmud bin Udiq Al-Fadani (paman Syekh Yasin), dari Al-Allamah Syekh Ahmad Khatib Minangkabau Imam dan Pengajar di Masjidil Haram yang mempunyai banyak karangan.

Syekh Muhammad Isa juga mengijazahkan kepada Syekh Yasin secara khusus agar membaca Dalailul Khairat dan Burdah Imam Bushiri.

Dikutip dari kitab Fathur Rabbil Masjid Fima li Asy-yakhi min Faraidil Ijazat wal Asanid, karya Syekh Muhammad Yasin Al-Fadani, halaman 2.

|| Ketika kitab Syaikh Al Buthi dibakar ||Suatu ketika Syaikh Said Ramadhan Buthi pernah dibenci banyak orang karena dia...
31/12/2023

|| Ketika kitab Syaikh Al Buthi dibakar ||

Suatu ketika Syaikh Said Ramadhan Buthi pernah dibenci banyak orang karena dianggap pro-pemerintah, beliau dicaci-maki dimana-mana bahkan sampai ada pendemo yang membakar kitab-kitab karya beliau. setelah kejadian itu beliau berkomentar :

“Dalam sebagian mu'tamar saya dijuluki sebagai "Imam Ghozali abad ini,
Dan demi Allah, saya berkata dengan hati dan lisanku bahwa sehari dari umur Imam Ghozali itu setara dengan seluruh umur saya".

tapi kemudian saya berfikir, bahwa sejarah mencatat satu-satunya ulama yang pernah dibakar kitab-kitabnya adalah Imam Ghozali, sekarang bertambah satu yaitu saya.

Seakan Allah ingin berkata kepada saya :
Benar kamu tidak sampai pada level itu, tapi Aku yang akan menyampaikanmu ke level itu!"

Lahul Fatehah....

••SEPERTI POHON DAN KAPAK••اذا تألمت الشجرة بضرب الفأس، فالأشد منه تألما كون يده من خشبSebuah pohon mungkin merasa sakit...
06/12/2023

••SEPERTI POHON DAN KAPAK••

اذا تألمت الشجرة بضرب الفأس، فالأشد منه تألما كون يده من خشب

Sebuah pohon mungkin merasa sakit karena pahatan kapak, namun yang lebih menyakitkan adalah karena pegangan kapak itu terbuat dari kayu.

Kalam hikmah di atas bisa diartikan,

Goresan luka di hati yang disebabkan orang lain tidaklah seberapa dibanding hati terluka disebabkan orang terdekat.

Address

Surabaya

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Dakwah Santri Milenial posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Place Of Worship

Send a message to Dakwah Santri Milenial:

Share