09/01/2023
Ketika itu sore hari tanggal 19 Maret 2005, asap putih mengepul keluar dari cerobong Kapel Sistina untuk mengumumkan pemilihan Paus baru.
Beberapa saat kemudian lonceng Santo Petrus berdentang keras untuk merayakannya. Dan orang-orang Roma mendengar dan berbondong-bondong ke alun-alun, tepat pada waktunya untuk mendengar tradisi pengumuman "Habemus Papam!" atau 'Kita memiliki paus baru', diterjemahkan dari bahasa Latin.
Ketika mereka mendengar namanya, Joseph dan kemudian Ratzinger, mereka semua bersorak. Mereka segera mengenali seorang tokoh terkemuka dan sudah akrab dikenal di Gereja Katolik. Demikian pun, beliau telah menjadi salah satu penasihat terdekat mendiang Yohanes Paulus II selama lebih dari dua dekade.
Dan ketika Penerus baru Santo Petrus ini muncul di balkon tengah Basilika dengan jubah putihnya, mengikuti jejak pendahulunya yang telah membuka jalan baru dalam hal ini, ia berbicara kepada orang banyak: "Setelah Paus Yohanes Paulus II yang agung, para Kardinal telah memilih saya, seorang pekerja sederhana dan rendah hati di kebun anggur Tuhanโ.
๐ ๐ฒ๐ป๐ด๐ฒ๐ท๐ฎ๐ฟ ๐ฝ๐ฒ๐ฟ๐ฑ๐ฎ๐บ๐ฎ๐ถ๐ฎ๐ป
Tapi kejutan sebenarnya datang ketika dia mengumumkan akan menggunakan nama "Benedict". Penerus Santo Petrus terakhir yang menggunakan nama itu setelah terpilihnya pada tahun 1914.
Kardinal Austria Christoph Schำงnborn, salah satu Kardinal yang memilihnya menjelaskan: โItu jelas merupakan tandaโฆ dia mendapatkan inspirasi dari Benediktus XV, seorang paus yang mengejar perdamaian pada saat perang dan dari seorang biarawan Santo Benediktus, Santo pelindung Eropa. โ
๐ฆ๐ฒ๐ผ๐ฟ๐ฎ๐ป๐ด ๐๐ฒ๐ผ๐น๐ผ๐ด ๐ฎ๐ต๐น๐ถ
Siapakah sebenarnya Paus kelahiran Jerman ini?
Ia dilahirkan di Marktl am Inn, sebuah kota kecil di Upper Bavaria di perbatasan Austria pada 16 April 1927.
Tahun-tahun akademis pekuliahannya dihabiskan dengan studi filosofis dan teologis dari tahun 1946 hingga 1951, dan diakhiri dengan disertasi doktoral yang berpusat pada gagasan tentang umat Allah dalam Santo Agustinus dan karya pasca - doktoral tentang Santo Bonaventura, seorang teolog Fransiskan dari abad ketiga belas.
[Repost from FB Karya Kepausan Indonesia]