24/05/2026
.
SEJARAH NAMA "PANTEKOSTA".
Salam Pantekosta.
Mengapa GPdI memakai "Pantekosta" dan Bukan Pentakosta?
Alasannya adalah:
Secara Resmi "GPdI" atau "Gereja Pantekosta di Indonesia" di pakai setelah pendudukan Jepang pada tahun 1942. Saat itu yang menjadi Ketua Badan Pengurus adalah Bapak Pdt. H.N Runkat.
Perlu kita tahu saat GPdI Gereja Pantekosta didirikan oleh para pioner, Alkitab yang mereka pakai adalah Akitab terjemahan H.C. Clinkert yang terbit pada tahun 1879.
Nah, Ayat Kis. 2:1 tertulis seperti ini: "Kapan Soedah sampe hari "Pantekosta", di orang samowa ada berkoempoel dengan satoe hati...
Jadi para pendiri GPdI menjadikan dasar Sebutan "Pantekosta" berdasarkan Alkitab terjemahan Clinkert itu. Perlu diketahui bahwa sejak Tahun 1900 Alkitab terjemahan Clinkert sangat populer dan disukai di Indonesia serta di Tanah Minahasa Alkitab ini sangat Populer.
Karena Pendiri GPdI banyak Pioner berasal dari Minahasa maka Kata "Pantekosta" itulah yang di pakai sebagai nama GPdI.
Perlu diketahui Alkitab Bahasa Indonesia "Terjemahan Bode Atau Terjemahan lama" di buat dan termit tahun 1958 dan "terjemahan baru" tahun 1974. Kata "Pentakosta" nanti berubah dan di digunakan dalam dua Alkitab itu. Sedangkan GPdI atau Pantekosta sudah ada sebelum 2 Alkitab itu terbit.
Adapun kamus Purwodarminta Tahun 1980-2000 masih menyebut Pantekosta bukan Pentakosta.
Oleh karena Gereja-gereja Karismatik di Indonesia berdiri setelah Alkitab Bode dan Terjemahan Baru diterbitkan, maka gereja gereja itu dan jemaatnya menggunakan kata "Pentakosta."
Jadi, soal nama Pantekosta atau Pentakosta itu bukan masalah n tak pantas untuk dipertentangkan. Sama halnya dengan nama Musa atau Moses, Harun atau Aaron, Daud atau David, Paulus atau Saulus, Filipus atau Pilipus, Haleluyah atau Haleluya dan Amen atau Amin dan Yesus atau Jesus.
Kiranya bermanfaat.
Tuhan memberkati.
By. Pdt. Franky Rewah.