20/02/2024
Beriman Pada Kemanusiaan (Tribun Timur, 9 Februari 2024)
Mereka yang bukan saudaramu dalam iman, adalah saudaramu dalam kemanusiaan. Demikian salah satu petikan ucapan Ali Abi Thalib yang sangat fenomenal. Sebuah ucapan yang merefleksikan bagaimana sesungguhnya manusia disatukan dalam sebuah konsep yang bernama kemanusiaan.
Tentu setiap manusia yang terlahir ditakdirkan dengan identitas yang berbeda-beda. Identitas suku, budaya, agama, ras, ataupun kewarganegaraan. Identitas yang berbeda itu menjadikan manusia seringkali mendefinisikan diri mereka berbeda dengan yang lain. Identitas adalah penciri diri seseorang.
Sayangnya, indetitas bukan hanya menjadi sebuah entitas yang dibangun untuuk menunjukkan siapa diri kita, namun juga, seringkali (bahkan elakanya) dibangun untuk memisahkan dan membedakan kita dengan yang lain. Lebih dari itu, identitas terkadang membawa manusia pada perasaan jumawa dan merasa bahwa identitasnya lebih superior di atas identitas yang lain.
Tentu yang paling celaka adalah di saat identitas itu justru menjadikan manusia saling memusuhi dan bahkan menjadi legitimasi atas pertumpahan atas identitas lainnya yang berbeda. Sebut saja agama.
Bagi para penganut agama, agama di tempatkan pada posisi suci di mana ajarannya diyakini datang dari Sang Kuasa. Ajaran itu diyakini berisi ajaran kesucian yang akan menghantarkan pemeluknya pada kebaikan. Maka tidak heran jika ada banyak penganut agama yang begitu meyakini bahwa agama adalah soslusi. Agama tidak menghadirkan perang, sebaliknya agama adalah solusi atas perang.
Tapi apakah benar demikian. Akan naif kalau mengatakan bahwa agama hanya menghadirkan kedamaian dan tidak mencipta tensi. Tentu, dalam banyak kasus agama sengkali menjadi korban karena digunakan sebagai alat dalam sebuah konflik yang pada sesungguhnya adalah konflik ekonomi ataupun politik. Namun pada sisi lain kita pun harus menyadiri bahwa ada orang-orang yang dengan keyakinan agamanya memiliki kebencian atas identitas yang lain.
Saat agama hanya dijadikan sebagai perangkat identitas, maka agama memiki potensi untuk menjadi bagian dari sebuah konflik. Lambat laun agama hanya akan berubah menjadi sebuah institusi bukan lagi sebagai sebuah kompas moral dalam hidup.
Harari (2019) menyinggung hal ini dalam bukunya, 21 Lessons for the 21st Century Baginya, Agama di abad ke-21 tidak mendatangkan hujan, tidak menyembuhkan penyakit, tidak membuat bom. Akan tetapi, agama sangat menentukan siapa 'kita' dan siapa 'mereka', siapa yang harus kita sembuhkan dan siapa yang harus kita bom. Kebanyakan agama mempunyai banyak kesamaan, namun sering kali agama-agama ini dijadikan senjata untuk menciptakan perpecahan dan konflik.
Pada posisi tersebut, maka penting untuk kembali menyadari identitas komunal yang dibangun bersama. Identitas yang menempatkan diri kita pada posisi sama rata. Identitas yang melebihi sekat identitas-identitas kecil lainnya. Identitas dengan I (baca; huruf I) besar. Identitas sebagai seorang manusia.
Kesadaran akan identitas manusia sebagai identitas bersama menjadikan kita harus bersama menjunjung tinggi semangat kemanusiaan. Bahwa tidak ada manusia yang lebih dibanding yang lainnya hanya karena perbedaan identitas kecil yang mengikatnya.
Kembali mengimani kemanusiaan.
Setidaknya ada dua gagasan besar tentang kemanusiaan. Apakah manusia sejatinya adalah makhluk dengan semangat kebencian yang besar atau manusia pada umumnya adalah mahluk yang baik. Pertanyaan yang sama ini diajukan oleh Rutger Bergman (2020) dalam bukunya, Humankind: A Hopeful History. Apakah kita spesis yang baik hati atau sebaliknya spesis yang paling kejam di muka bumi? Bagi Bergman, manusia pada dasarnya baik. Meskipun pada akhirnya kita merasa akan lebih dekat ke yang paling mirip dengan kita. Mirip secara ideologi, agama, ras ataupun identitas-identitas lainnya.
Senada dengan itu, Jonathan Haidt (2012) dalam bukunya, The Righteous Mind: Why Good People are Divided by Politics and Religion menyebut bahwa manusia selayaknya hewan lain yang merupakan mahluk sosial. Namun, kebutuhan manusia untuk berkelompok jauh lebih tinggi. Manusia, lebah dan semut adalah mahluk yang ultrasosial. Saat mengidentifikasi mereka bagian dari kelompok itulah, manusia cenderung untuk membela kelompok identitasnya.
Ini yang kemudian pada akhirnya mendominasi. Muncul “orang-orang baik” yang hanya baik pada kelompoknya, namun bisa berlaku di luar nalar atas kelompok yang lainnya. Orang-orang yang sangat menentang kekerasan dan kekejaman namun juga ikut bertepuk tangan saat kekerasan dan kekejaman itu terjadi pada kelompok lain yang berbeda. Mengutuk perang, mendaku diri humanis namun tidak sadar ikut begembira saat kelompok yang dianggap lawannya mati sebagai korban.
Saat ini, kita menyaksikan parade anti kemanusiaan di banyak tempat di dunia dengan dalih menjaga dan mempertahanan kelompoknya. Perang tak terelakkan dan banyak manusia tidak berdosa dan tidak tahu apa-apa yang menjadi korbannya.
Meski Yuval Noah Harari (2019) dalam bukunya, 21 Lessons for the 21st Century telah mengingatkan bahwa perang di abad 21 tidak akan memberikan kesuksesan sebagaimana kesuksesan perang yang dulu dianggap memberikan kontribusi pada kemakmuran ekonomi dan politik. Berbeda dengan masa lalu, di masa para penakluk hebat, di mana perang adalah perkara yag rendah kerusakan dengan keuntungan besar. Di era saat ini, di era nuklir dan perang siber, perang tak lebih dari sebuah perkara yang mencipta kerusakan besar namun sedikit keuntungan. Pun demikian, perang tetap saja bisa terjadi karena kebodohan manusia.
Boleh dikata bahwa perang sesungguhnya adalah parade kebodohan manusia. Dimana ribuan nyawa dikorbankan, bangunan-bangunan dihancurkan, masa depan anak kecil dicerabut dan kebersamaan kekuarga dipisahkan. Perang adalah parade kebodohan manusia yang mulai lupa bahwa identitas utama mereka di dunia adalah sebagai manusia yang harusnya menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Perang, adalah bukti nyata parade manusia yang tidak lagi beriman pada kemanusiaan.
Iman ke pada kemanusiaan menjadi penting di tengah maraknya kembali sentiment atas identitas yang berbeda. Kebencian menyeruak di mana-mana. Orang-orang dibunuh karena mereka berbeda. Hal yang menjadikan kita mempertanyakan kembali kemanusiaan kita. Atau jangan-jangan kita tidak lebih dari hewan yang berakal. Manusia adalah rational animal atau al-insanu hayawanun nathiq.
Dan meskipun dikaruniai akal yang digunakan melebihi penggunakan akal hewan-hewan lainnya, manusia masih saja gagal menggunakan akalnya dengan baik karena jiwa kebinatangan masih mendominasi dalam dirinya.
Wallahu A’lam bi Asshwwab.