29/07/2026
17 MUWASHOFAT ( KARAKTER) DAI IDEAL
Oleh : Syarifuddin liwang ( Syarli)
Karakter seorang dai yang ideal mencakup aspek spiritual, intelektual, fisik, finansial, sosial, hingga kontribusi global.
pembentukan kepribadian Islam (syakhshiyah islamiyah) terutama seorang dai harus integratif (syamil) dan seimbang (tawazun).
Rasulullah
diutus tidak hanya membawa dogma, melainkan melahirkan sebuah generasi unik (jiilun qur'aniyun farid) yang mewarnai peradaban.
Imam As syahid Hasan Al-Banna menggarisbawahi bahwa perbaikan umat harus dimulai dari perbaikan individu (ishlahul fard). Tanpa adanya individu yang memiliki spesifikasi unggul, cita-cita menegakkan kejayaan Islam (ustadzul 'alam) hanya akan menjadi angan-angan.
Adapun 17 karakter ideal yang harus di miliki seorang dailah a
1. Salimul Aqidah (Aqidah yang Bersih)
Aqidah yang bersih adalah fondasi utama dari seluruh bangunan Islam. Tanpanya, semua amal kebaikan laksana debu yang beterbangan ditiup angin. Aqidah yang salim membebaskan manusia dari penghambaan kepada makhluk menuju penghambaan total kepada Khaliq.
Allah subhana wataala berfirman
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
“Padahal mereka tidak diperintah kecuali agar menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” [QS. Al-Bayyinah: 5]
Rasulullah
bersabda kepada Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma:
إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ
“Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah. Jika kamu memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah.” [HR. Tirmidzi, ia berkata: Hadits Hasan Shahih]
Sahabat Nabi ib'i bin 'Amir Saat berdiri di hadapan panglima Persia, Rustam, ia berkata dengan tegas:
اللَّهُ ابْتَعَثَنَا لِنُخْرِجَ مَنْ شَاءَ مِنْ عِبَادَةِ الْعِبَادِ إِلَى عِبَادَةِ اللَّهِ وَحْدَهُ
“Allah mengutus kami untuk mengeluarkan siapa saja yang Dia kehendaki dari penghambaan kepada sesama hamba menuju penghambaan kepada Allah semata.”
Syekhul islam Ibnu Taimiyah berkata
الْقَلْبُ لَا يَصْلُحُ وَلَا يَفْلَحُ وَلَا يَذْكُو وَلَا يُسَرُّ وَلَا يَلْتَذُّ وَلَا يَطْمَئِنُّ إِلَّا بِعِبَادَةِ رَبِّهِ
“Hati tidak akan baik, tidak akan beruntung, tidak akan suci, tidak akan bahagia, tidak akan merasa nikmat, dan tidak akan tenang kecuali dengan beribadah kepada Tuhannya semata.”
2. Shahihul Ibadah (Ibadah yang Benar)
Ibadah yang benar adalah buah dari aqidah yang lurus. Indikator kebenaran ibadah diukur dari dua syarat mutlak: ikhlas karena Allah dan ittiba’ (mengikuti petunjuk) Rasulullah Tanpa kesesuaian dengan sunnah, ibadah seseorang akan tertolak.
Allah subhana wataala berfirman
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
“Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” [QS. Al-Mulk: 2]
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda
صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي
“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” [HR. Bukhari No. 631]
مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak ada urusannya (perintahnya) dari kami, maka amalan itu tertolak.” [HR. Muslim No. 1718]
Sahabat Nabi bnu Mas'ud berkata :
اِقْتِصَادٌ فِي سُنَّةٍ خَيْرٌ مِنَ اجْتِهَادٍ فِي بِدْعَةٍ
“Sederhana dalam mengamalkan sunnah itu jauh lebih baik daripada bersungguh-sungguh dalam urusan bid'ah.”
Imam Fudhayl bin 'Iyadh, Ketika menafsirkan “Aymuhum ahsanu 'amala” (amal terbaik), beliau berkata:
أَخْلَصُهُ وَأَصْوَبُهُ، فَإِنَّ الْعَمَلَ إِذَا كَانَ خَالِصًا وَلَمْ يَكُنْ صَوَابًا لَمْ يُقْبَلْ، وَإِذَا كَانَ صَوَابًا وَلَمْ يَكُنْ خَالِصًا لَمْ يُقْبَلْ حَتَّى يَكُونَ خَالِصًا صَوَابًا
“Yang paling ikhlas dan yang paling benar. Sesungguhnya amal jika ikhlas tapi tidak benar, tidak diterima. Jika benar tapi tidak ikhlas, juga tidak diterima. Sampai amal itu dilakukan dengan ikhlas dan benar (sesuai sunnah).”
3. Matinul Khuluq (Akhlak yang Kokoh)
Akhlak adalah cerminan dari iman yang ada di dalam dada. Islam bukan sekadar hubungan vertikal antara hamba dan Pencipta, melainkan juga hubungan horizontal yang dihiasi dengan keluhuran budi pekerti. Rasulullah
menegaskan misi utamanya adalah menyempurnakan akhlak manusia.
Allah berfirman
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.” [QS. Al-Qalam: 4]
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ
“Sesungguhnya aku diutus tidak lain kecuali untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” [HR. Ahmad No. 8952, dishahihkan Al-Albani]
Sahabat Nabi nas bin Malik : Menggambarkan karakter Nabi
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْسَنَ النَّاسِ خُلُقًا
“Rasulullah صلى الله عليه وسلم adalah manusia yang paling baik akhlaknya.” [HR. Bukhari & Muslim]
Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah berkata :
الدِّينُ كُلُّهُ خُلُقٌ، فَمَنْ زَادَ عَلَيْكَ فِي الْخُلُقِ زَادَ عَلَيْكَ فِي الدِّينِ
“Agama ini seluruhnya adalah akhlak. Barangsiapa yang mengunggulimu dalam akhlak, maka dia telah mengunggulimu dalam beragama.”
4. Qawiyyul Jismi (Tubuh yang Kuat)
Seorang Muslim dituntut memiliki fisik yang prima demi menunjang pelaksanaan ibadah (seperti shalat, puasa, dan haji) serta jihad di jalan Allah. Tubuh yang kuat bukan untuk kesombongan, melainkan sarana mengabdi lebih optimal kepada Islam.
Allah subhana wataala berfirman
وَزَادَهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ
“...dan Allah memberikan kelebihan kepadanya (Thalut) dalam ilmu dan fisik.” [QS. Al-Baqarah: 247]
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah; dan pada masing-masingnya terdapat kebaikan.” [HR. Muslim No. 2664]
Sahabat Nabi mar bin Khattab RA , pernah menulis surat kepada penduduk Syam:
عَلِّمُوا أَوْلَادَكُمُ السِّبَاحَةَ وَالرَّمْيَ وَرُكُوبَ الْخَيْلِ
“Ajarilah anak-anakmu berenang, memanah, dan menunggang kuda.”
Hujjatul islam Imam Al-Ghazali, Di dalam kitab Ihya Ulumuddin menyatakan pentingnya menjaga kesehatan fisik:
أَنَّ الصِّحَّةَ وَالسَّلَامَةَ تَعِينُ عَلَى الدِّينِ وَعَلَى عِبَادَةِ اللَّهِ
“Sesungguhnya kesehatan dan keselamatan fisik itu menopang tegaknya urusan agama dan pelaksanaan ibadah kepada Allah.”
5. Mutsaqqaful Fikri (Berwawasan Luas)
Islam adalah agama ilmu. Berpikir cerdas, rasional, dan memiliki wawasan yang luas mutlak diperlukan agar umat tidak mudah ditipu, mampu menjawab tantangan zaman, serta mengelola bumi (khilafah fil ard) secara bijaksana.
Allah subhana wataala berfirman
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan.” [QS. Al-'Alaq: 1]
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ
“Katakanlah: ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’” [QS. Az-Zumar: 9]
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim.” [HR. Ibnu Majah No. 224, dishahihkan Al-Albani]
Sahabat Nabi li bin Abi Thalib berkata
الْعِلْمُ خَيْرٌ مِنَ الْمَالِ، الْعِلْمُ يَحْرُسُكَ وَأَنْتَ تَحْرُسُ الْمَالِ
“Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu yang akan menjagamu, sedangkan kamulah yang harus menjaga harta.”
Imam Syafi'i berkata :
مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ
“Barangsiapa menghendaki kebahagiaan dunia, wajib baginya memiliki ilmu. Barangsiapa menghendaki akhirat, wajib baginya memiliki ilmu.”
6. Mujahadatun Linafsihi (Melawan Hawa Nafsu)
Musuh terbesar seorang Muslim bukan selalu musuh yang tampak dari luar, melainkan hawa nafsu yang bersemayam di dalam dirinya sendiri. Kunci kemenangan dakwah dan konsistensi iman bersumber dari kemampuan menundukkan syahwat demi ketaatan.
Allah subhana wataala berfirman
وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ * فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ
“Adapun orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari hawa nafsu, maka surgalah tempat tinggalnya.” [QS. An-Nazi'at: 40-41]
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda
الْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي طَاعَةِ اللَّهِ
“Seorang mujahid sejati adalah orang yang berjuang melawan nafsunya dalam ketaatan kepada Allah.” [HR. Ahmad No. 23963, dishahihkan Al-Albani]
Sahabat Nabi Umar bin Khattab RA berkata
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَزِنُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُوزَنُوا
“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab (oleh Allah), dan timbanglah amal kalian sebelum kalian ditimbang.”
Imam Sufyan Ats-Tsauri berkata :
مَا عَالَجْتُ شَيْئًا أَشَدَّ عَلَيَّ مِنْ نَفْسِي، تَطْلُبُ عَلَيَّ وَآخُذُ عَلَيْهَا
“Tidak ada sesuatu yang paling berat aku obati selain nafsuku sendiri; terkadang ia melawanku, dan aku harus keras menundukkannya.”
7. Haritsun 'Ala Waqtihi (Menjaga Waktu)
Waktu adalah modal utama manusia hidup di dunia. Sekali ia berlalu, ia tidak akan pernah kembali. Seorang Muslim sangat menghargai setiap detik usianya untuk diisi dengan amal shalih, karya nyata, serta kontribusi positif.
Allah subhana wataala berfirman
وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ
“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh...” [QS. Al-'Ashr: 1-3]
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“Dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya: kesehatan dan waktu luang.” [HR. Bukhari No. 6412]
Sahabat Nabi bdullah bin Mas'ud RA berkata :
مَا نَدِمْتُ عَلَى شَيْءٍ نَدَمِي عَلَى يَوْمٍ غَرَبَتْ شَمْسُهُ نَقَصَ فِيهِ أَجَلِي وَلَمْ يَزِدْ فِيهِ عَمَلِي
“Aku tidak pernah menyesali sesuatu seperti penyesalanku atas suatu hari yang mataharinya tenggelam, ajalku berkurang di dalamnya, namun amalku tidak bertambah.”
Imam Hasan Al-Bashri berkata:
يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّمَا أَنْتَ أَيَّامٌ، فَإِذَا ذَهَبَ يَوْمٌ ذَهَبَ بَعْضُكَ
“Wahai anak Adam, sesungguhnya kamu hanyalah kump**an hari-hari. Jika satu hari berlalu, maka hilanglah sebagian dari dirimu.”
8. Munazhzhamun fi Syu'unihi (Teratur dalam Urusan)
Kerapian, ketertiban, dan manajemen yang baik adalah ciri dari ajaran Islam. Kebenaran yang tidak terorganisir dengan baik akan mudah dihancurkan oleh kebatilan yang dikelola secara rapi dan profesional.
Allah subhana wataala berfirman
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ
“Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” [QS. Ash-Shaff: 4]
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda
إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ
“Sesungguhnya Allah Ta'ala mencintai jika salah seorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan, ia melakukannya dengan itqan (profesional/rapi/sempurna).” [HR. Thabrani, dishahihkan Al-Albani]
Sahabat Nab li bin Abi Thalib Perkataan beliau yang legendaris:
الْحَقُّ بِلَا نِظَامٍ يَغْلِبُهُ الْبَاطِلُ بِنِظَامٍ
“Kebenaran yang tidak terorganisir dengan rapi akan dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisir.”
Imam Ibnu Qayyim Menjelaskan ketertiban ibadah:
وَشَرَائِعُ الْإِسْلَامِ كُلُّهَا مَبْنِيَّةٌ عَلَى النِّظَامِ وَالتَّرْتِيبِ
“Dan syariat Islam seluruhnya dibangun di atas fondasi keteraturan dan ketertiban.”
9. Qadirun 'Alal Kasbi (Mandiri secara Nafkah)
Kemandirian ekonomi membuat seorang Muslim berwibawa ('izzah). Islam melarang umatnya menjadi beban bagi orang lain atau peminta-minta. Mencari nafkah yang halal nilainya sejajar dengan jihad di jalan Allah.
Allah subhana wataala berfirman
فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ
“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah...” [QS. Al-Jumu'ah: 10]
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda
مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ
“Tidaklah seseorang makan makanan yang lebih baik daripada hasil kerja tangannya sendiri.” [HR. Bukhari No. 2072]
Sahabat Nabi Umar bin Khattab berkata:
لَا يَقْعُدَنَّ أَحَدُكُمْ عَنْ طَلَبِ الرِّزْقِ وَيَقُولُ: اللَّهُمَّ ارْزُقْنِي، وَقَدْ عَلِمَ أَنَّ السَّمَاءَ لَا تُمْطِرُ ذَهَبًا وَلَا فِضَّةً
“Janganlah salah seorang dari kalian duduk berpangku tangan dari mencari rezeki lalu berdoa: ‘Ya Allah berilah aku rezeki’, padahal ia tahu bahwa langit tidak pernah menurunkan hujan emas maupun perak.”
Imam Ibrahim bin Adham berkata: ketika ditanya mengapa beliau bekerja keras memanen ladang:
إِنَّمَا أُرِيدُ صِيَانَةَ وَجْهِي عَنِ النَّاسِ
“Aku melakukan ini semata-mana demi menjaga kehormatan wajahku agar tidak meminta-minta kepada manusia.”
10. Hamilul Qur'an (Mendakwahkan Al-Qur'an)
Seorang Muslim sejati harus menjadi pengemban Al-Qur'an—bukan sekadar membaca dan menghafalnya, melainkan juga menanamkan nilai-nilainya, mendakwahkannya kepada umat, serta menjadikannya sebagai pedoman solusi hidup.
Allah subhana wataala berfirman
يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ
“Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu.” [QS. Al-Maidah: 67]
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” [HR. Bukhari No. 5027]
بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً
“Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat.” [HR. Bukhari No. 3461]
Sahabat Nabi tsman bin Affan
Berkata:
لَوْ طَهُرَتْ قُلُوبُكُمْ مَا شَبِعْتُمْ مِنْ كَلَامِ رَبِّكُمْ
“Seandainya hati kalian bersih, niscaya kalian tidak akan pernah merasa kenyang (puas) dari membaca dan mendakwahkan firman Tuhan kalian.”
Imam Ibnul Jauzi berkata:
تَعْلِيمُ الْقُرْآنِ وَنَشْرُهُ هُوَ أَفْضَلُ الْقُرُبَاتِ إِلَى اللَّهِ
“Mengajarkan Al-Qur'an serta menyebarluaskannya adalah sedekat-dekatnya sarana pendekatan diri kepada Allah.”
11. Thaharatul Khalaq (Bersih Lahir Batin)
Kebersihan diri (fisik, pakaian, lingkungan) serta kesucian jiwa (tazkiyatun nafs) dari riya, ujub, dan penyakit hati adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan seorang hamba Allah.
Allah subhana wataala berfirman
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” [QS. Al-Baqarah: 222]
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda
الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ
“Kesucian (kebersihan) itu adalah setengah dari iman.” [HR. Muslim No. 223]
Sahabat Nabi ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata:
نَقَاءُ الثَّوْبِ وَطَهَارَةُ الْقَلْبِ مِنْ شِيَمِ الْمُؤْمِنِينَ
“Bersihnya pakaian dan sucinya hati merupakan karakter dasar dari orang-orang beriman.”
Hujjatul islam ImamAl-Ghazali berkata: Di dalam kitab Ihya, beliau merinci:
الطَّهَارَةُ لَهَا أَرْبَعُ مَرَاتِبَ، أَوَّلُهَا: تَنْظِيفُ الظَّاهِرِ، وَآخِرُهَا: تَطْهِيرُ السِّرِّ عَمَّا سِوَى اللَّهِ
“Thaharah (bersih) itu ada empat tingkatan; yang pertama adalah membersihkan lahiriah (fisik), dan tingkat tertingginya adalah membersihkan batin dari segala sesuatu selain Allah.”
12. Murabbil Usrah (Mendidik Keluarga)
Keluarga adalah basis terkecil dalam pembentukan masyarakat Islam. Seorang Muslim bertanggung jawab penuh untuk mengedukasi, membimbing, dan memimpin anak istrinya agar kokoh di atas manhaj Islam, bukan membiarkan mereka terseret arus negatif zaman.
Allah berfirman
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Wahai orang-orang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” [QS. At-Tahrim: 6]
Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Kalian semua adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin di tengah keluarganya dan ia bertanggung jawab atas kepemimpinannya.” [HR. Bukhari No. 893]
Sahabat Nabi li bin Abi Thalib RA Menafsirkan ayat “Quu anfusakum wa ahlikum nara”:
عَلِّمُوهُمْ وَأَدِّبُوهُمْ
“Ajarilah mereka (ilmu agama) dan didiklah akhlak mereka.”
Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berkata:
كَمْ مِمَّنْ أَفْسَدَ وَلَدَهُ وَفِلْذَةَ كَبِدِهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ بِإِهْمَالِهِ وَتَرْكِ تَأْدِيبِهِ
“Betapa banyak orang tua yang merusak anaknya, belahan hatinya sendiri, baik di dunia maupun akhirat karena kelalaian mereka dan enggan mendidik akhlaknya.”
13. Salamatus Shadri (Bersih Hati)
Hati yang bersih dari rasa benci, hasad (dengki), dendam, dan su'udzon (buruk sangka) terhadap sesama Muslim adalah tiket utama untuk meraih kebahagiaan hidup di dunia dan keselamatan di akhirat kelak.
Allah berfirman
وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
“...dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sungguh Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang.” [QS. Al-Hasyr: 10]
يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ * إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
“((Yaitu) pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak lagi berguna, kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” [QS. Asy-Syu'ara: 88-89]
Ketika Rasulullah
ditanya tentang manusia yang paling utama, beliau menjawab:
كُلُّ مَخْمُومِ الْقَلْبِ صَدُوقِ اللِّسَانِ، قَالُوا: صَدُوقُ اللِّسَانِ نَعْرِفُهُ، فَمَا مَخْمُومُ الْقَلْبِ؟ قَالَ: هُوَ التَّقِيُّ النَّقِيُّ لَا إِثْمَ فِيهِ وَلَا بَغْيَ وَلَا غِلَّ وَلَا حَسَدَ
“Setiap orang yang makhmumul qalbi (hatinya bersih) dan jujur lisannya. Para sahabat bertanya: 'Jujur lisannya kami sudah tahu, apa itu makhmumul qalbi?' Beliau menjawab: 'Yaitu hati yang bertakwa, bersih, tidak ada dosa, tidak ada kezaliman, tidak ada dendam, dan tidak ada hasad di dalamnya.'” [HR. Ibnu Majah No. 4216, dishahihkan Al-Albani]
Sahabat Nabi Zaid bin Aslam menceritakan kisah Abu Dujanah
ketika menjelang wafatnya, wajahnya tampak berseri-seri. Saat ditanya rahasianya, beliau menjawab:
مَا مِنْ عَمَلِي شَيْءٌ أَوْثَقُ عِنْدِي مِنْ خَصْلَتَيْنِ: كُنْتُ لَا أَتَكَلَّمُ فِيمَا لَا يَعْنِيْنِي، وَكَانَ قَلْبِي لِلْمُسْلِمِينَ سَلِيمًا
“Tidak ada amalku yang paling aku andalkan selain dua perkara: aku tidak pernah berbicara urusan yang tidak penting bagiku, dan hatiku selalu bersih (tanpa dendam) kepada sesama Muslim.”
Imam Sufyan bin Dinar berkata:
قُلْتُ لِأَبِي بِشْرٍ: أَخْبِرْنِي عَنْ أَعْمَالِ مَنْ كَانَ قَبْلَنَا؟ قَالَ: كَانُوا يَعْمَلُونَ يَسِيرًا وَيُؤْجَرُونَ كَثِيرًا، قُلْتُ: وَلِمَ ذَاكَ؟ قَالَ: لِسَلَامَةِ صُدُورِهِمْ
“Aku bertanya kepada Abu Bishr: ‘Ceritakan kepadaku tentang amalan orang-orang sebelum kita?’ Ia menjawab: ‘Mereka beramal sedikit namun pahalanya banyak.’ Aku bertanya: ‘Mengapa bisa demikian?’ Ia menjawab: ‘Karena bersihnya hati mereka.’”
14. Iqtishadun fi Syu'unihi (Hemat Proporsional)
Islam mengajarkan konsep pertengahan (wasathiyah) dalam finansial. Tidak boleh kikir (bakhil) yang menahan hak harta, namun dilarang keras boros (tabdzir) dalam berbelanja hal-hal non-substansial. Hemat membuat hidup berkah.
Allah subhana wataala berfirman
وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا
“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (p**a) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” [QS. Al-Furqan: 67]
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda
مَا عَالَ مَنِ اقْتَصَدَ
“Tidak akan jatuh miskin (menderita) orang yang mau berhemat.” [HR. Ahmad No. 4261, dinilai kuat maknanya]
Sahabat Nabi Umar bin Khattab RA,Ketika melihat anaknya membeli daging karena sedang ingin, beliau menegur:
أَوَكُلَّمَا اشْتَهَيْتَ اشْتَرَيْتَ؟
“Apakah setiap kali kamu menginginkan sesuatu, kamu langsung membelinya?”
Imam Hasan Al-Bashri berkata:
مِنْ عَلَامَةِ الْمُسْلِمِ أَنْ يَكُونَ قَوَّامًا، لَا يُسْرِفُ فِي بَاطِلٍ وَلَا يُقَتِّرُ فِي حَقٍّ
“Di antara tanda seorang Muslim adalah bersikap proporsional; ia tidak boros dalam kebatilan, dan tidak p**a kikir dalam menunaikan hak.”
15. Shalihun li Zamanihi (Relevan dengan Zaman)
Islam bukan agama yang usang. Seorang Muslim harus adaptif, responsif, dan kontekstual dalam membaca situasi zaman tanpa mengorbankan prinsip-prinsip syariat yang baku (tsawabit). Pendekatan dakwah harus menyesuaikan intelektualitas objek dakwah.
Allah berfirman
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” [QS. An-Nahl: 125]
Sahabat Nabi li bin Abi Thalib berkata:
حَدِّثُوا النَّاسَ بِمَا يَعْرِفُونَ، أَتُحِبُّونَ أَنْ يُكَذَّبَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ؟
“Bicaralah kepada manusia sesuai dengan apa yang mereka ketahui (kadar akal mereka). Apakah kalian ingin Allah dan Rasul-Nya didustakan?” [HR. Bukhari No. 127]
Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah Beliau menulis kaidah fikih yang sangat terkenal dalam kitab I'lamul Muwaqqi'in:
تَغَيُّرُ الْفَتْوَى وَاخْتِلَافُهَا بِحَسَبِ تَغَيُّرِ الْأَزْمِنَةِ وَالْأَمْكِنَةِ وَالْأَحْوَالِ وَالنِّيَّاتِ وَالْعَوَائِدِ
“Perubahan dan perbedaan fatwa terjadi disebabkan oleh perubahan zaman, tempat, keadaan, niat, serta adat kebiasaan masyarakat.”
16. Khadimul
Ummah (Pelayan Umat)
Eksistensi seorang Muslim apalagi seorang dai harus bisa memberikan manfaat nyata bagi lingkungan sekitarnya. Karakteristik ini menuntut sikap proaktif dalam meringankan beban sesama, melakukan advokasi sosial, serta gemar menolong tanpa pamrih.
Allah berfirman
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” [QS. Al-Maidah: 2]
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :
أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia lainnya.” [HR. Thabrani, dishahihkan Al-Albani]
سَيِّدُ الْقَوْمِ خَادِمُهُمْ
“Pemimpin suatu kaum adalah pelayan bagi mereka.” [HR. Ibnu Asakir, dinilai hasan lighairihi]
Sahabat Nabi bu Bakar Ash-Shiddiq Saat diangkat menjadi khalifah, ia berpidato:
الضَّعِيفُ فِيكُمْ قَوِيٌّ عِنْدِي حَتَّى أُرِيْحَ عَلَيْهِ حَقَّهُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ
“Orang yang lemah di antara kalian adalah orang yang kuat di pandanganku sampai aku berhasil mengembalikan haknya kepadanya, insya Allah.”
Imam Ibnu Hazm beliau :
أَفْضَلُ نِعَمِ اللَّهِ عَلَى الْعَبْدِ أَنْ يَجْعَلَهُ مَفْزَعًا لِأَصْحَابِ الْحَاجَاتِ
“Sebaik-baik nikmat Allah kepada seorang hamba adalah saat Allah menjadikannya sebagai tempat bersandar (tumpuan) bagi orang-orang yang membutuhkan bantuan.”
17. Rai'dul Hadharah (Pelopor Peradaban)
Seorang dai tidak didesain untuk menjadi pengekor (imma'ah). Puncak dari seluruh profil muwashofat ini adalah lahirnya sosok dai yang visioner, inovatif, dan menjadi lokomotif penggerak kemajuan peradaban dunia di bawah naungan wahyu ilahi.
Allah berfirman
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” [QS. Ali Imran: 110]
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam brsabda:
الْإِسْلَامُ يَعْلُو وَلَا يُعْلَى عَلَيْهِ
“Islam itu tinggi dan tidak ada yang mengungguli katinggiannya.” [HR. Ad-Daraqutni, dishahihkan Al-Albani]
Sahabat Nabi mar bin Khattab RA berkata
نَحْنُ قَوْمٌ أَعَزَّنَا اللَّهُ بِالْإِسْلَامِ، فَمَهْمَا ابْتَغَيْنَا الْعِزَّةَ بِغَيْرِهِ أَذَلَّنَا اللَّهُ
“Kita adalah kaum yang telah Allah muliakan dengan Islam. Maka kapan saja kita mencari kemuliaan dari selain Islam, niscaya Allah akan menghinakan kita.”
Syeikh Muhammad Abduh Menatap kondisi umat modern yang tertinggal akibat abai terhadap nilai agamanya sendiri beliau berkata :
الْإِسْلَامُ مَحْجُوبٌ بِالْمُسْلِمِينَ
“Keagungan Islam itu tertutupi oleh perilaku orang-orang Islam sendiri (yang tidak mempraktikkan ajarannya).”
Diakhir tulisan ini saya mau menyimpulkan bahwa
17 Muwashofat seorang dai yang ideal merupakan satu kesatuan integral (syumuliyatul Islam). Profil ini bermula dari pembersihan internal (Aqidah, Ibadah, Akhlak, Nafsu, Hati), bergerak ke kapasitas diri (Fisik, Wawasan, Waktu, Keteraturan, Finansial, Kebersihan), naik ke skala komunal (Keluarga, Dakwah Al-Qur'an, Pelayanan Umat), hingga akhirnya berujung pada perubahan global (Relevansi Zaman dan Kepeloporan Peradaban).
Mencetak kader dakwah dengan 17 kriteria ini adalah kunci utama mengembalikan kejayaan umat.17 MUWASHOFAT ( KARAKTER) DAI IDEAL
Oleh : Syarifuddin liwang ( Syarli)
Karakter seorang dai yang ideal mencakup aspek spiritual, intelektual, fisik, finansial, sosial, hingga kontribusi global.
pembentukan kepribadian Islam (syakhshiyah islamiyah) terutama seorang dai harus integratif (syamil) dan seimbang (tawazun).
Rasulullah
diutus tidak hanya membawa dogma, melainkan melahirkan sebuah generasi unik (jiilun qur'aniyun farid) yang mewarnai peradaban.
Imam As syahid Hasan Al-Banna menggarisbawahi bahwa perbaikan umat harus dimulai dari perbaikan individu (ishlahul fard). Tanpa adanya individu yang memiliki spesifikasi unggul, cita-cita menegakkan kejayaan Islam (ustadzul 'alam) hanya akan menjadi angan-angan.
Adapun 17 karakter ideal yang harus di miliki seorang adalah :
1. Salimul Aqidah (Aqidah yang Bersih)
Aqidah yang bersih adalah fondasi utama dari seluruh bangunan Islam. Tanpanya, semua amal kebaikan laksana debu yang beterbangan ditiup angin. Aqidah yang salim membebaskan manusia dari penghambaan kepada makhluk menuju penghambaan total kepada Khaliq.
Allah subhana wataala berfirman
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
“Padahal mereka tidak diperintah kecuali agar menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” [QS. Al-Bayyinah: 5]
Rasulullah
bersabda kepada Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma:
إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ
“Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah. Jika kamu memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah.” [HR. Tirmidzi, ia berkata: Hadits Hasan Shahih]
Sahabat Nabi ib'i bin 'Amir Saat berdiri di hadapan panglima Persia, Rustam, ia berkata dengan tegas:
اللَّهُ ابْتَعَثَنَا لِنُخْرِجَ مَنْ شَاءَ مِنْ عِبَادَةِ الْعِبَادِ إِلَى عِبَادَةِ اللَّهِ وَحْدَهُ
“Allah mengutus kami untuk mengeluarkan siapa saja yang Dia kehendaki dari penghambaan kepada sesama hamba menuju penghambaan kepada Allah semata.”
Syekhul islam Ibnu Taimiyah berkata
الْقَلْبُ لَا يَصْلُحُ وَلَا يَفْلَحُ وَلَا يَذْكُو وَلَا يُسَرُّ وَلَا يَلْتَذُّ وَلَا يَطْمَئِنُّ إِلَّا بِعِبَادَةِ رَبِّهِ
“Hati tidak akan baik, tidak akan beruntung, tidak akan suci, tidak akan bahagia, tidak akan merasa nikmat, dan tidak akan tenang kecuali dengan beribadah kepada Tuhannya semata.”
2. Shahihul Ibadah (Ibadah yang Benar)
Ibadah yang benar adalah buah dari aqidah yang lurus. Indikator kebenaran ibadah diukur dari dua syarat mutlak: ikhlas karena Allah dan ittiba’ (mengikuti petunjuk) Rasulullah Tanpa kesesuaian dengan sunnah, ibadah seseorang akan tertolak.
Allah subhana wataala berfirman
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
“Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” [QS. Al-Mulk: 2]
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda
صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي
“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” [HR. Bukhari No. 631]
مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak ada urusannya (perintahnya) dari kami, maka amalan itu tertolak.” [HR. Muslim No. 1718]
Sahabat Nabi bnu Mas'ud berkata :
اِقْتِصَادٌ فِي سُنَّةٍ خَيْرٌ مِنَ اجْتِهَادٍ فِي بِدْعَةٍ
“Sederhana dalam mengamalkan sunnah itu jauh lebih baik daripada bersungguh-sungguh dalam urusan bid'ah.”
Imam Fudhayl bin 'Iyadh, Ketika menafsirkan “Aymuhum ahsanu 'amala” (amal terbaik), beliau berkata:
أَخْلَصُهُ وَأَصْوَبُهُ، فَإِنَّ الْعَمَلَ إِذَا كَانَ خَالِصًا وَلَمْ يَكُنْ صَوَابًا لَمْ يُقْبَلْ، وَإِذَا كَانَ صَوَابًا وَلَمْ يَكُنْ خَالِصًا لَمْ يُقْبَلْ حَتَّى يَكُونَ خَالِصًا صَوَابًا
“Yang paling ikhlas dan yang paling benar. Sesungguhnya amal jika ikhlas tapi tidak benar, tidak diterima. Jika benar tapi tidak ikhlas, juga tidak diterima. Sampai amal itu dilakukan dengan ikhlas dan benar (sesuai sunnah).”
3. Matinul Khuluq (Akhlak yang Kokoh)
Akhlak adalah cerminan dari iman yang ada di dalam dada. Islam bukan sekadar hubungan vertikal antara hamba dan Pencipta, melainkan juga hubungan horizontal yang dihiasi dengan keluhuran budi pekerti. Rasulullah
menegaskan misi utamanya adalah menyempurnakan akhlak manusia.
Allah berfirman
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.” [QS. Al-Qalam: 4]
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ
“Sesungguhnya aku diutus tidak lain kecuali untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” [HR. Ahmad No. 8952, dishahihkan Al-Albani]
Sahabat Nabi nas bin Malik : Menggambarkan karakter Nabi
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْسَنَ النَّاسِ خُلُقًا
“Rasulullah صلى الله عليه وسلم adalah manusia yang paling baik akhlaknya.” [HR. Bukhari & Muslim]
Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah berkata :
الدِّينُ كُلُّهُ خُلُقٌ، فَمَنْ زَادَ عَلَيْكَ فِي الْخُلُقِ زَادَ عَلَيْكَ فِي الدِّينِ
“Agama ini seluruhnya adalah akhlak. Barangsiapa yang mengunggulimu dalam akhlak, maka dia telah mengunggulimu dalam beragama.”
4. Qawiyyul Jismi (Tubuh yang Kuat)
Seorang Muslim dituntut memiliki fisik yang prima demi menunjang pelaksanaan ibadah (seperti shalat, puasa, dan haji) serta jihad di jalan Allah. Tubuh yang kuat bukan untuk kesombongan, melainkan sarana mengabdi lebih optimal kepada Islam.
Allah subhana wataala berfirman
وَزَادَهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ
“...dan Allah memberikan kelebihan kepadanya (Thalut) dalam ilmu dan fisik.” [QS. Al-Baqarah: 247]
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah; dan pada masing-masingnya terdapat kebaikan.” [HR. Muslim No. 2664]
Sahabat Nabi mar bin Khattab RA , pernah menulis surat kepada penduduk Syam:
عَلِّمُوا أَوْلَادَكُمُ السِّبَاحَةَ وَالرَّمْيَ وَرُكُوبَ الْخَيْلِ
“Ajarilah anak-anakmu berenang, memanah, dan menunggang kuda.”
Hujjatul islam Imam Al-Ghazali, Di dalam kitab Ihya Ulumuddin menyatakan pentingnya menjaga kesehatan fisik:
أَنَّ الصِّحَّةَ وَالسَّلَامَةَ تَعِينُ عَلَى الدِّينِ وَعَلَى عِبَادَةِ اللَّهِ
“Sesungguhnya kesehatan dan keselamatan fisik itu menopang tegaknya urusan agama dan pelaksanaan ibadah kepada Allah.”
5. Mutsaqqaful Fikri (Berwawasan Luas)
Islam adalah agama ilmu. Berpikir cerdas, rasional, dan memiliki wawasan yang luas mutlak diperlukan agar umat tidak mudah ditipu, mampu menjawab tantangan zaman, serta mengelola bumi (khilafah fil ard) secara bijaksana.
Allah subhana wataala berfirman
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan.” [QS. Al-'Alaq: 1]
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ
“Katakanlah: ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’” [QS. Az-Zumar: 9]
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim.” [HR. Ibnu Majah No. 224, dishahihkan Al-Albani]
Sahabat Nabi li bin Abi Thalib berkata
الْعِلْمُ خَيْرٌ مِنَ الْمَالِ، الْعِلْمُ يَحْرُسُكَ وَأَنْتَ تَحْرُسُ الْمَالِ
“Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu yang akan menjagamu, sedangkan kamulah yang harus menjaga harta.”
Imam Syafi'i berkata :
مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ
“Barangsiapa menghendaki kebahagiaan dunia, wajib baginya memiliki ilmu. Barangsiapa menghendaki akhirat, wajib baginya memiliki ilmu.”
6. Mujahadatun Linafsihi (Melawan Hawa Nafsu)
Musuh terbesar seorang Muslim bukan selalu musuh yang tampak dari luar, melainkan hawa nafsu yang bersemayam di dalam dirinya sendiri. Kunci kemenangan dakwah dan konsistensi iman bersumber dari kemampuan menundukkan syahwat demi ketaatan.
Allah subhana wataala berfirman
وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ * فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ
“Adapun orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari hawa nafsu, maka surgalah tempat tinggalnya.” [QS. An-Nazi'at: 40-41]
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda
الْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي طَاعَةِ اللَّهِ
“Seorang mujahid sejati adalah orang yang berjuang melawan nafsunya dalam ketaatan kepada Allah.” [HR. Ahmad No. 23963, dishahihkan Al-Albani]
Sahabat Nabi Umar bin Khattab RA berkata
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَزِنُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُوزَنُوا
“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab (oleh Allah), dan timbanglah amal kalian sebelum kalian ditimbang.”
Imam Sufyan Ats-Tsauri berkata :
مَا عَالَجْتُ شَيْئًا أَشَدَّ عَلَيَّ مِنْ نَفْسِي، تَطْلُبُ عَلَيَّ وَآخُذُ عَلَيْهَا
“Tidak ada sesuatu yang paling berat aku obati selain nafsuku sendiri; terkadang ia melawanku, dan aku harus keras menundukkannya.”
7. Haritsun 'Ala Waqtihi (Menjaga Waktu)
Waktu adalah modal utama manusia hidup di dunia. Sekali ia berlalu, ia tidak akan pernah kembali. Seorang Muslim sangat menghargai setiap detik usianya untuk diisi dengan amal shalih, karya nyata, serta kontribusi positif.
Allah subhana wataala berfirman
وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ
“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh...” [QS. Al-'Ashr: 1-3]
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“Dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya: kesehatan dan waktu luang.” [HR. Bukhari No. 6412]
Sahabat Nabi bdullah bin Mas'ud RA berkata :
مَا نَدِمْتُ عَلَى شَيْءٍ نَدَمِي عَلَى يَوْمٍ غَرَبَتْ شَمْسُهُ نَقَصَ فِيهِ أَجَلِي وَلَمْ يَزِدْ فِيهِ عَمَلِي
“Aku tidak pernah menyesali sesuatu seperti penyesalanku atas suatu hari yang mataharinya tenggelam, ajalku berkurang di dalamnya, namun amalku tidak bertambah.”
Imam Hasan Al-Bashri berkata:
يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّمَا أَنْتَ أَيَّامٌ، فَإِذَا ذَهَبَ يَوْمٌ ذَهَبَ بَعْضُكَ
“Wahai anak Adam, sesungguhnya kamu hanyalah kump**an hari-hari. Jika satu hari berlalu, maka hilanglah sebagian dari dirimu.”
8. Munazhzhamun fi Syu'unihi (Teratur dalam Urusan)
Kerapian, ketertiban, dan manajemen yang baik adalah ciri dari ajaran Islam. Kebenaran yang tidak terorganisir dengan baik akan mudah dihancurkan oleh kebatilan yang dikelola secara rapi dan profesional.
Allah subhana wataala berfirman
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ
“Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” [QS. Ash-Shaff: 4]
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda
إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ
“Sesungguhnya Allah Ta'ala mencintai jika salah seorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan, ia melakukannya dengan itqan (profesional/rapi/sempurna).” [HR. Thabrani, dishahihkan Al-Albani]
Sahabat Nab li bin Abi Thalib Perkataan beliau yang legendaris:
الْحَقُّ بِلَا نِظَامٍ يَغْلِبُهُ الْبَاطِلُ بِنِظَامٍ
“Kebenaran yang tidak terorganisir dengan rapi akan dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisir.”
Imam Ibnu Qayyim Menjelaskan ketertiban ibadah:
وَشَرَائِعُ الْإِسْلَامِ كُلُّهَا مَبْنِيَّةٌ عَلَى النِّظَامِ وَالتَّرْتِيبِ
“Dan syariat Islam seluruhnya dibangun di atas fondasi keteraturan dan ketertiban.”
9. Qadirun 'Alal Kasbi (Mandiri secara Nafkah)
Kemandirian ekonomi membuat seorang Muslim berwibawa ('izzah). Islam melarang umatnya menjadi beban bagi orang lain atau peminta-minta. Mencari nafkah yang halal nilainya sejajar dengan jihad di jalan Allah.
Allah subhana wataala berfirman
فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ
“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah...” [QS. Al-Jumu'ah: 10]
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda
مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ
“Tidaklah seseorang makan makanan yang lebih baik daripada hasil kerja tangannya sendiri.” [HR. Bukhari No. 2072]
Sahabat Nabi Umar bin Khattab berkata:
لَا يَقْعُدَنَّ أَحَدُكُمْ عَنْ طَلَبِ الرِّزْقِ وَيَقُولُ: اللَّهُمَّ ارْزُقْنِي، وَقَدْ عَلِمَ أَنَّ السَّمَاءَ لَا تُمْطِرُ ذَهَبًا وَلَا فِضَّةً
“Janganlah salah seorang dari kalian duduk berpangku tangan dari mencari rezeki lalu berdoa: ‘Ya Allah berilah aku rezeki’, padahal ia tahu bahwa langit tidak pernah menurunkan hujan emas maupun perak.”
Imam Ibrahim bin Adham berkata: ketika ditanya mengapa beliau bekerja keras memanen ladang:
إِنَّمَا أُرِيدُ صِيَانَةَ وَجْهِي عَنِ النَّاسِ
“Aku melakukan ini semata-mana demi menjaga kehormatan wajahku agar tidak meminta-minta kepada manusia.”
10. Hamilul Qur'an (Mendakwahkan Al-Qur'an)
Seorang Muslim sejati harus menjadi pengemban Al-Qur'an—bukan sekadar membaca dan menghafalnya, melainkan juga menanamkan nilai-nilainya, mendakwahkannya kepada umat, serta menjadikannya sebagai pedoman solusi hidup.
Allah subhana wataala berfirman
يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ
“Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu.” [QS. Al-Maidah: 67]
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” [HR. Bukhari No. 5027]
بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً
“Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat.” [HR. Bukhari No. 3461]
Sahabat Nabi tsman bin Affan
Berkata:
لَوْ طَهُرَتْ قُلُوبُكُمْ مَا شَبِعْتُمْ مِنْ كَلَامِ رَبِّكُمْ
“Seandainya hati kalian bersih, niscaya kalian tidak akan pernah merasa kenyang (puas) dari membaca dan mendakwahkan firman Tuhan kalian.”
Imam Ibnul Jauzi berkata:
تَعْلِيمُ الْقُرْآنِ وَنَشْرُهُ هُوَ أَفْضَلُ الْقُرُبَاتِ إِلَى اللَّهِ
“Mengajarkan Al-Qur'an serta menyebarluaskannya adalah sedekat-dekatnya sarana pendekatan diri kepada Allah.”
11. Thaharatul Khalaq (Bersih Lahir Batin)
Kebersihan diri (fisik, pakaian, lingkungan) serta kesucian jiwa (tazkiyatun nafs) dari riya, ujub, dan penyakit hati adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan seorang hamba Allah.
Allah subhana wataala berfirman
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” [QS. Al-Baqarah: 222]
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda
الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ
“Kesucian (kebersihan) itu adalah setengah dari iman.” [HR. Muslim No. 223]
Sahabat Nabi ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata:
نَقَاءُ الثَّوْبِ وَطَهَارَةُ الْقَلْبِ مِنْ شِيَمِ الْمُؤْمِنِينَ
“Bersihnya pakaian dan sucinya hati merupakan karakter dasar dari orang-orang beriman.”
Hujjatul islam ImamAl-Ghazali berkata: Di dalam kitab Ihya, beliau merinci:
الطَّهَارَةُ لَهَا أَرْبَعُ مَرَاتِبَ، أَوَّلُهَا: تَنْظِيفُ الظَّاهِرِ، وَآخِرُهَا: تَطْهِيرُ السِّرِّ عَمَّا سِوَى اللَّهِ
“Thaharah (bersih) itu ada empat tingkatan; yang pertama adalah membersihkan lahiriah (fisik), dan tingkat tertingginya adalah membersihkan batin dari segala sesuatu selain Allah.”
12. Murabbil Usrah (Mendidik Keluarga)
Keluarga adalah basis terkecil dalam pembentukan masyarakat Islam. Seorang Muslim bertanggung jawab penuh untuk mengedukasi, membimbing, dan memimpin anak istrinya agar kokoh di atas manhaj Islam, bukan membiarkan mereka terseret arus negatif zaman.
Allah berfirman
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Wahai orang-orang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” [QS. At-Tahrim: 6]
Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Kalian semua adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin di tengah keluarganya dan ia bertanggung jawab atas kepemimpinannya.” [HR. Bukhari No. 893]
Sahabat Nabi li bin Abi Thalib RA Menafsirkan ayat “Quu anfusakum wa ahlikum nara”:
عَلِّمُوهُمْ وَأَدِّبُوهُمْ
“Ajarilah mereka (ilmu agama) dan didiklah akhlak mereka.”
Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berkata:
كَمْ مِمَّنْ أَفْسَدَ وَلَدَهُ وَفِلْذَةَ كَبِدِهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ بِإِهْمَالِهِ وَتَرْكِ تَأْدِيبِهِ
“Betapa banyak orang tua yang merusak anaknya, belahan hatinya sendiri, baik di dunia maupun akhirat karena kelalaian mereka dan enggan mendidik akhlaknya.”
13. Salamatus Shadri (Bersih Hati)
Hati yang bersih dari rasa benci, hasad (dengki), dendam, dan su'udzon (buruk sangka) terhadap sesama Muslim adalah tiket utama untuk meraih kebahagiaan hidup di dunia dan keselamatan di akhirat kelak.
Allah berfirman
وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
“...dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sungguh Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang.” [QS. Al-Hasyr: 10]
يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ * إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
“((Yaitu) pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak lagi berguna, kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” [QS. Asy-Syu'ara: 88-89]
Ketika Rasulullah
ditanya tentang manusia yang paling utama, beliau menjawab:
كُلُّ مَخْمُومِ الْقَلْبِ صَدُوقِ اللِّسَانِ، قَالُوا: صَدُوقُ اللِّسَانِ نَعْرِفُهُ، فَمَا مَخْمُومُ الْقَلْبِ؟ قَالَ: هُوَ التَّقِيُّ النَّقِيُّ لَا إِثْمَ فِيهِ وَلَا بَغْيَ وَلَا غِلَّ وَلَا حَسَدَ
“Setiap orang yang makhmumul qalbi (hatinya bersih) dan jujur lisannya. Para sahabat bertanya: 'Jujur lisannya kami sudah tahu, apa itu makhmumul qalbi?' Beliau menjawab: 'Yaitu hati yang bertakwa, bersih, tidak ada dosa, tidak ada kezaliman, tidak ada dendam, dan tidak ada hasad di dalamnya.'” [HR. Ibnu Majah No. 4216, dishahihkan Al-Albani]
Sahabat Nabi Zaid bin Aslam menceritakan kisah Abu Dujanah
ketika menjelang wafatnya, wajahnya tampak berseri-seri. Saat ditanya rahasianya, beliau menjawab:
مَا مِنْ عَمَلِي شَيْءٌ أَوْثَقُ عِنْدِي مِنْ خَصْلَتَيْنِ: كُنْتُ لَا أَتَكَلَّمُ فِيمَا لَا يَعْنِيْنِي، وَكَانَ قَلْبِي لِلْمُسْلِمِينَ سَلِيمًا
“Tidak ada amalku yang paling aku andalkan selain dua perkara: aku tidak pernah berbicara urusan yang tidak penting bagiku, dan hatiku selalu bersih (tanpa dendam) kepada sesama Muslim.”
Imam Sufyan bin Dinar berkata:
قُلْتُ لِأَبِي بِشْرٍ: أَخْبِرْنِي عَنْ أَعْمَالِ مَنْ كَانَ قَبْلَنَا؟ قَالَ: كَانُوا يَعْمَلُونَ يَسِيرًا وَيُؤْجَرُونَ كَثِيرًا، قُلْتُ: وَلِمَ ذَاكَ؟ قَالَ: لِسَلَامَةِ صُدُورِهِمْ
“Aku bertanya kepada Abu Bishr: ‘Ceritakan kepadaku tentang amalan orang-orang sebelum kita?’ Ia menjawab: ‘Mereka beramal sedikit namun pahalanya banyak.’ Aku bertanya: ‘Mengapa bisa demikian?’ Ia menjawab: ‘Karena bersihnya hati mereka.’”
14. Iqtishadun fi Syu'unihi (Hemat Proporsional)
Islam mengajarkan konsep pertengahan (wasathiyah) dalam finansial. Tidak boleh kikir (bakhil) yang menahan hak harta, namun dilarang keras boros (tabdzir) dalam berbelanja hal-hal non-substansial. Hemat membuat hidup berkah.
Allah subhana wataala berfirman
وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا
“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (p**a) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” [QS. Al-Furqan: 67]
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda
مَا عَالَ مَنِ اقْتَصَدَ
“Tidak akan jatuh miskin (menderita) orang yang mau berhemat.” [HR. Ahmad No. 4261, dinilai kuat maknanya]
Sahabat Nabi Umar bin Khattab RA,Ketika melihat anaknya membeli daging karena sedang ingin, beliau menegur:
أَوَكُلَّمَا اشْتَهَيْتَ اشْتَرَيْتَ؟
“Apakah setiap kali kamu menginginkan sesuatu, kamu langsung membelinya?”
Imam Hasan Al-Bashri berkata:
مِنْ عَلَامَةِ الْمُسْلِمِ أَنْ يَكُونَ قَوَّامًا، لَا يُسْرِفُ فِي بَاطِلٍ وَلَا يُقَتِّرُ فِي حَقٍّ
“Di antara tanda seorang Muslim adalah bersikap proporsional; ia tidak boros dalam kebatilan, dan tidak p**a kikir dalam menunaikan hak.”
15. Shalihun li Zamanihi (Relevan dengan Zaman)
Islam bukan agama yang usang. Seorang Muslim harus adaptif, responsif, dan kontekstual dalam membaca situasi zaman tanpa mengorbankan prinsip-prinsip syariat yang baku (tsawabit). Pendekatan dakwah harus menyesuaikan intelektualitas objek dakwah.
Allah berfirman
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” [QS. An-Nahl: 125]
Sahabat Nabi li bin Abi Thalib berkata:
حَدِّثُوا النَّاسَ بِمَا يَعْرِفُونَ، أَتُحِبُّونَ أَنْ يُكَذَّبَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ؟
“Bicaralah kepada manusia sesuai dengan apa yang mereka ketahui (kadar akal mereka). Apakah kalian ingin Allah dan Rasul-Nya didustakan?” [HR. Bukhari No. 127]
Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah Beliau menulis kaidah fikih yang sangat terkenal dalam kitab I'lamul Muwaqqi'in:
تَغَيُّرُ الْفَتْوَى وَاخْتِلَافُهَا بِحَسَبِ تَغَيُّرِ الْأَزْمِنَةِ وَالْأَمْكِنَةِ وَالْأَحْوَالِ وَالنِّيَّاتِ وَالْعَوَائِدِ
“Perubahan dan perbedaan fatwa terjadi disebabkan oleh perubahan zaman, tempat, keadaan, niat, serta adat kebiasaan masyarakat.”
16. Khadimul
Ummah (Pelayan Umat)
Eksistensi seorang Muslim apalagi seorang dai harus bisa memberikan manfaat nyata bagi lingkungan sekitarnya. Karakteristik ini menuntut sikap proaktif dalam meringankan beban sesama, melakukan advokasi sosial, serta gemar menolong tanpa pamrih.
Allah berfirman
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” [QS. Al-Maidah: 2]
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :
أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia lainnya.” [HR. Thabrani, dishahihkan Al-Albani]
سَيِّدُ الْقَوْمِ خَادِمُهُمْ
“Pemimpin suatu kaum adalah pelayan bagi mereka.” [HR. Ibnu Asakir, dinilai hasan lighairihi]
Sahabat Nabi bu Bakar Ash-Shiddiq Saat diangkat menjadi khalifah, ia berpidato:
الضَّعِيفُ فِيكُمْ قَوِيٌّ عِنْدِي حَتَّى أُرِيْحَ عَلَيْهِ حَقَّهُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ
“Orang yang lemah di antara kalian adalah orang yang kuat di pandanganku sampai aku berhasil mengembalikan haknya kepadanya, insya Allah.”
Imam Ibnu Hazm beliau :
أَفْضَلُ نِعَمِ اللَّهِ عَلَى الْعَبْدِ أَنْ يَجْعَلَهُ مَفْزَعًا لِأَصْحَابِ الْحَاجَاتِ
“Sebaik-baik nikmat Allah kepada seorang hamba adalah saat Allah menjadikannya sebagai tempat bersandar (tumpuan) bagi orang-orang yang membutuhkan bantuan.”
17. Rai'dul Hadharah (Pelopor Peradaban)
Seorang dai tidak didesain untuk menjadi pengekor (imma'ah). Puncak dari seluruh profil muwashofat ini adalah lahirnya sosok dai yang visioner, inovatif, dan menjadi lokomotif penggerak kemajuan peradaban dunia di bawah naungan wahyu ilahi.
Allah berfirman
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” [QS. Ali Imran: 110]
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam brsabda:
الْإِسْلَامُ يَعْلُو وَلَا يُعْلَى عَلَيْهِ
“Islam itu tinggi dan tidak ada yang mengungguli katinggiannya.” [HR. Ad-Daraqutni, dishahihkan Al-Albani]
Sahabat Nabi mar bin Khattab RA berkata
نَحْنُ قَوْمٌ أَعَزَّنَا اللَّهُ بِالْإِسْلَامِ، فَمَهْمَا ابْتَغَيْنَا الْعِزَّةَ بِغَيْرِهِ أَذَلَّنَا اللَّهُ
“Kita adalah kaum yang telah Allah muliakan dengan Islam. Maka kapan saja kita mencari kemuliaan dari selain Islam, niscaya Allah akan menghinakan kita.”
Syeikh Muhammad Abduh Menatap kondisi umat modern yang tertinggal akibat abai terhadap nilai agamanya sendiri beliau berkata :
الْإِسْلَامُ مَحْجُوبٌ بِالْمُسْلِمِينَ
“Keagungan Islam itu tertutupi oleh perilaku orang-orang Islam sendiri (yang tidak mempraktikkan ajarannya).”
Diakhir tulisan ini saya mau menyimpulka