20/05/2023
Ada hal yang kami (*admin) anggap bukan lagi main-main, yaitu tentang tindakan yang terlalu sering menyepelekan adab dan atau etika. memang sebenarnya bangsa ini adalah bangsa yang penuh dengan kesopan santunan, tapi tak sedikit juga orang yang memilih 'benar' ketimbang 'sopan' (?) bahkan menyamakan keduanya (?).
Jika salah, tolong koreksinya bahwa: "Kedua istilah tersebut tidak berada pada dimensi yang sama". Sebuah kebenaran itu adalah materi, sedangkan kesopanan adalah nilai. Kesopanan merupakan salah satu dari adab yang kedudukannya jauh lebih tinggi dari pada “benar”. bisa dipahami sampai sini ya.. jadi, jangan pernah menganggap bahwa benar dan sopan itu berada pada satu dimensi yang sama (jelas sekali berbeda).
Bijaklah, bahwa tidak ada yang tidak benar jika adab yang lebih dikedepankan. Sebaliknya, kebenaran apapun yang diperoleh namun dengan mengedepankan “kebencian”, misalnya (tentu tidak beretika), maka hanya akan menimbulkan masalah. Ini hanya contoh: jika seseorang yang kemudian uangnya dirampas, maka membolehkan dirinya melakukan apapun untuk mengambil kembali uang yang merupakan haknya, sekalipun itu dengan kekerasan; Atau, seseorang membolehkan dirinya mencuri karena keluarganya kelaparan; Atau, siapa saja membolehkan dirinya memaki dan mengolok-olok seseorang lain atas kebebasan berpendapat dan berekspresi. Kondisi berfikir seperti itu yang harus disaring terhadap pola fikir kritis zaman modern ini, agar contoh seperti itu tidak kemudian menjadi pembenaran.
Apalagi Indonesia bukanlah negara penganut faham liberal, yang memiliki kebebasan tanpa adanya batasan. Karena itulah terdapat aspek-aspek hukum yang menjadi pedoman sebuah aturan yang kemudian diberlakukan. Apa jadinya jika tidak ada? tentu seseorang lama-kelamaan akan dengan santainya memperbolehkan perilaku s*x bebas, minum-minuman beralkohol atau juga berjudi, mengatasnamakan kebebasan dan juga hak asasi manusia. Kira-kira boleh tidak? misalnya juga dengan berdasar pada ketidakpercayaannya kepada pemimpin lalu buatlah drama perjuangan bahkan dengan cara adu domba pemerintah yang satu dengan lainnya, masyarakat satu dengan lainnya, memaki, menjelek-jelekkan, guna membela rakyat kecil, boleh tidak? misalnya.
Dalam Al-Qur'an pun terdapat banyak penjelasan ataupun contoh mengenai adab berupa perintah Allah SWT kepada para nabi-NYA (*Admin membacanya dari penggunaan bahasa yang digunakan). seperti kisah kritikan yang disampaikan seekor burung kecil dalam (QS. An-Naml: 22) bernama hud-hud, kepada Nabi Sulaiman tentang hal yang tidak diketahuinya sedang pengetahuan itu ada pada burung tersebut; Nabi Ibrahim ketika mengktirik kesalahan dan kekeliruan ayahnya, sekaligus memberikan saran untuk perubahan ke arah yang lebih baik (QS. Maryam: 41-43); rangkaian kisah Nabi Musa berguru kepada Nabi Khidir (QS. Al-Kahfi: 71-77) Nabi Khidir mengajak Nabi Musa melakukan perjalanan dengan syarat tidak boleh bertanya apapun yang dilakukanya sepanjang perjalananan; dan masih banyak lagi yang bisa dijadikan pedoman kita di dalam Al-Qur'an, mengutarakan kritikan dengan menggunakan adab, bahasa yang sopan, santun, serta tidak terkesan menggurui, merendahkan pihak lain atau lebih lagi telah mencemarkan nama baik (*Arti yang terkandung dalam surat bisa diartikan sendiri dengan melihat terjemahannya, lebih bagus lagi dengan bimbingan guru yang memahami ayat tersebut diatas).
Marilah kita saling mengingatkan kembali, bahwa; adab memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan kita, di dunia ini memanglah tidak ada manusia yang sempurna, setiap orang pasti punya kelemahan dan kekurangan. Akan tetapi, di balik kelemahan dan kekurangan yang dimiliki seseorang, pastilah dia memiliki kelebihan yang mungkin tidak dimiliki orang lain. Kekurangan dan kelebihan yang dimiliki seseorang bukanlah untuk tujuan saling merendahkan, saling mengejek, saling menjatuhkan dan sebagainya. Akan tetapi, bagaimana dengan kelebihan dan kekurangan itu bisa hidup saling memberi dan menerima, saling melengkapi satu dengan lainnya.
Untuk itu,
JANGAN ANGGAP SEPELE TENTANG ADAB