24/07/2026
“Katakanlah:
“Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan di kembalikan kepada (Allooh), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
( QS.Al-Juma’ah :8)
Kematian merupakan realitas yang tidak dapat di hindari, dan tugas kita sebagai manusia adalah menjalankan peran ke kholifa'an dengan sebaik-baiknya dan mengabdi kepada Sang Kholiq secara maksimal dan optimal.
Dalam Al-Qur’an Allooh SWT berfirman dalam QS Azzariat:56:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.
(Adz-Dzaariyat: 56)
Pembahasan tentang persiapan untuk akhirat ini memberikan landasan bahwa kehidupan di dunia ini adalah persiapan untuk kehidupan setelah mati.
Hadits Nabi Muhammad SAW juga menguatkan hal ini.
Rosulullooh bersabda :
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ ». يَعْنِى الْمَوْتَ.
“Rosulullooh shollolloohu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan, yaitu kematian.
(HR. Tirmidzi)
Begitu juga dengan wasiat sahabat Umar bin Khottob RA memberikan contoh yang baik dalam kepemimpinannya.
Salah satu wasiatnya yang terkenal adalah tentang ke adilan.
Beliau bersabda:
“Peliharalah hak orang-orang yang lemah agar mereka tidak di cabut oleh orang-orang yang kuat.
Ingatlah bahwa kalian semua akan bertemu dengan Allooh dan di ampuni dosa-dosa kalian, kecuali dosa-dosa yang melibatkan hak-hak orang lain.
Kewajiban menunaikan hak-hak itu akan di putuskan di sana dan orang yang teraniaya akan mendapat haknya.
(Ibn Abi Shaybah)
Wasiat-wasiat ini memberikan sistematisasi pada pemahaman kita tentang persiapan menjelang kematian dan kehidupan akhirat.
Memanfa'atkan potensi dan keberhasilan dunia ini untuk menciptakan kemaslahatan umat adalah bagian dari tanggung jawab sebagai kholifah.
Menjadi muslim yang cerdas berarti berupaya memenuhi tugas ini dan mendekatkan diri pada Allooh dengan amal yang bermanfa'at bagi sesama serta menghindari dosa dan kejahatan.
Ini sejalan dengan prinsip ke kholifa'an dan memperkuat jalan menuju kesuksesan di dunia dan akhirat.
Karena jika kematian datang dan menghampiri seseorang tidak ada satu manusia pun yang dapat menghindarinya walaupun berlindung di balik jeruji besi atau dinding yang kokoh sekalipun.
Allooh SWT menegaskan dalam QS. An-Nisa :78
أَيْنَمَا تَكُونُوا۟ يُدْرِككُّمُ ٱلْمَوْتُ وَلَوْ كُنتُمْ فِى بُرُوجٍ مُّشَيَّدَةٍ
“Di mana saja kamu berada kematian akan mendapatkan kamu kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh…
Pada dasarnya kematian adalah takdir seluruh makhluk manusia ataupun jin hewan ataupun makhluk-makhluk lain baik lelaki atau perempuan tua ataupun muda baik orang sehat ataupun sakit.
Seperti dalam firman Allooh Ta’ala QS. Ali Imron :
كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ ۖ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ ٱلنَّارِ وَأُدْخِلَ ٱلْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلْغُرُورِ
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah di sempurnakan pahalamu.
Barang siapa di jauhkan dari neraka dan di masukkan ke dalam surga maka sungguh ia telah beruntung.
Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.
Semua yang bernyawa pasti akan mati sesuai ajalnya atas izin takdir dan ketetapan-Nya.
Siapapun yang di takdirkan mati pasti akan mati meski tanpa sebab dan siapapun yang di kehendaki tetap hidup pasti akan hidup. Dan sebab apapun yang datang menghampiri tidak akan membahayakan yang bersangkutan sebelum ajalnya tiba karena Allooh Ta’ala telah menetapkan dan menakdirkannya hingga batas waktu yang telah di tentukan.
Tidak ada satupun umat yang melampaui batas waktu yang telah di tentukan.
Ibnu Utsaimin rohimahullooh berkata:
“Renungkanlah wahai manusia (sebenarnya) kamu akan dapati dirimu dalam bahaya karena kematian tidak ada batas waktu yang kita ketahui terkadang seorang manusia keluar dari rumahnya dan tidak kembali kepadanya (karena mati) terkadang manusia duduk di atas kursi kantornya dan tidak bisa bangun lagi (karena mati) terkadang seorang manusia tidur di atas kasurnya akan tetapi dia malah di bawa dari kasurnya ke tempat pemandian mayatnya (karena mati).
Hal ini merupakan sebuah perkara yang mewajibkan kita untuk menggunakan sebaiknya kesempatan umur, dengan thaubat kepada Allooh Azza wa Jalla. Dan sudah sepantasnya manusia selalu merasa dirinya berthaubat, kembali, menghadap kepada Allooh sehingga datang ajalnya dan dia dalam sebaik-baiknya ke ada'an yang di inginkan.
(Lihat Majmu’ fatawa wa Rasa-il Ibnu Utsaimin, 8/474).
Berdasarkan hadist riwayat Ahmad Rosulullooh SAW bersabda:
“Mati mendadak suatu kesenangan bagi seorang mu'min dan penyesalan bagi orang durhaka.
Hadist tentang kematian bisa datang kapan saja tanpa di duga ini mengartikan seorang mu'min sudah mempunyai bekal dan persiapan dalam menghadapi maut setiap sa'at sedangkan orang durhaka tidak.
Berbekallah dan sungguh sebaik-baik bekal taqwa semoga kita semua menjadi orang-orang pilihan Allooh SWT untuk menginjakan kaki di surga-NYA.
Perbaiki diri dan perbanyak amalan-amalan maka kelak kita akan selalu di jalan Allooh SWT.
Sebaik-baik bekal untuk perjalanan ke akhirat adalah taqwa yang berarti “menjadikan pelindung antara diri seorang hamba dengan siksa'an dan kemurkaan Allooh yang di khawatirkan akan menimpanya yaitu (dengan) melakukan keta'atan dan menjauhi perbuatan maksiat kepada-Nya.
(Ucapan Imam Ibnu Rajab dalam kitab Jaami’ul ‘Uluumi Wal Hikam (hal. 196)).
Maka balasan akhir yang baik hanyalah Allooh peruntukkan bagi orang-orang yang bertaqwa dan membekali dirinya dengan keta'atan kepada-Nya serta menjauhi perbuatan yang menyimpang dari agama-Nya.
Balasan akhir yang baik (yaitu Surga) bagi orang-orang yang beriman dan berserah diri.
Selain dari beberapa ayat di atas berikut beberapa informasi penting menurut Hadist atau Sunnah Nabi Muhammad SAW. terkait kematian dan hal yang perlu di persiapkan dalam menghadapinya :
1. Kematian bisa datang kapan saja
Kematian bisa menghampiri kapan pun dan tidak akan pernah keliru dalam hitungannya.
Maka dari itu jauhilah perbuatan dosa dari kesyirikan bid’ah dan maksiat lainnya. Ibnu Utsaimin rohimahullooh berkata:
“Renungkanlah wahai manusia (sebenarnya) kamu akan dapati dirimu dalam bahaya karena kematian tidak ada batas waktu yang kita ketahui terkadang seorang manusia keluar dari rumahnya dan tidak kembali kepadanya (karena mati) terkadang manusia duduk di atas kursi kantornya dan tidak bisa bangun lagi (karena mati) terkadang seorang manusia tidur di atas kasurnya akan tetapi dia malah di bawa dari kasurnya ke tempat pemandian mayatnya (karena mati).
Hal ini merupakan sebuah perkara yang mewajibkan kita untuk menggunakan sebaiknya kesempatan umur dengan thobat kepada Allooh Azza wa Jalla. Dan sudah sepantasnya manusia selalu merasa dirinya berthobat kembali menghadap kepada Allooh sehingga datang ajalnya dan dia dalam sebaik-baiknya ke ada'an yang di inginkan.
2. Mengingat kematian dapat melapangkan dada
Dengan mengingat kematian seseorang akan terus menambah frekuensi ibadahnya kepada Allooh SWT.
Jika dekat dengan-Nya Allooh SWT akan melapangkan dada orang tersebut.
عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “أكثروا ذكر هاذم اللذات: الموت، فإنه لم يذكره في ضيق من العيش إلا وسعه عليه، ولا ذكره في سعة إلا ضيقها”
Artinya: “Anas bin Malik rodhiyalloohu ‘anhu berkata:
Rosulullooh shollolloohu ‘alaihi wasallam bersabda:
"Perbanyaklah mengingat pemutuskan kelezatan yaitu kematian karena sesungguhnya tidaklah seseorang mengingatnya ketika dalam ke ada'an kesempitan hidup melainkan dia akan melapangkannya dan tidaklah seseorang mengingatnya ketika dalam ke ada'an lapang melainkan dia akan menyempitkannya.
(HR. Ibnu HIbban.
3. Mengingat kematian menjadikan seseorang mukmin yang cerdas
Selain melapangkan dada seorang muslim akan di anggap cerdas bila ia mengingat kematian dan menyiapkan bekal untuk di akhirat nanti. Sebagaimana diriwayatkan oleh Abudullah bin Umar RA
عَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما أَنَّهُ قَالَ: كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ: «أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا» قَالَ فَأَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ: «أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ»
Artinya: “Abdullah bin Umar rodhiyalloohu ‘anhuma bercerita:
"Aku pernah bersama Rosulullooh shollolloohu ‘alaihi wasallam lalu datang seorang lelaki dari kaum Anshar mengucapkan salam kepada Nabi Muhammad shollolloohu ‘alaihi wasallam lalu bertanya:
"Wahai Rosulullooh orang beriman manakah yang paling terbaik?
Beliau menjawab:
"Yang paling baik akhlaknya
Orang ini bertanya lagi:
"Lalu orang beriman manakah yang paling berakal (cerdas)?
Beliau menjawab:
"Yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik persiapannya setelah kematian merekalah yang berakal.
(HR. Ibnu Majah).
4. Kematian bagi orang beriman hanyalah istirahat.
Kematian sudah pasti menimpa seluruh makhluk hidup.
Maka dari itu Rosulullooh menggambarkan bahwa kematian bukanlah sesuatu yang mengerikan kecuali bagi mereka yang kafir.
Beliau bersabda:
موت الفجأة راحة للمؤمن وأخذة أسف للكافر
Artinya:
“Kematian mendadak adalah istirahat bagi mu'min dan penyesalan bagi orang kafir.
(HR. Ahmad.
5. Orang yang sudah meninggal tidak dapat beribadah lagi
Bagi setiap manusia yang telah meninggal sa'at itulah kiamat baginya.
Artinya: ia tidak bisa lagi untuk beramal mencari pahala dari Allooh SWT. Sebagaimana di riwayatkan dalam hadist berikut:
عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ كَانَ الأَعْرَابُ إِذَا قَدِمُوا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- سَأَلُوهُ عَنِ السَّاعَةِ مَتَى السَّاعَةُ فَنَظَرَ إِلَى أَحْدَثِ إِنْسَانٍ مِنْهُمْ فَقَالَ «إِنْ يَعِشْ هَذَا لَمْ يُدْرِكْهُ الْهَرَمُ قَامَتْ عَلَيْكُمْ سَاعَتُكُمْ
Artinya:
Aisyah rodhiyalloohu ‘anha berkata:
"Orang-orang kampung Arab jika datang menemui Rosulullooh shollolloohu ‘alaihi wasallam mereka bertanya tentang hari qiamat kapan datangnya lalu Nabi Muhammad shollolloohu ‘alaihi wasallam melihat kepada seorang yang paling muda dari mereka kemudian beliau bersabda:
"Jika hidup pemuda ini dan tidak mendapati kematian mulai sa'at itulah kiamat kalian datang.
(HR. Muslim).
6. Hanya amal yang akan di bawa sa'at kematian
Ketika kematian menghampiri seseorang satu-satunya hal yang dapat di bawa olehnya hanyalah amal ibadahnya.
Rosulullooh bersabda:
وَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: {إِذَا مَاتَ الْمَيِّتُ تَقُوْلُ الْمَلاَئِكَةُ مَا قَدَّمَ وَيَقُوْلُ النَّاسُ مَا خَلَّفَ
Artinya:
“Jika ada orang yang meninggal dunia malaikat berkata apa yang telah lalu (amal) sedangkan manusia membicarakan apa yang ia tinggalkan (warisan).
(HR. Imam Baihaqi).
7. Husnuzan kepada Allooh SWT meski sedang sakaratul maut
Setiap muslim pasti ingin meninggal dalam ke ada'an husnul khotimah untuk dapat meraihnya seorang muslim harus selalu berhusnuzan kepada Allooh meski sedang dalam ke ada'an sakaratul maut.
Rosulullooh bersabda:
لاَ يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلاَّ وَهُوَ يُحْسِنُ بِاللَّهِ الظَّنَّ
Artinya:
“Janganlah seseorang di antara kalian meninggal dunia kecuali dalam ke ada'an berbaik sangka terhadap Allooh.
(HR. Muslim).
8. Warisan adalah yang di bicarakan ketika seseorang meninggal
Manusia yang masih hidup biasanya akan membicarakan harta warisan yang di tinggalkan oleh orang yang telah meninggal.
Hal ini sebagaimana di jelaskan dalam hadist berikut:
وَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: {إِذَا مَاتَ الْمَيِّتُ تَقُوْلُ الْمَلاَئِكَةُ مَا قَدَّمَ وَيَقُوْلُ النَّاسُ مَا خَلَّفَ
Artinya:
“Jika ada orang yang meninggal dunia malaikat berkata apa yang telah lalu (amal) sedangkan manusia membicarakan apa yang ia tinggalkan (warisan).
(HR. Imam Baihaqi)
9. Selalu lakukan amal ibadah sebelum kematian menjemput
Ali bin Tholib rodhiyalloohu ‘anhu berkata:
ارْتَحَلَتِ الدُّنْيَا مُدْبِرَةً، وَارْتَحَلَتِ الآخِرَةُ مُقْبِلَةً، وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بَنُونَ، فَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الآخِرَةِ، وَلاَ تَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا، فَإِنَّ الْيَوْمَ عَمَلٌ وَلاَ حِسَابَ، وَغَدًا حِسَابٌ وَلاَ عَمَلَ.
Artinya:
“Dunia sudah pergi meninggalkan dan akhirat datang menghampiri dan setiap dari keduanya ada pengekornya maka jadilah kalian dari orang-orang yang mendambakan kehidupan akhirat dan jangan kalian menjadi orang-orang yang mendambakan dunia karena sesungguhnya hari ini (di dunia) yang ada hanya amal perbuatan dan tidak ada hitungan dan besok (di akhirat) yang ada hanya hitungan tidak ada amal.
(HR. Bukhori).
10. Mengingat kematian akan di muliakan dalam tiga hal
Jika seseorang mengingat kematian dan mempersiapkan bekal untuk dirinya di akhirat ia akan di berikan tiga hal yakni thobat, puasa hati, dan semangat ibadah.
Ad Daqqaq rohimahullooh berkata:
“من أكثر ذكر الموت أكرم بثلاثة: تعجيل التوبة، وقناعة القلب، ونشاط العبادة، ومن نسى الموت عوجل بثلاثة: تسويف التوبة، وترك الرضا بالكفاف، والتكاسل في العبادة” تذكرة القرطبي : ص 9
Artinya: “Barang siapa yang banyak mengingat kematian maka di muliakan dengan tiga hal; bersegera thobat, puas hati, dan semangat ibadah, dan barang siapa yang lupa kematian di berikan hukuman dengan tiga hal; menunda thobat, tidak rida dengan ke ada'an dan malas ibadah.
11. Harus menghormati semua mayit meski dia orang kafir
Tak hanya yang hidup mayit orang kafir pun harus tetap harus di hormati umat Islam.
Hal ini di terangkan dalam hadist berikut:
“Seorang sahabat bertanya:
"Ya Rosulullooh jenazah orang kafir berlalu di hadapan kami apakah kami perlu berdiri?
Nabi SAW segera menjawab:
"Ya, berdirilah...
"Sesungguhnya kamu berdiri bukanlah untuk menghormati mayitnya tetapi menghormati yang merenggut nyawa-nyawa.
(HR. Ahmad).
12. Di larang menginginkan kematian
Meskipun sudah pasti akan mengalami kematian manusia tetap di larang untuk mengharapkannya.
Rosulullooh SAW bersabda:
“Janganlah ada orang yang menginginkan mati karena kesusahan yang di deritanya.
"Apabila harus melakukannya hendaklah dia cukup berkata:
"Ya Allooh tetap hidupkan aku selama kehidupan itu baik bagiku dan wafatkanlah aku jika kematian baik untukku.
(HR. Bukhori).
13. Amal orang yang telah meninggal di tampakkan sesuai perbuatannya di dunia
Setiap nyawa yang telah mati akan di tunjukkan segala amal perbuatannya di dunia.
Hal itu sebagaimana sebuah hadist yang berbunyi:
فيعرض عليهم أعمالهم ، فإذا رأوا حسنا فرحوا و استبشروا ، و قالوا : هذه نعمتك على عبدك فأتمها ، وإن رأوا سوءا قالوا : اللهم راجع بعبدك ” . أخرجه عبد الله بن المبارك في ” الزهد ”
“Lalu amal mereka di beritahukan (kepada ahli qubur).
Jika di lihat amal baik mereka bahagia dan berkata:
Ini adalah nikmat-Mu untuk hamba-Mu maka sempurnakanlah..
Jika amal buruk mereka berkata:
"Ya Allooh kembalikan hamba-Mu’.
(HR Ibnu al-Mubarok dalam Az-Zuhd).
14. Angan-angan orang orang-orang yang mati syahid.
Ke inginan orang-orang yang mati syahid untuk kembali hidup tak ada kaitannya dengan kenikmatan duniawi yang semu.
Namun ke inginan tersebut lebih untuk memperbanyak amalan selama hidup.
Sebab mereka telah mengetahui kemulia'an mati syahid di sisi Allooh SWT.
Hal itu di jelaskan dalam sebuah hadist Rosulullooh SAW bersabda:
مَا أَحَدٌ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ يُحِبُّ أَنْ يَرْجِعَ إِلَى الدُّنْيَا وَلَهُ مَا عَلَى الْأَرْضِ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا الشَّهِيدُ يَتَمَنَّى أَنْ يَرْجِعَ إِلَى الدُّنْيَا فَيُقْتَلَ عَشْرَ مَرَّاتٍ لِمَا يَرَى مِنَ الْكَرَامَةِ
“Tak ada seorang pun yang masuk surga kemudian ingin kembali ke dunia kecuali orang yang mati syahid dan dia tak menginginkan apa pun di dunia kecuali mati syahid. Ia berangan-angan untuk kembali ke dunia kemudian terbunuh sebanyak sepuluh kali ini di sebabkan oleh kemulia'an (ke utama'an mati syahid) yang dia saksikan.
(HR. Anas bin Malik).
15. Ke inginan orang sholeh untuk segera di quburkan setelah kematiannya
Orang sholeh sesa'at setelah di ambil nyawanya memiliki angan untuk segera di bawa ke peristirahatannya yang terakhir.
Hal itu di sebutkan dalam sebuah hadist shohih Al-Bukhori yang berbunyi:
إِذَا وُضِعَتْ الْجِنَازَةُ فَاحْتَمَلَهَا الرِّجَالُ عَلَى أَعْنَاقِهِمْ فَإِنْ كَانَتْ صَالِحَةً قَالَتْ قَدِّمُونِي قَدِّمُونِي وَإِنْ كَانَتْ غَيْرَ صَالِحَةٍ قَالَتْ يَا وَيْلَهَا أَيْنَ يَذْهَبُونَ بِهَا يَسْمَعُ صَوْتَهَا كُلُّ شَيْءٍ إِلَّا الْإِنْسَانَ وَلَوْ سَمِعَهَا الْإِنْسَانُ لَصَعِقَ
“Jika jenazah di letakkan lalu di bawa oleh para laki-laki di atas pundak mereka jika jenazah tersebut termasuk orang sholeh (semasa hidupnya) ia berkata:
"Bersegeralah kalian (membawa aku)!’
Jika ia bukan orang sholeh ia akan berkata:
"Celaka ke mana mereka hendak membawanya?
Jeritan jenazah itu akan di dengar oleh setiap makhluq kecuali manusia.
Seandainya manusia bisa mendengarnya tentu mereka akan pingsan.
Demikianlah sejumlah firman Allooh SWT. Dan juga kumpulan hadist tentang kematian yang bisa di jadikan pengingat bagi kita yang masih hidup.
Gemerlap dunia hanyalah tipu daya yang dapat menjerumuskan kita sehingga lupa mempersiapkan bekal untuk kehidupan di akhirat kelak.
Semoga dengan memahami hadist-hadist di atas ketakwa'an dan ke imanan kita kepada Alliih SWT semakin bertambah serta menggiring kita untuk senantiasa mempersiapkan diri sejak dini bekal yang akan kita bawa di Yaumil Qiyamah yang akan datang untuk menghadap kepada Alloih Robbul Jalil dengan hati yang selamat .????
والله اعلم بالصواب