28/01/2017
Memahami Bahasa Langit
Sudiana
"Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan di bumi..." (QS. Al Baqarah(2):284).
Bentang langit yang biru yang sering kita lihat, sesungguhnya tak sebatas apa yang bisa kita lihat. Ada kedalaman dan ketinggian yang tak bisa kita jangkau dan kita pahami dengan hanya mengandalkan mata dan logika sebagai seorang manusia. Apa yang kita lihat di langit, sejatinya hanya sebagian kecil penampakan yang rumit dari kompleksitas tata kelola langit yang Allah SWT miliki.
Di seluruh bagian langit yang kita lihat, hanya kesempurnaan penciptaan dari pemilik langit yang yang tanpa kekurangan ini. Nah, ketika kita berada di ketinggian langit biru, menumpang pesawat yang melintasi cakrawala. Kita akan melihat langit seolah lebih dekat. Menembus birunya warna yang ada melintasi awan dan mega-mega yang menggantung tanpa tiang atau penyangga. Di ketinggian langit p**a kita bisa lebih mudah memandang ratusan hingga beribu kilometer luasnya dunia.
Di posisi ini, kadang ada godaan kesadaran yang muncul, bahwa kita lebih beruntung dari yang lain. Lebih hebat fan mampu dari manusia lainnya yang ada di sekitar kita. Perasaan lebih hebat p**a seringkali menyusup tak sengaja dalam dalam jiwa. Mengajak hati dalam bingkai ego tinggi untuk merasa lebih dari yang lain atas pencapaian kehidupan yang kita lampaui.
Di lapis-lapis langit sejatinya kita belajar membaca dan memahami bahasa langit, bahwa di bentangnya yang luas, sesungguhnya kita bahkan lebih kecil dari noktah hitam yang ada. Setitik warna yang tak berarti di beragam warna langit yang ritmis bergerak mengganti-ganti warna dengan berhias awan-awan dan warna langit yang setiap saat berbeda.
Dalam bahasa langit, semestinya tak sedikitpun ada ruang kesombongan yang menempati hati kita. Benih kesombongan sekecil apapun yang tumbuh atas capaian sisi duniawi harus disadari akan berbahaya bagi masa depan beningnya hati dan tenangnya jiwa kita. Kesombongan hakikatnya laksana gelembung, ia bisa muncul di setiap riak kehidupan yang terus bergerak dan maju ke depan. Kesombongan tak boleh memenuhi jiwa kita walau sesaat. Ia harus terus menerus dibersihkan dengan ikhlasnya istighfar dan taubat atas ketinggian rasa atas manusia lainnya.
Bahasa langit bila kita baca diketinggian cakrawala, juga memuat pesan bahwa seberapapun kehebatan kita dalam melayari ketinggian langit, ketika ada di dalamnya sangat tak terasa. Kecepatan beribu kilometer pesawat yang membawa kita, seolah tak bermakna begitu kita ada di dalamnya. Kita malah melihat pesawat lain di luar kita bergerak lebih cepat mendatangi atau menjauhi kita. Kita juga seakan melihat demikian cepat awan melintasi langit, seolah berkejaran dan tak kenal henti.
Di ketinggian, saat siang, yang terlihat hanyalah awan-awan bergerak dan kitalah seakan yang diam membisu menikmati pergerakan awan. Di malam harinya, semua bentang langit seragam warnanya, jelaga dan tanpa cahaya. Entah dimana bintang-bintang penghias langit ketika kita lihat di darat yang begitu cemerlang menghias langit malam.
Di lintasan langit yang biru, kadang perak kehitaman, bahkan gelap tanpa cahaya justru pandangan kita seakan menemukan taempat kosong tanpa kehidupan. Mengantarkan kita pada lorong-lorong pertanyaan, "untuk apa langit ditinggikan?". Ketika jujur kita tanya pada jiwa kita, sejauhmana kita memahami kedudukan kita di bumi-Nya. Di bawah ketinggian langit biru tanpa tiang, kadang kita lupa, mata kita seringnya melihat sekeliling dan dipenuhi tanda tanya, kok kenapa kita baru sebatas ini?, mengapa yang lain bisa lebih beruntung hidupnya?.
Kadang, ketika kita kenbali di bawah kaki langit, kita lebih banyak membaca lansekap bumi yang datar dan penuh dengan beragam barang-barang beraneka. Kita terua asyik melihat kekurangan dan lupa dengan bahasa langit. Kita juga seringnya tergoda untuk merasa haus dan lapar akan urusan dunia sehingga kita urusan yang lebih tinggi, bahkan lebih mengabadi bagi masa depan kehidupan akhirat kita.
Bahasa langit, sesungguhnya juga adalah kalam-Nya yang mengirim pesan pada mata dan logika kita bahwa di atas bumi ada langit. Pun di atas langit masih ada lapisan langit yang lebih tinggi. Di ketinggian langit atau di kakinya yang sering sepi di malam hari, sejatinya kita harus mampu mencipta sunyi, agar hati bisa dibersihkan kembali dengan bening air mata dan pertobatan akan dosa dan kesalahan yang sengaja atau tidak kita lakukan di setiap matahari menyinari bumi.
Kesunyian penting untuk jiwa, agar aimata yang tumpah mengiringi malam membasuh dendam dan ego kehidupan yang terus meninggalkan noktah hitam di jiwa. Kesunyian di dalam sepi, mengajarkan lagi jiwa agar ia menyadari bahwa atas nama cinta ia harus terus hadir dan bergerak untuk dengan lantang membela kebenaran dan menyalakan semangat pembelaan para dhuafa dan orang-orang lemah yang butuh pertolongan.
Di langit yang biru atau jelaga, harus ada janji yang terus diperbaharui, bahwa kita adalah hamba yang ingin merdeka dari belenggu dunia dan berharap keabadian bisa kita raih atas nama cinta dan kasih sayang-Nya.
Di langit yang terus kita pahami, kita ingin melebur segala kenisbian dalam naungan cahaya-Nya yang suci dan penuh keagungan.
Di langit yang bahasanya terus kami pelajari lewat kalam dan ciptaan-Nya, kami ingin abadi dalam amal kebaikan dan keberkahan, walau munngkin jasad kami terlebih dahulu masuk dalam bumi.
Di bumi yang menjadi batas kaki langit, Robbi.....ijinkan kami mengetuk pintu-Mu setiap saat agar jiwa kami penuh cahaya terang firman-Mu dan dijauhkan dari kegelapan semesta yang kadang menggoda dan melenakan kami sehingga pudarlah cahaya di wajah dan genggaman kami.
Robbi...
Di langit yang terus bergerak ritmis dan berganti warna, dari pagi hingga kembali pagi. Beri kekuatan kami untuk terus menyerap energi kebaikan sehingga kami bisa meneruskannya pada bumi dan tanah sekitar kami. Pada udara dan makhluk-makhluk ciptaan-Mu yang bisa kami jangkau dan bisa berbagi.
Robbi...
Beri kami kesadaran terus untuk bisa terjaga dan tak lupa atas seluruh bahasa langit yang engkau titahkan pada kami untuk terus dibaca setiap hari, dibaca secara wujud maupun makna. Dibaca dengan lisan maupun jiwa yang terjaga.
Langit pagi Masjid Nabawi Madinah, akhir Januari 2017