24/05/2026
Inilah Makna Dibalik Pertemuan Gus Iqdam dan Gus Muwafiq
Malam itu, pelataran Majelis Sabilu Taubah menjelma seperti lautan manusia yang bergelombang pelan oleh lantunan selawat. Lampu-lampu di sekitar panggung berpendar laksana kunang-kunang yang sedang menjaga doa-doa agar tidak jatuh ke bumi. Sound Khidmah berdiri tegak seperti saksi bisu yang merekam ribuan cerita, keluh, dan harapan yang dibawa masing-masing jamaah.
Malam itu Gus Iqdam mengawali dengan kisah pertemuannya bersama Gus Muwafiq di sebuah pengajian di Wonosobo.
Wajah Gus Iqdam tampak sumringah ketika mulai bercerita. Senyumnya seperti matahari pagi yang perlahan menghangatkan suasana malam.
“Kalih Gus Muwafiq niku lucu kulo,” kata Gus Iqdam sambil tertawa kecil.
Jamaah pun mulai fokus mendengarkan. Ada yang tersenyum sebelum cerita selesai, seolah mereka sudah tahu bahwa malam itu akan ada tawa yang menyelip di antara nasihat.
“Dadi aku ki neng jeding… kulo kan wes dikabari Jebor: ‘Gus pun jam wolu Gus niki… njenengan ndang raup-raup riyen. Cuci muka…’”
Suasana mulai cair. Beberapa jamaah menahan tawa sambil membayangkan kejadian itu.
“Mari neng jeding aku ijeh raup… aku gek raup ki moro-moro ono seng ndodog jedingku. Jrog… jrog… jrog… jrog…”
Tangan kanan Gus Iqdam bergerak menirukan orang mengetuk pintu. Jamaah langsung pecah tertawa. Candaan sederhana itu terasa hidup karena disampaikan dengan jujur dan apa adanya. Di situlah humor religius bekerja dengan halus. Tawa tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menjadi jembatan dakwah agar hati lebih mudah menerima pelajaran. Dalam teori humor religius dalam komunikasi dakwah, candaan yang ringan mampu mencairkan suasana tanpa menghilangkan makna dan adab.
“Aku wes persiapan… Jebor ki mendo popiye to… kebelet nguyuh yo kebelet… tapi sek to…”
Jamaah kembali tertawa. Namun di balik tawa itu, tersimpan pelajaran tentang manajemen emosi. Gus Iqdam bercerita bahwa saat itu dirinya sempat menahan rasa marah karena mengira yang mengetuk pintu adalah Jebor. Hatinya sudah bersiap untuk ngomel ketika keluar dari kamar mandi.
“Aku metu ki wes persiapan nesu… wes arep metu lha kok Yai Muwafiq… Gus Muwafiq. Akhire malah sungkem. Lhoh njenengan…?”
Mendengar bagian itu, tawa jamaah berubah menjadi senyum penuh makna. Kemarahan yang tadinya menggelegak mendadak luluh hanya karena melihat sosok yang dihormati. Seperti hujan yang tiba-tiba reda sebelum jatuh menjadi badai.
“Weh nguyoh suwe ora eram,” cerita Gus Iqdam menirukan ucapan Gus Muwafiq saat itu.
Gelak tawa kembali pecah. Akan tetapi, di balik kisah sederhana itu tersimpan fenomena yang dekat dengan kehidupan manusia. Dalam teori fenomenologi, seseorang memahami makna hidup dari pengalaman yang dialaminya secara langsung. Gus Iqdam tidak sedang mengajarkan teori rumit, tetapi memperlihatkan bagaimana pengalaman kecil di kamar mandi justru berubah menjadi pelajaran besar tentang menghormati orang lain dan mengendalikan diri.
“Akhire… yo sungkem wae awak dewe… awak dewe panggah menghormati beliau, piyantun sepuh…” ucap Gus Iqdam dengan nada lembut.
Kalimat itu meluncur sederhana, tetapi terasa seperti embun yang jatuh pelan ke hati jamaah. Di situlah tampak nilai adab sebelum ilmu dan sikap andhap asor yang masih dijaga Gus Iqdam. Meski dikenal ribuan orang dan dicintai banyak jamaah, beliau tetap menundukkan diri di hadapan ulama yang lebih sepuh. Seolah ilmu setinggi apa pun tidak akan bercahaya tanpa dihiasi hormat dan kerendahan hati.
Dari kisah sederhana itu, jamaah belajar bahwa hidup tidak selalu tentang menjadi paling hebat. Terkadang, kemuliaan justru lahir dari kemampuan menahan emosi, menghormati orang lain, dan tetap rendah hati meski berada di atas panggung kemasyhuran. Candaan bisa menjadi jalan dakwah dan adab adalah pakaian paling indah bagi orang berilmu. Sebab manusia yang besar bukanlah yang selalu dipuji banyak orang, melainkan yang tetap mampu menundukkan egonya di hadapan sesama.
*Abdullah Al-Kafi
Pegiat Literasi/Penulis Buku Gus Iqdam/Guru MTs Negeri 2 Magelang.