07/01/2026
•
*08 Januari 2026*
ɢʀᴜᴘ ᴡʜᴀᴛsᴀᴘᴘ ʟɪᴛᴜʀɢɪ
*Berjalan Bersama Para Kudus*
*Santo Laurensius Giustiniani*
_Arti nama_
> Berasal dari bahasa latin: "Laurentius" yang berarti "Orang Laurentum". > Laurentum adalah nama sebuah kota di Italia pada jaman Romawi kuno.
> Giustiniani merupakan variasi dari Justin yang berarti adil, fair.
_Perlindungan_
> atriarkal Venesia
_Penampilan_
> mendistribusikan bejana Gereja selama masa kelaparan;
> dengan sebuah salib episkopal dan panji-panji dibawa di depannya dan sebuah topi uskup di belakangnya;
> memegang buku, tangannya terangkat untuk memberkati;
> memberi sedekah
_Profil_
Laurensius dilahirkan di Venice, Italia, pada tahun 1381 dalam sebuah keluarga bangsawan, yang telah melahirkan banyak cendekiawan, negarawan, imam dan orang kudus. Namun leluhurnya berpindah ke Konstantinopel karena suatu alasan politik. Meskipun ayahnya, Bernard Giustiniani meninggal ketika ia masih kanak-kanak, ibunya yang saleh benar - benar membaktikan diri untuk kesejahteraan anak - anaknya dan memastikan mereka mendapatkan pendidikan yang terbaik. Kesalehan ibunya itu mengilhami jalan hidupnya, sehingga sejak kecil Laurensius selalu mengatakan kepada ibunya bahwa ia ingin menjadi seorang kudus, seorang santo. Karena itu ibunya sering berpikir bahwa puteranya telah berkhayal terlalu tinggi.
Ketika usianya sembilanbelas tahun, Laurensius merasa bahwa ia harus melayani Tuhan dengan suatu cara yang istimewa. Laurensius dikatakan memiliki sebuah penglihatan tentang Kebijaksanaan Abadi dalam rupa seorang gadis yang dikelilingi oleh cahaya, yang mengundangnya untuk mencari kebahagiaan itu daripada memuaskan hasrat duniawi. Kemudian ia meminta nasehat kepada pamannya, Marino Querino, yang merupakan seorang imam dari kongregasi St. Agustinus di San Giorgio yang terletak di Pulau Alga, satu mil dari Venesia. Pater Morino mengatakan “Apakah kamu memiliki keberanian untuk meninggalkan kesenangan duniawi dan menghabiskan hidupmu dalam biara dengan melakukan silih?” tanya pamannya. Cukup lama Laurensius tidak menjawab. Kemudian ia menatap salib dan berkata, “Engkau, oh Tuhan, adalah harapanku. Dalam Salib ada ketenteraman serta kekuatan.”
Pater Morino Querino merekomendasikan agar ia mengambil peran sebagai pertapa di rumahnya dulu, yaitu dengan mencoba menjalani kehidupan religius dengan mengesampingkan penghormatan, kekayaan, dan kesenangan duniawi, sebelum memasuki kehidupan religius yang sesungguhnya di biara. Namun ibunya khawatir hal itu akan merusak kesehatannya dan mencoba mengalihkannya dengan mengatur pernikahan.
Tetapi kemudian Laurensius lebih memilih hidup religius dan bergabung Komunitas St. Agustinus di biara pamannya itu. Tugas pertamanya sebagai seorang biarawan Agustin sangat berat, yaitu diminta untuk pergi ke kotanya dan meminta-minta sumbangan bagi biaranya. Ini mungkin juga sebuah ujian yang sengaja diberikan oleh para pemimpin biara bagi putra bangsawan ini. Laurensius tanpa ragu-ragu pergi ke kota untuk mengemis, karena ia tahu bahwa derma uang ataupun barang akan berguna bagi karya Tuhan. Bahkan ia mengetuk pintu rumahnya sendiri dan meminta derma.
Ibunya dengan berlinang airmata membujuknya untuk meninggalkan biara. Tapi karena Laurensius dengan tegas menolak maka sang ibu kemudian berusaha mengisi kantongnya dengan banyak uang dan makanan agar anaknya dapat segera p**ang ke biaranya dan tidak perlu mengemis lagi. Laurensius hanya menerima uang secukupnya dan dua potong roti, lalu pergi ke rumah sebelah untuk meminta derma lagi. Dengan demikian, ia belajar bagaimana mengikis egonya dan mempraktekkan penyangkalan diri. Imannya semakin tumbuh dalam kasihnya kepada Tuhan.
Suatu hari seorang sahabatnya datang membujuk Lorenzo untuk meninggalkan kehidupan di biara. Laurensius dengan indahnya menjelaskan kepada temannya itu tentang betapa singkatnya hidup ini dan betapa bijaksananya untuk melewatkan hidup demi kerajaan surga. Temannya amat terkesan dan malah terdorong untuk menjadi seorang biarawan juga.
Pada 1406, Laurence ditahbiskan menjadi imam dan berkarya di San Giorgio. Kehidupan doa dan matiraga yang sangat mendalam yang dilakukannya seringkali menuntunnya pada suatu pengalaman rohani yang luar biasa dan membuatnya dianugerahi kemampuan untuk menuntun jiwa - jiwa. Air matanya sering mengalir saat ia mempersembahkan Misa Kudus, dan mampu mempengaruhi semua orang yang melihatnya dan menggugah semangat mereka untuk memperbarui iman.
Setelah itu, ia diangkat menjadi pemimpin di kongregasinya, yang mana pada saat ia masuk ke dalam posisi itu sedang berusaha mengadopsi aturan yang berbeda. Laurensius kemudian menyelesaikan aturan ini dengan menulis konstitusinya, sehingga ia seringkali dianggap sebagai pendiri kedua dari ordo para imam ini. Selain itu ia juga banyak berkhotbah dan mengajarkan teologi di berbagai tempat.
Pada tahun 1433 Paus Eugene IV menunjuk Laurensius untuk menjadi uskup di Costello, yang mana daerah Venesia termasuk dalam cakupannya. Meskipun ia sendiri kurang senang akan hal itu, dan memohon agar ditunjuk uskup yang lebih layak, namun pada akhirnya ia menerimanya. Pada waktu ia memasuki katedral, hal itu dilakukannya dengan diam - diam sehingga tidak ada temannya yang mengetahui tentang penunjukannya hingga saat pentahbisannya.
Senat Republik Venesia, khawatir bahwa perubahan ini dapat menyebabkan berkurangnya hak prerogatif mereka, sehingga memulai sebuah persidangan yang membahas tentang jurisdiksi Laurensius. Di hadapan sidang, dengan rendah hati Laurensius mengatakan bahwa ia merasa tidak layak dan terbebani untuk menduduki jabatan yang ia emban sekarang, dan dengan senang hati akan merelakannya jika mereka menghendaki. Sikapnya ini mempengaruhi semua orang yang hadir, dan ia memenangkan dukungan mereka, yang menghendaki agar ia tetap menghormati keputusan dari Tahta Suci.
Karena itu Laurence menerima jabatan barunya dan terus bekerja sekuat tenaga sehingga reputasinya untuk kebaikan dan amal meningkat. Umatnya menyambut dengan gembira karena mengetahui bahwa uskup baru mereka adalah biarawan pengemis yang sehari - hari meminta derma pada mereka. Hati uskup Laurensius yang lembut dan kudus membuat orang berbondong-bondong datang kepadanya setiap hari untuk memohon pertolongannya.
Sebagai uskup di daerah yang disebut sebagai "Jewel of the Adriatic" (Berlian di Laut Adriatik), Laurensius melakukan banyak hal, di antaranya dengan memugar Gereja Santo Markus dan beberapa gereja lainnya; selain itu ia juga meningkatkan keindahan dalam pelayanan, menambahkan paroki-paroki baru, mencoba mengangkat karya pastoral, dan mengilhami baik para imam dari semua golongan dengan teladannya. Segala pertentangan yang terjadi selama masa pemerintahannya dihadapi dengan kesabaran dan kelembutan. Hal ini semakin meningkatkan partisipasi dan semangat umat, yang tak henti berbondong - bondong mendatanginya untuk meminta bantuan spiritual dan material.
Dalam keseharian tidak ada yang mampu menandinginya dalam hal kesederhanaan dan kemurahan hati, meskipun tercatat ia hanya sedikit memberikan bantuan dalam wujud uang kepada seseorang, karena itu adalah pemborosan. Ketika ditanya tentang itu, ia menjawab, "Sedikit tidak akan cukup untukmu; dan jika saya memberimu banyak, itu sama saja dengan merampok orang miskin." Namun di luar itu, tangannya sangat terbuka bagi yang meminta makanan dan pakaian. Bahkan ia rela mencarikan pekerjaan bagi para ibu yang membutuhkan, namun malu untuk mengungkapkan.
Tulisan - tulisan kontemplasi dari St. Laurensius semua menceritakan tentang sebuah kesempurnaan hidup tingkat tinggi yang mengalir dalam kesederhanaan. Menjelang ajalnya, St. Laurensius menolak berbaring di tempat tidur yang nyaman dari bulu yang sudah disediakan baginya. “Tidak boleh demikian!” serunya dengan rendah hati. “Tuhanku terentang di kayu yang keras serta menyakitkan.” Maka, ia pun dibaringkan di atas jerami dan meninggal dunia dengan tenang.
Tidak ada keinginan terakhir yang ia ucapkan, sebagaimana ia juga tidak memiliki apa pun sebagai miliknya. Selama dua hari dalam sakitnya setelah dia menerima sakramen terakhir, banyak warga kota yang datang untuk menerima berkatnya. Selama itu ia bersikeras agar para pengemis pun diterima, sebagaimana kaum elit, dan masing-masing diberikan instruksi singkat untuk terakhir kalinya.
San Lorenzo Giustiniani wafat pada tahun 1455. Semenjak masih hidup ia sudah dihormati, bahkan oleh Paus. Keponakan dan penulis biografinys, Bernardo Giustiniani, menceritakan bahwa Jenazahnya tetap dibiarkan selama 67 hari tanpa penguburan, karena banyaknya orang yang datang untuk memberikan penghormatan. Dan dokter memeriksa tubuh dan tidak dapat memberikan penjelasan untuk keadaannya yang tidak rusak.
Referensi :
http://katakombe.org/para-kudus/item/laurensius.html
http://catholicsaints.info/saint-lawrence-giustiniani/
http://www.saintpatrickdc.org/ss/0905.shtml
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Lawrence_Giustiniani
•