Masjid jami' Ar Rahmah Masaran Kulon

Masjid jami' Ar Rahmah Masaran Kulon Masjid jami' Ar Rahmah Masaran Kulonn adalah Masjid jami' di lingkungan Dukuh Masaran Kulon, Desa Jati, Kab Sragen, Masjid Pusat Ibadah dan ukhuwah

Do’a Meminta Ketakwaan dan Sifat Qona’ahSegala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita M...
11/05/2026

Do’a Meminta Ketakwaan dan Sifat Qona’ah

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman.

Do’a Meminta Ketakwaan dan Sifat Qona’ah
اللَّهُمَّ إنِّي أسْألُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى

“Allahumma inni as-alukal huda wat tuqo wal ‘afaf wal ghina.” Artinya: Ya Allah, aku meminta pada-Mu petunjuk, ketakwaan, diberikan sifat ‘afaf dan ghina.

Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

أنَّ النبيَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يقول : (( اللَّهُمَّ إنِّي أسْألُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca do’a: “Allahumma inni as-alukal huda wat tuqo wal ‘afaf wal ghina”.” (HR. Muslim no. 2721)

Faedah hadits:
Pertama: Yang dimaksud dengan “al huda” adalah petunjuk dalam ilmu dan amal. Yang dimaksud “al ‘afaf” adalah dijauhkan dari yang tidak halal dan menahan diri darinya. Yang dimaksud “al ghina” adalah kaya hati, yaitu hati yang selalu merasa cukup dan tidak butuh pada harta yang ada di tangan orang lain.

An Nawawi –rahimahullah- mengatakan, “ ’Afaf dan ‘iffah bermakna menjauhkan dan menahan diri dari hal yang tidak diperbolehkan. Sedangkan al ghina adalah hati yang selalu merasa cukup dan tidak butuh pada apa yang ada di sisi manusia.” (Syarh Muslim, 17/41)

Kedua: Keutamaan meminta petunjuk ilmu sekaligus amal karena yang dimaksud al huda adalah petunjuk dalam ilmu dan amal.

Ketiga: Keutamaan meminta ketakwaan. Yang dimaksud takwa adalah menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah. Takwa diambil dari kata “wiqoyah” yang maknanya melindungi, yaitu maksudnya seseorang bisa mendapatkan perlindungan dari siksa neraka hanya dengan menjalankan setiap perintah dan menjauhi setiap larangan.

Keempat: Keutamaan meminta sifat ‘afaf atau ‘iffah yaitu agar dijauhkan dari hal-hal yang diharamkan semacam zina. Berarti do’a ini mencakup meminta dijauhkan dari pandangan yang haram, dari bersentuhan yang haram, dari zina dengan kemaluan dan segala bentuk zina lainnya. Karena yang namanya zina adalah termasuk perbuatan keji.

Kelima: Keutamaan meminta pada Allah sifat al ghina yaitu dicukupkan oleh Allah dari apa yang ada di sisi manusia dengan selalu qona’ah, selalu merasa cukup ketika Allah memberinya harta sedikit atau pun banyak. Karena ingatlah bahwa kekayaan hakiki adalah hati yang selalu merasa cukup. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Kekayaan (yang hakiki) bukanlah dengan banyaknya harta. Namun kekayaan (yang hakiki) adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari no. 6446 dan Muslim no. 1051)

Keenam: Dianjurkannya merutinkan membaca do’a ini.

Semoga bermanfaat.

Makna dan Kandungan Quran Surat Thaha Ayat 1321. Perintah Mendirikan Shalat dalam KeluargaAllah SWT memerintahkan kepada...
07/05/2026

Makna dan Kandungan Quran Surat Thaha Ayat 132
1. Perintah Mendirikan Shalat dalam Keluarga
Allah SWT memerintahkan kepada Rasulullah SAW agar mengajak keluarganya untuk menunaikan shalat. Ini menunjukkan betapa pentingnya peran keluarga dalam membangun kebiasaan ibadah yang kuat. Rasulullah SAW menghadapi berbagai tantangan dalam dakwahnya, termasuk ejekan dan permusuhan dari orang-orang yang menentangnya. Namun, dengan menguatkan keluarganya dalam ibadah, terutama shalat, maka keimanan mereka pun semakin kokoh.

Perintah ini juga menjadi teladan bagi umat Islam agar menjadikan shalat sebagai prioritas dalam keluarga. Jika sebuah keluarga selalu menjaga shalat, maka keberkahan dan ketentraman akan hadir dalam kehidupan mereka. Shalat bukan hanya kewajiban individual, tetapi juga tanggung jawab bersama dalam keluarga.

2. Kesabaran dalam Menjalankan Perintah Allah
Allah SWT juga memerintahkan untuk bersabar dalam menegakkan shalat dan mengajarkan keluarga untuk melaksanakannya. Kesabaran ini mencakup berbagai aspek, seperti konsistensi dalam menjalankan shalat, menghadapi rintangan dalam ibadah, serta bersabar dalam membimbing anggota keluarga agar tetap istiqomah dalam shalat.

Kesabaran dalam beribadah juga menjadi bukti ketulusan seseorang dalam menjalankan perintah Allah. Banyak tantangan yang bisa muncul dalam upaya menjaga shalat, baik dari segi waktu, godaan duniawi, maupun rasa malas. Oleh karena itu, kesabaran adalah kunci utama dalam memastikan bahwa shalat tetap menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

3. Jaminan Rezeki dari Allah SWT
Dalam ayat ini, Allah SWT menegaskan bahwa Dia tidak meminta rezeki dari manusia, tetapi justru Dia yang memberikan rezeki kepada hamba-hamba-Nya. Ini adalah pengingat bagi umat Islam bahwa rezeki tidak hanya bergantung pada usaha semata, tetapi juga pada keberkahan dan ketakwaan seseorang kepada Allah SWT.

Banyak orang yang terjebak dalam kesibukan mencari rezeki hingga melupakan shalat. Padahal, Allah telah menjanjikan bahwa orang yang bertakwa akan diberikan rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka. Oleh karena itu, mendirikan shalat bukanlah penghalang bagi rezeki, melainkan justru menjadi sarana untuk mendatangkan berkah dan ketenangan hidup.

4. Keberhasilan Hakiki adalah Ketakwaan
Ayat ini menegaskan bahwa kemenangan sejati dalam hidup bukanlah sekadar keberhasilan materi atau kedudukan duniawi, tetapi ketakwaan kepada Allah SWT. Orang yang istiqomah dalam shalat, sabar dalam menjalankannya, dan yakin terhadap jaminan rezeki dari Allah SWT akan merasakan kebahagiaan yang sejati.

Ketakwaan membawa seseorang menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Dalam keluarga, ketakwaan menjadi pondasi utama yang menjaga keharmonisan, kedamaian, dan keberkahan dalam kehidupan. Rasulullah SAW telah memberikan teladan bagaimana membangun keluarga yang bertakwa, di mana shalat menjadi bagian utama dalam kehidupan sehari-hari.

Kesimpulan
Kandungan QS. Thaha ayat 132 memberikan pelajaran berharga bagi umat Islam tentang pentingnya mendirikan shalat dalam keluarga, bersabar dalam menjalankannya, dan meyakini bahwa rezeki adalah pemberian Allah SWT. Shalat bukan hanya sekadar kewajiban, tetapi juga menjadi jalan untuk meraih keberkahan, ketenangan hidup, dan kebahagiaan di dunia serta akhirat.

Dalil Perintah Berkurban dalam Al-Quran dan HaditsDalam Al-Quran dan Hadits telah banyak disebutkan tentang dalil perint...
03/05/2026

Dalil Perintah Berkurban dalam Al-Quran dan Hadits

Dalam Al-Quran dan Hadits telah banyak disebutkan tentang dalil perintah berkurban. Walaupun kurban bukanlah ibadah yang bersifat wajib, tapi ibadah kurban termasuk sunnah muakad atau sunnah yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW kepada ummatnya. Terlebih, ibadah kurban juga mengandung banyak sekali hikmah dan manfaat.

Tentu sebagai ummat Islam, kita ingin selalu meneladani Rasulullah dan menjalankan seluruh sunnahnya agar mendapat banyak keutamaan kelak di akhirat. Untuk itu, berikut adalah beberapa ayat dan hadits mengenai perintah berkurban agar kita bisa memahami dan memaknai ibadah kurban secara mendalam.

Dalil Al-Quran Tentang Perintah Berkurban
Dalam Al-Quran telah banyak disebutkan perintah berkurban. Ibadah kurban memang telah dilaksanakan sejak zaman Nabi Ibrahim dan Ismail AS. Namun, kurban juga dilanjutkan oleh Rasulullah SAW hingga terus diajarkan kepada umat Islam. Berikut adalah dalil Al-Quran mengenai kurban.

Berkurban Mendekatkan Diri Kepada Allah SWT
“Maka laksanakanlah sholat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah).” (QS. Al-Kautsar: 2)

Dalam surat Al-Kautsar ayat 2, disebutkan bahwa ibadah berkuban adalah sebagai ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah setelah peringatan untuk melaksanakan shalat. Walaupun sebagai ibadah sunnah, tapi ibadah kurban juga menjadi sarana untuk kita kembali mengingat tentang Allah. Sebagai pecipta dan menguasai seluruh kehidupan manusia.

Berkurban Bentuk Ketaqwaan dan Ketundukan pada Allah SWT
“Dan bagi tiap-tiap umat telah kami syariatkan penyembelihan (qurban) supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka. maka Tuhanmu ialah Tuhan yang Maha Esa, karena itu berserahdirilah kamu kepada-Nya. dan berilah kabar gembira pada orang-orang yang tunduk (patuh) pada Allah.” (QS: Al-Hajj: 34)

Dalam ayat di atas, disebutkan bahwa penyembelihan hewan kurban yang berorientasi kepada Allah SWT adalah sebagai bentuk syukur dan berserah diri kita kepada Allah SWT. Hewan-hewan kurban adalah sebagai salah satu bentuk rezeki yang Allah berikan kepada kita. Menyembelihnya satu saja dari setiap muslim, tentu tidak akan mengurangi rezeki yang telah Allah berikan kepada kita.

Selain itu, dilanjutkan kembali oleh ayat 36-37. “Maka makanlah sebagiannya (daging qurban) dan berilah makan orang yang merasa cukup dengan apa yang ada padanya (orang yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Daging daging qurban dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai keridhaan Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.”

Perintah berkurban juga tidak mengurangi rasa syukur dan kenikmatannya, karena sebagai orang yang berkurban. Maka berhak juga untuk menikmatinya sebagian dan tentunya menjadi kenikmatan juga bagi para penerima manfaat yang menerimanya. Output dari ibadah kurban adalah ketaqwaan, untuk itu seperti ayat di atas sebutkan bahwa bukan darah dagingnya yang mencapai keridhoaan Allah, tapi bagaimana kita bertaqwa atas-Nya.

Bentuk Ketaatan dan Mengesakan Allah
“Katakanlah (wahai Muhammad): Sesungguhnya shalatku, nusuk/ibadah qurbanku, hidup dan matiku hanya untuk Allah rabb semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya, aku diperintahkan seperti itu dan aku adalah orang yang pertama kali berserah diri.” (QS. Al-An’am: 162)

Dalam ayat di atas, ditunjukkan bahwa Rasulullah SAW bersaksi bahwa shalat dan ibadah kurbannya, adalah sebagai bentuk pengakuan diri bahwa tidak ada lagi selain Allah SWT untuk tempat berserah diri. Allah lah, tempat untuk kembali dan Rabb Semesta Alam. Apa yang manusia kurbankan tentunya tidak sebanding dengan apa yang Allah berikan kepada kita. Untuk itulah, mengapa ibadah kurban sangat dianjurkan untuk dilakukan.

Dalil Perintah Berkurban dalam Hadits
Selain dalam Al-Quran, perintah berkurban juga disebutkan dalam banyak hadits. Tentunya, Nabi Muhammad SAW pun juga rutin berkurban sambil melaksanakan ibadah haji. Misalnya, dalam hadits berikut.

“Nabi Muhammad SAW. berkurban dengan dua kambing gemuk dan bertanduk. Saya melihat Nabi Saw. meletakkan kedua kakinya di atas pundak kambing tersebut, kemudian Nabi Saw. membaca basmalah, takbir dan menyembelih dengan tangannya sendiri.” (HR Bukhari)

Hadits ini menunjukkan bahwa Rasul pun berkurban dan menyembelihnya dengan tangan sendiri serta sambil menyebut nama Allah. Karena penting dan banyak sekali keutamaan ibadah kurban, maka barang siapa yang memiliki kelapangan sangat dianjurkan sekali untuk berkurban. Seperti yang disampaikan dalam hadits di bawah ini.

“Barangsiapa mendapatkan kelapangan tetapi tidak berkurban, maka janganlah dia mendekati tempat salat kami.” (HR. Imam Ahmad dan Ibnu Majah)

Dalil Perintah Berkurban, yang Menjadi Pemberat Amalan Kita di Akhirat
Selain itu, amalan kurban juga kelak akan menjadi saksi kita di akhirat karena setiap helai bulu, darah, dan daging yang dibagikannya akan mejadi pemberat amalan kita. Tentunya, bagi pekurban yang ikhlas dalam menjalankannya, sebagaimana disampaikan dalam hadits berikut.

Dari Aisyah, Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada amalan anak cucu Adam pada hari raya qurban yang lebih disukai Allah melebihi dari mengucurkan darah (menyembelih hewan qurban). sesungguhnya pada hari kiamat nanti hewan-hewan tersebut akan datang lengkap dengan tanduk-tanduknya, kuku-kukunya, dan bulu- bulunya. Sesungguhnya darahnya akan sampai kepada Allah –sebagai qurban– di manapun hewan itu disembelih sebelum darahnya sampai ke tanah, maka ikhlaskanlah menyembelihnya.” (HR. Ibn Majah dan Tirmidzi)

Untuk itu, dari hadist di atas, kita bisa mendapatkan banyak hikmah bahwa perintah berkurban adalah perintah yang sangat ditekankan baik oleh Allah SWT melalui Al-Quran dan hadits-hadits yang mencerminkan teladan Rasulullah SAW. Jika kita memiliki kelebihan harta, kelapangan untuk berkurban di tahun ini. Maka segerakanlah agar menjadi manfaat luas bagi sesama dan kebaikan bagi kita di dunia maupun di akhirat.

03/05/2026

Halaman Resmi Masjid jami' Ar Rahmah Masaran Kulon

Address

Masaran Kulon RT 07, Desa Jati, Masaran
Sragen
57282

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Masjid jami' Ar Rahmah Masaran Kulon posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share