Majelis Tadarus Sirah

Majelis Tadarus Sirah MAJELIS TADARUS SIRAH

Sirah Nabawiyah ibarat mata air yang tak pernah kering ditimba airnya. Mata air yang terus memancarkan inspirasi peradaban.

Apapun peran kita, dapatkan inspirasi itu dalam biografi manusia terbaik, Rasulullah ﷺ. Kita sebagai pemimpin, pendidik, orang tua, pebisnis, dan seterusnya, inspirasi itu akan selalu ada dalam Sirah Nabawiyah. Dahulu para shahabat selalu mentalqinkan sirah kepada anak cucu mereka. Ali bin Husain (cucu Ali bin Abi Thalib) mengungkapkan:
“Kami dahulu diajarkan tentang sejarah peperangan Nabi ﷺ, baik ghazwah maupun sariyah, sebagaimana kami diajarkan tentang surat-surat dalam Al Qur’an”. Imam Ibnul Jauzi rahimahullah mengatakan:
“Pokok dari perkara-perkara yang pokok adalah ilmu, dan ilmu yang paling bermanfaat adalah memperhatikan sejarah Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya. “Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah maka ikutilah petunjuk mereka” (QS Al-An’aam : 90)”

Bumikan, lalu wariskan. Bangkitkan peradaban.

157VALIDASI RASA: TETAP TAAT MESKI BERATSurat Al Anfal selalu menarik untuk diselami, terutama di suasana Ramadhan seper...
25/02/2026

157

VALIDASI RASA: TETAP TAAT MESKI BERAT
Surat Al Anfal selalu menarik untuk diselami, terutama di suasana Ramadhan seperti ini. Surat ini turun pasca kemenangan Badar. Pengalaman pertama diwajibkannya Ramadhan, sekaligus pengalaman pertama konfrontasi terbuka setelah turun kewajiban jihad.
Al Anfal adalah dustur ilahi tentang bagaimana kemenangan harus dikelola. Bagaimana memitigasi potensi konflik? Tentang ghanimah dan tawanan misalnya.
Menariknya, Al Anfal tidak sekedar mendokumentasikan jalannya perang. Bukan sekedar 5W+1H ala wartawan. Lebih dalam. Al Anfal meng-highlight fragmen-fragmen yang perlu diabadikan.

*****

Setelah turun arahan soal ghanimah. Allah me-recall ingatan para shahabat tentang skenario langit. Tentang tadbir ilahi, hingga betul-betul terjadi yaumul furqan yang membelokkan jalannya sejarah.
كَمَآ أَخْرَجَكَ رَبُّكَ مِنۢ بَيْتِكَ بِٱلْحَقِّ وَإِنَّ فَرِيقًۭا مِّنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ لَكَـٰرِهُونَ
يُجَـٰدِلُونَكَ فِى ٱلْحَقِّ بَعْدَ مَا تَبَيَّنَ كَأَنَّمَا يُسَاقُونَ إِلَى ٱلْمَوْتِ وَهُمْ يَنظُرُونَ
Sebagaimana Tuhanmu menyuruhmu keluar dari rumahmu dengan kebenaran, meskipun sesungguhnya sebagian dari orang-orang yang beriman itu tidak menyukainya, mereka membantahmu (Muhammad) tentang kebenaran setelah nyata, seakan-akan mereka dihalau kepada kematian, sedang mereka melihat (sebab kematian itu).
Al Anfal: 5-6
Ketika Allah menakdirkan sesuatu. Allah takdirkan juga sebab-sebabnya. Semua tidak ada yang keluar dari takdir-Nya.
Keluarnya Rasulullah shallalahu 'alaihi wasallam dari Madinah sudah dengan perencanaan matang. Info valid dari telik sandi. Tapi Allah berkehendak lain: terpaksa berubah target. Terpaksa berhadapan dengan angkatan perang, bukan kafilah pedagang.

*****

"Wa inna fariiqan minal mu'miniin lakaarihuun".
Apa di antara mereka ada yang benci syari'at? Jelas TIDAK MUNGKIN.
Rabbul 'alamin telah bertitah mengenai keutamaan khusus Ahlu Badar: i'maluu maa syi'tum faqad ghafartu lakum. "Berbuatlah sesuka kalian, karena Aku telah mengampuni kalian".
"Yujaadiluunaka". Mereka menyampaikan kekhawatiran. Menghitung kesiapan. Menimbang risiko. Bukan membangkang.
Wajar jika berkecamuk berbagai tanya. "Seolah mereka digiring menuju kematian".

***

Dulu di malam Aqabah, mereka berani meminta izin eksekusi pemimpin musyrik. Mengapa di Badar terasa berat?
Di Aqabah, kondisinya berbeda. Situasinya rahasia. Belum menghadapi perang terbuka. Sedangkan di Badar, konsekuensi perang terlihat jelas di pelupuk mata.
Mau tidak mau harus maju. Maju, risikonya syahid. Mundur, Madinah luluh lantak. Jika kalah, dakwah tauhid di muka bumi terancam terhenti.
Perbedaannya bukan pada iman tapi pada tingkat ancaman. Ada kalkulasi realistis.

*****

Di Al Anfal ini Allah memvalidasi rasa. Ketika ada yang berat di hati sebagian shahabat. Ini manusiawi. Bukan lemah iman.
Saat genting, lalu "insting survival" menyala. Jika dipertemukan dengan iman, akan menstimulasi lahirnya sabar. Jika diingatkan dengan janji Allah, lahirlah keberanian. Jika dipertahankan lahirlah keteguhan (tsabat).

*****

Indahnya Al Qur’an dalam menuturkan. Tidak meromantisasi sejarah. Tidak memoles pelakunya. Tidak menjadikan para shahabat sebagai “superhuman”.
Kadang menyingkap emosi yang tersimpan di dada. Membuat kita "see the unseen, hear the unheard, and feel the unspoken".
Ini yang membuat kisah Qur’ani terasa hidup. Al Qur'an bukan hanya menuturkan “apa yang terjadi”, tetapi ibrah apa yang bisa dipetik dari setiap kejadiannya.
Semoga Allah perbaiki hubungan kita dengan Al Qur'an di Ramadhan kali ini. Allahummarhamnaa bil Qur'aan.
Amiin..
🖊️
7 Ramadhan 1447
Murtadha Ibawi
Majelis Tadarus Sirah

156SAAT TAQWA BERPINDAH MEDAN Sebelum Badar, turun lebih dahulu ayat puasa. Goalnya jelas: TAQWA.Ramadhan menggembleng p...
23/02/2026

156

SAAT TAQWA BERPINDAH MEDAN

Sebelum Badar, turun lebih dahulu ayat puasa. Goalnya jelas: TAQWA.
Ramadhan menggembleng para sahabat. Iman fully charged. Otot kesabaran ditempa. Bahkan puasa disebut "nishfu shabr". Dan "shabr" itu seperti saudara kandung "nashr" (pertolongan). "Annan nashr ma'as shabr", kemenangan itu ada bersama kesabaran.
Apalagi ketika taqwa dipasangkan dengan sabar. Allah janjikan kemenangan.
*وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا*
_“Jika kalian bersabar dan bertakwa, tipu daya mereka tidak akan membahayakan kalian sedikit pun.”_
Badar adalah bukti ayat itu. Pasukan kecil alakadarnya. Namun hati penuh taqwa dan sabar. Semangat membara, tawakkal menyala.
Dan.. kemenangan pun turun.

***

Namun ujian belum selesai.
Kini battle ground berpindah. Bukan lagi di padang Badar,
tetapi di dalam hati orang-orang pilihan itu.
Godaan datang saat ada yang bisa dibagi. Balaa'an hasanan, ujian di tengah kemenangan.
Perselisihan muncul tentang ghanimah.
'Ubadah bin Shamit menuturkan, akhlak sempat terguncang karena perebutan.
Sa’d bin Abi Waqqash sempat mempertanyakan, pedang itu bisakah untukku?
Sa’d bin ‘Ubadah komandan kaum anshar angkat bicara, bagaimana dengan kami pasukan yang menjaga Nabi?
Masing-masing memiliki alasan. Masing-masing merasa berhak.
Yang mengumpulkan ghanimah: kami yang mengamankan.
Yang mengejar musuh: kami yang mempertaruhkan nyawa.
Yang mengawal Nabi: kami menjaga pusat komando dan keselamatan umat.
Potensi konflik mulai menganga.
Kaum Anshar dahulu menerima Muhajirin dengan hati lapang, tanpa tendensi duniawi, hingga dipuji dalam Al-Hasyr.
Masak iya, hanya karena kepingan dunia, ukhuwah itu harus terkoyak?
Di sinilah turun pengingat langit:
*فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَصْلِحُوا ذَاتَ بَيْنِكُمْ…*
"Bertaqwalah kepada Allah dan perbaiki hubungan di antara sesamamu.."
Ternyata TAQWA, harus jadi fondasi. Barulah susun batu-bata ukhuwah di atasnya.
Apalah arti kemenangan, jika justru meruntuhkan persaudaraan.

***

In kuntum mu'miniin.. Jika kalian seorang mukmin.
Lalu, Allah ingatkan kualifikasi mukmin sejati:
Bukan yang merasa paling heroik.
Bukan yang merasa paling berjasa.
Bukan yang merasa paling banyak kontribusi.
Mukmin sejati adalah mereka yang:
ada "wajal" di hati saat nama Allah disebut,
bertambah iman saat ayat dibacakan,
tawakkalnya full.
Tegak dengan shalat, berdaya dengan berbagi.
Mujahadah di medan Badar sudah selesai. Namun "mujahadatun nafs" tak kan pernah usai.
Ramadhan ini, mungkin kita tidak turun ke medan laga.
Namun di setiap hati ada medan jihadnya sendiri-sendiri.
🖊️
5 Ramadhan 1447 H
Murtadha Ibawi
Majelis Tadarus Sirah

155BADAR, DAN UJIAN DI BALIK KEGEMILANGANRamadhan tahun ke-2 Hijriyah itu pengalaman pertama. Siangnya shiyam, malamnya ...
19/02/2026

155
BADAR, DAN UJIAN DI BALIK KEGEMILANGAN
Ramadhan tahun ke-2 Hijriyah itu pengalaman pertama. Siangnya shiyam, malamnya qiyam. Iman serasa full charge. Mereka di puncak ruhiyah. Mengantar pada kegemilangan Badar yang mengubah arah sejarah.
Di Badar berlakulah “kam min fi’atin qaliilatin ghalabat fi’atan katsiiratan bi-idznillah”. Pasukan kecil berhadapan dengan kekuatan besar. Jumlah tak seimbang. Serasa tak masuk logika. Namun iman bukan sekedar soal angka.
Sebagaimana dituturkan Al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu:
حدَّثَني أصْحابُ مُحَمَّدٍ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ مِمَّنْ شَهِدَ بَدْرًا: أنَّهُمْ كانُوا عِدَّةَ أصْحابِ طالُوتَ الَّذِينَ جازُوا معهُ النَّهَرَ؛ بضْعَةَ عَشَرَ وثَلاثَ مِئَةٍ. قالَ البَراءُ: لا واللَّهِ، ما جاوَزَ معهُ النَّهَرَ إلَّا مُؤْمِنٌ.
“Para sahabat Nabi Muhammad ﷺ yang ikut serta dalam Perang Badar menceritakan kepadaku bahwa jumlah mereka seperti jumlah pasukan Thalut yang menyeberangi sungai bersamanya, yaitu tiga ratus belasan orang.
Al-Bara’ berkata: Demi Allah, tidak ada yang menyeberangi sungai itu bersamanya kecuali orang-orang beriman.” (HR. Bukhari)
Al Qur’an menyebut hari itu sebagai Yaumul Furqan, hari pembeda. Turning point jalannya sejarah. Saat sejarah berbelok dan tak pernah kembali sama. Game changer.
Badar melahirkan:
kemenangan pertama, legitimasi politik, identitas umat yang tegas, serta pembuktian hasil binaan 15 tahun lamanya.
Kepemimpinan Rasulullah ﷺ di kawasan semakin kokoh.
Wibawa Madinah melambung.
Ekonomi Makkah terseok karena jalur niaganya terblokir.
Musyrikin Madinah memilih jadi munafiq demi kemanan. Yahudi tiarap. Kabilah-kabilah sekitar Madinah semakin segan.
Namun justru setelah kemenangan itu…
muncul ujian yang tak terlihat.
Bukan kilatan pedang.
Bukan pasukan berkuda.
Tapi gejolak di dalam hati.
Turunlah Surah Al-Anfal. Menjadi pemandu pasca kemenangan.
Dan.. ayat pertamanya berbicara tentang harta.
Mengapa?
Berapa banyak kemenangan yang justru melahirkan perebutan, ego, dan luka batin?
‘Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu pun bertutur:
فينا معشر أصحاب بدر نزلت حين اختلفنا في النفل، وساءت فيه أخلاقنا، فانتزعه الله من أيدينا، وجعله إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فقسمه رسول الله صلى الله عليه وسلم بين المسلمين عن بواء، يقول: على السواء.
“Surah itu turun kepada kami, pasukan Badar, ketika kami berselisih tentang ghanimah lalu akhlak kami menjadi rusak karenanya. Lalu Allah mencabut ghanimah itu dari tangan kami dan menyerahkannya kepada Rasulullah ﷺ. Kemudian Rasulullah ﷺ membaginya di antara kaum muslimin secara adil,” yakni sama rata. (HR. Ahmad)
Inilah Badar, yang di-highlight oleh Al Anfal. Allah tidak hanya turunkan pertolongan. Tapi juga turunkan Al Qur’an untuk memandu kelola kemenangan.
Lalu di Ramadhan kali ini, bagaimana hubungan kita dengan Al Qur’an?
1 Ramadhan 1447 H
Murtadha Ibawi
Majelis Tadarus Sirah

Address

Jalan HR Rasuna Said No. 22, Jakarta Selatan
South Jakarta
10230

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Majelis Tadarus Sirah posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Place Of Worship

Send a message to Majelis Tadarus Sirah:

Shortcuts

Share