25/02/2026
157
VALIDASI RASA: TETAP TAAT MESKI BERAT
Surat Al Anfal selalu menarik untuk diselami, terutama di suasana Ramadhan seperti ini. Surat ini turun pasca kemenangan Badar. Pengalaman pertama diwajibkannya Ramadhan, sekaligus pengalaman pertama konfrontasi terbuka setelah turun kewajiban jihad.
Al Anfal adalah dustur ilahi tentang bagaimana kemenangan harus dikelola. Bagaimana memitigasi potensi konflik? Tentang ghanimah dan tawanan misalnya.
Menariknya, Al Anfal tidak sekedar mendokumentasikan jalannya perang. Bukan sekedar 5W+1H ala wartawan. Lebih dalam. Al Anfal meng-highlight fragmen-fragmen yang perlu diabadikan.
*****
Setelah turun arahan soal ghanimah. Allah me-recall ingatan para shahabat tentang skenario langit. Tentang tadbir ilahi, hingga betul-betul terjadi yaumul furqan yang membelokkan jalannya sejarah.
كَمَآ أَخْرَجَكَ رَبُّكَ مِنۢ بَيْتِكَ بِٱلْحَقِّ وَإِنَّ فَرِيقًۭا مِّنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ لَكَـٰرِهُونَ
يُجَـٰدِلُونَكَ فِى ٱلْحَقِّ بَعْدَ مَا تَبَيَّنَ كَأَنَّمَا يُسَاقُونَ إِلَى ٱلْمَوْتِ وَهُمْ يَنظُرُونَ
Sebagaimana Tuhanmu menyuruhmu keluar dari rumahmu dengan kebenaran, meskipun sesungguhnya sebagian dari orang-orang yang beriman itu tidak menyukainya, mereka membantahmu (Muhammad) tentang kebenaran setelah nyata, seakan-akan mereka dihalau kepada kematian, sedang mereka melihat (sebab kematian itu).
Al Anfal: 5-6
Ketika Allah menakdirkan sesuatu. Allah takdirkan juga sebab-sebabnya. Semua tidak ada yang keluar dari takdir-Nya.
Keluarnya Rasulullah shallalahu 'alaihi wasallam dari Madinah sudah dengan perencanaan matang. Info valid dari telik sandi. Tapi Allah berkehendak lain: terpaksa berubah target. Terpaksa berhadapan dengan angkatan perang, bukan kafilah pedagang.
*****
"Wa inna fariiqan minal mu'miniin lakaarihuun".
Apa di antara mereka ada yang benci syari'at? Jelas TIDAK MUNGKIN.
Rabbul 'alamin telah bertitah mengenai keutamaan khusus Ahlu Badar: i'maluu maa syi'tum faqad ghafartu lakum. "Berbuatlah sesuka kalian, karena Aku telah mengampuni kalian".
"Yujaadiluunaka". Mereka menyampaikan kekhawatiran. Menghitung kesiapan. Menimbang risiko. Bukan membangkang.
Wajar jika berkecamuk berbagai tanya. "Seolah mereka digiring menuju kematian".
***
Dulu di malam Aqabah, mereka berani meminta izin eksekusi pemimpin musyrik. Mengapa di Badar terasa berat?
Di Aqabah, kondisinya berbeda. Situasinya rahasia. Belum menghadapi perang terbuka. Sedangkan di Badar, konsekuensi perang terlihat jelas di pelupuk mata.
Mau tidak mau harus maju. Maju, risikonya syahid. Mundur, Madinah luluh lantak. Jika kalah, dakwah tauhid di muka bumi terancam terhenti.
Perbedaannya bukan pada iman tapi pada tingkat ancaman. Ada kalkulasi realistis.
*****
Di Al Anfal ini Allah memvalidasi rasa. Ketika ada yang berat di hati sebagian shahabat. Ini manusiawi. Bukan lemah iman.
Saat genting, lalu "insting survival" menyala. Jika dipertemukan dengan iman, akan menstimulasi lahirnya sabar. Jika diingatkan dengan janji Allah, lahirlah keberanian. Jika dipertahankan lahirlah keteguhan (tsabat).
*****
Indahnya Al Qur’an dalam menuturkan. Tidak meromantisasi sejarah. Tidak memoles pelakunya. Tidak menjadikan para shahabat sebagai “superhuman”.
Kadang menyingkap emosi yang tersimpan di dada. Membuat kita "see the unseen, hear the unheard, and feel the unspoken".
Ini yang membuat kisah Qur’ani terasa hidup. Al Qur'an bukan hanya menuturkan “apa yang terjadi”, tetapi ibrah apa yang bisa dipetik dari setiap kejadiannya.
Semoga Allah perbaiki hubungan kita dengan Al Qur'an di Ramadhan kali ini. Allahummarhamnaa bil Qur'aan.
Amiin..
🖊️
7 Ramadhan 1447
Murtadha Ibawi
Majelis Tadarus Sirah